Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti saat kebelum hamil. Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 2 jam setelah
lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah itu. Dalam bahasa latin,waktu mulai tertentu setelah melahirkan anak ini disebut masa puerperium yaitu kata puer yang berarti bayi dan parous yang atinya melahirkan. Jadi, puerperium artinya melahirkan bayi.(vivian,asuhan kebidanan pada ibu nifas;2011)
2. Tujuan Asuhan pada Masa Nifas
Mendeteksi adanya perdarahan masa nifas, Tujuan perawatan masa nifas adalah untuk menghindari adanya kemungkinan post partum dan infeksi. Oleh karena itu, penolong persalian harus tetap waspada, sekurang-kurangnya sejam post partum untuk mengatasi kemungkinan terjadinya komplikasi persalinan.
Menjaga kesehtan ibu dan bayinya baik fisik maupun psikologis. Melaksanakan skrining komprehensif, yaitu dengan mendeteksi masalah, mengobati,merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
Memberikan pendidikan kesehatan diri, memberikan pelayanan kesehatan perawatan diri, nutrisi KB , menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya,dan perawatan bayi sehat. Serta memberikan pelayanan keluarga berencana.(saleha : 2009:hal 65)
3. Tahapan Masa Nifas
a. Periode immediate postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu, bidan dengan teratur harus melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokhea, tekanan darah, dan suhu.
b. Periode early postpartum ( 24 jam- 1 minggu)
Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lokhea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
c. Periode late postpartum ( 1 minggu – 5 minggu )
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB.(saleha:2009:hal 5)
4. Tahapan Kunjungan Masa Nifas
Paling Sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah,mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.
Tabel 1.3
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6-8 jam
sesudah persalinan
-mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
-mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan: rujuk bila perdarahan berlanjut.
-Pemberian ASI awal.
-Melakukan hubungan antara Ibu dan Bayi baru lahir. -menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
2 6 hari
setelah persalinan.
-memastikan involusi uteri berjalan normal:uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
-menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
-pastikan ibu mendapatkan cukup makanan,istirahat dan cairan.
-memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak memperlihatkan penyulit.
-memberikan konseling pada ibu tentang perawatan bayi, tali pusat dan menjaga bayi tetap hangat.
3 2 minggu
setelah persalinan
Sama seperti pada kunjungan 6 hari
4 6 minggu
setelah persalinan
-menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia dan bayi alami.
-memberikan konseling suntik KB.
(prawirohardjo:2010:hal 123)
5. Peran bidan pada masa nifas
Peran bidan pada masa nifas adlah sebagai berikut:
a. Memberi dukungan yang terus menerus selama masa nifas yang baik dan sesuaidengan kebutuhan ibu agar mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama persalinan dan nifas. b. Sebagai promotor hubungan yang erat antara ibu dan bayi secara
fisik dan psikologis.
c. Mengondisikan ibu untuk menyusui bayinya dengan cara meningkatkan rasa nyaman.(saleha:2009:hal 5)
6. Fisiologi Laktasi
7. Manfaat pemberian ASI a. Bagi bayi
Pemberian ASI membantu bayi memulai kehidupan dengan baik. Kolostrum, susu jolong atau susu pertama mengandung antibodi yang kuat untuk mencegah infeksi dan membuat bayi menjadi kuat. Penting sekali memberikan ASI pada bayi pada jam pertama sesudah lahir dan kemudian setidaknya setiap dua atau tiga jam.(Nurul jannah : 2011: hal 31)
b. Bagi ibu
1) Mencegah perdarahan pasca persalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula.
2) Mencegah anemia defisiensi zat besi.
3) Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil. 4) Menunda kesuburan.
5) Menimbulkan perasaan dibutuhkan.
6) Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium. (saleha:2009:hal 32)
c. Manfaat bagi keluarga
1) Mudah dalam proses pemberiannya. 2) Mengurangi biaya rumah tangga.
3) Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat biaya unyuk berobat. (saleha:2009:hal 33)
Bayi Menyusu Menghambat Ovulasi Meningkatkan Produksi ASI Melepaskan Oksitosin Meningkatnya Kadar Prolaktin Merangsang involusi uterus Kontraksi sel mioepitel ASI dikeluarkan
d. Manfaat bagi negara
1) Penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat-obatan.
2) Penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula dan perlengkapan menyusui.
3) Mengurangi polusi.
Mendapatkan SDM yang berkualitas. (saleha:2009:hal 32) 8. Perubahan Fisiologi Masa Nifas
Perubahan sistem reproduksi
a. Uterus
Definisi Involusi Uteri
Involusi uteri adalah proses kembalinya uterus ke ukuran semula sebelum hamil, sekitar kurang lebih 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus.(Nurul jannah : 2011: hal 63)
Proses Involusi Uteri
Pada akhir kala III persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilicus dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. Pada saat ini, besar uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu dengan berat 1000 gram. (Nurul jannah : 2011: hal 63)
Perubahan-perubahan normal pada uterus selama postpartum Tabel. 1.4
Involusi Uteri Tinggi Fundus Uteri
Berat Uterus Diameter Uterus
Plasenta lahir Setinggi pusat 1000gram 12,5 cm
7 hari (minggu1) Pertengahan pusat dan sympisis.
500gram 7,5cm
14 hari (minggu 2) Tidak teraba 350gram 5cm
6 minggu Normal 60gram 2,5cm
(Nurul jannah : 2011: hal 68)
b. Endometrium
Perubahan pada endometrium adalah timbulnya tromosis,
degenerasi, dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai
permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua, dan selaput janin. Setelah tiga hari mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut pada bekas implantasi plasenta.
( saleha :2009:hal 57)
c. Serviks
Segera setelah berakhirnya kala IV, serviks menjadi sangat lembek, kendur, dan terkulai. Serviks tersebut bisa melepuh dan lecet, terutama dibagian anterior. Serviks akan terlihat padat yang mencerminkan vaskularitasnya yang tinggi, lubang serviks lambat laun mengecil, beberapa hari setelah persalinan dari retak karena robekan dalam persalinan. Rongga leher serviks bagian luar akan membentuk seperti keadaan sebelum hamil pada saat empat minggu post partum.(saleha:2009:hal57)
d. Vagina
Vagina dan lubang vagina pada permulaan puerperium merupakan suatu saluran yang luas berdinding tipis. Secara berangsur-angsur luasnya berkurang, tetapi jarang sekali kembali seperti ukuran seorang nulipara. Ruage timbul kembali pada minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan jaringan yang kecil, yang dalam proses pembentukan berubah menjadi karunkulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara.(saleha:2009: hal 57)
e. Payudara
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologis, yaitu sebagai produksi susu dan sekresi susu atau let down.
Selama sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, keika hormon yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk menghambat kelenjar pituitari akan mengeluarkan prolaktin pada payudara mulai dirasakan. Pembuluh darah oayuara
menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak dan rasa sakit. Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi. Ketika bayi menghisap puting, reflek saraf merangsang lobus posterior pituitari untuk menyekresi hormon oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let down (mengalirkan), sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus aktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada puting. Ketika ASI dialirkan karena isapan bayi atau dengan dipompa sel-sel acini terangsang untuk menghasilkan asi lebih banyak. Reflek ini dapat dijumpai dalam waktu yang lama. (saleha:2009:hal 58)
f. Perinium
Setelah persalinan, perinium menjadi kendur karena tergang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pulihnya tonus otot perinium sekitar 5-6 minggu postpartum. Latihan senam nifas baik untuk mempertahankan elastisitas otot perinium dan organ-organ reproduksi lainnya. Luka
episiotomi akan sembuh dalam 7 hari post partum. Bila terjadi infeksi, luka episiotomi akan terasa nyeri, panas, merah dan bengkak. (Nurul jannah : 2011: hal 71)
Perubahan sistem pencernaan a. Nafsu Makan
1) Ibu biasanya lapar setelah melahirkan. 2) Ibu boleh mengkonsumsi makanan ringan.
3) Ibu akan merasa sangat lapar setelah benar-benar pulih dari efek analgesik, anastesi, dan keletihan. (Nurul jannah : 2011: hal 72)
b. Defekasi
1) Buang air besar spontan bisa tertunda selama 2 sampai 3 hari setelah ibu melahirkan.
2) Buang air besar tidak lancar disebabkan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan awal masa pasca-persalinan, diare sebelum persalinan, kurang makan, atau dalam keadaan dehidrasi.
3) Kebiasaan buang air besar teratur perlu dicapai setelah tonus usus kembali pada keadaan normal. (Nurul jannah : 2011: hal 72)
Perubahan pada sistem perkemihan
Pelvis ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi selama kehamilan kembali nomal pada akhir minggu keempatsetelah melahirkan. Pemeriksaan sistokopik segera setelah melahirkan menu jukan tidak ada oedema dan hiperemia dinding kandung kemih, tetapi sering kali terdapat ekstravasasi darah pada submukosa.
Kurang lebih 40% wanita nifas mengalami proteinuria yang nonpatologis sejak pasca melahirkan sampai dua hari post partum agar dapat dikendalikan. Oleh karena itu, contoh spesimen diambil melalui kateterisasi agar tidak terkontaminasi dengan lokhea yang non patologis. Hal ini dapat dilakukan hanya bila tidak ada tanda dan gejala infeksi saluran kemih dan preeklamsi. ( saleha:2009: hal 59)
Perubahan tanda – tanda vital
Perubahan tanda- tanda vital yang harus dikaji pada masa nifas adalah sebagai berikut:
Suhu
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat celcius. Sesudah partus dapat naik kurang lebih 0,5 derajat celcius dari keadaan normal, namun tidak akan melebihi 8 drajat celcius. Sesudah dua jam pertama melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu lebih dari 38 derajat celcius, mungkin terjadi infeksi pada klien. (saleha:2009:hal 61)
Nadi dan Pernafasan.
Nadi berkisar antara 60-80 denyutan permenit setelah partus, dan dapat terjadi bradikardia. Bila terapat takikardia dan suhu tubuh tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada vitimus kordis pada penderita. Pada masa nifas umumnya denyut nadi labil dibandingkan dengan
suhu tubuh, sedangkan pernafasan akan sedikit meningkat setelah partus kemudian kembali seperti keadaan semula. (saleha:2009:hal 61)
Tekanan darah
pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi post partum akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak terdapat penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam setengah bulan tanpa pengobatan.(saleha:2009:hal 61)
5. Lochkea
Lochkea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas.
Lochkea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus. Lochkea mempunyai reaksi basa / alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada kondisi vagina normal. Lochea mempunyai bau amis/anyir seperti darah menstruasi meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Lochea yang berbau tidak sedap menandakan adanya infeksi. Lechea mempunyai perubahan karena proses involusi. (Nurul jannah : 2011: hal 69)
Berikut adalah beberapa jenis lochea yang terdapat pada wanita pada masa nifas.
a. Lochea rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel
desidua, vernik caseosa, lanugo dan mekonium selama 2 hari pasca persalinan. Inilah lochkea yang akan keluar selama dua sampai tiga hari post partum.( saleha:2009:hal 56)
b. Lokhea sanguilenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir yang keluar pada hari ke 3 sampai ke 7 pascapersalinan.
c. Lokhea serosa
Adalah lokhea berikutnya. Dimulai dengan versi yang lebih pucat dari lochea rubra. Lokhea ini berbentuk serum
berwarna merah jambu kemudian menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari ke 7 sampai 14 pasca persalinan.
d. Lochea alba adalah lochea yang terakhir. Dimulai dari hari ke 14 kemudian makin lama makin sedikit hingga sama sekali berhenti hingga 1 atau dua minggu berikutnya. (saleha : 2009: hal 56)
9. Penyesuaian psikologi pada masa postpartum a. Taking-in (1-2 hari postpartum)
Wanita menjadi pasif dan sangat tergantung serta berfokus pada dirinya, tubuhnya sendiri. Mengulang-ulang menceritakan pengalaman proses persalinan yang dialami.
Wanita yang baru melahirkan ini perlu istirahat atau tidur untuk mencegah gejala kurang tidur dengangejala lelah, cepat tersinggung, campur baur dengan proses pemulihan.
b. Taking-hold (2-4 hari postpartum)
Ibu khawatir akan kemampuannya untuk merawat bayinya dan khawatir tidak mampu bertanggung jawab untuk merawat bayimya. Wanita pada masa ini sangat sensitif akan ketidakmampuannya, cepat tersinggung, dan cenderung menganggap pemberitahuan bidan atau perawat sebagai teguran.
c. Leting-go
Pada masa ini umumnya ibu sudah mengambil tanggung jawab untuk merawat bayinya, dia harus menyesuaikan diri denagn ketergantungan bayi. Depresi postpartum sering terjadi pada masa ini. (Anggraeni, 2010, hal; 80-81)
10. Deteksi dini dan komplikasi pada masa nifas
a. Retensio sisa plasenta (tertinggalnya sebagian plasenta)
Sewaktu suatu bagian dari plasenta tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif, keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan
b. Inversio uterus
Dikatakan bila mengalami inversi jika bagian dalam menjadi di luar saan melahirkan plasenta, reposisi.
c. Sub involusi ueteri
Proses involusi rahim tidak berjaan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan rahim terhambat. Penyebab terjadinya involusi uteri adalah terjadinya infeksi pada
endometrium, terdapat sisa plasena dan selaputnya, terdapat pembekuan darah atau mioma uteri.
d. Perdarahan masa nifas sekunder
Adalah perdarahan yang terjadi pada 24 jam pertama. Penyebabnya adalah terjadinya infeksi pada endometrium dan terdapat sisa plasenta dan selaputnaya. (Anggraeni, 2010, hal; 93-94 dan 98)
E. BAYI BARU LAHIR