Pemikiran Islah Yusuf Ahmad Lubis Di Indonesia : Analisis Berdasarkan Korpus
1. Negara Islam dan Isu Penegakan Syari’at Islam
Menurut setiausaha PKS Anis Matta lc, Negara Islam akan berfungsi sebagai sarana penerapan syari’at Islam ditingkat konstitusi, disamping itu Negara Islam juga sebagai fasilitator proses peralihan besar-besaran pada struktur ideologi, budaya dan kekuasaan dalam sebuah masyarakat. Tentu saja peralihan itu mempunyai implikasi sangat besar dalam kehidupan masyarakat, sebab yang berubah adalah keseluruhan tatanan kehidupan mereka.Dalam konteks ke-Indonesia-an, gagasan tersebut dapat diterjemahkan kedalam kerangka pemahaman yang sistematis sebagai berikut:
Pertama, bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang integral dan komprehensif, yang kerananya memiliki semua kelayakan untuk dijadikan sebagai rujukan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kedua,bahwa kebaikan sistem kehidupan Islam hanya dapat dirasai masyarakat apabila ia diterapkan dengan benar dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketiga, bahwa agar Islam dapat diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka diperlukan dua bentuk kekuatan; kekuatan legalitas dan kekuatan eksekusi.
Keempat, bahwa untuk dapat memiliki kekuatan legalitas dan kekuatan eksekusi, diperlukan kekuasaan yang besar dan sangat berwibawa, yang diakui secara de facto maupun de jure.
Atas dasar kerangka logika diatas, maka urutan persyaratan yang harus dipenuhi adalah meraih kekuasaan, memiliki kompetensi eksekusi dan bekerja dengan keabsahan konstitusi. Pada sisi lain juga perlu memenuhi syarat-syarat kesiapan menuju penerapan syariat Islam yang paripurna. Itulah landasan yang kokoh bagi sebuah masa depan yang tidak akan mudah digoyahkan oleh
192
konspirasi dalam semua bentuknya. Tingkat kesiapan itu dapat diukur melalui standar berikut;
Pertama, adanya komitmen dan kekuatan akidah pada sebahagian besar kalangan kaum muslimin, iaitu komitmen akidah yang menandai kesiapan ideologi masyarakat muslim untuk hidup dengan sistem Islam pada seluruh tatanan kehidupannya. Serta kekuatan akidah untuk menampilkannya dalam kehidupan di lingkungan secara mempesona.
Kedua, supremasi pemikiran Islam ditengah masyarakat sehingga muncul kepercayaan umum bahwa secara konseptual Islamlah yang paling siap menyelamatkan bangsa dan negara. Dengan begitu Islam menjadi arah yang membentuk arus pemikiran nasional.
Ketiga, sebaran kultural yang luas dimana Islam menjadi faktor pembentuk opini publik dan tersimbolkan dalam tampilan-tampilan budaya, seperti pakaian, produk kesenian, etika sosial, istilah-istilah umum dalam pergaulan dan seterusnya.
Keempat, keterampilan akademis yang handal untuk dapat mentransformasikan (legal drafting) ajaran-ajaran Islam kedalam format konstitusi, undang-undang dan derivasi hukum lainnya.
Kelima, kompetensi eksekusi yang kuat dimana ada sekelompok tenaga leadership di tingkat negara, yang visioner dan memiliki kemampuan teknis untuk mengelola negara. Merekalah yang menentukan – di tingkat aplikasi – seperti apa wajah Islam dalam kenyataan, dan kerananya menentukan berhasil atau tidaknya proyek Islamisasi tersebut.
Keenam, kemandirian material yang memungkinkan bangsa tetap survive ketika menghadapi isolasi atau embargo. Apabila siklus perekonomian tetap dapat berjalan di dalam negeri, maka itu sudah merupakan tanda kesiapan untuk lebih independen.
Ketujuh, kapasitas pertahanan yang tangguh, sebab tantangan eksternal yang mungkin dihadapi tidak terbatas pada gangguan ekonomi, tapi juga gangguan pertahanan.
Kelapan, hubungan internasional yang akan memungkinkan negara tetap eksis dalam strategi internasional, atau tetap memiliki akses keluar begitu kita menghadapi embargo atau invasi.
Kesembilan, tuntutan politik dari parti-parti beserta publik yang secara resmi meminta penerapan syariat Islam di tingkat konstitusi. Parti-parti politik itu harus menjadikan Islam sebagai proposal politiknya. Indikator ini perlu disebutkan terutama karena kita berbicara dalam konteks demokrasi. Tapi di luar konteks demokrasi, kelapan indikator sebelumnya adalah sudah cukup, ditambah dengan tuntutan publik tanpa parti politik.24
24
Http://kabarpks.wordpress.com/2010/09/06/langkah-langkah-pks-menegakan-syariat-islam/
193
Statemen diatas meskipun tidak sepenuhnya merujuk kepada al-Qaradhawi, namun gagasannya dapat dilihat adanya kesamaan konsep dan tujuan berdirinya sebuah Negara Islam. Al-Qaradhawi menjelaskan bahawa tugas utama sebuah Negara Islam adalah mendidik masyarakat dan mengajarkan tuntutan dan dasar-dasar keislaman, menciptakan lingkungan yang positif, suasana yang kondusif untuk mentransformasikan akidah, pemikiran dan ajaran Islam kedalam dunia nyata, menjadi teladan bagi orang-orang yang mendapatkan hidayah sekaligus sebagai argumen untuk mengalahkan orang-orang yang memilih jalan kehinaan.
PKS menganggap bahawa kerja utama umat Islam tidak hanya sebatas menjadikan undang-undang Islam terkuatkuasakan ditingkat konstitusi, sebab apalah artinya jika Islam hanya dijadikan simbol perundangan tapi tidak mewarnai kehidupan secara meluas. Kenyataan ini ada di Mesir, dimana Islam diletakkan sebagai dasar Negara tetapi sepanjang sejarah kemerdekaan Mesir, para penguasanya selalu sekuler dan Islam tidak pernah lebih dari sekedar simbol, meskipun negeri itu dihuni mayoritas muslim. Maka langkah-langkah kongkrit PKS dalam kiprah politiknya adalah terfokus pada membangun kembali kepercayaan masyarakat kepada sistem Islam, dan memberi keyakinan kepada mereka bahawa Islam mampu menjadi solusi keterpurukan bangsa, memberikan rasa aman, menegakkan hukum secara adil, mensejahterakan rakyat, bahkan melindungi hak-hak kaum minoriti dan bukan Islam.
Untuk cita-cita itu maka PKS merumuskan format perjuangannya sendiri dan terkesan berbeza dengan perjuangan sebahagian parti Islam atau Organisasi Islam lainnya. Pada situasi ini, beberapa parti Islam dan organisasi Islam cenderung mengkempenkan perjuangannya dengan isu penegakkan syari’at Islam dengan mengusung Piagam Jakarta seperti yang dilakukan oleh Parti Bulan Bintang (PBB) dan Parti Persatuan Pembangunan (PPP), ataupun dengan isu mendirikan khilafah islamiyah seperti yang diperjuangkan oleh Organisasi Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Bagi PKS, yang jauh lebih penting adalah memperjuangkan nilai-nilai Islam yang mampu mewarnai seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks ini, para kader PKS yang berkiprah diberbagai lini seperti parlimen sentiasa memperjuangkan urgensi pengelolaan negara yang bersih clean government atau good government, iaitu pengelolaan yang bersih dari unsur rasuah atau penyalahgunaan kekuasaan. Selain itu PKS juga memperjuangkan penegakan hukum dan kepentingan publik yang menyentuh persoalan kesejahteraan, hak layanan kesihatan, hak pendidikan, dan sektor lainnya25.
Disamping itu, PKS juga mulai mentransformasikan dirinya dari gerakan tarbiyah menjadi gerakan sosial politik yang benar-benar manjadi bahagian dari masyarakat Indonesia. PKS mulai memperbanyak muatan tampilan khas ke-Indonesiaan dengan pendekatan kultur masyarakat. Setelah itu, barulah usaha Islamisasi masyarakat yang dicita-citakan PKS dapat dilaksanakan dengan lancar, sehingga jika parti telah menjadi bahagian masyarakat, proses memasyarakatkan
25
194
nilai dan tradisi Islam yang diwujudkan dalam aturan bersama dalam masyarakat akan lebih mudah dilaksanakan.26
Pendekatan yang dilakukan PKS dalam berpolitik setidaknya menggunakan konsep Fiqh Waqi‟ iaitu menentukan setiap sesuatu dengan mengambilkira keadaan realiti semasa sebagaimana konsep ini sebelumnya telah diusung oleh Yusuf al-Qaradhawi. PKS berusaha mengedapankan perjuangan politik Islam mereka dengan membingkainya dengan kemas dan cara-cara yang bijak, untuk itu PKS tidak pernah mengkempenkan agenda penegakkan syariat Islam secara terbuka, melainkan dengan cara mengaktualkan nilai-nilai Islam dan merekonstruksi nilai-nilai tersebut ditengah masyarakat. Inilah langkah yang lebih efektif dan bijak dalam menghadapi keberagaman masyarakat Indonesia.