UJIAN NASIONAL 2007; ANTARA KUASA NEGARA DAN
PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
SKRIPSI
Oleh :
BUDI SANTOSO NIM. DO1303185
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
MOTTO
“Curang demi demi keberhasilan itu boleh di Indonesia,
bahwa pendidikan bukan soal kecerdasan, tetapi soal kelicinan menyelamatkan diri, bahwa guru yang baik bukan guru yang jujur tetapi guru yang menolong meski harus menghiainati hati nurani, bahwa pelajaran moral ituhanya teori saja, dalam hidup yang
penting fleksibel tergantung situasi ”
Denni B Saragih
(Koordinator Komunitas Air Mata Guru diMedan) “Profesi guru adalah profesi akalbudi dan nurani. Maka dapat dikatakan, lembaga pendidikan adalah tempat unruk melatih peserta didik berpikir, mendengarkan dan mengasah nurani. Kenyataannya latihan mendengarkan atau mengasah nurani tidak pernah terjadi. Demi kehebatan akal budi, pesan nurani dilanggar saja. Nurani tidak
pernah didengarkan”
PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi oleh BUDI SANTOSO ini telah dipertahankan di depan tim penguji Skripsi. Surabaya, 1 Agustus 2007
Mengesahkan, Fakultas Tarbiyah
Institus Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Dekan,
Drs. Nur Hamim, M. Ag.
NIP.
Ketua,
Drs. Adb.Kadir
NIP.
Sekretaris,
Dra. Nur Hayati
NIP.
Penguji I,
……… .
NIP.
Penguji II,
DAFTAR ISI
Halaman.
HALAMAN JUDUL
PERSETUJUAN PEMBIMBING
PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI
MOTTO
PERSEMBAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
D. Definisi Operasional
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
2. Pendekatan Penelitian
3. Jenis Data
4. Sumber Data
5. Teknik Pembahasan
F. Sistematika Pembahasan
A. Evaluasi
1. Pengertian Evaluasi Pendidikan
2. Tujuan Evaluasi Pendidikan
3. Fungsi Evaluasi Pendidikan
4. Prinsip Evaluasi
B. Mekanisme Pelaksanaan Ujian Nasional 2007
C. Pro Kontra Ujian nasional 2007
BAB III KUASA NEGARA DAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
A. Kuasa Negara
1. Sekilas Tentang Kekuasaan dan Negara
2. Strategi Pelanggengan Kekuasaan oleh Negara
a. Hegemoni
b. IRA (IdeologicalState Apparatuses) dan RSA (Repressive State
Apparatuses)
3. Negara dan Pendidikan
4. Negara dan Ujian Nasional 2007
B. Peningkatan Mutu Pendidikan
1. Tentang Mutu Pendidikan
2. Ujian Nasional 2007 dan Peningkatan Mutu Pendidikan
BAB IV ANALISA DATA
A. Refleksi Ujian Nasional 2007
C. Format Pendidikan Masa Depan
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
Kata kunci: ujian nasional, evaluasi, kuasa negara, dan mutu pendidikan
Ujian nasional 2007 telah berlalu. Berbagai argumentasi baik yang pro ataupun yang kontra telah menyertainya. Sebagai sebuah kebijakan negara, maka setiap warga negara berkewajiban untuk mematuhinya. Namun di sisi lain, hal ini bisa dilihat sebagai bentuk penguasaan negara terhadap rakyat. Rakyat dipaksa untuk mengikuti segala kebijakan yang dikeluarkannya. Pertanyaannya sekarang adalah apakah dengan dilaksanakannya ujian nasional 2007 mutu pendidikan akan otomatis terangkat atau malah sebaliknya?. Dikatakan lebih terpuruk dikarenakan berbagai kecurangan yang terjadi pada pelaksanaan ujian nasional semakin menajauhkan tujuan dari pendidikan itu sendiri yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Pendidikan yang dimaknai dengan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara, harus diakui merupakan gerbang terdepan dalam mencetak generasi penerus bangsa. Oleh karena itu diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dalam hal perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya.
Kita tentu tidak ingin kesucian makna dari pendidikan di atas ternodai oleh tindakan-tindakan yang mengotorinya. Jika proses pendidikan sudah diarahkan pada kepentingan sesaat, kepentingan pribadi atau golongan,berarti kita mencetak generasi-generasi yang akan menghancurkan negara yang telah dengan susah payah dirintis oleh
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Indonesia, negara kapulauan yang memiliki kurang lebih 17.000 pulau
besar dan kecil harus diakui merupakan negara yang sangat kaya raya.
Kekayaannya tidak terbatas hanya pada kekayaan alamnya saja, melainkan
pada beragamnya suku, bangsa, agama dan budaya. Kekayaan-kekayaan ini
jika dapat diproduksi dengan baik, maka akan menghadirkan keanekaragaman
yang indah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun, di sisi lain, berbagai perbedaan (Differences) jika tidak dapat
diproduksi secara cermat dapat mendatangkan malapetaka yang dahsyat dan
tak terperikan.
Berbagai realitas di atas ternyata belum dapat dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya. Ketidakmampuan mengelola berbagai kekayaan alam ini salah
satunya disebabkan karena ketidakmampuan dalam hal pengelolaan. Bila
dirunut secara seksama, maka akar masalah dari permasalahan tersebut
terletak pada dunia pendidikan.1Dunia pendidikan sebagai garda depan dalam
menciptakan generasi penerus bangsa ternyata masih memprihatinkan dan
bahkan mengenaskan.
Ki Hajar Dewantara, sebagai tokoh pendidikan nasional telah
memberikan inspirasi mengenai pembagian wilayah dari pendidikan itu sendiri
yang kemudian di sebut dengan “Tri Pusat Pendidikan” yang meliputi :
keluarga, sekolah dan masyarakat
Sekolah2 sebagai kawah candradimuka dari proses penciptaan generasi
penerus bangsa (setelah keluarga tentunya) ternyata belum mampu mencapai
tujuan yang diharapkan. Secara historis etimologis, sekolah merupakan turunan
dari skhole, scola, scolae atau schola (bahasa Latin) yang secara harfiah berarti:
waktu luang, atau waktu senggang.3Penggunaan kata ini tentunya
dilatarbelakangi oleh proses awal dari pelaksanaan sekolah itu sendiri. Pada
jaman dahulu, orang-orang Yunani biasanya mengisi waktu luang mereka
dengan cara mengunjungi suatu tempat atau sesorang pandai tertentu untuk
mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang
perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Mereka menyebut kegiatan ini dengan
skhole, scola, scolae atau schola. Keempatnya memiliki arti sama yakni: waktu
luang yang digunakan secara khusus utuk belajar.4
Sejak saat itulah, telah beralih sebagian dari fungsi Scola Maternal
(pengasuhan ibu sampai usia tertentu {dalam term Ki Hajar Dewantara sebagai
lingkungan keluarga}), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua
umat manusia, menjadi Scola In Loco Parentis (lembaga pengasuhan anak pada
waktu senggang diluar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu). Itulah pula
sebabnya, mengapa lembaga pengasuhan ini kemudian biasa juga disebut “Ibu
Asuh” atau “Ibu yang Memberikan Ilmu” (Alma Mater).5
2 Sekolah berarti : Bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pelajaran.Ibid, 889. 3 Roem Tomatimasang, Sekolah Itu Candu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar cet. Ke-5 2003), 5. 4Ibid, 6.
Dari akar historis di atas, ada beberapa kegelisahan yang menggelayut
dibenak penulis, karena berasal dari kata yang memiliki arti “mengisi waktu
luang” inilah jangan-jangan proses pembelajaran di sekolah dilakukan apa
adanya tanpa bentuk managerial yang jelas dan terciptanya out put
pembelajaran yang dapat diandalkan.
Di negara dengan jumlah rakyat terbesar ke tiga di dunia ini (setelah
Cina dan India) masih banyak penduduknya yang tidak mempunyai
kamampuan di bidang baca dan tulis alias masih buta huruf.6 Berbagai usaha
memang telah dilakukan pemerintah, salah satunya dengan pengalokasian dana
20 % dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara.7Namun dalam kenyataan di
lapangan berbicara lain, anggaran pendidikan yang dialokasikan untuk dunia
pendidikan pada tahun 2006 ternyata hanya mencapai 9,1 % (sebesar Rp. 39
Triliun) dari total 20 % anggaran yang ada, sedangkan untuk tahun 2007 ini
anggaran pendidikan berjumlah 43,4 Triliun.8Ironis memang, namun
permasalahan ini bukan hanya persoalan tunggal yang dihadapi masyarakat di
Indonesia.
Berbagai kebijakan pendidikan lainnya yang juga mendapatkan perhatian luas
terkait dengan kekontroversialannya adalah Surat Keputusan No. 153/U/2003 tentang
akhir nasional (UN).9Kontroversi tentang UN ini memang sangat mengemuka,
6 Dodi Nandika, “Perang Total Melawan Buta Aksara”, Kompas (Jakarta), Rabu, 25 Januari 2007, 7. Disebutkan sekitar 14,6 juta orang atau 9,55 persen dari penduduk usia 15 tahun ke atas belum melek aksara.
7 UU Sistem Pendidikan Nasional Guru dan Dosen. Pustaka Merah Putih Yogyakarta cet. I 2007 hal. 39. Redaksi lengkapnya sebagai berikut : Bab XII Pendanaan Pendidikan bagian keempat tentang Pengalokasian Dana Pendidikan Pasal 49 ayat 1 “Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20 % dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Pada Sektor Pendidikan dan minimal 20 % dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah”
8Anggaran Pendidikan, Kompas (Jakarta), 18 Oktober 2006, 12.
banyak pihak beranggapan bahwa dengan adanya UN ini akan semakin menjauhkan
siswa dari tujuan pendidikan yakni berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggungjawab.10Selain itu juga dianggap memberatkan
siswa dan mengebiri peran guru dalam menilai kemampuan muridnya.11Permasalahan
mendasar dari pelaksanaan UN antara lain meliputi: alokasi dana yang disediakan,
standar nilai kelulusan, pelaksanaan, dan kondisi dari peserta didik itu sendiri.
Alokasi dana yang dianggarkan untuk pelaksanaan UN 2007 ini tidak
tanggung-tanggung, yakni mencapai 250 Miliar.12Dana ini digunakan untuk
pengadaan soal, biaya pengawasan, distribusi soal dan sebagainya. Pembiayaan UN
diambilkan dari dana pemerintah dan pemerintah daerah.13
Pelaksanaan UN 2007 mengalami pemajuan jadwal. Jika biasanya UN
dilaksanakan pada bulan Mei, maka untuk tahun ini UN akan dilaksanakan pada
bulan April. Lebih spesifiknya, tanggal 17-19 April untuk tingkat SMA dan sederajat,
serta tanggal 24-26 April 2007 untuk tingkat SMP atau sederajat.14 Pemajuan jadwal
ini mendapat berbagai respon yang beragam, baik pro maupun yang kontra.
Pengumuman pelaksanaan yang baru dilakukan pada bulan November 2006 sangat
10UU Sistem Pendidikan Nasional Guru dan Dosen, 11.
11 Advertorial. Kompas (Jakarta), Sabtu, 9 Desember 2006, 40-41.
12 Mendiknas Tolak Revisi PP SNP, Kompas (Jakarta), 27 September 2007, 12.
13 Biaya penyelenggaraan ujian nasional sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Permendiknas No.20 tahun 2005 pasal 19.
disesalkan, karena sangat mengganggu rencana kerja tahunan para guru.15Hal ini
terasa sangat miris jika dibenturkan dengan pernyataan dari Depdiknas yang
menggunakan pameo “Lebih Cepat Lebih Baik”.16Penggunaan pameo ini, meskipun
sederhana tetapi terkesan menganggap gampang persoalan. Depdiknas, seakan tidak
mengetahui bagaimana sulitnya mengubah jadwal pembelajaran oleh guru. Dengan
waktu yang jelas berkurang dengan tetapnya jumlah materi yang harus diberikan
kepada siswa tentu bukan perkara mudah untuk melakukannya. Hal ini tentu akan
sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Dari pihak Depdiknas mengatakan
bahwa pemajuan jadwal ini dilakukan dengan pertimbangan: target proses kegiatan
belajar mengajar sudah usai pada bulan April, sehingga siswa tidak perlu menunggu
waktu lebih lama menghadapi UN dan dengan pemajuan jadwal ini diharapkan para
siswa dapat lebih konsentrasi. Sebab pada bulan Mei, negeri ini memiliki banyak
acara yang akan dihadiri oleh banyak massa yaitu: peringatan hari buruh
internasional, hari pendidikan nasional, dan peristiwa Mei.17
Standar kelulusan memang naik. Namun di luar itu, untuk dapat lulus BSNP
(Badan Standar Nasional Pendidikan)18memberikan keluwesan dengan memberikan
dua alternatif standar kelulusan. Pertama, penilaian kelulusan pada UN 2007
menyangkut batas minimal nilai untuk setiap pelajaran yang diujikan. Jika pada UN
15 M.Basuki Sugita. ”Berbagai Kelemahan Pelaksanaan Ujian Nasional 2007”, Kompas (Jakarta) 5 Februari 2007, 14.
16 Advertorial Kompas (Jakarta), 9 Desember 2006, 41.
17 Advertorial. Kompas (Jakarta), 9 Desember 2006, 41. Diperkuat dengan : Surya, (Surabaya) 16 Februari 2007, 22. Diperkuat dengan statemen dari DR. Rasiyo (kepala dinas pendidikan dan kebudayaan Jatim pada acara perbincangan di TVRI Jatim hari Ahad, 18 Maret 2007 dengan tema “Jelang UN 2007”. Acara ini juga dihadiri oleh : Prof. DR. Sunarto (Kepala Badan Akreditasi Jatim) dan Drs. Heru Mulyanto (ketua Tim Pemantau Independen (TPI) UN 2007 Jatim),
2006 standar minimal kelulusan 4,26 maka, pada UN 2007 formula standar kelulusan
adalah :19
1) Nilai rata-rata 5,00 berbagai mata pelajaran yang diujikan, tidak ada nilai di
bawah 4,25 atau memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran. Nilai
pada dua mata pelajaran lainnya masing-masing minimal 6,00.
2) Lulus ujian sekolah sekolah dengan rata-rata minimum 6,00 (nilai minimal setiap
pelajaran sekolah ditentukan oleh masing-masing sekolah).
3) Lulus dari satuan pendidikan, yaitu menyelesaikan seluruh program pembelajaran
dengan memperoleh nilai minimum.
4) Lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan
dan teknologi.
5) Lulus Ujian Nasional (UN).
Berbagai gugatan mengenai pelaksanaan UNpun sudah dilayangkan.20Mereka
menganggap pelaksanaan UN semakin memberatkan siswa dan memangkas
kreatifitas siswa dan guru.21
Berbagai perubahan yang berkenaan dengan UN bermuara pada keinginan
pemerintah untuk mencapai target minimal nilai kelulusan 6 pada tahun 2008. Mega
proyek ini dicanangkan dengan pertimbangan persaingan dengan negeri tetangga,
yakni Malaysia (nilai kelulusan 8), Thailand 7, Singapura 8.22Kalau pertimbangan ini
yang dipakai, maka kita terkesan mabuk akan standar nilai saja tanpa melihat
kesiapan dari bangsa kita untuk mencapainya. Peningkatan standar nilai memang
19 Advertorial, Kompas (Jakarta), 9 Desember 2006, 41.
20 Pemerintah Akhirnya Digugat, Kompas (Jakarta) 28 Juli 2006, 12. 21 Advertorial. Kompas, (Jakarta), 9 Desember 2006, 41.
penting, namun yang perlu dipertimbangkan juga adalah kondisi negara kita dengan
negara-negara yang dicontohkan berbeda. Mulai dari luas wilayah, keragaman
budaya, dan fasilitas pendidikan yang ada di masing-masing sekolah.
Di sinilah terlihat arogansi dari Negara (state) untuk memaksakan
kehendaknya kepada rakyat (Civil Society). Ada beberapa hal yang dapat dibaca dari
Proyek pelaksanaan UN 2007 ini. Dimulai dari pemunculan isu pamajuan jadwal
yang dilakukan (bulan November 2006), pemerintah terkesan terburu-buru dalam
pelaksanaannya. Jika program ajaran baru dimulai pada bulan Juli, kenapa baru bulan
November pengumuman itu diumumkan?.
Dari sini pula, mulai tampak peran “bengis” negara dalam memaksakan kehendaknya kepada rakyat sipil. Rakyat dipaksa untuk mengikuti segala kepentingan
negara demi proses pelanggengan kekuasaan. Hal ini juga terkait dengan isu-isu yang
muncul di sekitar istana negara, mulai dari aksi cabut mandat yang dilakukan
berbarengan dengan peringatan peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) yang di
komandoi oleh Hariman Siregar dan tuntutan reshuffle kabinet yang dinilai tidak
becus dalam melaksanakan roda pemerintahan yang menjadi tanggungjawabnya.
Semakin hari semakin tidak jelas batas antara kepentingan pribadi dan
golongan dengan kepentingan publik, semakin remang batas antara dunia politik
dengan ekonomi, politik dengan pendidikan dan sebagainya. Setiap isu yang muncul
selalu ada skenario politik yang bermain.
Kondisi seperti inilah yang oleh Yasraf Amir Piliang disebut dengan
transpolitika. Transpolitika adalah: bersilang dan bersimbiosisnya prinsip, cara, dan
seperti: media, budaya popular, seksualitas, (pendidikanpun termasuk didalamnya),
yang membuat kabur prinsip politik itu sendiri.23
Kasus Voucher pendidikan yang mengemuka pada bulan Oktober 2006
semakin menguatkan dugaan kita akan kondisi transpolitika di atas. Kasus yang
membawa nama ketua DPR Agung Laksono tersebut semakin menambah runyam
kondisi pendidikan kita. Kasus ini berawal dari safari Ramadhan Agung Laksono,
Dalam kesempatan ini Agung membagi-bagikan voucher kepada beberapa sekolah
yang “katanya” bernaung di bawah Kosgoro 1957 senilai Rp. 470 juta.24
Mengenai Keberadaan Kosgoro ini, ada klarifikasi dari Syahrul J
Bungamayang (Sekjen Pimpinan Pusat Kolektif Kosgoro) yang mengatakan bahwa
ada perbedaan antara Kosgoro pimpinan Efendi Jusuf dengan Kosgoro 1957
pimpinan Agung Laksono. Kosgoro adalah lembaga independen, sedangkan Kosgoro
1957 (berdiri tahun 2003) adalah organisasi kemasyarakatan pendukung/bernaung di
bawah partai Golkar.25 Namun anehnya lagi, salah satu penerima voucher tersebut
adalah SMUN Gegesik, Cirebon. Apakah sebuah SMUN bernaung di bawah
ormas?.26
Voucher pendidikan, merupakan salah satu bentuk bantuan terhadap sekolah.
Menurut Staf Khusus Menteri Pendidikan Nasional Bidang Komunikasi Publik,
Teguh Juwarno penyaluran bantuan pendidikan itu merupakan amanat
undang-undang yang harus dilaksanakan oleh pejabat Depdiknas, sehingga bukan merupakan
skandal. Landasan hukum dari penyaluran bantuan pendidikan ini didasarkan pada
23 Yasraf. A. Piliang, Transpolitika; Dinamika Politik Di Dalam Era Virtualita (Yogyakarta : Jalasutra, 2005), XX.
24 Sutta Dharmasaputra,”Voucher Diknas Beraroma KKN”, Kompas (Jakarta), 3 November 2006), 5. 25 Voucher Pendidikan. Kompas (Jakarta) 20 Oktober 2006, 12.
pasal 49 ayat (3) UU Sisdiknas yang berbunyi “Dana pendidikan dari pemerintah dan pemerintah daerah untuk satuan pendidikan diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.27
Voucher ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu untuk SD (Rp. 20 Juta), SMP (Rp.
55 juta) dan SMA (Rp.55 juta).28Sedangkan jumlah keseluruhan anggaran untuk
voucher pendidikan tahun 2006 berjumlah Rp 660 Miliar (2 % dari anggaran
pendidikan).29
Permasalahan mendasar dari voucher tersebut bukanlah pada besaran angka,
sekolah mana yang mendapatkan dan bagaimana mekanismenya. Tetapi bermuara
pada keberadaan Agung Laksono sebagai salah satu ketua partai politik dan ketua
DPR. Jika pemberian itu dikaitkan dengan Ormas yang dipimpinnya juga tidak
masalah, jika memang sesuai dengan prosedur yang ada. Tetapi alangkah baiknya jika
yang memberikan voucher tersebut bukan diri Agung Laksono, karena kapanpun dan
dimanapun jabatannya sebagai ketua partai politik dan ketua DPR tetap
disandangnya.
Politisasi dunia pendidikan semakin tak terelakkkan. Kitapun tentunya masih
ingat ketika pemilihan Presiden tahun 2004 kemarin. Betapa isu pendidikan menjadi
sebuah hot issue yang selalu diusung oleh masing-masing calon. Namun ironisnya,
janji tinggallah janji dan bukti tinggallah sebuah mimpi.
Dalam setiap kunjungan kerjanya, presidenpun tidak lupa mengunjungi
sekolah-sekolah yang berada di sekitar tempat kunjungannya, bahkan tak jarang
27 Depdiknas: Itu Amanat UU, Kompas (Jakarta), 10 November 2006, 12. 28 Voucher Pendidikan, Kompas (Jakarta), 27 Oktober 2006, 12.
presidenpun sempat masuk kelas dan mengajar para siswa. Hal-hal seperti inilah
yang semakin menguatkan dugaan bahwa presiden dan para pejabat publik lainnya
menggunakan pendidikan sebagai lahan mencari simpati rakyat. Maka tak salah jika
muncul anggapan bahwa para pejabat hanya suka tebar pesona.
Jika kondisi pendidikan kita sudah dijadikan ajang perekrutan massa
(politisasi), maka tujuan pendidikan nasional yang diamanahkan dalam
undang-undangpun akan semakin menjauh dari kenyataan.
Berbagai persoalan di bidang pendidikan yang diutarakan di atas perlu segera
mendapatkan solusi terbaik. Negara sebagai pihak yang berwenang mengatur segala
persoalan bangsa harus segera menghadirkan kepastian bagi warga negaranya. Tugas
negara, sebagaimana dituangkan dalam pembukaan UUD 194530 harus direalisasikan.
Begitupun juga dengan UN 2007, jika tujuan awalnya digunakan sebagai
bentuk evaluasi dari proses pembelajaran, maka apakah UN bisa mewakili seluruh
proses yang telah dilakukan oleh anak didik? Dan apakah hasil dari UN ini dapat
dipakai sebagai wahana peningkatan mutu pendidikan di negara kita?
Dari pemaparan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih
lanjut tentang ujian nasional 2007 dengan judul: Ujian Nasional 2007; antara Kuasa
30 Tugas negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut:
Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, Memajukan kesejahteraan
umum, Mencerdaskan kehidupan bangsa, Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
Negara dan Peningkatan Mutu Pendidikan yang lebih memfokuskan pada mekanisme
pelaksanaan dari ujian nasional 2007.
RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, dapat ditarik rumusan permasalahan sebagai
berikut:
Bagaimana mekanisme pelaksanaan ujian nasional 2007?
Bagaimana peran negara dalam dunia pendidikan khususnya dalam ujian
nasional 2007 sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia ?
TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui mekanisme pelaksanaan Ujian Nasional 2007
beserta pro dan kontranya
2. Untuk mengetahui peran negara dalam dunia pendidikan khususnya
dalam ujian nasional 2007 sebagai upaya peningkatan mutu
pendidikan di Indonesia?
Sedangkan Kegunaan dari pembuatan skripsi ini merupakan bagian dari
limpahan respon terhadap permasalahan yang diangkat. Hasil dari penulisan ini
diharapkan berguna bagi penambah wawasan di bidang pendidikan dan diharapkan
pula dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi pembuatan formulasi evaluasi yang
benar-benar sesuai dengan realitas bangsa Indonesia. Selain itu, penulisan skripsi ini
pendidikan S1 di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN
Sunan Ampel Surabaya.
DEFINISI OPERASIONAL
Untuk menghindari pembahasan yang bias terkait dengan penelitian ini, maka
perlu kiranya adanya penjelasan mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam
penelitian ini. Adapun istilah-istilah yang banyak digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1) Ujian nasional adalah: kegiatan pengukuran dan penilaian
kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar
dan menengah.31
2) Kuasa memiliki beberapa arti, yakni sebagai berikut: Kemampuan,
kesanggupan, kekuatan, Kewenangan atas sesuatu atau untuk menentukan
(memerintah, mewakili mengurus) sesuatu, Orang yang diberi kewenangan
untuk mengurus, Mampu, sanggup, kuat dan Pengaruh yang ada pada
seseorang karena jabatannya.32
3) Negara adalah: organisasi disuatu wilayah yang mempunyai
kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.33Dan kelompok
sosial yang menduduki wilayah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga
politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat
sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.34
31 Permendiknas No. 20 Tahun 2005 Pasal.1 32 Poerwodarminto, 528.
33 Tim Penyusun Kamus Pusat bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta, Balai Pustaka, cet.II 2002), 604.
4) Mutu memiliki arti sebagai berikut: Karat, baik buruk sesuatu,
kwalitas, taraf atau derajat.35Atau Kualitas; derajat; tingkat; manikam;
mutiara; emas kertas; manik; karat; (nilai logam mulia); kadar emas;
membungkam/diam (karena sedih).36
5) Pendidikan adalah: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.37
METODE PENELITIAN
Metode, berasal dari bahasa Yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan.
Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja;
yaitu cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang
bersangkutan.38Sedangkan metodika adalah: kumpulan metode-metode yang
merupakan jalan-jalan atau cara-cara yang nantinya akan ditempuh guna lebih
mendalami obyek studi.39Dalam bagian ini akan dijelaskan beberapa hal yang
berkaitan dengan metodologi penelitian yang meliputi: Jenis Penelitian, Pendekatan
penelitian, Jenis Data, Sumber Data, dan Teknik Pembahasan.
Jenis Penelitian
35Ibid, 665-666.
36 Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya : Arkola, 1994), 505. 37Ibid, UU Sisdiknas, Guru dan Dosen (Pasal 1), 7.
38 Koentjoroningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1977), 7.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian kepustakaan (Library Resourch) yaitu: penelitian yang
menggunakan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam
materi yang terdapat dalam kepustakaan.40Skripsi hasil kajian pustaka
ditulis untuk memecahkan suatu masalah yang didasarkan pada hasil
telaah kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan
dengan tema kajian. Dalam hal itu, bahan kepustakaan digunakan sebagai
sumber ide dasar untuk melakukan deduksi dan merumuskan pendapat
baru dari pengetahuan yang ada. Akhirnya, pemecahan masalah
didasarkan pada kerangka teori baru tersebut.41
Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian skripsi ini, digunakan paradigma dan pendekatan
kualitatif.42Pedekatan kualitatif menurut Bogdan dan Taylor diartikan
sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat
diamati.43 Sedangkan Kirk dan Miller berpendapat, penelitian kualitatif
adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara
fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam
kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam
bahasanya dan dalam peristilahannya.44
40 Nasution, Metode Resourch (Jakarta: Bumi Aksara,1996), 145. Lihat juga Mardialis, Metode
Penelitian:Suatu Pendekatan Proposal (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 25.
41 Panitia Penyusunan Panduan Penulisan Skripsi, Panduan Penulisan Skripsi (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Surabaya,1998), 1.
42 Lexy J, Moeloeng. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung : Remaja Rosdakarya,1996), 15. 43Ibid. 3.
Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah
dalam bentuk kata verbal, bukan dalam bentuk angka.45
Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah: subyek dari mana data dapat
diperoleh.46
Dalam skripsi ini, digunakan beberapa sumber data sebagai bahan penggodokan dari materi yang diangkat. Sumber data yang digunakan meliputi sumber data primer dan sumber data sekunder.
Sumber data primer adalah: keterangan-keterangan yang pertama kali
dicatat langsung oleh para penulis diberbagai buku atau pustaka yang
membahas mengenai ujian nasional, Kuasa Negara dan Peningkatan
Mutu Pendidikan.
Sumber data sekunder adalah: keterangan-keterangan yang pertama kali
dicatat langsung oleh para penulis diberbagai media, seperti surat
kabar, majalah, jurnal, dan internet.
Teknik Pembahasan
Untuk memudahkan terbentuknya mind thought dalam proses penelitian dari skripsi ini,
maka diperlukan berbagai teknik pembahasan. Dalam hal ini, dikemukakan beberapa teknik pembahasan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini. Diantaranya: teknik induksi, teknik deduksi, teknik reflektif, teknik historis dan teknik komparatif. Dengan rincian
pengertian sebagai berikut:
1) Teknik Induksi adalah: Pendekatan induksi berusaha untuk mengambil
kesimpulan mengenai semua anggota kelas, setelah menyelidiki
sebagian saja atau mengenai anggota kelas tertentu yang belum
diselidiki. Induksi merupakan cara berpikir yang berangkat dari
fakta-fakta yang lebih khusus, peristiwa-peristiwa yang kongkrit kemudian
diambil generalisasi-generalisasi yang bersifat umum.47
46 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), 102.
2) Teknik Deduksi adalah: Cara berfikir yang berangkat dari pengetahuan
yang bersifat umum dan bertitik tolak dari Pengetahuan umum itu
untuk menilai kejadian khusus.48
3) Teknik Reflektif adalah: teknik berpikir yang prosesnya
mondar-mandir antara yang empirik dan yang abstrak.49Teknik ini dapat
dilakukan dengan merefleksikan segala hal yang berhubungan dengan
permasalahan penelitian di atas.
4) Teknik Historis adalah: menguraikan sejarah munculnya suatu hal
yang menjadi obyek penelitian atau peneliti dalam perspektif waktu
terjadinya fenomena-fenomena yang diselidiki.50
5) Teknik Komparatif adalah: memperbandingkan kategori-kategori serta
serta ciri-cirinya untuk merumuskan teorinya (konsepnya), dilanjutkan
dengan mengembangkan teori (konsep), mungkin modifikasi, mungkin
pula mengganti dengan yang baru.51
SISTEMETIKA PEMBAHASAN
Dalam pembahasan penulisan skripsi ini, agar sistematis dan kronologis, maka
disajikan sistematika pembahasannya sebagai berikut:
BAB I: merupakan bagian pendahuluan dari skripsi ini yang berisikan tentang:
latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, definisi
operasional, metodologi penelitian, serta sistematika pembahasan.
48 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), 206.
49 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta, Rake Sarasin, 1996), 66. 50 Moh. Nazir, Metode Penelitian (Jakarta : Gholia Indonesia, 1991) ,55.
BAB II: merupakan bab yang membahas mengenai ujian nasional 2007 yang
mencakup: evaluasi (pengertian, tujuan, fungsi, dan prinsip evaluasi), Mekanisme
ujian nasional 2007, serta Pro dan kontra mengenai ujian nasional 2007.
BAB III: dalam bab ini akan dibahas mengenai bagaimana peran negara dalam
ujian nasional 2007, meliputi: Sekilas tentang kekuasaan dan negara, teknik
pelanggengan kekuasaan oleh negara (untuk menelusuri hal ini penulis
menspesifikasikan bidang kajian pada pemikiran Antonio Gramsci mengenai
Hegemoni dan Louis Althusser mengenai Ideological State Apparatus/ISA dan
Repressive State Apparatus/RSA), negara dan pendidikan dan negara dan ujian
nasional 2007. Selain itu, pada bab ini juga akan dibahas mengenai peningkatan mutu
pendidikan dan apakah hasil dari UN dapat dijadikan sebagai patokan tingkat mutu
pendidikan suatu negara. Hal ini dikembalikan lagi kepada UU Sisdiknas No. 20
tahun 2003 mengenai arti pendidikan dan tujuan pendidikan yang tentunya berbasis
kepada kondisi riil bangsa Indonesia. Dari sinilah diharapkan dapat diketemukan
formulasi yang tepat sebagai alat ukur keberhasilan pendidikan di negeri ini.
BAB IV: membahas mengenai analisa secara keseluruhan dari ujian nasional
2007, antara kuasa negara dan peningkatan mutu pendidikan.
BAB V: merupakan bab penutup dan kesimpulan serta dari rentetan pembahasan
BAB II
MEKANISME PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL 2007
Dalam membicarakan masalah pendidikan,52kita selalu saja akan dihadapkan pada
tiga proses utama, yakni: in put, proses dan out put. In put dapat diartikan sebagai dari
manakah siswa atau anak didik berasal (keluarga, lingkungan dan masyarakat). Proses
adalah pelaksanaan dari pada pendidikan itu sendiri, utamanya dilakukan dalam sekolah,
sedangkan out put adalah keluaran atau hasil dari proses pembelajaran atau dapat pula
dikatakan sebagai lulusan.
Dari masing-masing tahapan di atas, ada konsekwensi logis yang selalu
menyertainya. Misalnya asal usul dari peserta didik akan berpengaruh terhadap pribadi
peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran, relasi antar individu dan sebagainya
juga berpengaruh terhadap metode yang digunakan dalam penyampaian materi dari
pendidik/guru (dalam proses pembelajaran).
Sebagai bahan pertimbangan atau ukuran keberhasilan proses pembelajaran
digunakanlah evaluasi. Evaluasi dapat dilaksanakan diawal pertemuan (Pre Test). Di
tengah-tengah proses pembelajaran (Midle Test) dan diakhir proses pembelajaran (Post
Test). Setelah diadakannya evaluasi ini, capaian dari peserta didik dalam menguasai materi dan keberhasilan pendidik dalam menyampaikan materi dapat diketahui, untuk
selanjutnya diadakan perbaikan sebagai langkah umtuk meningkatkan keberhasilan.
Ujian Nasional, merupakan bagian dari proses evaluasi. Dalam Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 tahun 2003 disebutkan: Evaluasi
dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk
akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan (Pasal 57 ayat 1:) dan Pemerintah dan
Pemerintah Daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang dan
jenis pendidikan (Pasal 59 ayat 1:). Sebelum membahas mengenai Ujian Nasional,
alangkah baiknya kita bahas terlebih dahulu mengenai evaluasi itu sendiri.
A. EVALUASI
1. Pengertian Evaluasi Pendidikan
Secara etimologis, Evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang
berarti penilaian atau penaksiran.53Dalam bahasa arab, berasal dari kata At Taqdir,
berarti penilaian, dengan akar kata Al Qimah berarti nilai.54Dengan demikian,
secara harfiah, evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai: penilaian dalam
(bidang) pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
kegiatan pendidikan.55
Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh,
dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat
alternatif-alternatif keputusan (Mehren dan Lehmann).56Sesuai dengan pengertian tersebut
maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakann suatu proses yang
sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data; berdasarkan data
tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan.
53 M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan (Jakarta : PT Rajagrafindo, cet.III, 1996), 1. Dan John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus bahasa Inggris-Indonesia, (Jakarta : PT Gramedia.cet.XXIII, 1996), 220.
54 Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta : RajaGrafindo Persada, cet.I. 1996), 1. 55Ibid, 1
Kegiatan evaluasi memerlukan penggunaan informasi yang diperoleh
melalui pengukuran maupun dengan cara lain untuk menentukan pendapat dan
membuat keputusan-keputusan pendidikan. Pendapat dan keputusan tentu saja
dipengaruhi oleh kesan pribadi dan sistem nilai yang ada pada si pembuat
keputusan.57
Selain kata evaluasi, ada beberapa kata yang serupa dengannya. Kata-kata
tersebut adalah measurement atau pengukuran, assesment atau penaksiran dan tes.
Namun sebenarnya ketiga kata tersebut terdapat perbedaan.58
Measurement, diartikan sebagai proses untuk menentukan luas atau kuantitas sesuatu, atau usaha untuk mengetahui keadaan sesuatu seperti adanya
yang dapat dikuantitaskan, hal ini dapat diperoleh melalui jalan tes atau cara
lain.59 Hasil suatu pengukuran belum memiliki arti jika belum ditafsirkan dengan
jalan membandingkan hasil pengukuran dengan atandar atau patokan yang telah
ditentukan sebelumnya. Dalam penilaian pendidikan, patokan itu dapat berupa
batas minimal kompetensi materi pelajaran yang harus dikuasai atau rata-rata nilai
yang diperoleh oleh kelompok.
Sedangkan pengertian tes lebih ditekankan pada penggunaan alat
pengukuran.60 Sumadi Suryabrata mendefinisikan tes sebagai:
“Pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dijalankan, yang mendasarkan harus bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaaan atau melakukan perintah-perintah itu penyelidik mengambil kesimpulan dengan cara membandingkannya dengan standar atau testee yang lain”.61
57M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, 1 58Ibid, 2
Untuk pengertian assesment, tidak sampai ke taraf evaluasi, melainkan
sekedar mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran.62
Dalam hubungannya dengan proses pengajaran. Norman E. Gronlund
(1976) merumuskan pengertian evaluasi sebagai berikut:
“Evaluation ….. a systematic process of determining the extent to which instructional objectives are achieved by pupils”. (evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai
sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa).63
Dengan kata-kata yang berbeda, tetapi mengandung pengertian yang sama,
Wrightstone dan kawan-kawan (1956) mengemukakan rumusan evaluasi
pendidikan sebagai berikut:
“Educational evaluation is the estimation of the growth and progress of pupils toward objectives or values in the curiculum”(evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah
tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum).64
Dari rumusan tersebut di atas, sedikitnya adalah tiga aspek yang perlu
diperhatikan untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan evaluasi,
khususnya evaluasi pengajaran, yaitu:65
1. Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Ini berarti bahwa
evaluasi (dalam pengajaran) merupakan kegiatan yang terencana dan
dilakukan secara berkesinambungan. Evaluasi bukan hanya merupakan
kegiatan akhir atau penutup dari suatu program tertentu, melainkan
merupakan kegiatan yang dilakukan pada permulaan, selama program
berlangsung, dan pada akhir program setelah program itu dianggap selesai.
62Ibid, 3.
63 Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pendidikan, 3. 64Ibid, 3.
Yang dimaksud dengan program disini adalah program satuan pelajaran yang
akan dilaksanakan dalam satu pertemuan atau lebih, program caturwulan
ataupun program semester, dan juga program pendidikan yang dirancang
untuk satu tahun ajaran, empat tahun ajaran atau enam tahun ajaran dan
sebagainya.
2. Di dalam kegiatan evaluasi, diperlukan berbagai informasi atau data yang
menyangkut obyek yang sedang dievaluasi. Dalam kegiatan pengajaran, data
yang dimaksud mungkin berupa perilaku atau penampilan siswa selama
mengikuti pelajaran, hasil ulangan atau tugas-tugas pekerjaan rumah, nilai
ujian akhir catur wulan, nilai midsemester, nilai akhir semester, dan
sebagainya. Berdasarkan data itulah selanjutnya diambil suatu keputusan
sesuai dengan maksud dan tujuan evaluasi yang sedang dilaksanakan. Perlu
dikemukakan disini bahwa, ketepatan keputusan hasil evaluasi sangat
bergantung kepada kesahihan dan obyektifitas data yang digunakan dalam
pengambilan keputusan.
3. Setiap kegiatan evaluasi, -khususnya evaluasi pengajaran- tidak dapat
dilepaskan dari tujuan-tujuan pengajaran yang hendak dicapai. Tanpa
menentukan atau merumuskan tujuan-tujuan terlebih dahulu, tidak mungkin
menilai sejauh mana pencapaian hasil belajar siswa. Hal ini adalah karena
setiap kegiatan penilaian memerlukan suatu kriteria tertentu sebagai acuan
dalam menentukan batas ketercapaian obyek yang dinilai. Adapun tujuan
2. Tujuan Evaluasi Pendidikan
Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah
untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan
intruksional oleh siswa, sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya.66
Muchtar Buchori mengemukakan bahwa tujuan khusus evaluasi
pendidikan ada dua, yaitu:67
1. Untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik setelah menyadari
pendidikan selama jangka waktu tertentu, dan
2. Untuk mengetahui tingkat efisien metode-metode pendidikan yang
dipergunakan pendidikan selama jangka waktu tertentu tadi.
Tujuan evaluasi secara umum dapat dikaitkan dengan fungsi evaluasi
dalam pendidikan. Julian C. Stanley dan Kenneth mengklasifikasikan tujuan
evaluasi dalam pendidikan dalam tiga fungsi yang saling terkait satu dengan yang
lainnya, yaitu:68
a) Intructional, tujuan evaluasi dalam intruksional adalah melihat:
1) The proccess of constructing a test simulated teachers to clarify and refine meningful course objectives (proses pembentukan sebuah tes yang disimulasikan guru untuk mengklarifikasi dan menemukan kembali makna dari obyek pembelajaran ).
2) Test profide a means of feedback to the teacher. Feedback from tests helps the teacher provide more appropriate instructional guidance for individual students as well as for the class as a whole (tes memberikan 66 Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, cet..III, 2005), 11.
sebuah makna umpan balik kepada guru. Umpan balik ini membantu guru dalam menyediakan bimbingan instruksi yang tepat bagi siswa secara individual dan untuk siswa seluruh kelas pada umumnya ).
3) Properly constructed tests can motivate learning. As a general rule, students pursue mastery of objectives more deligently if they expect to be evaluated (pembentukan tes yang tepat dapat memotivasi belajar. Seperti pada umumnya, siswa mengejar penguasaan obyek secara lebih cerdas jika mereka ahli dalam hal evaluasi).
4) Examinations are useful means of overlearning (Ujian berguna sebagai makna yang lebih dari pembelajaran).
b) Administrative, tujuan evaluasi dalam masalah administrasi
pendidikan adalah sebagai berikut:
1) Tests provide a mechanism for “quality control” for school or school system national or local norms can provide a basis for assessing certain curricular strengths and weaknesses (tes memberikan sebuah mekanisme untuk mengkontrol kualitas sekolah atau sistem pendidikan nasional atau lokal yang dapat menyediakan sebuah dasar untuk penaksiran yang pasti dari kelebihan dan kekurangan sebuah kurikulum ).
3) Tests enable better decisions in clasification and placement (tes memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik pada klasifikasi dan penempatan).
4) Test can increase the quality of selection decisions (tes dapat meningkatkan kualitas dari pemilihan keputusan).
5) Test can be useful means of accreditation mastery Or certification (tes dapat dimaksudkan sebagai akreditasi atau sertifikasi).
c) Guidance, tujuan evaluasi dalam melakukan bimbingan kepada
peserta didik dijelaskan, “Test can be of value in diagnosing an individual’s
special aptitudes an abilities. Obtaining measures of scholastic aptitude, achievement, interest, an personalities often an important aspect of the counselling process (tes dapat berupa penilaian pada diagnosis bakat khusus kemampuan seorang individu. Menghasilkan ukuran dari bakat sekolah, pendekatan, kepentingan, seorang individu yang merupakann aspek penting dari proses konseling .)”
Menurut Sumadi Suryabrata, tujuan evaluasi pendidikan dapat
dikelompokkan dalam tiga klasifikasi, yaitu:
1. Klasifikasi berdasarkan fungsinya, evaluasi bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan;
a) Psikologik, evaluasi dapat dipakai sebagai kerangka acuan kemana dia harus
bergerak menuju tujuan pendidikan.
b) Didaktik/Intruksional, tujuan evaluasi memotivasi belajar kepada peserta
metode mengajar serta dalam rangka mengadakan bimbingan-bimbingan
secara khusus kepada peserta didik.
c) Administrratif/Managerial, bertujuan untuk pengisisan buku rapor,
menentukan indeks prestasi, pengisian STTB, dan tentang ketentuan
kenaikan siswa.
2. Klasifikasi berdasarkan keputusan pendidikan, tujuan evaluasi dapat
digunakan untuk mengambil:
a) Keputusan individual;
b) Keputusan institusional;
c) Keputusan didaktik instruksional; dan keputusan-keputusan penelitian.
3. Klasifikasi Formatif dan Sumatif
a) Evaluasi formatif diperlukan untuk mendapatkan umpan balik guna
menyempurnakan perbaikan proses belajar mengajar, dan
b) Evaluasi sumatif berfungsi untuk mengukur keberhasilan seluruh program
pendidikan yang dilaksanakan pada akhir pelaksanaan proses belajar
3. Fungsi Evaluasi Pendidikan
Secara lebih rinci, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran dapat
dikelompokkan menjadi empat fungsi, yaitu:69
1. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa
setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar mengajar dalam jangka
waktu tertentu. Hasil evaluasi yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan
untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi Formatif) dan atau untuk
mengisi rapor atau Surat Tanda Tamat Belajar, yang berarti pula untuk
menentukan kenaikan kelas atau lulus-tidaknya seorang siswa dari suatu
lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif).
2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran
sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan
satu sama lain. Komponen-komponen dimaksud antara lain adalah tujuan,
materi atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar mengajar, alat dan
sumber belajar, dan prosedur serta alat evaluasi. Fungsi ini berguna bagi guru
dan atau supervisor untuk mengadakan perbaikan program beserta
pelaksanaannya pada masa yang akan datang atau pada pertemuan berikutnya.
3. Untuk keperluan Bimbingan dan Konseling (BK). Hasil-hasil evaluasi yang
telah dilaksanakan oleh guru terhadap siswanya dapat dijadikan sumber
informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah atau guru
pembimbing lainnya.
4. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang
bersangkutan.
Secara lebih spesifik, evaluasi berfungsi sebagai berikut:70
a) Evaluasi berfungsi Selektif
Dengan cara mengadakan evaluasi, guru mempunyai cara untuk
mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai
berbagai tujuan, antara lain:
1. Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.
2. Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
3. Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
4. Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan
sebagainya.
b) Evaluasi berfungsi Diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi
persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan
siswa. Di samping itu diketahui pula sebab musabab kelemahan itu. Jadi
dengan mengadakan evaluasi, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada
siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab
kelemahan ini, akan lebih mudah dicari untuk mengatasi.
c) Evaluasi berfungsi sebagai Penempatan
Evaluasi dalam hal ini digunakan sebagai langkah untuk mengetahui
bakat dan minat sesorang. Setelah diketahui bakat dan minatnya, anak tersebut
akan ditempatkan bersama siswa-siswa yang memiliki bakat dan minat
bersama (spesifikasi)
d) Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan.
Fungsi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana tingkat
keberhasilan suatu program. Keberhasilan suatu program (pendidikan)
ditentukan oleh beberapa faktor yaitu: guru, metode mengajar, kurikulum,
sarana dan sistem kurikulum.71
Selain fungsi-fungsi di atas, bila dilihat dari pihak-pihak yang terlibat
dalam proses pembelajaran yakni guru, peserta didik, orang tua serta
masyarakat dan pengguna jasa pendidikan, maka fungsinya juga
berbeda-beda. Secara spesifiknya akan disajikan berikut ini:72
1. Fungsi pendidikan bagi guru diantaranya untuk:
a) Mengetahui kemajuan belajar peserta didik
b) Mengetahui kedudukan masing-masing individu peserta didik dalam
kelompoknya
c) Mengetahui kelemahan-kelemahan dalam cara belajar mengajar
d) Memperbaiki proses pembelajaran
e) Menentukan kelulusan peserta didik
2. Fungsi pendidikan bagi peserta didik, berfungsi sebagai:
a) Mengetahui kemampuan dan hasil belajar
b) Memperbaiki cara belajar, dan
c) Menumbuhkan motivasi dalam belajar
3. Fungsi pendidikan bagi orang tua antara lain:
a) Mengukur mutu hasil pendidikan
b) Mengetahui kemajuan dan kemunduran sekolah
c) Membuat keputusan kepada anak didik, dan
d) Mengadakan perbaikan kurikulum
4. Fungsi pendidikan bagi orang tua antara lain:
a) Mengatahui hasil belajar anaknya
b) Meningkatkan pengawasan dan bimbingan serta bantuan kepada
anaknya dalam usaha belajar
c) Mengarahkan pemilihan jurusan atau jenis sekolah pendidikan lanjutan
bagi anaknya
5. Fungsi pendidikan bagi masyarakat dan pemakai jasa pendidikan
a) Mengetahui kemajuan sekolah
b) Ikut mengadakan kritik dan saran perbaikan bagi kurikulum
pendidikan pada sekolah
c) Lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usahanya
membantu lembaga pendidikan
4. Prinsip Evaluasi Pendidikan
Prinsip, dapat diartikan sebagai asas; pokok; penting; permulaan;
fundamen; aturan pokok.73 Dalam proses pelaksanaan evaluasi prinsip-prinsip
yang harus diperhatikan antara lain:74
1. Keterpaduan
Evaluasi merupakan bagian integral dari proses pembelajaran.
Oleh karena itu, evaluasi harus ada keterpaduan antara tujuan intruksional,
materi dan metode yang digunakan.
2. Keterlibatan Siswa
Siswa sebagai subjek pembelajaran harus diakui keberadaannya.
Begitupun dalam proses evaluasi. Bagi siswa, evaluasi merupakan
kebutuhan sebagai bahan untuk tindakan belajar selanjutnya.
3. Koherensi75
Dengan prinsip koherensi dimaksudkan evaluasi harus berkaitan
dengan materi pembelajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah
kemampuan yang hendak diukur. Tidak dibenarkan menyusun alat
evaluasi hasil belajar atau evaluasi pencapaian belajar yang mengukur
bahan yang belum disajikan dalam proses pembelajaran demikian pula
tidak diterima apabila alat evaluasi berisi butir yang tidak berkaitan
dengan bidang kemampuan yang hendak diukur.
4. Pedagogis
Di samping sebagai alat penilai hasil atau pencapaian belajar,
evaluasi juga perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah
laku ditinjau dari segi pedagogis. Evaluasi dan hasilnya hendaknya dapat
dipakai sebagai motivasi untuk siswa dalam kegiatan belajarnya.
5. Akuntabilitas
Sejauhmana keberhasilan program pembelajaran perlu
disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan
sebagai laporan pertanggungjawaban (accountability).
Menurut Suharsimi Arikunto,76 ada satu prinsip umum yang harus ada dalam
evaluasi, yaitu prinsip Trianggulasi-atau hubungan erat tiga komponen-, yaitu antara:
a) Tujuan pembelajaran
b) Kegiatan pembelajaran
c) Evaluasi
Ketiga komponen tersebut harus saling berhubungan untuk mencapai hasil
pendidikan yang diharapkan.
Anas Sudijono berpendapat prinsip dasar evaluasi hasil belajar meliputi:77
1) Prinsip keseluruhan (Komprehensif), evaluasi hasil belajar dapat dikatakan
terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan secara bulat,
utuh atau menyeluruh. Dengan kata lain, evaluasi hasil belajar harus dapat
mencakup berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan atau
perubahan tingkah laku yang terjadi pada peserta didik sebagai makhluk
hidup bukan benda mati. Dalam hubungan ini, evaluasi hasil belajar di
samping dapat mengungkapkan aspek proses berpikir (cognitive domain)
juga dapat mengungkap aspek kejiwaan lainnya,yaitu aspek nilai atau
sikap (affektive domain) dan keterampilan (psychomotor domain) yang melekat pada masing-masing individu peserta didik.
2) Prinsip kesinambungan (Istimror/kontinuitas), maksudnya, evaluasi hasil
belajar yang dilakukan secara teratur dan sambung menyambung dari
waktu ke waktu. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang
dapat menggambarkan mengenai kemajuan atau perkembangan peserta
76 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara, Ed. Revisi, cet. IV, 2003 ), 24.
didik. Selain itu juga berguna untuk dapat memperoleh kepastian dan
kemantapan dalam menentukan langkah-langkah atau merumuskan
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang perlu diambil di masa selanjutnya.
3) Prinsip obyektifitas, bahwa evaluasi hasil belajar dapat dikatakan
terlaksana dengan baik jika terlepas dari faktor-faktor yang sifatnya
subyektif. Sehubungan dengan itu, dalam melaksanakan evaluasi hasil
belajar, serang evaluator harus senantiasa berpikir dan bertindak
wajar,menurut keadaan yang senyatanya, tidak dicampuri oleh
kpentingan-kepentingan yang bersifat subyektif.
B. MEKANISME UJIAN NASIONAL 2007
Ujian Nasional 2007 ini merupakan kelanjutan dari proses evaluasi yang
dilakukan pemerintah untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses pembelajaran.
Dalam sejarah pelaksanaan evaluasi di Indonesia, telah digunakan berbagai macam
bentuk evaluasi. Untuk lebih lengkapnya, berikut disajikan tabel pelaksanaan evaluasi
dari tahun sebelum 1971 sampai tahun 2007.78
BEBERAPA PERUBAHAN
EVALUASI BELAJAR
No Tahun Ajaran Keterangan
1 1971 dan sebelumnya Ujian Negara
2 1972 sd 1984 Ujian Sekolah
3 Mulai Thn.Pelajaran 1985/1986 EBTANAS disertai NEM, bentuk soal objektif
untuk 6 mata pelajaran
4 1987/1988 EBTANASbentuk soal objektif dan Essay
5 Mulai Thn Pelajaran EBTANAS,Perhitungan kelulusan
78 Makalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur disampaikan dalam
1988/1989 dgn. mempertimbangkan nilai Raport Cawu I & II berupa nilai P dan Q
6 1996/1997 EBTANAS, perhitungan kelulusan dgn.
mempertimbangkan nilai Raport semester 1&2, berupa nilai P dan Q. NA=P+Q+(nR) / 2+n
7 1997/1998 EBTANAS, bentuk soal kembali ke objektif
8 1999/2000 EBTANAS, nilai raport cawu I & II berupa
nilai P&Q ditiadakan.Istilah kelulusan diganti dgn ketamatan, pertimbangan ketamatan :Nilai akademis dan Non akademis
9 2001/2002 EBTANAS SD dihapus, EBTANAS
SMP/SMA/SMK tetap dilaksanakan dengan standar kelulusan tidak boleh terdapat nilai mata pelajaran kurang dari sama dengan 3,00. sedangkan rata-rata nilai mata pelajaran harus lebih dari atau sama dengan 6,00.
10 2002/2003 - Sekarang Ujian Nasional hanya 3 Mata Pelajaran Tahun 2003, standar kelulusan lebih dari 4,00. Tahun 2004, standar kelulusan lebih dari 4,25. Tahun 2005, standar kelulusan lebih dari 4,25 tetapi rata-rata mata pelajaran lebih dari 4,50.
Penentuan kelulusan memperhatikan aspek akademis dan non akademis baik dari Ujian Sekolah, Ujian Nasional, dan sikap perilaku siswa.
Tabel 1.1. Beberapa perubahan evaluasi belajar
Untuk pelaksanaan Ujian Nasional 2007 ini disandarkan pada beberapa
ketetapan hukum sebagai landasan yuridis formal pelaksanaannya, yaitu:
1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah
4. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor : 45 Tahun 2006, tentang Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007.
Dasar pemikiran pelaksanaan ujian nasional yang menguji kemampuan siswa
dengan standar nasional pada tiga mata pelajaran , yaitu bahasa indonesia, bahasa
inggris dan matematika/ekonomi/bahasa asing lainnya. Pertanyaan yang sering
muncul dari kalangan orang tua, mengapa subyek ujian nasional tersebut adalah
matematika dan bahasa (Inggris dan Indonesia)?.79
Pertanyaan menarik ini bisa dijawab dengan membandingkan aktifitas PISA
yang dikoordinir oleh Organization For Economic Development Cooperation and
Development sejak tahun 2000. Dalam publikasi tahun 2000 yang merupakan hasil riset dari selama tiga tahun, PISA menilai kapasitas pelajar di atas umur 15 tahun di
32 negara anggota OEDC dalam hal keterampilan dan pengetahuan untuk
menghadapi tantangan kerja ke depan.
Pada hasil publikasi riset tahun 2000 tersebut ada tiga domain literacy (melek)
yang dinilai, yaitu membaca (prioritas utama), matematika dan sains.
Melek membaca antara lain dilihat dari lamanya waktu yang dikonsumsi
siswa untuk membaca setiap bulan, jumlah buku baru yang dibaca atau dipinjam
dalam sebulan, dan kemampuan membaca bentuk grafis.
Melek matematis dilihat dari pemahaman geometri ruang al jabar, statistik,
dan interpretasi grafik serta diagram matematis. Adapun melek sains antara lain
dilihat dari pengetahuan bumi dan lingkungan, kehidupan dan kesehatan, serta
teknologi yang dikemas dalam tugas-tugas biologi, fisika, kimia, dan energi transfer.
Dari ranking yang dibuat, ternyata hanya Jepang dan Korea di Asia yang
mempunyai ranking tinggi menyaingi negara maju seperti Finlandia yang mampu
mentransformulasikan ekonominya dari basis sumber daya alam sebagaimana
Indonesia menajdi knowledge-based Economic sehingga mampu menjadi negara
makmur hanya dalam 15 tahun.
Hasil dari PISA tersebut ternyata berkorelasi positif dengan daya saing suatu
bangsa yang diindikasikan Global Competitiveness Index sebagai indek daya saing
dalam menggerakkan kemakmuran ekonomi suatu bangsa.
Sedangkan mengenai tujuan diadakannya Ujian Nasional 2007 ini adalah
sebagai berikut:
1. Ujian nasional bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara
nasional pada mata pelajaran yang ditentukan dari kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi, dalam rangka pencapaian standar nasional
pendidikan.
2. Ujian sekolah/madrasah bertujuan menilai pencapaian standar kompetensi lulusan
untuk mata pelajaran pada semua kelompok mata pelajaran yang tidak diujikan
secara nasional dalam rangka pencapaian standar nasional pendidikan.
Hasil ujian nasional dan/atau ujian sekolah/madrasah berfungsi sebagai salah
satu pertimbangan untuk :
a. Penentuan kelulusan peserta didik dari suatu satuan pendidikan; Bukan
satu-satunya penentu kelulusan
b. Seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;
d. Akreditasi satuan pendidikan;
e. Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya
peningkatan mutu pendidikan.
Mengenai naskah soal yang diberikan dalam ujian nasional 2007 ini ada
beberapa ketentuan yang digariskan oleh Departemen Pendidikan Nasional, yakni
sebagai berikut:
1. Naskah Soal UN disusun berdasarkan SKL (Standar Kompetensi Kelulusan) UN
200780
2. SKL 2007 irisan (interseksi) dari kurikulum 1994, 2004, dan Standar Isi
3. Butir Soal UN dipilih dan dirakit dari Bank Soal yang dikembangkan oleh
Puspendik (Pusat Penelitian Pendidikan).
4. Naskah soal UN ditelaah dan ditetapkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional
Pendidikan)
Naskah soal ujian nasional 2007 merupakan kolaborasi dari kurikulum 1994,
kurikulum 2004 dan standar isi. Untuk lebih jelasnya berikut disajikan bagan naskah
soal ujian nasional 2007
80 Terdapat pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 1 tahun 2007 tentang Perubahan
DIAGRAM NASKAH SOAL UJIAN NASIONAL 2006/2007
Error: Reference source not foundtabel 1.2. Diagram Naskah Soal Ujian Nasional 2006/2007
Pelaksanaan ujian nasional 2007 ini ada perubahan. Jika pada tahun-tahun
sebelumnya dilaksanakan pada bulan Mei, maka untuk tahun 2007 dilaksanakan pada
bulan April. Depdiknas mengatakan bahwa pemajuan jadwal ini dilakukan dengan
pertimbangan : target proses kegiatan belajar mengajar sudah usai pada bulan April,
sehingga siswa tidak perlu menunggu waktu lebih lama menghadapi UN dan dengan
pemajuan jadwal ini diharapkan para siswa dapat lebih konsentrasi. Sebab pada bulan
Mei, negeri ini memiliki banyak acara yang akan dihadiri oleh banyak massa yaitu :
peringatan hari buruh internasional, hari pendidikan nasional, dan peristiwa Mei.81
Untuk ketentuannya dapat diperjelas dengan penjelasan berikut:82
1. Ujian dilakukan satu kali, yang terdiri atas ujian utama dan ujian susulan;
2. Ujian susulan hanya berlaku bagi peserta didik yang sakit atau berhalangan dan
dibuktikan dengan surat keterangan yang sah;
3. Ujian dilaksanakan secara serentak;
4. Jadwal Ujian Kompetensi Keahlian SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)
ditetapkan oleh sekolah dan harus selesai 1 (satu) minggu sebelum ujian Utama;
Secara lebih spesifik, ujian nasional 2007 dilaksanakan pada: tanggal 17-19
April untuk tingkat SMA dan sederajat, serta tanggal 24-26 April 2007 untuk tingkat
SMP atau sederajat.83
Selanjutnya, untuk persyaratan lulus satuan pendidikan, para peserta didik
harus memenuhi kriteria berikut ini:
81 Advertorial. Kompas, (Jakarta) 9 Desember 2006, 41-42 diperkuat dengan : Surya, (Surabaya) 16 Februari 2007, 13.