• Tidak ada hasil yang ditemukan

N o Indikator Satuan

Dalam dokumen Bab II Kondisi Daerah (Halaman 140-145)

Target 2012 Capaia n Target 2016 (2015)

6 APK SLTA/MA/SMK Persen 75,5 78,72 (2015)90,00

7 Angka Partisipasi Murni SD/MI Persen 99,5 99,37 (2015)100

8 APM SLTP/MTS Persen 87,6 87,45 (2015)95,00

9 APM SLTA/MA/SMK Persen 68,00 70,21 (2015)72,00

10 BLK berstandar Internasional Persen 20 20 (2015)100

B KESEHATAN

1 Angka Harapan Hidup Tahun 65 64,17 (2015)71

2 Angka Kematian Bayi Per 1000KH 35,90 44 (2015)24

3 Angka kematian ibu Per 100000KH 200 123 (2015)118

4 Persentase memiliki jaminan penduduk pemeliharaanmiskin kesehatan

Persen 100 85 (2015)100

Melihat angka IPM terjadi progres yang sangat cepat baik di sektor pendidikan, kesehatan dan pendapatan perkapita. Akan tetapi perlu kerja keras lagi dalam meningkatkan angka harapan hidup yang masih jauh tertinggal dari daerah lain selain itu angka lama sekolah yang agak sulit ditingkatkan karena rata-rata putus sekolah masih cukup besar terjadi di 2012.

Tabel II. 51 Capaian Indikator Kinerja Makro Misi Ketiga RPJMD Kalimantan Selatan Tahun 2012

N o Indikator Satu an Target 2012 Capai an Target 2016 EKONOMI 1 Pertumbuhan Sektor PDRB % 2009 a. Pertanian b. Pertambangan c. Industri pengolahan d. Perdagangan 7,12 1,73 2,31 5,80 3,6 2,64 4,02 9,85 6,02 (2015) 5,10 (2015) 9,50 (2015) 7,48 (2015) 2 Kontribusi Sektor PDRB % 2009 a. Pertanian b. Pertambangan c. Industri pengolahan d. Perdagangan 22,34 21,06 9,87 15,00 19,23 23,72 9,04 16,33 24,4 (2015) 13,6 (2015) 12,4 (2015) 15,1 (2015)

Di sektor perekonomian Kalimantan Selatan masih sangat tergantung dengan pertambangan dilihat kontribusi yang masih cukup besar dan kesulitan untuk meminimalisir hal tersebut. Perindustrian pengolahan yang diharpakan dapat mengambil alih baik itu sifatnya agroindustri sesuai cita–cita RPJPD maupun industri lainnya malah semakin terpuruk dengan tahun ke tahun mengalami penurunan. Kebijakan–kebijakan terkait dengan usaha pemberian fasilitas ruang industri maupun menarik investasi masih belum cukup untuk masuknya industri ke Kalimantan Selatan, Hal ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh kurangnya infrastruktur dasar yang memadai diwilayah ini.

Tabel II. 52 Capaian Indikator Kinerja Makro Misi Keempat RPJMD Kalimantan Selatan Tahun 2012

N o Indikator Satu an Targe t 2012 Capai an Targe t 2016

1 Panjang jalan yang dibangun Km 6 6 (2015)22

2

Panjang jembatan yang dibangun (Termasuk jembatan yang menghubungkan daratan pulau

Kalimantan dengan Pulau Laut lainnya) M 100 -

300 dan 3000 (2015)

3 Kondisi jalan dalam kondisi baik % 75 80 (2015)75

4 Jembatan dalam kondisi baik % 80 80 (2015)80

Tabel II. 53 Capaian Indikator Kinerja Makro Misi Keempat RPJMD Kalimantan Selatan Tahun 2012

N o Indikator Satu an Target 2012 Capai an Target 2016

1 Kualitas pelayanan publik Indek Baik BaikSgt (2015)Baik

2 Kinerja pengelolaan keuangan daerah - WTP WDP WTP

3 Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) - Cukup Baik (2015)Baik

4 Jadwal PenganggaranPelaksanaan Perencanaan dan - WaktuTepat WaktuTepat WaktuTepat (2015)

5 Penegakan hukum atas Produk hukumDaerah % - - (2015)100

6 Kebebasan Sipil (Kebebasan berkumpul,

berserikat, berpendapat, berkeyakinan, % 61,6 75 (2015)95

N o

Indikator Satuan Target 2012

Capai an

Target 2016

1 Indeks lingkungan kualitas Peringkat 26 20 (2015)

2 Nilai tutupan revegetasilahan % 39,24 40 (2015)

3 Indeks kualitas air Indeks

Tercemar berat (8,40) Tercemar sedang (6,0) (2015)

N o Indikator Satu an Target 2012 Capai an Target 2016 diskriminasi)

Kinerja pengelolaan keuangan daerah masih terkendala dengan laporan asset daerah yang belum lengkap sehingga Wajar Tanpa Pengecualian yang diharapkan belum dapat diraih pada tahun 2012 ini. Sedangkan untuk Laporan Instansi Pemerintah (LAKIP) di tahun 2012 sudah dianggap baik karena asat usaha dan konsultasi dengan MenPAN dan Kementerian lainnya membuat perekembangan yang bagus dalam pengolahan laporan kinerja.

2.3Permasalahan dan Tantangan Pembangunan Daerah Tahun 2016

Permasalahan dan tantangan pembangunan daerah diklasifikasi menurut prioritas pembangunan sebagai berikut:

2.3.1 Prioritas 1. Meningkatkan Kualitas Pembangunan Manusia, Terkait Aspek Sosial Budaya, Pemuda Dan Olahraga, Serta Agama

Permasalahan dan tantangan pembangunan yang terkait dengan aspek sumber daya manusia, sosial dan budaya, adalah:

1. Distribusi penduduk belum merata, yaitu masih terpusat di sekitar Kota Banjarmasin untuk itu diperlukan distribusi manusia dan kegiatan ekonomi di pusat-pusat kegiatan lain

2. Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalsel masih menduduki rangking ke 26 nasional dan masih di bawah rata-rata nasional yaitu sebesar 70,44 pada tahun 2012

3. Derajat kesehatan ibu dan anak masih rendah yang ditunjukkan oleh masih tingginya angka kematian ibu dan anak

4. Pelayanan kesehatan terhadap masyarakat masih belum dapat dilakukan secara optimal

5. Sarana dan prasarana umum, olahraga, rumah ibadah yang belum memadai

6. Pembangunan bidang pariwisata di daerah belum dapat dilakukan secara optimal hal ini dapat dilihat belum banyak investasi jasa pariwisata yang dilakukan oleh investor.

7. Meningkatnya arus informasi dan komunikasi yang deras dari luar membawa serta nilai nilai yang tidak sesuai dengan budaya, etika, moral, dan agama.

8. Semakin merebaknya peredaran narkoba menambah ancaman masa depan masyarakat terutama masyarakat kalangan bawah. 9. Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan daerah masih

belum optimal

2.3.2 Prioritas 2. Mendorong Pengembangan Perekonomian Lokal/Daerah

Permasalahan pembangunan terkait dengan pengembangan ekonomi di Kalimantan selatan adalah:

1. Mempertahankan kecenderungan peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah dan sekaligus secara simultan berusaha meningkatkan kualitasnya.

2. Upaya pencegahan inflasi yang semakin kompleks.

3. Meningkatkan kondisi perekonomian yang mendukung berkembangnya dunia usaha.

4. Mempertahankan dan meningkatkan prestasi dalam perwujudan ketahanan pangan daerah.

5. Masih rendahnya daya saing menghadapi implementasi kesepakatan perdagangan bebas.

6. Pada bidang pertanian dalam arti luas, dirasakan masih belum optimalnya produksi dan produktivitasnya lahan dan petani.

7. Terjadinya alih fungsi lahan pangan ke non pertanian, degradasi lahan pertanian dan lahan tambak, keterbatasan sarana dan prasarana produksi pertanian dan perikanan, serta dampak negatif dari fenomena perubahan iklim, juga akan menjadi permasalahan lain yang akan mengurangi kemampuan produksi bahan pangan dalam lima tahun ke depan.

2.3.3 Prioritas 3. Menunjang Pembangunan dan Pengembangan Kuantitas dan Kualitas Infrastruktur Utama, Infastruktur Dasar, dan Fasilitas Publik Lainnya

Permasalahan dan tantangan pembangunan terkait dengan Infrastruktur adalah sebagai berikut:

(1) Dari tahun ke tahun terjadi kecenderungan peningkatan volume lalu lintas jalan, laut dan udara seiring dengan meningkatnya perekonomian nasional dan Kalsel. Pergerakan manusia dan barang akan terus meningkat, baik lokal, nasional maupun internasional (2) Tuntutan kebutuhan akan pengembangan wilayah untuk mengurangi

kesenjangan antarwilayah, seperti antara wilayah Kalsel bagian Barat dan Timur, serta antara Kalsel wilayah daratan dengan wilayah kepulauan.

(3) Peningkatan kebutuhan produk pertanian dan tanaman pangan memerlukan sistem pengairan yang mantap didukung dengan infrastruktur yang baik.

(4) Kemungkinan terjadinya bencana banjir maupun longsor masih akan terjadi pada masa yang akan datang.

(5) Kebutuhan akan pelayanan pemerintah yang terpadu dan efisien terus meningkat

(6) Semakin diperlukannya kepastian hukum untuk berusaha, terkait dengan pemanfaatan ruang.

(7) Kebutuhan kawasan perkotaan yang bersih, indah dan nyaman dengan tingkat layanan infrastruktur perkotaan yang mudah dijangkau oleh masyarakat dengan tingkat pelayanan yang tinggi. (8) Kebutuhan air bersih yang semakin tinggi serta tingkat layanan yang

(9) Masih belum tuntasnya penyusunan suatu terobosan hukum yang dibuat oleh pemerintah pusat dalam rangka percepatan proses penyusunan tata ruang.

(10) Belum termanfaatkannya secara optimal sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat.

(11) Belum adanya yang sinergis dan terintegrasi antar wilayah, sehingga masih ada lagi wilayah sebagai daerah belakang suatu pusat perkotaan.

2.3.4 Prioritas 4. Mendorong dan Memfasilitasi Penurunan Tingkat Degradasi Kuantitas dan Kualitas Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Permasalahan dan tantangan terkait dengan Lingkungan hidup, adalah:

(1) Kalimantan Selatan termasuk wilayah yang mempunyai titik panas terbanyak di Indonesia, sehingga merupakan penyumbang emisi yang besar.

(2) Penerapan good mining practice, pencegahan illegal logging, dan illegal fishing belum optimal.

(3) Kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau dan banjir pada saat musim hujan, frekuensi dan kualitasnya cenderung meningkat. (4) Masih belum adanya keseimbangan antara pemberian izin-izin

diantaranya pertambangan dengan perbaikan lingkungannya.

(5) Pertambangan mengakibatkan turunnya air permukaan dan berdampak terhadap budidaya perikanan dan pertanian belum ditangani serius.

(6) Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kontribusi lingkungan bagi kesejahteraan

(7) Peningkatan curah hujan dan peningkatan air laut yang mengancam infrastruktur jalan nasional.

2.3.5 Prioritas 5. Meningkatkan Kualitas, Akuntabilitas Transparansi Kinerja Pemda, dan Peningkatan Pelayanan Publik

Permasalahan dan tantangan terkait dengan kinerja pemerintahan adalah:

(1) Belum harmonisnya peraturan perundangan yang ada, sehingga pelaksanaan desentralisasi menjadi kurang optimal.

(2) Belum selesainya penyusunan aturan yang merupakan tindak lanjut dari UU, PP dan seterusnya.

(3) Penyerahan kewenangan tidak disertai dengan anggarannya (money follow function).

(4) Belum optimalnya senergisitas pemerintahan pusat, daerah dan kabupaten kota

(5) Adanya tuntutan dan harapan masyarakat yang besar terhadap penyelenggaraan pemerintahan Daerah yang transparan, akuntable, adanya kepastian hukum, rasa keadilan serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam berbagai kebijakan pembangunan.

(6) Belum optimalnya Kinerja Birokrasi Di daerah. (7) Penegakan perda masih belum optimal dilakukan.

(8) Adanya tumpang tindih peraturan perundang-undangan dari tingkat pusat dan daerah, yang terkadang menyulitkan implementasi.

Dalam dokumen Bab II Kondisi Daerah (Halaman 140-145)

Dokumen terkait