4.5. Perspektif Triangulasi
4.5.1. Narasi Informan Subjek 1
Informan untuk Subjek 1 yang merupakan Suster Francelin adalah Suster Maria. Ia merupakan teman satu biara serta individu yang paling dekat dengan Suster Francelin. Suster Maria juga menempuh pendidikan dan tahun panggilan yang sama dengan Suster Francelin, sehingga keduanya memiliki hubungan yang cukup dekat satu sama lain pada lingkungan biara.
Menurut Suster Maria, sosok Suster Francelin adalah seorang pribadi yang sibuk dan sangat menyukai aktifitas-aktifitas di luar. Suster Francelin adalah individu yang selalu memiliki jadwal yang lebih padat daripada para biarawati lainnya, sebab Suster Francelin banyak mengikuti organisasi baik yang diselenggarakan di lingkungan Gereja maupun yang terdapat di lingkungan sekolah.
Pada pemenuhan kebutuhan fisiologis Suster Francelin, Suster Maria mengatakan bahwa subjek cukup memperhatikan kebutuhan dasarnya. Jika ia memiliki pekerjaan di sekolah, Suster Francelin sering meminta bantuan rekan
Suster lainnya untuk dibuatkan bekal makanan dan dibawa ke tempat kerja. Dan jika, Suster Francelin memiliki aktifitas di Gereja, ia akan pulang ke biara pada jam makan siang dan berkumpul bersama dengan para rekan Suster lainnya untuk makan bersama-sama. Subjek juga tidak memiliki riwayat penyakit parah ataupun serius. Terkadang jika ia kelelahan atau tidak enak badan, Suster Maria yang selalu merawatnya dan memijat Suster Francelin jika subjek memintanya.
Suster Maria mengatakan bahwa Suster Francelin tidak pernah menceritakan tentang lawan jenis selama ia hidup membiara bersamanya. Bagi Suster Maria, Suster Francelin merupakan individu yang selalu aktif pada tanggung jawab yang ia kerjakan sehingga pikiran untuk hal-hal seperti berkeluarga, tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Suster Francelin juga merupakan individu yang sangat lihai dan cepat dalam beradaptasi pada lingkungannya. Bagi Suster Maria, kota Jakarta adalah tempat yang cukup sulit bagi para biarawati yang dari Flores untuk bisa beradaptasi pada situasi dan kondisi yang cukup pesat perubahannya. Namun, Suster Francelin mampu mengendalikan dan mengontrol pekerjaannya serta membuat koneksi yang cukup banyak dengan orang tua dan wali murid di sekolah tempat subjek bekerja.
Menurut Suster Maria, Suster Francelin adalah orang yang sangat patuh dan tegas pada peraturan. Ia selalu mengelola dan mendidik anak-anak di sekolah dengan pembelajaran kedisiplinan. Hal inilah, yang kadang menjadi titik tolak bagi orang tua atau wali murid dengan Suster Francelin jika ada yang tidak mematuhi standar dan peraturan yang sudah ditentukan di sekolah. Jika menemui
masalah tersebut, Suster Francelin selalu membagi ceritanya di komunitas dan terkadang meminta solusi saat sedang berkumpul dengan komunitas.
Pada kebutuhan kasih sayang, sebagai teman yang paling dekat, Suster Maria memberikan perhatian yang lebih terhadap Suster Francelin. Karena ia telah mengenal Suster Francelin sejak tinggal di Flores. Suster Maria mengatakan bahwa, Suster Francelin selalu bertemu dengan keluarganya yang masih tinggal di sekitar Bekasi, sehingga subjek tidak pernah menunjukkan rasa rindu terhadap keluarganya, karena ia selalu bertemu setiap 2 minggu sekali.
Konten yang dilihat dari Suster Maria tentang Suster Francelin pada memberi dan menerima cinta selama hidup membiara yang dilakukan subjek yaitu melalui kegiatan-kegiatan yang dikerjakannya. Suster Francelin selalu memperhatikan segala detail permasalahan yang terdapat pada lingkungannya, terutama jika menyangkut pada anak-anak didiknya.
Suster Maria juga melihat perubahan Suster Francelin saat ia tinggal di Jakarta. Saat di Jakarta, Suster Francelin menjadi lebih aktif di berbagai kegiatan daripada saat ia di Flores. Banyak yang ia ikuti saat di Jakarta, baik kegiatan sosial, keagamaan, maupun pada pekerjaannya menjadi guru dan kepala kantor di sekolah tersebut. Menurut Suster Maria kegiatan yang ia lakukan, banyak di luar biara sehingga ia sangat jarang jika ditemui dalam biara.
Karena keaktifannya tersebut, tak jarang juga Suster Francelin kedatangan tamu setiap dalam tiga hari sekali. Menurut Suster Maria, kebanyakan dari orang tersebut adalah anggota atau bawahan pada kegiatan atau organisasi yang dipimpin atau dikooridinir oleh Suster Francelin. Yang terkadang selalu meminta
solusi dan membahas tentang acara-acara yang diselenggarakan oleh kelompok organisasi yang diikuti Suster Francelin.
Suster Maria diutus untuk belajar pada kampus yang sama, namun dengan jurusan berbeda. Suster Maria saat itu merupakan mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, sedangkan Suster Francelin mengambil jurusan Pendidikan Agama Katolik atau Teologi. Saat berkonsentrasi dalam kehidupan dan keseharian di kampus, Suster Maria saat itu tidak terlalu memperhatikan perkembangan pembelajaran Suster Francelin karena keduanya memiliki konsentrasi jurusan yang berbeda. Namun, jika Suster Francelin mengalami kesulitan khususnya dalam Bahasa Inggris tentu ia akan sesekali menanyakan hal tersebut pada Suster Maria.
Menurut Suster Maria pula, Suster Francelin adalah sosok yang lebih suka bekerja daripada pembelajaran. Suster Francelin selalu melakukan pengembangan potensi pembelajaran dan pengetahuannya melalui pengalaman–pengalaman yang ia dapat dari apa yang pernah dialami dan dari orang lain.
Dan tentang kerapihan dan kebersihan didalam biara, Suster Francelin adalah individu yang sangat jarang memperhatikan hal-hal tersebut. Karena kesibukan di luar biara yang begitu padat sehingga kebersihan di biara ia percayakan kepada rekan-rekan Suster lainnya.
Suster Maria juga mengatakan pada point kesenian, Suster Francelin adalah orang yang sangat peduli akan hal itu. Ia mengetahui bahwa sudah beberapa kali Suster Francelin aktif dalam melatih dan mengawal anak-anak sekolah didikannya pada setiap lomba kejuaraan paduan suara. Dan pada
pekerjaan tangan, Suster Maria juga pernah meminta diajarkan dalam membuat rosario dengan Suster Francelin. Menurutnya, Suster Francelin cukup lihai dalam membuat prakarya.
Suster Maria tidak terlalu mengetahui persis apa yang menjadi impian yang ingin dicapai oleh Suster Francelin untuk menjadi biarawati. Namun, setiap kali Suster Francelin bercerita bahwa pribadi Suster Francelin merasa terpanggil dari sejak kecil untuk menjadi abdi dan pelayan Tuhan. Suster Maria menceritakan pula bahwa Suster Francelin merupakan orang yang cukup idelalis dalam masalah pekerjaan. Jika, hasil yang dicapai kurang sesuai dengan apa yang diinginkannya, maka ia akan merasa kebingungan dan terkadang bersikap moody pada kesehariannya. Sebagai teman terdekat Suster Francelin, Suster Maria kadang memberikan banyak saran untuk permasalahan yang dihadapi oleh Suster Francelin.
Pandangan Suster Maria kepada Suster Francelin pada kehidupan membiaranya yaitu bahwa ia merupakan pribadi yang tegas dan aktif dalam setiap kegiatan yang ada, terutama pada pekerjaannya sebagai pendidik dan kepala kantor saat ini di sekolah tersebut. Suster Francelin juga merupakan orang yang mencerminkan sikap yang tangguh dan dominan namun ia adalah pribadi yang suka bercanda dan handal dalam komunikasi dengan berbagai golongan masyarakat. Ia juga termasuk yang paling rajin dalam kumpul komunitas setiap minggunya dan selalu membagikan cerita pengalaman-pengalam yang dialami selama satu minggu beraktifitas.