Oleh: Dodik Ridho Nurrochmat
PENGARUH I NSTRUMEN EKONOMI TERHADAP PEMASARAN PRODUK
AGROFORESTRY
emasaran produk agroforestry dipengaruhi oleh lingkungan pemasaran, baik lingkungan internal maupun lingkungan eksternal. Lingkungan internal adalah faktor lingkungan yang berasal dari atau disebabkan oleh diri pelaku/ pemasar, misalnya: kapasitas sumberdaya manusia, modal, dan penguasaan teknologi. Sedangkan lingkungan eksternal adalah faktor lingkungan yang berasal dari luar pemasar, misalnya: kondisi sosial budaya, stabilitas politik, dan situasi makro ekonomi.
Kebijakan ekonomi yang ditetapkan pemerintah merupakan bagian dari lingkungan pemasaran eksternal yang memengaruhi pemasaran produk, termasuk produk agroforestry. Ada beberapa instrumen ekonomi yang dapat digunakan dalam kebijakan perekonomian sebagai berikut:
I nstrumen tarif
Kebijakan subsidi
Pemberlakuan kuota
I nstrumen moneter
Kebijakan stabilisasi hargaI nstrumen Tarif. Tarif merupakan instrumen yang pada umumnya dipergunakan dalam kebijakan perdagangan suatu komoditi. Di sektor kehutanan, kebijakan pemberlakuan tarif ekspor super tinggi untuk ekspor kayu bulat yang dikeluarkan pada pertengahan tahun delapanpuluhan dipergunakan sebagai salah satu instrumen penting dalam mendorong tumbuhnya industri kayu olahan dan mendongkrak perolehan devisa. Demikian juga dengan larangan ekspor dan pemberlakuan tarif ekspor rotan mentah
P
Tujuan:
1. Mengetahui pengaruh instrumen ekonomi / tarif (pajak dan pungutan lainnya) terhadap
pemasaran produk kehutanan, termasuk agroforestry.
2. Mengetahui pengaruh kebijakan dan peraturan perundang-undangan terhadap pemasaran
produk kehutanan, termasuk agroforestry.
3. Memahami isu mekanisme perdagangan yang lebih adil (fair trade).
draft k
e 4
d'sain
ku adv
Kebijakan Ekonomi dan Perdagangan Produk Agroforestry
Pemasaran Produk- Produk Agroforestry Kerjasama FAKULTAS KEHUTANAN IPB- ICRAF
8-2
dan setengah jadi yang sangat tinggi dimaksudkan untuk memberikan proteksi kepada industri pengolahan rotan dalam negeri, sekaligus sebagai upaya meningkatkan nilai tambah pada produk hasil hutan olahan di dalam negeri. Namun demikian, pada saat yang bersamaan pemberlakuan tarif ekspor super tinggi terhadap produk asalan atau setengah jadi pada umumnya justru menyengsarakan petani hutan. Untuk produk agroforestry, dimana sebagian besar produknya masih berupa bahan mentah kebijakan tarif ekspor bahan mentah dan setengah jadi, dalam jangka pendek tampaknya kurang menguntungkan. Larangan ekspor atau pemberlakuan tarif ekspor harus dibarengi dengan pemberdayaan petani hutan, sehingga petani dapat mengolah dan menjual hasilnya dalam bentuk barang jadi yang memiliki nilai tambah.
Kebijakan Subsidi. Kebijakan subsidi dapat diberikan kepada petani agroforestry antara lain melalui subsidi pupuk dan sarana produksi pertanian lainnya. Pemberian subsidi sarana produksi pertanian sejatinya sudah sering dilakukan di berbagai program pemberdayaan masyarakat maupun Pemberdayaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH), seperti program PMDH Perum Perhutani maupun program PMDH yang diselenggarakan oleh perusahaan pengusaahaan hutan alam (HPH/ I UPHHA) maupun pengusahaan hutan tanaman (HTI / I UHPHHT). Subsidi saprotan merupakan subsidi yang diberikan kepada produsen, dengan maksud diantaranya untuk meningkatkan efisiensi produksi. Selain subsidi kepada produsen, subsidi juga dapat dilakukan kepada konsumen seperti misalnya program BLT (Bantuan Langsung Tunai). Subsidi kepada konsumen dilakukan untuk meningkatkan daya beli konsumen.
Pemberlakuan kuota. Selain tarif dan subsidi, kuota juga merupakan instrumen perdagangan agroforestry yang penting. Kuota dapat diberlakukan pada dua kondisi, yaitu:
1) Kuota impor 2) Kuota ekspor
Kuota impor dilakukan untuk melindungi produsen dalam negeri dari serbuan produk asing. Secara ekonomi, pemberlakukan kuota impor pada umumnya merugikan konsumen karena adanya kuota akan membatasi jumlah suatu komoditas yang masuk ke suatu negara. Akibatnya, karena keterbatasan pasokan maka berdasarkan logika ekonomi, produk yang terjual akan menurun. Sedangkan kuota ekspor pada umumnya diberlakukan terhadap barang mentah atau setengah jadi. Hal ini dilakukan untuk mendorong penciptaan nilai tambah dan tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri. Selain itu, kebijakan kuota ekspor juga ditujukan untuk menjamin kebutuhan konsumen dalam negeri terhadap suatu jenis atau beberapa jenis produk.
I nstrumen moneter. Kebijakan moneter merupakan salah satu instrumen yang dipergunakan untuk meningkatkan daya saing produk di pasar ekspor. I nstrumen moneter yang sering dipergunakan antara lain adalah kebijakan devaluasi dan revaluasi mata uang. Devaluasi dilakukan untuk menjaga agar produk yang diekspor harganya lebih kompetitif dibandingkan dengan harga produk sejenis yang dijual oleh pesaing. Devaluasi merupakan penurunan nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing yang ditetapkan oleh pemerintah selaku pemegang otoritas keuangan. Selain merupakan kebijakan pemerintah, penurunan nilai tukar mata uang dapat terjadi secara “alamiah” melalui mekanisme pasar yang disebut dengan istilah depresiasi atau koreksi nilai mata uang. Devaluasi dan depresiasi nilai mata uang yang sangat besar
draft k
e 4
d'sain
ku adv
Kebijakan Ekonomi dan Perdagangan Produk Agroforestry
Pemasaran Produk- Produk Agroforestry
Kerjasama FAKULTAS KEHUTANAN IPB-ICRAF
8-3
pernah terjadi di I ndonesia pada saat terjadi krisis ekonomi hebat akhir tahun sembilanpuluhan. Beberapa studi membuktikan bahwa sesungguhnya banyak produk pertanian dan kehutanan (termasuk agroforestry) yang justru menangguk keuntungan pada saat terjadi krisis moneter di I ndonesia. Hal ini dimungkinkan karena pada umumnya kandungan lokal produk pertanian dan kehutanan sangat tinggi sehingga memperoleh margin yang sangat besar dari nilai produk yang diekspor ketika nilai tukar rupiah merosot.
Sanering atau pemotongan nilai mata uang adalah kebijakan yang dilakukan untuk meningkatkan daya beli konsumen domestik ketika terjadi inflasi yang tidak terkendali. Meskipun bukan pilihan kebijakan yang populer dan sangat beresiko, sanering pernah diberlakukan di I ndonesia pada pertengahan tahun enampuluhan.
Kebijakan stabilisasi harga. Kebijakan stabilisasi harga merupakan suatu kebijakan yang dimaksudkan untuk mencegah terjadinya fluktuasi harga yang tinggi, terutama pada barang-barang kebutuhan pokok. Kebijakan stabilisasi harga dapat dilakukan dengan menetapkan “harga dasar” dan “harga atap”. Harga dasar adalah harga terendah yang ditetapkan pemerintah terhadap suatu produk (misalnya beras) pada saat terjadi penurunan harga karena melimpahnya pasokan (misalnya pada saat panen raya). Sedangkan harga atap adalah harga tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah untuk mencegah melambungnya harga suatu komoditas akibat kelangkaan pasokan. Kebijakan harga dasar biasanya dilakukan oleh pemerintah dengan menampung pasokan yang berlebih dengan harga tertentu yang ditetapkan (misalnya beras melalui BULOG). Sedangkan harga atap dikontrol dengan melakukan operasi pasar untuk menambah pasokan suatu komoditas yang mengalami kelangkaan di pasar dengan harga penjualan yang lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar.