• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nyamuk adalah serangga berukuran kecil, halus, langsing, kaki-kaki atau tungkainya panjang langsing, dan mempunyai bagian mulut untuk menusuk kulit dan menghisap darah. Nyamuk dapat dijumpai pada ketinggian 5.000 meter di atas permukaan laut sampai kedalaman 1.500 meter di bawah permukaan tanah di daerah pertambangan. Nyamuk termasuk ke dalam ordo Diptera, famili Culicidae, dengan 3 subfamili yaitu Toxorhynchitinae (Toxorhynchites), Culicinae (Aedes, Culex, Mansonia, Armigeres) dan Anophelinae (Anopheles). Di seluruh dunia, dilaporkan terdapat sekitar 3100 spesies dari 34 genus. Anopheles, Culex, Aedes, Mansonia, Armigeres, Haemagogus, Sabethes, Culiseta dan Psorophora adalah genus nyamuk yang menghisap darah manusia dan berperan sebagai vector (Hadi et al. 2006).

Penyakit demam berdarah dengue atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini ada hampir di seluruh daerah di Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di ataspermukaan laut (Koban 2005).

Nyamuk Aedes aegypti (Gambar 7) berukuran kecil, berwarna hitam dan bergaris-garis putih pada kaki dan punggungnya. Nyamuk menggigit manusia pada pagi dan sore hari (Info Ristek 2006), hanya nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah serta memilih darah manusia untuk mematangkan telurnya.

Nyamuk jantan tidak menggigit dan menghisap darah, melainkan hidup dari sari bunga tumbuh-tumbuhan. Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan. Kepadatan nyamuk akan meningkat saat musim hujan (DEPKES 2004).

A B

Gambar 7 Profil nyamuk (A) dan larva Aedes aegypti (B) (Sumber : www.mosquitomagnetdepot.com)

Nyamuk Aedes aegypti adalah nyamuk yang mempunyai sifat yang khas, menggigit pada pada pagi dan sore hari. Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2-3 hari untuk mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukai adalah tempat yang lembab dan kurang terang seperti kamar mandi dan gantungan baju. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, tempayan, tempat minum burung dan barang-barang bekas yang dibuang sembarangan yang pada waktu hujan terisi air. Berdasarkan hasil penelitian Hasyimi dan Soekirno (2004), jentik nyamuk paling banyak ditemukan di tempat penampungan air yang terbuat dari logam.

Nyamuk dewasa berkembang biak dengan cara meletakan telurnya di dinding tempat air, sedikit di atas permukaan air. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar 100 butir telur dengan ukuran sekitar 0,7 mm per butir (DEPKES 2004). Telur Aedes berwarna hitam, oval dan diletakkan di dinding wadah air, biasanya di bagian atas permukaan air. Apabila wadah air ini mengering, telur bisa tahan (dorman) selama beberapa minggu atau bahkan bulan. Ketika wadah air berisi air dan menutupi seluruh bagian telur, maka ia akan menetas menjadi jentik (larva). Jentik dalam kondisi yang sesuai akan berkembang dalam waktu 6-8 hari, dan berubah menjadi pupa (kepongpong). Dalam waktu kurang lebih dua hari, dari pupa akan muncullah nyamuk dewasa. (Hadi et al. 2006). Pupa nyamuk masih dapat aktif bergerak didalam air, tetapi

tidak makan dan setelah 1-2 hari akan berubah menjadi nyamuk. Jadi total siklus hidup bisa diselesaikan dalam waktu 9-12 hari (DEPKES 2004). Siklus hidup nyamuk dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti (Sumber : http://biotechpestcontrols.com)

Proses penularan DBD

Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia telah terjangkit penyakit demam berdarah. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB (kejadian luar biasa) setiap tahun. Kejadian luar biasa DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun- tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003) (Kristina et al. 2004).

Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus itu termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus itu telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue tipe satu dan tiga (Kristina et al. 2004).

Nyamuk penular demam berdarah adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak dalam tempat penampungan air seperti bak mandi, tempayan, drum dan vas bunga. Aedes albopictus juga demikian tetapi biasanya lebih banyak terdapat di bagian luar rumah (Hadi et al. 2006).

Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang mengigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. Nyamuk Aedes aegypti lebih suka berkelana mencari mangsanya di siang hari di banding nyamuk lain yang cenderung menyerang manusia pada malam hari. Setelah menggigit tubuh manusia dengan cepat perutnya menjadi buncit dipenuhi kira-kira dua hingga empat miligram darah atau sekitar 1,5 kali berat badannya. Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh (Kristina et al. 2004).

Secara umum pengendalian nyamuk dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengendalian nonkimiawi dan kimiawi. Pengendalian non kimiawi dilakukan dengan cara menghilangkan tempat perindukan nyamuk dan dapat juga dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh-musuh alami nyamuk seperti ikan pemakan jentik atau larva nyamuk. Ikan pemakan jentik nyamuk adalah sejenis ikan guppy dan Poecilia reticulata yang bersifat lebih toleran terhadap perairan yang tercemar polutan organik. Pengendalian kimiawi dilakukan dengan cara pemberian larvasida untuk membunuh jentik nyamuk, dan dengan cara pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk dewasa (Hadi et al. 2006).

3 BAHAN DAN METODE

Dokumen terkait