• Tidak ada hasil yang ditemukan

USAHA AGROFORESTRY

Dalam dokumen PEMASARAN PRODUK AGROFORESTI DAN ID (Halaman 76-81)

saha agroforestry sangat erat kaitannya dengan mengembangkan model agroforestry yang optimal dari pertimbangan ekologi, ekonomi dan sosial. Dalam membangun model tersebut diperlukan para petani yang memiliki jiwa kewirausahaan. Mengingat pengembangan usaha agroforestry menuntut optimalisasi dari aspek ekologi, ekonomi dan sosial sehingga pemahaman akan makna dari kewirausahaan menjadi penting dilakukan. Berdasarkan asal kata, kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi w irausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. I ni baru dari segi etimologi (asal usul kata).

Menurut Kamus Besar Bahasa I ndonesia, w irausaha adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, mengatur permodalan operasinya serta memasarkannya. Sedangkan hasil lokakarya Sistem Pendidikan dan Pengembangan di I ndonesia tahun 1978, mendefinisikan “Wirausahaw an adalah pejuang kemajuan yang mengabdikan diri kepada masyarakat dengan wujud pendidikan dan bertekad dengan kemampuan sendiri membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin meningkat dan memperluas lapangan kerja”. Pengelolaan agroforestry berkaitan dengan optimalisasi penggunaan lahan untuk mencukupi kebutuhan hidup petani dan dalam rangka pelestarian sumberdaya alam sekitarnya. Wiradinata (1987) berpendapat agroforestry merupakan perpaduan usahatani dan kehutanan yang dapat memelihara kelestarian lingkungan, baik dari segi erosi maupun dari segi peredaran hara. Demikian pula agroforestry dapat memanfaatkan ruang dengan efisien dan waktu dengan produktif berupa tanam gilir (sequential cropping). Efisiensi dalam ruang dan waktu dapat tercermin dalam besarnya penghasilan bagi petani dengan adanya pemilihan yang tepat mengenai jenis yang ditanam.

Agroforestry adalah manajemen pemanfaatan lahan secara optimal dan lestari, dengan cara mengkombinasikan kegiatan pertanian dan kehutanan pada unit pengelolaan lahan yang sama maupun lahan yang berurutan dengan tujuan peningkatan produktivitas dan kelestarian hutan (PERUM PERHUTANI , 1990).

U

Tujuan:

1. Memahami Usaha Agroforestry

2. Memahami Pengembangan Usaha Agroforestry

draft k

e 4

d'sain

ku adv

Pengembangan Usaha Agroforestry

Pemsaran Produk-Produk Agroforestry Kerjasama FAKULTAS KEHUTANAN IPB- ICRAF

5-2

Agroforestry, meskipun jelas tampak sebagai hutan dari segi lingkungannya, tidak dapat dipisahkan dari segi pertanian para petani secara keseluruhan. Agroforestry adalah bagian dari lahan hutan yang dikembangkan dengan teknologi pertanian. Agroforestry merupakan bagian lahan pertanian dan sistem produksi pertanian. Agroforestry mendukung ekonomi pertanian setempat.

Usahatani agroforestry sebagai suatu sistem bisnis terdiri dari empat macam subsistem yang masing-masing mempunyai saling keterkaitan. Adapun subsistem tersebut adalah :

1. Subsistem produksi yang meliputi budidaya tanaman, perlindungan tanaman dari hama dan penyakit dan gangguan lainnya

2. Subsistem pemanenan hasil meliputi pemanenan hasil dan penanganan pasca panen 3. Subsistem pengolahan hasil meliputi pengolahan produk dengan mengubah bentuk

dan hasil agroforestry

4. Subsistem pemasaran meliputi distribusi hasil agroforestry

Berbicara masalah agroforestry, tidak bisa lepas dari unsur usahatani yaitu setiap organisasi dari alam, tenaga kerja, dan modal yang ditunjukkan kepada produksi di lapangan. Dalam hal ini pengelolaan agroforestry mencakup pengertian luas mulai dari bentuk sederhana yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai pada bentuk yang paling modern yaitu mencari keuntungan atau laba.

Berkaitan dengan organisasi dalam pengelolaan agroforestry, mengingat adanya unsur kesamaan dengan organisasi usahatani, menurut Tjakrawiralaksana (1987), organisasi usaha tani terdiri dari 4 unsur pokok, yaitu lahan, kerja, modal, dan pengelolaan. Keempat unsur ini dalam usahatani kedudukannya sama pentingnya. Lahan dan tenaga kerja sering kali disebut unsur produksi asli. Kedua unsur ini pertama-tama digunakan oleh manusia dalam kegiatan bertani. Sedangkan modal disebut sebagai unsur produksi yang diturunkan dari kedua unsur yang pertama. Pengelolaan adalah unsur produksi yang berlainan sifatnya dari ketiga unsur sebelumnya, namun berperan sebagai motor untuk menggerakkan ketiga unsur tersebut. Pengelolaan dalam agroforestry adalah kemampuan petani menentukan, mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktor – faktor produksi yang dikuasainya sebaik – sebaiknya dan mampu memberikan produksi komoditas baik pertanian maupun kehutanan sebagaimana yang diharapkan. Ukuran dari keberhasilan pengelolaan itu adalah produktifitas dari setiap faktor maupun produktifitas dari komponen-komponen dalam agroforestry baik komponen tanaman pertanian maupun komponen tanaman kehutanan.

Dengan demikian pengenalan secara utuh dari faktor – faktor yang dimiliki dan yang dapat dikuasai dan yang dapat dikuasai akan sangat menentukan keberhasilan pengelolaan agroforestry. Dalam setiap pengelolaan akan elemen – elemen, fungsi – fungsi, dan kegiatan- kegiatan yang mengambil bagian di dalam proses pengelolaan. I nti dari semua itu adalah manusia, gagasan, dan akal budi serta sarana dan prasarana yang merupakan dasar setiap pengorganisasian seorang pengelola untuk bekerja. Gagasan dan atau akal budi akan menumbuhkan kehendak berpikir konsepsional. Sarana dan prasarana untuk administrasi, sedang manusia berperan dalam kepemimpinan, interpreter, atau wirausaha.

Ketiga fungsi analisa masalah, pengambilan keputusan, dan komunikasi adalah sangat penting setiap saat dalam segala aspek tugas seseorang pengelola, karenanya, ketiganya menjadi pengendali dan proses kerja seorang pengelola.

draft k

e 4

d'sain

ku adv

Pengembangan Usaha Agroforestry

Pemsaran Produk-Produk Agroforestry

Kerjasama FAKULTAS KEHUTANAN IPB- ICRAF

5-3

Pengelolaan Agroforestry di I ndonesia umumnya dikelola oleh petani sendiri. I a sebagai pengelola, ia sebagai tenaga kerja, dan dia pula menjadi salah satu konsumen dari produksi agroforestry. Pengelola agroforestry pada umumnya terbatas dari pendidikannya, lemah dalam posisi bersaing, lemah dalam penguasaan faktor produksi, terutama modal dan pengelolaan itu sendiri. Dalam kenyataannya petani agroforestry adalah kepala keluarga yang juga sekaligus merupakan warga desa, guru bagi anak dan saudaranya. Petani agroforestry dalam hal sarana dan prasarana untuk pengelolaan, biasanya para petani menjadikan rumah mereka juga sebagai kantor tempat untuk melakukan pengorganisasian faktor-faktor produksi. Faktor produksi yang dimiliki adalah sarana terbesar yang dimiliki. Posisi di lingkungan, status sosial dan kepercayaan lingkungan adalah sarana pendukung yang cukup menentukan. Dalam situasi demikian petani agroforestry mulai melangkahkan kaki menjadi pengelola faktor – faktor usahataninya.

Pada dasarnya pengertian konsepsional bagi petani adalah sejauh yang dikerjakan sesuai dengan apa yang mereka peroleh dari pengalamannya yaitu dari gurunya atau orang – orang tua mereka. Dengan demikian dalam mengadministrasikan usahanya masih berdasarkan apa yang teringat dalam ingatanya dan apa yang tersisa di rumahnya. Manusia petani akan tampil sebagai pengelola, mengatur keluarga untuk dikerahkan sebagai tenaga kerja keluarga, dan membatasi penggunaan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam usahanya. Manusia petani memanipulasi faktor yang dikuasai menurut tujuan usahanya. Petani akan berperan sebagai wirausaha dalam membangun usaha bagi keluarganya.

Petani akan mempelajari usahataninya, faktor produksi, tanah, tenaga kerja dan modal yang ada. Mana yang harus diadakan dan mana yang tidak mungkin. Kemudian dianalisa kebutuhan keluarga dalam jangka waktu tertentu termasuk kewajiban – kewajiban yang ada sebagai warga masyarakat, tanggung jawabnya akan pendidikan, kesehatan dan rekreasi, serta komunikasi sosial. Ramalan – ramalan hasil dari faktor yang mungkin dikuasai dikaitkan dengan kebutuhan minimal keluarganya dan perkiraan sumber lain yang dapat menambah nilai usahataninya. Petani akan mengambil keputusan usaha. Berapa faktor yang dipakai, kombinasi yang mana, pilihan usaha apa, dan lain sebagainya.

Melalui pengalaman dalam memutuskan, para petani pengelola akan mengkomunikasikan dengan keluarga, kenalan yang mungkin dapat membantu, atau mungkin kepada petugas pemerintah seperti penyuluh, perangkat desa, dan lain – lain. Analisa masalah, pengambilan keputusan, dan komunikasi akan berulang di setiap kesempatan sesuai dengan tahapan pengelolaan agroforestry yang dilaluinya. Keputusan yang diambil merupakan bagian dari komunikasi yang merupakan suatu bagian perencanaan yang tidak tertulis. Petani yang maju akan mengelola perencanaan itu dalam wujud tertulils.

Dalam tahapan perencanaan itu dapat dipastikan rencana komoditas agroforestry yang akan dipilih, kapan, berapa luas, dan di mana mereka akan beroperasi. Selanjutnya secara komprehensif diatur faktor – faktor yang siap mendukung pengelolaan agroforestry. Petani pengelola menentukan siapa untuk pekerjaan apa, kapan, dan dimana. Kesemuanya dikendalikan dalam perencanaan tata waktu yang terukur dan jelas pelaksanaannya. Misalnya, kapan pengelolaan tanah harus dimulai dan siap, dan seterusnya. Dalam tahapan pengawasan terhadap proses produksi yang menjadi tumpuan adalah usaha pengolahannya yang meliputi pengaturan tentang siapa mengawasi apa, dan kapan pelaksanaannya. Untuk menjadi pengelola agroforestry yang berhasil, maka pemahaman terhadap prinsip teknik dan prinsip ekonomis dan kewirausahaan menjadi syarat bagi seorang pengelola.

draft k

e 4

d'sain

ku adv

Pengembangan Usaha Agroforestry

Pemsaran Produk-Produk Agroforestry Kerjasama FAKULTAS KEHUTANAN IPB- ICRAF

5-4

(a) perilaku cabang usaha yang diputuskan (b) perkembangan teknologi.

(c) tingkat teknologi yang dikuasai. (d) daya dukung faktor yang dikuasai.

(e) cara budidaya dan alternatif cara lain berdasarkan pengalaman orang lain. Pengenalan dan pemahaman prinsip ekonomis antara lain :

(a) penentuan perkembangan harga. (b) kombinasi cabang usaha.

(c) pemasaran hasil. (d) pembiayaan usahatani.

(e) penggolongan modal dan pendapatan. (f) ukuran – ukuran keberhasilan yang lazim.

Panduan penerapan dari kedua prinsip itu tercermin dari keputusan yang diambil, agar resiko tidak menjadi tanggungan si pengelola. Memang kesediaan menerima resiko akan sangat tergantung kepada :

(a) tersedianya modal. (b) Status petani. (c) Umur.

(d) Lingkungan sosial. (e) Perubahan posisi.

(f) Pendidikan dan pengalaman petani.

Makin besar, makin kecil kegiatan mengorganisir faktor yang dikuasai. Petani pemilik jauh lebih layak dibandingkan petani pengelola. Petani yang makin tua, pertimbangan dan pengambilan keputusan relatif lama dibandingkan dengan petani muda. Petani yang berstatus tinggi di lingkunganya akan lebih mudah menarik faktor yang tidak dikausai. Perubahan posisi dari pengelola kearah yang meningkat akan berperan positif dalam pengelolaan. makin tinggi pendidikan dan pengalaman, petani akan berhati – hati serta ia akan menghitung kemungkinan resiko yang dihadapi.

Apabila pengelolaan agroforestry sebagai usahatani dapat diartikan sebagai kesatuan organisasi antara kerja, modal, dan pengelolaan yang ditujukan untuk memperoleh produksi di lapangan pertanian, maka sekurang-kurangnya menurut Soeharjo (1973) ada empat hal yang perlu diperhatikan untuk pembinaan usaha tani, yaitu :

1. Organisasi usahatani dengan perhatian khusus kepada pengelolaan unsur-unsur produksi dan tujuan usahanya

2. Pola pemilikan usaha tani

3. Kerja usahatani dengan perhatian khusus kepada distribusi kerja dan pengangguran dalam usahatani

4. Modal usahatani dengan perhatian khusus kepada proporsi dan sumber petani

memperoleh modal.

Petani saja tidak mempunyai kemampuan untuk mengubah keadaan usahataninya sendiri. Karena itu bantuan dari luar diperlukan secara langsung dalam bentuk bimbingan dan pembinaan usaha maupun tidak dapat langsung dalam bentuk insentif yang dapat mendorong petani hal-hal baru, mengadakan tindakan perubahan. Bentuk-bentuk insentif ini

draft k

e 4

d'sain

ku adv

Pengembangan Usaha Agroforestry

Pemsaran Produk-Produk Agroforestry

Kerjasama FAKULTAS KEHUTANAN IPB- ICRAF

5-5

seperti jaminan tersedianya sarana produksi yang diperlukan petani dalam jumlah cukup, mudah dicapai harganya, dapat dipertimbangkan dalam usaha dan dapat selalu dapat diperoleh secara kontinyu. Menjamin pemasaran hasil, menjamin tersedianya kredit yang tidak memberatkan petani, menjamin adanya dan kontinyunya informasi teknologi adalah bentuk insentif yang lain.

I . Faktor-faktor intern usahatani

Faktor-faktor yang mempengaruhi usahatani agroforestry dari dalam yaitu : 1. Petani pengelola

2. Tanah usahatani 3. Tenaga kerja 4. Modal

5. Tingkat teknologi

6. Kemampuan petani mengalokasikan penerimaan keluarga 7. Jumlah keluarga

Manfaat dengan disadarinya faktor dalam usahatani agroforestry adalah :

1. Bagi petani, kesadaran akan posisinya harus dijadikan jendela pembuka ketertutupannya 2. Bagi penghantar teknologi, pengetahuan akan posisi petani dapat dijadikan dasar

berpijak penetapan kebijakan dalam menghantar teknologi. Dengan demikian kemungkinan salah masuk akan dapat diperkecil dan dihindarkan.

3. Bagi penentu kebijakan akan dapat menetapkan kebijakan yang dianggap dapat menjadi pemutus rantai ketertutupan petani dari kemajuan.

I I . Faktor-faktor diluar usahatani yang berpengaruh terhadap berhasilnya suatu usahatani agroforestry adalah :

1. Tersedianya sarana transportasi dan komunikasi

2. Aspek-aspek yang menyangkut pemasaran hasil dan bahan usahatani (harga hasil, harga saprodi dan lain-lain)

3. Fasilitas kredit

4. Sarana penyuluhan bagi petani

Tersedianya sarana transportasi dan komunikasi akan memudahkan persentuhan petani dengan dunia luar, seperti pasar, informasi yang menyangkut kebijaksanaan pemerintah, yang dapat mereka gunakan dan sebagai bahan pertimbangan dalam berusahatani. Perkembangan dunia, teknologi serta komunikasi sosial lainnya, dengan demikian ada pada dirinya sebagai pengelola usahatani.

Aspek-aspek pemasaran merupakan masalah diluar usahatani yang perlu diperhatikan. Seperti kita ketahui petani yang serba terbatas ini berada pada posisi yang lemah dalam penawaran dan persaingan, terutama yang menyangkut penjualan hasil dan pembelian bahan-bahan pertanian. Penentu harga produk tidak pada petani. Petani terpaksa menerima apa yang menjadi kehendak dari pembeli dan penjual.

Sebagai akibat langkanya modal usahatani, kredit menjadi penting. Dalam hal ini pemerintah perlu menyediakan fasilitas kredit kepada petani. Hal yang sama juga untuk penyuluhannnya. Penyuluhan kepada petani sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan usahatani agroforestry.

draft k

e 4

d'sain

ku adv

Dalam dokumen PEMASARAN PRODUK AGROFORESTI DAN ID (Halaman 76-81)