BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS (Kurs rupiah)
Pengendalian moneter melalui jalur nilai tukar menjadi salah satu instrumen kebijakan moneter Bank Indonesia dalam fungsinya untuk menjaga perekonomian nasional ke taraf perekonomian yangs stabil berdasarkan tingkat
70 inflasi yang cenderung terjaga perubahannya guna menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai prioritas utama. Nilai tukar (kurs) adalah perbandingan nilai tukar atau harga mata uang rupiah dengan mata uang lain. Nilai tukar dibedakan menjadi dua, yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Nilai tukar nominal adalah harga mata uang dalam negeri relatif terhadap mata uang luar negeri. Sedangkan nilai tukar riil adalah harga relatif dari barang – barang diantara dua negara.
Macam – macam nilai tukar ada tiga yaitu sistem nilai tukar tetap, mengambang bebas, dan mengambang terkendali. Sistem nilai tukar tetap adalah sistem penentuan nilai mata uang asing dengan tingkat harga yang ditetapkan oleh bank sentral. Sistem nilai tukar mengambang bebas merupakan sistem penentuan nilai mata uang asing dengan tingkat harga yang sepenuhnya ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar. Sedangkan sistem nilai tukar mengambang terkendali merupakan sistem penentuan nilai mata uang asing dengan mekanisme pasar yang disesuaikan dengan batas pita intervensi yang ditetapkan bank sentral.
Berbicara tentang nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dari tahun 1998 – 2010 (Gambar dan Tabel 4.1) merupakan hal yang menarik bila melihat fluktuasinya. Perkembangan mengenai nilai tukar itu sendiri pada tahun 1998- 2010 dapat dilihat pada Gambar dan Tabel 4.1.
71 Tabel 4.1
Rata-rata Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar US Tahun 1998-2010
Tahun Nilai Tukar (Rp/USD) 1998 10.700 1999 7.100 2000 9.595 2001 10.400 2002 8.940 2003 8.465 2004 9.290 2005 9.830 2006 9.020 2007 9.419 2008 10.950 2009 9.400 2010 8.991
Sumber Bank Indonesia Yang Diolah (Dalam Berbagai Terbitan) Gambar 4.1
Pergerakan Rata-rata Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar US 1998-2010
Berdasarkan pada Tabel dan Gambar 4.1, nilai tukar rupiah sudah berada pada tingkat yang tinggi (sempat mengalami depresiasi yang tajam terhadap Dollar AS) pada tahun 1998. Nilai tukar rupiah yang sempat mencapai lebih dari
72 Rp 10.000 terjadi pada tahun 1998, disaat krisis moneter mulai berdampak kepada perekonomian Indonesia. Perubahan yang drastis terhadap nilai tukar dibandingkan keadaan sebelum krisis tersebut diawali dengan krisis nilai tukar di beberapa negara Asia seperti Thailand dan dampaknya ternyata menyebar ke negara-negara ASEAN lain seperti Indonesia, di mana bantalan ekonomi nasional pada saat itu juga belum terlalu baik. Kemudian dalam perkembangan di tahun berikutnya bank sentral melalui kebijakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan peningkatan cadangan minimum bank umum mulai merestrukturisasi kondisi perekonomian nasional. Dengan semakin terkendalinya kondisi ekonomi tersebut rata-rata nilai tukar (Rp/USD) sempat menguat di kisaran Rp 7.000 pada tahun 1999.
Dalam perkembangan berikutnya, pada tahun 2001 nilai tukar sempat mencapai Rp 10.400 dimana hal ini disebabkan karena tidak stabilnya kondisi sosial, politik dan keamanan di Indonesia yang mana hal tersebut turut pula mempengaruhi ekspektasi para investor untuk berinvestasi di Indonesia, namun juga serta secara umum pelemahan nilai tukar rupiah turut pula disebabkan oleh adanya permasalahan yang bersifat makro-fundamental dan mikro-struktural di pasar valuta asing yang bermuara pada ketidakseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing (Laporan Tahunan Bank Indonesia, 2002).
Secara umum, nilai tukar rupiah selama tahun 2002 mengalami apresiasi disertai dengan menurunnya volatilitas. Perkembangannya selama tahun 2002 ini selain ditunjang oleh membaiknya faktor fundamental, faktor regional, dan faktor sentimen, serta tidak terlepas dari intervensi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga
73 agar nilai tukar tidak terlalu berfluktuasi. Dari sisi fundamental, apresiasi nilai tukar rupiah didorong oleh membaiknya neraca pembayaran dari defisit menjadi surplus. Dari sisi sentimen pasar, menguatnya nilai tukar rupiah juga ditunjang oleh menguatnya sentimen positif pasar yang didorong oleh keberhasilan penjadwalan utang, persetujuan pencairan pinjaman IMF (International Monetary Fund) (Laporan Tahunan Bank Indonesia, 2003). Pada tahun 2002, nilai tukar berfluktuatif pada level Rp 8.000-an.
Nilai tukar rupiah pada 2005 secara umum terdepresiasi. Kondisi ini terutama terkait dengan melemahnya kinerja neraca pembayaran akibat pengaruh kondisi sektor eksternal dan internal yang kurang menguntungkan, sehingga memberikan tekanan yang bersifat fundamental terhadap nilai tukar rupiah. Disisi eksternal, melambungnya harga minyak dunia dan masih berlanjutnya kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat telah memberikan tekanan dapresiasi terhadap rupiah. Dari sisi internal, meningkatnya permintaan valas terutama untuk memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri yang merupakan faktor pemicu tekanan terhadap rupiah. Di tengah kondisi pasar keuangan domestik yang masih mengalami kelebihan likuiditas rupiah, permintaan valas semakin terakselerasi sejalan dengan peningkatan ekspektasi depresiasi akibat melonjaknya laju inflasi. Berbagai faktor tersebut memberikan tekanan yang kuat terhadap rupiah, sebelum pada akhirnya kembali terapresiasi di triwulan keempat tahun 2005 seiring dengan kebijakan yang ditempuh oleh Bank Indonesia dan pemerintah. Koordinasi kebijakan tersebut berdampak positif dan berhasil memulihkan kepercayaan pasar, sebagaimana tercermin dari meredanya
74 ekspektasi depresiasi dan meningkatnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik (Laporan Tahunan Bank Indonesia, 2006). Pada tahun 2005, nilai tukar rupiah cenderung berfluktuatif pada level Rp 9.000-an.
Secara umum, nilai tukar rupiah terdepresiasi pada periode-periode awal tahun 2008, dimana nilai tukar sempat mencapai Rp 10.000-an. Hal ini merupakan dampak dari krisis keuangan global yang berawal dari Amerika Serikat pada tahun 2007. Namun dampak tersebut tidak berlangsung lama di Indonesia, sebab kondisi tersebut ditopang oleh kinerja transaksi berjalan dan kebijakan makro ekonomi yang cukup prudent. Sedangkan pada hingga tahun 2010, rupiah cenderung terapresiasi, di mana hal tersebut merupakan dampak resesi ekonomi global yang mulai berdampak negatif di negara-negara barat, namun bagi negara- negara emerging market seperti Indonesia dampak resesi ekonomi global justru sedikit membawa angin segar karena semakin banyaknya aliran modal masuk ke dalam negeri.