• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Nilai Tukar

Nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu mata uang terhadap nilai mata uang lainnya (Salvatore, 1997). Kenaikan nilai tukar mata uang dalam negeri disebut apresiasi atas mata uang asing. Sedangkan, penurunan nilai tukar mata uang dalam negeri disebut depresiasi atas mata uang asing.

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar adalah laju inflasi relatif, tingkat pendapatan relatif, suku bunga relatif, kontrol pemerintah, dan ekspektasi. Adapun beberapa sistem-sistem nilai tukar yang ditentukan oleh pemerintah, yaitu:

1. Fixed exchange rate system.

Sistem nilai tukar yang ditahan secara bertahap oleh pemerintah atau berfluktuasi di dalam batas yang sangat sempit. Jika nilai tukar berubah terlalu besar, maka pemerintah akan mengintervensikan untuk memeliharanya dalam batas-batas yang dikehendaki.

2. Freely floating exchange rate system.

Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh tekanan pasar tanpa intervensi dari pemerintah.

3. Managed floating exchange rate system.

Sistem nilai tukar yang terletak diantara fixed system dan freely floating system, tetapi mempunyai kesamaan dengan fixed exchange rate system, yaitu pemerintah bisa melakukan intervensi untuk menjaga supaya nilai mata uang tidak berubah terlalu banyak dan tetap dalam arah tertentu. Perbedanya dengan freely floating exchange rate system adalah bahwa

managed floating exchange rate system masih lebih fleksibel terhadap suatu mata uang. Menurut Krugman dan Obstfeld (2000:485), managed floating exchange rate system adalah sebuah sistem dimana pemerintah mengatur perubahan nilai tukar tanpa bermaksud untuk membuat nilai tukar dalam kondisi tetap.

4. Pegged exchange rate system.

Sistem nilai tukar dimana nilai tukar mata uang domestik dipatok secara tetap terhadap mata uang asing.

Dalam teori paritas daya beli atau purchasing power parity merupakan salah satu teori yang menjelaskan faktor determinan nilai tukar melalui perilaku eksportir dan importir dalam merespon perubahan biaya relatif atas beberapa pasar luar negeri (relative cost of national market basket). Seperti contoh, jika harga barang impor naik sedangkan harga barang domestik tetap, maka barang impor akan relatif lebih mahal sehingga menurunkan permintaan. Kondisi seperti ini akan mendorong depresiasi mata uang asing atau apresiasi mata uang domestik.

Perubahan tingkat harga relatif seperti ini akan mempengaruhi nilai tukar. Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Faktor yang mempengaruhi nilai tukar dalam jangka pendek lebih ditentukan oleh keputusan untuk menyimpan uang dalam bentuk asset, baik asset

keuangan domestik maupun luar negeri. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi niali tukar dalam jangka pendek, yaitu :

1. Perubahan dalam tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) dari deposito mata uang asing.

2. Perubahan tingkat suku bunga luar negeri.

3. Perubahan nilai tukar di masa yang akan datang (expected future exchange rate).

4. Perubahan dalam tingkat pengembalian yang diharapkan dari deposito mata uang domestik.

6. Peningkatan jumlah uang domestik yang beredar (money supply).

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar dalam jangka pendek lebih menekan kearah mata uang itu sendiri. Seperti contoh, dalam faktor perubahan

money supply, mengasumsikan bahwa jika money supply meningkat, maka harga domestik dalam jangka panjang juga akan meningkat dan tingkat pengembalian investasi luar negeri juga akan meningkat.

Di sisi lain, faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar dalam jangka panjang adalah sebagai berikut :

1. Perilaku tingkat harga relatif.

Mengasumsikan bahwa peningkatan harga terhadap barang-barang domestik akan menyebabkan terjadinya depresiasi mata uang domestik, begitu juga sebaliknya, jika terjadi penurunan harga barang-barang domestik akan menyebabkan terjadinya apresiasi mata uang domestik. 2. Permintaan dan pengembangan produk.

Mata uang domestik akan mengalami apresiasi sejalan dengan peningkatan permintaan barang-barang domestik, begitu juga sebaliknya, mata uang domestik akan mengalami depresiasi sejalan dengan peningkatan permintaan barang-barang impor.

3. Produktivitas.

Produktifitas relatif suatu negara yang semakin produktif mencerminkan terjadinya apresiasi nilai tukar terhadap negara itu sendiri, sebaliknya semakin tidak produktif suatu negara relatif terhadap negara lain akan mengakibatkan depresiasi mata uang negara tersebut.

4. Restriksi perdagangan internasional (kuota dan tarif).

Penerapan tarif dan kuota akan mengakibatkan mata uang suatu negara terapresiasi dalam jangka panjang, sedangkan penghapusan tarif dan kuota akan menyebabkan mata uang suatu negara mengalami depresiasi.

Dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar dalam jangka panjang diatas, lebih menekankan pada daya beli suatu negara terhadap barang- barang negara lain. Permintaan terhadap barang-barang domestik maupun luar negeri berpengaruh terhadap perubahan nilai tukar dalam jangka panjang apakah terapresiasi atau terdepresiasi tergantung dari faktor yang dihadapi negara itu sendiri.

Beberapa faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi nilai tukar adalah sebagai berikut :

1. Tingkat inflasi

2. Aktifitas neraca pembayaran 3. Perbedaan suku bunga antar negara 4. Aktivitas pasar valuta asing

5. Kebijakan moneter 2.4. Suku Bunga

Menurut Karl dan Fair (2001:635), suku bunga diartikan sebagai pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman. Pengertian suku bunga lainnya menurut Sunariyah (2004:80) adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase

uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayar kepada kreditur.

Terdapat beberapa fungsi dari suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Sebagai daya tarik bagi para penabung untuk menginvestasikan dananya.

2. Dapat digunakan sebagai alat moneter dalam mengendalikan permintaan dan penawaran uang yang beredar dalam suatu perekonomian.

3. Dapat digunakan oleh pemerintah dalam mengontrol jumlah uang yang beredar, dengan kata lain, pemerintah dapat mengatur sirkulasi uang dalam suatu perekonomian.

Fungsi dari suku bunga lainnya dalam perekonomian lainnya menurut Nopirin (1992:176) adalah bahwa suku bunga dapat digunakan sebagai alokasi faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang digunakan sekarang dan di kemudian hari. Terdapat dua jenis faktor yang menentukan nilai suku bunga menurut Ramirez dan Khan (1999), yaitu faktor internal meliputi pendapatan nasional, jumlah uang yang beredar, dan inflasi. Di samping faktor internal, nilai suku bunga juga ditentukan oleh faktor eksternal yang meliputi suku bunga luar negeri dan tingkat perubahan nilai valuta asing yang diduga.

Suku bunga menurut Lipsey, Ragan, dan Courant (1997:471) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Suku bunga nominal, adalah rasio antara jumlah uang yang dibayarkan kembali dengan jumlah uang yang dipinjam.

2. Suku bunga riil, adalah rasio daya beli uang yang dibayarkan kembali terhadap daya beli uang yang dipinjam. Dengan kata lain, suku bunga riil dapat diartikan sebagai selisih antara suku bunga nominal dengan laju inflasi.

Beberapa aspek yang dapat menjelaskan fenomena tingginya tingkat suku bunga di Indonesia adalah bahwa tingginya tingkat suku bunga terkait dengan kinerja sektor perbankan yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi, kurangnya minat masyarakat dalam memanfaatkan jasa bank, dan laju inflasi yang tinggi mengakibatkan sulitnya menurunkan tingkat suku bunga.

2.5. Inflasi

Menurut Bodied dan Marcus (2001:331) inflasi merupakan suatu nilai dimana tingkat harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan. Inflasi merupakan salah satu peristiwa moneter yang menunjukkan suatu kecenderungan akan naiknya harga-harga barang secara umum, yang berarti terjadinya penurunan nilai uang. Kenyes dalam “The General Theory of Employment, Interest and Money” menyatakan bahwa inflasi disebabkan oleh gap antara kemampuan ekonomi masyarakat terhadap keinginan-keinginan atas barang-barang. Gap

dalam hal ini diimplikasikan bahwa permintaan masyarakat lebih besar daripada jumlah ketersediaan dari barang-barang yang diinginkan. Hal ini mengakibatkan kenaikan harga barang tersebut yang kemudian dikenal dengan istilah inflationary gap.

Menurut Kusnadi (1997:227), terdapat beberapa jenis inflasi, diantara lainnya adalah sebagai berikut :

1. Inflasi tingkat ringan, yaitu jenis inflasi yang dilihat dari tingkat inflasi dibawah 10 persen dalam setahun.

2. Inflasi tingkat sedang, yaitu jenis inflasi yang dilihat dari tingkat inflasi yang berada antara 10 sampai 30 persen dalam setahun.

3. Inflasi tingkat berat, yaitu jenis inflasi yang berada pada tingkat 30 sampai 100 persen dalam setahun.

4. Inflasi tingkat parah, yaitu jenis inflasi yang berada pada tingkat lebih dari 100 persen. Biasanya disebut dengan hiperinflasi.

2.6. Pengertian Ekspor - Impor

Ekspor memiliki pengertian sebagai proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain yang dilakukan secara legal, yakni dengan melakukan pengeluaran barang yang berasal dari dalam negeri untuk dikirim ke negara lain.

Impor sendiri memiliki pengertian yang terbalik dengan ekspor, yakni proses transportasi barang atau komoditas dari satu negara ke negara lain yang dilakukan secara legal, yaitu dengan cara memasukkan barang dari negara lain ke dalam negeri.

Kegiatan ekspor impor merupakan faktor penentu dalam menentukan roda perekonomian suatu negara. Dalam era perdagangan global sekarang ini, arus barang masuk dan keluar sangatlah cepat. Kegiatan ekspor dilakukan umumnya untuk mengendalikan nilai barang yang ada di dalam negeri. Jika di sebuah negara

jumlah barang terlalu melimpah, akan mengakibatkan nilai barang tersebut jatuh, maka mengekspor barang tersebut ke negara lain perlu dilakukan untuk mengendalikan harga.

Kegiatan impor sendiri bersifat terbalik, yakni dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan sesuatu barang yang jumlahnya dirasakan kurang untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Selain itu juga, bertujuan untuk menjaga agar kelangkaan barang karena kurangnya kebutuhan yang ada tidak menyebabkan harga melonjak.

Manfaat lain yang di dapat dari kegiatan ekspor impor adalah sebagai berikut :

1. Adanya devisa dalam kegiatan ekspor impor akan menambah pendapatan bagi suatu negara.

2. Dapat meningkatkan perekonomian rakyat.

3. Dapat mendorong berkembangnya kegiatan industri. 4. Memacu pertumbuhan ekonomi.

2.7. Pentingnya Perdagangan Internasional Bagi Perekonomian

Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu dengan individu), antar individu dengan pemerintah suatu negara, atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.

Terdapat beberapa teori yang menjelaskan mengapa suatu negara melibatkan dirinya dalam perdagangan internasional. David Ricardo (1817) mengembangkan teori keunggulan komparatif (comparative advantage) atas dasar perbedaan kemampuan teknologi antar negara. Eli Heckscher dan Bertil Ohlin berpendapat bahwa perbedaan kekayaan faktor produksi yang dimiliki suatu negara dengan negara lainnya merupakan alasan mengapa suatu negara terlibat dalam perdagangan internasional.

Menurut Lindert dan Kindleberger (1993), perdagangan internasional dianggap sebagai suatu akibat dari adanya interaksi antara permintaan dan penawaran yang bersaing. Pada dasarnya, perdagangan yang terjadi antar negara timbul karena adanya perbedaan permintaan dan penawaran.

Dalam kenyataannya tidak ada negara di dunia ini yang dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya dengan memproduksi barang sendiri. Oleh sebab itu, peranan perdagangan internasional dibutuhkan untuk menunjang pembangunan suatu negara dalam hal pembangunan, peningkatan pengetahuan, dan pengalaman dalam pembangunan. Haberler berpendapat, “Perdagangan internasional telah memberikan sumbangan luar biasa bagi pembangunan negara kurang berkembang di abad ke-19 dan ke-20, serta diharapkan sumbangan tersebut akan sama di masa datang.”

Beberapa manfaat yang dirasakan suatu negara akibat adanya perdagangan internasional, antara lain adalah manfaat langsung dan manfaat tidak langsung. Manfaat langsung yang dirasakan suatu negara akibat adanya perdagangan internasional adalah negara mendapatkan keuntungan yang dapat meningkatkan

pendapatan nasional yang pada gilirannya akan meningkatkan output dan laju pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pembangunan ekonomi, memperluas pasar dan merangsang investasi, pendapatan dan tabungan melalui alokasi sumberdaya dengan lebih efisien, serta membantu mengalihkan sektor pangan (subsisten) ke sektor uang.

Disamping manfaat langsung yang dapat dirasakan suatu negara akibat adanya perdagangan internasional, juga terdapat beberapa manfaat tidak langsung seperti perdagangan internasional mendorong pemakaian mesin, mendorong penemuan dan pembaharuan, meningkatkan produktivitas buruh, menurunkan biaya dan membawa kearah pembangunan ekonomi, serta mendorong persaingan yang sehat dan mencegah monopoli.

Adapun peranan perdagangan internasional dalam pertumbuhan ekonomi, diantaranya :

1. Efek perdagangan internasional terhadap pertumbuhan ekonomi

Salah satu hal yang dapat dijadikan motor penggerak bagi pertumbuhan adalah perdagangan internasional. Salvatore menyatakan bahwa perdagangan dapat menjadi mesin bagi pertumbuhan (trade as engine of growth, Salvatore). Jika aktifitas perdagangan internasional adalah ekspor dan impor, maka salah satu dari komponen tersebut atau kedua-duanya dapat menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan. Tambunan (2005) menyatakan pada awal tahun 1980-an, Indonesia menetapkan kebijakan yang berupa export promotion. Dengan demikian, kebijakan tersebut

menjadikan ekspor sebagai motor penggerak bagi pertumbuhan di Indonesia.

2. Efek terhadap produksi

Perdagangan luar negeri mempunyai pengaruh yang kompleks terhadap sektor produksi di dalam negeri. Secara umum, kita bisa menyebutkan empat macam pengaruh yang bekerja melalui adanya spesialisasi produk, kenaikan surplus investasi, kenaikan produktivitas, dan vent for surplus. 3. Efek terhadap neraca perdagangan

Neraca Perdagangan (Balance of Trade) adalah sebuah ukuran selisih antara nilai impor dan ekspor atas barang nyata dan jasa. Tingkat neraca perdagangan dan perubahan ekspor dan impor diikuti secara luas dalam pasar valuta asing. Efek terhadap neraca perdagangan cenderung menaikkan barang-barang impor. Sebaliknya, apabila suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak berkembang. Keadaan ini dapat memperburuk kondisi neraca pembayaran. Efek buruk lain dari globalisasi terhadap neraca pembayaran adalah pembayaran netto pendapatan faktor produksi dari luar negeri cenderung mengalami defisit. Investasi asing yang bertambah banyak menyebabkan aliran pembayaran keuntungan (pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat. Tidak berkembangnya ekspor dapat berakibat buruk terhadap neraca pembayaran.

Beberapa faktor lain yang mendorong timbulnya perdagangan internasional antar negara bersumber dari keinginan memperluas pemasaran komoditas yang diproduksi oleh suatu negara, memperbesar perolehan devisa bagi

kegiatan pembangunan, adanya perbedaan penawaran dan permintaan antar negara, serta akibat perbedaan biaya relatif dalam menghasilkan komoditas tertentu.

2.8. Model Umum Vector Autoregression (VAR)

Vector Autoregression (VAR) biasa digunakan untuk memproyeksikan sistem variabel-variabel runtut waktu dan untuk menganalisis dampak dinamis dari faktor gangguan yang terdapat dalam sistem variabel tersebut. Pada dasarnya, analisis VAR bisa dipadankan dengan suatu model persamaan simultan. Oleh karena itu, dalam analisis VAR, kita mempertimbangkan beberapa variabel endogen secara bersama-sama dalam suatu model. Perbedaannya dengan model persamaan simultan biasa adalah bahwa dalam analisis VAR, masing-masing variabel selain diterangkan oleh nilainya di masa lampau, juga dipengaruhi oleh nilai masa lalu dari semua variabel endogen lainnya dalam model yang diamati. Disamping itu, dalam analisis VAR biasanya tidak ada variabel eksogen dalam model tersebut.

Pada dasarnya, analisis VAR meliputi : 1. Uji akar unit (Unit Root Test)

Uji akar unit ini digunakan untuk melihat apakah data yang diamati stasioner atau tidak. Uji ini merupakan pelengkap dari analisis VAR, dimana mengingat tujuan dari analisis VAR adalah untuk menilai adanya hubungan timbal balik diantara variabel-variabel yang diamati dan bukan tes untuk data. Akan tetapi, apabila data yang diamati adalah stasioner, hal ini akan meningkatkan akurasi dari analisis VAR.

2. Uji Hipotesis (Hyphothesis Testing) Uji hipotesis terdiri dari :

1. Likelihood Ratio Test

Digunakan untuk menguji hipotesis mengenai berapakah jumlah lag yang sesuai untuk model yang diamati.

2. Granger Causality Test

Digunakan untuk menguji apakah suatu variabel bebas (independent variabel) meningkatkan kinerja forecasting dari variabel tak bebas (dependent variabel).

3. Innovation Accounting

Pada dasarnya tes ini digunakan untuk menguji struktur dinamis dari sistem variabel dalam model yang diamati, yang dicerminkan oleh variabel inovasi (innovation variabel). Dengan kata lain, tes ini merupakan tes terhadap variabel inovasi (innovation variabel) yang terdiri dari :

1. The Impulse Responses

Digunakan untuk melihat efek gejolak (shock) suatu standar deviasi dari variabel inovasi terhadap nilai sekarang (current time values) dan nilai yang akan datang (future values) dari variabel- variabel endogen yang terdapat dalam model yang diamati.

2. The Cholesky Decomposition

Biasa disebut The Variance Decomposition yang memberikan informasi mengenai variabel inovasi yang relatif lebih penting dalam sistem VAR. Pada dasarnya, tes ini merupakan metode lain untuk menggambarkan sistem dinamis yang terdapat dalam VAR.

Tes ini digunakan untuk menyusun perkiraaan error variance suatu variabel, yaitu seberapa besar perbedaan antara variance sebelum dan sesudah shock, baik shock yang berasal dari variabel itu sendiri maupun shock dari variabel lain.

Secara umum model persamaan VAR adalah seperti berikut (Enders, 2004) :

Yt = Ao + A1Yt-1 + A2Yt-2 +……+ ApYt-p + εt … … … . . . … … …

Dimana :

Yt = vektor peubah tak bebas (Yt,t….Yt,t) berukuran nx1

A0 = vektor intersep berukuran nx1

Ap = matrik parameter berukuran nx1 untuk setiap i=1,2,…p εt =vektor sisaan (ε1,t…. εn,t) berukuran nx1

Asumsi yang harus dipenuhi pada analisis VAR yaitu, semua peubah tak bebas harus bersifat stasioner dan semua sisaan harus bersifat white noise yaitu, memiliki rataan nol, tidak ada korelasi diantara peubah tak bebas dan ragam konstan.

Bentuk hubungan kausalitas VAR berdasarkan pada pemikiran Granger

tentang penelitian hubungan kausalitas diantara dua variabel dapat dilakukan dengan memasukkan unsur waktu. Uji kausalitas Granger menyatakan bahwa variabel X mempengaruhi variabel Y jika nilai X baik saat ini maupun nilai periode masa lalu dapat memprediksi Y lebih akurat dibandingkan bila tidak menggunakan variabel X. Benuk persamaan hubungan bivariat X dan Y dengan memasukkan distributes lags sampai dengan ukuran tertentu secara umum adalah:

Y = a0 + a1X1 + a2X1-1 +….+ ajX1-m + b1Y-1 +….+ bjY-m + U1… … Y = a0 = b1Y-1 + b2Y-2…. + bjY-m + U2 … … … …

Gambar 2.1 Alur Estimasi Vector Autoregression (VAR) VAR 

Unrestricted VAR Restricted VAR

Data stasioner pada level Data tidak stasioner pada level

1. Analisis VAR yang didasarkan pada teori 2. Urutan peubah untuk

diurutkan berdasarkan korelasi terkuat

1. Tidak terkointegrasi VAR First Difference 2. VECM ÎAnalisi VAR

yang terkointegrasi

Langkah-langkah dalam analisis VAR : 1. Uji Stasioneritas

2. Uji Kausalitas Granger

3. Uji Kointegrasi ÎJohansen Cointegration

4. Uji Optimum Lag 5. Uji Stabilitas VAR 6. Model VECM

7. Forecast

Keunggulan dari analisis VAR antara lain adalah sebagai berikut :

1. Metode ini digunakan untuk mengetahui hubungan kausalitas dan juga model ini sederhana, digunakan untuk bentuk data yang berupa time series. Namun, model VAR ini digunakan untuk selang waktu jangka pendek, berbeda dengan VECM yang dapat digunakan untuk selang waktu jangka panjang.

2. Metode ini sederhana, kita tidak perlu dikhawatirkan dalam membedakan variabel endogen dan eksogennya.

3. Estimasinya sederhana, dimana metode OLS biasa dapat diaplikasikan pada tiap-tiap persamaan secara terpisah.

4. Hasil perkiraan (forecast) yang diperoleh dengan menggunakan metode ini dalam banyak kasus lebih baik dibandingkan dengan hasil yang didapat apabila menggunakan model persamaan simultan yang kompleks.

5. Analisis VAR juga merupakan alat analisis yang sangat berguna, baik dalam memahami adanya hubungan timbal balik (interrelationship) antara

variabel-variabel ekonomi, maupun di dalam pembentukan model ekonomi berstruktur.

2.9. Penelitian Terdahulu

2.9.1 Penelitian tentang Industri Tekstil dan modelnya

Penelitian Purnamaningrum (1998), menganalisis perkembangan ekpor dan daya saing industri tekstil Indonesia tahun 1986-1997 dengan menggunakan metode CMS, RCA, dan Indeks Penetrasi Pasar. Temuannya menunjukkan bahwa pada periode tahun 1986-1992 ekspor tekstil dan pakaian jadi Indonesia meningkat bervariasi. Tahun 1993 dan 1994 mengalami penurunan, sedangkan tahun 1995 dan 1996 mengalami peningkatan yang lambat. Pada tahun 1997 ekspor tekstil justru turun kembali. Peningkatan dan penurunan ekspor tekstil dan pakaian jadi Indonesia di pasar tujuan, terutama pasar non kuota lebih banyak disebabkan oleh efek daya saing dan efek pertumbuhan dunia. Secara umum, industri tekstil Indonesia memiliki keunggulan komparatif. Hal ini didasarkan pada rata-rata nilai RCA yang lebih dari 1.

Penelitian Pracoyo (1995) berkaitan dengan ekspor tekstil yang menggunakan data time series tahun 1983-1992 dan menggunakan metode analisis 2SLS. Pracoyo mengadopsi model permintaan dan penawaran ekspor, khususnya untuk negara industri yang baru berkembang (seperti Hong Kong) yang telah dilakukan oleh Muscatelli, Srinivasan, dan Vines (1992). Hasil adaptasinya disebutkan bahwa penawaran ekspor tekstil Indonesia dipengaruhi oleh harga tekstil per satuan, biaya bahan baku, besarnya tingkat upah, tarif, dan perubahan teknologi. Sedangkan dari sisi permintaan, ekspor tekstil Indonesia

dipengaruhi oleh harga tekstil domestik, harga tekstil dunia, harga barang substitusi (yaitu harga wool di pasar dunia), pendapatan negara lain, dan selera konsumen. Disimpulkan bahwa penurunan tarif akan mendorong perdagangan dunia menjadi lebih kompetitif. Besarnya variabel tarif dalam fungsi permintaan dan penawaran mempunyai pengaruh yang positif terhadap kuantitas yang ditawarkan dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, variabel tarif mempunyai pengaruh yang negaif terhadap kuantitas yang ditawarkan.

Penelitian dengan menggunakan metode pendugaan Ordinary Least Squares (OLS) dilakukan oleh Wintala (1999). Kesimpulan yang diperoleh adalah ekspor tekstil Indonesia ke Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang pada tahun 1978- 1997 menunjukkan trend yang positif dan signifikan secara statistik. Devaluasi Rupiah, kenaikan cadangan devisa, peningkatan jumlah penduduk, dan indeks harga sandang cenderung menaikkan volume ekspor tekstil Indonesia.

Dari beberapa telaah penelitian tentang industri tekstil yang telah dilakukan tersebut telah memberikan gambaran tentang perkembangan dan perdagangan industri tekstil di Indonesia melihat dari faktor-faktor yang

Dokumen terkait