• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

BOCAH 1 Iya, kak

31 INT. MUSHOLA JACK – MAGHRIB

Chelsea adzan dengan wajah tegang, memegang mikrofon sambil menatap kertas di tangan Bang Jack yang berisi lafal adzan. Bang Jack menunjuk baris terakhir.

CHELSEA

BANG JACK

Alhamdulillah. Vokal loe boleh juga. Mudah-mudahan adzan loe sukses mengilhami ummat untuk pergi sholat.

CHELSEA Makasih, Bang.

32 EXT. MUSHOLA JACK – MAGHRIB

Barong, Juki, dan Hansip duduk melingkar di tikar siap untuk berbuka. Aya datang membawa nampan berisi empat mangkok kolak dan lima gelas teh manis.

BARONG Buat Aya mana?

AYA

Sudah tadi, sedikit. Tinggal minum tehnya aja yang belum.

Bang Jack dan Chelsea keluar dari dalam mushola dan langsung bergabung dalam lingkaran mereka. Bang Jack sendiri yang membagi keempat mangkok dan lima gelas teh manis itu kepada mereka. Mereka baru menyadari bahwa hanya Bang Jack yang tidak mendapat bagian.

BANG JACK Jangan liat-liatan aja.

Menyegerakan berbuka itu lebih utama.

CHELSEA

Buat Bang Jack sendiri mana? BANG JACK

Udah ade. Gampang.

Bang Jack melenggang ke arah tempat wudlu. Semua yang ada disitu memandang tertegun, kecuali Aya yang terus menunduk memegang gelas tehnya sambil menahan senyum.

Ay ... Bang Jack cuma pesen segini?

*** AYA ***

Uangnya nggak cukup untuk beli lebih banyak. Katanya, uang yang ada buat beli makan sahur aja.

Terdengar keran dibuka dan bunyi kucuran air. Terdengar Bang Jack membaca basmallah, minum, lalu alhamdulillah. Barong, Chelsea, Juki, dan Hansip terdiam saling pandang.

HANSIP (menghela napas prihatin)

Nggak nyangka ya, rejekinya Bang Jack cuman sampe di aer keran.

BARONG

Kita bagi koleknya, yuk, biar Bang Jack bisa ikut makan.

HANSIP Setuju banget.

Bang Jack muncul lagi sambil menyeka mulutnya yang basah. BANG JACK

Alhamdulillah masih bisa berbuka puasa biarpun aer keran.

HANSIP

Bang Jack, mau kolek? Bagi dua tuh sama Barong.

Aya menutup mulutnya, hampir lepas tertawa. BANG JACK

Nggak usah, nggak apa-apa. Yang penting loe pada bisa makan cukup. Gue sih gampanglah. Ay, pinjem buku, ya? Buat baca-baca.

AYA Ambil aja, Bang.

Bang Jack melangkah gontai ke warung Aya. Sekali tampak ia seperti mau jatuh karena lemas. Barong, Chelsea, Juki, dan Hansip menatap penuh rasa bersalah.

JUKI

Gue yakin sebetulnya Bang Jack laper banget. Dia lebih mentingin kita daripada dirinya sendiri.

CHELSEA

Ngerasa bersalah nggak, sih? Semalem dia sendiri di mushola, sementara kita makan enak di rumah Aya tanpa inget dia.

BARONG

Gue jadi nggak enak makan nih. HANSIP

Buat gue sini.

AYA (menahan tawa) Ha ....

Aya cepat menutup tawanya dengan tangan. 33 EXT. WARUNG AYA – MAGHRIB

Bang Jack berdiri di depan rak buku, memilih-milih di jajaran paling bawah. Makin menunduk, makin menunduk,

akhirnya berjongkok hingga tak terlihat dari luar. Di atas bangku, sudah tersedia sebuah mangkok kolak dan gelas teh manis yang ditutup kertas. Bang Jack terkekeh membuka kertas penutup itu.

BANG JACK Bismillah ....

Bang Jack mulai minum dan makan. Aya muncul di warung mengambil tas mukenanya, tersenyum melirik ke dalam perpustakaan.

AYA

Kasihan, mereka merasa bersalah banget sama Bang Jack. Aya jadi

nggak enak udah membantu membohongi mereka.

BANG JACK

Biar pada belajar apa artinya setia kawan. Tenang aja.

AYA (agak merajuk)

Pokoknya, nama Aya jangan dibawa-bawa lho, Bang.

BANG JACK Iye, iye ....

Aya beringsut pergi membawa tas mukenanya. 34 EXT. DESA – MALAM

Establishment.

35 INT. MUSHOLA JACK – MALAM

Bang Jack duduk berdzikir sambil menyandar lemas ke tembok mushola. Di latar belakang tampak Barong, Chelsea, Juki, dan Hansip mengamatinya dari balik pintu. Bang Jack melirik ke belakang, kepala-kepala itu langsung lenyap.

36 EXT. MUSHOLA JACK – MALAM

Keempat orang itu berdiskusi di teras. BARONG

Hancur hati gue ngeliat

penderitaan Bang Jack. Kalo gue punya duit, gue beliin nasi bungkus buat dia.

HANSIP

Bang Jack kan masih punya duit. Aya yang bilang.

Iya, Bang, tapi itu kan buat makan sahur kita nanti. Hhh ... salah kita juga, sih.

JUKI

Kita harus minta maaf sama dia. BARONG

Kan belum lebaran. JUKI

Masa mesti nunggu lebaran, sih? Minta maaf bisa kapan aja. Kalo orangnya keburu meninggal, gimana?

HANSIP

Gini, gini. Jangan buru-buru

ngerasa bersalah. Terburu-buru itu pekerjaan syaiton dan ... belon tentu kita yang salah. Masalah ini harus dianalisis oleh ahlinya

supaya clear, mana yang hak dan mana yang batil.

CHELSEA

Yaelah, sampe kesitu pikiran abang.

BARONG

Siapa yang mesti kita tanya, Bang? HANSIP

The one and only ... Ustadz Ferry. Kalo dia bilang kita bersalah, baru kita minta maaf ame Bang Jack.

Juki menengok arloji Bang Jack di tangannya. JUKI

Masih jam sembilan, nih. Kita ke rumahnya sekarang?

Gue bilang jangan buru-buru. Sekarang masih kesorean, boy.

Tunggu dong sampai waktunya tepat. CHELSEA

(tidak sabar) Kapan?

HANSIP Nanti, pas makan sahur. Ketiga pemuda itu nampak tak setuju.

BARONG

Ogah, ah. Malu, makan disana lagi. HANSIP

Kenapa malu? Kita nemuin Ustadz Ferry kan buat nanya masalah

agama. Kalopun ditawarin makan, ya alhamdulillah banget. Sekali

dayung, dua-tiga pulau kelewatan, boy.

JUKI Ngomongnya gimana?

HANSIP

Jangan paniklah. Kan gue MC-nya.

Percakapan mereka terhenti karena Bang Jack keluar dari dalam mushola. Dengan langkah terhuyung-huyung sok lemas, dia melangkahi mereka. Mereka memandangnya was-was.

HANSIP Kena stroke dia.

Bang Jack berhenti dengan satu tangan menopang ke tembok. BANG JACK

Bangunin jam tiga.

BRG,JK,CHLS Iya, Bang.

Simpen pukulan bedug di dalem biar nggak ilang.

BRG,JK,CHLS Iya, Bang.

Bang Jack kemudian terhuyung melanjutkan langkahnya menuju kamar sambil memegangi perutnya. Barong, Chelsea, dan Juki memandanginya dengan rasa sangat bersalah.

HANSIP

Sempet-sempetnya inget pukulan bedug.

37 INT. RUMAH UST. FERRY/Kamar Aya – MALAM

Aya duduk melipat kaki di tempat tidur, membaca Al Quran dengan suara lirih.

TOK, TOK, TOK!

HAIFA (OS) Aya?

AYA Masuuuk ....

Haifa membuka pintu tanpa masuk. HAIFA Telepon dari ayah.

Aya langsung cemberut dan menutup Al Qurannya. AYA

Nggak, ah.

Aya menaruh kitab itu dan langsung tengkurap di bantal. Haifa menghela napas, lalu masuk, duduk di tepi ranjang.

HAIFA Jangan gitu dong, Ay.

AYA

HAIFA

Ayah juga bingung mau menjawab gimana. Orang yang pengen melamar kamu datang lagi ke rumah.

AYA

Kan udah dibilangin, Aya belum pengen menikah sekarang. Ngotot. Kayak nggak ada perempuan lain.

HAIFA (tersenyum geli)

Mungkin kamu dianggap sebagai gadis paling istimewa.

AYA Nggak, nggak.

Aya kesal menarik selimut hingga menutupi wajah dan seluruh tubuhnya. Haifa menghela napas panjang, tak tahu harus

bagaimana.

HAIFA

Atau ... biar kak Ferry yang carikan calon suami buat kamu? Terdengar teriakan Aya dari dalam selimut.

AYA Nggaaaak!!!

FADE OUT/FADE IN:

38 EXT. RUMAH UST. FERRY – MALAM

Hansip, Barong, Chelsea, dan Juki setengah mengantuk duduk dalam jarak yang agak jauh dari rumah Ustadz Ferry.

HANSIP Jam berape, Ki?

Juki melihat arloji.

JUKI

Sang Hansip serentak berdiri. HANSIP

Oke, kita bergerak sekarang. Bu Ustadz pasti udah selesai masak.

Sang Hansip melangkah menuju rumah itu, diikuti oleh Barong, Chelsea, dan Juki.

CHELSEA

Bang, nanti makannya nggak usah nambah, ya? Takut keburu subuh.

HANSIP

Ya jangan, dong. Cukup ngambil sekali, tapi banyak.

BARONG

Bungkusin juga buat Bang Jack. HANSIP

Sip.

Mereka sampai di pintu pagar. Hansip mengetuk-ngetukkan pentungannya. TOK, TOK, TOK ....

HANSIP

Assalamu’alaikum! Pak Uustaaadz! Terdengar sahutan dari dalam rumah.

UST. FERRY (OS) Wa’alaikum salaam!

Tak berapa lama, Ustadz Ferry keluar. Ia menyambut hangat dan membuka pintu pagar.

UST. FERRY

Masuk, masuuuk ... saya bersyukur banget ngeliat anak muda pada

rajin menjaga keamanan lingkungan. Duduk, duduk ....

Ustadz Ferry menunjuk kursi-kursi tamu yang ada di teras. Hansip yang sudah mau masuk pintu dalam, langsung putar balik bergabung dengan rombongannya di kursi teras.

39 INT. RUMAH UST. FERRY/Dapur – MALAM

(MCU) Haifa dan Aya mengelap tumpukan piring, sendok-garpu, dan gelas bersih.

HAIFA Bang Udin, ya?

AYA Suaranya sih dia. 40 EXT. RUMAH UST. FERRY – MALAM

Ustadz Ferry duduk menghadapi Hansip, Barong, Chelsea, dan Juki. Samar-samar dari dalam rumah terdengar gemerincing piring dan gelas beradu. Para tamu itu sesekali menoleh ke arah dalam rumah sambil mendengarkan Ustadz Ferry bicara.

UST. FERRY

Kalo saya sih memandangnya bukan kesalahan murni, melainkan

kelalaian. Khilaf. Kalian makan sahur disini, trus kita ngobrol, baru inget kalo kalian harus ngebangunin Bang Jack. Namanya juga lupa, mau gimana lagi?

BARONG

Jadi, kita harus minta maaf sama Bang Jack, Pak Ustadz?

UST. FERRY

Minta maaf aja, nggak ada ruginya. Kalo perlu, ceritain kronologis kejadiannya biar jelas. Insya Allah Bang Jack ngertiin.

JUKI

Tuh, apa saya bilang. Minta maaf tuh nggak perlu nunggu lebaran. Kapan ada waktu, ya minta maaf.

UST. FERRY Betul.

HANSIP (menyindir)

Dingin banget disini, ya? Sampe merinding nih tengkuk saya. Kalo di dalem ‘kali lebih anget.

CHELSEA

Masa sih, Bang? Kayaknya biasa-biasa aja.

Hansip diam-diam menyikut Chelsea. Chelsea baru mengerti. Terdengar lagi suara gemerincing gerabah dari dalam rumah.

HANSIP

Suara apaan tuh, Pak Ustadz? UST. FERRY

Biasalah ... kesibukan ibu-ibu kalo lagi berurusan sama piring dan gelas.

Keempat tamu itu diam-diam membelalak bergairah. BARONG

Jam berapa sekarang, Ki? JUKI (melihat arloji) Ehm ... waktunya sahur, nih.

UST. FERRY

Sudah pada makan sahur apa belum, nih? Jangan sampe kelewatan, lho.

HANSIP

Pak Ustadz aja masih tenang-tenang disini.

UST. FERRY

Saya sih udah sahur. Kebetulan lebih awal dari biasanya.

KEEMPATNYA Ha?!

Keempat orang itu nampak kecewa dan panik. HANSIP

Lhah ... barusan Bu Ustadz di belakang klonengan sama Aya, ngapain?

UST. FERRY

Kayaknya sih abis nyuci piring, Din. Jadi belon pada makan, nih?

(berseru ke dalam) Maaaa! Mamaaaah!

HAIFA (OS) Ya, pah.

Haifa muncul di pintu, langsung menyenyumi orang-orang di teras.

UST. FERRY

Masih ada makanan, nggak? Bang Udin dan kafilahnya belon sahur.

HAIFA

Ya Allah ... udah habis, pa.

Kebetulan mama cuma masak sedikit. Nggak tau sih kalo bakal ada tamu.

HANSIP

Apa ... apa nggak ada sisa barang dikit, Bu?

HAIFA

Aduuh ... apa ya? Paling-paling tinggal ... coba deh ibu liat sebentar.

Haifa segera masuk kembali. 41 EXT. JALAN DESA – MALAM

Hansip, Barong, Chelsea, dan Juki berjalan pulang tergopoh sambil masing-masing makan krupuk putih. Tampangnya asem semua.

JUKI (kesal)

Apes banget kita. Pasti ada yang belum mandi.

CHELSEA

Bang Udin juga sih, nih. Mana yang katanya sekali mendayung, dua-tiga pulau kelewatan. Yang ada cuma krupuk.

HANSIP

Salahin Bu Ustadz, dong, kenapa masaknya ngepas?

BARONG

Cepetan jalannya. Mudah-mudahan Bang Jack udah bangun dan udah beli makanan buat kita. Jam berapa, Ki?

Tiba-tiba terdengar gema adzan di kejauhan. Keempat orang itu terhenti dengan wajah tegang.

JUKI Lariii!

Keempat orang itu pun berlari sekencang-kencangnya. 42 EXT. MUSHOLA JACK – SUBUH

Bang Jack keluar dari tempat wudlu dengan wajah basah. Ia sudah mengenakan baju sholat. Ketika itulah terdengar

grabak-grubuk kedatangan Hansip, Barong, Chelsea, dan Juki. HANSIP

Bang Jack, Bang Jack! Cepetan bangun!

BANG JACK

Loe pikir gue lagi merem? Pada kemana, sih? Untung gue tadi ngimpi didatengin kebo dan

kebangun. Gue liat loe pada nggak ada.

CHELSEA

Ya udah, sekarang biar saya beli makanan, Bang. Duitnya, duitnya.

BANG JACK

Gue udeh beli makanan tadi buat kita berlima.

JUKI

Alhamdulillah. Slamet kita. BANG JACK

Tapi karena sampe ampir subuh loe nggak nongol, akhirnya gue kasih orang.

HANSIP Yaaah ....

BARONG

Bang Jack sendiri udah makan sahur?

BANG JACK

Alhamdulillah udah. Apa ya tadi? Pecel lele sama empal .... Dikasih jengkol juga sama yang punya

warung.

HANSIP

Udah deh, Bang, jangan diceritain. Cuma bikin sakit hati.

BANG JACK

Emangnya loe abis makan ape?

Keempat orang itu diam tak menjawab. Shocked berat. Mereka lihat-lihatan dengan tampang kuyu, lalu .... (MENGERUBUTI BANG JACK, TANGIS-TANGISAN PENUH PENYESALAN, MINTA MAAF ATAS KESALAHAN KEMARIN MALAM). Bang Jack meladeni mereka sambil terkekeh.

Nggak papa, nggak papa. Kite sodara seiman, saling memaafkan. Juki, sekarang loe yang adzan, ya?

JUKI

Saya kan nggak sahur, Bang. Masih lemes.

BANG JACK

Orang laper juga boleh adzan, kok. Nggak ada yang ngelarang.

Dokumen terkait