BAB I PENDAHULUAN
B. Nilai-nilai Kongregasi SPM
2. Nilai-nilai Khas Julie Billiart menjadi Pedoman bagi SPM
Nilai-nilai yang khas dihidupi oleh Julie Billiart sebagai Ibu Rohani Kongregasi dijadikan pedoman bagi SPM. Nilai-nilai tersebut adalah 1) iman yang kuat akan penyelenggaraan Tuhan yang Mahabaik, 2) peka akan tanda-tanda zaman, 3) solider terhadap mereka yang miskin dan terlantar.
a. Iman yang kuat akan penyelenggaraan Tuhan yang Mahabaik.
Iman Julie Billiart akan penyelengaraan Tuhan yang Mahabaik terbukti/nampak pada waktu dia mengalami penderitaan. Iman semacam itulah seperti dirumuskan dalam Dei Verbum “…kepada Allah yang menyampaikan wahyu, manusia wajib menyatakan ketaatan iman. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan” (Dei Verbum art.5).
Iman yang lahir dari sebuah penderitaan akan membuahkan suatu harapan. Oleh karena itu yang harus dimiliki dalam menghadapi suatu derita adalah “ketaatan”. Julie Billiart menyerahkan diri kepada kehendak Allah dengan motto hidup yang selalu diserukan olehnya yaitu“Alangkah baiknya Tuhan yang Mahabaik”. Seperti termuat dalam Dei Verbum art. 8 yang menegaskan bahwa tradisi yang berasal dari para Rasul itu berkat
bantuan Roh Kudus berkembang dalam gereja: sebab berkembanglah pengertian tentang kenyataan-kenyataan maupun kata-kata yang diturunkan, baik karena kaum beriman, yang menyimpannya dalam hati, merenungkan serta mempelajarinya, maupun karena menyelami secara mendalam pengalaman-pengalaman rohani mereka. Pengalaman inilah yang menjadi kekayaan rohani Julie Billiart yakni penderitaan tidak ditolak namun dipakai sarana untuk cinta Allah yang melimpah-limpah sehingga melahirkan kehidupan baru.
Kekuatan iman semacam itu ingin dihidupi oleh SPM dan ditawarkan kepada guru-pegawai sebab zaman sekarang begitu banyak orang menolak penderitaan. Padahal penderitaan adalah bagian dari kehidupan yang tidak dapat ditolak datang maupun perginya. Sekaligus pentingnya sikap selalu mensyukuri hidup terhadap Sang pemberi Hidup. Untuk itu nilai-nilai yang ditawarkan adalah sebagai berikut:
1) Bersyukur. Orang yang percaya penuh pada Tuhan yang Mahabaik selalu dapat bersyukur, sekalipun menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan dalam hidup. Orang yang demikian merasa yakin bahwa ada berkat di balik segala peristiwa, meski peristiwa yang paling pahit sekalipun.
2) Bertahan dalam kesulitan. Setelah adanya sikap syukur, memiliki prinsip yang jelas, ciri-ciri bahwa seseorang memiliki iman yang kuat akan penyelenggaraan Tuhan yang Mahabaik adalah mampu bertahan
dalam kesulitan. Artinya bahwa dalam kehidupan nyata sehari-hari seringkali tidak semuanya berjalan lancar dan mulus sesuai dengan rencana dan kehendak kita. Orang yang beriman kuat akan Tuhan yang Mahabaik tetap mampu bertahan dalam kesulitan seberat apapun karena yakin bahwa Tuhan selalu menyertai.
3) Berprinsip. Orang yang mampu mensyukuri setiap kejadian dan pengalaman hidup tidak akan mudah terbawa oleh arus perubahan zaman. Dengan kata lain orang yang berprinsip adalah orang mampu bertahan dalam pendirian/keputusan, dan keputusan tersebut didasari oleh berbagai pertimbangan bukan berdasarkan antara suka dan tidak suka atau unsur subyektivitas pribadi.
4) Rela berkorban. Akhirnya orang yang mengalami kebaikan Tuhan akan menggerakkan pribadi yang bersangkutan rela berkorban bagi sesama/orang lain. Kerelaan berkorban sebagai perwujudan akan penyerahan totalnya kepada Tuhan.
b. Peka akan tanda-tanda zaman
Julie Billiart tergerak untuk menolong sesama meski dia mengalami penderitaan. Tindakan Julie Billiart tersebut sejalan dengan Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern (GS, art. 1) tentang Gereja yang berbagi kegembiraan dan harapan, penderitaan dan kegelisahan dengan sesama zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan
kecemasan para murid Kristus. Julie Billiart adalah murid Kristus juga, sebagai murid Kristus dia selalu tergerak untuk menolong mereka yang miskin dan tertindas. Gaya hidup yang semacam itu disebut pribadi “militan”, yaitu pribadi yang bersemangat tinggi, dan penuh gairah.
Pribadi “militan” perlu dimiliki pula oleh guru-pegawai yang bekerja di lingkungan SPM di zaman sekarang ini. Pribadi yang tangguh, mampu berbagi kegembiraan dan harapan, namun juga mampu menanggung, menerima duka dan kecemasan bersama, mampu bertindak serta berpihak untuk menolong mereka yang miskin dan tertindas. Nilai-nilai yang ditawarkan oleh SPM adalah sebagai berikut:
1) Berani melawan arus: orang yang berani melawan arus mengandaikan bahwa orang tersebut memiliki prinsip yang jelas dan kuat. Berani menanggung segala konsekuensi dari apa yang telah diputuskan dan benar sekalipun hal tersebut bertentangan dengan pendapat banyak orang. Dan yang terpenting adalah memperjuangkan kebenaran demi terciptanya martabat manusia sebagai citra Allah.
2) Berdedikasi: orang yang berdedikasi adalah orang yang memiliki komitmen tinggi terhadap segala tugas yang dipercayakan pada orang tersebut. Orang tersebut juga berani berkorban demi suksesnya tugas, berani bekerja keras demi tercapainya cita-cita bersama.
3) Kreatif: orang yang kreatif adalah orang yang memiliki banyak ide untuk melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Apabila
mengalami kesulitan orang yang kreatif tidak mudah putus asa melainkan selalu mendapatkan ide untuk mengatasinya.
c. Solider terhadap mereka yang miskin dan menderita
Julie Billiart mengalami penderitaan dalam kurun waktu yang lama. Namun dia mampu mengubah pengalaman menderita sebagai sarana Allah menyalurkan Rahmat dan cinta-Nya yang berlimpah-limpah. Julie menerima, menyerah, dan percaya pada kehendak Allah, sebagaimana termuat dalam GS art. 11 sebagai berikut: “umat Allah, terdorong oleh iman, bahwa mereka dibimbing oleh Roh Kudus, berusaha mengenali peristiwa-peristiwa, tuntutan, dan aspirasi untuk menangkap isyarat kehadiran Allah”.
Pengenalan Julie akan kehadiran Allah dalam setiap peristiwa hidupnya membawa dia untuk mengenali dan juga memahami orang lain/sesama lebih-lebih mereka yang miskin dan tertindas/menderita. Julie mampu mewujudkan perasaan senasib, dan sepenanggungan dengan mereka. Hal itu juga ditekankan oleh GS art. 27 bahwa sikap hormat terhadap manusia, sehingga setiap orang wajib memandang sesamanya, tak seorangpun terkecualikan, sebagai “dirinya yang lain”. Atau dengan kata lain sikap hormat terhadap sesama dilandasi oleh keyakinan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (GS art. 12). Oleh karena itu memperjuangkan kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah menjadi sangat penting.
Sikap hormat terhadap sesama dan perjuangan untuk kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah adalah penting dan perlu dihidupi bagi guru-pegawai di lingkungan SPM karena zaman sekarang banyak penderitaan dan kurangnya penghargaan terhadap hidup manusia. Untuk itu bagi guru-pegawai ditawarkan nilai-nilai sebagai berikut:
1) Bersemangat kasih. Orang yang solider tentu juga dilandasi oleh semangat kasih. Artinya bahwa seseorang mampu menyatakan perasaannya bersatu atau senasib dengan yang miskin dan yang hina apabila orang tersebut memiliki kasih. Mampu mengasihi orang lain bahwa orang lain adalah citra Allah.
2) Empati terhadap penderitaan sesama. Orang yang solider juga mampu berempati. Artinya orang mampu memahami dan menempatkan diri pada pihak yang menderita tanpa harus larut dalam penderitaan tersebut. Sehingga orang tersebut masih mampu bertindak untuk menolong sesuai dengan kebutuhan.
3) Sederhana. Yang dimaksud dengan sederhana adalah bersemangat apa adanya. Tidak mencari-cari yang di luar kemampuannya. Meskipun memiliki banyak hal namun orang yang sederhana tetap mampu menghargai orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangan tanpa meremehkan orang lain.