JAME-JAME, UJ 5, DAN GAJAH SECARA IN VITRO
Abstrak
Penyediaan bibit ubi kayu (Manihot esculenta Crantz.) true-to-type melalui kultur
jaringan sangat penting mengingat permintaan yang semakin tinggi terhadap ubi kayu. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan media kultur dan posisi buku tunggal terhadap pertumbuhan dan multiplikasi tunas ubi kayu genotipe Jame-jame, UJ 5, dan Gajah secara in vitro. Percobaan disusun
berdasarkan rancangan kelompok lengkap teracak dua faktor pada genotipe Jame- jame dan UJ 5, serta rancangan acak lengkap dua faktor pada genotipe Gajah. Faktor pertama yaitu media kultur (MS0 dan MS + 3 mg L-1 BAP) dan faktor kedua yaitu posisi buku tunggal sebagai eksplan (pangkal, tengah, dan ujung). Buku tunggal bagian tengah memberikan respon pertumbuhan terbaik pada tinggi planlet, jumlah daun, jumlah buku, dan jumlah tunas jika dibandingkan dengan buku bagian pangkal dan ujung. Buku tunggal bagian tengah pada tiga genotipe ubi kayu yang dikulturkan dalam media MS0 menghasilkan tinggi planlet, jumlah daun, jumlah buku lebih tinggi, dan waktu muncul tunas lebih cepat dibandingkan jika dikulturkan dalam media MS + 3 mg L-1 BAP. Berdasarkan analisis uji-t, genotipe lokal (Jame-jame dan Gajah) menunjukkan respon pertumbuhan lebih baik dibandingkan varietas nasional (UJ 5).
Kata kunci: BAP, multiplikasi tunas, posisi buku tunggal Abstract
The continuous supply true-to-type seedling through in vitro technique is very
important for cassava (Manihot esculenta Crantz.) as the demand of the crop is
increasing. The experiment was conducted to evaluate the effect of culture medium and single node position on the growth and shoot multiplication of cassava Jame-jame, UJ 5, and Gajah genotypes in vitro. This experiment was
arranged in the randomized complete block design for Jame-jame and UJ 5 genotypes, while it was arranged in the completely randomized design for Gajah genotype with two factors. The first factor was culture medium (MS0 and MS + 3 mg L-1 BAP) and the second factor was single node positions used as explant (basal, middle, and top section of the stem). Based on height of planlet, number of leaves, number of node, and number of shoot, single node at middle position was shown as the best explants type compared to basal and top section of the stem. Single node at the middle stem section of the three cassava genotypes resulted in the higher planlet, more number of leaves, more number of node, and faster initiation of shoot regeneration when cultured on MS0 compared on MS + 3 mg L-1 BAP. Based on t-test analysis, local genotypes (Jame-jame and Gajah) showed better performance than national variety (UJ 5).
Pendahuluan
Peningkatan produksi ubi kayu nasional disebabkan oleh adanya program diversifikasi pangan, pemanfaatan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol, pakan ternak, dan industri tepung. Hal ini menuntut tersedianya bahan tanam (bibit) ubi kayu bermutu dalam jumlah banyak dan memiliki kejelasan varietas, serta dihasilkan dalam waktu yang relatif cepat. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan adalah dengan teknik kultur jaringan (in vitro). Teknik perbanyakan
bibit ubi kayu secara in vitro perlu dilakukan karena belum ada lembaga atau
perusahaan penghasil stek (bibit) asal in vitro dalam jumlah besar dan memiliki
kejelasan varietas. Selain itu, adanya perluasan areal tanam ubi kayu menuntut adanya penyediaan bibit unggul dan bermutu dalam jumlah besar. Bibit unggul yang dihasilkan dari kultur jaringan biasanya bebas dari patogen dan dapat dijadikan sebagai mother stock.
Pemilihan jenis media dan eksplan dalam teknik in vitro sangat
mempengaruhi respon pertumbuhan planlet. Penggunaan jenis media dan eksplan yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan planlet yang optimum. Perbanyakan
in vitro ubi kayu umumnya menggunakan eksplan berupa buku tunggal (single node). Posisi single node diduga sangat mempengaruhi daya regenerasi
membentuk planlet ubi kayu varietas Adira 2 (Khumaida dan Fauzi 2013). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari penggunaan jenis media kultur dan posisi single node (pangkal, tengah, dan ujung) terhadap pertumbuhan dan
multiplikasi planlet ubi kayu genotipe Jame-jame, UJ 5, dan Gajah secara in vitro.
Bahan dan Metode
Bahan tanam (eksplan) yang digunakan adalah buku tunggal (single node)
(Gambar 15) dari planlet ubi kayu genotipe Jame-jame, UJ 5, dan Gajah yang dikulturkan dalam media MS0 dan MS + 3 mg L-1 BAP. Peralatan yang digunakan adalah Laminar Air Flow Cabinet (LAFC), autoclave, alat tanam,
cawan petri, timbangan, kamera digital, dan mikroskop cahaya.
Penelitian terdiri atas tiga sub percobaan yang terpisah, masing-masing menggunakan genotipe Jame-jame, UJ 5, dan Gajah sebagai eksplan. Penelitian pada genotipe UJ 5 dan Jame-jame disusun menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktorial dengan dua faktor, sedangkan pada genotipe Gajah disusun menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah komposisi media kultur yang terdiri atas dua jenis yaitu MS0 dan MS + 3 mg L-1 BAP (B3). Faktor kedua adalah posisi single node
yang terdiri atas tiga posisi yaitu pangkal, tengah, dan ujung (Gambar 16). Kombinasi dari dua faktor tersebut menghasilkan enam kombinasi perlakuan. Terdapat dua kelompok (subkultur ke-1 dan 2) untuk genotipe UJ 5 dan empat kelompok (subkultur ke-1, 2, 3 dan 4) untuk genotipe Jame-jame yang masing- masing diulang sebanyak 10 kali sehingga terdapat 120 satuan percobaan pada genotipe UJ 5 dan 240 satuan percobaan pada genotipe Jame-jame. Pada genotipe Gajah, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 15 kali, sehingga terdapat 90 satuan percobaan. Kultur dipelihara di ruang kultur dengan suhu ± 25 0C, penerangan dari 2 buah lampu fluorescence, fotoperiode 24 jam selama
Peubah yang diamati meliputi waktu munculnya tunas, tinggi planlet, jumlah daun, jumlah buku, dan jumlah tunas (Gambar 17). Waktu munculnya tunas diamati setiap hari sampai tunas pertama terbentuk, sedangkan peubah tinggi planlet, jumlah daun, jumlah buku, dan jumlah tunas diamati setiap minggu hingga 12 minggu setelah kultur (MSK). Selain itu dilakukan pengamatan anatomi jaringan buku bagian pangkal, tengah, dan ujung. Data penelitian dianalisis dengan analisis ragam (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh antar pelakuan. Analisis data menggunakan program SAS 9.1.
Gambar 15. Eksplan buku tunggal (single node)
ubi kayu genotipe Jame-jame
Gambar 16. Posisi buku tunggal (single node) ubi kayu genotipe
Jame-jame
ujung
tengah
Gambar 17. Pengamatan terhadap pertumbuhan planlet ubi kayu: (a) tunas baru terbentuk, (b) tinggi tanaman, dan (c) jumlah buku total
Hasil dan Pembahasan
Secara umum, munculnya tunas pada penelitian ini kurang dari 2 minggu. Waktu muncul tunas ini lebih cepat bila dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan Wasswa et al. (2010) yang menunjukkan bahwa tunas ubi kayu
terbentuk saat 2-4 MSK pada beberapa kultivar ubi kayu. Penelitian Wasswa et al.
(2010) menggunakan semua buku (node) pada batang tunas dengan eksplan
berupa single node. Beragamnya waktu munculnya tunas antara penelitian
Wasswa et al. (2010) dengan penelitian ini diduga karena beragamnya posisi single node yang digunakan sebagai eksplan.
Penggunaan jenis media dan eksplan yang berbeda dari posisi single node
(pangkal, tengah, dan ujung) menunjukkan perbedaan kecepatan inisiasi munculnya tunas pada penelitian ini (Tabel 19). Waktu muncul tunas pada eksplan single node bagian tengah lebih cepat dibandingkan single node bagian
pangkal dan ujung saat dikulturkan pada media MS0. Hal ini mengindikasikan bahwa single node ke 3-4 dari pucuk memiliki daya regenerasi yang baik.
Khumaida dan Fauzi (2013) juga menggunakan single node ke 2-4 dari pucuk
dalam penelitian perbanyakan planlet ubi kayu varietas Adira 2. tunas baru
terbentuk
tinggi
tanaman buku total jumlah
a
Tabel 19. Waktu munculnya tunas (hari) pada beberapa genotipe ubi kayu Posisi single node Media Genotipe Jame-jame UJ 5 Gajah Pangkal MS0 10.04 bc 12.22 7.17 c B3 18.72 a 21.30 22.70 b Tengah MS0 7.58 c 8.30 5.80 c B3 12.19 b 16.63 9.60 c Ujung MS0 9.98 bc 14.07 8.14 c B3 20.68 a 21.17 35.27 a Uji F ** tn **
Keterangan: MS0 = MS tanpa ZPT, B3 = MS + 3 mg L-1 BAP, ** = berbeda sangat nyata
(p<0.01), tn = tidak berbeda nyata. Angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. Genotipe bukan merupakan faktor perlakuan.
Perlakuan posisi single node dan media berpengaruh nyata terhadap jumlah
daun per planlet hanya di minggu ke-4 pada genotipe UJ 5, sedangkan pada genotipe Jame-jame berpengaruh nyata pada 4 dan 8 MSK (Tabel 20). Hal yang berbeda terlihat pada genotipe Gajah yang menunjukkan interaksi perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah daun per planlet mulai minggu pertama hingga 12 MSK (Tabel 21).
Secara umum jumlah daun per planlet terbanyak dihasilkan dari eksplan
single node bagian tengah baik itu yang ditanam di media MS0 maupun B3. Rata-
rata jumlah daun yang terbentuk per planlet tidak lebih dari empat daun hingga 12 MSK. Hal ini disebabkan karena daun banyak yang mengalami senescence
(gugur daun). Gugurnya daun diduga karena adanya ketidakseimbangan kandungan auksin-sitokinin endogen di dalam jaringan tanaman. Kandungan auksin endogen dalam tanaman sangat tinggi sehingga meningkatkan aktivitas etilen yang menyebabkan daun menjadi gugur. Menurut Wattimena (1988) auksin merupakan salah satu faktor kunci dalam sintesis etilen, karena auksin merupakan prekursor dalam perubahan SAM menjadi ACC, yaitu senyawa antara dalam sintesis etilen. Gejala gugur daun pada penelitian ini mulai terjadi pada 4 MSK. Menurut Hankoua et al. (2005), biakan in vitro ubi kayu biasanya disubkultur
setiap 4-5 minggu sekali agar selalu berada dalam kondisi optimal dan menghindari terjadinya senescence.
Tabel 20. Jumlah daun planlet ubi kayu genotipe UJ 5 dan Jame-jame Genotipe Posisi single
node Media Umur (MSK) 4 8 12 UJ 5 Pangkal MS0 0.92 a 1.84 2.29 B3 0.00 b 2.38 3.10 Tengah MS0 1.44 a 1.97 2.27 B3 0.80 a 2.57 1.94 Ujung MS0 1.15 a 1.54 2.13 B3 0.78 a 1.92 1.21 P-Value * tn tn Jame- jame Pangkal MS0 1.59 jk 2.13 k 2.87 B3 0.75 l 3.88 j 3.12 Tengah MS0 1.75 j 2.17 k 3.13 B3 1.08 kl 4.26 j 3.73 Ujung MS0 1.38 jkl 1.95 k 2.52 B3 0.77 l 3.62 j 3.17 P-Value * ** tn
Keterangan: MS0 = MS tanpa ZPT, B3 = MS + 3 mg L-1 BAP, * = berbeda nyata
(p<0.05), ** = berbeda sangat nyata (p<0.01), tn = tidak berbeda nyata. Angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama di masing- masing genotipe tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.
Tabel 21. Jumlah daun planlet ubi kayu genotipe Gajah Posisi single node 4 MSK 8 MSK 12 MSK MS0 B3 Rata- rata MS0 B3 Rata- rata MS0 B3 Rata- rata Pangkal 2.33aA 0.14 bB 1.53a 3.25aA 1.50bB 2.45b 4.17abA 2.90aA 3.59a Tengah 2.20aA 0.93 aB 1.57a 3.47aA 3.67aA 3.57a 4.47aA 3.00aB 3.73a Ujung 1.36bA 0.33 abB 1.05a 2.57aA 1.64bA 2.11b 3.21bA 2.20aA 2.69b Rata- rata 1.95A 0.61B 3.10A 2.38B 3.95A 2.68B
Keterangan: MS0 = MS tanpa ZPT, B3 = MS + 3 mg L-1 BAP. Angka yang diikuti huruf kecil
yang sama pada kolom yang sama dan angka yang diikuti huruf kapital yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.
Perlakuan jenis media kultur dan posisi single node tidak berpengaruh nyata
terhadap tinggi planlet pada genotipe UJ 5 (Lampiran 8). Hal yang berbeda ditunjukkan oleh tinggi planlet genotipe Jame-jame dan Gajah yang dipengaruhi secara nyata oleh komposisi media kultur dan posisi single node (Tabel 22).
Secara umum, interaksi perlakuan yang menghasilkan planlet tertinggi pada 12 MSK diperoleh dari eksplan single node bagian tengah yang dikulturkan
dalam media MS0. Planlet yang dikulturkan dalam media MS0 menghasilkan planlet yang lebih tinggi dibandingkan jika dikulturkan dalam media MS +
3 mg L-1 BAP (B3) (Gambar 18). Pertambahan tinggi planlet pada media B3 sangat lambat pada minggu awal dikulturkan. Hal ini diduga karena pertumbuhan planlet pada media B3 lebih mengarah ke pembentukan tunas majemuk.
Tabel 22. Tinggi planlet (cm) ubi kayu genotipe Jame-jame dan Gajah Genotipe Posisi single node 8 MSK 12 MSK MS0 B3 Rata- rata MS0 B3 Rata- rata Jame- jame Pangkal 1.32aA 0.87aA 1.10a 2.88bA 1.06aA 1.97 b Tengah 1.90aA 0.83aB 1.37a 5.36aA 1.05aB 3.21 a Ujung 1.81aA 0.80aA 1.31a 4.84bA 1.02aB 2.93 ab Rata- rata 1.68A 0.84B 4.36A 1.04B Gajah Pangkal 1.08jJ 0.21kK 0.68j 1.74kJ 0.69jK 1.26k Tengah 2.47jJ 0.56jK 1.52j 4.65jkJ 0.75jK 2.70 jk Ujung 2.47jJ 0.29kK 1.38j 6.16jJ 0.65jK 3.31 j Rata- rata 2.06J 0.37K 4.31J 0.69K
Keterangan: MS0 = MS tanpa ZPT, B3 = MS + 3 mg L-1 BAP. Angka yang diikuti huruf kecil
yang sama pada kolom yang sama di masing-masing genotipe dan angka yang diikuti huruf kapital yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.
Gambar 18. Keragaaan planlet ubi kayu genotipe Jame-jame: (a) single node
pangkal di media MS0, (b) single node tengah di media MS0,
(c) single node ujung di media MS0, (d) single node pangkal di
media B3, (e) single node tengah di media B3, dan (f) single node ujung di media B3 saat 8 MSK. Bar = 1 cm.
a b
e d
c
Jumlah tunas yang dihasilkan pada media MS + 3 mg L-1 BAP lebih tinggi dibandingkan pada media MS0 (Tabel 23). Penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) jenis BAP sebesar 3 mg L-1 memicu tumbuhnya tunas-tunas adventif pada bagian pangkal eksplan yang didahului oleh munculnya kalus. Penggunaan BAP untuk menginduksi tunas pada planlet tanaman dari family Euphorbiaceae telah dilaporkan sebelumnya. Lizawati et al. (2009) melaporkan bahwa penambahan
BAP ke dalam media dapat merangsang pembentukan tunas majemuk pada planlet jarak pagar. Manfaat BAP dalam induksi tunas juga dilaporkan oleh Cacai et al. (2013b) yang menyatakan bahwa penambahan BAP sebesar
0.2 mg L-1 pada media MS dapat menginduksi pembentukan tunas maksimum pada beberapa genotipe ubi kayu asal Benin.
Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa interaksi perlakuan jenis media kultur dan posisi single node tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah
tunas pada genotipe UJ 5 (Lampiran 9), tetapi berpengaruh nyata pada genotipe Jame-jame dan Gajah (Tabel 23). Jumlah tunas terbanyak umumnya dihasilkan dari eksplan single node bagian tengah yang dikulturkan pada media MS +
3 mg L-1 BAP (B3). Jumlah tunas yang dihasilkan mencapai 2 tunas per planlet. Penelitian Khumaida dan Fauzi (2013) menghasilkan kurang dari 2 tunas per planlet pada media kultur yang sama.
Tabel 23. Jumlah tunas planlet ubi kayu genotipe Jame-jame dan Gajah Genotipe
Posisi
single node
8 MSK 12 MSK
MS0 B3 Rata-rata MS0 B3 Rata-rata
Jame- jame Pangkal 1.00aB 1.74aA 1.37a 1.00aB 1.98aA 1.49a Tengah 1.00aB 1.73aA 1.37a 1.00aB 2.04aA 1.52a Ujung 1.00aB 1.53aA 1.27a 1.00aB 1.79aA 1.39a Rata- rata 1.00B 1.67A 1.00B 1.94A Gajah Pangkal 1.00jJ 1.00kJ 1.00k 1.00jK 1.90jJ 1.41jk Tengah 1.00jJ 1.47jJ 1.23j 1.00jK 1.93jJ 1.47j Ujung 1.00jJ 1.07kJ 1.04k 1.00jJ 1.20kJ 1.10k Rata- rata 1.00K 1.21J 1.00K 1.65J
Keterangan: MS0 = MS tanpa ZPT, B3 = MS + 3 mg L-1 BAP. Angka yang diikuti huruf kecil
yang sama pada kolom yang sama di masing-masing genotipe dan angka yang diikuti huruf kapital yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.
Interaksi perlakuan jenis media kultur dan posisi single node tidak
berpengaruh nyata (α > 0.05) terhadap jumlah buku pada genotipe UJ 5 dan Jame- jame (Lampiran 10), tetapi berpengaruh nyata pada genotipe Gajah (Tabel 24). Rata-rata jumlah buku per planlet yang dihasilkan genotipe UJ 5 hingga 12 MSK tidak lebih dari tiga. Jumlah ini jauh dari rata-rata jumlah buku per planlet yang dihasilkan genotipe Jame-jame dan Gajah pada umur yang sama yaitu masing- masing mencapai 4 dan 5 buku. Rendahnya jumlah buku per planlet pada genotipe UJ 5 ini disebabkan respon pertumbuhan planlet yang tidak begitu baik saat dikulturkan dalam media MS0 dan B3. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
genotipe ubi kayu yang berbeda dapat memiliki respon berbeda terhadap media kultur. Hal ini didukung dengan penelitian Ogero et al. (2012) yang menunjukkan
bahwa pada media MS yang mengandung 3% sukrosa dan 0.3% gelrite, ubi kayu
varietas ‘Muchericheri’ memiliki jumlah buku yang lebih tinggi dibandingkan ubi kayu varietas ‘KME 1’. Berdasarkan pengamatan, jumlah buku per planlet
terbanyak diperoleh dari eksplan single node bagian tengah jika dikulturkan dalam
media MS0.
Tabel 24. Jumlah buku planlet ubi kayu genotipe Gajah Posisi single
node
8 MSK 12 MSK
MS0 B3 Rata-rata MS0 B3 Rata-rata Pangkal 2.58 aA 0.30 bB 1.55 b 3.75 bA 2.00 aB 2.95 a
Tengah 3.60 aA 1.40 aB 2.50 a 5.47 aA 2.33 aB 3.90 a
Ujung 2.57 aA 0.79 abB 1.68 ab 4.64 abA 2.00 aB 3.28 a
Rata-rata 2.95 A 0.89 B 4.68 A 2.13 B
Keterangan: MS0 = MS tanpa ZPT, B3 = MS + 3 mg L-1 BAP. Angka yang diikuti huruf kecil
yang sama pada kolom yang sama dan angka yang diikuti huruf kapital yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posisi single node mempengaruhi
respon pertumbuhan planlet. Pertumbuhan planlet terbaik dihasilkan dari eksplan
single node bagian tengah. Pengaruh posisi single node terhadap pertumbuhan
planlet diduga akibat perbedaan fase perkembangan jaringan. Anatomi jaringan pada masing-masing posisi single node menunjukkan perbedaan (Gambar 19).
Jaringan single node bagian pangkal sudah terdeferensiasi secara sempurna, yaitu
terdiri atas epidermis, korteks, dan jaringan pembuluh. Jaringan epidermis pada
single node bagian pangkal sudah terbentuk sempurna dan diduga menyulitkan
dediferensiasi menjadi jaringan lain.
Anatomi single node bagian ujung menunjukkan jaringan-jaringan yang
belum terbentuk secara jelas. Jaringan pembuluh, korteks dan sebagainya belum jelas arah pembentukannya. Buku bagian ujung ini apabila dijadikan sebagai eksplan akan menghasilkan planlet yang kurang optimal pertumbuhannya yaitu cenderung kurus dan tidak tegar.
Hasil anatomi single node bagian tengah menunjukkan terbentuknya
jaringan pembuluh, korteks, dan jaringan lainnya. Planlet yang terbentuk dari
single node bagian tengah tumbuh optimum ditandai dengan tinggi, jumlah daun
serta ketegaran planlet yang baik (Gambar 20). Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa posisi single node bagian tengah
memberikan respon pertumbuhan (tinggi planlet, jumlah daun, jumlah buku, dan jumlah tunas) terbaik jika dibandingkan posisi single node bagian pangkal dan
Gambar 19. Irisan melintang buku planlet ubi kayu genotipe Jame-jame: (a) pangkal, (b) tengah, dan (c) ujung
Gambar 20. Keragaaan planlet ubi kayu genotipe Jame-jame: (a) single node pangkal di media MS0, (b) single node tengah di media
MS0, dan (c) single node ujung di media MS0
Tiga genotipe yang digunakan dalam percobaan ini memiliki karakteristik yang berbeda. Jame-jame merupakan salah satu genotipe unggul lokal yang berasal dari daerah Halmahera Maluku Utara, sedangkan Gajah merupakan genotipe unggul lokal dari daerah Kalimantan Timur. UJ 5 merupakan varietas introduksi dari Thailand yang menjadi varietas unggulan nasional. Respon pertumbuhan planlet ketiga genotipe ini dianalisis menggunakan uji-t. Digunakan
a b
c
1 cm 1 cm 1 cm
dua kelompok yaitu genotipe unggul lokal yang diwakili oleh Jame-jame dan Gajah serta varietas unggul nasional yang diwakili oleh UJ 5 yang selanjutnya dianalisis menggunakan uji-t untuk melihat respon pertumbuhan planlet di media MS0 dan MS + 3 mg L-1 BAP (B3) (Tabel 25). Berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa respon petumbuhan baik itu tinggi planlet, jumlah buku maupun jumlah tunas memberikan pengaruh sangat nyata antara genotipe lokal dan nasional. Secara keseluruhan respon pertumbuhan genotipe lokal lebih baik dibandingkan genotipe nasional jika dikulturkan dalam media MS0 dan B3.
Tabel 25. Hasil analisis uji-t tinggi planlet, jumlah buku, dan jumlah tunas genotipe lokal terhadap varietas nasional
Tinggi planlet (cm) Jumlah buku Jumlah tunas Umur 4 MSK
Rata-rata genotipe lokal 0.46 0.59 Rata-rata varietas nasional 0.28 0.12
Uji -t ** **
Umur 8 MSK
Rata-rata genotipe lokal 1.24 2.03 1.15 Rata-rata varietas nasional 0.51 1.36 1.01
Uji-t ** ** **
Umur 12 MSK
Rata-rata genotipe lokal 2.57 3.41 1.36 Rata-rata varietas nasional 0.77 1.92 1.06
Uji-t ** ** **
Keterangan: Genotipe lokal = Jame-jame dan Gajah, varietas nasional = UJ 5, ** = berbeda sangat nyata (p<0.01).
Laju multiplikasi planlet sangat dipengaruhi oleh daya regenerasi eksplan yang baik. Faktor utama yang mempengaruhi laju multiplikasi adalah jumlah tunas dan jumlah buku. Berdasarkan hasil analisis korelasi antar peubah yang diamati (Tabel 26), tinggi planlet berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan jumlah buku, akan tetapi jumlah tunas yang banyak secara sangat nyata menurunkan tinggi planlet. Banyaknya jumlah tunas yang terbentuk mengakibatkan penurunan jumlah buku karena terjadi penurunan tinggi planlet secara signifikan.
Tabel 26. Korelasi antar peubah gabungan tiga genotipe
Peubah Tinggi Ʃ daun Ʃ buku Ʃ tunas
Tinggi 0.28** 0.67** −0.26**
Ʃ daun 0.66** 0.25**
Ʃ buku −0.03*
Ʃ tunas
Keterangan: * = berbeda nyata (p<0.05), ** = berbeda sangat nyata (p<0.01).
Penggunaan jenis media yang berbeda umumnya memberikan arah dan respon pertumbuhan yang berbeda. Dua jenis media kultur yang digunakan yaitu
MS0 dan MS + 3 mg L-1 BAP (B3) dianalisis untuk melihat pengaruh masing- masing media terhadap pertumbuhan planlet (Tabel 27). Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan jenis media kultur yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan planlet. Planlet memberikan respon pertumbuhan (tinggi planlet dan jumlah buku) yang relatif sama baik itu ketika dikulturkan dalam media MS0 maupun B3. Perbedaan nyata hanya terjadi pada peubah jumlah tunas yang mana planlet di media B3 menghasilkan jumlah tunas yang lebih banyak daripada di media MS0 saat planlet berumur 12 MSK.
Tabel 27. Uji kontras ortogonal antar media kultur Peubah 8 MSK 12 MSK Rata-rata MS0 Rata- rata B3 P- Value Rata-rata MS0 Rata- rata B3 P- Value Tinggi planlet (cm) 0.41 0.61 tn 0.69 0.84 tn Jumlah buku 1.04 1.60 tn 1.65 2.19 tn Jumlah tunas 1.00 1.03 tn 1.00 1.13 *
Keterangan: B3 = MS + 3 mg L-1 BAP; * = berbeda nyata (p<0.05); tn = tidak berbeda nyata.
Simpulan
Penggunaan posisi single node dan jenis media yang berbeda pada kultur ubi
kayu memberikan respon pertumbuhan planlet yang berbeda. Posisi single node
yang memberikan respon pertumbuhan (tinggi planlet, jumlah daun, jumlah buku, dan jumlah tunas) terbaik adalah bagian tengah. Umumnya planlet memberikan respon pertumbuhan berupa tinggi planlet, jumlah daun, dan jumlah buku terbaik jika menggunakan single node bagian tengah dan dikulturkan dalam media MS0,
sedangkan untuk pertumbuhan jumlah tunas terbaik jika menggunakan single node bagian tengah dan dikulturkan dalam media MS + 3 mg L-1 BAP.
Berdasarkan analisis uji-t, genotipe lokal (Jame-jame dan Gajah) menunjukkan respon pertumbuhan lebih baik dibandingkan varietas nasional (UJ 5).