BAB II LANDASAN TEORI
D. Organisasi Keagamaan
1. Persatuan Islam (Persis)
Persatuan Islam (Persis) didirikan di Bandung pada tanggal 23 September 1923 oleh sekelompok Muslim yang melihat pembaharuan-pembaharuan dalam agama Islam yeng telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Ide dan gagasan pembentukan organisasi keagamaan ini bermula dari pertemuan yang bersifat informal (kenduri) yang diadakan di rumah salah seorang kelompok tersebut yang merupakan para perantau yang berasal daerah sumatra, walaupun demikian mereka merasa sebagai penduduk pribumi, pendudk asli Bandung karena telah lama tinggal dan menetap di Bandung dengan urusan berdagang.
Pada pertemuan kenduri yang besifat informal ini mereka kerap membincang dan berdiskusi mengenai wacana ke-Islaman. Dalam pembicaraan dan diskusi mengenai ajaran agama ini ada dua tokoh yang dianggap sebagai guru yaitu Haji Zam-zam dan Haji Muhammad Yunus karena pemahaman yang luas mengenai ajaran agama Islam. Haji Zamzam memperoleh pengetahuannya dari belajar di Timur Tengah, beliau menghabiskan waktunya selama tiga tahun di Mekkah dan belajar di lembaga Daar al-Ulum dan sekembalinya dari Mekkah beliau menjadi guru dan mengajar di Daarul Muta’allimin, sebuah sekolah agama
di Bandung (sekitar tahun 1910),14 sedangkan Muhammad Junus adalah seorang pedagang yang menguasai bahasa Arab kepandaiannya dalam agama diperoleh dari pendidikan agama secara tradisional dan beliau tidak mengajar. Beliau tergolong sebagai orang kaya pada saat itu, dengan kekayaannya membantu dalam menunjang kehausannya dalam mempelajari ajaran Islam dengan membeli kitab-kitab yang dia perlukan.
Diskusi yang dilakukan oleh Haji Zamzam, Muhammad Junus dan yang lainnya merupakan cikal bakal pembentukan dari pada organisasi Persatuan Islam. Isi dari diskusinya selain membincang masalah ajaran agama mereka juga membicarakan tentang gerakan pembaharuan Islam yang telah lebih dulu dilakukan didaerah lain seperti di Sumatra, juga mereka membincang tentang konflik antar gagasan-gagasan baru itu dan sistem keagamaan yang telah mapan, selain itu mereka juga mengkaji isi majalah Al-Manar (sebuah majalah yang dterbitkan muslim modernis di Kairo), dan Al-Munir (majalah serupa yang diterbitkan di Padang oleh para ulama Indonesia yang pernah belajar di Mekkah)15 dan masalah komunis yang telah meresahkan umat Islam di Bandung dan juga telah memecah Sarekat Islam, sarekat Islam lokal Bandung dengan resmi mendukung komunisme pada kongres nasional partai tersebut.
Dalam perkembangannya Persatuan Islam kurang memberikan perhatian dan tekanan terhadap kegiatan organisasinya, Persis tidak berminat untuk
14
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam Di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1996), h. 96.
15
Howard M. Federspiel, Labirin Ideologi Muslim: Pencarian dan Pergulatan PERSIS di Era Kemunculan Negara Indonesia (1923-1957). Penerjemah Ruslani dan Kurniawan Abdullah (Jakarta: Serambi, 2004), h. 112.
menambah anggotanya sebanyak mungkin dan pembentukan cabang-cabang dari organisasi ini. Pembentukan cabang di berbagai daerah di luar Bandung merupakan inisiatif sendiri dari anggotanya tanpa ada instruksi dari pimpinan pusat organisasi tersebut. Akan tetapi pengaruh dari organisasi ini jauh melebihi banyak anggota dan jumlah cabangnya, terbukti pada awalnya mereka melakukan sholat jum’at secara berjama’ah tidak kurang dari selusin orang dari kelompoknya saja baru kemudian pada tahun 1942an saat jepang melakukan invasinya ke Indonesia tidak kurang dari 500 orang selalu mengikuti sholat berjamah yang diselenggaraka oleh kelompk ini.
Memang yang menjadi inti perhatian dari organisasi Persatuan Islam (Persis) adalah bagaimana menyebarkan cita-cita, gagasan dan pemikirannya. Untuk merealisasikan gagasan dan pemikirannya organisasi ini melakukan pertemuan umum, tabligh-tabligh, khotbah-khotbah, kelompok-kelompok studi, mendirikan sekolah-sekolah, meyebarkan atau menerbitkan pamplet-pamplet, majalah-majalah dan kitab-kitab.16 Beruntung dengan gagasan seperti ini Persatuan Islam mendapatkan dukungan dari orang-orang penting pada saat itu seperti Ahmad Hassan yang dianggap sebagai guru Persis dan Muhammad Natsir sebagai anak muda golongan terpelajar yang bertindak sebagai juru bicara dari organisasi Persatuan Islam ini.
Ahmad Hasan adalah terkenal sebagai ulama beraliran Reform, radikal dalam memutuskan hukum-hukum Islam. Sebagaimana telah disebut diatas Ia berjuang dalam Persatuan Islam yang didirikannya atas prakarsa K.H Zamzam
16
yang berasal dari Palembang pada tanggal 23 September 1923, dengan tujuan memperjuangkan untuk memberlakukan hukum-hukum Islam yang berdasarkan qur’an dan sunnah dalam masyarakat. Ia berusaha menghidupkan jiwa jihad dan ijtihad pada kaum muslimin, membasmi bid’ah, kurafat, tahayul, taqlid, dan
syirik, memperluas tabligh dan dakwah Islam kepada masyarakat, mendirikan pesantren dan sekolah untuk mendidik kader-kader umat Islam. Persatuan Islam mempunyai majlis ulama yang bertugas menyelidiki dan menetapkan hukum-hukum Islam berdasarkan quran dan sunnah, dan mewajibkan kepada seluruh jama’ahnya untuk meyiarkannya. Selain itu Ahmad Hassan adalah salah seorang tokoh Persatuan Islam (Persis) yang paling produktif dalam hal menulis buku dan karya tulis, banyak karya-karya ilmiahnya yang dipublikasikanmasyarakat umum, tulisan yang dianggap paling fenomenal bagi karya Ahmad Hassan adalah dua karya utamanya berisikan tentang kepercayaan-kepercayaan Islam yang diekspresikan Ahmad Hassan kedalam karyanya mengenai soal jawab, yang pertama berisikan tentang Tauhid (mengenai sifat Tuhan dan hubungan manusia dengannya) dan kedua adalah An-Nubuwwah, (berisikan hubungan karakteristik serta perjuangan para nabi, terutama nabi Muhammad) Buku ini merupakan rujukan bagi para anggota persatuan Islam.
Al-Quran dan sunnah memberikan tempat yang sangat penting bagi seorang Ahmad Hassan dan Persatuan Islam karena seharusnya umat muslim menjadikan Islam dengan al-quran dan hadits ini sebagai Manhaj (pandangan hidup). Karena dengan al-quran dan sunnah ini lah seorang muslim dapat merepresentasikan Islam sebagai ajaran yang murni dan dengan al-quran dan
hadits lah Islam dapat diterima karena sifatnya yang sesuai terhadap kondisi dan perkembangan zaman dalam konsep modern.17
Persatuan Islam dapat dikatakan organsisasi yang berbeda dengan organsisai manapun yang ada di Indonesia dalam hal penekanan terhadap penggunaan al-quran dan hadits dalam memberikan bukti-bukti mengenai argumentasinya tentang masalah-masalah keagamaan, soisal ekonomi, dan politik.
Al-quran merupakan sesuatu yang unik, Sesuatu yang berbeda dari tulisan manapun baik mengenai gaya bahasa maupun dari kandungan isi dan maknanya. Tak ada satupun manusia di muka bumi yang dapat membuat tulisan yang seperti atau sama dengan quran. Salah satu buktinya adalah bagaimana keindahan al-Quran dibaca dengan penuh kegembiraan dan penuh penghormatan oleh pembacanya.
Al-quran juga memiliki daya tarik yang memuat berbagai informasi-informasi yang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah seperti ayat-ayat yang bercerita mengenai seluruh kehidupan manusia berasal dari air, perputaran bumi dan benda-benda langit yang sesuai dengan teori ilmu pengetahuan astronomi dan masih banyak lagi ayat-ayat al-quran yang sejalan dan menjadi sumber rujukan dari pada ilmu pengetahuan modern.
Sementara hadits atau sunnah, Orang-orang Pesatuan Islam (Persis) menggambarkan sebagai “ucapan Nabi, prilaku Nabi, dan prilaku sahabat yang
17
Howard M. Federspiel, Labirin Ideologi Muslim: Pencarian dan Pergulatan PERSIS di Era Kemunculan Negara Indonesia (1923-1957). Penerjemah Ruslani dan Kurniawan Abdullah. h. 172-173.
hidup pada masanya yang disepakati oleh Nabi. Dalam urusan yang berkaitan dengan permasalahan keagamaan seperti ibadah (shalat, shaum, haji dan sebagainya), atau ucapan dan tindakan Nabi yang menjadi landasan prilaku dalam menjalankan kewajiban-kewajiban keagamaan. Serta diluar masalah ritual ibadah di atas seperti prilaku personal Nabi dalam urusan-urusan keduniawian.18