• Tidak ada hasil yang ditemukan

NAMAs Energi Terintegras

Dalam dokumen Kerangka Kerja Indonesia untuk NAMAs Bahasa (Halaman 38-41)

Langkah Selanjutnya

Lampiran 1. Data terkini Perkembangan NAMA

1. NAMAs Energi Terintegras

Dalam menanggapi negosiasi perubahan iklim pada tingkat internasional, NAMA energi terintegrasi disusun yang di dalamnya mencakup aksi-aksi mitigasi yang berasal dari produksi energi dan ei siensi energi di sektor transportasi, industri dan komersial. Bercermin pada REDD+ pada NAMAs berbasis lahan, pemerintah Indonesia saat ini sedang menyusun strategi nasional untuk mengurangi emisi dari pembakaran bahan bakar fossil (REFF-Burn+) di sektor energi yang terintegrasi.

Beberapa proposal NAMAs telah disiapkan di sektor energi terintegrasi, yang berkaitan dengan sisi produksi (memaksimalkan penggunaan energi terbarukan) dan dari sisi konsumsi (ei siensi penggunaan energi di sektor transportasi, industri dan komersial). Satu proposal yang berkaitan dengan sektor transportasi telah diajukan ke UNFCCC.

1.1. NAMA Energi Terbarukan

NAMA Energi Terbarukan (RE-NAMA) berusaha mengatasi hambatan melalui peningkatan kapasitas bank (lembaga pembiayaan) dan pengembang proyek. Sebuah contoh model pembiayaan akan dibangun menggunakan NAMAs supported untuk menarik proyek- proyek energi terbarukan berkualitas tinggi yang memiliki biaya mitigasi khusus yang rendah namun memiliki potensi besar untuk berkembang.

Proyek energi terbarukan berkualitas tinggi akan menerima subsidi tambahan sebesar 10% dan akan menggunakan prosedur MRV dan benchmarking yang ketat. Pembiayaan proyek akan disediakan oleh BUMN untuk pembangunan infrastruktur (PT SMI) yang akan dibantu oleh unit pendukung teknis dalam menyeleksi dan melakukan uji tuntas (due diligence) terhadap proyek-proyek energi terbarukan. Kapasitas dari pelaksana proyek, bank dan lembaga pemerintah akan diperkuat. Kemenkeu akan memberikan arahan tentang instrumen i skal yang dapat mendukung perubahan transformasional dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan.

RE-NAMA akan membantu Indonesia dalam mencapai target penurunan emisinya seperti ditetapkan dalam Peraturan Presiden No. 61/2011 tentang RAN-GRK, yaitu pembangunan 1225 MW pembangkit tenaga listrik terbarukan yang dapat mengurangi lebih dari 4,2 juta ton CO2 pada tahun 2020. Selain dari itu, RE-NAMA memberikan

beberapa manfaat lain seperti: (a) meningkatkan ketahanan energi, (b) menurunkan subsidi energi, (c) meningkatkan jumlah pemasangan listrik, (d) mengurangi polusi udara, dan (e) dekarbonasi sektor energi.

31

31

Lampiran

1.2. RE NAMA Skala Kecil

NAMA ini mendukung pengadaan listrik energi terbarukan pada skala kecil dan menengah (≤10 MWe). Secara khusus, NAMA ini difokuskan pada fasilitas energi milik swasta yang terkoneksi dalam sebuah jaringan sehingga listrik yang dihasilkan dapat dijual kembali kepada pihak lokal yang berwenang yang disebut dengan Penghasil Listrik Mandiri (independent power producers/IPPs). Pendekatan top-down untuk mendukung sektor ini dan melengkapi RE-NAMA di atas tentunya diperlukan, mengingat model proyek/pembiayaan tersebut berlaku sebagai katalis terhadap sektor ini.

IPPs memiliki prospek yang menjanjikan mengingat adanya lingkungan yang mendukung bagi pengembang proyek pada saat ini, seperti feed-in tariff (FiT) dan perjanjian jangka panjang pembelian energi (power purchase agreements/PPAs). Namun, demikian masih terdapat kendala antara lain: i) kapasitas untuk membangun dan melakukan penilaian dokumentasi kelayakan dan perancangan saat ini masih rendah; ii) sektor perbankan daerah masih enggan mengambil resiko untuk pengembangan teknologi baru seperti proyek energi terbarukan, dan (iii) syarat-syarat yang diajukan oleh Bank kepada IPPs seringkali terlalu tinggi.

Dibawah RE NAMA skala kecil ini, lingkungan investasi yang mendukung untuk IPPs akan dibentuk melalui gabungan antara bantuan teknis dan komponen i nansial, yang akan dilakukan pada fase awal I23.

Pada fase II, mekanisme pembiayaan publik sedang disusun dengan kolaborasi antara ESDM dan Kemenkeu berdasarkan tiga opsi rancangan awal yang terdiri atas fasilitas pinjaman, ketentuan ekuitas (untuk memperpanjang masa pinjam), atau jaminan kredit parsial kepada bank. Opsi-opsi ini dipilih untuk sebisa mungkin dilaksanakan pada struktur dan program kelembagaan yang ada.

RE NAMA skala kecil yang mendapat dukungan ini menargetkan kapasitas sebesar 1,800 MW dan bermaksud meningkatkan target dari aksi RAN-GRK yang sejalan dengan rencana pembangunan sampai tahun 2020 dan penurunan target GRK sebesar 41%24.

Peningkatan investasi sektor swasta pada energi terbarukan dapat memberikan manfaat bagi Indonesia melalui peningkatan ketahanan energi, pemenuhan energi untuk pertumbuhan (ekonomi), pengurangan subsidi, penciptaan lapangan pekerjaan, dan pengurangan polusi udara. Total dampak mitigasi yang dihasilkan diperkirakan sebesar 6.5 juta ton CO2 e/yr pada tahun 2020.

1.3. NAMA transportasi perkotaan berkelanjutan

Program NAMA Transportasi Perkotaan Berkelanjutan Indonesia (Sustainable Urban

23 Fase I termasuk: 1) pendirian Clearing House for IPPs, unit bantuan teknis yang menyediakan pedoman/ template untuk bank dan pengembang, memberikan pelatihan, menghubungkan pemangku kepentingan dengan tenaga ahli, memelihara database kontraktor dan data sumber daya energi terbarukan, dan menawarkan sedikit hibah untuk persiapan studi kelayakan dan 2) Pembangunan mekanisme kompensasi jaringan (grid compensation mechanism), mengingat IPPs di daerah terpencil seringkali gagal untuk menjual listriknya karena sering terjadi pemadaman jaringan (grid). Mekanisme kompensasi parsial berdasarkan standar minimum dapat meningkatkan pendapatan dari proyek ini.

32 Kerangka Kerja Indonesia untuk Nationally Appropriate Mitigation Actions (NAMAs)

32

Transport Program Indonesia/SUTRI NAMA) bertujuan untuk merubah sistem transportasi perkotaan di Indonesia melalui gabungan antara kegiatan untuk meningkatan kapasitas dan investasi. Diharapkan NAMA SUTRI akan mengurangi emisi sebesar 5 juta ton CO2 dan memberikan manfaat terukur lainnya seperti berkurangnya kemacetan, dan polusi udara. 

Pada tingkat nasional, program kerangka kerja nasional terdiri atas Dana Transportasi Perkotaan Berkelanjutan (Sustainable Urban Transport Fund /SUTF) yang bertujuan untuk memberikan dana pendamping bagi kebijakan daerah dan tindakan lain yang diperlukan, serta Unit Pendukung Teknis (Technical Support Unit/TSU) yang memberikan pelatihan kepada pemerintah daerah, pemberian konsultasi oleh tenaga ahli dan dana pendamping untuk studi kelayakan. Pelaksanaan program kerangka kerja nasional akan membantu mengatasi serangkaian hambatan struktural.

Pada tingkat daerah atau propinsi, paket kebijakannya meliputi campuran tindakan antara ‘push’ dan ‘pull’ yang didalamnya termasuk penyediaan transportasi umum yang berkualitas tinggi, transportasi nirmesin (non-motorised transport/NMT) seperti berjalan kaki dan bersepeda, pengelolaan permintaan transportasi (Transport Demand Management/TDM) seperti pengelolaan parkir dan lalu lintas, perencanaan tata ruang, penggunaan bahan bakar alternatif dan ei siensi kendaraan. Fase awal pelaksanaannya difokuskan pada pengurusan TDM dan mempromosikan NMT. Kota percontohan dalam fase uji coba adalah Medan, Batam dan Manado.

Pengalaman tersebut dapat meningkatkan kapasitas kota untuk mengadopsi program transportasi perkotaan berkelanjutan pada rencana induk transportasi mereka, menyesuaikan program kebijakan dan investasi, juga meningkatkan kapasitas mereka dalam proses penganggaran dan pengembangan aplikasi untuk pendanaan berbasis hibah yang ditawarkan oleh berbagai dana transportasi di tingkat nasional. Hal tersebut akan membuka jalan bagi pelaksanaan NAMA SUTRI yang lebih luas dengan adanya tambahan dana domestik dan internasional untuk merangsang perubahan transformasional dalam transportasi perkotaan di kota-kota di Indonesia.

Kriteria NAMAs di Sektor Transportasi

1. NAMAs harus disusun berdasarkan kebijakan perubahan iklim dan transportasi yang ada di Indonesia saat ini, termasuk rencana aksi perubahan iklim dan kerangka kerja nasional untuk transportasi perkotaan.

2. NAMAs harus mengupayakan terciptanya sistem transportasi yang berkelanjutan. 3. NAMAs yang diajukan harus dikoordinasikan dengan pemerintah daerah, dan harus

dapat menyediakan sistem transportasi yang lebih baik dan ei sien pada tingkat lokal berdasarkan kebutuhan transportasi daerah.

4. NAMAs harus mendorong kolaborasi antara sektor swasta dan BUMN, dan dapat memperkuat koordinasi dan kerjasama dengan kementerian dan instansi pemerintah terkait.

5. NAMAs harus dapat meningkatkan kapasitas kelembagaan dalam pengumpulan data dan kualitas data transportasi, juga membangun sistem data terpercaya yang sangat penting dalam mengevaluasi potensi penurunan emisi dari NAMAs di sektor transportasi.

33

33

Lampiran

1.4. Inisiatif Penerangan Jalan Pintar (Smart Street Lighting Initiative/SSLI)

(NAMA Efi siensi Energi)

NAMA SSLI bertujuan untuk mengurangi emisi GRK dengan meningkatkan ei siensi energi pada sistem penerangan jalan di area perkotaan dan pedesaan di Indonesia, termasuk didalamnya penggantian penerangan jalan konvensional dengan teknologi yang lebih ei sien. Hampir seluruh kota secara parsial masih dibebankan pembayaran listrik berbasis

lump-sum (tidak terukur) untuk penerangan jalan. Dengan adanya dukungan dari NAMA SSLI, upaya untuk memasok listrik di seluruh kota di Indonesia dapat dipercepat dan diselaraskan prosesnya dengan upaya penggantian dan instalasi penerangan jalan baru yang lebih ei sien seperti penggunaan lampu LED (light-emitting diode).

NAMA SSLI akan dimulai pelaksanaannya di tahun 2014 di maksimum empat kota berukuran kecil dan sedang, sebelum diperluas pelaksanaannya di delapan kota tambahan pada tahun 2016 dan diharapkan mencapai 22 kota pada tahun 2020. NAMA SSLI akan membantu kota-kota tersebut untuk mendapatkan dana pendamping ketika harus berinvestasi pada teknologi yang lebih ei sien. Selain upaya mencapai target penurusan emisi GRK, NAMA SSLI mendukung beberapa prioritas pembangunan Indonesia lainnya seperti keamanan pasokan energi (dengan mengurangi permintaan) dan keselamatan publik (melalui peningkatan penerangan umum).

Pada tahun 2011, sekitar 3068 GWh atau 2,3 juta ton CO2 dihasilkan dari konsumsi energi untuk penerangan jalan umum. Hingga 40% dari penurunan emisi CO2 dapat dicapai dengan teknologi dan pengelolaan penerangan yang lebih ei sien.

Berdasarkan perhitungan awal, NAMA SSLI ditargetkan untuk mengurangi emisi sebesar 400.000 tCO2e hingga tahun 2020. Mengingat umur rata-rata penerangan jalan dengan menggunakan teknologi LED sekitar 10 tahun, maka NAMA SSLI dapat mencapai penurunan emisi hingga sekitar 1.400.000 tCO2e pada tahun 2024.

ICCTF akan mengelola dana NAMA internasional dan melaksanakannya di beberapa kota terpilih, memperkuat kapasitas kota-kota tersebut, dan mengatasi hambatan yang ada sehingga pelaksanaanya dapat diperluas melalui pembiayaan oleh Pusat Investasi Pemerintah (PIP) di Kemenkeu. Lebih lanjut, model Perusahaan Pelayanan Energi (Energy Service Company/ESCO) juga akan diperkenalkan. Sebagai konsekuensinya, bantuan NAMA akan diintegrasikan dengan pembiayaan domestik dalam bentuk pinjaman berbunga rendah sehingga memungkinkan untuk dijalankan di seluruh pelosok kota dan dampaknya juga dapat ditularkan ke kota-kota lainnya.

Dalam dokumen Kerangka Kerja Indonesia untuk NAMAs Bahasa (Halaman 38-41)

Dokumen terkait