meliputi bentuk biji, perbandingan berat kulit biji dan endosperm (daging) biji serta uji fitokimia dari kulit dan endosperm biji jarak. Buah jarak pagar berbentuk lonjong dengan ukuran 3-3,5 cm, panjang dan diameter sekitar 2,5 cm (Gambar 9). Buah jarak pagar yang dapat dimanfaatkan bijinya sebagai sumber minyak adalah buah jarak pagar yang sudah tua, dengan ciri-ciri batas antara ruang biji sudah nampak jelas bergaris. Minyak jarak pagar (Gambar 10) diperoleh dengan cara pengepresan dengan menggunakan alat Hydraulic Pressing.
Setiap satu buah jarak pagar terdapat tiga biji. Biji jarak pagar yang sudah tua berwarna hitam (Gambar 9) dan berbentuk lonjong. Panjang biji berkisar antara 1,5-2,0 cm sedangkan diameternya berkisar 1 cm. Perbandingan berat kulit biji jarak pagar dan endosperm (daging) biji jarak pagar pada keadaan basah adalah 30% kulit biji dan 70% endosperm (daging) biji.
A B Gambar 9 Profil buah (A) dan biji jarak pagar (B)
Tanaman Jarak pagar merupakan tanaman yang tahan kekeringan dan dapat beradaptasi secara luas mulai ketinggian 7 meter sampai 1.600 meter dari permukaan laut dengan kisaran suhu 11-38oC dan curah hujan 300-2000 mm per tahun (Hariyadi 2005). Sesuai dengan namanya, tanaman ini awalnya secara luas ditanam sebagai pagar untuk melindungi lahan dari serangan ternak. Tanaman ini sering digunakan sebagai pengendali erosi dan dapat beradaptasi dengan baik di daerah yang gersang dan tandus.
Pembibitan tanaman ini juga sangat mudah, bahan tanam dapat berasal dari setek cabang atau batang, maupun benih. Hasil uji daya perkecambahan biji jarak pagar yang dilakukan di Kebun Praktikum Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari bulan Juni – September, diperoleh hasil dari 20 biji jarak pagar yang ditanam, pada hari ke-enam ada 12 biji yang berkecambah (Gambar 11), dan pada hari ke sepuluh tinggi tanaman jarak pagar sekitar 20-25 cm (Gambar 12). Biji yang berkecambah pada umumnya tumbuh 5 akar dengan 1 akar tunggang dan 4 akar cabang.
A B
Gambar 11 Profil kecambah jarak pagar hari ke-enam (A) dan ke-tujuh (B)
A B
Gambar 12 Profil kecambah jarak pagar hari ke-delapan (A) dan ke-sepuluh (B) Pada awal pertumbuhan tanaman jarak pagar sangat peka terhadap kekeringan, untuk itu tanaman jarak pagar perlu diberi air seperlunya, agar
pertumbuhan dapat ideal tanaman perlu dipupuk, yaitu dengan menggunakan pupuk kompos/kandang (pupuk organik). Pemberian pupuk organik disarankan untuk memperbaiki struktur tanah. Pada prinsipnya pemberian pupuk bertujuan untuk menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Jenis dan dosis pupuk yang diperlukan disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah setempat. Belum ada dosis rekomendasi khusus untuk tanaman jarak pagar ini (Hariadi 2005).
Untuk memperoleh benih yang bermutu tinggi, panen buah dilakukan pada saat benih telah mencapai masak fisiologis, pada jarak pagar ditandai dengan buah telah berwarna kuning (berubah warna dari hijau menjadi kuning), bila dibuka biji didalamnya telah berwarna hitam berkilat (Hasnan 2007).
Jarak pagar dapat diperbanyak secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan vegetatif dapat berasal dari setek cabang maupun setek pucuk. Jika menggunakan setek cabang atau batang pilihlah yang telah cukup berkayu. Sedangkan untuk perbanyakan generatif pilihlah benih dari biji yang telah cukup tua yaitu diambil dari buah yang telah masak biasanya berwarna hitam. Pembibitan dapat dilakukan di polibag atau di bedengan. Setiap polibag diisi media tanam berupa tanah lapisan atas (top soil) dan dicampur dengan pupuk kandang. Setiap polibag ditanami 1 (satu) benih. Tempat pembibitan diberi naungan dengan bahan dapat berupa daun kelapa atau jerami (Hariyadi 2005). Hasil perbanyakan tanaman jarak pagar dari biji yang dilakukan di Kebun Percobaan Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13 Tanaman jarak pagar berumur 3 bulan (Sumber : Kebun praktikum UIN Jakarta)
Jarak pagar dikenal sebagai tanaman yang beracun dan mempunyai sifat-sifat sebagai insektisida, tetapi beberapa hama dapat menyerang tanaman ini dan dapat menimbulkan kerusakan dan kerugian ekonomis. Salah satu seranggga yang
merupakan hama yang umum ditemukan adalah Kepik lebing (Chisochoris javanus west), termasuk ordo Hemiptera, famili Pentatomiddae, genus chrsoris, dengan ciri-ciri panjang badan sekitar 20 mm, antena tiga ruas lebih panjang dari kepala, mempunyai bentuk perisai yang khas. Tubuhnya berwarna jingga kemerahan dan terdapat garis-garis hitam jelas. Metamorfosa sederhana : telur- nimfa - serangga - dewasa. Siklus hidup berkisar 60-80 hari. Kepik lembing (Gambar 14) menyerang jarak pagar pada saat perbungaan menjelang pembentukan buah dan menghisap madu, sehingga menimbulkan kerusakan pada kapsul buah yang sedang berkembang.
Gambar 14 Profil kepik lembing
(Sumber : http//puslitbangbun.litbang.deptan.go.id)
Menurut Rumini dan Karmawati (2007) beberapa hama tanaman yang ditemukan pada jarak pagar adalah Moluska, Valanga nigricornis (belalang), Kutu bertepung putih (Ferrisia virgata Cockerell), rayap dan kepik lembing (Chrysochoris javanus Westw). Menurut Asbani et al. (2007) Hama pada tanaman jarak pagar adalah tungau dari famili Eriophyidae, kutu putih, rayap, kutu sisik (Hemiptera : Diaspididae), kepik Chrysocoris sp dan ulat pengorok daun (Lepidoptera).
4.2 Uji Karakteristik dan Uji Pendahuluan Budidaya Tanaman Kamandrah Tanaman Kamandrah (Croton tiglium) (Gambar 16) berupa tanaman perdu dengan tinggi tanaman mencapai 12 meter. Bentuk batang tegak, bulat, berambut dan berwarna hijau, dengan daun tunggal, berseling dan lonjong (Duke 1983).
Bentuk tepi daun bergerigi dengan ujung yang runcing. Panjang daun sekitar 3-4,5 cm, dengan lebar daun sekitar 1-3,5 cm. Bentuk tangkai silindris dengan panjang 2-2,5 cm, bentuk pertulangan menyirip dan berwarna hijau. Bunga tanaman kamandrah majemuk dengan bentuk bulir, berada di ujung batang dengan
klopak membulat, memiliki banyak benang sari, kepala putik bulat berwarna kuning dengan mahkota berbentuk corong berwarna kuning. Buah tanaman kamandrah (Gambar 15) berbentuk bulat dengan diameter sekitar 0,5 cm dan berwarna hijau dengan biji bulat telur berwarna coklat kehitam-hitaman. Akar tanaman kamandrah adalah akar tunggang berwarna putih (Saputera 2007).
A B C Gambar 15 Profil buah (A dab C) dan biji kamandrah (B)
Gambar 16 Profil Tanaman Kamandrah (Sumber : Kebun Balittro Bogor)
Budidaya tanaman kamandrah dilakukan dari bulan Juni-September di Kebun Praktikum Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hasil uji daya perkecambahan biji kamandrah yang diperoleh dari Kalimantan tengah, dari 20 biji kamandrah yang ditanam tidak ada satupun yang berkecambah. Uji daya perkecambahan dilakukan dua kali, namun tetap saja tidak ditemukan biji yang berkecambah.
Uji daya perkecambahan dilakukan juga pada biji kamandrah yang diperoleh dari kebun Balittro Bogor. Hasil uji perkecambahan (Gambar 17) diperoleh hasil dari 20 biji yang ditanam ada 1 biji yang berkecambah setelah 14 hari. Berbeda dengan biji jarak pagar yang mudah berkecambah, biji kamandrah tidak mudah berkecambah. Hasil pengamatan dilapangan di kebun Balittro Bogor, disekitar tanam kamandrah tumbuh, banyak sekali biji kamandrah yang berjatuhan, namun sedikit sekali biji kamandrah yang tumbuh berkecambah.
Hama tanaman kamandrah yang berhasil ditemukan dikebun Balittro Bogor, sama dengan hama tanaman yang menyerang jarak pagar, yaitu Kepik lebing (Chisochoris javanus west). Hama Kepik lembing (Gambar 18) menyerang tanaman kamandrah pada bagian buah.
Gambar 17 Profil kecambah kamandrah umur 17 hari
Gambar 18 Hama tanaman kamandrah
Menurut Duke (1983) tanaman Kamandrah akan mulai berbuah setelah tanaman berumur 3 tahun dan pada umur 6 tahun tanaman kamandrah akan
berbuah secara maksimal. Buah kamandrah sebaiknya dipetik sebelum kulit buahnya terbuka.