KAJIAN PUSTAKA
DESKRIPSI PEMIKIRAN
A. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Q.S Al- An’am ayat 151-153
َلَّ َٔ بًَبَعْحِإ ٍِْيَدِنا َْٕنبِث َٔ بًئْيَش ِِّث إُك ِسْشُت َّلََّأ ْىُكْيَهَع ْىُكُّثَز َوَّسَح بَي ُمْتَأ ا َْٕنبَعَت ْمُل
َسََٓظ بَي َش ِحا ََٕفْنا إُث َسْمَت َلَّ َٔ ْىُْبَّيِإ َٔ ْىُكُلُش ْسََ ٍُْحََ ٍق َلَْيِإ ٍِْي ْىُكَد َلَّ َْٔأ إُهُتْمَت
ٍََطَث بَي َٔ بَُِْٓي
ْىُكَّهَعَن ِِّث ْىُكبَّص َٔ ْىُكِنَذ ِّكَحْنبِث َّلَِّإ ُ َّللَّا َوَّسَح يِتَّنا َطْفَُّنا إُهُتْمَت َلَّ َٔ
( ٌَُٕهِمْعَت
151
)
(151) “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh
Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).
55
1. Larangan Berbuat syirik
syirik adalah Syirik adalah sebesar-besar dosa yang seorang hamba lakukan terhadap Zat Yang telah menciptakan dan mengaruniakannya
berbagai macam nikmat yang tiada terhinga. Allah ta‟ala berfirman:
بًئْيَش ِِّث إُك ِسْشُت َّلََّأ
janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia
Betapa besarnya kedzaliman seorang hamba yang berlaku syirik,
maka Allah telah menetapkan beberapa konsukwensi logis yang akan diterima oleh orang tersebut sebagai hukuman atas kejehatan terbesar yang telah diperbuat, sanksi di dunia dan di akhirat.
Saikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,” syirik ada dua macam, pertama syirik dalam rububiyyah, yaitu menjadikan sekutu selain Allah yang mengatur alam semesta. kedua, syirik dalam uluhiyah, yaitu
beribadah ( berdo‟a) kepada selain Allah baik dalam bentuk do‟a ibadah
maupun doa masalah.”
Umumnya yang dilakukan manusia adalah menyekutukan dalam uluhiyah Allah, yaitu dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi
Allah, seprti berdo‟a kepada selain Allah di samping berdoa kepada Allah,
atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih kurban,
bernadzar, berdo‟a, dan sebagainya kepada selain Allah.
Karena itu, barang siapa menyembah dan berdo‟a kepada selain
Allah berarti ia meletakan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikan kepada yang tidak berhak, dan itu merupakan kedzaliman yang palig
56
besar. Syirik di katakan dosa yang paling besar dan kedzaliman yang paling besar karena ia menyamakan makhluk dengan khaliq (pencipta) (Yazid Bin Abdul Qadir Jawas, 2009: 170-172).
Berdasarkan klasifikasi secara umum , syirik dibagi menjadi 4 jenis yaitu sebagai berikut:
a. Syirkul „ilm, inilah syirik yang umumnya terjadi pada ilmuan. Mereka mengagungkan ilmu sebagai segalanya. Mereka tidak mempercayai pengetahuan yang diwahyukan Allah. Sebagai contoh , mereka mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, mereka juga percaya bahwa ilmu pengetahuan akhirnya akan dapat
menemukan formula agar manusia tidak perlu
mengalami kematian.
b. Syirkut-tasyaruf, syirik jenis ini pada prinsipnya disadari atau tidak oleh pelakunya menentang bahwa Allah Maha Kuasa dan segala kendali atas penghidupan manusia berada di tangan-Nya. Mereka percaya adanya perantara itu mempunyai kekuasaan. Contohnya, kepercayaan bahwa Nabi Isa a.s anak Tuhan, percaya pada dukun, tukang sihir atau sejenisnya.
c. Syirkul-„Ibadah, ini adalah syirik yang menuhankan pikiran,ide-ide, dan fantasi. Mereka hanya percaya pada fakta-fakta konkret yang berasal pada pengalaman lahiriyah. Misalnya seorang ateis memuja ide pengingkaran terhadap Tuhan dalam berbagai bentuk kegiatan.
57
d. Syirkul-addah, ini adalah percaya pada tahayul. Sebagai contoh, percaya bahwa angka 13 itu adalah angka sial sehingga tidak mau menggunakan angka tersebut, menghubungkan kucing hitam
dengan kejahatan (Roli Abdul Rahman, 2009: 36).
Di lihat dari sifat dan tingkat sanksinya syirik dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Syirik Besar (asy-syirku al-akbar)
Syirik besar adalah menjadikan bagi Allah sekutu (niddan) dia berdoa kepadanya seperti berdoa kepada Allah. Ia takut, harap, dan
cinta kepadanya seperti ibadah kepada Allah. Seperti berdo‟a
kepada selain Allah atau mendekatkan diri kepadanya dengan menyembelih kurban atau bernadzar untuk selain Allah, baik untuk kuburan, jin atau syaitan, dan lainnya.
b. Syirik Kecil (asy-syirku al-asgar)
Syirik kecil adalah semua perkataan dan perbuatan yang akan membawa seseorang kepada kemusyrikan. Syirik kecil termasuk perbuatan dosa yang di khawatirkan akan menghantarkan
pelakunya kepada syirik besar (Roli Abdul rahman,2009: 35)
Dapat disimpulkan, syirik adalah seorang hamba menjadikan selain Allah sebagai sekutu bagi-Nya, menyamakannya dengan Tuhan, mencintainya seperti mencinta Allah, takut kepadanya seperti takut kepada Allah, bersandar kepadanya, berdoa kepadanya, takut kepadanya, mengharap darinya, bertawakal kepadanya, meminta pertolongan padanya
58
dan sebagainya dan larangan berbuat syirik adalah awal wasiat yang terdapat dalam surat Al-An'am ini.
2. Agar Birrul walidain (Berbuat baik kepada orang tua).
Salah satu ayat tentang keharusan taat kepada orang tua dalam surat Al-An'am merupakan wasiat Allah SWT kepada hamba-Nya. Allah berfirman:
بًَبَعْحِإ ٍِْيَدِنا َْٕنبِث َٔ
berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa ( QS.Al-An‟am ayat 151)
Quraish Shihab berkata: Ihsan ke-pada orang tua adalah berbuat baik dan menjaga mereka, melaksanakan perintah mereka, dan menjauhkan kesulitan dari mereka dan tidak menguasai ke-duanya.
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: "Oleh karena itu, birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) disertai dengan ibadah kepada Allah SWT, maka Dia berfirman: بًَبَعْحِإ ٍِْيَدِنا َْٕنبِث َٔ yakni dan hendaknya kemu berbuat baik kepada kedua orang tua. Demikian pula firman Allah SWT pada ayat lain:
ِنَأ ِنْيَماَع يِف ُهُلاَصِف َو ٍنْه َو يَلَع اًنْه َو ُهُّمُأ ُهْتَلَمَح ِهْيَدِلا َوِب َناَسْنِلإااَنْيَّص َو َو
ُرْي ِصَملا َّيَلِإ َكْيَدِلا َوِل َو ي ِلْرُكْشا
Bersyukurlah Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (QS.Luqman:14)
59
3. Larangan membunuh anak.
Susungguhnya kasih sayang orang tua terhadap anaknya adalah fitrah yang diberikan Allah SWT kepada manusia, kecuali mereka yang berlebih-lebihan, menetapkan pada hati dan jiwa orang tua rasa kasih dan sayang terhadap anak-anak mereka dan merasa sedih apbila berpisah dengannya.
Sebagaimana Allah berfirman dalam surat al-an‟am ayat 151 yang
berbunyi:
ْىُْبَّيِإ َٔ ْىُكُلُش ْسََ ٍُْحََ ٍق َلَْيِإ ٍِْي ْىُكَد َلَّ َْٔأ إُهُتْمَت َلَّ َٔ
dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.
Larangan Allah SWT merupakan keharaman membunuh anak-anak karena takut kelaparan dan Allah SWT juga menjelaskan bahwa hal itu meru-pakan kesalahan (dosa) yang besar. Dia berfirman:
َلَّ َٔ بًَببَعْحِإ ٍِْيَدبِنا َْٕنبِث َٔ بًئْيبَش ِّبِث إُك ِسبْشُت َّلََّأ ْىُكْيبَهَع ْىبُكُّثَز َوَّسَح بَي ُمْتَأ ا َْٕنبَعَت ْمُل
َلَّ َْٔأ إُهُتْمَت
َسبََٓظ ببَي َش ِحا ََٕفْنا إُثَسْمَت َلَّ َٔ ْىُْبَّيِإ َٔ ْىُكُلُش ْسََ ٍُْحََ ٍق َلَْيِإ ٍِْي ْىُكَد
ِّبِث ْىُكببَّص َٔ ْىبُكِنَذ ِّكَحْنببِث َّلَِّإ ُ َّللَّا َوَّسبَح يبِتَّنا َطْفَُّبنا إبُهُتْمَت َلَّ َٔ ٍَبَطَث ببَي َٔ بَُِْٓي
( ٌَٕببببببببببببُهِمْعَت ْىببببببببببببُكَّهَعَن
151
)
Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diha-ramkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: jangan-lah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, ber-buat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. (QS. Al-An'am: 151)
60
Karena itu, larangan membunuh anak-anak merupakan salah satu wasiat yang dikandung ayat mulia ini. Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: "Orang tua dan kakek sama memiliki kebaikan dan kasih sayang terhadap anak-anak dan cucu.
Adanya larangan ini karena mereka (orang Arab jahiliyah) telah membunuh anak-anak mereka, lalu akibat digoda setan, mereka mengubur anak perem-puan hidup-hidup karena khawatir cela, dan barang-kali mereka juga membunuh sebagian anak laki-laki karena takut kemiskinan.
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: "Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa Allah SWT mengasihi hamba-Nya melalui kasih orang tua terhadap nya, karena Dia melarang membunuh anak-anak se-bagaimana Dia juga berwasiat kepada orang tua un-tuk memberi harta waris bagi anak-anaknya, di mana orang-orang Arab jahiliyah biasa mengubur anak perempuan hidup-hidup, bahkan salah seorang dari mereka berangkali membunuh anak perempuan-nya hanya agar tidak mendapat cela (aib), maka Allah melarang hal itu dengan firman-Nya: "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemis-kinan." Yakni takut kefakiran. Ini ditunjukkan dengan didahulukannya perhatian terhadap kemiskinan se-perti dalam firman-Nya: "Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu." Lalu firman-Nya: "Sesungguhnya membunuh mereka ada-lah suatu dosa yang besar.
61
Kesimpulannya adalah janganlah membunuh anak karena haram hukumnya dan.jangan takut miskin karena anak karena Allah lah yang akan memberi rezeki kepada kita semua.
4. Larangan mendekati perbuatan keji.
Fahisyah (perbuatan keji) bisa berarti buruk dalam perkataan atau perbuatan. Kata jamaknya fawa-hisy. Sedangkan dalam istilah syara adalah segala sesuatu yang sangat keburuk dan keji berupa dosa atau maksiat.
perbuatan yang keji” yaitu dosa-dosa besar yang buruk (ٍطث بئ بُٓي سٓظبي) “baik yang nampak diantaranya maupun yang sembunyi”
Maksudnya, janganlah kamu mendekati perbuatan keji yang menampak darinya yang samar atau yang yang berkaitan dengan lahir dan yang batin. Larangan mendekati perbuatan keji adalah lebih madalam dari pada larangan melakukannya karena ia meliputi larangan terhadappengantarnya dan sarananya yang menjadi jembatan
kepadanya. Terdapat beberapa penafsiran tentang makna”Al
-Faahisyah” (perbuatan keji), sebagaimana disebut dalam ayat ini.
Namun terlepas dari perbedaan tersebut. Hal yang pasti bahwa seluruh jenis kemaksiatan adalah perbuatan keji dan dzalim, karena perbuatan itu adalah bentuk pengingkaran kepada Allah, bahkan sekecil apapun jenis kemaksiatan itu.
62
Al Qur‟an Al Karim telah menyebutkan tentang haramnya
perbuatan-perbuatan keji secara berulang-ulang baik yang nampak
ataupun tersembunyi. Allah Ta‟ala berfirman:
ََِّإ ْمُل
ِسْيَغِث َيْغَجْنا َٔ َىْثِ ْلْا َٔ ٍََطَث بَي َٔ بَُِْٓي َسََٓظ بَي َش ِحا ََٕفْنا َيِّثَز َوَّسَح بًَ
ِِّث ْل ِّصَُُي ْىَن بَي ِ َّللَّبِث إُك ِسْشُت ٌَْأ َٔ ِّكَحْنا َلَّ بَي ِ َّللَّا ىَهَع إُنُٕمَت ٌَْأ َٔ بًَبَطْهُظ
ًٌََُٕهْعَت
“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”(QS. Al A‟rof: 33)
Dapat disimpulkan, fahisyah adalah segala sesuatu yang sangat buruk dan keji dan orang yang melakukan fahisyah akan dibenci oleh Allah.
5. Larangan membunuh jiwa yang diharamkan
Tidak diragukan lagi bahwa kedudukan manusia di sisi Allah SWT mempunyai posisi yang agung di mana Dia berfirman yang berbunyi:
ىىَلَع ُْْانَِاْلىىْ َ َو ِ نِىىَََِّّْْلِّ َوىىِن ُْْانِىىَاْىَِ َمَو ِمىىَََْْلَِّو ِّمىىَىَْلِّ َِ ُْْانِىىَاْلََََو َمََو ِمىىَ نِىىَاْنْمَر ْ ىىَقَلَو
ًلِْ ْفَىت نَِاْقَلَخ ْوِْمِ ٍيرِثَر
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al-Isra: 70)
Oleh sebab itu, ditetapkan pada Bani Israil bah-wasanya barangsiapa membunuh satu jiwa manusia seolah-olah ia membunuh manusia seluruhnya dan sebaliknya
63
Dalam surat Al-An'am, Allah SWT berfirman:
ۖ ً نِىىَسْحِإ ِوْنَ ىىِلَِّوْلِبَِو ۖ نًِاْىْىىَش ِ ىىِ ِّوُرِمىىْشُت ْلَّأ ۖ ُْْْْْىىَلَع ْْىىُْي َم َمْمىىَح نِىىَن ُ ىىْتَأ ِّْوَلنِىىَاَىت ْ ىىُِ
َمىىَهَظ نِىىَن َ ِحَِّوىَفْلِّ ِّوىىُ َمْقَىت َلَّو ۖ ْْىُاْيَِّإَو ُُُِْْْ ْمىىَىن ُوىَْنَ ۖ ٍ َلىىْنِإ ْوىِن ْْىىُرََ َلّْوَأ ِّوىُلُىتْقَىت َلَّو
ْْىُْْلَاَل ِ ىِ ُْْرنِىْصَو ُِْْْل َذ ۖ ِّقَْلِْبِ ْلِّإ ُْللِّّ َمْمَح ِتْلِّ َسْفْىالِّ ِّوُلُىتْقَىت َلَّو ۖ َوَََّ نَِن َو نَِهْىاِن
َنوُلِقْاَىت
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diha-ramkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).(QS. Al-An'am: 151)
Quraish Sihab berkata dalam firman Allah: janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepada kamu dan kepada mereka.
Menurutku, Allah SWT telah mengharamkan pe-numpahan darah dan pelenyapan ruh dengan keha-raman yang sangat kecuali yang memang dikecua-likan oleh syariat. Jenis manusia di sini termasuk manusia muslim, kafir, kafir dalam perjanjian, kafir yang minta perlindungan, dan ahli dzimah.
Allah telah menjaga jiwa manusia sehingga tidak boleh seorang melenyapkan nyawa orang lain tanpa ada kebolehan dari syariat Allah.
64
Sungguh agama Islam sangat keras tentang larangan membunuh jiwa tanpa hak, pelaku pembunuhan menurut islam merupakan kejahatan yang luar biasa jahatnya.
Dapat disimpulkan, bahwa haram hukumnya membunuh jiwa yang diharamkan baik laki-laki atau perempuan, besar atau kecil.
َمْيَكْنا إُف َْٔأ َٔ َُِّدُشَأ َغُهْجَي ىَّتَح ٍَُعْحَأ َيِْ يِتَّنبِث َّلَِّإ ِىيِتَيْنا َلبَي إُثَسْمَت َلَّ َٔ
اَذ ٌَبَك َْٕن َٔ إُنِدْعبَف ْىُتْهُل اَذِإ َٔ بََٓعْظُٔ َّلَِّإ بًعْفََ ُفِّهَكَُ َلَّ ِظْعِمْنبِث ٌَا َصيًِْنا َٔ
ا ٌَُٔسَّكَرَت ِدَْٓعِث َٔ ىَث ْسُل
( ْىُكَّهَعَن ِِّث ْىُكبَّص َٔ ْىُكِنَذ إُف َْٔأ ِ َّللَّ
151
)
(152) Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa`at, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat,
Nilai-nilai yang terdapat dalam surat al-an-am ayat 152 adalah:
1.
ِىيِتَيْنا َلبَي إُث َسْمَت َلَّ َٔ
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim
Yatim menurut bahasa berarti tidak punya ayah. Kata jamak dari
65
yatim itu ketia-daan orang tua dari pihak ayah sedangkan dalam binatang dari pihak ibu.
Dalam surat al-An‟am ayat 152, Allah memberikan wasiat agar
manusia memelihara yatim dan menjaga hartanya. Qurais Shihab berkata: dan janganlah kamu dekati apalagi menggunakan secara tidak sah harta anak yatim, kecuali dengan cara yang terbaik shingga dapat menjamin keberadaan, bahkan pengembangan harta itu, dan hendaklah pemeliharaan secara baik itu berlanjut hingga ia, yakni anak yatim itu, mencapai kedewasaannya dan menerima dari kamu harta mereka untuk mereka kelola sendiri.
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: "Allah SWT menyuruh menyerahkan harta anak yatim kepada mereka secara keseluruhan dan melarang memakannya atau mencampurnya dengan harta kalian, karena itu Dia berfirman: "jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk," dan firman-Nya: "dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu."
Ayat diatas tentang larangan memakan harta anak yatim.
Perkataan yang digunakan adalah „janganlah kamu dekati‟. Ini bermaksud
jangan dekati untuk mengurus pun harta itu. Kalau kita rasa kita tidak dapat beramanah dengan harta itu, atau tidak berkemampuan untuk mengurus harta itu, maka jangan coba-coba untuk mengurus harta itu Sebagai contoh, kalau kita ini jenis orang yang memang sibuk dengan kerja lain, maka tentunya kita tidak mampu untuk menjadi pengurus untuk
66
harta itu. Maka lebih baik untuk kita berikan kepada orang lain yang dapat menguruskannya.
Allah melarang kita dekati harta anak yatim kerana bila kita hampir
dengan harta itu akan jadi mudah untuk kita mencurinya, atau termakan harta itu. Islam amat berhati-hati dalam hal ini.
Anak yatim adalah anak yang kematian ayah sebelum dia baligh.
Dia dalam keadaan yang lemah. Seorang anak yang kecil dan belum baligh tidak diberikan untuk pegang harta peninggalan ayahnya. Kalau dia yang pegang di takutkan ada yang mencuri, terkena tipu dan sebagainya. Maka, sepatutnya ada orang yang dewasa yang menjaga hartanya baagi pihaknya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa memakan harta anak yatim
hukumnya haram dan tidak boleh memelihara dan menjaga harta anak
yatim kecuali orang yang dapat menjaga hukum Allah SWT, yang akan mengawasinya.
2. Tidak curang dalam menakar dan menimbang.
Allah SWT menyuruh mencukupkan (menyem-purnakan) timbangan dan perintah atas sesuatu ber-arti melarang atas lawannya. Lawan mencukupkan adalah mengurangi. Allah SWT berfirman:
ََّعْظ ُٔ َّلَِّإ بًعْفََ ُفِّهَكَُ َلَّ ِظْعِمْنبِث ٌَا َصيًِْنا َٔ َمْيَكْنا إُف َْٔأ َٔ
Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan de-ngan adil. Kami tidak
memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar
kesanggupannya. (QS. Al-An‟am;152)
Dalil lain yang menunjukkan hal diatas adalah firman Allah SWT:
67
Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu me-nakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. Al Isra‟:35)
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: "Sempurna-kanlah timbangan apabila kalian menimbang yakni dengan tidak menguranginya."
Apabila digunakan perkataan ٌَا َصبيًِْنا َٔ َمبْيَكْنا bermaksud setiap cara timbangan dan sukatan dimasukkan ke dalamnya. Kerana mungkin zaman sekarang, cara ukuran sudah semakin canggih, maka apapun cara timbangan, kita perlu memastikan timbangan itu tepat.
Ini adalah peringatan kepada peniaga-peniaga kita yang ada di kalangan mereka yang mengurangkan timbangan yang diberikan kepada pelanggan-pelanggan mereka. Macam-macam cara mereka gunakan untuk mengurangkan timbangan itu. Mungkin mereka kurangkan sedikit sahaja setiap kali, tapi kalau dicampur semua, maka lama kelamaan banyak juga habuan untuk mereka. Dengan keuntungan lebihan mereka yang sedikit itulah yang akan memasukkan mereka ke dalam neraka.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa segala yang sudah
dijelaskan dalam al-Qur‟an maka kita semua wajib menjalaninya dan
khususnya bagi orang yang berdagang harus mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan berdagang.
3. Agar Berkata Jujur Allah berfirman:
68
“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu),”(QS. Al An‟am: 152)
Qurais Shihab berkata: Allah SWT memperhatikan keadilan dengan firman-Nya "dan apabila kamu berkata maka hendaklah berlaku adil." Yakni apabila kalian memutuskan suatu perkara di antara manusia maka kalian berbicara, katakanlah yang benar di antara mereka dan berlaku adillah dan janganlah melampaui batas meskipun orang yang menghadapi kebenaran dan hukum itu kerabatmu. Dan janganlah sampai kerabat dekat dan teman dekat yang kamu adili dengan orang lain melalaikan kamu dari mengatakan yang benar dalam apa yang kamu tetapkan terhadap mereka. Ibnu Katsir berkata: Allah SWT menyuruh ber-laku adil dalam perbuatan dan
perkataan baik terha-dap terhadap kerabat maupun bukan kerabat dan Allah SWT juga menyuruh berlaku adil terhadap setiap orang disetiap waktu dan keadaan.
Seorang hakim atau wakilnya atau orang yang melakukan perbaikan (islah) antara manusia harus cenderung dan bersikap jeli dalam menetapkan kepu-tusan antara lawan, maka ia melihat dengan saksama dan tidak bergesa-gesa dalam memutuskan suatu hukum sehinga tidak menyesal dikemidian hari. Oleh karena itu Allah SWT berfirman:
نَِن َلَع ِّوََُِْصُتَى ٍةَلنَِهَِبِ نًِنْوَىِ ِّوَُِْصُت ْنَأ ِّوُاْىَْىََىتَى ٍإَََىاِ قِسنَِ ُْْرَءنَِج ْنِإ ِّوُاَنو َونِذْلِّ نَِهيىنَأ َيَّ
َيِنََِ ُْْتْلَاَى
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepa-damu orang fasikmembawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menim-pakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
69
mengetahui keadaannya yang menyebabkan ka-mu menyesal atas perbuatanmu.(QS.Al-Hjurat:6)
Ibnu Katsir berkata: Allah SWT menyuruh agar tsabat (mengklarifikasi) berita orang fasik dan agar berhati-hati darinya sehingga tidak menetapkan hu-kum berdasarkan berita itu yang pada hakikatnya merupakan suatu kedustaan atau kesalahan.
Maksudnya adalah: Apabila kalian mengatakan suatu perkataan yang sifatnya memutuskan atau menghukumi atau suatu persaksian atau meluruskan suatu perkara maka hendaknya ucapan kalian itu bersumber dari kebenaran dan keadilan, tanpa cenderung kepada hawa nafsu atau menyimpang karena suatu manfaat tertentu. Yang demikian karena kebenaran lebih berhak untuk diikuti.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Pada wasiat ini Allah meminta dari kita agar kita selalu bersama kejujuran dalam segala ucapan, seperti apapun hubungan kita dengan orang yang kita bersaksi untuknya atau kita hukumi atasnya.
4. Menetapi perjanjian terhadap Allah.
Menepati atau memenuhi janji berarti melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya, menjauhi apa yang dilarang Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT telah menyuruh kita untuk menepati janji dalam surat Al-An'am, yang artinya:
70
Imam Al-Qurthubi berkata: "dan penuhilah janji Allah," adalah bersifat umum terhadap semua apa yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya dan mungkin bermaksud semua apa diakadkan antara dua insan dan akad atau janji itu dinisbatkan kepada Allah SWT dari segi keharusan menjaga dan memenuhinya.
Adapun dalil dan argumentasi yang menunjuk-kan atas hal tersebut adalah firman Allah Azza wa Jalla:
َ ْهَاْلِّ ْنِإ ۖ ِ ْهَاْلِبِ ِّوُ ْوَأَو ۖ ُهْ ُشَأ َغُلْىََىن ْتََّح ُوَسْحَأ َيِا ِتْلِبِ ْلِّإ ِِْْتَْْلِّ َلنَِن ِّوُ َمْقَىت َلَّو
ًلّوُاْسَن َننَِر
Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabnya. (Yakni manu-sia diminta pertanggungjawabannya).(QS. Al-Isra: 34)
Tidak diragukan lagi bahwa semua janji adalah benar-benar penting, bagaimana tidak padahal Allah SWT berfirman:
َ ْهَاْلِّ ْنِإ ۖ ِ ْهَاْلِبِ ِّوُ ْوَأَو ۖ ُهْ ُشَأ َغُلْىََىن ْتََّح ُوَسْحَأ َيِا ِتْلِبِ ْلِّإ ِِْْتَْْلِّ َلنَِن ِّوُ َمْقَىت َلََّ
ًلّوُاْسَن َننَِر
Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung-an jawabnya (QS. Al-Isra:34)
Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan bahwa firman Allah SWT: "dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya," adalah larangan membatalkan janji apabila
71
telah diteguhkan karena sumpah yang dimaksud juga termasuk dalam kategori perjanjian dan janji itu harus ditepati dan dipenuhi.
Dalam pembahasan diatas dapat disimpulkan siapa saja yang berjanji harus ditepati dan dipenuhi karena berjanji adalah hutang dan orang yang tidak menepati janjinya tanda-tanda orang munafik.
ٍْببَع ْىببُكِث َقَّسببَفَتَف َمُجببُّعنا إببُعِجَّتَت َلَّ َٔ ُُِٕعِجَّتبببَف بًًيِمَتببْعُي يِطا َسبب ِص اَرببَْ ٌََّأ َٔ
ٌَٕببببببببببببُمَّتَت ْىببببببببببببُكَّهَعَن ِّببببببببببببِث ْىُكبببببببببببببَّص َٔ ْىببببببببببببُكِنَذ ِِّهيِجببببببببببببَظ
(
151
)
(153) Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.
Nilai yang tekandung dalam surat al-an‟am ayat 153 adalah:
1. Hanya menempuh jalan Allah yang lurus.
Arti shirat al-mustaqim adalah Al-Quran Al-Karim dan Sunnah yang suci, atau Islam yang bijak, atau syariat yang lurus, atau agama yang lurus (hanif). Semuanya adalah satu makna. Dalilnya adalah firman
Allah SWT dalam surat Al-An‟am:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-An'am: 153)
72
Qurais Shihab mengatakan bahwa yang dimaksud dengan jalan-Nya adalah jalan dan agama-Nya yang Dia ridhai untuk hamba-Nya. Musta-qiman (lurus) artinya lurus dan tidak ada kebeng-kokan dari kebenaran. Kemudian Qurais Shihab juga berkata: Shirat artinya jalan yang dimiliki Islam dan lurus tegak tidak ada kebengkokan di dalamnya. Karena itu kita diperintah untuk mengikuti jalan yang ditempuh di atas lisan Nabi-Nya dan syariat-Nya sehingga akhirnya adalah surga.
Jadi dapat disimpulkan, yang dimaksud dengan berjalan di atas shirat al-mustaqim adalah menjadikan Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya sebagai jalan kehidupan (way of life) serta pemahaman generasi salaf terdahulu, baik akidah, ilmu pengetahuan, amal, maupun cara dan gaya hidup.
Dalil yang menguatkan makna ini. Allah SWT berfirman:
َىيِمَتْعًُْنا َطاَسّ ِصنا بََِدْْا
.
َتًَْعََْأ ٍَيِرَّنا َطا َس ِص
ِةُٕضْغًَْنا ِسْيَغ ْىِْٓيَهَع
ٍَيِّنبَّضنا َلَّ َٔ ْىِْٓيَهَع
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 6-7)