• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

C. Aktualisasi-Diri menurut Abraham Maslow

3. Sifat-sifat Orang yang Teraktualisasi-diri

Beberapa sifat umum dari orang-orang yang telah teraktualisasi-diri ialah telah memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang lebih rendah secara teratur dan telah berusia setengah tua atau lebih tua. Meskipun demikian Maslow berpikir bahwa orang-orang yang lebih muda memperlihatkan “pertumbuhan yang baik ke arah aktualisasi-diri” (Schultz, 1991: 98).

Oleh karena itu berikut ini disajikan sifat-sifat yang menggambarkan orang-orang yang teraktualisasi-diri (Goble, 1987: 51-61).

d. Mengamati Realitas Secara Efisien

Orang-orang yang teraktualisasi-diri mengamati obyek-obyek di sekitarnya secara obyektif. Mereka tidak memandang dunia hanya sebagaimana mereka inginkan atau butuhkan, melainkan mereka melihat sebagaimana adanya. Maslow (Schultz, 1991: 99) memberikan contoh hakim yang teliti terhadap orang lain, mampu menemukan dengan cepat penipuan dan ketidakjujuran.

e. Penerimaan Umum atas Kodrat, Orang-orang Lain dan Diri Sendiri

Orang-orang yang mengaktualisasikan-diri menerima diri sendiri, baik kelemahan-kelemahan maupun kekuatan-kekuatan mereka tanpa keluhan atau kesusahan. Karena sudah menerima diri maka tidak perlu mengubah

atau memalsukan diri mereka. Mereka tidak defensif atau bersembunyi di belakang topeng atau peranan social. Juga mampu menerima orang lain apa adanya.

f. Spontanitas, Kesederhanaan, Kewajaran

Dalam semua segi kehidupan, orang-orang yang teraktualisasi-diri bertingkah laku secara terbuka dan langsung tanpa berpura-pura. Mereka dapat memperlihatkan emosi-emosi dengan jujur dengan isitilah lain dapat dikatakan bahwa orang-orang yang teraktualisasi-diri mampu bertingkah laku secara kodrati, yakni sesuai dengan kodrat mereka. Namun orang-orang yang teraktualisasi-diri juga bijaksana dan penuh perhatian terhadap orang-orang lain.

d. Fokus pada Masalah-masalah di Luar Diri Mereka

Orang-orang yang mengaktualisasikan-diri melibatkan diri pada pekerjaan. Mereka memiliki dedikasi kerja yang tinggi. Melalui dedikasi yang hebat pada pekerjaan, orang-orang yang mengaktualisasikan-diri dapat mencapai atau memenuhi metakebutuhan-metakebutuhan. Mereka melakukan pekerjaan bukan hanya semata-mata untuk mendapatkan uang, popularitas, atau kekuasaan, melainkan untuk memuaskan metakebutuhan-metakebutuhan, menantang, dan mengembangkan kemampuan-kemampuan mereka, menyebabkan mereka bertumbuh sampai pada tingkat potensi mereka yang paliang tinggi. Sehingga orang-orang yang

memiliki sifat-sifat demikian nampak bekerja lebih keras daripada orang-orang biasa.

e. Kebutuhan akan Privasi dan Independensi

Orang-orang yang mengaktualisasikan-diri memiliki suatu kebutuhan yang kuat untuk mandiri. Meskipun mereka tidak menjauhkan diri dari kontak dengan manusia. Mereka tidak tergantung pada orang lain untuk kepuasan-kepuasan mereka, sehingga kesannya tidak ramah dan kadang-kadanng mengalami kesulitan-kesulitan sosial.

f. Berfungsi secara Otonom

Orang-orang yang teraktualisasi-diri berfungsi secara otonom. Mereka tidak didorong oleh motif-motif kekurangan melainkan pemuasan dari motif-motif dari dalam. Oleh karena itu perkembangan mereka lebih tergantung pada potensi-potensi dan sumber-sumber dari dalam mereka sendiri.

g. Apresiasi yang Senantiasa Segar

Orang-orang yang teraktualisasi-diri senantiasa menghargai seluruh pengalaman dengan suatu perasaan yang segar, perasaan terpesona, dan kagum. Mereka mampu selalu bersyukur atau berterima kasih terhadap apa yang mereka miliki dan mereka alami.

h. Pengalaman-pengalaman Mistik atau “Puncak”

Orang-orang yang mengaktualisasikan-diri ada kesempatan-kesempatan tertentu mengalami ekstase, kebahagiaan, perasaan terpesona yang hebat

dan meluap-luap, sama seperti pengalaman-pengalaman keagamaan yang mendalam (Schultz, 1991: 105). Namun tidak semua pengalaman puncak itu sangat kuat; dapat juga pengalaman-pengalaman yang ringan dan itu dapat terjadi setiap hari.

i. Minat Sosial

Orang-orang yang teraktualisasi memiliki perasaan empati dan afeksi yang kuat dan dalam terhadap semua manusia. Mereka mencintai sesama manusia atau mencintai kemanusiaan. Mereka bisa merasa tertekan dan menjadi marah ketika orang lain bertingkah laku bodoh, lemah, dan kasar, meskipun mereka juga cepat memahami dan memaafkannya.

j. Hubungan Antarpribadi

Orang-orang yang mengaktualisasikan-diri mampu mengadakan hubungan yang lebih kuat dengan orang-orang lain. Mereka mampu memiliki cinta yang lebih besar dan persahabatan yang lebih mendalam. Meski jumlah sahabat mereka lebih sedikit karena mereka lebih suka berada bersama orang-orang yang memiliki nilai-nilai dan sifat-sifat yang sama. Kendati demikian mereka sabar dan baik hati terhadap setiap orang.

k. Struktur Watak Demokratis

Orang-orang yang sehat membiarkan dan menerima semua orang tanpa memperhatikan kelas social, tingkat pendidikan, golongan politik atau

agama, ras, warna kulit. Mereka siap mendengarkan siapa saja atau siap belajar dari siapa saja yang dapat mengajarkan sesuatu kepada mereka. l. Perbedaan antara Sarana dan Tujuan, antara Baik dan Buruk

Pengaktualisasi-pengaktualisasi-diri membedakan dengan jelas antara sarana dan tujuan. Bagi mereka tujuan atau cita-cita jauh lebih penting daripada sarana. Mereka juga mampu membedakan dengan jelas antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Mereka memiliki norma-norma etis dan moral yang dirumuskan dengan baik yang mereka pegang teguh dalam semua situasi.

m. Perasaan Humor yang Tidak Menimbulkan Permusuhan

Orang-orang yang teraktualisasi-diri memiliki humor yang bersifat filosofis; humor yang menertawakan manusia pada umumnya. Humor yang bersifat instruktif, yang dipakai langsung kepada hal yang dituju dan juga menimbulkan tertawa.

n. Kreativitas

Kreativitas di sini disamakan dengan daya cipta dan daya khayal naïf yang dimiliki anak-anak, suatu cara yang tidak berprasangka dan langsung melihat kepada hal-hal. Kadang-kadang kreativitas ini hilang karena pengaruh sekolah dan kekuatan-kekuatan social lain, namun bagi orang-orang yang teraktualisasi-diri tetap mempertahankannya.

o. Resistensi terhadap Inkulturasi

Orang-orang yang teraktualisasi-diri dapat berdiri sendiri dan otonom, mampu melawan dengan baik pengaruh-pengaruh sosial, untuk berpikir

atau bertindak menurut cara-cara tertentu. Mereka mempertahankan batin, tidak terpengaruh oleh kebudayaan mereka, dibimbing oleh diri mereka bukan oleh orang lain. Namun demikian mereka tidak terus terang menentang kebudayaan. Mereka tidak sengaja melanggar aturan-aturan sosial untuk memperlihatkan independensi. Mereka menjadi sangat konvensional dalam hal berpakaian, tata krama, atau apa saja yang dianggapnya tidak penting bagi mereka.

4. Sifat-sifat pribadi yang teraktualisasi-diri yang sudah dihidupi Julie Billiart

Dokumen terkait