Langit mendung, awan hitam berarak yang di ikuti guntur sabung menyabung menutupi sebuah lembah tak bernama yang terletak di tempat yang paling utara dari pegunungan Himalaya.
Terpencil, di antara jurang-jurang yang curam dan yang sangat sukar di datangi manusia biasa, tampak empat buah kuburan berukuran masing-masing
berukuran 20-an meter dengan berbagai bentuk yang aneh-aneh tampak berdiri di antara ribuan tulang-tulang tengkorak manusia yang tinggi membentuk
sebuah bukit. Di tengah-tengah empat kuburan tersebut berdiri berhadapan enam orang. Empat di antaranya tampak sangat tua sekali. Bentuk tubuh mereka yang ganjil memiliki perbawa hawa iblis yang menakutkan.
Di hadapan mereka tampak dua orang pemuda dan pemudi yang berparas tampan dan cantik sekali sedang bersila dalam posisi yang aneh. Tubuh mereka melayang dengan kepala di bawah. Punggung saling membelakangi. Sementara
mereka berdiam diri sambil mengerahkan tenaga pada puncaknya, tiba-tiba terdengar pekikan yang aneh dari antara keduanya, satu tangan mereka di rentangkan ke samping, tangan yang lain di ulurkan menyentuh telapak dua di antara ke-empat kakek yang segera bersila menyambut tangan mereka dengan kepala di bawah dan tangan yang juga terulur menempel pada tanga mereka. Sedangkan dua kakak ganjil yang lain melayang di atas sambil memegang ke dua kaki pemuda dan pemudi tersebut.
Tampak asap mengepul dari tubuh mereka. Sekeliling tubuh mereka menyebar hawa tenaga sakti yang amat kuat dari ke empat kakek ganjil tersebut yang berputaran di sekeliling sepasang pemuda tersebut.
Keadaan ini berlangsung hampir dua jam. Saat semua telah mencapai titik puncak yang paling kritis dari pengerahan tenaga dalam mereka, tiba-tiba keempat kakek tersebut membentak keras. Tubuh mereka mencelat mundur. Masing-masing terlempar ke arah empat kuburan yang membuka dengan sendirinya serta menyambut tubuh mereka.
Sementara sepasang muda-mudi itu berputaran seperti gazing. Tiba-tiba terdengar teriakan mereka yang membahana. Di saat itulah tubuh keduanya terpisah ke dua arah yang berbeda. Yang wanita melesat ke atas sambil
melakukan gerakan-gerakan aneh memainkan ilmu silat tingkat tinggi bagaikan elang yang menyambar-nyambar, sedangkan yang pria menembus ke dalam bumi sehingga membuat lubang yang sangat dalam, beberapa saat kemudian dia muncul lagi sambil melakukan gerakan silat yang anehdan dahsyat.
Gerakannya kokoh dan selalu menyambar-nyambar dengan cepat sehingga tubuhnya berpindah-pindah tanpa terlihat bayangannya.
Tak lama kemudian keadaan diam, tenang. Kedua orang yang melesat ke atas dan yang menembus ke bumi tersebut seolah-olah hilang tanpa bekas. Tanah yang berlubang itupun sudah menutup kembali dengan sendirinya, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun beberapa saat kemudian terdengar suara tertawa yang mengidikkan. Keempat pintu kuburan terbuka lagi dan keempat kakek ganjil yang sakti itu telah keluar. Sesaat terdengar suara salah satu dari antara mereka:
“Heheheheheh…akhirnya tidak sia-sia juga kita membuang tenaga selama lima tahun ini. Keluarlah kalian untuk menerima perintah…!”
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba di hadapan keempat kakek tersebut
muncul kabut kemerahan dan kebiruan yang amat pekat. Setelah kabut tersebut sirna, di hadapan mereka muncul kedua muda-mudi tadi.
Si pemuda berusia 22 tahun, berparas tampan dengan mata yang besar. Sinar matanya mencorong tajam berwarna merah darah itulah perbawa dari ilmu arian Kitab Bumi. Sedangkan si wanita berusia 19 tahun, sangat cantik dengan tubuh yang padat menggiurkan, matanya yang lentik itu bersinar-sinar kebiruan bagai samudra, yang juga merupakan perbawa dari ilmu Tarian Kitab Langit.
“Selama dua-puluh tahun kami menyembunyikan diri sambil terus melatih dan menggabungkan semua ilmu kami dengan ilmu dalam kitab Thian Tee Kek Sian Ciang (Pukulan Dewa Kutub Langit & Bumi) sehingga terciptalah Thian-Te Kip-Kwi-Li-Ciang (Tarian Kitab Iblis Langit Bumi). Sekarang dengan tambahan
tenaga dari kami, maka kemampuan kalian masing-masing sudah setara dengan tiga orang diantara kami kalau bergabung. Rasanya tiada lagi orang yang akan sanggup mengalahkan kalian dengan mudah….hahahahahahahah?”
Sang pria kemudian mewakili sumoinya bertanya: “Terima kasih atas petunjuk su-wi suhu, selama hidup kami pasti takkan melupakan budi kebaikan su-wi suhu”
Salah satu dari ke-empat kekek ganjil tersebut menyahut dengan suara kereng dan mengejek:
"Hah, ketahuilah…dengan sempurnanya melatih ilmu Thian-Te Kip-Kwi-Li-Ciang tersebut, maka dalam tubuh kalian juga sudah mendekam racun jahat yang tak akan bisa di sembuhkan oleh obat apapun sehingga memperpendek umur kalian sampai pada umur 30 tahun, lewat dari itu jika kalian tidak mendapat
penawarnya, kalian akan mati menggenaskan. Tapi jika sebelum mencapai umur tersebut kalian telah mampu menjalankan tugas yang kami perinthkan, maka kalian akan mendapat penawarnya, kalau kalian menolak, walau kalian mampu membunuh kami sekalipun, kalian tidak akan mendapatkan obatnya.” Selesai berkata demikian, ke-empat kakek tersebut menatap sepasang muda-mudi itu yang sangat terkejut.
“Suheng, apa maksudnya ini?...” Tanya si gadis dengan sinar mata yang tajam bergantian ke arah ke-empat orang tersebut dan ke arah suhengnya.
“Entahlah sumoi, ternyata mereka telah menipu kita selama ini…” Suaranya dingin dan datar. Sedangkan sepasang matanya bersinar-sinar aneh
menakutkan, tapi dengan tenang dia menyahut:
“Kalau boleh tahu kami tahu apa maksud su-wi suhu melakukan hal ini kepada kami…?”
“Heemmm, sejak semula di antara kita tidak ada ikatan guru dan murid, kami mengambil kalian untuk mewarisi semua ilmu silat kami agar kalian dapat
mengerjakan keinginan kami untuk membalaskan dendam kami kepada musuh-musuh kami serta menghancurkan sepuluh partai besar, enam perkampungan dan tigapuluh enam perkumpulan dari golongan putih yang ada sekarang untuk menguasai dunia persilatan, dan kalian tidak memiliki pilihan lain….hahahahah” Kedua muda-mudi tersebut saling pandang dengan tatapan mata marah dan bersinar-sinar aneh, namun mereka hanya diam saja. Sampai keempat kakek tersebut mengundurkan diri kembali ke dalam kuburan mereka masing-masing, merekapun hanya diam saja. Kemudian dengan tanpa suara pemuda itu berlalu dari tempat itu. Diikuti oleh sang gadis yang juga berlalu ke arah lain.
---000---Seorang gadis bermata biru seperti samudra duduk dengan tenang di atas sebuah keledai telinga panjang yang berjalan perlahan dengan langkah satu-satu. Wajah sang gadis maupun keledainya nampak letih, rupanya mereka baru saja menempuh perjalanan yang jauh sekali
“Harap nona berhenti sebentar…” Seorang pria cebol yang aneh telah berdiri menghadang sambil kedua tangannya bergerak kearah kepala keledai tersebut. Tak terdengar suara apapun, tiba-tiba saja keledai itu meleguh dan terbanting ke tanah, sementara gadis itu sudah melompat sambil membentak marah: ”Kau…kau…Mengapa kau membunuh tungganganku yang tidak bersalah?...” Suara gadis itu meski terdengar marah namun tetap saja lembut dan enak di dengar…
“Hehehe, aku Tai Thouw Kwi (Setan Berkepala Besar) Bo Thong, jagoan nomor tiga dari Lima Iblis Langit, asal aku suka, siapapun tak nanti dapat
menghalangiku …melihat kecantikanmu, maka mulai sekarang engkau akan ku jadikan permaisuriku” Orang cebol itu tampak jumawa sekali, sambil berkata demikian matanya berkilat-kilat menatap si gadis dengan penuh nafsu.
“Bagus, engkau mau mengandalkan nama 5 Iblis Langit untuk mencari perkara denganku, kau akan menyesal seumur hidupmu” Sekali tangannya bergerak, selarik sinar kebiruan yang lembut dari Ilmu Tarian Kitab Iblis Langit, keluar perlahan dari jarinya mengarah ke dada orang cebol tersebut. Tiada suara, tiada perbawa tenaga yang dahsyat. Tak heran Tai Thouw Kwi hanya pandang
sebelah mata.
“Hohoho, gadis muda yang sombong, jika dalam tiga jurus aku tak dapat
membekukmu, aku akan menyembah di kakimu…” Seru si iblis Kepala Besar itu dengan sombongnya. Tangannya di angkat dengan enteng, menepis pukulan lawan dengan mulut tersenyum-senyum sinis. Hasilnya sunguh luar biasa. Tubuh
si setan kerdil itu mencelat tiga kali lebih cepat dari datangnya serangan lawan. Tubuhnya menghantam pepohonan sampai pohon ke tiga baru berhenti dan terbanting ke tanah dengan mata mendelik. Ternyata dia telah terluka sangat dalam dan parah.
Ke duapuluh sembilan anak buah Thai thouw kwi terbeliak kaget sama sekali. Tak di sangka, majikan mereka yang telah malang-melintang puluhan tahun hampir tanpa tanding ini di bikin mencelat dan semaput hanya dalam
segebrakan saja. Pastilah wanita ini adalah dewi yang turun dari khayangan untuk memberi pelajaran pada mereka. Serentak mereka melemparkan senjata ke tanah dan berlutut menyembah si gadis.
“Mohon Sian-Li maafkan kami yang tidak tahu tingginya gunung dalamnya laut sehingga berani mengganggu ketenangan Sian-Li, mulai sekarang kami tunduk dan mengabdi pada Sian Li”
Gadis itu yang tadinya sangat marah, tiba-tiba tersenyum aneh, suatu rencana besar tersirat di kepalanya. Entah apa itu, tapi hasilnya pasti jauh lebih baik daripada hanya membunuhi mereka saja.
---000---Hari itu langit tampak bersinar cerah. Suara burung berkicauan memenuhi langit di sekitar puncak Sian thian San (Puncak Para Dewa). Namun pemandangan yang cerah ini di pecahkan oleh berkelebatnya bayangan seorang pemuda yang memondong dua orang gadis muda yang bukan main cantik wajah mereka dan juga memiliki tubuh yang indah menggiurkan, apalagi dengan baju merah dan putih yang mereka kenakkan, bagaikan bidadari yang turun dari khayangan. Pemuda tersebut berwajah tampan dengan alis mata yang gagah seperti golok. Sinar matanya tampak biasa, namun halus dan tajam tanda menyimpan rahasia kekuatan yang dahsyat dan sempurna tiada tara.
Siapakah pemuda ini adanya? Dan siapakah kedua gadis tersebut?
Pemuda itu bukan lain adalah Sian Lee, sedangkan kedua gadis yang dibawanya itu adalah Im Hong Sian Li (Bidadari Angin Dingin), Hong Er Yong, dan Lian Giok Hui. Mereka berdua masih dalam pengaruh hawa keji dari Sepasang Golok Iblis. “Jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) dari manakah berani memasuki puncak terlarang ini tanpa izin?” Tiba-tiba terdengar suara yang tenang dan berwibawa menyambut kedatangan Sian Lee, di lain saat tampak enam bayangan
Sian Lee terkejut dan mengerutkan kening melihat para penghadang ini, segera dia menurunkan kedua gadis dalam pondongannya “Hemm, lo-enghiong, kita tidak pernah bertemu, seharusnyalah aku yang bertanya siapa kalian yang berani menghalangiku karena aku adalah pemilik tempat ini?”
Seorang yang berada di tengah segera menyahut dengan suara penuh teguran: “Hohoho, bocah lancang, kami adalah enam dewa pelindung puncak Sian-Thian-san ini, sedangkan engkau, mau apa engkau datang kemari sambil membawa dua orang gadis yang tertotok, hemmm…pasti engkau mau melampiaskan nafsu bejatmu bukan…sayangnya engkau bertemu dengan kami, dan kalau kau tidak melepaskan kedua gadis itu, kami akan memberimu hukuman…”
Sian Lee mengerutkan keningnya dan berpikir dalam hati: “Terlalu! Masa dia di tuduh penjahat pemetik bunga? enam dewa? Apa-apaan ini? Hem apakah Lo-jin yang mengirim mereka ke mari, ada baiknya biar ku coba mereka…” hatinya jadi gembira dan mulutnya tersenyum aneh. Tanpa banyak bicara, tangan kanannya nya bergerak menjadi sembilan bayangan dengan dua jari menotok tanpa mengeluarkan suara kearah dada orang berkerudung hitam yang berbicara dengannya tersebut, sementara tangan kirinya bergerak ke arah kerudung yang di pakai lawan.
Sengaja dia mengerahkan setengah bagian tenaganya dan menyerang dengan salah satu jurus dari ilmu Tarian Jari Sembilan Dewa , karena dia melihat tatapan orang berkerudung tersebut sangat lembut, tanda memiliki tenaga dalam yang sempurna.
Orang berkerudung itu terkejut melihat serangan yang aneh dan dahsyat ini, dia tidak mendengarkan suara, tapi dirinya seperti di tindih oleh kekuatan yang sangat dahsyat, tapi tidak menjadi gugup. Dalam sekejap tubuhnya berputar setengah lingkaran ke kiri dan tangan kanannya dengan jari terbuka tiba-tiba keluar ledakan keras seperti petir menciptakan perisai seluas dua jengkal menyambut totokan pemuda itu sekaligus menghadang serangan tangan kiri yang mencoba menarik kerudungnya, sementara tangan kirinya berubah seperti ribuan bayangan banyaknya menyerang dengan cepat ke tigapuluh dua titik penting di tubuh lawan.
Sian Lee kagum bukan main. Itulah jurus pertama dari ilmu Seng Hip Lui Sian Ciang (Telapak Dewa Petir Pemutar Bintang) yang amat dahsyat, dan kakek ini memainkannya hampir sama baik dengannya, tampaknya tingkat yang di miliki kakek ini masih di atas dari kepandaian ketua Siauw Lim Pai, Khong Bhok Hwesio.
Tangannya kirinya tidak berhenti mengarah ke kerudung lawan, sementara tangan kanannya dengan gerakan memutar setengah lingkaran yang aneh, tahu-tahu sudah menotok kaku tangan kiri kakek itu yang sedang menyerang tigapuluh dua titik penting di tubuhnya.
“Aiiiiiihhhhh…”, “Tak mungkin?...bagaimana engkau bisa mematahkan jurus ini?” Terdengar seruan-seruan kaget dari kakek itu yang segera meloncat mundur, bahkan dari ke lima orang berkerudung yang menonton dari samping. Serentak mereka bergerak dan sudah mengurung pemuda tersebut.
“Lo-cianpwe, tentu saja aku bisa mematahkannya karena aku juga memiliki ilmu tersebut, lihat ini…” Berkata demikian, Sian Lee mulai memainkan jurus-jurus dari ilmu Seng Hip Lui Sian Ciang dengan dahsyat dan sempurna, bahkan
keenam kakek tersebut sangat terkejut saat Sian Lee memainkan secara lengkap jurus ke-satu sampai ke-tujuh dari Pat Sian Giam Lie Ciang (Tarian Maut Delapan Dewa).
Saat pemuda itu selesai memainkan ilmu tersebut, serentak keenam orang itu melepaskan kerudung mereka masing-masing dan berlutut di depan pemuda itu. Tampaklah wajah tiap orang yang rata-rata berusia empatpuluh sampai
limapuluh tahun di hadapannya.
“Selamanya Ilmu Pat Sian Giam Lie Ciang hanya memiliki satu pewaris yang menguasai secara lengkap, maafkan kami yang tidak mengenal It-Thian-Sian, kami sudah lama menanti di sini…” Sahut yang paling tua, namun sebelum dia melanjutkan, Sian Lee sudah memotongnya: “Eh, paman, apakah kalian semua di kirim oleh Lo-jin?” Keenam orang itu serentak mengangguk.
“Paman sekalian, aku masih harus menyembuhkan kedua gadis itu yang terkena hawa Iblis Sepasang Golok Iblis, harap paman sekalian bersabar, setelah ini nanti kita bicara lagi. Tanpa menanti jawaban mereka, Sian Lee sudah melangkah dan kembali memondong kedua gadis itu yang dalam keadaan lemah. Di lain saat, tubuhnya berkelabat lenyap ke dalam bangunan Sian Thian San tersebut.
Pemuda tersebut meletakkan kedua orang gadis ini di atas kedua tempat tidur batu pualam dingin yang berdekatan. Sejenak dia termenung memandangi kedua gadis itu tanpa tahu harus berbuat apa. Kedua gadis itu terkena pengaruh yang aneh dari sepasang senjata aneh yang datang dari tanah seberang.
Pendekar dari tanah seberang yang bernama Paksi pamungkas-pun hanya mengatakan bahwa dialah yang bisa menyembuhkan kedua gadis itu, tapi tidak mengatakan bagaimana caranya.
Ada setengah jam dia termenung, tanpa di sadarinya, ke dua gadis itu telah siuman dan memandangnya tanpa bersuara. Tiba-tiba suara Giok Hui yang merdu memecahkan keheningan:
“Lee-ko, mengapa engkau diam saja, apakah yang menggundahkan hatimu?...” “Eh..oh..kalian berdua sudah sadar?...” Mukanya jadi merah, saat di dapatinya ke dua gadis itu memandanginya, “Bagaimana dengan kondisi kalian? Apa yang kalian rasakan?”
“Kami baik-baik saja meskipun kami tidak bisa mengerahkan tenaga, agaknya kami telah kehilangan tenaga murni dan tidak bisa bersilat lagi…” Seru gadis itu sedih, sehingga matanya berkaca-kaca hal mana membuat Sian Lee terharu dan tidak tega…
“Kau tenanglah Hui-moi, nanti kalau sudah sembuh, aku akan mintakan Lo-jin untuk mengambil kalian sebagai murid…”
“Ada satu cara…” Tiba-tiba Er Yong menyahut pelan, setengah berbisik “Eh, benarkah Yong-Moi? Apakah engkau tahu…?” Sian Lee dan Giok Hui memandang ke arah Er yong dengan penuh tanda tanya. Apalagi Giok Hui, mengetahui kalau ada obat yang bisa menyembuhkannya, segera dia mendesak Er Yong yang menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan ragu.
Mukanya yang cantik itu tampak merah karena jengah sehingga dia berpaling ke kanan.
“Lee-ko, rahasia penyembuhan ini terkait dengan rahasia kami para wanita, bisakah engkau keluar sebentar, ada yang perlu ku rundingkan dengan Giok Hui-cici? Tapi ku mohon engkau jangan mendengar pembicaraan kami?..” Tatap gadis itu dengan suara penuh permohonan.
“Baiklah, aku akan keluar sebentar, sepuluh menit lagi aku akan kembali.” Berkata demikian, pemuda itu melangkah keluar dari kamar batu pualam tersebut.
Sian Lee berdiri di luar kamar sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Beberapa saat kemudian terdengar suara panggilan dari dalam kamar batu, segera dia masuk ke dalam.
“Lee-ko, sebelum engkau menyembuhkan kami, cobalah engkau jawab dengan jujur pertanyaan kami. Apakah ada di antara kami yang kau sukai?” Er yong bertanya perlahan sambil menatap tajam pemuda itu, demikian juga Giok Hui.
“Eh, ini…ini….? Me…mengapa kalian bertanya begitu, apa hubungannya dengan kesembuhan kalian? Tanya Sian Lee gagap. Bagaimanapun juga, hatinya benar-benar kaget. Kalau dia harus menjawab ke dua gadis itu di dua tempat berbeda, lain lagi ceritanya, tapi ini di hadapan keduanya sekaligus, bagaimana dia gak khaki!
“Kami dalam keadaan sekarat, tentu saja jawabanmu sangat penting artinya untuk sesembuhan kami, sekarang kau jawablah dengan jujur, bagaimanakah perasaanmu terhadap kami?” Kembali Er yong menimpali.
Setelah termenung sebentar, maka sambil menarik nafas panjang Sian Lee menjawab perlahan: “Sesungguhnya memang harus ku akui, bahwa aku suka pada Yong-moi, tapi juga sayang pada Hui-moi, kalian semua sangat berarti di hatiku sehingga sukar bagiku untuk memilih…lagipula aku belum ingin menikah karena ada tugas yang harus di selesaikan .” Dia terdiam sejenak mengambil nafas, “nah…sudah ku katakan dengan terus terang, terserah apa pendapat kalian.”
Sian Lee merasa lega di hatinya. Raasanya semua beban yang di tahan dalam dada telah bebas. Tapi dia mengerutkan kening saat melihat Er Yong
memalingkan wajahnya yang memerah sambil berkata pada Giok Hui: “Hui-cici, engkau sudah dengar bukan, pemuda mata keranjang ini ingin sekali panah mendapatkan dua ekor burung dara, sekarang terserah padamu…?!”
“Oh, Yong-moi, bukan begitu maksudnya…” Sian Lee jadi gak enak dan pucat… dan kepalanya menunduk, tidak tahu harus bilang apa.
“Lee-koko, tahukah kau kalau kami berdua juga tidak menolakmu? Cuma kami masih ragu apakah engkau mau dan sanggup menjaga kami berdua? Kalau bisa berbagi adil dengan kami, maka tidak ada masalah lagi, begitu juga dengan penyakit kami ini.”
Kepala yang tadinya tertuntuk malu, tiba-tiba terangkat dengan wajah yang penuh tanda Tanya. Mulutnya hendak bertanya, tapi hakekatnya tidak perlu lagi, karena tatapan kedua gadis itu sudah menjawab semuanya. Meskipun Sian Lee adalah seorang yang bodoh, tapi masakkan dia tidak mengerti arti perkataan wanita-wanita itu. Boleh di kata ini adalah keputusan yang mungkin luar biasa bagi kedua gadis itu tapi juga keberuntungan baginya.
Hanya masih ada satu tanda Tanya dalam pikirannya. Namun Er yong seperti mengerti, lalu menjawab: “Menurut, suhu Paksi Pamungkas, pengaruh hawa iblis dalam darah kami hanya bisa di tawarkan oleh darah gaib dari pemilik Ajian Tapak Begawan Pamungkas dan Ajian Cakra Pancasona. Dan kalau itu terjadi,
berarti kami tidak mungkin bisa menikah dengan orang lain kecuali pemilik darah gaib tersebut, karena hanya orang itulah yang bisa memiliki serta menyentuh tubuh kami.
Sian Lee terkejut, dia tidak habis pikir kalau ada kejadian se aneh itu. Tapi dia merasa kasihan pada ke dua gadis itu, jika dia menyanggupi permintaan tersebut, bukankah berarti dia telah membelenggu mereka.
“Lee-koko, engkau jangan kwatirkan kami, jika engkau memang mencintai kami, kamipun rela bersama denganmu selamanya, hanya janganlah kau permainkan ketulusan hati kami?!” kembali Giok Hui menambahkan.
Sian Lee terharu mendengar ini. Dia tidak punya jalan lain, akhirnya di mulailah pengobatan terhadap kedua gadis itu dengan menggunakan darahnya.
Pengobatan yang aneh, karena darah gaibnya itu bukan di salurkan melalui mulut atau bagian yang lain, melainkan hanya melalui bagian yang paling