• Tidak ada hasil yang ditemukan

Porositas Sekunder

Dalam dokumen Panduan Pemetaan Geologi 2014 (Halaman 105-113)

Porositas pada suatu batuan yang terbentuk setelah proses pembentukan batuannya (peningkatan  porositas)

a. Vuggy Porosity

Porositas yang terjadi akibat pelarutan dari dissolousi fragmen pada batuan karbonat sehingga meninggalkan pori yang memiliki ukuran

cenderung simetris, dengan diameter pori > 1/16 mm  b. Channel Porosity

Porositas yang membentuk saluran-saluran sebagai hasil dari disolusi fragmen/ matriks

c. Mouldic Porosity

Porositas yang terbentuk akibat terlepasnya fragmen (fragmen batuan/ fragmen fossil) pada tubuh batuan

Diagenesis

Diagenesis adalah proses sedimen terlithifikasi menjadi batuan sedimen selama pembebanan, pada proses ini terjadi kompaksi komponen akibat peningkatan tekanan, presipitasi semen dari fluida yang mengisi  pori serta proses transformasi komponen mineral.

a. Dolomitisasi

Proses diagenesis dimana mineral calcite/aragonite tertransformasi menjadi mineral dolomit

 b. Neomorphism

Meliputi proses Rekristalisasi (perubahan kembali ukuran/bentuk kristal dan terjadi pula perubahan jenis mineral) dan Inversi (terjadinya perubahan struktur kristal namun mineral tetaplah sama) .

Ex: terjadinya perubahan mineral Aragonite menjadi Calcite c. Replacement

Merupakan proses dimana suatu mineral/fossil tergantikan oleh mineral lain tanpa disertai perubahan volume.

MINERAL OPTIK / PETROGRAFI

Dalam mengidentifikasi suatu mineral pada sayatan tipis, terdapat 16 sifat optik yang dapat diamati dibawah mikroskop. Artinya, dalam menentukan jenis mineral tidak hanya semata kepada salah satu aspek sifat optik (misal kuarsa colourless) tapi harus melihat sifat optik yang lain sehingga dapat mendeterminasi mineral tersebut. Berikut 16 sifat optik :

ORTOSKOP KONOSKOP:

Tanpa Analisator:

- Warna Sumbu Optik

- Pleokroisme Tanda Optik

- Relief Sudut 2V

- Indeks Bias

Dengan / Tanpa Analisator: - Belahan - Inklusi - Bentuk Kristal Dengan Analisator : - Kembar - Zoning - Tekstur - Warna Interferensi - Orientasi - Sudut Pemadaman Keterangan: Ortoskop: Konoskop:

- Lensa Objektif Perbesaran <40x - Lensa Objektif Perbesaran >= 40x - Tanpa, Dengan/Tanpa, Dengan Analisator - Dengan Analisator

- Dengan/Tanpa Kondensor - Dengan Kondensor

- Lensa Amici Bertrand Tak Dipakai - Lensa Amici Bertrand Dipakai

1. Warna : Merupakan kenampakan warna mineral dibawah mikroskop

2. Pleokroisme : Peristiwa ketika meja mikroskop diputar, terjadi perubahan warna. Apabila ada terdapat tiga sifat pleokroisme yaitu kuat/sedang/lemah serta perubahan warna dari apa sampai apa

3. Relief: Kenampakan posisi mineral pada sayatan apakah tinggi/sedang/rendah

4. Indeks bias:Indeks ketika cahaya dibiaskan saat melewati medium dan mineral. Untuk menentukan indeks bias umumnya menggunakan cara relative (biasanya paling sering menggunakan metode garis ‘Becke’)

5. Belahan: Merupakan garis garis bidang lemah mineral yang merepresentasikan struktur kristal. Umumnya cleavage menampakkan garis –  garis sejajar yang tidak acak dan berpola.

6. Tekstur: Kenampakan fisik atau

karakter pada batuan baik geometri, hubungan antar komponen mineral, bentuk, ukuran,kemas, granularitas. Sangat penting untuk mengenali tekstur karena dalam mineral optik untuk

mengetahui jenis mineralnya. Berikut merupakan jenis –  jenis tekstur 

Kembar (Twinning)

Albit Kalrsbad Penetrasi

Sederhana Jamak Mikroklin

 Zoning

: adalah perbedaan komposisi kimia yang terdapat pada kristal.

7. Warna Interferensi: Merupakan warna yang dihasilkan ketika analisator dimasukkan. Warna yang dihasilkan kemudian dicocoka dengan table warna Michel-Lev y sehingga diketahui warna dan pada orde berapa

8. Orientasi optik : Dalam mineral optik, orientasi mineral disebut juga dengan elongation atau rentang mineral. Terdapat dua macam orientasi optik yaitu fast ray(length fast) dan slow ray (length slow)

9. Sumbu optik : Kenampakan gambar interferensi atau isogire  pada kondisi konoskop. Pada

sumbu satu (trigonal, hexagonal, tetragonal), akan terlihat isogire  berbentuk +. Sedangkan pada

sumbu dua (orthorombik, monoklin, triklin), isogir akan

membentuk seperti bulan sabit tergantung arah sayatan mineranya.

10. Tanda optik : Merupakan kelanjutan dari sumbu optik saat kondisi komparator dimasukkan. Hal ini bertujuan untuk melihat adanya penambahan atau pengurangan warna pada kuadran tertentu

Tanda optik positif untuk uniaxial berlaku sebaliknya

Kuarsa : Warna colourless, indeks bias mineral > indeks bias medium, bentuk anhedral, tidak ada pleokroisme, relief rendah, tekstur yang umum hadir pada kuarsa umumnya corroded (untuk gambar ini tidak memiliki), length fast, sudut pemadaman lurus / 0o, tidak memiliki belahan / terdapat fracture, warna interfrensi  putih orde 1, sudut pemadaman lurus, sumbu optic 1, tanda optic +

K -Feldspar : Warna colourless hingga sedikit kelabu (umumnya warna kelabu karena feldspar mudah lapuk), indeks bias mineral < indeks bias medium, bentuk subhedral (untuk gambar ini), tidak ada  pleokroisme, relief rendah, tekstur yang umum hadir adalah kembar karlsbad, perthit, dan kembar mikroklin (Pada gambar ini menunjukkan tekstur mikroklin), length fast, sudut pemadaman, lurus hingga 0 –  10o. Sumbu optic II, Tanda optic

-Amphibole : Warna coklat, pleokroisme kuat, indeks bias mineral > indeks bias medium, relief tinggi, belahan 2 arah (untuk gambar ini), orientasi length slow, sudut pemadaman 10-20o, sumbu optic II, tanda optik -.

Salah satu ciri khas dari amphibole pada sayatan tipis adalah memiliki warna, serta pleokroisme. Perbedaan dengan biotit adalah amphibole memiliki belahan 2 arah dan tak memiliki tekstur bird eye seperti pada biotit

Biotit : Warna coklat, pleokroisme kuat, indeks bias mineral > indeks bias medium, relief tinggi, belahan 1 arah, tekstur birds eye orientasi length slow, sudut pemadaman 10-20o, sumbu optic II, tanda optik -.

Salah satu ciri khas dari biotit pada sayatan tipis adalah memiliki warna, serta pleokroisme serta ketika analisator dimasukkan, terdapat tekstur bird eye (mirip ketika tembok dicaplok semen tanpa diaci)

Piroksen. Warna colourless, indeks bias mineral > indeks  bias medium, relief sedang,tidak ada pleokroisme  belahan 2 arah hampir 90o, warna interferensi orde 2 umumnya (tergantung jenis  piroksen), sudut pemadaman ortopiroksen lurus, klinopiroksen miring, sumbu optic 2

Olivin: Warna colourless, indeks bias mineral > indeks  bias medium, relief tinggi,  bentuk anhedral, tidak ada  pleokroisme, tidak ada  belahan / terdapat fracture,

warna interferensi orde

2, sudut pemadaman lurus, sumbu optik 2

Plagioklas: Warna colourless hingga kelabu (umumnya

Dalam dokumen Panduan Pemetaan Geologi 2014 (Halaman 105-113)

Dokumen terkait