• Tidak ada hasil yang ditemukan

Narasi Informan Subjek 2

4.5. Perspektif Triangulasi

4.5.2. Narasi Informan Subjek 2

Suster Bernadet adalah yang berperan menjadi informan untuk Suster Yashinta. Suster Bernadet merupakan individu yang lahir dan besar di Flores dan ia sudah mulai kenal dan dekat dengan Suster Yashinta sejak tahun 2009. Suster Bernadet sudah diutus ke Jakarta lebih dulu daripada Suster Yashinta saat tahun 2016 yang lalu. Suster Bernadet juga merupakan rekan Suster Yashinta yang sedang mengikuti kursus untuk tugas perutusannya ke Jerman.

Suster Bernadet mengatakan bahwa Suster Yashinta merupakan pribadi yang tegas, periang, enerjik, namun cukup tertutup jika sedang menghadapi masalah. Ia merupakan indidvidu yang kuat juga saat sedang menghadapi persoalan, sehingga permasalahan yang dihadapi tidak akan berlarut lama.

Menurut Suster Bernadet pada gambaran pemenuhan kebutuhan fisiologis Suster Yashinta, ia mengatakan bahwa di biara segala kebutuhan dasar untuk para Suster terpenuhi begitu pula dengan kebutuhan dasar Suster Yashinta. Hal ini juga karena kehidupan para Suster tidak lepas dari jadwal yang sudah ditetapkan dan disusun secara tepat dan rapi. Menurutnya, segala kebutuhan dasar sudah cukup bagi para Suster yang tinggal di biara termasuk untuk subjek pula.

Saat ditanyakan perihal kesehatan, Suster Bernadet mengatakan bahwa Suster Yashinta adalah tipe pekerja keras. Sampai saat ia pertama kali pindah dari Flores ke Jakarta, Suster Yashinta sempat kelelahan dan sakit tipus beberapa minggu. Ia adalah salah satu yang merawat Suster Yashinta. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat bekerja dari subjek. Menurut Suster Bernadet, Suster Yashinta tetap mengajar dan mengikuti kursus saat itu. Jika kondisi badan lemah,

ia tidak akan beraktifitas dalam satu hari dan berada di biara saja untuk beristirahat.

Untuk menjaga kondisi badan, Suster Bernadet tidak pernah melihat Suster Yashinta memiliki jadwal khusus untuk berolahraga. Ia berpendapat bahwa kegiatan sehari-harinya saja sudah cukup padat dari pagi, sehingga ia tidak memiliki hal tersebut untuk melakukannya.

Suster Bernadet mengungkapkan bahwa Suster Yashinta tidak pernah menceritakan jika ia pernah tertarik oleh lawan jenis sebelumnya. Yang hanya Suster Bernadet ketahui bahwa, alasan dasar subjek masuk biara adalah karena ia memiliki pengalaman yang membuatnya trauma yaitu kakak perempuan yang paling dekat dengannya meninggal dunia saat sedang menjalani persalinan. Oleh karena itu, menurut Suster Bernadet, ia memilih jalan sebagai biarawati dan berkarya untuk Tuhan karena memiliki masa lalu yang membuatnya sedih.

Menurutnya, situasi dan kondisi di lingkungan biara manapun dapat membuat para Suster merasa aman. Pasalnya karena sudah banyak warga sekitar mengetahui bahwa tempat mereka adalah biara dan security selalu ada di sekitar tempat biara dan gereja. Begitu pula yang dirasakan oleh Suster Yashinta. Suster Bernadet mengatakan bahwa Suster Yashinta adalah individu yang dapat beradaptasi dimanapun ia berada dan ditempatkan. Karena sudah menjadi tuntutan setiap biarawati termasuk Suster Yashinta sendiri untuk selalu siap jika dipindahtugaskan atau diutus ke kota ataupun negara lain.

Suster Bernadet juga mengakui bahwa Suster Yashinta merupakan orang yang menyukai kegiatan-kegiatan sosial. Jika ia memiliki waktu kosong dan tidak

ada kesibukan, ia akan mengikuti kegiatan-kegiatan bersifat sosial dan membantu orang-orang yang membutuhkan, seperti berkunjung dan melakukan pendampingan pada korban bencana banjir. Namun, hal ini tidak dapat dilakukan sering kali oleh Suster Yashinta karena ia sudah memiliki kesibukan tetap dalam bekerja dan mempersiapkan dirinya untuk ke Jerman.

Saat peneliti menanyakan kepada informan tentang subjek dalam berorganisasi, menurutnya subjek adalah seseorang yang sangat berkompeten dalam hal memimpin. Suster Bernadet mengakui hal ini, karena saat ia dan subjek tergabung dalam satu organisasi di Flores, ia merupakan pemimpin yang tegas dan memiliki banyak ide kreatif. Selain tegas, subjek juga mencerminkan sosok individu yang murah hati dan siap membantu anggota kelompoknya jika menemukan kesulitan.

Penggambaran pada kebutuhan akan pembelajaran, menurut Suster Bernadet, subjek sudah mendapatkannya melalui penetapan dari biara. Melalui penjelasannya ia mengatakan bahwa, seluruh biarawati pasti akan menempuh jalur pendidikan yang sesuai dengan keinginan dari pusat, hal ini termasuk apa yang menjadi alur kehidupan yang harus dijalani oleh Suster Yashinta juga. Namun, saat peneliti menanyakan tentang keinginan Suster Yashinta dalam menempuh pendidikan yang diinginkan, informan tidak pernah mengetahui hal tersebut. Namun, jika Suster Bernadet datang ke kamar subjek, ia selalu melihat tumpukan buku yang bertemakan tentang psikologi dan kebanyakan terjemahan dalam bahasa Inggris.

Pada kepedulian tentang nilai keindahan atau nilai estetika yang terdapat pada diri subjek, informan mengatakan bahwa, Suster Yashinta adalah individu yang sangat peduli dan perhatian pada kerapihan dan keindahan. Hal ini dikarenakan ia menanam dan merawat bunga di biara. Ia sangat menyukai tumbuhan terutama bunga dan memiliki hobi bertanam yang ia bawa dari sejak kecil. Dan pada kepedulian dalam hal seni, Suster Yashinta selalu aktif dalam kegiatan paduan suara jika para biarawati bertugas mengisi kegiatan koor di gereja. Suster Bernadet juga memuji subjek dalam bernyanyi karena ia memiliki suara yang indah dan merdu saat bernyanyi.

Pada pengembangan diri subjek dalam melalui tahapan untuk mencapai aktualisasi diri, Suster Bernadet hanya menjelaskan secara singkat gambaran keseluruhannya. Pada Suster Yashinta dimana subjek mengembangkan dirinya melalui bekerja, berpikir kreatif dalam menyelesaikan suatu pekerjaan ataupun dalam menghadapi masalah, dan selalu setia dengan biara yang merupakan jalan yang dikehendaki Tuhan untuknya serta selalu bersyukur. Saat peneliti menanyakan tentang cita-cita dan keinginan subjek dalam mencapai suatu titik kepuasan dalam pencapaian hidupnya, informan mengatakan bahwa subjek tidak pernah menceritakan hal tersebut baik pada dirinya maupun pada komunitas.

Dan pada penggambaran untuk melalui tahapan pencapaian transendensi diri, Suster Bernadet menjelaskan bahwa Suster Yashinta sudah cukup baik dalam membagi dirinya sebagai rohaniwan dan menjalani kegiatannya sebagai manusia biasa pula. Ia mengatakan, subjek selalu aktif dan hadir pada setiap pertemuan komunitas dan perutusan pekerjaan sosial yang diminta oleh pusat. Sehingga, melalui sikap, cara berbicara, dan pendekatan yang subjek lakukan kepada

berbagai golongan masyarakat dapat mendorong umat lain untuk berlaku seperti diri subjek.

Dokumen terkait