• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

D. Organisasi Keagamaan

2. Nahdlatul Ulama (NU)

Nahdlatul Ulama adalah suatu jam’iyyah diniyyah Islamiyyah (organisasi keagamaan Islam) yang didirikan di Surabaya pada 16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. berakidahkan faham Ahlusunnah wal Jama’ah dan menganut salah satu empat mazhab besar, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Kegiatannya ditujuakan pada pengembangan agama Islam dengan memperbanyak tabligh, pendidikan, agar umat Islam sadar kembali akan kewajibannya terhadap agama, bangsa, dan tanah air sehingga mereka dapat beramal sebagaimana mestinya.

Ada beberapa faktor secara langsung maupun tidak langsung melatar belakangi lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama ini diantaranya: gerakan pembaharuan yang terjadi di Mesir dan sebagian Timur Tengah lainnya dengan munculnya gagasan Pan-Islamisme yang di pelopori oleh Jamaluddin Al-Afghani untuk mempersatuakan seluruh dunia Islam. Sementara di Turki bangkit gerakan nasionalisme yang kemudian meruntuhkan Khilafah usmaniyyah.19

18

Ibid., h. 174.

19

Organisasi Nahdlatul Ulama dibangun dengan dua maksud, yang pertama untuk mengimbangi komite khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ke tangan para pembaharu. Kedua untuk berseru kepada Ibnu Sa’ud penguasa baru tanah Arab, Agar kebiasaan agama secara tradisi dapat diteruskan.20

Jika di Mesir dan Turki gerakan pembaharuan Islam terjadi karena kasadaran umat Islam sendiri atas ketertinggalan mereka dari dunia barat dari berbagai aspek kehidupan dan di arab gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh wahabi terjadi karena kesadaran internal umat Islam atas perusakan tauhid dikarenakan mereka menganggap sistem hukumnya telah di hinggapi oleh unsur-unsur churafat dan kemusyrikan, sedangkan di Indonesia hal serupa terjadi guna memajukan umat seperti berdirinya organisasi kebangsaan dan keagamaan Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Muhammadiyyah.

Beberapa alasan diatas memberikan motifasi pada para pemuda Islam Indonesia untuk mendirikan suatu organisasi keagamaan yang bebasis pada pengembangan umat secara khusus dalam bidang pendidikan dan dakwah, seperti mendirikan Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air) yang didirikan oleh Mas Mansur yang baru pulang dari Mesir dan begitu pun Wahab Hasbullah mendirikan Taswirul Afkar (potret pemikiran) sekembalinya dari luar negri.

Pada wadah ini terjadi diskusi-diskusi hangat antara Mas Mansur dengan Wahab Hasbullah mengenai berbagai permasalahan. Wahab Hasbullah selain aktif dalam gerakan pemuda, Ia juga aktif dalam Islam Studie Club yang didirikan oleh

20

Dr. Sutomo. Diskusi-diskusi hangat tadi dicemari dengan perdebatan-perdebatan prihal masalah-masalah khilafiyah dalam Islam, mengenai bidang tauhid dan fiqh. Fase selanjutnya adalah masa-masa terjadinya perbedaan dan perdebatan antara kaum tradisionalis (Wahab Hasbullah dan kawan-kawan) dengan kaum reformis (Ahmad Soorkati pendiri al-Irsyad dan Ahmad Dahlan dari Muhammadiyyah).

Pengaruh diskusi-diskusi itu dapat dirasakan ketika umat islam harus menghadapi kongres khilafat yang menggemparkan dunia Islam dan sempat menyedot perhatian dari penjajah Belanda, Dikarenakan yang hadir pada kongres tersebut adalah orang-orang yang memilik pengaruh besar pada umat Islam itu sendiri seperti, Wahab Hasbullah, Tjokroaminoto, H.Agus Salim, Ahmad Dahlan, Sangaji, Mas Mansur dan tokoh-tokoh penting lainnya. Hal ini ditakutkan Belanda dikarenakan perhatian yang besar dari ulama-ulama Indonesia atas jatuhnya kekholifahan Turki setelah perang dunia pertama dan berkuasanya Raja Ibnu Sa’ud di kota Mekkah.

Semakin panas dan puncaknya pada kongres al-Islam yang terjadi di Bandung, begitupun golongan pembaharu Islam, guna mempersiapkan undangan yang dilayangkan pada umat Islam Indonesia oleh raja Sa’ud untuk menghadri kongres di Mekkah. Terbukti pada kongres terakhir yang terjadi di Bandung memutuskan untuk mengirim Tjokroaminoto dari Sarikat Islam dan Mas Mansur dari Muhammadiyah ke Mekkah untuk menghadiri kongres. Sementara itu Abdul Wahab atas nama kalangan tradisi memajukan usul-usul agar kebiasan-kebiasan agama seperti membangun kuburan, membaca do’a seperti dalail al-khirat, ajaran madzhab, dihormati oleh kepala negera Arab yang baru dalam negaranya,

termasuk di Mekkah dan Madinah,21 namun hasil keputusan kongres di Bandung itu tidak menyambut baik usulan-usulan yang diberikan, sehingga Abdul Wahab dan tiga orang pendukungnya keluar dari komite khilfat, dan selanjutnya Abdul Wahab berinisiatif untuk mengumpulkan ulama dari golongan tua untuk melakukan rapat dan bersepakat untuk mendirikan suatu panitia yang disebut Komite Merembuk Hijaz.

Komite Hijaz inilah yang selanjutnya menjadi cikal-bakal terbentuknya Nahdlatul Ulama pada suatu rapat yang dilakukan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 yang dihadiri oleh K.H, Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, Kiai Bisri dari Jombang, Riduan dari semarang, Nawai dari Pasuruan, Asnawi dari kudus, Nachrowi dari Malang, kholil dari Bangkalan dan lain-lain.22 Dari sinilah diambil dua keputusan penting yang pertama: mengirim utusan ulama Indonesia untuk menghadri kongres dunia Islam di Mekkah, untuk memperjuagkan hukum-hukum ibadah dalam empat mazhab. Kedua: membentuk suatu organisasi atau Jam’iyyah yang akan mengirim utusan itu yang kemudian atas usulan dari K.H Alwi Abdul Aziz diberi nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri di Surabaya pada tanggal 16 rajab 1344 H. hari itu juga dibentuk pengurus yang terdiri dari dua badan, badan Suriah dan Tanfhidziah.23

Pengurus Suriah diketuai oleh Hasyim Asy’ari dengan gelar raisul akbar, wakil ketua K.H Dahlan dan K.H Wahab Hasbullah sebagai katib atau sekretasis. Sedangkan pengurus tanfhidziah terdiri dari ketua H. Hasan Dipo dan M Sidik

21

Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, h. 243.

22

L. Stoddard, Dunia baru Islam, h.325.

23

sebagai penulis. Sebagai utusan ke Mekkah dikirim K.H Wahab Hasbullah dan Syekh Ahmad Ganaim al-Amir al-Misri, yang kemudian membawa keputusan-keputusan mengenai ibadah dan pengajian, serta tindakan untuk mencegah pemerintah Saudi Arabia untuk meneruskan pengrusakan terhadap kuburan dari keluarga Nabi Muhammad saw. Sebagai buktinya pemerintah Saudi Arabia menjamin untuk menjalankan ibadah menurut mazhabnya masing-masing. Itu tertuang dalam surat yang dilayangkan pemerintah Saudi Arabia pada Pengurus Besar Nahlatul Ulama dalam suratnya no 2082 tanggal 13 Juni 1928.24

Dalam kesadaran nasional Nahdaltul Ulama (NU) tidak ketinggalan dengan organisasi-organisasi lainnya akan kemerdekaan tanah airnya. Perbaikan dalam penggunaan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit di perbaiki dalam setiap kongres yang dilaksanakan oleh kelompok ini, juga mendorong Indonesia agar segera mempunyai parlemen. Selain itu dalam kongres organisasi ini juga kerap membahas segala hal yang menyangkut hukum-hukum syar’i, tata-kemasyarakatan, ketata-nagaraan. Karena itu maka terhadap ‘Guru Ordonansi’ NU juga menuntut pencabutannya karena itu tudak sesuai dengan perkembangan bangsa Indonesia sendiri yang lebih banyak menuntut kebebasan dan kemajuan zaman, menuntut pembebasan pajak yang berdasakan pada pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan agama dan menutut penyediaan tempat-tempat sembahyang di lokasi umum.25

24 Ibid., h. 326. 25 Ibid., h. 327.

BAB III

DESKRIPSI TEMPAT PENELITIAN

A. Demografi dan Kependudukan

Kelurahan Mekarsari merupakan salah satu kelurahan yang berada pada wilayah Kecamatan Cimanggis Kota Depok:

1. Luas wilayah Kelurahan Mekarsari adalah ± 374 Ha 2. Batas wilayah Kelurahan Mekarsari meliputi:

- Sebelah Utara : Kelurahan Pekayon Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur (DKI Jakarta),

- Sebelah Timur : Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas Jakarta Timur (DKI Jakarta),

- Sebelah Selatan : Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok,

- Sebelah Barat : Kelurahan Tugu Kecamatan Cimanggis Kota Depok.1

Jumlah penduduk di Kelurahan Mekarsari sampai akhir bulan Desember 2010 tercatat 43.399 Jiwa, terdiri dari 11.275 kepala keluarga, jumlah penduduk laki-laki sebanyak 22.109 jiwa dan perempuanm 21.290 jiwa.

1

Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia : Kelompok Antara 0-5

No Usia Penduduk Persentase

Laki – Laki Perempuan Jumlah

1 0 – 05 2.924 2.826 5.750 14% 2 06 – 16 3.546 3.410 6.956 16% 3 17 – 25 7.032 6.607 13.639 32% 4 26 – 55 8.304 7.978 16.282 38% 5 56 – Keatas 303 469 772 1% Jumlah 22.109 21.290 43.399 100%

Sumber: Kantor Kelurahan Mekarsari, 2010.

Pada dasarnya penduduk pribumi Mekarsari merupakan suku bangsa Betawi. Dari data diatas , jika komposisi penduduk dilihat berdasarkan umur 0-05 tahun sebanyak 5.750 atau sekitar 14%, penduduk dengan usia 06-16 sebanyak 6.956 orang atau sekitar 16%, penduduk dengan usia 17-25 sebanyak 13.639 orang atau sekitar 32%, penduduk dengan usia 26-55 cukup besar sekitar 38% karena pada tingkat umur tersebut dapat dikatakan tingkat usia produktif, dan penduduk pada tingkat usia 56-keatas hanya 772 orang atau hanya sekitar 1% saja.

Sementara pada tahun 2010 mobilitas penduduk pada masyarakat Keluruhan Mekarsari tercatat angka kelahiran pada 2010 sebanyak 287 orang atau sekitar 13%, sedangkan yang datang sebagai penghuni baru pada kelurahan ini sekitar 859 orang atau sekitar 42%, sedangkan yang keluar dan pindah dari kelurahan Mekarsari 736 atau sekitar 36%, sementara angka kematian pada tahun 2010 ada 187 orang atau sekitar 9%. Persentase angka penduduk yang datang lebih besar disbanding yang lain, hal ini dimungkinkan karena secara geografis

kelurahan Mekarsari berbatasan langsung dengan wilayah Jakarta sebagai daerah satelit yang menunjang secara lansung perekonomian ibu kota.

Mobilitas Penduduk Tahun 2010 :

No. Mobilitas Penduduk Tahun 2010 Persentase

1 Lahir 258 Orang 13%

2 Datang 859 Orang 42%

3 Meninggal 187 Orang 9%

4 Pindah 736 Orang 36%

Jumlah 2040 Orang 100%

Sumber: Kantor Kelurahan Mekarsari, 2010.

B. Pendidikan

Dokumen terkait