• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rene Descartes (1596-1650)

Dalam dokumen filsafat ilmu (Halaman 83-87)

RASIONALISME DAN EMPIRIS

1. Rene Descartes (1596-1650)

Yang memberi alas kepada aliran ini adalah `Rene Descartes atau Cartesius (1596-1650) yang juga disebut ”Bapa Filsafat Modern”. Semula ia belajar pada sekolah Yesuit dan kemudian ia belajar ilmu hukum, ilmu kedokteran dan ilmu alam.65 Baru pada tahun 1619 ia memperoleh jurusan yang pasti dalam studinya. Menurut pendapatnya pada waktu itu ia mendapat wahyu Ilahi, yang isinya memberitakan kepadanya bahwa, ilmu pengetahuan haruslah satu, tanpa bandingnya, serta harus disusun oleh satu orang sebagai satu bangunan yang berdiri sendiri menurut satu metode yang umum. Adapun yang harus dipandang sebagai yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah (clear and distinctly), artinya, bahwa gagasan-gagasan/ide-ide seharusnya dapat dibedakan dengen presis dari gagasan-gagasan atau ide-ide yang lain. Bukanlah maksud Descartes untuk mendirikan filsafatnya di atas asas yang logis abstrak, sebab ia memperhatikan sekali kepada

63 A. Susanto, Filsafat Ilmu (Jakarta; Bumi Aksara, 2011), 32.

64 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung; PT. Remaja Rosda Karya, 2009), 45.

realitas yang ada. Sedang asas yang pertama adalah suatu dalil yang eksistensial.66

Ilmu pasti menjadi suatu contoh bagi cara mengenal atau mengetahui yang maju. Sekalipun demikian ilmu pasti bukanlah metode yang sebenarnya bagi ilmu pengetahuan. Ilmu pasti hanya boleh dipandang sebagai penerapan yang paling jelas dari metode ilmiah. Metode ilmiah itu sndiri adalah lebih umum. Segala gagasan yang dikenal dari kebiasaan dan perwarisan atau dari kecenderungan, baru bernilai. Jika secara metodis diperkembang-kan dari intuisi yang murni.

Kebenaran memang ada, dan kebenaran dapat dikenal, asal jiwa berusaha untuk membebaskan diri dari isinya yang semula. Meniadakan jalan dari luar ke dalam dan mulai lagi dengan jalan dari dalam ke luar. Seperti yang dikemukakan di atas yang harus dipandang sebagai yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah.67

Sebagai contoh: kalau melihat orang berjalan-jalan, yang di lihat pakaiannya, dan lain-lain. Apa yang kita duga, kita lihat dengan mata kita itu hanya dapat kita ketahui semata-mata dengan kuasa penilaian kita, yang terdapat di dalam rasio atau akal. Descartes diharuskan oleh ketidakpastian yang terdapat pada zaman itu.68 Pemikiran skolastik,69 seperti yang

66 Seperti ungkapannya yaitu cogito ergo sum. Jujun S. Suriasumantri,

Filsafat Ilmu (Jakarta; Pustaka Sinar Harapan, 2003), 34.

67 Ibid., 40.

68 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum., 53.

69 Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Atau dari kata schuler yang mempunyai arti kurang lebih sama yaitu ajaran atau sekolahan. Yang demikian karena sekolah

telah ia terima, ternyata tidak tahu bagaimana harus menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan Positif yang dihadapinya. Ternyata bahwa wibawa Aristoteles yang terdapat di dalam skolastik itu menghambat ilmu pengetahuan. Juga bentuk yang bermacam-macam dari filsafat Renaissance, yang sering saling bertentangan, tidak berhasil memberi tempat kepada hasil-hasil ilmu pengetahuan tadi. Pada waktu itu pemikiran orang masih terlalu dipengaruhi oleh khayalan-khayalan.70 Seolah-olah Descartes merasa terdorong untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional dan segala gagasan filsafati yang ada pada zamannya. Untuk dapat mulai hal-hal yang baru itu ia harus memiliki suatu pangkal pemikiran yang pasti. Pangkal pemikiran yang pasti itu menurut dia adalah melalui keragu-raguan.71

Hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu bahwa aku ragu-ragu (aku meragukan segala sesuatu). Ini bukan khayalan melainkan kenyataan. Aku ragu-ragu, atau aku berpikir dan oleh karena aku berpikir, maka aku ada (cogito ergo sum).72

yang diadakan oleh Karel Agung yang mengajarkan apa yang diistilahkan sebagai artes liberales (seni bebas) meliputi mata pelajaran gramatika, geometria, arithmatika, astronomi, musika, dan dialektika. Dialektika ini sekarang disebut logika dan kemudian meliputi seluruh filsafat. Jadi, skolastik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. Ahmad Syadali dan Mudzakir, Filsafat Umum (Bandung; Pustaka Setia, 2004), 17.

70 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum., 19.

71 Ibid., 54.

72 Semboyan yang langsung akrab muncul (exist) ketika membahas filsafat.

Inilah suatu pengetahuan langsung yang disebut kebenaran filsafat yang pertama (primum philosophicum). Aku berada karena aku berpikir. Jadi aku adalah suatu yang berpikir cogito (aku berpikir) adalah pasti, sebab cogito “jelas dan terpilah-pilah”.

Bagi manusia pertama-tama yang jelas dan terpilah-pilah adalah pengertian “Allah” sebagai tokoh yang secara sempurna tidak terbatas atau berada dimana-mana/di dalam roh kita ada suatu pengertian tentang sesuatu yang tiada batasnya. Oleh karena kita sendiri adalah makhluk yang terbatas. Maka tidak mungkin bahwa pengertian tentang sesuatu yang tiada batasnya itu adalah hasil pemikiran kita sendiri.

Jiwa adalah substansi yang tunggal, yang tidak bersifat bendawi dan yang tidak dapat mati. Jika memiliki pemikiran sebagai sifat asasinya. Tubuh memiliki sifat asasiya: keluasan.73 Yang disebut substansi adalah apa yang berada sedemikian rupa, sehingga tidak memerlukan sesuatu yang lain untuk berada. Substansi yang dipikirkan seperti itu sebenarnya hanya ada satu saja, yaitu Allah.

Yang disebut Modus (Jamak Modi) adalah segala sifat substansi yang tidak mutlak perlu dan yang dapat berubah.74

Yang disebut atribut adalah sifat asasi. Jelas juga bahwa roh atau jiwa memiliki sebagai sifat asasinya: pemikiran (cogitation), dan memiliki sebagai modinya: pikiran-pikiran individual, gagasan-gagasan dan gejala-gejala kesadaran yang lain. Roh atau jiwa pada hakekatnya berbeda dengan benda.

73 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu., 38.

74 Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum; dari

Sifat asasi roh adalah pemikiran, sedang sifat asasi benda adalah keluasan. Manusia bukanlah tujuan penciptaan dan juga bukan menjadi pusatnya. Umat manusia mewujudkan suatu organisme yang besar, sedang perorangan adalah bagian dari keseluruhan.75 Oleh karena itu jika perlu, perorangan harus mau berkorban demi kebaikan keseluruhan umat manusia.

Arti Descartes terletak di sini, bahwa ia telah memberi suatu arah yang pasti kepada pemikiran modern, yang menjadikan orang dapat mengerti aliran-aliran filsafat yang timbul kemudian daripada dia, yaitu idealisme76 dan positivisme.77

Dalam dokumen filsafat ilmu (Halaman 83-87)