• Tidak ada hasil yang ditemukan

Naturwissenschaften dan Geisteswissenschaften

Dalam dokumen filsafat ilmu (Halaman 115-125)

ILMU PENGETAHUAN

D. Naturwissenschaften dan Geisteswissenschaften

Buku kepustakaan, tidak ada yang menunjuk ke suatu pendapat mengenai jumlah, macam dan urutan langkah yang pasti sebagai penentu suatu prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. Langkah-langkah itu semakin bervariasi dalam ilmu pengetahuan sesuai bidang spesialisasi yang semakin banyak. Kadang-kadang orang berpendapat bahwa macam metode ilmiah yang digunakan tergantung pada ilmu khusus tersebut, khususnya bersangkutan dengan objek formalnya.133

Pola umum ini dijelaskan oleh O. Burniston Brown (1961) sebagai berikut:

132 Seseorang dianggapnya tidak perlu melakukan hal tersebut, apabila ia hendak mengadakan penyelidikan, yakni untuk menguji kebenaran atau kesalahan pendapat sementara dan bukan untuk membuktikan pendapat yang sudah terbentuk. Sudarsono, Ilmu Filsafat., 127.

133 Berdasarkan langkah-langkah yang digunakan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, sekurang-kurangnya ada lima langkah yang dapat dikatakan sebagai pola umum, yaitu: penentuan masalah, perumusan dugaan sementara (hipotesa), pengumpulan data, perumusan kesimpulan, dan verifikasi hasil. Sumaryono, Hermeneutik :Sebuah

Meskipun mereka berbeda dalam pokok soal. Semua ilmu menunjukkan prosedur umum yang sama yang disebut metode ilmiah, atau ilmu saja. Oleh karena itu ilmu adalah suatu metode khusus yang telah diperkembangkan secara berangsur-angsur sepanjang berabad-abad untuk meningkatkan pengetahuan kita mengenai dunia ini.134

Pada dasarnya pola umum dalam metode ilmiah ini dapat dipakai dengan melihat sejarah perkembangan ilmu itu sendiri yang telah berlangsung dari abad ke-abad. Sekaligus dengan melihat perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, dapat dipahami bahwa tersebarnya ilmu pengetahuan menjadi banyak cabang ilmu-ilmu khusus antara lain juga bersangkutan dengan metode ilmiah yang digunakan. Ilmu-ilmu terutama berbeda satu sama lain, karena digunakannya metode-metode yang sangat berlainan untuk menyelidiki, melukiskan, dan mengerti realitas.135

Ilmu pengetahuan yang harus selalu berkembang merupakan akibat dari revolusi industri. Revolusi industri membawa perubahan besar di bidang ekonomi, pendidikan, hukum, kebudayaan, dan perilaku sosial, baik dalam arti manfaat maupun masalah-masalah yang ditimbulkannya. Hasrat untuk memecahkan problem-problem sosial inilah yang mendorong para ahli pikir mengembangkan ilmu

134 Ghozali Bachri, dkk., Filsafat Ilmu (Yogyakarta; Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005), 42.

pengetahuan dalam bidangnya masing-masing, dan muncullah nama-nama seperti Rousseau, Dupont de Nemours, Adam Smith dan Thomas R. Malthus.136

Kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan sosial tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Positivisme August Comte. Ilmu-ilmu makin cepat berkembang berkat pemikiran tentang dasar logis dan etimologis dari John Stuart Mill. Dasar-dasar teori dari August Comte dan John Stuart Mill menjadikan ilmu pengetahuan sosial bersifat positivistik dan empirik.137

Ilmu ekonomi, sosiologi, ilmu hukum, dan ilmu politik semuanya menjadi ilmu-ilmu empiris.138

Corak-corak metodologis yang dikembangkan menyebabkan ilmu pengetahuan bersifat positivistik (bebas dari pikiran etis), deterministik (berdasarkan pada hukum kausalitas), evolusionistik (melihat sejarah sebagai dasar menentukan objek yang diteliti), sehingga segala sesuatu harus dijelaskan dengan metode kuantitatif dan eksperimental melalui observasi. Periode ini juga ditandai dengan semakin terkotak-kotaknya ilmu pengetahuan ke dalam ilmu-ilmu khusus dan bidang-bidang spesialisasi. Diferensiasi ilmu pengetahuan ini dijelaskan oleh Lewis (1973) sebagai berikut:

136 Mooij Van Peursen, Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta; Tiara wacana, 1986), 79-81.

137 Koento, Arti Perkembangan., 78.

138 Ciri empiris ini yang kemudian membentuk ciri-ciri umum ilmu pengetahuan sosial. Apabila ilmu sosial secara pelan-pelan berkembang, maka ilmu-ilmu eksakta juga berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri yang sangat pesat, sehingga sulit dikejar oleh cabang-cabang ilmu sosial. Surajiyo, Filsafat Ilmu., 41.

Ilmu khusus telah muncul dengan cara yang ditunjukkan; ilmu-ilmu tersebut telah berkembang dalam matriks umum dari pemikiran reflektif dan menjadi diakui sebagai berbeda, bilamana suatu taraf kedewasaan tercapai pada umumnya, ilmu-ilmu fisikalah yang pertama-tama mengalami perkembangan ini, dan ilmu-ilmu kemanusiaan dan budaya, psikologi, antropologi, sosiologi, ekonomi, dan pemerintahan adalah yang terakhir menjadi terpisah dari filsafat.139

Spesialisasi yang muncul dalam bentuk ilmu-ilmu khusus seperti yang terjadi dewasa ini merupakan konsekuensi logis dari pengembangan macam metode, objek, dan tujuan yang ingin dicapai. Spesialisasi tersebut merupakan tuntutan demi perkembangan ilmu itu sendiri.

Bidang keilmuan terutama metodologinya secara langsung menyangkut objeknya, dan dibedakan secara jelas antara

ilmu-ilmu yang disebut Naturwissenschaften dan

Geisteswissenschaften.140 Istilah Jerman Naturwissenscfaten berarti ilmu kealaman yang objeknya adalah benda-benda fisik. Termasuk dalam tipe ilmu kealaman adalah ilmu seperti ilmu Fisika, Kimia dan Biologi, serta ilmu-ilmu khusus lain yang merupakan pengkhususan lebih lanjut ataupun cabang-cabang dari ilmu-ilmu tersebut, yang

139A. Sonny Keraf & Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan

Filosofis (Yogyakarta; Tiara Wacana, 2001), 92.

selanjutnya berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri, misalnya Fisiologi, Anatomi dan sebagainya.141

Geisteswissenschaften berarti ilmu budaya atau

ilmu-ilmu yang objeknya adalah hasil atau ekspresi roh manusia.

Geistesrvissenschaften sering disebut ilmu-ilmu sosial ataupun

ilmu-ilmu human/kemanusiaan, yang dalam kerangka penulisan ini untuk selanjutnya digunakan istilah ilmu-ilmu sosial-humanistik. Ilmu yang termasuk dalam ilmu-ilmu sosial-humanistik ini antara lain adalah Ekonomi, Sejarah, Sosiologi, Antropologi sosial/budaya, Ilmu Hukum, Psikologi (untuk sebagian), Ilmu bahasa, dan Ilmu Komunikasi.142

Sifat-sifat objek yang berbeda dari kedua tipe ilmu pengetahuan di atas membawa konsekuensi logis pada adanya perbedaan yang mendasar di bidang metodologi bagi masing-masing ilmu pengetahuan tersebut. Seperti telah diketahui, bahwa selalu ada keterkaitan antara objek (formal) ilmu dengan metode yang digunakan. Masing-masing ilmu mempunyai objek formalnya sendiri dan metode yang digunakan berdasarkan pada susunan dan hukum-hukum seperti yang ada pada objek tersebut. Sebaliknya, susunan dan hukum-hukum yang berlaku pada objek hanya dapat diketahui melalui metode yang tepat dan sesuai.143

141 Ghozali Bachri, Filsafat Ilmu., 80.

142 Sastraprateja, Filsafat Sebagai Paradigma Ilmu-Ilmu Humaniora, Makalah disajikan dalam Internship Dosen-dosen Filsafat Ilmu Pengetahuan se- Indonesia, 26 Juli sampai dengan 7 Agustus 1998, Kerjasama Ditjen Dikti Depdikbud dengan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 1998.

143 Simon Petrus, Petualangan Intelektual (Yogyakarta; Kanisius, 2004), 175.

Berdasarkan hubungan objek-metode itu, maka untuk memahami metode yang seharusnya dipergunakan dalam ilmu-ilmu tipe tertentu, harus dipahami ciri-ciri dasar yang berlaku dalam objek ilmu-ilmu tersebut. Kerangka pembedaan antara Naturwissenschaften dan Geisteswissenchaften akan dipahami secara lebih lanjut ciri-ciri dasar yang terdapat pada masing-masing tipe ilmu pengetahuan tersebut.144

Ciri dasar pertama yang menandai ilmu-ilmu kealaman adalah bahwa ilmu-ilmu itu melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang memungkinkan registrasi indrawi secara langsung. Data-data indrawi merupakan objeknya harus dimengerti tepat menurut penampakkannya dalam keadaannya, seperti luas, keras, tinggi dan sebagainya. Bahan-bahan ini disaring, diselidiki, dikumpulkan, diawasi, diidentifikasi, dan diklasifikasi secara ilmiah, yaitu; digunakannya instrumen-instrumen sebagai alat bantu.145

Perkembangannya sebagai ilmu alam modern dewasa ini, maka regristrasi indrawi tersebut dilakukan dalam wujud eksperimen. Eksperimentasi ilmu-ilmu kealaman mampu menjangkau objek potensi-potesi alam yang semula sulit diamati, seperti elektron dan inti protein.

Ilmu-ilmu kealaman memperoleh suatu objektivitas yang khas, yaitu semata-rnata bersifat empiris-eksperimental. Ciri selanjutnya dari ilmu-ilmu kealaman adalah bahwa ada suatu determinisme dalam objeknya, sedemikian rupa sehingga suatu aksi tertentu niscaya menimbulkan reaksi tertentu pula.

144 Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer (Bandung; Jalasutra, 2005), 24.

Hukum aksi-reaksi ini berlangsung rnenurut sifatnya yang spesifik, karena itu eksperimen-eksperimen yang dilakukan pada prinsipnya dapat diulangi. Selain sifat penelaahannya meliputi beberapa variabel dalam jumlah yang relatif sedikit, gejala fisik yang diamati pada umumnya seragam.146

Pada umumnya metodologi yang digunakan dalam ilmu-ilmu kealaman disebut siklus empirik. Istilah metode siklus-empirik ini menunjuk pada dua macam hal yang pokok, yaitu siklus yang mengandaikan adanya suatu kegiatan yang dilaksanakan berulang-ulang, dan empirik yang menunjuk pada sifat bahan yang diselidiki, yaitu hal-hal yang dalam tingkatan pertama dapat diregistrasi secara indrawi.147 Sifat ilmiahnya terletak pada kelangsungan proses yang runtut dari segenap tahapan prosedur ilmiah tersebut, meskipun pada prakteknya tahap-tahap kerja tersebut seringkali dilakukan secara bersamaan.

Tahap pertama adalah observasi, maka yang dimaksudkan adalah bahwa tahap ini berbuat lebih dari sekedar melakukan pengamatan biasa. Kenyataan empirik yang terjadi maka objeknya diselidiki, dikumpulkan, diidentifikasi, didaftar, dan diklasifikasikan secara ilmiah. Observasi mencari saling hubungan dari bahan tersebut dan disoroti dalam suatu

146 Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar (Jakarta; Erlangga, 2007), 44.

147 Metode siklus-empirik ini mencakup lima tahapan yang disebut observasi, induksi, deduksi, eksperimen, dan evaluasi. Watak siklusnya tampak dalam hal bahwa setelah melakukan evaluasi, dimungkinkan dilakukannya lagi observasi-observasi yang kemudian dilanjutkan dengan tahapan-tahapan selanjutnya. Rickman, Wilhelm Dilthey,

kerangka ilmiah. Tahap kedua adalah induksi. Pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum.

Induksi dipermudah dengan digunakannya alat-alat bantu matematik dalam merumuskan serta mengumpulkan data-data empirik. Pengukuran secara kuantitatif terhadap besaran-besaran tertentu yang saling berhubungan, maka hubungan tersebut dapat digambarkan dalam simbul matematika. Apabila suatu kejadian terjadi secara berulang-ulang (terjadi

keajegan), maka pernyataan umum tersebut memperoleh

kedudukan sebagai hukum.

Langkah ketiga adalah dilaksanakannya deduksi-deduksi logis, yaitu data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Penyusunan sistem semacam ini juga tergantung dipergunakannya pengertian-pengertian operasional tertentu, yaitu bahasa buatan dalam rangka teori ilmiah. Berdasarkan sistem semacam ini dapatlah dijabarkan pernyataan-pernyataan khusus tertentu. Langkah keempat adalah observasi eksperimental, yaitu pernyataan yang telah dijabarkan secara deduktif (secara rasional). diuji dengan melakukan verifikasi atau klarifikasi secara empirik. Verifikasi atau klarifikasi secara empirik dimaksudkan untuk mengukuhkan pernyataan-pernyataan rasional hasil deduksi sebagai teori. Verifikasi merupakan tahapan untuk mengukuhkan atau menggugurkan pernyataan-pernyataan rasional hasil dari deduksi-deduksi logis.

Ilmu-ilmu sosial humanistik seringkali disebut juga ilmu-ilmu tingkah laku (Behavioral science) dan melalui istilah

kerap kali mencakup juga ilmu pengetahuan budaya.148 Objek ilmu-ilmu sosial humanistik ini merupakan gejala yang dapat diamati dan dinalar sebagai suatu fakta empiris, tetapi sekaligus termuat di dalamnya arti, nilai dan tujuan. Hal ini senantiasa terkait pada kenyataan bahwa manusia berbeda dengan binatang dan benda-benda fisik lainnya, hidup alam, dunia yang terdiri dari barang-barang yang dibuatnya sendiri serta dalam tujuan-tujuan yang dipikirkannya dan diterapkannya sendiri.149

Lapangan penyelidikan ilmu-ilmu sosial humanistik meliputi apa yang diperbuat manusia dalam dunianya serta yang dipikirkan tentang dunia tersebut. Ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu humanistik mempunyai ciri yang khas, yaitu normatif-teleologis. Ilmu-ilmu sosial dan humanistik menemukan arti, nilai, dan tujuan. Ilmu-ilmu sosial dan humanistik pada umumnya menggunakan metodologi yang disebut metode linier. Metode linier memiliki tiga tahap, yaitu; perepsi, konsepsi dan prediksi. Persepsi adalah penangkapan data melalui indra. Konsepsi adalah pengolahan

148 Ilmu-ilmu sosial humanistik ini bersangkutan dengan aspek-aspek tingkah laku manusiawi, sebab pada dasarnya berobjekkan hasil atau ekspresi roh manusia yang dalam wujudnya tampak sebagai bahasa, permainan, syair, agama, institusi (bentuk-bentuk kelembagaan). Kurt Mendelson, Science and Western Domination (London; Readers Union, 1977), 130-133.

149 Rizal Mustansyir, Refleksi Filosofis Atas Perkembangan Ilmu–Ilmu Humaniora, Jurnal Filsafat, Desember 2003, Jilid 35, Nomor 3, di unduh 30 Desember 2012.

data dan penyusunannya dalam suatu sistem. Prediksi adalah penyimpulan dan sekaligus peramalan.150

BAB V

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

Dalam dokumen filsafat ilmu (Halaman 115-125)