1. Bulat 2. Botol 3. Tabung o
POLYTHALAMUS:
1. Uniformed 2. Biformed 3. Triformed F. Bentonik F. Planktonik4. Botol & Tabung 5. Planispiral 6. Planispiral-tidak teratur 7. Palnispiral-lurus 4. Multiformed Komposisi Cangkang - Khitin/Tektin - Aglutinin/Arenaceous - Silikaan (Siliceous) - Gampingan (Calcareous) o Porselen o Hyalin o Gampingan granular
o Gampingan yang kompleks
Foraminifera berdasarkan cara hidupnya terbagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut: Foraminifera Planktonik:
- Kamar berbentuk globular - Hidup didalam kolom air
Foraminifera Bentonik: - Kamar berbentuk pipih - Hidup didasar permukaan laut
2.10. Foraminifera Besar
Karakteristik
- Ukuran 600 mikron – 20 cm - Diameter umum 5 - 20 mm - Hidup bersama algae, diatom
- Bentuk cangkang fusiform, lenticular,discoidal,stelate - Struktur dalam yang kompleks
Kelompok A Lepidocyclina
cangkang lenticular, circular, kadang stelate dengan atau tanpa pilar dengan dinding gampingan berpori
kamar equatorial dapat berbentuk spatulate , hexagonal, rhombic atau arcuate tapi tidak pernah berbentuk segi empat
Pada bentuk yang telah maju, deuteroconch=protoconch
Pada sayatan vertikal kamar equatorial menjadi lebih tebal ke arah peripheri (tepi)
Discocyclina
cangkang lenticular, pipih, circular, dengan atau tanpa pilar dengan dinding gampingan berpori
Pada sayatan horizontal kamar equatorial berbentuk segi empat
Pada sayatan vertikal kamar equatorial rendah, hanya terdiri dari satu lapisan dengan kamar lateral yang sangat halus
Umur Paleosen- Eosen, Ta- Tb, namun musnah pada akhir Eosen Top Ta-Tb
Lingkungan neritik tepi Miogypsina/Miogypsinoides
Bentuk rumah segitiga,oval hingga circular, cangkang pipih dinding gampingan berpori
Pada sayatan horizontal kamar embrionik teletak di pinggir, kamar equatorial berbentuk rhombis atau
hexagonal
Pada sayatan vertikal dengan atau tanpa kamar lateral dengan atau tanpa pilar
Dengan kamar lateral jelas : Miogypsina, tanpa kamar lateral Miogypsinoides
Umur Te awal- Tf awal
Lingkungan hidup perairan tropis – subtropis, laut dangkal 0- 35m, sering bersama golongan Miliolid
Hal Khusus Foraminifera Kelas A
a. protoconch = deteroconch : isolepidina b. Protoconch < deteroconch : Nephrolepidina c. Protoconch dilingkupi deteroconch : Eulepidina
d. Beberapa deteroconch lebih kecil dan mengelilingi protoconch : Pliolepidina
Operculina
cangkang lenticular, pipih, licin dan berhias dengan dinding gampingan berpori
Pada sayatan horizontal 3-4 putaran dapat dilihat, tinggi putaran cepat menjadi besar pada putaran berikutnya
Sayatan vertikal : involute atau evolute,terdapat marginal chord, dinding sederhana
Nilai stratigafinya kurang signifikan
Lingkungan terumbu, bersifat eury bathic, mempunyai toleransi yang besar terhadap kedalaman
Nummulites
cangkang lenticular,involute, hanya putaran akhir yang tampak dari luar dengan dinding gampingan berpori
Pada sayatan horizontal kamar tersusun secara spiral, 4-40 putaran
Sayatan vertikal : involute marginal chord jelas, dinding sederhana, alar prolongation ada
Ta – Td (Eosen Awal- Oligosen awal)
Lingkungan perairan tropis-subtropis, substratum dangkal
Kenampakan mirip dengan Amphistegina Assilina
Sayatan horisontal : Kamar terputar secara spiral Kamar-kamar rendah perlahan menjadi tinggi pada putaran berikutnya umumnya > 4 putaran, sulit dibedakan
dari numulites
Sayatan vertikal tidak terdapat alar prolongation, marginal cord berkembang baik
Cangkang pipih, evolute – involute dengan atau tanpa pilar
Umur Ta
Lingkungan : tropis-sub tropis, dangkal Heterostegina
Sayatan horisontal : Seperti bentuk operculina, namun dengan septa sekunder sehingga membentuk chamberlet (kamar-kamar)
Sayatan vertikal tidak dijumpai kamar lateral pada massa gampingan yang terdapat pada kedua sisi lapisan ekuatorial
Cangkang lentikular,discoidal, planispiral, simetris bilateral, tdp marginal cord
Umur Eosen- resen
Lingkungan : topis-sub tropis, < 30m Spiroclypeus
cangkang lentikular, discoidal dengan alar prolongation jelas, kamar ekuator dan chamberlet seperti heterostegina,
kamar lateral jelas
sayatan horizontal mirip heterostegina( susah dibedakan)
sayatan vertikal mirip lepidocyclina, dibedakan dari kamar lateral dan adanya alar prolongation yang memotong kamar equatorial, pilar jelas
Umur Ta- Te
Lingkungan air hangat, jernih 50-60m ,lingkungan terumbu
Cycloclypeus
Cangkang pipih, dengan/tanpa umbo, pillar
sayatan horizontal: kamar nepionik terputar spiral disusul oleh kamar neanik terputar cyclic
sayatan vertikal, kamar lateral absen
umur Ta- resen
Lingkungan terumbu, tropis-sub tropis
Pellatispira
Sayatan horisontal : kamar-kamar tersusun secara spiral ,pori-pori kasar yang khas terdapat pada dinding spiral
Sayatan vertikal :kamar – kamar tersusun dalam satu lapis tanpa alar prolongation
Cangkang lentikular atau ellipsoidal, simetri bilateral , involute dinding sangat tebal dengan pori-pori yang kasar
Umur Tb
Lingkungan : air hangat, jernih,salinitas normal 6-40m Biplanispira
Sayatan horisontal : mula-mula kamar terputar secara radial, pada tahap dewasa terbentuk kamarsekunder yang tersusun dalam 2 lapis
Sayatan vertikal :kamar evolute, kemudian disusul oleh kamar sekunder yang tersusun dalam 2 lapis
Cangkang discoidal,lenticular,pipih
Umur Tb
Lingkungan : air hangat, jernih,salinitas normal 6-40m Kelompok D Alveolina
1 baris chamberlet per kamar
Cangkang berbentuk cerutu (fusiform) - spherical
Mempunyai 2 saluran yaitu preseptal dan post septal canal yang berada di belakang dan dimuka setiap septa utama
Septa ditembus oleh apertur utama yang letaknya berselingan dengan apertur sekunder
Septa sekunder letaknya selang-seling (sayatan tangensial)
Penyebaran Eosen Tengah Flosculinella
2 baris chamberlet per kamar
Cangkang berbentuk cerutu (fusiform) - globular
Hanya ada 1 saluran yaitu preseptal canal
Apertur tersusun dari 1 baris
Septula tersusun secara bergantian.
Chamberlet sekunder (attics) terletak diatas
Chamberlet pertama
Paleontologi
Paleontologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari mengenai sejarah kehidupan di bumi dan tanaman serta hewan purba berdasarkan fosil yang ditemukan di bebatuan.
Macam-macam Pemfosilan
- Pertrifaksi, berubah menjadi batu oleh adanya bahan-bahan : silika, kalsiumkarbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang telah mati sehingga menjadi keras/membatu menjadi fosil.
- Proses Destilasi, tumbuhan atau bahan organik lainnya yang telah mati dengan cepat tertutup oleh lapisan tanah.
- Proses Kompresi, tumbuhan tertimbun dalam lapisan tanah, maka air dan gas yang terkandung dalam bahan organic dari tumbuhan itu tertekan keluar oleh beratnya lapisan tanah yang menimbunnya.
Akibatnya, karbon dari tumbuhan itu tertinggal dan lama kelamaan akan menjadi batubara, lignit dan bahan bakar lainnya.
- Impresi, tanda fosil yang terdapat di dalam lapisan tanah sedan gkan fosilnya sendiri hilang.
- Bekas gigi, kadang-kadang fosil tulang menunjukan bekas gigitan hewan carnivore atau hewan pengerat.
- Koprolit, bekas kotoran hewan yang menjadi fosil.
- Gastrolit, batu yang halus permukaannya ditemukan di dalam badan hewan yang telah menjadi fosil. - Liang di dalam tanah, dapat terisi oleh batuan dan berubah sebagai fosil, merupakan cetakan.
- Pembentukan Kerak, hewan dan tumbuhan terbungkus oleh kalsiumkarbonat yang berasal dari travertine ataupun talaktit.
- Pemfosilan di dalam Tuff, pemfosilan ini jarang terjadi kecuali di daerah yang b erudara kering sehingga bakteri pembusuk tidak dapat terjadi.
- Pemfosilan dengan cara pembekuan, hewan yang mati tertutup serta terlindung lapisan es dapat membeku dengan segera. Oleh karena dinginnya es maka tidak ada bakteri pembusuk yang hidup dalam bangkai tersebut.
2.1. Evolusi dan Taksonomi
Proses perubahan struktur tubuh mahluk hidup
yang berlangsung dari generasi kegenerasi yang sangat lambat dan lama yang berakibat munculnya keaneka ragaman mahluk hidup
Perubahan gen pool dari populasi dalam waktu. Gen adalah unit hereditas yang dapat merubah banyak generasi. Gen pool adalah satu set gen dalam satu spesies atau populasi.
Kata Taksonomi berasal dari bahasa Yunani “Taxis” yang berarti menyusun atau susunan dan “nomos” berarti peraturan atau tatacara Taksonomi dapat diartikan sebagai peraturan atau tatacara untuk menyusun Menurut Simpson (1969), taksonomi adalah sebagai studi teoritis tentang pengklasifikasian atau pengolongan di dalamnya meliputi : dasar-dasar, prinsip- prinsip prosedur dan aturan-aturannya
2.2. Filum Protozoa
- Uniseluler, berukuran mikron sampai dengan beberapa sentimeter
- Tubuh lunaknya terdiri dari protoplasma dengan sebuah/ beberapa nukleus dan tidak terbagi-bagi menjadi apa yang dinamakan sistem organik
- Hidup di segala habitat mulai dari perairan yang paling dalam hingga terdangkal, di rawa-rawa, di dalam lingkungan anaerobik dan bahkan di dalam usus manusia
- Jumlah individunya sangat berlimpah melebihi jumlah individu dari phylum lainnya - Perkembang biakannya secara sexual dan asexual silih berganti di dalam siklus hidupnya - Pada umumnya hidup secara soliter, namun ada beberapa diantaranya hidup secara berkoloni
Klasifikasi KELAS MASTIGOPHORA o ORDO CHRYSOMONADIDA o ORDO DINOFLADELLIDA o ORDO SILICOFLAGELLIDA o ORDO CHOANOFLAGELLIDA KELAS SARCODINA o SUBKELAS RHIZOPODA ORDO AMOEBIDA ORDO TESTACIDA ORDO FORAMINIFERA o SUBKELAS ACTINOPODA ORDO RADIOLARIA ORDO HELIOZOA KELAS SPOROZOA KELAS CILIATA/INFUSORIA 2.3. Filum Porifera
Binatang golongen Metazoa, bentuk seperti vas, silinder, bulat setuuh dinding cangkangnya berpori. Pada umumnya hidup didasar laut secara beathos Golongan binatang ini mulai muncul pada zaman Kambrium hingga sekarang, jarang dijumpai fosil-fosilnya, biasanya fosil hanya berupa spicula
2.4. Filum Brachiopoda
Karakteristik
- Mempunyai 2 cangkang yang asimetris - Cangkang dari kalsit
- Mempunyai pedicle - Hidup di dasar laut
- Berlimpah pada sedimen-sedimen laut dangkal
hewan invertebrata yang mempunyai rongga dengan bentuk tubuh seperti tabung dan mulut yang dikelilingi oleh tentakel. Pada saat berenang, mulut coelenterata menghadap ke dasar laut. Tubuh Coelenterata (hewan berongga) adalah terdiri atas jaringan luar (eksoderm) dan jaringan dalam (endoderm) serta sistem otot yang
membujur dan menyilang (mesoglea). 2.6. Filum Moluska Kelas Gastropoda
Karakteristik
- Gaster - perut, podos -kaki
- Klas terbesar dari phylum moluska - single shell
- Awalnya hidup di laut, kedalaman maks 3 mil
- Meso- Keno beradaptasi di pantai-laut dangkal, rawa dan darat / Aquatic (freshwater-marine) dan terestrial
- Burrowing, sessile,vagil,planktonik ,parasitic - Ukuran cangkang 0,5 mm – 60 cm
- Tersebar luas, mulai ketinggian 5490m- arid - Fosil tertua Kambrium Bawah
- Dinding cangkang tersusun dari tiga lapisan yaitu peristoma - khitin, lapisan prismatik – CaCO3, dan lapisan mutiara – CaCo3
- CaCo3 umumnya aragonit, tidak stabil, - Fosil umumnya dalam bentuk tuangan
Klasifikasi
1. Subclass Protogastropoda 3. Subclass Opisthobranchia -. Ordo Cynostraca -. Ordo Pleurocoela -. Ordo Cochliostracea -. Ordo Pteropoda 2. Subclass Prosobranchia -. Ordo Acoela
-. Ordo Archaeogastropoda 4. Subclass Pulmonata
-. Ordo Mesogastropoda -. Ordo Basommatophora -. Ordo Neogastropoda -. Ordo Stylommatophora
2.7. Filum Moluska Kelas Pelecypoda
- Bivalvia adalah kelas dalam moluska yang mencakup semua kerang-kerangan (Kerang Cs) : memiliki sepasang cangkang (nama "bivalvia" berarti dua cangkang).
- Nama lainnya adalah Lamellibranchia, Pelecypoda.
- Hewan yang masuk kedalam kelompok ini termasuk berbagai kerang, kupang, remis, kijing, lokan, simping, tiram, serta kima; meskipun variasi di dalam bivalvia sebena rnya sangat luas.
- Bivalvia yang mempunyai dua cangkok ini , cangkoknya dapat membuka dan menutup dengan menggunakan otot aduktor dalam tubuhnya ( lihat gambar cara membuka menutupnya)
Klasifikasi
o Ordo Taksodonta
Mempunyai kisaran umur Ordovisium-Resen, mempunyai gigi yang hampir sama besar dan berjumlah 35 buah
o Ordo Anisomyaria
Mempunyai kisaran umur Ordovisium-Resen. Mempunyai dua muscle scar, dimana muscle scar bagian belakang (posterior) lebih besar dari anterior, serta mempunyai gigi dan socket dua buah
o Ordo Eulamellibranchiata
Mempunyai anterior muscle scar yang lebih kecil dari posterior muscle scar, tetapi umumnya sama besar dimana gigi dan susunan giginya tidak sama besar
2.8 Filum Moluska Kelas Cephalopoda
Berasal dari Bahasa Yunani,yaitu Cephalon : Kepala; Podos : Kaki.Berarti,Cephalopoda adalah Mollusca yang berkaki di kepala.Kelas ini memiliki contoh yang amat terkenal,yaitu cumi-cumi dan sontong.Cephalopoda memiliki sepuluh tentakel (dua buah tentakel panjang dan delapan buah tentakel pendek).
2.9. Filum Echinodermata
Filum Echinodermata (dari bahasa Yunani untuk kulit berduri) adalah sebuah filum hewan laut yang mencakup bintang laut, Teripang, dan beberapa kerabatnya. Kelompok hewan ini ditemukan di hampir semua kedalaman laut. Filum ini muncul di periode Kambrium awal dan terdiri dari 7.000 spesies yang masih hidup dan 13.000 spesies yang sudah punah. Lima atau enam kelas (enam bila Concentricycloidea dihitung) yang masih hidup sekarang mencakup
- Asteroidea bintang laut: sekitar 1.500 spesies yang menangkap mangsa untuk makanan mereka sendiri
- Concentricycloidea, dikenal karena sistem pembuluh air mereka yang unik dan terdiri dari hanya dua spesies yang baru-baru ini digabungkan ke dalam Asteroidea.
- Echinoidea (bulu babi dan dolar pasir): dikenal karena duri mereka yang mampu digerakkan; sekitar 1.000 spesies.
- Holothuroidea (teripang atau ketimun laut): hewan panjang menyerupai siput; sekitar 1.000 spesies. - Ophiuroidea (bintang ular dan bintang getas), secara fisik merupakan ekinodermata terbesar; sekitar
1.500 spesies.
Berikut adalah kelas-kelas penting dari echinodermata :
Kelas Crinoidea
Golongan ini memiliki cera hidup tertambat pada dasar permukaan menggunakan batang panjang yang disebut stem yang biasanya memiliki kehidupan secara berkoloni pada suatu lapangan taman yang luat dimana bagian-bagian dari kelas ini terbagi menjadi 4 yaitu clayx, brachia, pelma atau stem, dan juga rhizae seperti gambaran berikut
Perbedaan dari keduanya hanyalah pada keberadaan plate infrabasal yang berada pada bagian dyciclic.
Kelas Blastoid
Merupakan kelompok yang telah punah pada perm dimana mirip crinoid namun kelas ini tidak memiliki brachia dimana calyxnya berbentuk bulat dan petagon dan mempunyai gagang yang pendek. Calyx terdiri
dari 13 lempeng yaitu 5 deltoid, 5 radial, dan 3 basal dimana mulut terletak pada puncak calyx seperti gambar berikut ini
Kelas Echinoid
Kelas ini bersifat vagil atau tidak tertambat pada dasar laut dimana memiliki bentuk globular, pipih, dan bentuk jantung dimana kelas ini terbagi menjadi 2 yaitu regular yang memiliki simetri radial dan juga
Regular Irregular 2.10. Ichnofosil
Bukti dari pengawetan bioturbasi dalam sedimen, dihasilkan dalam sedimen-sedimen lunak dan substrat-substrat keras sebagai akibat dari aktifitas kehidupan organisme.
Materi Penyusunan Laporan Bebas Laboratorium Paleontologi
3.1. Determinasi Foraminifera 3.1.1. Sampling
Sampling untuk analisis foraminifera dilakukan pada batuan sedimen dimana pada dasarnya setidaknya diambil 2 sampling (atas, bawah) untuk setiap satuan yang telah ditentukkan, namun hal tersebut tidak menuntut kemungkinan untuk berubah tergantung keinginan dosen pembimbing. Jangan pernah menganalisis fosil foraminifera pada batuan vulkanik karena sudah dipastikan untuk tidak adanya fosil dalam sampel tersebut
3.1.2. Preparasi Foraminifera
- Pertama-tama tumbuk sampel hingga dirasa cukup halus menggunakan alat tumbuk yang telah disediakan
- Lalu hasil tumbukkan tersebut dimasukkan dalam mangkok plastik yang telah diberi label nama sampel
- Masukkan NaOH (3-4 butir sesuai banyaknya sampel) dan H2O2 secukupnya hingga basah dan aduk selama reaksi antara NaOH dan H2O2 berlangsung
- Setelah reaksi selesai diamkan sekurang-kurangnya 3 jam
- Selanjutnya saring sampel tersebut menggunakan 2 saringan dimana saringan atas memiliki lubang yang lebih besar dibandingkan yang dibawah, dimana sampel yang diambil adalah sampel yang terletak antara sampel yang atas dan yang bawah
- masukkan sampel yang sudah disaring kedalam mangkok alumunium yang telah diberi label dan masukkan kedalam oven hingga kering
- setelah sampel kering, timbang sampel tersebut sebanyak 1 gram dan sampel tersebut siap untuk di picking dan determinasi
3.1.3. Picking dan Determinasi Foraminifera
- Siapkan alat berupa jarum, air, plate, piringan, dan lem
- Ambil sedikit sampel dan tuangkan kedalam piringan, cari fosil foraminifera yang ada didalam piringan dan masukkan kedalam plate bulat dengan cara beri sedikit air pada jarum dan ambil
foraminifera menggunakan jarum tersebut
- Ambil fosil hingga dirasa cukup (biasanya minimal 5 species planktonik dan 2 species bentonik yang berbeda-beda)
- Beri nama setiap fosil yang telah diambil dan tempelkan didalam kotak yang ada didalam plate - Tentukan umur dengan mengiris setiap umur fosil dari setiap species foraminifera planktonik
- Tentukan Lingkungan Pengendapan dengan mengiris setiap Lingkungan pengendapan dari setiap species foraminifera bentonik berikut adalah contoh ha sil dari determinasi foraminifera
3.2. Determinasi Foraminifera Besar 3.2.1. Sampling
Analisis foraminifera ini dilakukan ketika dalam kavling pemetaan ditemukannya ada batugamping. Namun pada batuan sedimen foraminifera besar ini relatif tidak akan ditemukan sehingga sampling ini sangat
khusus pada batugamping
3.2.2. Preparasi Foraminifera Besar
Pada dasarnya analisis foraminifera ini dilakukan dengan objek sebuah sayatan, sehingga untuk preparasi yang dilakukan adalah menyayat batuan atau sampel batugamping yang telah disiapkan sebelumnya kebagian penyayat batuan
3.2.3. Picking dan Determinasi Foraminifera Besar
- Pertama-tama siapkan plate, mikroskop, dan catatan untuk mencatat fosil yang ditemukan
- Cari fosil pada plate tersebut dengan menjelajahi seluruh bagian plate hingga menemukan fosil foraminifera besar
- Tentukan nama foraminifera tersebut dari hasil pengamatan kesamaan bentuknya
- Catat koordinat, No plate, Nama, serta deskripsi dari setiap fosil yang ditemukkan dan jika perlu disertai dengan sketsa
- Tentukan Umur dan Lingkungan Pengendapan dari fosil foraminifera besar yang telah ditemukan 3.3. Determinasi Polen dan Spora
3.3.1. Sampling
Pada dasarnya polen dan spora ini dianalisis jika menemukan sampel yang diendapkan pada daerah terestrial, selain itu analisis ini tidak selalu dilaksanakan oleh karena tergantung dosen pembimbingnya 3.3.2. Preparasi Polen dan Spora
- Timbang 12,5 gram sampel dan masukkan dalam gelas ukur untuk reaksi selanjutnya
- Masukkan HF 40% kedalam sampel sebanyak 2 kali tinggi sampel sedimen dan diamkan hingga 24 jam dan sesekali diaduk
- Netralkan reaksi tersebut dengan akuades dan setelah itu saring dengan saringan 200 mikron
- Masukkan residu sampel kedalam tabung sentrifugasi dan beri HCl hingga 2 kali tinggi sedimen tersisa dan diamkan kurang lebih 6 jam
- Netralkan reaksi tersebut dengan akuades dan sentrifugasi
- Selanjuntya beri KOH hingga 2 kali tinggi sedimen tersisa dan diamkan kurang lebih 6 jam - Netralkan reaksi tersebut dengan akuades dan sentrifugasi
- Selanjuntya beri HNO3 Panas hingga 2 kali tinggi sedimen tersisa dan panaskan selama 10 menit - Netralkan reaksi tersebut dengan akuades dan sentrifugasi
- Selanjuntya beri HCl Panas hingga 2 kali tinggi sedimen tersisa dan panaskan selama 10 menit - Netralkan reaksi tersebut dengan akuades dan sentrifugasi
- Selanjuntya beri KOH Panas hingga 2 kali tinggi sedimen tersisa dan panaskan selama 10 menit - Netralkan reaksi tersebut dengan akuades dan sentrifugasi
- Saring hasil reaksi dengan saringan 5 mikron dan ambil sampel pada bagian atas saringan - Buat plate dari cairan sampel yang telah dihasilkan tersebut pada masing-masing sampel 3.2.3. Picking dan Determinasi Polen dan Spora
- Pertama-tama siapkan plate, mikroskop, dan catatan untuk mencatat fosil yang ditemukan
- Cari fosil pada plate tersebut dengan menjelajahi seluruh bagian plate hingga menemukan fosil foraminifera besar
- Tentukan nama Polen dan Spora tersebut dari hasil pengamatan kesamaan bentuknya
- Catat koordinat, No plate, Nama, serta deskripsi dari setiap fosil yang ditemukkan dan jika perlu disertai dengan sketsa
- Tentukan Umur dan Lingkungan Pengendapan dari fosil Polen dan Spora besar yang telah ditemukan
GEOLOGI STRUKTUR