31 Desember 2010 Nilai tercatat Nilai wajar Aset
Kas 9.975.712 9.975.712
Giro pada Bank Indonesia 19.989.683 19.989.683
Giro pada bank lain 5.658.053 5.658.053
Penempatan pada Bank
Indonesia dan bank lain 83.272.140 83.272.140
Efek-efek
Nilai wajar melalui laporan laba rugi 203.144 203.144
Tersedia untuk dijual 13.072.295 13.072.295
Dimiliki hingga jatuh tempo 9.239.224 9.217.203
Tagihan wesel ekspor 734.339 734.339
Obligasi Rekapitalisasi Pemerintah
Tersedia untuk dijual 6.026.463 6.026.463
Dimiliki hingga jatuh tempo 7.600.000 7.685.074
Efek-efek yang dibeli dengan janji
dijual kembali 501.381 501.381
Tagihan derivatif 87.870 87.870
Kredit yang diberikan dan piutang
dan pembiayaan syariah 238.386.376 238.386.376
Tagihan akseptasi 660.209 660.209 Penyertaan saham*) 1.099 1.099 Aset lain-lain**) 1.295.744 1.295.744 396.703.732 396.766.785 Liabilitas Liabilitas segera 4.123.639 4.123.639 Simpanan nasabah Giro 77.364.476 77.364.476 Tabungan 125.989.750 125.989.750 Deposito berjangka 130.298.171 130.298.171
Simpanan dari bank lain dan lembaga keuangan lainnya
Giro 80.431 80.431
Tabungan 7.510 7.510
Deposito berjangka dan on call 4.066.774 4.066.774
Inter-bank call money 1.005.600 1.005.600 Efek yang dijual dengan janji
dibeli kembali 526.365 526.365
Liabilitas derivatif 81.801 81.801
Liabilitas akseptasi 666.878 666.878
Pinjaman yang diterima 9.454.545 9.454.545
Liabilitas lain-lain***) 603.789 603.789
Pinjaman subordinasi 2.156.181 2.156.181
356.425.910 356.425.910
*) Penyertaan saham merupakan penyertaan saham dengan metode biaya. **) Aset lain-lain terdiri atas piutang bunga dan piutang lain-lain.
145
42. NILAI WAJAR ASET DAN LIABILITAS KEUANGAN (lanjutan)
Metode dan asumsi yang digunakan untuk perkiraan nilai wajar adalah sebagai berikut:
a. Nilai wajar aset dan liabilitas keuangan tertentu, kecuali efek-efek dan obligasi pemerintah yang dimiliki hingga jatuh tempo, kredit yang diberikan, tagihan dan liabilitas derivatif, serta pinjaman yang diterima dan pinjaman subordinasi, mendekati nilai tercatatnya karena mempunyai jangka waktu jatuh tempo yang singkat. Estimasi nilai wajar terhadap aset keuangan tertentu ditetapkan berdasarkan diskonto arus kas dengan menggunakan suku bunga pasar uang yang berlaku untuk hutang dengan risiko kredit dan sisa jatuh tempo yang serupa.
Estimasi nilai wajar terhadap liabilitas keuangan tertentu yang tidak memiliki kuotasi di pasar aktif ditetapkan berdasarkan diskonto arus kas dengan menggunakan suku bunga hutang baru dengan sisa jatuh tempo yang serupa.
b. Efek-efek dan Obligasi Rekapitalisasi Pemerintah
Nilai wajar untuk efek-efek dan Obligasi Rekapitalisasi Pemerintah yang dimiliki hingga jatuh tempo ditetapkan berdasarkan harga pasar atau harga kuotasi perantara (broker)/pedagang efek (dealer). Jika informasi ini tidak tersedia, nilai wajar diestimasi dengan menggunakan harga pasar kuotasi efek yang memiliki karakteristik kredit, jatuh tempo dan yield yang serupa.
c. Kredit yang diberikan
Portofolio kredit BRI secara umum terdiri dari kredit yang diberikan dengan suku bunga mengambang dan suku bunga tetap. Kredit yang diberikan dinyatakan berdasarkan jumlah nilai tercatat. Nilai wajar dari kredit yang diberikan menunjukkan nilai diskon dari perkiraan arus kas masa depan yang diharapkan akan diterima oleh BRI. Perkiraan arus kas ini didiskontokan dengan menggunakan suku bunga pasar untuk menentukan nilai wajar.
Nilai tercatat dari kredit yang diberikan dengan suku bunga mengambang dan suku bunga tetap adalah perkiraan yang layak atas nilai wajar.
d. Tagihan dan liabilitas derivatif
Nilai wajar atas instrumen derivatif yang dinilai menggunakan teknik penilaian dengan menggunakan komponen yang dapat diamati di pasar terutama adalah swap suku bunga, swap mata uang dan kontrak pertukaran mata uang. Teknik penilaian yang paling banyak digunakan meliputi model penilaian forward dan
swap yang menggunakan perhitungan nilai kini. Model tersebut menggabungkan berbagai komponen yang meliputi kualitas kredit dari counterparty, nilai spot dan kontrak berjangka serta kurva tingkat suku bunga. e. Pinjaman yang diterima dan pinjaman subordinasi
Nilai wajar dihitung berdasarkan model diskonto arus kas dengan menggunakan tingkat suku bunga pasar untuk sisa periode jatuh tempo.
146
43. PENERAPAN AWAL PSAK NO. 50 (REVISI 2006) DAN PSAK NO. 55 (REVISI 2006)
PSAK No. 50 (Revisi 2006), ”Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan” dan PSAK No. 55 (Revisi 2006), ”Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”, berlaku efektif untuk laporan keuangan dengan periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2010 dan diterapkan secara prospektif.
Ketentuan transisi atas penerapan awal PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) dilaksanakan sesuai dengan Buletin Teknis No. 4 yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, memberikan tambahan pedoman di bawah ini:
a. Perhitungan Suku Bunga Efektif
Perhitungan suku bunga efektif untuk instrumen keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi yang diperoleh sebelumnya dan masih bersaldo pada tanggal 1 Januari 2010 ditentukan berdasarkan arus kas masa depan yang akan diperoleh sejak penerapan awal PSAK No. 55 (Revisi 2006) sampai dengan jatuh tempo instrumen keuangan tersebut.
b. Penghentian Pengakuan
Instrumen keuangan yang sudah dihentikan pengakuannya sebelum tanggal 1 Januari 2010 tidak dievaluasi kembali berdasarkan ketentuan penghentian pengakuan dalam PSAK No. 55 (Revisi 2006).
c. Instrumen Keuangan Majemuk
Instrumen keuangan majemuk yang ada pada tanggal 1 Januari 2010 harus dipisahkan antara komponen liabilitas dan komponen ekuitas berdasarkan paragraf 11 PSAK No. 50 (Revisi 2006). Pemisahan tersebut ditentukan berdasarkan sifat, kondisi, persyaratan dan hal lainnya dari instrumen keuangan tersebut pada tanggal 1 Januari 2010.
d. Klasifikasi Instrumen Keuangan sebagai Liabilitas atau Ekuitas
Pada tanggal 1 Januari 2010, Bank mengklasifikasikan instrumen keuangan sebagai liabilitas atau ekuitas sesuai dengan paragraf 11 PSAK No. 50 (Revisi 2006).
e. Penurunan Nilai Instrumen Keuangan
Pada tanggal 1 Januari 2010, Bank menentukan penurunan nilai instrumen keuangan berdasarkan kondisi pada saat itu. Selisih antara penurunan nilai ini dengan penurunan nilai yang ditentukan berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku sebelumnya diakui langsung ke saldo laba pada awal tanggal 1 Januari 2010.
Untuk penerapan standar baru ini, BRI telah melakukan identifikasi atas penyesuaian transisi sesuai dengan PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No. 55 (Revisi 2006), PAPI (Revisi 2008) dan Buletin Teknis No. 4 mengenai ketentuan transisi atas penerapan standar-standar tersebut.
Penyesuaian transisi terutama berasal dari perhitungan ulang atas penyisihan kerugian penurunan nilai. Selisih antara penyisihan kerugian penurunan nilai yang dihitung dengan standar yang baru dan standar sebelumnya disesuaikan ke saldo laba pada tanggal 1 Januari 2010. Dasar perhitungan ulang atas penyisihan kerugian penurunan nilai dijelaskan pada Catatan 2f. Penyesuaian transisi tersebut adalah sebagai berikut:
147
43. PENERAPAN AWAL PSAK NO. 50 (REVISI 2006) DAN PSAK NO. 55 (REVISI 2006) (lanjutan) 1 Januari 2010 Efek dari penyesuaian transisi penerapan PSAK No. 50 (Revisi 2006)
Sebelum dan PSAK No. 55 Setelah
penyesuaian (Revisi 2006) penyesuaian Aset - bersih setelah dikurangi
penyisihan kerugian penurunan nilai
Giro pada bank lain 8.990.275 90.810 9.081.085
Penempatan pada Bank Indonesia
dan bank lain 40.495.057 136.233 40.631.290
Efek-efek 24.478.132 55.699 24.533.831
Tagihan derivatif 143.472 1.449 144.921
Kredit yang diberikan 194.242.503 17.266 194.259.769
Aset pajak tangguhan 1.915.026 (71.049) 1.843.977
Ekuitas
Saldo laba 17.834.694 230.408 18.065.102