• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Dialektika Perkembangan Pers Indonesia

4. Pers Masa Orde baru

4.3. Munculnya Kapitalisme Media

Secara politis kontrol pemerintah terhadap pers memang semakin ketat. Namun keberhasilan ekonomi Orde Baru berpengaruh terhadap kemajuan bidang pendidikan serta standart kehidupan sehingga minat baca masyarakat juga ikut meningkat. Pada akhir tahun 1970-an pers Indonesia telah berhasil memenuhi syarat sebagai media massa, antara lain dilihat dari jumlah surat kabar yang dipasarkan.78 Sebelum peristiwa Malari, pers Indonesia digerakkan oleh semangat idealisme, dimodali oleh editor, didukung pengusaha kecil dan menengah yang masih satu aliran dengan surat kabar yang disokongnya. Berita belum dianggap sebagai suatu komoditi, walaupun Tempo misalnya sudah didirikan dengan dukungan pengusaha-pengusaha besar.79

Namun pada paruh kedua perkembangan ekonomi dasawarsa 80-an, perusahaan pers mulai tumbuh pesat, meski hanya terkonsentrasi pada beberapa gelintir orang. Kecenderungan konglomerasi ini mengancam kelangsungan hidup pers karena pada satu sisi perusahaan pers kecil perlahan-lahan dikuasai oleh segelintir orang. Konglomerasi dilihat sebagai ancaman karena dengan terpusat pada segelintir orang, media dalam satu konglomerasi cenderung mempunyai isi yang sama, hal tersebut berpotensi untuk memonopoli wacana mapuan pendapat umum.

Daniel Dhakidae mengatakan, pers Indonesia pada pemerintahan Orde Baru mengalami transformasi dari sebuah wadah wacana politik menuju pers

78

Ibid, hal.26

79 David T. Hill, Kata Pengantar untuk buku Ignatius Haryanto, Pembredelan Pers di Indonesia,

industri komersial.80. Konsentrasi untuk mendapat keuntungan besar dari bisnis pers menjadi semacam pelarian bagi wartawan karena dalam situasi represif sulit bagi wartawan untuk mengeksplorasi kemampuan jurnalistiknya. Namun keuntungan finansial itu berbanding terbalik dengan kepedulian sosial yang makin tumpul. Peningkatan oplah dan perolehan iklan menjadi tujuan utama, prioritas pers Indonesia adalah perolehan keuntungan, bukan kualitas berita.81

Memang secara politis penguasa Orde Baru mengekang kehidupan pers agar tidak bersikap kritis terhadap neguasa, namun pada sisi lain pemerintah justru mengembangkan industri media dengan memberikan lisensi untuk mendirikan media baru. Langkah ini bisa dilihat sebagai usaha untuk tetap melanggengkan dominasi terhadap media, sebab pemerintah hanya memberi lisensi kepada keluarga maupun konglomerat yang dekat dengan pusat kekuasaan. Dengan memberikan lisensi kepada keluarga dan pengusaha yang dekat dengan penguasa, pemeritah tetap bisa mengendalikan bahkan menjadikan media sebagai perpanjangan tangan negara dalam mempengaruhi ataupun mengarahkan pendapat umum masyarakat.82

Perkembangan menuju kapitalisme industri media pada era Orde Baru yang mengarah kepada kepemilikan modal melalui proses-proses komersialisasi, liberalisasi, dan internasionalisasi tidak lepas dari intervensi negara dalam sektor

80 Daniel Dhakidae, “The State, The Rise of Capital and The Fall of Political Journalism: Political Economy of Indonesian News Industry” (Disertasi), sebagaimana dikutip Krishna Sen and David T Hill, Media, Culture and Politics in Indonesia, Oxford, University Press, 2000, hal. 51.

81

Lukas Luwarso, “Pers Indonesia: Pergulatan Untuk Kebebasan, dalam Atmakusumah” (Penyunting), 10 Pelajaran Untuk Wartawan, LSPP kerja sama dengan Kedubes Swiss dan UNESCO, Jakarta, 2000, hal. 76.

82

David T. Hill, Kata Pengantar untuk buku Ignatius Haryanto, Pembredelan Pers di Indonesia,

industri media.83 Pertama, proses komersialisasi media tidak lepas dari kebijakan-kebijakan rezim Orba, khususnya pada awal pemerintahan. Peralihan dari Pers Perjuangan atau Pers Politik menjadi Pers Industri antara lain difasilitasi oleh pencabutan ketentuan produk rezim Orde Lama yang mengharuskan semua media berafiliasi dengan organisasi atau partai politik tertentu (Kepmenpen RI No. 29/1965). Pencabutan ketentuan itu mendorong pers untuk makin berorientasi ke pasar dan dikelola secara komersial. Bila pada era sebelumnya para wartawan lebih mementingkan idealisme pers dan cenderung menganggap urusan-urusan teknis bisnis sebagai interupsi yang tidak menyenangkan, maka pada masa Orde Baru para wartawan semakin menempatkan aspek bisnis sebagai bagian integral dari kegiatan jurnalisitik mereka bila mereka tidak ingin media mereka tersingkir dari pasar.84

Kedua, dominasi peran negara dalam proses liberalisasi industri media,

khususnya dari segi penambahan pemain dalam industri media, terlihat dari jumlah lisensi yang diberikan untuk mendirikan perusahaan pers. Tetapi dengan kewenangan negara untuk memberikan lisensi, barriers to entry ke pasar media tidak sepenuhnya “alamiah”. Bagi mereka yang ingin menjadi pemain dalam industri media, halangan yang harus mereka hadapi tidak hanya bersumber dari kondisi persaingan pasar, melainkan juga halangan politis yang diciptakan oleh

83 Dedy N. Hidayat, “Pers Dalam Kontradiksi Kapitalisme Orde Baru”, dalam Dedy N. Hidayat, et. al, Pers dalam “Revolusi Mei”: Runtuhnya Sebuah Hegemoni, Jakarta, Gramedia, 2000, hal. 143.

84

Walaupun demikian, intervensi rezim Orde Baru dalam proses komersialisasi industri media tidak di arahkan untuk membentuk industri yang mandiri. Di samping berbagai kontrol politik yang ada, penguasa Orde Baru juga menerapkan kontrol dari segi ekonomi, antara lain dengan monopoli pemasokan kertas koran oleh Aspex Papers yang di miliki oleh Bob Hasan, salah seorang kroni presiden Soeharto pada waktu itu.

penguasa. Kasus-kasus pemberian lisensi secara selektif, sebagaimana halnya kasus-kasus pencabutan izin terbit yang didasarkan azas pertimbangan politis, tercatat cukup banyak.85

Dari segi politik, masuknya para kroni dan anggota keluarga Candana ke sektor industri media merupakan bagian dari proses political vertical integration antara unsur-unsur elite penguasa dengan unsur-unsur pers. Terlebih lagi bila integrasi tersebut didasarkan atas motivasi kepentingan politik. Motivasi para kroni dan anggota keluarga Soeharto untuk melakukan investasi di sektor industri media memang bisa didasarkan atas kepentingan ekspansi bisnis dalam sektor tersebut.86

Keberhasilan industri pers, peningkatan tiras dan jumlah iklan yang berjalan seiring dengan pengendalian pers oleh pemerintah membuat pers Indonesia menjadi kurang militan dan lebih defensif. Di bawah berbagai kekangan kebijaksanaan pers Orde Baru, menurut Todung Mulya Lubis, banyak surat kabar menjadi mapan sebagai perusahaan bisnis, dan tidak lagi sekedar sebagai surat kabar, pers juga tergantung dari kebaikan pemerintah.87

Dokumen terkait