• Tidak ada hasil yang ditemukan

New Business Development merupakan suatu area spesialisasi dalam suatu perusahaan yang berisikan beberapa tehnik investasi dan tanggung jawab yang memiliki tujuan untuk meraih customer baru dan mencoba untuk meraih pangsa pasar baru. Beberapa tehnik yang dapat dilakukan yaitu : mengakses beberapa peluang pasar dan target, mengumpulkan pengetahuan mengenai pelanggan dan competitor, mengumpulkan informasi dalam kemungkinan penjualan, memberikan draft mengenai proses investasi yang akan berkembang, mengikuti proses investasi, memberikan model desain bisnis yang akan diekspansi.

Hal – hal yang termasuk dalam Business Development adalah mengevaluasi beberapa peluang investasi dan bisnis dengan menggunakan beberapa pola yang dapat dipertimbangkan,yaitu : pemasaran, manajemen informasi yang berhubungan dengan pengetahuan manajemen, pelayanan terhadap pelanggan. Suatu organisasi atau

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

perusahaan memiliki suatu tujuan bahwa perusahaan tersebut tetap mengembangkan investasi perusahaan dan juga ekspansi bisnis yang akan dilakukan. Dengan tidak hanya berfokus kepada main product/main business yang memiliki perusahaan, secara tidak langsung dengan melakukan pemgembangan investasi akan meningkatkan pertumbuhan laba pada perusahaan tersebut.

Pengembangan bisnis selalu membutuhkan pendekatan disiplin disamping mengembangkan bisnis. Beberapa konsultan merekomendasikan beberapa strategi dalam peningkatan bisnis, yang didalamnya termasuk financial, legal dan advertising skill. Kemampuan kreativitas juga sangat dibutuhkan dalam bentuk investasi ini. Business

development memiliki dua metode dalam penggunaannya . yaitu antara lain : Sales – oriented (client – facing), Operational function to support expansion.

Dalam metode sales – oriented, Business Development berkonsentrasi terhadap pengembangan strategi channel relationship. Metode ini menggunakan pendekatan dimana investasi bisnis yang akan dilakukan dengan metode pendekatan terhadap relation (hubungan) yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dalam metode operational fuction

support expansion, business development berkonsentrasi terhadap analisis mengenai

deskripsi bisnis yang akan dilakukan perusahaan yaitu dimana perusahaan melakukan

job – search engine ,hal ini dilakukan perusahaan untuk menerapkan system bahwa

investasi dalam bidang pengembangan bisnis dilakukan untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan.

New business development merupakan salah satu opsi perusahaan dalam

menentukan aliran kas bebas perusahaan. Hal ini terjadi karena perusahaan yang berjalan baik dan memiliki profit dalam jumlah yang banyak atau dapat dikatakan memiliki slack

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

resources. Hal ini dapat digunakan untuk pengembangan bisnis baru (Andrew, 2008:94).

Bila perusahaan memiliki slack resources, dibutuhkan lembaga dalam suatu grup

(holding) perusahaan dengan peran sebagai advisor yang tugasnya mempelajari peluang.

Mencari dan mengevaluasi semua peluang bisnis baru yang bisa direalisasikan hingga menegosiasikan dan melakukan deal proyek investasi merupakan tahap yang harus dilakukan dalam business development. Beberapa tahap lainnya yaitu merancang tahap – tahap pada tiap proyek investasi dan mengawasi semua tahap pentingnya. Melakukan studi kelayakan dalam semua aspek mulai dari pendanaan hingga operasional, serta menyiapkan materi usulan kerja sama dengan calon mitra investasi antara lain :

Private equity investor, Hedge fund, Investment Bank, Bank, Perusahaan asuransi. Tidak

hanya itu New Business Development dilakukan sebagai salah satu bentuk pertanggung jawaban mecari investasi baru selain menjaga mitra lama. Dan juga harus memonitor semua proyek investasi yang tepat untuk masing – masing proyek tersebut.

Ada beberapa model dalam New Business Development, yaitu : Greenfield

Development, Acquisition (Akuisisi).

a. Greenfield Development

Dalam memasuki bisnis baru ada kalanya sebuah perusahaan merintis dengan mendirikan entitas Perseroan Terbatas (PT) baru, atau sering dikenal sebagai model Greenfield Development. Model Greenfield Development biasanya digunakan karena memungkinkan perusahaan membangun budaya perusahaan dan karakterisitik sumber daya manusia yang sesuai dengan platform di grup itu. Namun model ini memiliki beberapa kelemahan antara lain tidak dapat mempercepat pertumbuhan perusahaan.

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

Perusahaan juga melakukan model alternatif lain yaitu pola akuisisi yaitu pola dimana perusahaan tersebut berpatungan (joint venture) agar dapat mempercepat pertumbuhan bisnis perusahaan dan juga meminimalisir resiko yang dapat ditanggung bersama. Ada berbagai pola akuisisi yang dilakukan antara lain : Leverage Buyout (LBO),

Management Buyout (MBO), Akuisisi Saham Biasa.

Leverage Buyout (LBO) terjadi bila perusahaan mengambil alih kendali suatu

perusahaan dengan cara membeli saham mayoritas dengan menggunakan uang pinjaman atau hutang. Atau, kalaupun menggunakan uang sendiri porsi yang muncul lebih kecil dari dana pinjaman itu sendiri. Pola Leverage Buyout (LBO) banyak diterapkan untuk mengejar pertumbuhan karena biaya modalnya tidak besar berhubung mengandalkan pihak ketiga. Leverage Buyout (LBO) merupakan instrument yang banyak dilirik karena suatu perusahaan tidak harus mempunyai uang cash sendiri yang berjumlah besar untuk melakukan akuisisi. Perusahaan bermitra dengan investment bankers, pengelola dana pihak ketiga yang memang juga aktif mecari peluang investasi baru. Bahkan tidak hanya

investment bankers, tetapi bisa juga dari private equity investors, hedge fund, bank dan

perusahaan asuransi. Dalam model Leverage Buyout (LBO) diharuskan untuk mempunyai hubungan baik dengan barisan pengelola dana besar tadi.

Management Buyout (MBO) merupakan pola akuisisi dimana sebuah perusahaan

mengakuisisi sebuah perusahaan lengkap dengan tim manajemennya, dan biasanya Chief

Excecutive Officer (CEO) di perusahaan yang baru diakuisisi kemudian diberi hadiah

saham. Ide untuk akuisisi dengan pola MBO bisa berasal dari calon investornya yaitu grup usaha yang sedang mencanangkan pertumbuhan bisnis, dan hal ini juga bisa timbul dari pucuk kepemimpinan (CEO) di perusahaan yang hendak diakuisisi.

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

Akuisisi Saham Biasa merupakan pola akuisisi dimana investor publik melalui penawaran saham biasa / Initial Public Offering (IPO) di bursa, dengan cara menjual sebagian saham ke masyarakat atau mengeluarkan obligasi. Dalam hal ini, tidak mungkin perusahaan meng-go public-kan unit bisnis baru karena belum menguntungkan. Dan hal ini pasti tidak akan diterima pihak regulator bursa. Cara yang umum dilakukan adalah menjual sebagian saham perusahaan induk atau subholding dan diumumkan bahwa dana hasil Initial Public Offering (IPO) akan digunakan untuk membiayai pengembangan bisnis baru. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa New Business Development (NBD) merupakan salah satu faktor dalam meningkatkan profit perusahaan tersebut.

C. Profitabilitas

Pada umumnya profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Menurut Sartono (2001:120), “profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri”. Para investor tetap tertarik terhadap profitabilitas perusahaan karena profitabilitas mungkin merupakan satu – satunya indikator yang paling baik mengenai kesehatan keuangan perusahaan.

Pengukuran profitabilitas dapat dilakukan dengan membandingkan tingkat Return

On Investment (ROI) yang diharapkan dengan tingkat return yang diminta para investor

dalam pasar modal. Profitabilitas perusahaan biasanya diukur dengan menggunakan rasio keuangan yang diambil dari informasi akuntansi yang terdapat dalam laporan keuangan. Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan juga untuk mengetahui kemampuan perusahaan

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

menghasilkan laba dan juga untuk mengetahui efektivitas perusahaan dalam mengelola sumber – sumber yang dimilikinya. Sedangkan menurut Hanafi (2005 : 42) “Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilka keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, asset dan modal saham tertentu”. Mark, K; Peter, K; and Teck-Kin, S (2001) dalam Almilia dan Devi (2007) mengatakan bahwa rasio profitabilitas yang dikur diukur dengan ROI mempunyai pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan laba karena rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat asset tertentu. Ada tiga rasio yang biasa digunakan dalam mengukur tingkat profitabilitas perusahaan, yaitu : profit margin, return on investment, return on equity.

a. Profit Margin

Profit Margin menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Rasio ini juga bisa diinterprestasikan sebagai kemampuan perusahaan menekan biaya – biaya (ukuran efisiensi) di perusahaan pada periode tertentu (Hanafi, 2005 : 42). Untuk menghitung profitabilitas perusahaan digunakan rumus sebagai berikut :

PROFIT MARGIN =

Return On Investment (ROI) sering juga disebut sebagai Return On Assets (ROA).

ROI mengukur kemampuan perusahaan – perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat assets tertentu.

Laba Bersih setelah pajak Penjualan

Profit Margin yang tinggi menunjukkan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu. Secara umum, rasio yang rendah menunjukkan ketidakefisienan manajemen.

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

Untuk menghitung ROI digunakan rumus sebagai berikut : ROI =

ROE = Laba Bersih setelah pajak Total Ekuitas

Angka yang tinggi untuk ROE menunjukkan tingkat profitabilitas yang tinggi. Rasio ROE tidak memperhitungkan dividen maupun capital gain untuk pemegang saham. Karena itu, rasio ini bukan pengukur return yang diterima pemegang saham yang sebenarnya (Hanafi, 2005 : 43).

Bowlin et al (1980 : 30) membagi rasio profitabilitas menjadi dua kategori. - Profitabilitas dalam kaitannya dengan penjualan

Profitabilitas dalam kategori ini merefleksikan kemampuan manajemen perusahaan dalam mengontrol beban dan merubah penjualan menjadi laba. Untuk mengukur profitabilitas dalam kategori ini, digunakan rasio Gross Profit Margin.

- Peofitabilitas dalam kaitannya dengan investasi

Laba Bersih setelah pajak Total Assets

Semakin tinggi tingkat Return On Investment suatu perusahaan, semakin baik perusahaan tersebut.

c. Return On Equity (ROE)

Syamsuddin (2000 : 64) menyatakan “Return On Equity (ROE) merupakan suatu pengukuruan dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan”

Return On Equity (ROE) dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Kategori profitabiitas ini bertujuan untuk mengukur profitabilitas perusahaan dalam kaitannya dengan dana yang diinvestasikan yang digunakan untuk memaksimalkan

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

laba. Oleh karena itu, rasio profitabilitas yang digunakan dalam kategori ini dalam mengukur keefektifan manajemen perusahaan secara keseluruhan. Untuk mengukur profitabilitas dalam kategori ini, digunakan rasio Return On Investment atau Return On Assets.

D. Hubungan Investment Opportunity Set (IOS) dengan Profitabilitas

Selain untuk didistribusikan kepada para pemegang saham, sebagian sisa laba yang diperoleh oleh perusahaan akan digunakan untuk membiayai investasi. Apabila kondisi perusahaan sedang baik, perusahaan cenderung untuk melakukan investasi daripada membayar dividen dalam jumlah yang besar (Suharli, 2007). Hal yang seperti ini, tentu saja akan menimbulkan masalah kepentingan antara pemegang saham dan pihak manajemen. Apabila perusahaan mempunyai banyak aliran kas bebas, maka perusahaan cenderung untuk meningkatkan penggunaan uang kas untuk keuntungan perusahaan atau dengan kata lain perusahaan lebih memilih untuk melakukan investasi yang mempunyai nilai positif. Dengan demikian dapat dikatakan, apabila perusahaan mempunyai Investment Opportunity Set yang besar, maka profitabilitas pada perusahaan tersebut mengalami pertumbuhan.

E. Hubungan New Business Development dengan Profitabilitas

Investasi pengembangan bisnis merupakan bagian dari laba yang didistribusikan oleh pihak manajemen untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Semakin banyak investasi dalam sektor pengembangan bisnis yang dilakukan oleh perusahaan, sangat memungkinkan profitabilitas perusahaan semakin meningkat pula. Dengan demikian

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

dapat dikatakan bahwa apabila perusahaan melakukan investasi bisnis dengan menerapkan New Business Development, maka profitabilitas perusahaan semakin meningkat.

H. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Beberapa tinjauan terdahulu berkaitan dengan pengaruh suatu variabel bebas x terhadap variabel terikat profitabilitas. Adapun tinjauan terdahulu tersebut antara lain,

NO Nama Peneliti dan Tahun Terdahulu

Judul Penelitian

Variabel Penelitian Hasil Penelitian

1 Suharli, 2007

Pengaruh Profitabilitas dan

Investment Opportunity Set (IOS)

Terhadap Kebijakan Tunai dengan Likuiditas Sebagai Moderating Variabel

Dalam Penelitian ini yang digunakan

sebagai variabel adalah Profitabilitas

dan Investement Opportunity Set (IOS) sebagai variabel bebas dan

Kebijakan Tunai sebagai variabel terikat dengan Likuiditas sebagai variabel moderating Kebijakan Tunai perusahaan secara positif dipengaruhi oleh profitabilitas dan

diperkuat likuiditasnya dan Investment Opportunity Set (IOS) memberikan pengaruh yang negative terhadap tingkat pertumbuhan investasi perusahaan 2 Kasana, 2004

Analisis Moderasi Set Kesempatan Investasi Terhadap Hubungan

Antara Kebijakan Dividen dan Aliran Kas Bebas Dengan Tingkat Leverage

Perusahaan

Dalam penelitian ini yang digunakan

sebagai variabel adalah Set Kesempatan Investasi sebagai variabel bebas dan Kebijakan Dividen

dan Aliran Kas Bebas sebagai variabel terikat Set Kesempatan Investasi (Investment Opportunity Set) berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen perusahaan dan arus kas bebas

dengan tingkat leverage perusahaan

3 Basuki, 2004

Hubungan Aliran Kas Bebas dengan Kebijakan Dividen Perusahaan dengan Set Kesempatan Investasi Sebagai Variabel Moderasi Dalam penelitian ini yang digunakan

sebagai variabel bebas adalah Aliran

Kas Bebas dan sebagai variabel terikat adalah Set Kesempatan Investasi (Investment Opportunity Set) tidak mampu mempengaruhi hubungan aliran kas bebas dan kebijakan

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

Kebijakan Dividen dan Set Kesempatan Investasi sebagai variabel moderasi

dividen, kalaupun ada hubungannya sangat

kecil

Suharli (2007) melakukan penelitian yang mempelajari hubungan antara Profitabilitas dan Investment Opportunity Set (IOS) terhadap Kebijakan Tunai dengan Likuiditas sebagai Moderating Variabel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kebijakan Tunai perusahaan secara positif dipengaruhi oleh profitabilitas dan diperkuat likuiditasnya dan Investment Opportunity Set (IOS) memberikan pengaruh yang negatif terhadap tingkat pertumbuhan perusahaan. Penelitian yang dilakukan Kasana (2004) berusaha menganalisa Moderasi Set Kesempatan Investasi Terhadap Kebijakan Dividen dan Aliran Kas Bebas dengan Tingkat Leverage Perusahaan. Hasil analisa ini menunjukkan bahwa Set Kesempatan Investasi (Investment Opportunity Set) berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen dan aliran kas bebas dengan tingkat leverage perusahaan.

Penelitian Basuki (2004) meneliti hubungan aliran kas bebas dengan kebijakan Dividen perusahaan dengan Set Kesempatan Investasi sebagai variabel moderasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam aliran kas bebas secara individual berhubungan negatif dan tidak signifikan dengan kebijakan dividen tanpa memasukkan moderasi Set Kesempatan Investasi, demikian juga ketika menguji hubungan aliran kas bebas dengan kebijakan dividen memasukkan Set Kesempatan Investasi sebagai variabel moderasi hasilnya menggambarkan hubungan negatif dan tidak signifikan. Temuan empiris ini menjelaskan bahwa Set Kesempatan Investasi (Investment Opportunity Set) tidak mampu mempengaruhi hubungan aliran kas bebas dan kebijakan dividen, kalaupun ada hubungan

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

adalah sangat kecil.

I. Kerangka Konseptual dan Hipotesis 1. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan model yang menerangkan bagaimana Hubungan suatu teori dengan faktor – faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Berdasarkan uraian dari teoritis dan tinjauan penelitian terdahulu, maka variabel independent penelitian ini adalah Investment Opportunity Set (IOS) dan New Business

Development (NBD) dan variabel dependen adalah profitabilitas.

Perusahaan yang memiliki Investment Opportunity set yang baik dan juga memiliki pusat pengembangan bisnis (business development) yang berkembang dengan bak dalam melakukan ekspansi bisnis merupakan berita yang baik bagi investor dan calon investor serta memiliki pengaruh yang positif terhadap tingkat profitabilitas perusahaan. Menurut Van Horne (2005 : 222) “ profitabilitas merupakan ratio yang menghubungkan laba dari penjualan dan investasi”. Profitabilitas yang tinggi menggambarkan keuntungan perusahaan yang meningkat yang berarti perusahaan mampu untuk melakukan inve4stasi dan melakukan ekspansi bisnis. Investasi Oppurtunity Set (IOS) merupakan opsi investasi masa depan perusahaan yang tidak semata – mata hanya ditunjukkan dengan adanya proyek – proyek yang didukung oleh kegiatan riset dan pengembangan saja , tetapi juga dengan kemampuan perusahaan yang lebih tinggi dala mengeksploitasi kesempatan mengambil keuntungan dibandingkan dengan perusahaan lain yang setara dalam suatu kelompok industrinya. Apabila dalam suatu perusahaan memiliki investment

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

opportunity set yang tinggi, hal ini berarti aliran kas bebas dalam perusahaan atau laba

perusahaan yang dihasilkan sebagian besar akan digunakan untuk pengembangan bisnis baru yang akan mendukung pertumbuhan perusahaan.

Penelitian yang dilakukan Suharli (2007) menunjukan bahwa adanya pengaruh antara Invesment opportunity set (ISO) dengan kebijakan deviden dengan kata lain hal ini menunjukan bahwa Investment Oppurtunity set menunjukan pengaruh positif terhadap pengembangan bisnis dan ekspasi perusahaan. Penelitian Karsana (2004) dan Basuki (2004) menunjukan hasil yang sama yaitu Invesment Opurtunity set berpengaruh positif terhadap investasi namun berpengaruh sebaliknya terhadap kebijakan deviden.

Profitabilitas akan diukur dengan menggunakan Return On Investment (ROI),

Investment Oppurtunity Set (IOS) akan diukur dengan Market Value Of Equity to Book Value Of Equity (MVEBVEA) dan Capital Expenditure to Book Value Of Assets (CAPBVA) dan New Business Development (NBD) akan diukur dengan Dummy Variabel.

Maka hubungan antara Invesment Opportunity Set (IOS), dan New Business

Development (NBD) dengan Profitabilitas dapat digambarkan sebagai berikut :

Tingkat Profitabilitas Y Investment Opportunity Set (IOS) X1 New Business Development (NBD) X2

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

. 2. Hipotesis Penelitian

Menurut Erlina (2007: 41) “hipotesis adalah proposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris’’.Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah akan yang diuji kebenaranannya, melalui analisis data yang relevan dan kebenarannya akan diketahui setelah dilakukan penelitian. Berdasarkan tinjauan teoritis dan kerangka konseptual yang diuraikan sebelumnya., Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Investment Opportunity Set dan New Business Development berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan manufaktur”.

Arief Rachman : Pengaruh Investment Opportunity Set (Ios) Dan New Business Development (NBD) Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia), 2010.

BAB III

Dokumen terkait