• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan menjabarkan hasil penelitian melalui analisis dan pembahasan yang telah dilakukan oleh peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan narasumber sebanyak empat subjek biarawati. Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber sebagai bentuk pengujian keabsahan data dengan melakukan wawancara terstruktur dan mendalam dengan teman terdekat subjek.

Peneliti menggunakan empat subjek untuk melihat bagaimana gambaran motivasi diri setiap subjek pada kaum biarawati berdasarkan delapan tahapan hirarki kebutuhan Abraham Maslow serta hasil observasi.

Dalam bab ini pula, akan dibantu dengan beberapa tabel yang mempermudah analisis data dan merangkum inti permasalahan pada setiap individu.

(2)

Tabel Gambaran umum (data demografis) 4 subjek :

Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Subjek 4

Nama Sr. Francelin Sr. Yashinta Sr. Lusi Sr. Elena

Usia 40 tahun 38 tahun 31 tahun 43 tahun

Suku Flores Flores Flores Jawa

Tinggi Badan 155 cm 155 cm 145 cm 157 cm

Warna Kulit Sawo Matang Kuning

Langsat Cokelat Sawo Matang Jumlah

Saudara

Anak ke-5 dari 7

bersaudara Anak dari ke-10 10 bersaudara

Anak ke-3 dari

7 bersaudara Anak ke-3 dari 7 bersaudara

Pendidikan S1 Pendidikan

Agama Katolik S1 Bahasa dan Sastra Inggris Mahasiswi S1 Komunikasi; Mahasiswi Teologi

Pekerjaan Pengajar Pengajar Sekretaris -

Tempat Wawancara

Gereja Santo

Mikael Biara CIJ Biara CIJ Biara PI Tanggal

Wawancara

26 Mei 2017 ; 2

Juni 2017 3 Juni 2017 ; 18 Juni 2017 3 Juni 2017 ; 18 Juni 2017 1 Juli 2017 ; 7 Juli 2017 Observasi Subjek (Umum) Selama wawancara berlangsung Subjek 1 sangat ekspresif dengan melakukan beberapa gerakan tangan untuk menegaskan sesuatu. Dalam menjawab pertanyaan, subjek 1 selalu melihat mata peneliti. Selama wawancara, subjek 2 menjawab semua pertanyaan yang diajukan tanpa adanya rasa malu ataupun takut. Subjek 2 antusias dalam menjawab setiap pertanyaan yang diberikan. Selama wawancara, intonasi subjek 3 selalu berubah. Jika pertanyaan bersifat pribadi, intonasi subjek langsung melemah. Dan jika menyangkut pada hal umum, intonasi subjek menguat. Selama wawancara, subjek 4 terlihat antusias dalam menjawab setiap pertanyaan. Penekanan suaranya cukup jelas dan menggunakan gerakan tangan sesekali.

(3)

4.1. Subjek 1 (Sr. Francelin)

4.1.1. Data Demografis

Tabel 4.1.1. Data Demografis Subjek 1 Kriteria Identitas Subjek 1 (Sr. Francelin)

Nama Sr. Francelin

Usia 40 tahun

Suku Flores

Tinggi Badan 155 cm Warna Kulit Sawo Matang

Jumlah Saudara Anak ke 5 dari 7 bersaudara Pendidikan S1 Pendidikan Agama Katolik Pekerjaan Pengajar

Tempat Wawancara

Gereja Santo Mikael Tanggal

Wawancara

26Mei 2017 ; 2 Juni 2017

4.1.2. Deskripsi Hasil Observasi 1) Wawancara I

Wawancara I (pertama) dilakukan pada lokasi Gereja Santo Mikael yang terletak di Bekasi. Wawancara berlangsung di sebuah ruang rapat yang biasa digunakan oleh umat dan/atau masyarakat sekitar Gereja Santo Mikael. Ruangan yang digunakan berupa ruangan lepas dengan panjang sekitar 12 meter dan lebar sekitar 4 meter. Ruangan ini juga menggunakan Air-Conditioner (AC) sehingga suhu didalam ruangan tempat berlangsungnya proses wawancara sangat sejuk. Sumber pencahayaan saat wawancara tidak menggunakan lampu pada ruangan tersebut, namun hanya menggunakan cahaya yang masuk dari jendela. Lokasi wawancara cukup jauh dari keramaian sehingga suasana disekitar tempat wawancara sangat tenang dan leluasa untuk digunakan dalam berdiskusi.

(4)

Peneliti tiba di lokasi wawancara lebih awal dari waktu pertemuan dengan responden yang telah ditetapkan yaitu pada pukul 09.30 WIB. Responden tiba di lokasi wawancara pada waktu 10.05 WIB. Responden merupakan seorang wanita dengan tinggi sekitar 155 cm yang memiliki wajah oval seperti bulat telur dan memiliki warna kulit sawo matang. Responden menggunakan jubah suster biara berwarna putih, penutup kepala yang berwarna putih pula, serta menggunakan sepatu sandal berwarna hitam. Peneiti kemudian menyapa dan bersalaman dengan responden berbicara tentang tujuan umum wawancara ini dilakukan, lalu setelah itu, responden mengajak peneliti ke tempat wawancara yang akan digunakan yang merupakan ruang rapat tersebut.

Wawancara dilakukan di meja kayu berwarna putih. Sebelum melakukan wawancara, responden mengatur posisi kursi dan menyalakan penyejuk terlebih dahulu serta membuka tirai yang menutup jendela agar pencahayaan dapat masuk dengan mudah. Responden dan peneliti duduk berhadapan dengan posisi responden membelakangi jendela dan peneliti menghadap jendela.

Selama proses wawancara, responden duduk tegak dan terkadang pada beberapa pertanyaan yang mengarah pada jalan kehidupan pribadinya, badan responden lebih mengarah condong kedepan. Penekanan yang dilakukan responden saat proses wawancara berlangsung yaitu menggunakan gerakan-gerakan tangan serta beberapa pengulangan kata-kata saat menjawab pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti, dijawab dengan baik dan lacar. Dan jika ada yang kurang jelas, responden akan mempertanyakan ulang maksud dari pertanyaan tersebut.

(5)

2) Wawancara II

Pada wawancara kedua dilakukan ditempat yang sama dengan wawancara sebelumnya yaitu tempat pertemuan di Gereja Santo Mikael. Wawancara tersebut dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2017 pada pukul 11.10. Wawancara kedua berlangsung selama 40 menit saja, karena Subjek memliki kesibukan saat itu pada pukul 12.00.

Wawancara yang dilakukan berjalan cukup lancar. Saat itu, Suster Francelin sedang memberikan pelajaran Katekumenat pada seseorang yang ingin masuk ke Katolik. Peneliti yang datang lebih awal yaitu pukul 11.00 perlu menunggu 10 menit terlebih dahulu agar Suster Francelin menyelesaikan bimbingannya. Subjek menggunakan jubah biarawati yang berbeda dari sebelumnya yaitu jubah berwarna abu-abu saat itu, serta menggunakan kalung salib. Sebelum dimulainya wawancara, peneliti membangun rapport dengan menanyakan perihal kabar dan apa yang dilakukan Subjek sebelum wawancara.

Selama wawancara kedua ini, ekspresi yang diberikan subjek terkesan lebih serius tetapi terkadang memberikan kesan hangat seperti senyum dan tertawa di sela-sela wawancara. Suster Francelin lebih singkat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh peneliti karena beliau mengkondisikan pada kesibukannya pada pukul 12.00. Saat diberikan pertanyaan yang bersifat lebih mengarah kepada pribadi, Suster Francelin langsung merubah posisi duduknya menjadi duduk dengan posisi punggung yang tegak.

(6)

4.1.3. Analisis Intra Subjek

Suster Francelin sudah hidup membiara selama 22 tahun lamanya. Dorongan untuk menjadi biarawati pada Suster Francelin dikarenakan ia selalu menyukai apa yang menjadi kegiatan-kegiatan pada biarawati gereja. Dorongan itu juga timbul, sebab sejak kecil Suster Francelin senang berinteraksi dengan para Suster yang tinggal dekat dengan tempat tinggalnya. Subjek juga sudah dibekali oleh pendidikan agama Katolik yang kuat melalui pendidikan formal yang telah ia lalui.

Figur seorang biarawati yang tegas namun selalu ramah terhadap seluruh masyarakat serta tekun dalam berdoa membuat Suster Francelin terdorong ingin menjadi biarawati. Pekerjaan yang biasa dilakukan oleh biarawati seperti berinteraksi dengan masyarakat berbagai golongan, juga merupakan salah satu alasan kuat Suster Francelin ingin menjadi biarawati.

Pada perjalanan sebelum Suster Francelin memutuskan untuk masuk dan hidup sebagai biarawati, Suster Francelin pernah dua kali tidak diijinkan oleh anggota keluarganya. Yang pertama adalah dari pihak Ibu yang tidak mengijinkannya. Hal ini disebabkan karena kekhawatiran pada anaknya bila tidak dapat mengimbangi situasi dan kondisi di dalam biara, karena kehidupan biara yang banyak memiliki kegiatan-kegiatan sosial dan harus terjun ke lapangan. Dan yang kedua adalah dari pihak saudara (Kakak). Kakak dari Suster Francelin tidak mengijinkan dikarenakan ia ragu akan keputusan yang diambil oleh adiknya. Namun, Suster Francelin mencoba untuk mengatakannya kepada kedua belah pihak dan memutuskan untuk menjadi seorang biarawati hingga akhir hayatnya,

(7)

sebab menjadi biarawati adalah cita-cita yang beliau ingin capai dan bekerja apa saja sebagai biarawati. Dan akhirnya, pada tahun 2004, Suster Francelin resmi menjadi seorang biarawati dengan dibawah kongregasinya dengan menerima cincin dalam pentahbisan Kaul Kekalnya.

Berikut akan dijabarkan dan dijelaskan secara detail tentang gambaran pemenuhan hirarki kebutuhan dalam pencapaian motivasi diri pada kehidupan menbiara dari Suster Francelin.

1) Dimensi Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)

Kebutuhan fisiologis pada Suster Francelin terbilang cukup dalam hal pemenuhan yang meliputi makanan, minuman, istirahat yang cukup dan pemenuhan akan kebutuhan asupan gizi untuk tubuh. Dan sebagaimana secara finansial Suster Francelin tetap pada hidup yang menurut tarekat yaitu hidup terpenuhi namun dengan kesederhanaan dan hidup dengan saling berbagi dan memiliki.

“Oh ya terima kasih ...Finansial yaa..? ok .baik..eehm.. kalau saya pribadi dan menurut saya, dan saya juga merasa ini juga berlaku untuk sesama teman Suster yang ada di Kongregasi saya. Secara finansial kalau hidupnnya Suster itu hidup sederhana ..tetapi tercukupi artinya semua kebutuhan kita ,semua kebutuhan kita yaa..baik itu kebutuhan secara pribadi maupun kebutuhan secara bersama dalam satu komunitas itu amat sangat di penuhi ya di perhatikan.” (Francelin, W1, 70)

Pada konten ini pula, dalam menjaga kesehatan saat menjalankan tugasnya sebagai biarawati, Suster Francelin hanya menjaga pola makan, istirahat yang cukup, dan memberikan energi positif pada dirinya agar tidak mudah terkena penyakit.

(8)

“Oh iyaa... Bagaimana caranya supaya saya tetap eksis dalam pelayanan? Tidak sakit.. Puji Tuhan untuk Suster Francelin sampai hari ini sakitnya cuman flu aja biasa-biasa kaya begitu, sakit-sakit yang lain kurang, karena memang secara pribadi, sejak motivasi awal ketika saya menjadi suster, saya tidak mau menjadi orang yang sakit, artinya saya harus sungguh-sungguh hidup memberikan diri kepada orang banyak, maka saya harus menjaga kesehatan ya...menjaga kesehatan itu mudah, selain menjaga pola makan juga menjaga waktu untuk istirahat dan hidup untuk tetap bahagia , bahagia artinya ya..ketika kita menghadapi masalah atau kesulitan atau tantangan apapun itu harus bisa me- managenya supaya kita tidak tenggelam dengan masalah itu.” (Francelin, W1, 80)

Dan pada konten untuk menjalani bermati raga, kebutuhan fisiologis yang juga termasuk akan kebutuhan seksual dan ketertarikan pada lawan jenis. Tetapi, pada Suster Francelin, hal ini merupakan hal peristiwa yang sangat lampau dan hanya bersifat menyukai saat masa remaja. Untuk keinginan seksual atau bahkan memiliki keluarga atau keturunan, Suster Francelin tidak memiliki pemikiran seperti itu, sebab disamping ia adalah seorang biarawati yang tidak dapat berkeluarga, ia juga hanya ingin memberikan bentuk afeksi secara umum kepada anak-anak yang membutuhkan.

“Jujur saya menyukai anak-anak ya. Pastinya saya menyukai anak-anak. Tapi kalau saya menginginkan untuk memiliki anak sendiri, saya tidak pernah berpikir untuk memiliki anak sendiri. Dari darah daging sendiri, karena pertama, itu tidaklah mungkin, yang kedua, karena saya memang ingin memberikan rasa kasih sayang saya kepada anak-anak itu merata begitu. Jadi saya tidak ingin terlalu memanjakan atau menganak-emaskan salah satu anak. Karena saya itu seneng gitu, kalau dikumpulin ama anak-anak, mereka ngajak main, bercanda. Jadi untuk tersirat punya anak atau berkeluarga untuk saya sendiri sih, tidak ya.” (Francelin, W2, 90)

Bagi Suster Francelin pada konten ini, pemenuhan kebutuhan fisiologis yang cukup banyak dibatasi dalam hal bermati raga bukanlah hal yang berat untuk dijalankan. Suster Francelin menjalankan kehidupan tersebut dengan respon yang

(9)

positif dan menerima apa yang ia dapatkan baik dari dalam biara maupun dari orang-orang disekitarnya.

2) Dimensi Kebutuhan Keamanan (Safety Needs)

Pada konten ini, Suster Francelin merupakan individu yang sangat cepat dalam beradaptasi. Subjek mengakui bahwa kemampuan dalam berkomunikasi dengan lingkungan sekitar adalah suatu hal yang menjadi kelebihan yang ia miliki walaupun ia pindah dari Flores ke kota besar seperti Jakarta. Sehingga, bila ia mengalami kesulitan ataupun menghadapi masalah, ia mampu menghadapinya dengan meminta pertolongan dari orang-orang sekitar. Dan pada Suster Francelin, ia menciptakan rasa aman dan nyaman pada lingkungannya dikarenakan atas kelebihannya dalam berkomunikasi dengan sesama, baik pada orang-orang awam maupun pada rekan sesama biarawati.

“... misalnya kalau saya ada kesulitan, ada tantangan baik itu di tempat kerja kalau di tempat kerja pasti saya membutuhkan rekan-rekan guru, para kepala sekolah pasti saya membutuhkan mereka tapi dalam tanda petik orang–orang tertentu aja, kalau di biara juga, kalau saya mengalami kesulitan dalam biara juga saya melakukan konsultasi dengan suster-suster saya yang lebih senior... Yang bisa menangani masalah yang saya hadapi.dan syukurnya bahwa Tuhan itu memberikan eeh..apa ya? bakat kemampuan kepada saya itu bahwa saya itu tipenya orangnya yang tidak terlalu sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain, sehingga ketika saya mempunyai masalah saya mudah untuk membicarakan masalah saya itu ...” (Francelin, W1, 95)

Pada pencapaian rasa aman dan nyaman pada diri Suster Francelin tentu ia perlu menerima dan menjalankan apa yang menjadi tugas perutusan dari Kongregasi. Beliau menceritakan awal mula hingga perjalanannya sampai berkarya di Jakarta dan menyatakan bahwa segala yang ia lakukan merupakan atas dasar perutusan yang diberikan.

(10)

“... Januari 2015 itu saya bekerja di Yayasan Perguruan Santo Belarminus sehingga sampai kenapa jadi suster sampai tiba tiba di sini ini karena perutusan. Hahaha... tetapi bisa tahu itu utusannya jadi begitu..jadi Suster berada disini karena memang di tugaskan oleh pimpinan pusat. Pemimpin general pusat di Flores.” (Francelin W1, 45)

Pada subjek juga tidak pernah mengalami kesulitan yang membuat ia merasakan takut atau trauma dalam suatu permasalahan. Hal ini dikarenakan segala permasalahan yang ia hadapi dapat diselesaikan melalui jalinan komunikasi yang telah ia bangun bersama dengan orang-orang sekitarnya dan yang dapat membantunya untuk keluar dari pada permasalahan subjek sendiri. Menurut pada subjek sendiri, ia adalah seseorang yang mudah memaafkan pada orang lain yang bersalah, sehingga permasalahan tidak menjadi permasalahan besar bagi dirinya.

“Untuk takut, untuk trauma sampai saat ini tidak. Sampai saat ini sih tidak karena memang saya itu tipe pribadinya orang misalnya kalau saya melakukan kesalahan itu kita alami kan karena dari dua belah pihak yaa..Bisa saja saya yang salah bisa saja orang lain yang salah. Nah bagaimana caranya supaya saya tidak punya rasa takut misalnya ada rasa takut atau ada rasa benci, jengkel, marah kaya gitu yaa..saya tipe orang yang mudah untuk memaafkan dan melupakan he eh...” (Francelin, W1, 115)

3) Dimensi Kebutuhan Kasih Sayang (Love Needs/Belonging-ness)

Konten ini mencangkup tentang perhatian dan kasih sayang yang diperoleh dari orang-orang sekitar subjek. Pada kebutuhan dasar ketiga ini, terbagi atas dua hal atau dua sub kategori tema yakni, D-Love (Deficiency-Love) yaitu kebutuhan cinta akan kekurangan karena tidak dapat memiliki serta bagaimana cara memperoleh cinta. Dan B-Love (Being-Love) yaitu kebutuhan cinta yang tidak berniat memiliki dan lebih bersifat memberikan cinta terhadap orang yang dikasihi.

(11)

A. D-Love (Deficiency-Love)

Penggambaran D-Love pada Suster Francelin tidak terlihat dan ia ungkapkan dalam menginginkan seseorang secara fisik atau hal-hal yang merupakan dasar ego manusia. Hal ini disebabkan oleh komitmen yang ia pegang dalam jalan kehidupan biaranya, sehingga tidak ada keinginan selama menjalani masa biaranya untuk tertarik pada lawan jenis.

“...Tapi, jujur, saat saya sudah menjalani kehidupan membiara, saya tidak ada menyukai lawan jenis. Karena, apa ya... Bukannya saya tidak tertarik, tapi memang saya betul-betul ingin memfokuskannya pada diri saya untuk menggapai apa yang memang sudah saya cita-citakan.” (Francelin, W2, 85)

Pada keluarga, subjek cukup tergolong dekat, tetapi pada penggambaran perasaan rindu atau kehilangan secara fisik Suster Francelin jarang dalam merasakan hal tersebut. Hal itu dikarenakan Suster Francelin yang sudah tidak hidup bersama orang tuanya sejak berumur 14 tahun dan saat selesai pembelajaran formal pada tahap Sekolah Menengah Atas (SMA) ia langsung melanjutkan pendidikan dan kehidupannya di biara.

“... Dengan orang lain seperti apa karena memang saya dari kecil sejak umur 14 tahun sejak SMP pindah di Dilli ke Timor Leste kemudian SMA di sana juga kemudian pulang langsung masuk biara sehingga sudah terbiasa hidup di luar untuk terlalu ingat dengan . Kadang orang bilang durhaka tetapi bukan juga soalnya eehh sudah sering di luar yaa...sehingga untuk merasa bahwa saya ko’ merasa rindu sekali itu tidak ada juga.” (Francelin, W1, 155)

Gambaran pada konten D-Love pada Suster Francelin cukup pudar dan tidak terlalu terlihat pada kehidupannya, karena pada Suster Francelin sendiri rasa rindu secara fisik pada orang-orang terdekatnya tidak selalu muncul akibat sudah lama hidup secara mandiri. Sehingga pada konten ini, Suster Francelin tidak menampakkan rasa keinginan yang kuat pada hal atau rasa ingin memiliki.

(12)

B. B-Love

Pada konten ini, peneliti menanyakan pada Suster Francelin bentuk dari menerima dan memberi cinta pada konsep dan sudut pandang biarawati. Suster Francelin menjelaskan bahwa konsep tersebut didapatkan dari sosok almarhum Ayah subjek. Dan subjek percaya bahwa setiap ia memberikan perhatian dan kasih sayang pada masyarakat, pasti segalanya ada hak yang positif dapat kembali kepada dirinya.

“... Lalu ketika dalam perjalanan sebagai orang yang religius yang sudah di bekali dengan berbagai macam pengetahuan tentang keagamaan, tentang hidup sebagai seorang suster lebih paham lagi apa itu arti memberi dan menerima dan benar seperti pengalaman yang pernah saya alami ketika masih bersama dengan orang tua dimana Bapak mengatakan “ketika kita diberi oleh Tuhan jangan lupa kita bersyukur kepada Tuhan dan kita coba untuk memberikan juga kepada Tuhan melalui orang – orang di sekitar kita” eehh..pemahaman itu yang saya pakai dalam kehidupan saya sebagai seorang suster sehingga sampai hari ini untuk mendapatkan kekurangan itu tidak ada... “ (Francelin, W1, 160)

Secara keseluruhan, gambaran kebutuhan tahap ketiga pada Suster Francelin ini, tentunya Suster Francelin sangat memaknai bagaimana memberi perhatian dan kasih sayang pada berbagai golongan masyarakat (B-Love). Namun, tidak ada keinginan memiliki cinta yang berdasarkan pada ego-nya. Sehingga, ia tetap fokus pada karyanya dan tidak pernah tersirat untuk memiliki keluarga (D-Love).

4) Dimensi Kebutuhan Harga Diri (Esteem Needs)

Tema pada konten ini membahas tentang adanya kebutuhan harga diri yang mencangkup pada dua sub tema pula yaitu tentang : penghargaan terhadap diri sendiri (Self-Respect) dan penghargaan dari orang lain (Respect from others).

(13)

A. Self-Respect

Suster Francelin adalah sosok individu yang sangat mandiri, karena ia sudah terbiasa hidup tidak satu atap bersama orang tuanya sejak ia masih duduk di bangku SMP mengikuti kakaknya ke Dilli, Timor-Timur. Sehingga selama dia hidup di biara jika ia sedang mengalami permasalahan yang berat, ia tidak ingin membuka dan membicarakannya dengan keluarganya. Maka, apa yang menjadi kemampuan dalam menyelesaikan masalah yaitu dengan melakukan penyelesaian melalui orang-orang yang tinggal dekat dengannya.

“... Nah kebetulan, tidak kebetulan saya tipe orangnya yang ketika saya menghadapi masalah seperti itu masalah berat..saya tidak mau cerita dengan keluarga saya karena saya takut, tidak mau kalau mereka itu mengkhawatirkan saya, merisaukan saya itu. Saya tidak mau. Jadi saya berbuat seolah – olah hidup saya baik baik saja di biara...”(Francelin, W1, 100)

Penggambaran pada subjek juga ia adalah orang yang aktif pada setiap kegiatan baik di Gereja maupun di tempat kerjanya (sekolah). Kompetensi atau kemampuan yang ia dapat lakukan adalah membimbing dan memimpin. Ia merupakan individu yang memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi dalam suatu keaktifannya pada organisasi.

“Hahaha... kalau, kalau boleh jujur nih, saya orangnya tidak terlalu mampu juga sih, tapi kemampuan yang di berikan oleh Tuhan cukup lah untuk saya, jadi yang namanya kalau kemampuan itu, saya lebih suka untuk misalnya mengarahkan, menuntun, membimbing, memimpin begitu iya..” (Francelin, W1, 195)

B. Respect from others

Dan pada konten ini, Suster Francelin cukup mendapatkan banyak perhatian pada orang-orang sekitarnya karena memiliki kemampuan dalam memimpin organisasi. Ia menyatakan bahwa, walaupun ia mampu dalam

(14)

memimpin, tetapi hal itu hanya sebatas dari kewajiban yang ia lakukan sebagai seorang biarawati. Beliau juga menceritakan tentang apa yang menjadi tanggapan orang-orang sekitarnya, khususnya pada orang-orang yang tidak puas akan gaya kepemimpinan yang ia lakukan pada organisasi.

“... Memang sih ada yang merasa puas..banyak-banyak yang merasa puas,tetapi yaa..tetapi selalu saja ada orang-orang tertentu yang tidak merasa puas yaa..karena mereka tidak merasa puas karena memang ehm.. Yang mereka inginkan itu tidak terwujud tidak terpenuhi...dan saya tipe orang yang misalnya, orang dekat denga saya yaa..dan kamu dengan saya ada maunya jangan harap ke saya.” (Francelin, W1, 215)

Pada kebutuhan ini, subjek menunjukkan individu yang cukup dominan pada organisasi atau kelompok. Maka, setiap apa yang dikatakan orang-orang sekitarnya pada gaya kepemimpinan yang ia anut secara tegas, ia merasa tidak menyukainya dan selalu mengambil tindakan tegas pada kesalahan. Hal inilah yang membuat Suster Francelin memiliki pihak yang tidak menyukai dan pihak yang mendukungnya.

5) Dimensi Kebutuhan Mengetahui dan Memahami/ Kebutuhan Kognitif (Need to Know and Understand/Cognitive Needs)

Dalam pembahasan ini, Suster Francelin sudah menyelesaikan pendidikan formalnya yaitu Pendidikan Agama Katolik Strata satu. Pembelajaran yang ia jalani hanya berupa pengalaman-pengalaman kerja yang ia sedang laksanakan dan mengajar di sekolah tersebut sebagai Guru. Maka, pada Suster Francelin pengalaman-pengalaman yang ia telah dapat selama melaksanakan tugas penggilannya seperti bertemu dengan orang-orang yang menjadi panutan,

(15)

merupakan salah satu sumber ia belajar dan mempraktekannya dalam kehidupannya.

“... Sebelumnya waktu di Malang saya belajar banyak dari Pastor, Pastor itu chinese..Romo itu yang membimbing saya,dia itu orangnya sangat bijaksana,sangat adil dan sangat perhatian dari orang-orang kecil he eh..mungkin sekolah Kolesius Malang tau? Sekolah itu sekolah yang cukup terkenal di Jawa timur dengan mutu yang sangat bagus, dan bagaimana saya melihat Romo itu memimpin yaa..saya belajar dari dia itu bagaimana memimpin orang-orang itu, bagaimana kita mengalami musibah atau tantangan atau kesulitan dengan orang-orang rekan sekerja kita, bagaimana cara kita menghadapi.saya banyak belajar dari orang-orang itu dan memang orang itu mengatakan kalau benar bilang benar kalau salah bilang salah, kalo kita benar kita pertahankan kebenaran kita,tapi kalau kita salah kita tidak boleh takut untuk meminta maaf.” (Francelin, W1, 220)

Pada Suster Francelin pendidikan formal hanyalah sebagai bentuk kewajiban yang diberikan oleh pimpinan semata. Ia tidak menunjukkan keinginan untuk mencapai pembelajaran yang lebih tinggi tingkatannya. Disebabkan segala alur hidup dan rencana yang akan ia lakukan hanya berdasarkan melalui campur tangan pimpinan kongregasi.

“Oke, karena saya sebagai Suster yang menghayati Kaul Ketaatan. Jadi ibaratnya, saya hanya melaksanakan tugas yang diberikan oleh Tuhan begitu. Tugas itu diberikan melalui pimpinan kami, pimpinan kongregasi.Kalau saya diberikan tugas untuk melanjutkan studi saya lagi. Saya akan mencoba menerima dan pastinya berjuang ya. Berjuang untuk menjalaninya. Berjuang apa yang diberikan oleh pimpinan.” (Francelin, W2, 15)

Ia pun juga mengatakan bahwa dalam mengembangkan pembelajaran formal pada tahap yang selanjutnya bukan menjadi prioritas utama baginya, sebab ia lebih menyukai bekerja dan menerapkan segala pengalaman pada hidup sehari-hari daripada mengenyam pendidikan yang jauh lebih tinggi.

“Hahaha, kalau saya boleh jujur ya dek. Saya lebih nyaman itu sekarang. Saya orang yang memang suka. Suka sekali dengan pekerjaan. Jadi dengan saya ambil

(16)

bagian dan bekerja di sekolah-sekolah gini ini justru saya lebih. Apa ya. Suka gitu. Karena saya merasa, “Oh, inilah yang namanya kita bekerja dan disamping itu kita melakukan pelayanan sekaligus”. Karena saya rasa, kalau inilah yang menjadi kemampuan saya. dan inilah yang saya suka. Bisa bertemu dengan anak-anak, mengajar, melakukan pelayanan. Ya, inilah yang betul-betul pelayanan gitu.” (Francelin, W2, 20)

6) Dimensi Kebutuhan Estetika (Aesthetic Needs)

Pada kategori tema kebutuhan estetika ini ada dua hal yang merupakan nilai didalamnya, yaitu pemahaman nilai estetika serta kesenian. Suster Francelin memiliki pandangan nilai estetika pada lingkungannya sudah muncul karena kesadaran akan diri setiap individu di lingkungan tempat tinggalnya, yang merupakan rekan-rekan di biara. Dan menurutnya mereka sangat menyukai dan menjaga keindahan dan kerapihan lingkungannya.

“Mmm. Estetika ya. Nilai estetika kalau sekitar tempat tinggal saya, menurut saya sudah ada. Ada dalam arti kata, di lingkungan saya ini, disini tentunya, orang-orangnya sudah mengerti tentang kesadaran diri pada lingkungannya. Jadi kalau ada yang kurang mereka benahi, atau tambahkan apa yang perlu dibenahi. Terus, kalau disini, para Suster juga mereka sudah bisa memperjuangkan gitu nilai estetika pada lingkungannya. Yang otomatis, pasti para Suster menjaga lingkungan tempat tinggal mereka juga. Jadi kita saling, saling apa ya. Saling membenah, saling menjaga begitu.” (Francelin, W2, 40)

Suster Franelin juga adalah salah satu individu yang sangat menyukai kesenian. Walaupun ia tidak memiliki bakat dalam memainkan alat musik, namun ia menunjukkan kecintaannya sejak ia masih bersekolah di Timor.

“... Apalagi saya kan cukup berbakat dalam bernyanyi, saya pernah mengatakan dalam hati saat melihat di kota itu peluang kerjanya banyak bisa jadi apa saja. Suara saya ya... walaupun jelek, tapi masih bisa lah. saya ingin sekali kalau suatu waktu nanti saya bisa jadi penyanyi, pernah sempat waktu itu. Tapi waktu SMP kelas 3 kebetulan di sekolah kita itu ada band. Jadi saya ikut dalam grup band itu. Kalau ada lomba-lomba juga saya ikut...” (Francelin, W1, 40)

(17)

Kebutuhan ini muncul setelah sebagian besar setiap konten kebutuhan terpenihi. Pada dimensi kebutuhan meta ini terdiri dari potensi-potensi yang diciptakan melalui kreatifitas pemikiran maupun karya yang dibuat oleh individu sendiri, Suster Francelin selain aktif pada organisasi, ia juga menyukai kreatifitas seperti pekerjaan tangan. Terkadang hasil pada pekerjaan tangan ini ia berikan kepada anak-anak OMK (OrangMuda Katolik) untuk membantunya dalam penggalangan dana.

“Ada hahaha...selain rosario sih, iya ada. Nah seperti ini, suster bikin sendiri....terus skill yang lain saya suka juga ...untuk apa...bukan seni juga tapi artinya saya juga bisa merangkai bunga atau apa begitu bisa juga. Kalau di desa cukup laku kalau di kota engga, di kota kan sainganya banyak itu kalau di desa kan orang tidak ada yaaaa..mau ngga mau harus kita buat.” (Francelin, W1, 200) Pada subjek harkat kemanusiaan dalam mencapai tujuan digambarkan melalui penggambaran akan perjalanan dan pengalaman visi dan misi dalam hidup membiara. Penggambaran yang ia berikan sangat umum dalam konteks religiusitas yang ia laksanakan dalam hidupnya.

“Kalau bagi saya sih, visi adalah bisa bersatu dan selalu berjalan dengan Tuhan Yesus seumur hidup sampai saya akhirnya dipanggil nanti. Dan sebagaimana misinya, mm...Saya ingin mengikuti Tuhan Yesus dan melaksanakan kehendak yang Ia berikan dalam kehidupan saya ya. Melalui tugas-tugas pelayanan yang diberikan oleh kongregasi. Dan saya menjalankannya tanpa ada berat hati, ikhlas, dan pastinya pasrah seratus persen hidup percaya kepada Tuhan.” (Francelin, W2, 60)

Dalam menghadapi ketidak-puasan dalam kehidupannya, subjek melakukan introspeksi diri melalui keadaan situasi maupun kondisi yang telah terjadi. Hal ini ia katakan jika ia berada dalam kondisi pada pekerjaannya di sekolah ataupun didalam memimpin suatu kelompok organisasi.

(18)

“Rasa tidak puas ya. Pernah sih, pernah. Apalagi saat-saat kerja di sekolah seperti ini yang dimana saya harus memiliki target dalam pekerjaan saya. jadi terkadang kalau saya merasa ada yang kurang atau ada yang belum mencapai hasil yang saya mau, saya itu... gimana ya, yah pasti ada rasa kecewa ya dalam hati. Hahaha, apalagi kalau dari hasil tidak memenuhi apa yang saya mau, otomatis apa yang menjadi pencapaian target untuk yang lain-lain, kadang ada aja yang tidak sesuai gitu. Jadi, begitulah. Tapi kalau, untuk menghadapinya, saya pribadi berusaha untuk... apa... menyadari dulu kelemahan saya, kekurangan saya.” (Francelin, W2, 75)

Pada dimensi aktualisasi diri yang dihadapi oleh Suster Francelin, ia berkembang dan terdorong dari pengalaman-pengalaman hidup serta dalam pekerjaan yang sedang ia laksanakan di sekolah tersebut. Bagi subjek hal ini yang menjadi tolak ukur perkembangannya sebagai biarawati yang berkarya pada masyarakat luas.

8) Dimensi Transendensi Diri (Self-Transendence)

Konten transendensi diri merupakan bagian dimana subjek diminta untuk mengetahui tentang perbedaan serta jembatan antara spiritualitasnya dengan kemanusiaannya. Pada pemahaman akan perasaan manusiawinya dalam berkarya sebagai rohaniwan, Suster Francelin hanya memberikan gambaran dasar saja. Ia tidak menceritakan apa yang menjadi titik berat untuk menjadi seorang biarawati, namun ia hanya menjelaskan perasaan manusiawi sepeti layaknya macam-macam emosi orang-orang awam miliki.

“Perasaan saya ya... Yah, selayaknya manusia biasa. Hahaha... Sebenarnya sebagai biarawati itu gaya hidupnya saja yang berbeda dengan orang awam ya. Tapi selebihnya itu perasaan manusia biasa.” (Francelin, W2, 95)

Pandangan spiritualitas Suster Francelin adalah dengan berpasrah dan menjalankan apa yang sudah diberikan padanya. Maka mengenyam karya yang diberikan dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab merupakan salah

(19)

satu kunci spiritualitas yang Suster Francelin praktekkan pada kehidupan membiaranya. Hal ini juga menjadi nilai spiritualitas Suster Francelin dalam mendekatkan diri pada Tuhan.

“Tuhan Yesus. Itu sudah paten dan menjadi acuan saya dalam berjalan. Jadi pencapaian hidup saya itu tergantung pada kehendak-Nya sudah. Hahaha. Jadi tidak ada alasan atau tujuan hidup lain karena mendekatkan diri kepada Tuhan, menjadi salah satu alat-Nya, itu sudah menjadi jalan hidup saya. jadi “pasrah”. Berpasrah itu kata yang bisa menggambarkan hidup saya sekarang dan seterusnya. Perjuangan memang ada, tapi lebih banyak berpasrah pada hidup ini yang menurut saya adalah goal supaya saya bisa lebih dekat dengan Tuhan.”(Francelin, W2, 105)

Sebagai seorang biarawati tentu harus menjadi seorang yang dapat memberikan panutan, inspirasi serta motivator bagi orang-orang sekitar. Suster Francelin mendorong orang melakukan hal-hal baik melalui caranya dengan terjun ke lapangan dan menolong orang-orang yang membutuhkan. Hal ini diharapkan oleh Suster Francelin agar orang-orang banyak dapat mencontoh apa yang ia lakukan pada sesama.

“Kalau kita biarawati itu cukup untuk terjun langsung ke lapangan. Tidak memandang golongan, suku, agama, kepercayaan, atau apapun itu saya harus bisa berbaur dan pastinya dorongan mau menolong mereka. Kalangan masyarakat dari situ kan pasti bisa menilai, kalau kami bisa datang kepada mereka, mau membantu mereka, mendoakan mereka. Jadi menurut saya dari kita terjun ke lapangan itu, masyarakat awam sendiri pasti bisa terinspirasi dengan sendirinya. Memotivasi mereka untuk mengasihi sesama. Saya bukan menilai diri saya sebagai tempat inspirasi atau motivator ya. Hahaha. Tapi mungkin dari kita melakukan itu, pasti ada hasil yang dimana orang-orang dapat petik, dapat ambil untuk bisa melakukan hal yang sama untuk orang yang membutuhkan bantuan, atau lebih baik lagi dari kita-kita para Suster-Suster ini. “ (Francelin, W2, 115)

Dan pada konten membangun keintiman pada berbagai golongan masyarakat, Suster Francelin lebih memandang anak-anak dalam membinanya sebagai masa depan bangsa dan negara. Ia berharap, melalui pendidikan yang ia

(20)

berikan terutama bimbingan untuk bersikap dan berkarya, dapat mendorong anak-anak pula dalam melakukan hal-hal yang baik di masa depan nantinya.

“Mendidik dan membimbing anak-anak ke arah yang lebih baik lagi. Karena saya juga sekarang bekerja di sekolah jadi apapun yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya adalah mendidik mereka, supaya mereka tumbuh-berkembang untuk menjadi cita-cita dan masa depan untuk mereka sendiri maupun orang tuanya, dan juga orang-orang sekitarnya.” (Francelin, W2, 120)

Dalam dimensi ini, subjek menunjukkan bahwa kehidupan spiritualitas dapat diimbangi dengan pelayanannya yang merupakan pekerjaan subjek di sekolah. Subjek juga membuat pekerjaan yang ia dalami dan tekuni itu menjadi suatu bentuk kegiatan religiusitasnya sehingga dari apa yang ia dapat melalui pengalaman kehidupannya, ia praktekkan pada kegiatan yang diutus dari tarekatnya.

4.2. Subjek 2 (Sr. Yashinta) 4.2.1. Data Demografis

Tabel 4.2.1. Data Demografis Subjek 2

Kriteria Identitas Subjek 2

Nama Sr. Yashinta

Usia 38 tahun

Suku Flores

Tinggi Badan 155 cm

Warna Kulit Kuning Langsat

Jumlah Saudara Anak ke-10 dari 10 bersaudara Pendidikan S1 Bahasa dan Sastra Inggris Pekerjaan Pengajar Tempat Wawancara Biara CIJ Tanggal Wawancara 3 Juni 2017 ; 18 Juni 2017

(21)

4.2.2. Deskripsi Hasil Observasi 1) Wawancara I

Wawancara I (pertama) yang dilakukan bersama dengan subjek kedua bertempat di lokasi tempat tinggal subjek yaitu biara CIJ. Wawancara berlangsung di ruang tamu biara tersebut. Ruangan yang digunakan merupakan ruangan dengan panjang sekitar 7 meter dan lebar sekitar 5 meter. Ruangan ini hanya menggunakan kipas angin dan atap pada ruangan tersebut cukup pendek sehingga kondisi pada ruangan tersebut cukup panas dan pengap, sedangkan udara diperoleh dari pintu ruang tamu yang dibuka dengan angin dari kipas angin. Sumber pencahayaan saat wawancara tmenggunakan lampu pada ruangan tersebut, mengingat ruangan tersebut cukup gelap bila tidak memakai energi seperti lampu. Lokasi wawancara berada disekitar rumah-rumah penduduk namun suasana disekitar tempat wawancara cukup tenang.

Peneliti tiba di lokasi wawancara tepat dan sesuai dari waktu pertemuan dengan responden yang telah ditetapkan yaitu pada pukul 10.10 WIB. Responden kedua adalah Suster Yashinta. Saat tiba di lokasi Suster Yashinta masih berada di dalam kamar dan akhirnya muncul sekitar 5 menit setelah dipanggil oleh temannya. Suster Yashinta merupakan seorang wanita dengan tinggi badan sekitar 155 cm yang memiliki wajah oval dan memiliki warna kulit kuning langsat. Suster Yashinta menggunakan jubah suster biara berwarna putih, penutup kepala yang berwarna putih, menggunakan kalung salib, serta menggunakan sandal jepit berwarna biru sebagai alas kaki didalam tempat tinggalnya. Peneiti kemudian menyapa dan bersalaman dengan subjek, lalu setelah itu, peneliti

(22)

memulai wawancaranya setelah menjelaskan tujuan wawancara dengan memberikan lembar persetujuan dalam melakukan wawancara

Wawancara dilakukan di sofa ruang tamu dengan meja kaca yang cukup pendek. Dan posisi tempat duduk yang berhadap-hadapan dengan responden yang membelakangi jalan lorong untuk menuju ke ruang makan dan menghadap ke pintu ruang tamu dan peneliti yang menghadap ke jalan lorong untuk menuju ruang makan dan membelakangi pintu ruang tamu.

Selama proses wawancara, Suster Yashinta duduk santai dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan terkadang pada beberapa pertanyaan yang menekankan pada arah hidupnya menjadi biarawati, badan subjek lebih mengarah condong kedepan. Penekanan yang dilakukan Suster Yashinta saat proses wawancara berlangsung yaitu dengan menggunakan gerakan-gerakan tangan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti, dijawab dengan baik dan lancar. Dan jika ada yang kurang jelas, subjek akan mempertanyakan ulang maksud dari pertanyaan tersebut. Subjek juga menjawab semua pertanyaan yang diajukan secara singkat, padat, dan sesuai apa yang ditanyakan

Tidak ada hal yang signifikan yang menghambat jalannya wawancara. Namun, karena bertempat di ruang tamu terkadang masih terdengar orang lain lalu-lalang di biara tersebut dan adanya orang yang sedang berbicara, sehingga diperlukan konsentrasi yang cukup dalam menangkap apa yang disampaikan oleh subjek.

(23)

Wawancara kedua dilakukan ditempat dan lokasi yang sama dengan wawancara sebelumnya yaitu ruang tamu pada biara CIJ. Wawancara tersebut dilaksanakan pada tanggal 18 Juni 2017 dan dilakukan pada pukul 11.00. Wawancara kedua berlangsung selama 40 menit karena Suster Yashinta tengah mengerjakan tugas yang diberikan dari kursus.

Pada pertemuan kedua, subjek mengenakan jubah yang sama yaitu jubah Suster berwarna putih, memakai penutup kepala Suster yang berwarna putih pula, serta kalung salib. Wawancara juga dimulai pada pukul 11.10, dimana peneliti membangun rapport terlebih dahulu terhadap subjek dengan menanyakan beberapa perihal seperti kabar dan kondisi subjek.

Selama wawancara, Suster Yashinta menjawab dengan cara seperti sebelumnya yaitu singkat, padat, dan sesuai apa yang ditanyakan oleh peneliti. Saat proses wawancara berlangsung, sesekali Suster Yashinta melihat jam dinding yang terdapat di ruang tamu tersebut. Wawancara kedua pun berakhir tepat pada pukul 11.50 WIB.

4.2.3.Analisis Intra Subjek

Pada gambaran motivasi dasar dan awal keinginan Suster Yashinta menginginkan untuk masuk dan hidup membiara, karena adanya ketertarikannya serta cita-cita yang ia impikan dan harapkan dari sejak dini. Dorongan itu timbul bukan hanya dari dirinya melainkan peranan dari lingkungan tempat tinggalnya yang dibesarkan dan dididik dengan agama Katolik yang sangat kental. Suster Yashinta juga merupakan individu yang sudah sangat aktif saat masih mengemban

(24)

pembelajaran di sekolah dalam aktifitas serta kegiatan-kegiatan yang terdapat di gereja.

Namun saat dirinya memutuskan untuk memilih jalannya sebagai biarawati, hal tersebut dihalangi dan tidak diperbolehkan oleh Ayah dari Suster Yashinta. Hal itu dikarenakan, Ayah subjek menuntut dan menginginkan Suster Yashinta untuk menikah dan berkeluarga serta memiliki keturunan pada keluarganya. Alasan yang dikemukakan oleh Ayah Suster Yashinta, karena kepercayaan setempat bila memiliki anak dengan jumlah yang banyak, maka kesuksesan dan penghasilan pada keluarga dapat banyak pula. Tetapi, hal itu dapat dilaluinya karena keinginan subjek untuk hidup sebagai biarawati.

Hal lain yang mendorong Suster Yashinta untuk menjadi biarawati adalah karena ia tidak ada keinginan untuk menikah yang disebabkan adanya trauma ditinggalkan oleh sanak saudaranya yang meninggal akibat melahirkan. Hal inilah yang membuat Suster Yashinta makin mantap dalam memilih jalannya sebagai biarawati gereja.

Berikut akan dijabarkan tentang pemenuhan kebutuhan-kebutuhan Suster Yashinta menurut Abraham Maslow.

1. Dimensi Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)

Pada konten ini, pemenuhan akan kebutuhan dasar meliputi atas : Pemenuhan asupan gizi (makan dan minum), pemenuhan kebutuhan kesehatan fisik, dan kebutuhan hasrat seks pada subjek. Pertama yaitu, pemenuhan asupan gizi pada diri subjek terbilang sangat terpenuhi karena hal ini sudah disediakan didalam biara tesebut yang sesuai akan kebutuhan jasmani.

(25)

“... Sistem sentralisasi gitu. Jadi untuk semua suster memiliki uang saku yang sama gitu. Lalu makan minum yang sudah di standarkan, sehat jasmani gitu. Nah..nah..itu aturan sudah di bicarakan dalam tingkat kongregasi. Jadi tidak ada yang namanya suster ini dia berkelebihan gitu, sehingga suster makan dari makanan yang sama, sehat makanan yang sama gitu. Jadi semua sudah dia atur, sehingga kita tidak berkelebihan...” (Yashinta, W1, 80)

Kedua adalah kebutuhan kesehatan fisik pada subjek. Suster Yashinta tidak memiliki kegiatan yang spesifik dalam menjaga kesehatan badannya. Menurut Suster Yashinta, dengan melaksanakan apa yang menjadi aktifitas dan jadwal yang telah diberikan dan ditetapkan oleh biara.

“... Tadi seperti yang saya bilang, orang biara itu sangat beruntung, kenapa saya bilang begitu? Karena hidupnya sudah teratur. Jam berapa dia harus rekreasi, jam berapa dia harus makan, jam berapa dia harus tidur, jam berapa dia harus istirahat, jam berapa dia harus bangun, jam berapa dia harus olahraga, jadi semua sudah di atur.” (Yashinta, W1, 85)

Menurut Suster Yashinta pula hal-hal tersebut yang dapat membantunya dalam menjaga kesehatan tubuhnya baik secara jasmani maupun rohani.

“Suster kerja, sapu, ngepel, jalan, lari gitu..jadi itu yang membuat dia bisa sehat gitu. Jadi suster bisa mengerjakan semua sendiri tidak harus pake pembantu atau karyawanya yang mengerjakan gitu. Tiap kali suster bisa kerja , suster di beri tugas .oo..satu minggu ini suster ini ngepel gitu, satu minggu ini suster bersihkan ini gitu, itu sudah di atur, sudah ada pembagian jadwal dalam komite, jadi kita sudah ,,sudah tahu gitu dan kerja kecil-kecil gitu arrtinya kita bisa olah raga atau dia jalan gitu. Bentuk olah raga supaya bagaimana keseimbangan antara rohani dan jasmani di jaga begitu” (Yashinta, W1, 90)

Dan pada perihal ketiga yaitu hasrat seks. Suster Yashinta tidak memiliki keinginan untuk memiliki keluarga. Ini disebabkan karena Suster Yashinta mengalami peristiwa traumatis yang membuat ia harus kehilangan anggota keluarganya akibat saat melakukan persalinan.

“... Cita-cita saya itu tumbuh memang sejak kecil gitu..memang sejak kecil saya ingin mau masuk biara tapi saya dekat dengan seorang kakak saya kakak

(26)

perempuan ..nah waktu dia menikah..waktu dia hamil lalu melahirkan, pada saat melahirkan itu anaknya selamat dan dia meninggal, itulah menjadi trauma untuk saya, karena kakak saya sangat dekat dengan saya, lalu saya berpikir..ah ternyata menikah itu harus mempertaruhkan nyawa begitu,saya berpikir mendingan diri saya, saya persembahkan untuk Tuhan begitu.” (Yashinta, W1, 30)

Kebutuhan fisiologis pada Suster Yashinta pada pemenuhan kebutuhan yang bersifat pemenuhan dasar pada tubuh seperti makan dan minum sangat terpenuhi walaupun tergolong sederhana. Namun dari kesederhanaan itu, yang membuat Suster Yashinta memiliki fisik yang sehat dan bugar. Lalu, pada pemenuhan kebutuhan secara fisiologis dalam hal seksualitas, Suster Yashinta tidak pernah memikirkannya, karena hal ini merupakan suatu hal yang bukan ia impikan. Disamping itu juga terdapat masa lalu yang dapat mempengaruhi keinginannya dalam menginginkan hasrat seks sehingga pemenuhan tersebut terhenti dan tidak ada.

2. Dimensi Kebutuhan Keamanan (Safety Needs)

Gamabaran pemenuhan kebutuhan kedua yaitu keamanan pada Suster Yashinta terdiri atas : penggambaran rasa aman dan nyaman di lingkungan subjek ; pemahaman pada batasan-batasan (peraturan) yang ada ; serta perasaan bebas dari rasa takut dan cemas.

Menurut Suster Yashinta rasa aman dan nyaman ia ciptakan melalui komunikasi dan sikap rendah hati kepada sesama. Suster Yashinta yang merupakan pindahan dari Flores mengungkapkan bahwa melalui sikap rendah hati dan berkomunikasi dengan baik itulah yang membuat subjek merasa diterima oleh

(27)

masyarakat awam, umat, maupun rekan-rekan di dalam biara dan mampu beradaptasi dengan cepat dengan lingkungan yang ia tinggali saat ini.

“Ya..di rumah kita kan, bisa mau makan jam berapa aja, ya biasanya kita kalau mau makan ambil saja makan gitu, terus mau ini ambil saja tanpa harus minta ijin, kan karena tahu bahwa ini memang punya kita gitu,kalau di biara tidak, kita makan pada jam makan gitu,terus kalau kita mau sesuatu kita harus minta, belajar untuk jadi rendah hati. Misalnya saya mau makan..mau minta beli sepatu gitu kita harus ngomong ke suster ekonom,”suster sepatu saya sudah putus, bisakah saya meminta uang untuk membeli sepatu?” jadi semua di ajar untuk jadi rendah hati, tidak hanya ambil saja.” (Yashinta, W1, 125)

Selanjutnya, sebagaimana penggambaran pemahaman Suster Yashinta terhadap peraturan. Ia menyatakan bahwa ia menjalani hidup sebagai biarawati dengan aturan-aturan yang diminta oleh tarekatnya. Perihal ini tentu sudah menjadi acuan pada hidup sebagai biarawati.

“Ternyata kita bekerja seperti orang diluar juga. Bekerja di kantor, di sekolah ada yang di kebun, tergantung dengan profesi masing –masing begitu. Tetapi begitu jam dua belas setengah dua belas berhenti. Jam dua belas ibadat bersama sampai dengan setengah satu, habis itu makan, makan tidur siang begitu, sore bangun berdoa lagi, setelah itu kerja jam enam lagi berdoa lagi. Begitu, setelah itu eh..kerja lagi atau rekreasi lalu berdoa untuk tidur malam” (Yashinta, W1, 65)

Sebagai biarawati tentu subjek perlu bebas dari rasa takut dan cemas. Suster Yashinta merupakan seseorang yang cukup berani dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya secara pesat. Maka, rasa takut dan cemas tidak pernah ia rasakan saat tinggal pada biara tersebut.

“... Tidak sih, biara itu kan lingkungan besar terus kita kan orang banyak,juga kan terus ada satpam di depan, jadi kan tidak ada perasaan insecure, karena saya merasa bahwa ketika kita berdoa kita percaya Tuhan melindungi kita, ngapain takut gitu.” (Yashinta, W1, 135)

(28)

A. D-Love

Suster Yashinta merupakan pribadi yang tidak ada keinginan untuk jatuh cinta, menyukai atau bahkan memiliki seseorang. Dasar alasan dari pada itu, ia berkomitmen untuk hidup menjadi seorang biarawati serta alasan awal karena tidak ingin berkeluarga. Hal ini, subjek kemukakan jika ia mendapatkan perhatian dan pernyataan cinta dari lawan jenis.

“Orang jatuh cinta pada suster, mereka mencintai, mereka terbuka suka dengan suster, ”Saya jatuh cinta dengan suster” gitu, yaa..kita terima kasih karena Tuhan hadir dalam diri orang itu, untuk menyatakan cintanya, tetapi saya tahu bahwa saya punya cinta, yang sudah saya persembahkan khusus kepada Tuhan gitu. Jadi saya mengasihi dia dengan cinta yang bebas gitu, saya tidak mengikat dia, ketika dia mengatakan”saya mencintaimu” atau saya jatuh cinta kepada orang itu, saya tidak bisa mengikat dia untuk menjadi milik saya.” (Yashinta, W1, 185)

B. B-Love

Konten B-Love yang ditunjukkan pada Suster Yashinta adalah sesuai dengan bentuk kasih sayang yang diajarkan pada tarekatnya, yang biasa disebut dengan cinta agape. Cinta agape sendiri merupakan yang berasal dari istilah Yunani yang berarti cinta yang tidak mementingkan diri sendiri, atau cinta tanpa batas dan syarat. Bentuk cinta agape ini sangat identik dengan ajaran yang diberikan oleh para biarawati termasuk pada subjek sendiri.

“Pada dasarnya cinta yang..yang, kami apa ya? kami geluti, cinta yang kami pahami, cinta yang kami hidupi adalah cinta agape tahukan cinta agape itu apa? Memberi tidak untuk menerima gitu, jadi kita tidak bisa mencintai orang yang sama terus, lalu orang itu. Akhirnya mengikat diri pada saya, tapi saya mengasihi dia, saya mengasihi orang ini dengan cinta yang sama gitu. Saya tidak mengikat orang itu orang itu supaya orang itu hanya mencintai saya, seperti kalau misalnya, di luar kan kalau saya mencintai laki_laki itu lalu pasti dia cinta saya, terus saya mengikat diri padanya dan dia itu mengikat diri pada saya. Saya

(29)

sebagai orang biara saya tidak mencintai seperti itu, saya mengasihi semua orang dengan cinta yang sama, saya beri perhatian pada keluarga ini, saya beri perhatian pada anak ini, saya beri perhatian pada gadis ini, saya beri perhatian kepada orang ini, tetangga ini, tetangga itu dengan perhatian yang sama begitu, jadi saya tidak bisa mengikat orang dengan cinta pribadi. saya Mengasihi dengan yang Tuhan Yesus ajarkan. (Yashinta, W1, 180)

Pada gambaran kebutuhan kasih sayang pada Suster Yashinta secara keseluruhan. Pada konten D-Love, Suster Yashinta sama sekali tidak menunjukkannya kepada lawan jenis sekalipun saat Suster Yashinta disukai oleh orang tersebut. Namun pada B-Love, Suster Yashinta sendiri menerapkannya dalam bentuk cinta agape yang memang sudah diajarkan di tarekat tersebut

4. Dimensi Kebutuhan Harga Diri (Esteem Needs) A. Penghargaan terhadap diri sendiri (Self-Respect)

Suster Yashinta adalah salah satu individu yang sangat menyukai untuk terjun di setiap organisasi dan kegiatan-kegiatan sosial. Namun hal ini hanya ia karyakan saat masih di Flores, karena di Jakarta ia hanya melaksanakan kursus untuk berkarya dan bertugas di Jerman.

“Aktif, kita pergi doa rosario terus saya emm..sebelum disini sih..karena saya kan di sini saya kursus gitu tapi sebelumnya kan saya di Flores, saya aktif sekali. Jadi di Paroki, di Gereja terus di kemasyarakatan gitu. Emm..karena saya di sekolah, otomatis kan em... Semua kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pemerintahan juga kita ikut. Seperti kegiatan PGRI pelatihan-pelatihan yang diadakan Pemerintah gitu, kita kan ikut.” (Yashinta, W1, 200)

Dalam mengasah kompetensi pada dirinya, Suster Yashinta pernah mengikuti beberapa kali kompetisi atau perlombaan yang diadakan di Universitas saat ia kuliah. Suster Yashinta merupakan pribadi yang suka mengeksplorasi dan mencoba segala hal. Hal tersebut ia kemukakan dari percakapannya tentang

(30)

kompetisi yang selalu ia ikuti saat masih kuliah dan ia praktekan pada anak-anak didiknya yang sekarang.

“Ehm, ya studi sih waktu kita selalu ikut perlombaan, eh..kan diadakan oleh universitas, em terus di tingkat universitas itu di dalam itu ada program studi kan dan program studi itu juga ada jurusanya gitu. Jurusannya itu lalu kita per semester biasanya diadakan perlombaan,seperti itu, tetapi ketika saya menjadi guru saya memberi lomba untuk siswa-siswi.” (Yashinta, W2, 5)

B. Penghargaan dari Orang Lain (Respect from Others)

Dalam suatu organisasi ataupun kelompok Suster Yashinta selalu dipercayakan serta dianggap pemimpin oleh para anggota kelompoknya. Kelompok tersebut adalah kelompok para pendidik dan ia yang bertugas untuk bertanggung jawab dalam setiap tugas dari para pendidik.

“Oh iya, bukan saya berpikir, tapi orang yang berpikir untuk saya menjadi pemimpin.” (Yashinta, W2, 30)

“Emm...kami ada suatu kelompok, kelompok yang itu guru mata pelajaran gitu, kelompok guru mata pelajaran, yaa..mereka pilih saya. Untuk ketua gitu, sehingga saya yang menghandle, kapan kita bertemu gitu? Perubahan apa yang kita buat gitu?supaya kemampuan bahasa inggris semakin tingkat,apa yang harus kita buat sehingga anak-anak yang menjadi sasaran kita didik itu semakin mencintai mata pelajaran yang kita geluti gitu.” (Yashinta, W2, 35)

Pada kebutuhan keempat ini, Suster Yashinta menunjukkan akan kepercayaan dirinya dan mengasah kompetensi melalui kompetisi-kompetisi yang diikutinya. Pencapaiannya melalui prestasi dari kompetisi tersebut yang membuat rasa kepercayaan diri dan dominan didalam organisasinya sanga tinggi, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh para anggotanya untuk menjadikan Suster Yashinta sebagai pemimpin.

(31)

5. Dimensi Kebutuhan Mengetahui dan Memahami/ Kebutuhan Kognitif (Need to Know and Understand/Cognitive Needs)

Kebutuhan ini terpenuhi pada segi pendidikan oleh Suster Yashinta karena ia telah menyelesaikan strata satunya pada jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Namun pada keinginan pembelajaran yang ingin ditempuh oleh Suster Yashinta adalah masuk jurusan psikologi. Karena tuntutan yang diberikan oleh biara, maka Suster Yashinta menaati yang menjadi keinginan dari biara. Sebagai bentuk perwujudan kaul ketaatannya.

“Emm...basically saya tidak suka inggris, saya sukanya em, ini apa? bagian konseling, psikologi, saya lebih suka sekolahnya psikologi, saya pengen untuk menolong orang gitu, itu motivasi saya. Tapi Tuhan punya keinginan lain ternyata, em, lalu kongregasi mengirim saya untuk kuliah ambil bahasa inggris karena memang kongregasi butuh suster yang bahasa inggris, karena kita punya sekolah, jadi yaa..sudah ,demi ketaatan saya pergi.” (Yashinta, W2, 45)

Tetapi, walaupun keinginannya tidak dapat ia penuhi, namun Suster Yashinta masih mampu untuk mengembangkan potensinya hingga sekarang dengan mengajar dan mendidik anak-anak Sekolah Menengah Atas (SMA) pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Dan pada keinginannya yang tertunda dalam mempelajari psikologi, Suster Yashinta banyak membaca buku-buku Psikologi untuk memuaskan dahaga pengetahuan yang ia ingin capai itu.

“Iyaa..saya suka baca buku psikologi, begitu. Gerakan tubuh, terus ehm, ”how to solve the problem?” banyak buku-buku yang saya baca tentang psikologi gitu.” (Yashinta, W2, 55)

6. Dimensi Kebutuhan Estetika (Aesthetic Needs)

Sebagai biarawati tentu ada tuntutan untuk mereka dapat menyukai segala bentuk kesenian. Hal ini terjadi pula pada Suster Yashinta. Pada subjek, walaupun

(32)

tidak memiliki penguasaan didalam instrumen musik, namun Suster Yashinta menyukai seni dengan menyanyi. Dan sebagai bentuk kreatifitas konkretnya, Suster Yashinta cukup lihai dalam membuat beberapa kerajinan tangan.

“Eehh.. tidak. Tapi saya suka bernyanyi. Ya, merangkai bunga saya suka, gitu. Pokoknya berbagai seni itu hal-hal yang seni saya suka gitu, tapi saya tidak bisa bermain musik.” (Yashinta, W2, 70)

Suster Yashinta merupakan salah satu individu yang sangat perhatian terhadap kebersihan. Ia juga menekankan bahwa kepuasan akan nilai estetika merupakan dari diri sendiri agar hal tersebut lebih bermakna dan tetap menjaga kerapihan serta kebersihan sesuai dengan kesadaran diri masing-masing.

“Iyaa..saya rasa kalau kita tidak pernah merasa puas, maka kita tidak akan pernah bahagia,ya.. sejauh kita bisa menata, membersihkan, merawat,kita puas gitu.” (Yashinta, W2, 85)

Tidak hanya itu, Suster Yashinta pun sangat menyukai untuk terjun pada kegiatan-kegiatan yang merawat lingkungan. Ia mengungkapkan bahwa dari ia mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu, secara tidak langsung mengajak dan menginspirasi orang-orang awam untuk melakukan hal yang sama pula dalam menjaga lingkungan.

“Oh yaaa..saya waktu jadi guru kami mm, ada program kebersihan di pasar, biasanya kan di pasar itu kotor, jadi saya menggerakan gitu, anak-anak supaya ee ke pasar, membersihkan, menyapu, gitu, sehingga dengan demikian, kita mau memberikan ..apa ya.? dampak positif untuk orang “eh ternyata hidup sehat itu begini” gitu. Selain membuat indah,bersih nyaman, sehat.” (Yashinta, W2, 90)

7. Dimensi Aktualisasi Diri (Self-Actualization)

Aktualisasi diri yang terdapat pada Suster Yashinta ditampilkan salah satunya yaitu kreatifitas yang dibuatnya dari hal-hal kerajinan tangan yang ia

(33)

ciptakan bersama dengan rekan-rekan biarawati lainnya. Sembari menunjukkan bantal sofa yang ia ciptakan, Suster Yashinta mengatakan bahwa semuanya ia pelajari dari para Suster senior dan ia mengembangkannya dan dari kreatifitas tersebut dapat memberikan hasil kepada diri mereka sendiri yang berupa penghasilan.

“Oh ya..kami di biara itu, waktu pembinaan itu kami di ajar untuk membuat ini, ini hasil karya tangan suster ini, jadi ini suster-suster, ada suster kita yang menyukai seni lalu, dia memberi pelajaran pada suster-suster yang muda utnuk buat ini. Kita bisa, kita bisa menjual kepada masyarakat di sekitar gitu, ini hasil karya suster-suster loh..” (Yashinta, W2, 100)

Pada pemenuhan harkat kemanusiaan dari Suster Yashinta, ia menggambarkan bahwa visi dan misinya adalah menjadi satu dengan Tuhan yang artinya ia ingin sepanjang hidupnya dapat menjalankan kehidupan biaranya dan berjalan bersama dengan Tuhan Yesus.

“Em..visi dan misi saya itu adalah, saya sedang mengabdikan diri saya kepada Tuhan, saya mempersembahkan seluruh kemampuan yang ada pada saya, saya mengikuti Yesus sampai mati, sesuai dengan..emm..apa yang saya lakukan mempersembah diri saya untuk Tuhan, lalu saya mengikatkan diri saya kepada Tuhan, seperti itu.” (Yashinta, W2, 110)

Dan pada konten yang membahas tentang pemenuhan akan kepuasan pada diri subjek sendiri, ia menyatakan sebelumnya di konten nilai estetika, bahwa segala halnya patut merasa puas agar dalam hidup pribadinya ia dapat merasa bahagia. Hal itu juga disertakan pula dengan rasa bersyukur dengan segala apa yang telah ia lakukan sebagai biarawati dalam mengemban tugas-tugasnya dengan baik.

“...Bersyukur karena diberi kepercayaan untuk em...bekerja di luar negeri gitu, jadi motivasi-motivasi yang..yang..ee..pimpinan biara, suster-suster saya berikan

(34)

pada saya,juga menjadi motivasi saya, untuk tetap bertahan di biara, untuk setia menjalankan misi kongregasi dan setia kepada Tuhan.” (Yashinta, W2, 120)

8. Dimensi Transendensi Diri (Self-Transendence)

Pandangan Suster Yashinta dalam menjalani kehidupan membiaranya karena berdasarkan akan pembinaan-pembinaan yang sudah ia lalui sehingga ia dapat menjadi cerminan seorang biarawati yang sempurna. Subjek mengakui bahwa sebagai biarawati perlunya kesadaran diri dan menahan ego masing-masing yang tentunya ia bawa dari dalam keluarga. Hal inilah yang menjadi salah satu tantangan terbesarnya untuk dihadapi sebagai biarawati.

“Saya ini anak bungsu begitu. Tentukan di dalam dalam kita kan anak bungsu biasanya dia diperhatikan, dia selalu jadi pusat perhatian dalam keluarga gitu kan, selalu di kasihi apa – apa diminta diberi gitu, tapi kan kita di dalam biara, kita sudah dapat banyak pembinaan gitu..yang..kita punya sifat-sifat yang ingin menang sendiri itu tidak lagi gitu,kita sudah di tuntun oleh para suster gitu, “oh motivasi kita harus mengikuti teladan Tuhan Yesus” gitu, harus rendah hati tidak boleh egois gitu, jadi itu Yesus itu adalah gambaran pribadi untuk suster gitu. Jadi yang tadinya yang sikap kita bawa dari keluarga, harus di apa yaah di formasikan gitu yaa...eehh...Yesus itu menjadi gambaran loh, Yesus itu menjadi gambaran, seorang biara bagaimana mengikuti Dia gitu, artinya engkau tidak bawa lagi yang engkau punya kehidupan yang dari luar gitu, Yesus itu menjadi teladan.” (Yashinta, W2, 125)

Melalui pemahaman makna spiritualitas yang Suster Yashinta lakukan pada era globalisasi ini, ia menyikapinya dengan berperilaku sadar diri dan berpikir bijak dalam menggunakan barang-barang elektronik terutama alat telekomunikasi seperti telepon seluler yang digunakan untuk mencari dan mengetahui informasi-informasi. Suster Yashinta juga memeluk ikrar yang ia lakukan yaitu Kaul Kemiskinan untuk dapat bertindak bijak dalam menggunakan barang-barang tersebut.

(35)

“... Kita tidak bisa membendung yang namanya arus globalisasi, dengan kehidupan biara gitu,karena kita juga tidak bisa menahan teknologi untuk tidak boleh berkembang gitu. Tapi orang biara punya aturan. Ketika engkau menggunakan alat telekomunikasi engkau juga harus punya aturan gitu, harus tahu diri, engkau mengikrarkan kaul kemiskinan, artinya kau tahu batas-batasnya menggunakan media komunikasi. Karena engkau bertanggung jawab dengan Tuhan Allah. Jadi kesardaran diri itu penting, jadi saya menggunakan alat komunikasi misalkan handphone untuk hal-hal yang penting, atau saya membuka internet, saya buka internet untuk apa? Untuk menambah pengetahuan atau hanya untuk kesenangan gitu.” (Yashinta, W2, 140)

Suster Yashinta merupakan individu yang dapat membuka diri pada setiap golongan masyarakat. Untuk membangun keintiman pada setiap masyarakat yang ia temui, ia selalu memberikan pertolongan melalui dorongan atau motivasi pada setiap orang yang membutuhkan. Selain berlaku sebagai motivator, keintiman yang ditunjukkan oleh Suster Yashinta, ia kemukakan bahwa ia tidak pernah memiliki batasan, bahkan terhadap masyarakt yang memiliki perbedaan akan kebudayaan dan kepercayaan.

“Em... Ketika saya bertemu mereka , memberi salam kepada mereka, eee..diri saya juga menjadai motivator, ketika saya bertemu mereka, dengar mereka, mereka crita, mereka punya keluhan lalu saya dengar mereka sejauh yang saya bisa saya memberi solusi. Itu saya sudah memberikan..menjadi motivator buat mereka.” (Yashinta, W2, 150)

“...Teman-teman saya kan banyak muslim. Yaa..mereka cerita mereka punya keluarga begitu. Lalu saya beri mmm... berikan motivasi, beri dorongan, terus memberikan jalan keluar.” (Yashinta, W2, 155)

Penggambaran transendensi diri pada Suster Yashinta secara keseluruhan yaitu Suster Yashinta adalah individu yang mampu untuk menyeimbangkan kebutuhan manusiawinya dengan kebutuhan spiritualitasnya, sehingga menghasilkan tindakan dalam menahan ego demi tindakan ke-Esa-an pada kehidupan membiaranya. Kontak yang ia lakukan dengan sesama tanpa

(36)

memandang perbedaan adalah perlakuan yang mencerminkan apa yang perlu dilakukan para biarawati dengan berbagai golongan masyarakat.

4.3. Subjek 3 (Sr. Lusi) 4.3.1. Data Demografis

Tabel 4.3.1. Data Demografis Subjek 3

Kriteria Identitas Subjek 3

Nama Sr. Lusi

Usia 31 tahun

Suku Flores

Tinggi Badan 145 cm Warna Kulit Cokelat

Jumlah Saudara Anak ke-3 dari 7 bersaudara Pendidikan Mahasiswi Pekerjaan Sekretaris Tempat Wawancara Biara CIJ Tanggal Wawancara 3 Juni 2017 ; 18 Juni 2017

4.3.2. Deskripsi Hasil Observasi 1) Wawancara I

Wawancara I (pertama) yang dilakukan bersama dengan subjek ketiga bertempat di lokasi tempat tinggal subjek yaitu biara CIJ. Wawancara juga berlangsung di ruang tamu biara.

Peneliti melakukan wawancara setelah wawancara bersama dengan responden kedua dan waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Responden Lusi adalah seorang wanita dengan tinggi badan sekitar 158 cm yang memiliki bentuk wajah persegi dan memiliki warna kulit cokelat. Responden menggunakan jubah suster biara berwarna putih, penutup kepala yang berwarna putih, serta

(37)

menggunakan sandal jepit berwarna merah sebagai alas kaki didalam tempat tinggalnya. Peneliti bersalaman sembari memperkenalkan diri kepada responden serta menjelaskan apa yang menjadi tujuan dari wawancara tersebut. Setelah itu, peneliti memulai wawancaranya setelah menjelaskan tujuan wawancara dengan memberikan lembar persetujuan dalam melakukan wawancara seperti yang dilakukan juga pada responden-responden sebelumnya.

Wawancara dilakukan di tempat, situasi, dan kondisi yang sama pula yaitu di sofa ruang tamu dengan meja kaca yang cukup pendek. Dengan posisi tempat duduk yang sama yaitu posisi berhadap-hadapan dengan responden yang membelakangi jalan lorong untuk menuju ke ruang makan dan menghadap ke pintu ruang tamu dan peneliti yang menghadap ke jalan lorong untuk menuju ruang makan dan membelakangi pintu ruang tamu.

Selama proses wawancara, responden duduk dengan mencondongkan badan ke depan. Intonasi nada suara yang dikeluarkan responden sangat kecil sehingga perlunya beberapa pengulangan kata. Responden jarang sekali dalam memberikan penekanan. Gerakan tangan selama dalam proses wawancara yaitu telapak tangan kanan hanya ditimpakan dan dikatupkan diatas telapak tangan kiri. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti, dijawab dengan baik dan lancar. Dan jika ada yang kurang jelas, responden akan mempertanyakan ulang maksud dari pertanyaan tersebut.

Tidak ada hal yang signifikan yang menghambat jalannya wawancara. Namun, karena bertempat di ruang tamu terkadang masih terdengar orang lain lalu-lalang di biara tersebut dan adanya orang yang sedang berbicara, sehingga

(38)

diperlukan konsentrasi yang cukup dalam menangkap apa yang disampaikan oleh responden mengingat intonasi nada suara responden juga sangat kecil. Proses wawancara pun hanya dapat dilakukan sekitar 40 menit dikarenakan responden sedang mengerjakan ujian secara online.

2) Wawancara II

Pada wawancara kedua, berlangsung pada hari Minggu, 18 Juni 2017, pukul 12.00 WIB. Wawancara tersebut dilakukan kembali di Biara CIJ dan berlangsung selama 1 jam. Saat itu, subjek baru pulang dari Gereja dan sedang bersantai di biara. Subjek mengenakan pakaian yang sama saat wawancara pertama yaitu jubah Suster berwarna putih, memakai kalung salib, dan menggunakan cincin Kaul Kekal, serta menggunakan alas kaki rumahnya yang berwarna merah. Subjek menyapa peneliti dan sebelum wawancara dimulai, Subjek memperlihatkan foto-foto teman kuliah Subjek kepada peneliti. Disini Subjek mulai terlihat dekat dan terbuka terhadap peneliti serta memperlakukan peneliti selayaknya teman dekatnya.

Saat wawancara kedua dimulai, Subjek terlihat lebih antusias dibandingkan wawancara pertama. Selama wawancara, intonasi yang dikeluarkan Subjek dapat berubah-ubah. Jika ada hal yang membicarakan tentang pemikiran pribadi terhadap orang-orang di lingkungannya dan kehidupannya yang di Jakarta, Subjek melemahkan intonasinya, sedangkan jika Subjek sedang menceritakan tentang kehidupannya di Timor Timur, ia memperjelas intonasi dan bahkan sesekali tertawa dan menunjukkan wajah yang lebih ekspresif daripada saat membicarakan kehidupannya di Jakarta.

Gambar

Tabel Gambaran umum (data demografis) 4 subjek :
Tabel 4.1.1. Data Demografis Subjek 1
Tabel 4.2.1. Data Demografis Subjek 2
Tabel 4.3.1. Data Demografis Subjek 3
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan tingkat motivasi kerja karyawan di KSU Tandangsari termasuk dalam kategori tinggi 61,29%, tingkat kinerja karyawan di KSU Tandangsari

Kelebihannya antara lain dimana Restoran Duck Master ini menyajikan bebek yang masih muda (Baby Duck) dimana kelebihan dari Baby Duck ini adalah kadar lemak dalam bebek tersebut

Pada Gambar 2.8 terlihat bahwa dari penyedia layanan hingga OLT didukung dengan media serat optik, namun untuk keluaran perangkat merupakan titik perbedaan antara

Dari hasil analisis data diperoleh hubungan atau pengaruh tekanan udara tiap bulan untuk periode 1980 – 2010 terhadap daya angkat menunjukan tingkat korelasi atau

Lama pengeringan teh herbal daun ketepeng cina memberikan pengaruh terhadap rendemen, kadar air, serat kasar, aktivitas antioksidan, penilaian sensori secara deskriptif

Secara umum data ini juga dapat menunjukkan beberapa jenis seni pertunjukan yang notabene merupakan seni yang telah berakulturasi dengan budaya setempat, sehingga

Pelaksanaan perlindungan hukum terhadap penipuan iklan perumahan yang merugikan konsumen dalam penelitian ini dikelompokkan pada proses pelaksanaan penyelesaian kasus

Sehingga mayoritas tingkat pengetahuan masyarakat adalah cukup, dilihat dari data diatas bahwa ada pengaruh anatara tingkat pendidikan sehingga pengetahuan masyarakat