BEBERAPA PERUBAHAN EVALUASI BELAJAR
KUASA NEGARA DAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
1. Tentang Mutu Pendidikan
Secara etimologis, Mutu, memiliki arti sebagai berikut: Karat, baik buruk
sesuatu, kwalitas, taraf atau derajat.150Menurut Pius A Partanto dan M. Dahlan Al
Barry, mutu berarti: Kualitas; derajat; tingkat; manikam; mutiara; emas kertas; manik; karat; (nilai logam mulia); kadar emas; membungkam/diam (karena sedih).151 Sedangkan menurut pengertian konsepsional, mutu pendidikan dapat
diartikan sebagai ”kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan
seumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin”152
Mutu pendidikan adalah suatu kualitas dalam sistem pengelolaan serta fungsi pendidikan yang mana akan menghasilkan mutu atau kualitas kelulusan siswa/mahasiswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman guna masa depan.153
149 Baskoro Poedjinoegroho E , “Sekolah Mencabik-Cabik Nurani”, Kompas, (Jakarta) 2 Mei 2007, 6.
150 WJS. Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka 1982), 665-666. 151 Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya : Arkola, 1994), 505. 152 Ace Suryadi dan H.A.R. Tilaar, Analisa Kebijakan Pendidikan (Bandung : Remaja Rosdakarya 1994), 159.
153Muchtar Buchory, Spektrum Problematika Pendidikan Di Indonesia (Jogjakarta : PT. Tiara Wacana, 1994), 89 – 90.
Mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang
dihasilkan. Mutu bukanlah benda magis atau sesuatu yang rumit.154
Sebagai suatu konsep, mutu seringkali ditafsirkan dengan beragam definisi, bergantung pada pihak dan sudut pandang mana konsep terebut dipersepsikan. Dengan demikian, arti mutu pendidikan ini berkenaan dengan apa yang dihasilkan dan siapa pemakai pendidikan. Pengertian tersebut merujuk kepada nilai tambah yang diberikan oleh pendidikan dan pihak-pihak yang
memproses serta menikmati hasil-hasil pendidikan.155
Sampai saat ini, mutu pendidikan cenderung masih merupakan suatu konsep yang abstrak. Berbagai cara berpikir telah dikembangkan untuk mencoba memberikan suatu pengertian mutu pendidikan, tetapi dalam kenyataannya konsepsi tentang mutu ini masih tetap bergerak dalam bentuknya yang masih
bersifat rethorical, artinya bahwa mutu pendidikan masih bergerak dari gagasan
satu ke gagasan yang lain; belum kita terjemahkan secara tepat ke dalam ukuran
dan tindakan yang lebih nyata.156
Para pemikir neo klasik seperti Douglas Windham (1986) dan Johnson (1975) menempatkan konsep mutu pendidikan secara lebih operasional dengan menggunakan model efisiensi. Efisiensi itu sendiri merupakan suatu model yang dipinjam dari teknologi dan ekonomi. Secara teknis, efisiensi akan tercipta jika keluaran yang diinginkan dapat dihasilkan secara optimal dengan harga masukan yang relatif tetap; atau jika masukan yang sekecil mungkin agar dapat
154 Jerome S. Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu : Prinsip-Prinsip Perumusan Dan Tata Laksana
Penerapan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Terj. 2005), 75.
155 Moch. Idochi Anwar, Administrasi Pendidikan Dan Manajemen Biaya Pendidikan (Bandung: CV. Alvabeta, 2003), 40.
156 Ace Suryadi dan H.A.R. Tilaar, Analisis Kebijakan Pendidikan; Suatu Pengantar (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, cet.II,1994), 161.
menghasilkan keluaran yang sudah ditetapkan. Dengan kata lain, efisiensi selalu dikaitkan dengan efektifitas optimal yang diperoleh dengan harga masukan yang paling seminimal mungkin. Menurut pengertian tersebut, konsep efektifitas merupakan bagian dari konsep efisiensi karena tingkat efektifitas berkaitan erat dengan pencapaian tujuan relatif terhadap harganya. Dengan demikian, efisiensi bukan merupakan konsep yang berdiri sendiri dan akan menjadi kurang memiliki arti jika tidak mengacu pada efektifitas.157
Secara ekonomis, efisiensi akan tercipta jika, keluaran dan atau masukan sudah diterapkan ukuran nilai kepuasan (utility) atau harga (price).
Mengenai konsep efisiensi mana yang lebih sesuai dipakai dalam pendidikan, itu semua tergantung pada anggapan kita tentang hakikat dari suatu program pendidikan. Jika pendidikan kita anggap sebagai suatu komoditi pada suatu sistem ekonomi pasar yang kompetitif, maka konsep efisiensi ekonomi lebih sesuai untuk dijadikan rujukan. Sebaliknya, jika pendidikan dianggap sebagai
public goods, maka asumsi pemerataan, keadilan dan efisiensi teknologis lebih
dianggap relevan untuk menilai suatu program pendidikan bermutu.158
Efisiensi pendidikan memiliki kaitan langsung dengan pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas secara optimal sehingga memberikan dampak yang optimal juga. Suatu program pendidikan yang efisien, cenderung ditandai dengan pola penyebaran dan pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang sudah ditata secara efisien; program pendidikan yang efisien adalah yang mampu menciptakan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan
157Ibid, 161. 158Ibid, 162.
sumber-sumber pendidikan sehingga upaya pencapaian tujuan tidak mengalami hambatan. Dengan demikian, sistem atau program pendidikan yang efisien ialah yang mampu mendistribusikan sumber-sumber pendidikan secara adil dan merata agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk mendayagunakan sumber-sumber pendidikan tersebut dan mencapai hasil yang maksimal. Dalam pengertian ini, mutu pendidikan tidak dapat dipisahkan dari
konsep efektifitas, keadilan dan pemerataan.159
Secara substantive, mutu mengandung sifat dan taraf. Sifat adalah sesuatu yang menerangkan keadaan, sedangkan taraf menunjukkan kedudukan dalam skala. Keragaman cara pandang mengenai sifat dan taraf itu memungkinkan
perbedaan pendekatan terhadap mutu pendidikan. Pendekatan pertama,
mendasarkan diri pada deskripsi mengenai relevansi pendidikan dengan dunia
kerja, pendekatan ini disebut dengan pendekatan ekonomi. Pendekatan kedua,
disebut pendekatan nilai instrinsik pendidikan, yang diekspresikan dalam ukuran- ukuran sikap, kepribadian, dan kemampuan intelektual yang sesuai dengan
harapan dan tujuan pendidikan nasional.160
Pemahaman atas mutu proses pendidikan perlu dibenahi oleh pengertian proses. Konsep proses menurut Sudjana dan Susanta (1989) merujuk kepada kegiatan penanganan transformasi masukan-masukan melalui subsistem pemrosesan menjadi keluaran-serta hasil-hasil yang berasal dari masukan dan
tindakan berikutnya-melalui umpan balik dan evaluasi keluaran.161
159Ibid, 162-163.
160 Moch. Idochi Anwar, Administrasi Pendidikan Dan Manajemen Biaya Pendidikan, 40-41. 161Ibid, 41.
Konsep tersebut didasarkan atas asumsi bahwa pendidikan sebagai sistem terbuka mengandung subsistem masukan dan umpan balik secara internal serta eksternal. Berdasarkan pemahaman demikian maka mutu proses menunjukkan kebermutuan subsistem dalam proses, yang meliputi tindakan kerja, komunikasi dan monitoring.162
Subsistem tindakan kerja adalah komponen organisasi yang menentukan ukuran kemampuan sistem dalam melaksanakan apa yang seharusnya dikerjakan. Subsistem komunikasi berfungsi memproses dan memberikan informasi yang memadai mengenai seluruh tahapan tindakan sistem dan subsistem. Sedangkan fungsi subsistem monitoring adalah kontrol sistem terhadap kegiatan dan
akuntabilitas subsistem dalam hubungan sinergiknya di seluruh sistem.163
Ditelaah dari sudut kinerja sistemnya, mutu proses pendidikan dapat diukur dengan indikator-indikator sebagaimana dirinci oleh Makmun (1997) yaitu: Efisiensi, Produktifitas, Efektifitas, Relevansi, Akuntabilitas, Kesehatan
organisasi dan Semangat berinovasi.164
Mutu pendidikan atau mutu sekolah (yang) tertuju pada mutu lulusan merupakan sesuatu yang mustahil, pendidikan atau sekolah menghasilkan lulusan yang bermutu, jika tidak melalui proses pendidikan yang bermutu pula. Merupakan sesuatu yang mustahil pula, terjadi proses pendidikan yang bermutu jika tidak didukung oleh faktor-faktor penunjang proses pendidikan yang bermutu pula. Proses pendidikan yang bermutu harus didukung oleh personalia, seperti administrator, guru, konselor dan yang bermutu dan profesional. Hal tersebut juga
162Ibid, 41. 163Ibid, 41. 164Ibid, 41.
didukung oleh sarana dan prasarana pendidikan, fasilitas, media, serta sumber belajar yang memadai, baik mutu maupun jumlahnya dan biaya yang mencukupi,
manajemen yang tepat, serta lingkungan yang mendukung.165
Mutu pendidikan bersifat menyeluruh, menyangkut semua komponen,
pelaksana, dan kegiatan pendidikan atau disebut sebagai mutu total atau “Total
Quality”. Adalah sesuatu yang tidak mungkin, hasil pendidikan yang bermutu dapat dicapai hanya dengan satu komponen atau kegiatan yang bermutu. Kegiatan pendidikan cukup kompleks, satu kegiatan, komponen, pelaku, waktu, terkait dan
membutuhkan dukungan dari kegiatan, komponen, pelaku, serta waktu lainnya.166
Pendapat lain menyatakan bahwa Mutu Pendidikan dalam tingkat dasar sampai atas adalah kemampuan sistem pendidikan dasar sampai tingkat atas baik dari segi pengelolaan maupun dari segi proses pendidikan itu sendiri, diarahkan secara efektif untuk meningkatkan nilai tambah dari faktor – faktor input agar
menghasilkan output setinggi – tingginya.167
Peningkatan mutu pendidikan yang telah kita laksanakan baru menyentuh sisi teknis dari pendidikan. Banyak sisi lainnya yang memiliki dampak penting dalam peningkatan mutu pendidikan, tetapi belum kita sentuh. Seperti: mobilisasi kekuatan daerah, kemandirian, akuntabilitas, pengembangan sumber daya manusia menuju aktualisasi diri, dan aspek-aspek lain yang menyangkut otonomi dan profesionalisasi. Beberapa bukti empiris yang pada dasarnya mengarah pada suatu kesimpulan bahwa hanya melalui upaya pengerahan kekuatan daerah
165 Nana Syaodih Sukmadinata, et.al, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah (Konsep,
Prinsip, Dan Instrumen), (Bandung : PT. Refika Aditama, 2003), 6-7 166Ibid, 7.
(desentralisasi) yang dapat menolong kita untuk secara sustainable meningkatkan
mutu pendidikan.168
Dalam melaksanakan program peningkatan mutu pendidikan, maka ada
beberapa prinsip yang perlu dipegang sebagai acuannya, antara lain:169
1. Peningkatan mutu pendidikan menuntut kepemimpinan profesional dalam bidang pendidikan. Managemen mutu pendidikan merupakan alat yang dapat digunakan oleh para profesional pendidikan dalam memperbaiki sistem pendidikan bangsa kita.
2. Kesulitan yang dihadapi para profesional pendidikan adalah ketidakmampuan mereka dalam menghadapi “kegagalan sistem” yang mencegah mereka dari pengembangan atau penerapan cara atau proses baru unuk memperbaiki mutu pendidikan yang ada.
3. Peningkatan mutu pendidikan harus melakukan loncatan-loncatan. Norma dan kepercayaan lama harus diubah. Sekolah harus belajar bekerjasama dengan sumber-sumber yang terbatas. Para profesional pendidikan harus membantu para siswa dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan guna bersaing didunia global.
4. Uang bukan kunci utama dalam usaha peningkatanmutu. Mutu pendidikan dapat diperbaiki jika administrator, guru, staf, pengawas dan pimpinan kantor diknas mengembangkan sikap yang terpusat pada kepemimpinan, team work, kerja sama, akuntabilitas, dan rekognisi. Uang tidak menjadi penent dalam peningkatan mutu.
168 Nana Syaodih Sukmadinata, et. all, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah, 159. 169Ibid, 9-11.
5. Kunci utama peningkatan mutu pendidikan adalah komitmen pada perubahan. Jika semua guru dan staf sekolah memiliki komitmen pada perubahan, pimpinan dapat dengan mudah mendorong mereka menemukan cara baru untuk memperbaiki efisiensi, produktifitas, dan kualitas layanan pendidikan. Guru akan menggunakan pendekatan yang baru atau model-model mengajar, membimbing, dan melatih dalam membantu perkembangan siswa. Demikian juga dengan staf administrasi, ia akan menggunakan proses baru dalam menyusun biaya, menyelesaikan masalah dan mengembangkan program baru. 6. Banyak profesional dibidang pendidikan yang kurang memiliki pengetahuan
dan keahlian dalam menyiapkan para siswa memasuki pasar kerja yang bersifat global. Ketakutan pada perubahan atau takut melakukan perubahan akan mengakibatkan ketidaktahuan bagaimana mengatasi tuntutan-tuntutan baru.
7. Program peningkatan mutu dalam bidang komersial tidak dapat dipakai secara langsung dalam pendidikan, tetapi membutuhkan penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan. Budaya, lingkungan dan proses kerja tiap organisasi berbeda. Para profesional pendidikan harus dibekali oleh program yang khusus dirancang untuk menunjang pendidikan.
8. Salah satu komponen kunci dalam program mutu adalah sistem pengukuran. Dengan menggunakan sistem pengukuran, memungkinkan para profesional pendidikan dapt memperlihatkan dan mendokumentasikan nilai tambah dari pelaksanaan program peningkatan mutu pendidikan, baik terhadap siswa, orang tua maupun masyarakat.
Masyarakat dan manajemen pendidikan harus menjauhkan diri dari kebiasaan
menggunakna “program singkat”, peningkatan mutu dapat dicapai melalui perubahan yang berkelanjutantidak dengan program-program singkat.