BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN
KAJIAN PUSTAKA A. Guru PNS
E. Norma Profesi Guru
1. Kompetensi Professional Guru
Dalam melaksanakan profesinya, profesional harus mengacu pada standar profesi. Standar profesi adalah prosedur dan norma-norma dan prinsip-prinsip yang dipergunakan sebagai pedoman agar keluaran kuantitas dan kualitas pelaksanaan profesi tinggi sehingga kebutuhan orang dan masyarakat ketika diperlukan dapat dipenuhi.
Mengacu kepada uraian di atas, maka kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan seorang guru dalam melaksanakan tugas profesi keguruan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi dengan sarana penunjang berupa bekal pengetahuan yang dimilikinya. Kompetensi merupakan perilaku yang irasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan pula. Kompetensi sangat diperlukan untuk mengembangkan kualitas dan aktivitas tenaga kependidikan.
Guru sebagai pendidik ataupun sebagai pengajar merupakan fakor penentu keberhasilan pendidikan di sekolah. Tugas guru yang utama adalah memberikan pengetahuan (cognitive), sikap/nilai (affective), dan keterampilan (psychometer) kepada anak didik. (Wirawan, 2002: 9).
Dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, kompetensi guru dibagi dalam tiga bagian yaitu:
(1) Kompetensi kognitif, yaitu kemampuan dalam bidang intelektual, seperti pengetahuan tentang belajar mengajar, dan tingkah laku
individu,
(2) Kompetensi afektif, yaitu kesiapan dan kemampuan guru dalam berbagai hal yang berkaitan dengan tugas profesinya, seperti menghargai pekerjaannya, mencintai mata pelajaran yang dibinanya, dan
(3) Kompetensi perilaku, yaitu kemampuan dalam berperilaku, seperti membimbing dan menilai. (Aidin Adlan, 2000: 32).
Sedangkan Sudjana mengemukakan empat kompetensi guru:
(1) Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, (2) Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang
dibinanya,
(3) Mempunyai sikap yang tepat tentang iri sendiri, sekolah, teman (4) Mempunyai keterampilan teknik mengajar. (Nana Sudjana, 1989:
17).
Berdasarkan uraian di atas, konsep kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan dasar melaksanakan tugas keguruan yang dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan menilai proses belajar mengajar,
a. Merencanakan Program Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar perlu direncanakan agar dalam pelaksanaannya pembelajaran berlangsung dengan baik dan dapat mencapai hasil yang diharapkan. Setiap perencanan selalu berkenaan
dengan pemikiran tentang apa yang akan dilakukan. Perencanaan program belajar mengajar memperkirakan mengenai tindakan apa yang akan dilakukan pada waktu melaksanakan pembelajaran. Isi perencanaan yaitu mengatur dan menetapkan unsure-unsur pembelajaran, seperti tujuan, bahan atau isi, metode, alat dan sumber serta penilaian.
Menurut Joni, bahwa kemampuan merencanakan program belajar mengajar mencakup kemampuan:
1) Merencanakan pengorganisasian bahan-bahan pengajaran, 2) Merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar, 3) Merencanakan pengelolaan kelas,
4) Merencanakan penggunaan media dan sumber pengajaran; dan 5) Merencanakan penilaian prestasi siswa untuk kepentingan
pengajaran. (T. Raka Joni, 1984:12).
Berdasarkan uraian diatas, merencanakan program belajar mengajar merupakan proyeksi guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung, yang mencakup: merumuskan tujuan, menguraikan deskripsi satuan bahasan, merancang kegiatan belajar mengajar, memilih berbagai media dan sumber belajar, dan merencanakan penilaian penguasaan tujuan,
b. Melaksanakan Proses Belajar Mengajar
Melaksanakan proses belajar mengajar merupakan tahap pelaksanaan program yang telah disusun. Dalam kegiatan ini
kemampuan yang di tuntut adalah keaktifan guru menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat, apakah kegiatan belajar mengajar dicukupkan, apakah metodenya diubah, apakah kegiatan yang lalu perlu diulang, manakala siswa belum dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Pada tahap ini disamping pengetahuan teori belajar mengajar, pengetahuan tentang siswa, diperlukan pula kemahiran dan keterampilan teknik belajar, misalnya: prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, dan keterampilan menilai hasil belajar siswa.
Harahap menyatakan bahwa: Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan program mengajar adalah mencakup kemampuan:
1) Memotivasi siswa belajar sejak saat ini membuka sampai menutup pelajaran.
2) Mengarahkan tujuan pengajaran
3) Menyajikan bahan pelajaran dengan metode yang relevan dengan tujuan.
4) Melakukan pemantapan belajar.
5) Menggunakan alat-alat bantu pengajaran dengan baik dan benar. 6) Melaksanakan layanan bimbingan penyuluhan.
8) Melaksanakan hasil penilaian belajar. (Baharuddin Harahap, 1983: 32).
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa melaksanakan proses belajar mengajar merupakan sesuatu kegiatan dimana berlangsung hubungan antara manusia, dengan tujuan membantu perkembangan dan menolong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada dasarnya melaksanakan proses belajar mengajar adalah menciptakan lingkungan dan suasana yang dapat menimbulkan perubahan struktur kognitif para siswa.
c. Melaksanakan Proses Penilaian Belajar Mengajar
Penilaian proses belajar mengajar dilaksanakan untuk mengetahui keberhasilan perencanaan kegiatan belajar mengajar yang telah disusun dan dilaksanakan. Penilaian diartikan sebagai proses yang menentukan betapa baik organisasi program atau kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai maksud-maksud yang telah ditetapkan. (Oteng Sutisna,
1985:212).
Tujuan utama melaksanakan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa, sehingga tindak lanjut hasil belajar akan dapat diupayakan dan dilaksanakan. Dengan demikian, melaksanakan penilaian proses belajar mengajar merupakan bagian tugas guru yang harus dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran, sehingga dapat diupayakan tindak lanjut hasil belajar siswa.
Dari uraian tentang kompetensi profesional guru di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi profesional guru merupakan kemampuan dasar seorang guru yang memiliki keahlian khusus mengenai bidang keguruan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya baik sebagai pengajar maupun pendidik dengan penuh rasa tanggung jawab dan layak.
Guru sebagai suatu pekerjaan mencari penghasilan bagi kepentingan kehidupan diri sendiri ataupun dirinya dan keluarganya oleh islam telah ditetapkan norma profesinya, antara lain: (Muhammad Muthalib, 1994:
140).
1. Bertindak Secara Keilmuan
Islam menetapkan azas moralitas yang harus dipenuhi oleh setiap orang dalam melakukan pekerjaan apapun atau profesi apapun yakni melakukan profesinya berdasarkan pada ilmu. Seorang guru tidak hanya mempunyai kewajiban menguasai bidang ilmu yang akan diajarkan kepada anak didiknya, tetapi juga harus menguasai didaktif dan metodik pengajaran agar ilmu yang diajarkan kepada muridnya benar-benar dapat dipahami dan dihayati muridnya.karena tujuan mengajar anak didik mengenai suatu ilmu adalah menjadikan yang bersangkutan benar-benar memahami apa yang dipelajarinya sehingga dapat menguasai dengan lebih baik dan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan budaya manusia yang menyangkut ilmu Pengetahuan dan Teknologi sekarang ini tumbuh dengan pesat, sehingga membawa akibat-akibat dalam berbagai kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu pengetahuan yang diajarkan pada anak didikpun harus dapat mengikuti perkembangan budaya manusia. Apabila seorang guru tidak mengikuti perkembangan, berarti akan ketinggalan dan apa yang diajarkan tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat. Hail ini harus diatasi oleh seorang guru secara kontinyu dengan memperdalam dan memperkuat materi yang diajarkan. (Sardinian AM, 1992: 148).
2. Memiliki Rasa Tanggung Jawab Tinggi
Azas moralitas yang diajarkan oleh islam bagi setiap orang yang melakukan suatu profesi atau pekerjaan, termasuk guru adalah kewajiban memiliki rasa tanggung jawab tentang pekerjaan yang dilakukan.
Tanggung jawab pekerjaan guru bukan sekedar bersifat structural, artinya tanggung jawab kepada atasan yang memberi pimpinan dan arahan atas pekerjaan yang dilakukannya, tetapi yang paling pokok adalah justru tanggung jawab kepada Allah AWT. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang harus dilakukannya dengan kesadaran bahwa setiap langkah yang dilakukannya kelak harus dipertanggung jawabkan oleh yang bersangkutan dihadapan Allah pada hari perhitungan amal semua manusia di akhirat. Tanggung jawab semacam ini mendasari setiap guru dalam mengajarkan ilmu kepada anak didiknya baik dalam sekolah maupun kegiatan pembelajaran di luar sekolah.
Guru harus memiliki sifat amanah, hal ini akan menggugah kesadaran bahwa tugasnya bukan sekedar sebagai suatu kewajiban dan mengejar imbalan jasanya saja namun lebih dari itu tugas mengajar merupakan tanggung jawab moral kepada masyarakat dan yang paling pokok adalah tanggung jawab kepada Allah SWT. (Agus Nugroho, 1997: 140).
Para guru tidak diperkenankan apriori dalam mengemban tanggung jawab pembelajaran ini dengan sekedar menyandarkan diri pada buku pegangan yang ditetapkan dalam memberikan pelajaran pada bidang pengetahuan tertentu. Ia wajib melekukan koreksi terhadap segala bentuk keterangan yang dipaparkan dalam suatu buku yang ternyata tidak benar menurut islam.
3. Bekeija Sesuai Bakat dan Kecendrungan Nuraninya
Azas moral ketiga yang digariskan islam ialah hendaklah setiap orang dalam menekuni suatu pekerjaan atau profesi benar-benar melaukannya sejalan dengan bakat dan kecendrungan hatinya.
Panggilan profesionalisme terhadap dunia pendidikan adalah membuat hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. (A. Nasirudin, 1996: 24). Hal ini sesuai dengan yang diisyaratkan Al-Qur'an Qs. Al-Hasyr ayat 18:
18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Seseorang tidak boleh melakukan pekeijaaan dengan prinsip asal dapat honor walaupun ia tidak menyenangi dan tidak berbakat dalam pekerjaannya. Karena orang yang suatu pekerjaan diluar dorongan kecendrungan hati nurani dan bakatnya tidak akan dapat mencapai hasil yang baik, padahal setiap orang diperintahkan untuk melakukan pekeijaan dengan amal shalih. Pengertian amal shalih secara harfiah berarti berbuat yang membawa kebaikan dan keuntungan bagi diri sendiri dan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
Dalam pengertian luas, amal shalih berarti segala tingkah laku yang kita lakukan harus benar-benar memberikan hasil positif bagi kepentingan manusia secara keseluruhan dan bagi dirinya sendiri. Jika seseorang melekukan suatu pekeijaan atau profesi yang tidak disenangi dan tidak pula menjadi bakatnya, maka hal semacam itu tidak saja akan membuat yang bersangkutan merasa tidak dapat memberikan sumbangsih optimal dalam profesinya, bahkan bisa juga merusak orang lain/anak didiknya.
Profesi harus diambil sebagai pemenuhan panggilan hidup. Oleh karena itu, profesi dikeijakan sepenuh waktu. Sebagai panggilan hidup artinya profesi itu dipilih karena dirasakan itulah panggilan hidupnya, artinya itulah lapangan pengabdiannya. Profesi itu dipilihnya bukan
karena panggilan uang, bukan karena panggilan kedudukan, bukan pula karena terbawa-bawa oleh orang lain. Jadi ada suatu kesungguhan dalam memilih profesi. (Ahmad Tafsir, 2004: 108).
4. Menekuni dan Menetapi Pekeijaan Secara Serius dan Mendalam
Azas moralitas islam yang keempat dalam bidang pekeijaan atau profesi adalah adanya ketekunan dan kesungguhan dalam melakukan pekerjaan secara sempurna. Seorang guru dituntut untuk melakukan profesi pembelajaran secara baik dan sempurna sesuai dengan tingkat kemempuan yang dimilikinya, sehingga anak didik dapat memperoleh hasil yang maksimal dari kegiatan belajar yang dilakukan di sekolah.
Guru harus meningkatkan kemampuan dan kemauan serta keterampilan mengelola proses pembelajaran, tidak statis dan berkesan tradisional tetapi mampu mengelola secara professional, variatif dan selalu menarik. (Agus Nugroho, 1997: 27).
Guru harus memiliki kesiapan alami (fitrah) untuk menjalani profesi mengajar, seperti pemikiran yang lurus, Bashirah yang jernih, tidak melamun, berpandangan jauh ke depan, cepat tanggap, dan mengambil tindakan yang tepat pada saat kritis. Guru harus memiliki kemampuan mengendalikan diri dan orang lain. Hal ini tidak berarti orang yang tidak punya kemampuan untuk menjalani profesi guru. Tapi agar guru bisa berhasil menjalankan tugasnya harus mempunyai kemauan yang kuat dan keuletan yang ekstra. Guru harus menyiapkan materi pelajaran dengan sebaik-baiknya, dengna cara mengulang
hafalan, meringkas point-pointnya, dan memikirkan jawaban atas hal-hal yang mugkin akan ditanyakan para siswa. (Muhammad Samir Al Munir, 2004: 25).
Bilamana seorang guru ternyata melakukan kegiatan pembelajaran secara sambil lalu dan tidak serius, tentu hal semacam itu akan merusak anak didik dan bahkan membuat proses belajar nmengajar menjadi terlantar. Akibat dari sikap guru semacam itu akan dapat merusak generasi muda dalam upaya menguasai ilmu, baik bidang teknologi, sosial maupun yang lainnya.
Kerugian yang diderita oleh anak didik dan generasi muda pada umumnya dari tingkah laku seorang guru yang tidak melakukan pekerjaannya dengan sempurna dan tekun dapat membuat suatu bangsa tertinggal dari bangsa lainnya dalam mengetahui ilmu pengetahuan dan science. Lebih-lebih dalam pendidikan agama, jika guru tidak melakukan dengan ketekunan dan kesempurnaan dalam mengajarkan pengetahuan agama dan membimbing pengalaman agama dalam kehidupan anak didiknya, maka anak didik tidak akan pernah memahami dan menghayati dengan baik agama yang dipelajarinya.
Hal semacam ini akan membuat mereka jauh dari agama dan menganggap agama tidak bermanfaat bagi kehidupan mereka sehari-hari di dunia ini. Munculnya anggapan semacam pada anak didik benar-benar sangat membahayakan kehidupan generasi muda, karena mereka menganggap bahwa agama tidak penting dalam kehidupan dunia. Akan
tetapi bila mana seorang guru dalam mengajarkan agama memberikan didikan kepada anak didiknya, melakukannya secara tekun dan sempurna, maka anak didik akan tuntutan agama sehingga setiap gerak- gerik dan tingkah lakunya berjalan pada garis yang benar dan dapat menjamin kebahagian dan ketentraman hidup di dunia ini, baik pada orang-seorang, Bangsa maupun Negara.
2. Tugas Dan peran Guru a. Tugas Guru
Bila dipahami, maka tugas guru tidak hanya sebatas sekolah, tetapi juga sebagai penghubung antara guru dan masyarakat. Bahkan bila dirinci lebih jauh, tugas guru menurut Roeatiyah N. K, bahwa guru dalam mendidik anak didik bertugas untuk: (Syaiful Bahri Djamarah,
1997: 36-39).
1) Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandian, kecakapan dan pengalaman-pengalaman.
2) Membentuk kepribadian anak yang harmonis, sesuai cita-cita dan dasar Negara kita Pancasila.
3) Menyiapkan anak menjadi warga Negara yang baik sesuai undang- undang pendidikan yang merupakan keputusan MPR No. H Tahun
1983.
4) Di dalam proses belajar guru hanya sebagai perantara/medium, anak harus berusaha endiri mendapatkan suatu pengertian/insight,
sehingga timbul perubahan dalam pengetahuan, tingkah laku dan sikap.
5) Guru adalah sebagai pembimbing, untuk membawa anak didik ke arah kedewasaan, pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk anak menurut sekehendaknya.
6) Guru sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat. Anak nantinya akan hidup dan bekerja, serta mengabdikan diri dalam masyarakat, dengan demikain anak harus dilatih dan dibiasakan di sekoah di bawah pengawasan guru.
7) Sebagai penegak disiplin, guru menjadi contoh dalam segala hal, tata tertib dapat beijalan bila guru menjalani lebih dahulu.
8) Guru sebagai administrator dan manajer.
Di samping mendidik, seorang guru harus dapat mengerjakan urusan tata usaha seperti membuat buku kas, daftar induk, rapot, daftar gaji dan sebagainya, serta dapat mengkoordinasi segala pekerjaan sekolah secara demokratis, sehinga suasana penuh dengan rasa kekluargaan.
9) Pekerjaan guru suatu profesi
Orang yang menjadi guru karena terpaksa tidak dapat bekerja dengan baik, maka harus menyadari benar-benar pekerjaannya sebagai suatu profesi.
10) Guru sebagai perencana kurikulum
kebutuhan anak-anak dan masyarakat sekitar, maka dalam penyusunan kurikulum, kebutuhan ini tidak boleh ditinggalkan. 11) Guru sebagai pemimpin (guidance worker)
Guru mempunyai kesempatan dan tanggung jawab dalam banyak situasi untuk membimbing anak ke arah pemecahan social, membentuk keputsan, dan menghadapakan anak-anak pada problem.
12) Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak
guru harus turut aktif dalam segala aktifitas anak, misalnya dalam ektrakurikuler membentuk kelompok belajar dan sebagainya
S. Nasution membagi menjadi tiga bagian tugas guru sebagai berikut: 1) Sebagai orang yang mengkomunikasikan pengetahuan.
Dengan tugasnya ini, maka guru harus memiliki pengetahuan mendalam tentang bahan ajar yang diajarkan.
2) Guru sebagai model yaitu dalam bidang studi yang diajarkannya merupakan suatu yang berguna dan dipraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga guru tersebut menjadi model atau contoh nyata yang dikehendaki oleh mata pelajaran.
3) Guru menjadi sebagai pribadi, apakah berdisiplin, cermat berfikir, mencintai pelajarannya, atau yang mematikan idealisme dan picik pelajarannya. (S. Nasution, 1988: 16-17).
Untuk mendukung tugas guru terhadap anak didiknya maka perlu juga diketahui sifat-sifat yang harus dimiliki seorang guru. Ada tujuh sifat
yang harus dimiliki guru sebagaimana pendapat Muhammad Athiyah Al-Abrasy yang dikutip Abudin Nata, yaitu
1) Seorang guru harus memiliki sifat zuhud, yaitu tidak mengutamakan untuk mendapatkan materi dalam tugasnya melainkan karena mengharap ridha Allah semata.
2) Seorang guru memilki jiwa yang bersih dan sifaf jauh dari ahlak yang tidak mulia
3) Seorang guru harus ihlas dalam melaksanakan tugasnya. 4) Seorang guru harus bersifat pemaaf terhadap muridnya.
5) Seorang guru harus menempatkan dirinya sebagai seorang bapak sebeum menjadi seorang guru.
6) Seorang guru harus mengetahui bakat tabi'at dan watak murid- muridnya.
7) Seorang guru harus menguasai bidang studinya yang akan diajarknnya.
Dengan memilki sifat-sifat tersebut, seorang guru akan bangga dengan profesinya dan mengembangkan dirinya sesuai dengan tugasnya sebagai seorang pendidik yang menghantarkan anak didik ke jenjang kemulian di dunia dan di akhirat.
b. Peran Guru
organisator, motivator, direktor, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator. (Sardinian. AM, 1992: 142-144). Peranan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapakan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa, sesama guru maupun dengan staf yang lain. Dari berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang sebagai sentral bagi pranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dengan siswanya.
Peran guru menurut Made Pidarta adalah: (Made Pidarta, 1997: 279- 280).
a) Sebagai spesialis sumber-sumber pendidikan di masyarakat. b) Mengidentifikasi sumber-sumber pendidikan di masyarakat.
c) Lebih banyak memberi layanan pendidikan dalam keluarga dan masyarakat.
d) Sebagai orang tua di sekolah yang bersama orang tua mendidik anak yang bersangkutan.
e) Sebagai konselor dan adiminstrtor keija sama dengan masyarakat dan personalia lembaga pendidikan.
f) Sebagai salah satu unsur sistem pendidikan, bukan di bawah komando atasan.
h) Pengembangan profesi direncanakan bersama oleh pendidik bersangkutan dengan pemimpin lembaga tempat ia bekerja.
Peranan guru dalam pendidikan telah difirmankan Allah dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 122:
j h j a ilis s » \ j j A x J ^ ^ Lt j $
722. tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Ayat ini mengisyaratkan adanya kewajiban untuk mengajar dan belajar. Orang yang mengajar sebagai pekerja tetap atau sambilan (sukarela) mempunyai kewajiban untuk menjadikan orang yang belajar kepadanya mampu memahami pengetahuan yang diajarkannya dan menjadi orang yang dapat menguasai serta mengamalkan pengetahuan yang pelajari itu.
Bertitik tolak dari ayat tersebut di atas, maka suatu perbuatan sangat dosa bilamana seorang guru tidak bersungguh-sungguh dalam usahanya mentransfer pengetahuan kepada anak didiknya dengan benar, sehingga mereka dapat memehami pengetahuan yang
dipelajarinya. Perilaku guru yang tidak ambil peduli akan membuat kesulitan para muridnya untuk memahami pengetahuan yang diajarkannya adalah tindakan khianat terhadap ilmu dan muridnya. Sebab pada ayat di atas Allah menggunakan kata tafaqqu yang berarti memahami hal-hal pelik, sehingga dapat dimengerti dengan mudah dan dihayati maksud serta seluk-beluknya, dan yang bersangkutan dapat mengamalkan pemahaman serta pengertian yang telah dihayatinya dengan baik.
Secara singkat, para guru mempunyai peran yang besar dalam mengembangkan kemampuan intelektual murid dan penguasaan ilmu. Ia juga mempunyai tanggung jawab dan peran besar dalam menumbuh kembangkan akhlak agama anak didiknya, sehingga mereka menjadi anak-anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah. Sudah tentu para guru terlebih dahulu dituntut untuk memenuhi syarat-syarat sebagai orang yang benar-benar mengikuti ajaran islam, sehingga dapat menyampaikan fungsinya kepada anak didikdengan baik. Setiap guru tidak diperkenankan apriori dalam pembinaan akhlak muridnya dengan alasan bahwa dirinya bukan guru agama atau orang yang bertanggung jawab mengajarkan agama kepada murid-muridnya. Anggapan
semacam ini adalah keliru dan menyesatkan.
H. Abuddin Nata mengatakan seorang guru bila mendidik didasari dengan keikhlasan akan melaksanakan tugasnya secara
Pertama, selalu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan guna mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar, seperti dalam hal penguasaan terhadap bahan pelajaran, pemilihan metode, penggunaan sumber dan media pengajaran.
Kedua, disiplin terhadap peraturan dan waktu. Dalam
keseluruhan hubungan sosial dan profesinya, seorang guru yang ikhlas dalam akan bertindak tepat dalam janji dan penyelesaian tugas- tugasnya.
Ketiga, penggunaan waktu luangnya akan dirahkan untuk
kepentingan profesionalnya. Guru yang ikhlas dalam keseluruhan waktunya akan digunakan serta efisien, baik dalam kaitannya tugas kegunaan maupun dalam pengembangan karimya, sehingga ia mencapai peningkatan.
Keempat, ketekunan dan keuletan dalam bekeija. Guru yang