• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DALIL HUKUM SERTA NORMA YANG DIGUNAKAN

B. Norma Dan Dalil Yang Digunakan Terggugat

Dalil gugatan penggugat tegas disangkal oleh Tergugat, karena pemilik hak atas tanah obyek perkara adalah Tergugat, bukan lagi milik Penggugat sebab tanah obyek perkara seluas 1.528 M2 sudah beralih hak menjadi milik Tergugat berdasarkan jual beli sesuai Akta Jual Beli Nomor 22/A/HM/1986 tertanggal 24 Juli 1986 yang dibuat di hadapan PPAT Adlin. Bahwa benar sebelum terjadi jual beli tanah Sertifikat Hak Milik tanah tersebut atas nama Penggugat, namun setelah terjadi jual beli antara Penggugat dengan Tergugat, maka sertifikat balik nama menjadi atas nama Tergugat, dan dalam buku sertifikat hak milik No. 396 pada kolom asal hak angka 4 juga disebutkan “penggantian sertifikat”. Dengan demikian tanah obyek perkara bukan lagi milik Penggugat melainkan milik Tergugat.

Dalil gugatan penggugat perlu diluruskan kebenarannya, bahwa sebelum terjadi jual beli tanah obyek perkara antara Penggugat dengan Tergugat, alas hak

tanah tersebut masih Surat Keterangan yang dikeluarkan oleh Lurah dan Camat setempat, sehingga Tergugat tidak mau membeli tanah Penggugat karena belum Sertifikat Hak Milik, dan ketika itu Tergugat menganjurkan kepada Penggugat dan Bapak Penggugat Astipan (almarhum) agar tanah obyek perkara disertifikatkan terlebih dahulu baru dilakukan transaksi jual beli. Kemudian tanah obyek perkara disertifikatkan atas nama Penggugat barulah Tergugat mau membelinya dan terjadilah jual beli di hadapan PPAT Adlin.

Dalil gugatan penggugat menyatakan Sertifikat Hak Milik nomor 396 sudah berubah nama menjadi atas nama Tergugat, memang benar pada tanggal 28 Maei 2001, Sertifikat Hak Milik Nomor 396 sudah berganti nama atau balik nama menjadi atas nama Tergugat, Karmin Sutan. Pergantian nama dalam sertifikat tersebut sah menurut hukum karena telah terjadi jual beli antara Penggugat dengan Tergugat di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Adlin, Sesuai Akta Jual Beli Nomor 22/A/HM/1986 tanggal 24 Juli 1986. jual beli benar dilakukan di hadapan PPAT Adlin, dihadiri Penggugat dan bapak Penggugat dimana Penggugat dan Tergugat sama-sama menghadap dan menandatangani Akta Jual Beli Nomor 22/A/HM/1986 tanggal 24 Juli 1986.

Oleh Tergugat, karena jual beli tanah obyek perkara sudah dilakukan secara sah antara Penggugat dengan Tergugat dihadapan PPAT Adlin, sebagai pemegang minuta oleh PPAT Adlin, dan sertifikat telah dibalik nama oleh PPAT Adlin, oleh karena itu maka segala urusan administrasi atas tanah obyek perkara baik permohonan balik nama sertifikat hak milik menjadi atas nama Tergugat yang dilakukan oleh PPAT Adlin, SH, bukanlah perbuatan tanpa hak dan

melawan hukum, sebagaimana dalil Penggugat, tetapi perbuatan PPAT Adlin adalah sah menurut hukum yang berlaku dan mempunyai kekuatan hukum mengikat, namun sebaliknya Penggugat lah yang melakukan perbuatan melawan hukum karena mengaku-ngaku masih pemilik tanah padahal sudah dijual oleh Penggugat kepada Tergugat.

Menurut tergugat dalam dalil ini Penggugat berpura-pura tidak tahu uang penjualan tanah Penggugat tersebut kemana digunakan oleh Penggugat dan bapaknya Astipan (almarhum), padahal ketika tanah ditawarkan Penggugat melalui bapak Penggugat kepada Tergugat, bapak Penggugat ada minta tolong kepada Tergugat, dan mengatakan agar tanahnya dibeli oleh Tergugat, karena uang penjualan tanah itu akan digunakan oleh bapak Penggugat dan Penggugat untuk membayar tunggakan kredit mobil barang truk merk Toyota Buaya ke Bank, karena mobil truk tersebut sudah mau ditarik/disita pihak bank, sambil bapak Penggugat memeperlihatkan surat tanah obyek perkara yang masih beralaskan Surat Camat dan Lurah/belum sertifikat, lalu Tergugat mengajurkan agar disertifikatkan dulu baru Tergugat mau membelinya, kemudian tanah disertifikatkan atas nama Penggugat Sukariawani, selanjutnya terjadi kesepakatan harga, lalu Tergugat dan Penggugat bersama bapak Penggugat bersama-sama pergi ke Kantor PPAT Adlin dan terjadilah jual beli kemudian dibuatlah Akta Jual Beli dan ditandatangani Penggugat dan Tergugat.

Menurut Tergugat, dimana jual beli yang dilakukan Penggugat dengan Tergugat dihadapan PPAT Adlin adalah sah dan mengikat, oleh karena itu kepemilikan atas hak tanah terperkara sah menurut hukum dan tidak dapat

diganggu gugat lagi, apalagi sertifikat tanah sudah beralih menjadi hak atas nama Tergugat I sejak tanggal 28 Mei 2001 sampai sekarang sudah 13 tahun lamanya.

Menurut ketentuan pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, pada pokonya dinyatakan bahwa sertifikat yang sudah diterbitkan 5 tahun tidak dapat lagi dituntut.

Menurut Tergugat bahwa gugatan penggugat mengherankan, dimana penggugat membuat gugatan setelah bapaknya penggugat meninggal bukan dilakukan sewaktu bapaknya penggugat masih hidup. Menurut tergugat karena tanah obyek perkara sudah dijual oleh Penggugat kepada Tergugat, maka secara yuridis tanah obyek perkara sudah sah menjadi hak milik Tergugat selaku pembeli itikad baik karena jual beli dilakukan secara terang-terangan di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dari pemilik tanah asal yaitu Penggugat. Oleh karena itu dalil posita Penggugat tersebut harus ditolak karena tidak beralasan dan hanya mengaku-aku tanah masih miliknya padahal sudah dijual Penggugat kepada Tergugat.

Dalam dalil yang dinyatakan tergugat pada eksepsi, terdapat norma hukum dari pihak tergugat yaitu norma hukum itikad baik dan kepastian hukum. Norma hukum itikad baik digunakan tergugat, karena tergugat dengan itikad baik menerima keinginan bapak penggugat untuk melaksanakan jual beli. Norma kepastian hukum digunakan tergugat, karena tergugat tidak mau melakukan jual beli tanah bapak penggugat yang masih beralaskan surat keterangan lurah/ SK camat. Oleh sebab itu untuk mendapatkan kepastian hak dalam jual beli tergugat melaksanakan jual beli setelah tanah disertifikatkan bapak penggugat, kemudian

melakukan jual beli di kantor PPAT adlin untuk melegalkan pelaksanaan jual beli serta agar pengurusan peralihan hak milik menjadi atas nama tergugat.

C. Tanggung Jawab PPAT/Pemegang Protokol Terhadap Akta Yang Dibuat