TINJAUAN PUSTAKA
2. Murbei Varietas Multikaulis
Murbei jenis Multikaulis (Morus multicaulis) dikenal dengan nama ”murbei multi” atau ”murbei besar” karena tanamannya cepat besar dan tinggi. Warna batang coklat, daunnya besar, membulat dan permukaannya bergelombang dengan tepi daun bergerigi. Warna daun saat pucuk kuning kemerahan, permukaan daun tidak mengkilap (Atmosoedarjo 2000).
Tabel 8 Deskripsi jenis-jenis murbei baru
No Jenis Murbei Warna
Batang Warna Daun Warna Pucuk Bentuk daun Tepi Daun Permukaan Daun 1 M.cathayana Coklat tua Hijau Kuning kemerahan Berlekuk Bergerigi Tdk mengkilap 2 M.multicaulis Coklat tua Hijau Hijau kekuningan Bulat lebar Bergerigi Tdk mengkilap 3 M.alba var. Kanva Coklat muda Hijau Hijau kekuningan Oval, ukuran sedang Bergerigi Tdk mengkilap 4 M.indica var.S54 Abu- abu Hijau Hijau kekuningan Bulat, cekung Bergerigi Tdk mengkilap Sumber : Atmosoedarjo, 2000
Gambar 3 Tanaman murbei jenis Morus alba (Sumber : www.ipteknet.com)
Di Jawa murbei disebut juga besaran, di Vietnam dinamakan may mon
atau dau tam. Di Inggris tanaman ini memiliki banyak nama, di antaranya morus leaf, morus bark, morus fruit, mulberry leaf, mulberry bark, mulberry twigs, white mulberry, dan mulberry. Bunga murbei termasuk kategori bunga majemuk yang berbentuk tandan, sedangkan buahnya mengandung air dan rasanya enak. Tanaman murbei tumbuh dengan baik pada daerah dengan ketinggian lebih dari 100 meter di atas permukaan laut. Agar bisa tumbuh dengan baik murbei membutuhkan sinar matahari yang cukup.
Di kebun yang dikelola LMDH Sukamanah Pangalengan Bandung Selatan terdapat 500 ha atau 5,7% lahan dari 8.734 ha lahan hutan di BKPH Pangalengan dibudidayakan untuk mengembangkan murbei jenis Multikaulis dan Kanva II yang cocok ditanam di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.000 m di atas permukaan laut (dpl). Pohon murbei tersebut ditanam di sela-sela tanaman keras yang tumbuh di hutan seperti pinus dan cemara. Setiap hektare pohon murbei bisa menghasikan daun 7 - 12 ton setiap 35 harinya. Sebanyak 5 ton di antaranya bisa dijadikan makanan ulat sutera dan 2 ton lainnya untuk dijadikan teh murbei.
Manfaat murbei bagi kesehatan
Efek farmakologis murbei di antaranya peluruh kentut (karminatif), pereda demam (antipiretik), peluruh keringat (diaforetik), peluruh kencing (diuretik), pendingin darah, dan penerang penglihatan (Hariana 2007). Untuk keperluan mengobati penyakit, bagian murbei yang digunakan adalah bagian daun, ranting, buah, dan kulit akarnya. Daun murbei berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit demam karena flu dan malaria, batuk, sakit kepala, sakit tenggorokan, sakit gigi, rematik, darah tinggi (hipertensi). Juga untuk penyakit kencing manis (diabetes mellitus), kaki gajah (elephantiasis tungkai bawah), sakit kulit bisul, radang mata merah, memperbanyak air susu ibu (ASI), muntah darah, dan batuk darah akibat darah panas (iptek.net.id). Syafutri (2008) menyatakan bahwa jus buah murbei dapat direkomendasikan untuk menurunkan kolesterol LDL. Isdiantoro (2003) dalam penelitiannya melaporkan bahwa jus murbei dapat berkhasiat menurunkan tekanan darah pria dewasa. Hal ini salah satunya karena murbei mengandung n- butanol yang memiliki efek diuretik.
Berdasarkan Damayanthi et al (2007), daun murbei segar memiliki kandungan theaflavin, tanin serta kafein. Ketiga senyawa tersebut merupakan senyawa kimia yang khas terdapat pada daun teh (Camellia sinensis). Hal ini menjadi salah satu kekuatan tanaman murbei untuk dapat dibuat minuman layaknya teh. Kekuatan lainnya yang dilaporkan oleh Sofian (2006) adalah adanya senyawa 1-Deoxynojirimicyn (DNJ), yang berpotensi sebagai obat diabetes melitus. Senyawa ini dapat menghambat aktivitas enzim glukosidase yang berfungsi memecah senyawa polisakarida menjadi monomer-monomer gula (glukosa), sehingga mengurangi penderitaan pengidap diabetes.
Mengkonsumsi teh murbei secara teratur bisa memperkuat daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit, dan membuat awet muda. Selain itu, daun murbei tidak terkontaminasi oleh peptisida karena daun murbei biasa digunakan sebagai pakan ulat sutra. Menurut penelitian Efendi (2008) teh dari daun murbei dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah pada tikus penderita diabetes. Hal senada juga dilaporkan oleh Amma (2009) bahwa jus dari daun murbei segar maupun yang telah direbus juga mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes.
Toksisitas Pengertian dan jenis toksisitas
Toksisitas secara umum dianggap sebagai suatu fenomena kultural yang merupakan hasil dari tersalurkannya kontaminan ke dalam media. Namun terkadang toksisitas juga dapat ditimbulkan dari fenomena alam (Novotny dan Olem, 1993). Hampir seluruh bahan, termasuk garam dapur (NaCl), mempunyai ambang batas toksik, yang jika berlebihan dapat menyebabkan bahaya pada manusia (Krenkel dan Novotny, 1980 in Novotny dan Olem, 1993). Dampak yang dihasilkan dari kontaminasi suatu toksikan terhadap kehidupan organisme ditentukan dengan beberapa konsep dasar menurut Sprague (1969) in Novotny dan Olem (1993) yaitu:
1. Acute toxicity (Toksisitas akut)
Kontaminasi toksikan pada organisme melalui senyawa atau campuran senyawa yang bersifat kritis. Umumnya berlangsung pada waktu yang singkat seiring laju kontaminasi yang mengakibatkan kematian pada organisme. Efek toksisitas akut ini berkorelasi langsung dengan absorpsi zar toksik.
2. Chronic toxicity (Toksisitas kronik)
Kontaminasi suatu toksikan yang bersifat sublethal pada organisme dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Efek toksisitas kronis ini sering kali dikarenakan absorpsi zat toksik dalam jumlah keci dalam jangka waktu yang lama, sehingga terakumulasi mencapai konsentrasi toksik dan menimbulkan gejala keracunan.
3. Lethal toxicity (Toksisitas letal)
Laju kontaminasi toksikan yang mengakibatkan kematian pada organisme. 4. Sublethal toxicity (Toksisitas subletal)
Kontaminasi suatu toksikan pada organisme yang berdampak pada metabolisme organisme tetapi tidak menyebabkan kematian.
5. Cumulative toxicity (Toksisitas kumulatif)
Menurut Hodgson (1987) bahan kimia yang memiliki potensi sebagai toksik terdapat pada tumbuhan. Di antaranya adalah komponen sulfur, lipid, phenol, alkaloid, dan banyak lagi jenis yang lainnya. Keberadaan komponen ini pada tumbuhan biasanya sebagai perlindungan dari serangan hewan herbivore, seperti jenis serangga dan mamalia. Namun berdasarkan Ariens (1986) suatu zat yang memiliki potensi toksik didalam tubuh organisme belum tentu menyebabkan timbulnya gejala keracunan selama jumlah yang diabsorpsi berada di bawah konsentrasi yang toksik. Sebaliknya, jika diabsorpsi dalam jumlah besar yang tidak sesuai, setiap zat yang pada dasarnya aman ternyata beracun. Hal tersebut menjadikan pentingnya sebuah pembuktian racun pada konsentrasi yang subtoksik agar bahaya dapat diketahui pada saat yang tepat dan kerusakan karena keracunan dapat dihindari.
Mason (1981) mengkategorikan senyawa yang berpotensi racun sebagai berikut :
• Senyawa metal, seperti nikel, cadmium, zink, copper, dan merkuri yang dihasilkan dari berbagai proses industri serta beberapa penggunaan metode pertanian.
• Komponen organik, seperti petroleum hydrocarbon, solvents, organometalic compounds, phenols, formaldehyde, organo-clorine pesticides.
• Gas, seperti klorin dan ammonia.
• Anion, seperti sianida, fluorida, sulfida, dan sulfat.
Pengujian toksisitas
Toksisitas dapat ditemukan nilainya dengan melakukan uji biologi atau uji toksisitas. Bioassay atau uji toksisitas merupakan cara untuk mengukur pengaruh dari satu atau lebih bahan pencemar pada satu atau lebih spesies organisme. Beberapa istilah yang sering digunakan dalam mengungkapkan hasil bioassay
adalah:
1. Lethal concentration (LC)
Kematian merupakan kriteria toksisitas. Hasilnya ditunjukkan dengan nilai LC yang menunjukkan presentasi kematian hewan pada konsentrasi tertentu. LC50-48 jam menunjukkan konsentrasi dari substansi toksikan yang
menyebabkan kematian terhadap 50% hewan uji yang dikontaminasikan selama 48 jam.
2. Effective Concentration (EC)
Merupakan istilah yang digunakan apabila terdapat pengaruh lain selain kematian pada saat pengamatan. Pengaruh tersebut antara lain gangguan pada alat pernafasan, ketidaknormalan pada perkembangan tubuh atau perubahan tingkah laku. Hasilnya ditunjukkan seperti pada lethal concentration.
3. Incipient lethal Level
Yaitu konsentrasi akut bagi hewan uji berakhir. Pada konsentrasi ini 50% hewan uji dapat hidup dalam waktu yang relatif lama.
4. Safe Concentration
Adalah konsentrasi maksimum bahan uji yang tidak menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap hewan uji setelah mengalami kontaminasi yang lama lebih dari satu atau dua generasi.
5. Maximum Allowable Toxicant Concentration (MATC)
Adalah konsentrasi bahan uji yang diperbolehkan keberadaannya dalam air yang tidak menyebabkan pengaruh negatif pada hewan uji dan berbagai peruntukkan lainnya. MATC ditentukan dengan melakukan long-term bioassay terhadap suatu siklus tertentu yang paling sensitif dari hewan uji atau seluruh siklus hidupnya (Mason 1981).
Bioassay Daphnia
Daphnia, yang dikenal dengan nama kutu air, adalah sejenis crustace kecil yang hidup di air tawar. Ia merupakan sumber makanan bagi ikan-ikan dan organisme perairan lainnya.
Daphnia dapat digunakan sebagai biota uji untuk uji toksisitas yang baik karena mereka sensitif terhadap perubahan kimia air. Selain itu budidaya (kultur)
Daphnia sederhana dan mereka dewasa hanya dalam waktu beberapa hari saja. Biota ini telah digunakan selama bertahun-tahun untuk menduga toksisitas akut dan kronis dari zat kimia tunggal maupun kompleks (Eaton et al 1995).
Gambar 4 Anatomi dari Daphnia betina (Sumber : EPA)
Siklus hidup Daphnia berkisar antara 40 hingga 56 hari, bervariasi tergantung pada spesies dan kondisi lingkungan tempat hidupnya. Daphnia
dewasa dapat menghasilkan telur sebanyak 6-10 buah yang terdapat pada brood chamber (Gambar 4). Telur-telur tersebut kemudian menjadi embrio dan dilepaskan dalam beberapa hari. Daphnia juvenile akan dewasa secara seksual dalam waktu 6-10 hari. Kondisi populasi Daphnia yang baik menyebabkan sebagian besar Daphnia menjadi berjenis kelamin betina dengan sifat aseksual (Gambar 5). Daphnia akan menjadi stress jika densitas populasi terlalu tinggi, kekurangan pakan, kualitas air yang buruk, dan suhu yang ekstrim. Pada keadaan stress, Daphnia juvenile sebagian besar akan menjadi jantan yang bereproduksi secara seksual, dan telur tidak akan dilepaskan oleh Daphnia betina sebelum terjadi perubahan lingkungan hidup menjadi lebih baik (Gambar 6). Berdasarkan hal tersebut, maka untuk mendapatkan suplai Daphnia yang berkelanjutan, kondisi lingkungan stress harus dihindari karena mengakibatkan reproduksi
Gambar 5 Daphnia betina aseksual yang siap melepaskan telur (Sumber : ei.cornell.edu).
Gambar 6 Daphnia betina seksual yang menahan telurnya hingga lingkungan perairan kembali kondusif
Penelitian dilakukan dua tahap dan di dua tempat, yaitu tahap pertama di Laboratorium Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) untuk pembuatan teh camellia-murbei serta uji fitokimia yang merupakan rangkaian penelitian kerjasama dengan Departemen Pertanian (KKP3T). Penelitian tahap pertama ini dilakukan pada bulan Juni – Agustus 2007.
Tahap kedua berupa penelitian lanjutan, yakni uji toksisitas, dilakukan di laboratorium Biomikro Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan, serta Laboratorium Departemen Gizi Masyarakat, Institut Pertanian Bogor pada bulan Juni – September 2008.
Bahan dan Alat
Untuk pembuatan teh camellia-murbei bahan yang diperlukan adalah daun teh varietas assamica klon Klon gambung 7 dan Klon gambung 9, daun murbei varietas kanva dan multikaulis, bubuk jahe merah dan asam jawa. Alat yang digunakan adalah alat-alat untuk proses pembuatan teh seperti mesin pelayuan, steaming, mesin penggulung daun, mesin CTC, dan oven pengeringan.
Bahan untuk uji fitokimia adalah seluruh teh kering hasil dari tahap pembuatan teh camellia-murbei yang telah diformulakan sesuai dengan rancangan perlakuan.
Untuk uji toksisitas yang dilakukan dengan metode bioassay Daphnia memerlukan bahan sebagai berikut: dua formula teh camellia-murbei yang memiliki kandungan fitokimia paling tinggi beserta dua formula teh tersebut yang ditambah jahe dan asam jawa, instar Daphnia, serta media kultur Daphnia. Peralatan yang digunakan adalah akuarium, gelas ukur, dan pipet.
Desain Rancangan Pembuatan teh camellia-murbei
Perlakuan yang diberikan:
A. Varietas camellia, terdiri dari :
A1 = Teh Camelia sinensis varietas assamica klon Klon gambung 7 A2 = Teh Camelia sinensis varietas assamica klon Klon gambung 9
B. Varietas murbei, terdiri dari :
B1 = Teh murbei oksidasi enzimatis varietas kanva B2 = Teh murbei oksidasi enzimatis varietas multicaulis B3 = Teh murbei non-oksidasi enzimatis varietas kanva B4 = Teh murbei non-oksidasi enzimatis varietas multicaulis • n = 3 kali ulangan
Desain rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Faktorial sehingga jumlah sampel = 2 varietas camellia x 4 varietas murbei x 3 ulangan = 24 satuan percobaan.
Model linier yang digunakan adalah Yijk = µ + αi+βj+(αβ)ij+ ε(ijk) Keterangan :
Yijk = Respon pada faktor varietas teh ke-i, varietas murbei ke-j dan ulangan ke-k
µ = nilai tengah umum
αi = Pengaruh dari faktor varietas teh ke-i (Klon gambung 7 dan Klon gambung 9)
βj = Pengaruh dari faktor varietas murbei ke-j (Kanva dan Multicaulis) (αβ)ij = Pengaruh dari interaksi varietas teh ke-i dan varietas murbei ke-j
ε(ijk) = pengaruh acak pada varietas teh ke-i, varietas murbei ke-j dan ulangan ke-k
data yang diperoleh akan dilakukan uji F-hitung memakai uji Tukey, jika terdapat data yang signifikan maka diuji lanjut dengan uji Duncan (DMRT). Uji Kimia dan Fitokimia
Uji fitokimia dilakukan di laboratorium biokimia PPTK dengan
menggunakan metode titrimetri dan HPLC yang telah terstandar. Semua sampel
dilakukan analisis kimia yang mencakup : kadar air, ekstrak air, kadar abu total, kadar abu larut air, kadar abu tidak larut asam, serta analisis fitokimia yang berupa : tannin, kafein, dan theaflavin. Kemudian ditentukan tiga formula teh terbaik berdasarkan jumlah kandungan fitokimia dan hasil organoleptik, yang selanjutnya
Uji Toksisitas
Terdapat dua faktor perlakuan, yang pertama adalah faktor formula teh camellia-murbei, dan yang kedua adalah faktor konsentrasi total katekin pada larutan media uji Daphnia. Faktor pertama terdapat enam taraf :
1. F1 = formula camellia-murbei ke-1 terbaik
2. F2 = formula camellia-murbei ke-1 terbaik + jahe dan asam jawa 3. F3 = formula camellia-murbei ke-2 terbaik
4. F4 = formula camellia-murbei ke-2 terbaik + jahe dan asam jawa 5. F5 = kontrol teh camellia komersial
6. F6 = kontrol teh murbei komersial
Kriteria formula teh camellia-murbei terbaik adalah berdasarkan kandungan total katekin yang tertinggi. Faktor kedua terdapat enam taraf titik konsentrasi yang akan diujikan. Lima titik ditentukan berdasarkan uji konsentrasi pendahuluan sesuai dengan prosedur yang diuraikan di bawah ini, sedangkan satu titik merupakan konsentrasi 0 ppm (kontrol). Jumlah keseluruhan terdapat 36 unit satuan percobaan yang diulang sebanyak 3 kali. Pada masing-masing unit satuan terdapat 10 ekor instar Daphnia.
Prosedur Penelitian
Prosedur pembuatan teh oksidasi enzimatis (Teh hitam) • Pelayuan
Tahap pertama pada proses pengolahan teh dengan fermentasi adalah pelayuan. Selama proses pelayuan, daun teh akan mengalami dua perubahan yaitu perubahan senyawa-senyawa kimia yang terdapat dalam daun serta menurunnya kandungan air sehingga daun teh menjadi lemas. Proses ini dilakukan pada alat Withering Trough atau palung pelayuan selama 14-18 jam. Hasil pelayuan yang baik ditandai dengan pucuk layu yang berwarna hijau kekuningan, tidak mengering, tangkai muda menjadi lentur, bila digenggam terasa lembut dan bila dilemparkan tidak akan buyar serta timbul aroma yang khas seperti buah masak.
• Penggilingan dan oksimatis
Secara kimia, proses pengilingan merupakan proses awal terjadinya oksimatis yaitu bertemunya total katekin dan enzim total katekin oksidase dengan
bantuan oksigen. Penggilingan akan mengakibatkan memar dan dinding sel pada daun teh menjadi rusak. Cairan sel akan keluar dipermukaan daun secara rata. Proses ini merupakan dasar terbentuknya mutu teh. Selama proses ini berlangsung, katekin akan diubah menjadi theaflavin dan thearubigin yang merupakan komponen penting baik terhadap warna, rasa maupun aroma seduhan teh hitam. Proses ini biasanya berlangsung selama 90-120 menit . Mesin yang biasa digunakan dalam proses penggilingan ini dapat berupa Open Top Roller (OTR), Rotorvane dan Press Cup Roller (PCR)-untuk teh hitam orthodox dan Mesin Crushing Tearing and Curling (CTC)-untuk teh hitam CTC.
• Pengeringan
Proses ini bertujuan untuk menghentikan proses oksimatis pada saat seluruh komponen kimia penting dalam daun teh telah secara optimal terbentuk. Proses ini menyebabkan kadar air daun teh turun menjadi 2,5-4%. Keadaan ini dapat memudahkan proses penyimpanan dan transportasi. Mesin yang biasa
digunakan dapat berupa ECP (Endless Chain Pressure) Dryer maupun FBD
(Fluid Bed Dryer) pada suhu 90-95oC selama 20-22 menit. Prosedur pembuatan teh non oksidasi enzimatis (Teh hijau)
• Pelayuan
Berbeda dengan proses pengolahan teh hitam, pelayuan disini bertujuan menginaktifasi enzim total katekin oksidase untuk menghindari terjadinya proses oksimatis. Akibat proses ini daun menjadi lentur dan mudah digulung. Pelayun dilakukan dengan cara mengalirkan sejumlah daun teh kedalam mesin pelayuan Rotary Panner dalam keadaan panas (80-100oC) selama 2-4 menit secara kontinyu. Penilaian tingkat layu daun pada pengolahan teh hijau dinyatakan sebagai persentase layu, yaitu perbandingan daun pucuk layu terhadap daun basah yang dinyatakan dalam persen. Persentase layu yang ideal untuk proses pengolahan teh hijau adalah 60-70%. Tingkat layu yang baik ditandai dengan daun layu yang berwarna hijau cerah, lemas dan lembut serta mengeluarkan bau yang khas.
penggulungan daun teh akan dibentuk menjadi gulungan kecil dan terjadi pemotongan. Proses ini dilakukan seger setelah daun layu keluar dari mesin pelayuan. Mesin penggulung yang biasa digunakan adalah Open Top Roller 26 tipe single action selama 15-17 menit.
• Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk mereduksi kandungan air dalam daun hingga 3-4%. Untuk mencapai kadar air yang demikian rendahnya, pengeringan umumnya dilakukan dalam dua tahap. Pengeringan pertama bertujuan mereduksi kandungan air dan memekatkan cairan sel yang menempel pada permukaan daun. Hasil pengeringan pertama masih setengah kering dengan tingkat kekeringan (kering dibagi basah) sekira 30-35%. Mesin yang digunakan pada proses
pengeringan pertama ini adalah ECP dengan suhu masuk 130-135oC dan suhu
keluar 50-55oC dengan lama pengeringan sekira 25 menit.
Disamping memperbaiki bentuk gulungan, pengeringan kedua bertujuan untuk mengeringan teh sampai kadar airnya menyentuh angka 3-4%. Mesin yang digunakan dalam proses ini biasanya berupa Rotary Dryer tipe repeat roll. Lama pengeringan berkisar antara 80-90 menit pada suhu dibawah 70oC.
Prosedur uji toksisitas
Prosedur uji toksisitas dengan metode bioassay Daphnia mengacu pada Eaton et al (1995). Sebelum dilaksanakan uji toksisitas, dilakukan terlebih dahulu kultur daphnia serta uji pendahuluan. Kultur daphnia serta uji toksisitas dilakukan di laboraorium Biomikro Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan.
• Kultur Daphnia
Kultur Daphnia merupakan bagian dari persiapan untuk mendapatkan
hewan uji yang merupakan instar Daphnia. Kultur Daphnia dilakukan di dalam wadah kaca sejenis akuarium ukuran kecil (30 x 30 x 30). Diperlukan sedikitnya 20-30 ekor daphnia dewasa untuk memulai kultur ini. Selama masa kultur, Daphnia diberi pakan berupa alga hijau. Setelah kurang-lebih satu bulan, didalam kultur terdapat ratusan ekor Daphnia kecil dan dewasa. Kemudian Daphnia yang telah memiliki telur (ditunjukkan dengan adanya warna kuning pada bagian brood chamber) dipisahkan dari akuarium kultur dan dimasukkan ke dalam gelas becker
untuk ditetaskan. Gelas becker yang telah dimasukkan Daphnia diamati setidaknya 24 jam sekali untuk melihat apakah telur telah menetas menjadi instar Daphnia. Instar Daphnia inilah yang akan menjadi hewan uji pada uji pendahuluan maupun uji utama.
• Uji Pendahuluan
Uji pendahuluan dilakukan untuk menentukan selang konsentrasi total katekin yang akan digunakan sebagai kontaminan pada uji utama. Pada uji pendahuluan ditentukan konsentrasi ambang atas (N) dan konsentrasi ambang bawah (n). Konsentrasi ambang atas (N) adalah konsentrasi terendah dari toksikan yang menyebabkan seluruh hewan uji mati pada pemaparan waktu 24 jam, sedangkan konsentrasi ambang bawah (n) adalah konsentrasi tertinggi dari toksikan yang tidak menyebabkan kematian pada hewan uji pada pemaparan waktu 24 jam. Setelah diperoleh nilai konsentrasi ambang batas atas dan bawah, titik-titik konsentrasi uji utama dapat dihitung dengan rumus berdasarkan Adhiarni (1997), sebagai berikut:
Log N/n = k log a/n ...(1) a/n = b/a = c/b = d/c = e/d = N/e...(2) Keterangan :
N : Konsentrasi tertinggi
n : Konsentrasi terendah
k : Jumlah konsentrasi yang diuji
a, b, c, d dan e : Konsentrasi antara konsentrasi terendah dan konsentrasi tertinggi (a adalah konsentrasi terkecil)
• Uji Lanjutan (Utama)
Uji utama dilakukan selama 48 jam dengan enam titik pengamatan. Jumlah instar Daphnia yang mati dicatat, kemudian data yang diperoleh diolah dengan
EPA Probit Analisis Program untuk mengetahui Lethal Concentration (LC50)
dengan derajat kepercayaan 95%. LC50 adalah konsentrasi yang dapat
Meyer (1982) menyebutkan tingkat toksisitas suatu ekstrak mengikuti pedoman sebagai berikut :
LC50 ≤30 ppm = sangat toksik
30 < LC50≤1000 ppm = toksik
LC50 ≥1001 ppm = tidak toksik
Loomis (1978) mengklasifikasikan toksisitas atas dasar jumlah besarnya zat kimia untuk setiap kg berat badan yang diperlukan untuk menimbulkan bahaya, yaitu sebagai berikut :
1. Luar biasa toksik (1mg/kg atau kurang)
2. Sangat toksik (1-50 mg/kg)
3. Cukup toksik (50-500 mg/kg)
4. Sedikit toksik (500 – 5000 mg/kg)
5. Praktis tidak toksik (5 g – 15 g/kg)
Pembuatan Teh Camellia-Murbei
Dengan rancangan percobaan yang telah diuraikan pada Bab Metodologi, maka diperoleh formula teh camellia-murbei sebagai berikut :
Tabel 9 Formula teh camellia-murbei (1:1)
No Formula teh
1 Klon gambung 7 non-oksimatis dengan Kanva oksimatis 2 Klon gambung 7 non-oksimatis dengan Kanva non-oksimatis 3 Klon gambung 7 non-oksimatis dengan Multikaulis oksimatis 4 Klon gambung 7 non-oksimatis dengan Multikaulis non-oksimatis 5 Klon gambung 9 non-oksimatis dengan Kanva oksimatis
6 Klon gambung 9 non-oksimatis dengan Kanva non-oksimatis 7 Klon gambung 9 non-oksimatis dengan Multikaulis oksimatis 8 Klon gambung 9 non-oksimatis dengan Multikaulis non-oksimatis Keterangan : oksimatis = oksidasi enzimatis
Dari kedelapan formula teh camellia-murbei yang diperoleh diatas, kemudian dianalisis kandungan fitokimianya untuk mengetahui formula yang memiliki manfaat terbaik bagi kesehatan.
Analisis Kimia dan Fitokimia Teh Camellia-Murbei
Analisis kimia yang dilakukan meliputi analisis kandungan : 1. Kadar air
2. Ekstrak air 3. Kadar abu
4. Abu tidak larut asam 5. Abu larut air
6. Alkalinitas 7. Kadar serat
Analisis fitokimia yang dilakukan meliputi analisis kandungan 1. Theaflavin
Ditentukannya faktor-faktor analisis tersebut dikarenakan ingin membandingkan mutu teh camellia-murbei dengan standar mutu teh berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 10 Persyaratan kandungan kimia mutu teh
Jenis uji Satuan Spesifikasi
Kadar air (b/b) % maksimum 8,00
Kadar ekstrak air (b/b) % minimum 32,00
Kadar abu total (b/b) % minimum 4,00- maksimum 8,00
Kadar abu larut dalam air (b/b) dari abu total % Minimum 45,00