PANDUAN PEMETAAN GEOLOGI 2014
PANDUAN PEMETAAN GEOLOGI 2014
DARI SENDUNYA JATINANGOR
DARI SENDUNYA JATINANGOR
GEOMOFOLOGI GEOMOFOLOGI
1.
1. Klasifikasi Bentang Alam GeomorfologiKlasifikasi Bentang Alam Geomorfologi
Pedataran
Pedataran
Pedataran adalah bentuklahan (landform) dengan kemiringan lereng 0% sampai 2%, biasanya Pedataran adalah bentuklahan (landform) dengan kemiringan lereng 0% sampai 2%, biasanya digunakan untuk sebutan bentuklahan asal marin (laut), fluvial (sungai), campuran marin dan fluvial (delta) digunakan untuk sebutan bentuklahan asal marin (laut), fluvial (sungai), campuran marin dan fluvial (delta) dan plato
dan plato
a. Dataran marin : disusun oleh material berbutir halus sampai sedang a. Dataran marin : disusun oleh material berbutir halus sampai sedang yaitu pasir yang terpilah baik dan kemasan terbuka yaitu pasir yang terpilah baik dan kemasan terbuka karena
karena lebih lebih banyak banyak dipengaruhdipengaruhi i oleh oleh hempasanhempasan ombak, bercampur dengan lempung dan lanau. ombak, bercampur dengan lempung dan lanau. b. Dataran
b. Dataran fluvial : difluvial : disusun oleh susun oleh material material berbutir haberbutir halus lus seperti seperti lem -lem - pung dan
pung dan lanau samlanau sampai bongkpai bongkah - bongkaah - bongkah. Mate-h. Material penyusun dataran fluvial biasa disebut endap rial penyusun dataran fluvial biasa disebut endap -an
an aluvium aluvium dan dan jika jika telah telah termampatkan termampatkan disebutdisebut konglomerat.
konglomerat. c. Dataran
c. Dataran delta delta : disusun : disusun oleh material - oleh material - material pasir material pasir berbutir halusberbutir halus sampai sedang, lempung, dan lanau, disertai de sampai sedang, lempung, dan lanau, disertai de -ngan sisa - sisa tumbuhan atau endapan batubara. ngan sisa - sisa tumbuhan atau endapan batubara. d. Dataran plato
d. Dataran plato : disusun oleh m: disusun oleh material - material gunungapi, sepertaterial - material gunungapi, sepert breksi da
breksi dan tuf.n tuf.
Perbukitan
Perbukitan
Bentuklahan perbukitan (hilly landforms) memiliki ketinggian antara 50 meter sampai 500 meter di Bentuklahan perbukitan (hilly landforms) memiliki ketinggian antara 50 meter sampai 500 meter di atas permukaan laut dan memiliki kemiringan lereng antara 7 % sampai 20 %. Sebutan perbukitan digunakan atas permukaan laut dan memiliki kemiringan lereng antara 7 % sampai 20 %. Sebutan perbukitan digunakan terhadap bentuklahan kubah intrusi (dome landforms of intrusion), bukit rempah gunungapi / gumuk tefra, terhadap bentuklahan kubah intrusi (dome landforms of intrusion), bukit rempah gunungapi / gumuk tefra, koral (karst) dan
koral (karst) dan perbukitan yang dikontrol oleh struktural.perbukitan yang dikontrol oleh struktural. a. Perbuk
a. Perbukitan kubah itan kubah intrusi, disuintrusi, disusun oleh msun oleh material baaterial batuan tuan beku beku intrusiintrusi yang
yang memiliki memiliki ciri ciri khas khas membentuk membentuk pola pola aliran aliran sentripetal, soliter sentripetal, soliter (terpisah)(terpisah), , biasanya biasanya terbentuk padaterbentuk pada daerah yang dipengaruhi oleh
daerah yang dipengaruhi oleh sesar dan tersebar tidak beraturan. sesar dan tersebar tidak beraturan. b.
b. BentuklahaBentuklahan n perbukitan rempah perbukitan rempah gunungapi (gumuk gunungapi (gumuk tefra) tefra) disusun disusun oleh oleh materiamaterial l - - material hasil material hasil erupsierupsi gunungapi yang berbutir halus sampai bbongkah dengan ciri khas tidak jauh dari gunungapi se - bagai gunungapi yang berbutir halus sampai bbongkah dengan ciri khas tidak jauh dari gunungapi se - bagai sumber material. Gumuk tefra terbentuk karena kegiatan erupsi gunungapai.
sumber material. Gumuk tefra terbentuk karena kegiatan erupsi gunungapai. c. Bentuklahan perbukitan karst (gamping) d
c. Bentuklahan perbukitan karst (gamping) disusun oleh material sisa kehidupan binatang laut (koral), bersifisusun oleh material sisa kehidupan binatang laut (koral), bersif atat karbonatan. Ciri khas perbukitan karst membentuk perbukitan yang berkelompok, membentuk pola karbonatan. Ciri khas perbukitan karst membentuk perbukitan yang berkelompok, membentuk pola pengaliran
pengaliran multi bmulti basinal asinal (tiba - (tiba - tiba metiba menghilang), nghilang), terdapat terdapat gua - gua - gua denggua dengan stalaan stalagtit dan gtit dan talagmtalagmit. Daerahit. Daerah perbukitan
perbukitan karst mkarst mencerminkencerminkan jejak an jejak lingkungalingkungan laut n laut dangkal dangkal (25 me(25 meter samter sampai 50 pai 50 meter), meter), sehinggsehingga garisa garis pantai lama tidak jauh dari kumpu
pantai lama tidak jauh dari kumpulan perbukitan karst tersebut. Munclan perbukitan karst tersebut. Munculnya perbukitaulnya perbukitan karst disebabkann karst disebabkan oleh suatu
oleh suatu pengangkpengangkatan (tektonik).atan (tektonik).
d. Bentuklahan perbukitan yang memanjang mencerminkan suatu perbukitan yang terlipat, sehingga dapat d. Bentuklahan perbukitan yang memanjang mencerminkan suatu perbukitan yang terlipat, sehingga dapat
diperkirakan materi
diperkirakan material penyusun berupa batuan sedimen, seperti batupasir, batulempung dan batulanau ataual penyusun berupa batuan sedimen, seperti batupasir, batulempung dan batulanau atau perselinga
perselingan batuan sedimen batuan sedimen tersebut. Ciri khas bentukn tersebut. Ciri khas bentuklahan perbukitan telahan perbukitan terlipat memirlipat memiliki pola pengaliraliki pola pengalirann paralel atau rektangular yang berbeda arah, mengikuti lereng sayap dari perbukitan tersebut, sedang paralel atau rektangular yang berbeda arah, mengikuti lereng sayap dari perbukitan tersebut, sedangkankan puncak dari perbukitan bertind
memanjang terbentuk akibat dari kegiatan tektonik lemah (pengangkatan), sehingga membentuk memanjang terbentuk akibat dari kegiatan tektonik lemah (pengangkatan), sehingga membentuk perlipatan.
perlipatan. Perbukitan Perbukitan yang yang berbelok berbelok atau atau terpisah, terpisah, kemungkkemungkinan inan diakibatkadiakibatkan n oleh oleh gerakan gerakan dari dari sesar sesar gesergeser
Pegunungan
Pegunungan
Bentuklahan pegunungan (mountaineous landforms) memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan Bentuklahan pegunungan (mountaineous landforms) memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan kemiringan lereng lebih dari 20 %. Sebutan pegunungan digunakan terhadap rangkaian bentuklahan yang kemiringan lereng lebih dari 20 %. Sebutan pegunungan digunakan terhadap rangkaian bentuklahan yang memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan kemiringan lereng lebih dari 20 %, biasanya merupakan satu memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan kemiringan lereng lebih dari 20 %, biasanya merupakan satu rangkaian dengan
rangkaian dengan bentuklahan gu bentuklahan gu - - nungapi atau nungapi atau akibat akibat kegiatan kegiatan tektonik tektonik yang yang cukup cukup kuat, kuat, sepertiseperti pegununga
pegunungan Himalan Himalaya (di Indiaya (di India), pegunung), pegunungan Alpen an Alpen (di Eropa) (di Eropa) dan Pegdan Pegunungan unungan Selatan Selatan (di Jawa (di Jawa Barat).Barat).
2.
2. Perhitungan kemiringan lereng dan klasifikasinyaPerhitungan kemiringan lereng dan klasifikasinya Untuk menghitung kemiringan lereng digunakan rumus : Untuk menghitung kemiringan lereng digunakan rumus :
Keteranga
Keterangan n : : S S = = Kemiringan Kemiringan lereng lereng (%)(%) Δh
Δh = = Perbedaan Perbedaan ketinggian ketinggian (meter)(meter) D
D = = Jarak Jarak titik titik tertinggi tertinggi dengan dengan terendah terendah (meter)(meter)
Hubungan kelas lereng d
Hubungan kelas lereng dengan sifat - siengan sifat - sifat proses dan kondisi fat proses dan kondisi lahan disertai silahan disertai simbol warna mbol warna yang yang disarankandisarankan (sumber : Van Zuidam, 1985).
(sumber : Van Zuidam, 1985).
Kelas Lereng
Kelas Lereng Proses, Karakteristik dan KondisiProses, Karakteristik dan Kondisi lahan
lahan
Simbol
Simbol warna warna yangyang disarankan. disarankan. 0 000 - 2 - 200 (0 - 2 %) (0 - 2 %)
Datar atau hampi datar, tidak ada Datar atau hampi datar, tidak ada
erosi yang besar, dapat diolah erosi yang besar, dapat diolah dengan mudah dalam kondisi kering.
dengan mudah dalam kondisi kering. Hijau tuaHijau tua
2 200 - 4 - 400 (2 - 7 %) (2 - 7 %)
Lahan memiliki kemiringan lereng Lahan memiliki kemiringan lereng landai, bila terjadi longsor bergerak landai, bila terjadi longsor bergerak dengan kecepatan rendah, pengikisan dengan kecepatan rendah, pengikisan dan erosi akan meninggalkan bekas dan erosi akan meninggalkan bekas
yang sangat dalam. yang sangat dalam.
Hijau Muda Hijau Muda 4 400 - 8 - 800 (7 - 15 %) (7 - 15 %)
Lahan memiliki kemiringan lereng Lahan memiliki kemiringan lereng landai sampai curam, bila terjadi landai sampai curam, bila terjadi longsor bergerak dengan kecepatan longsor bergerak dengan kecepatan rendah, sangat rawan terhadap erosi. rendah, sangat rawan terhadap erosi.
Kuning Muda Kuning Muda
80 - 160 (15 - 30 %)
Lahan memiliki kemiringan lereng yang curam, rawan terhadap bahaya
longsor, erosi permukaan dan erosi alur.
Kuning Tua
160 - 350 (30 - 70 %)
Lahan memiliki kemiringan lereng yang curam sampai terjal, sering
terjadi erosi dan gerakan tanah dengan kecepatan yang perlahan
-lahan. Daerah rawan erosi dan longsor
Merah Muda
350 - 550 (70 - 140 %)
Lahan memiliki kemiringan lereng yang terjal, sering ditemukan singkapan batuan, rawan terhadap
erosi.
Merah Tua
> 550 ( > 140% )
Lahan memiliki kemiringan lereng yang terjal, singkapan batuan muncul
di permukaan, rawan tergadap longsor batuan.
Ungu Tua
3. Tata nama satuan geomorfologi Morfografi
Morfografi secara garis besar memiliki arti gambaran bentuk permukaan bumi atau arsitektur permukaan bumi. Secara garis besar morfografi dapat dibedakan menjadi bentuklahan perbukitan/punggungan, pegunungan, atau gunungapi, lembah dan dataran. Beberapa pendekatan lain untuk pemetaan geomorfologi
selain morfografi adalah pola punggungan, pola pe - ngaliran dan bentuk lereng Morfometri
Morfometri merupakan penilaian kuantitatif dari suatu bentuklahan dan merupakan unsur geomorfologi pendukung yang sangat berarti terhadap morfografi dan morfogenetik. Penilaian kuantitatif terhadap bentuklahan memberikan penajaman tata nama bentuklahan dan akan sangat membantu terhadap analisis lahan untuk tujuan tertentu, seperti tingkat erosi, kestabilan lereng dan menentukan nilai dari kemiringan lereng tersebut.
Morfogenetik
Morfogenetik adalah proses / asal - usul terbentuknya permukaan bumi, seperti bentuklahan perbukitan / pegunungan, bentuklahan lembah atau bentuklahan pedataran. Proses yang berkembang terhadap pembentukkan permukaan bumi tersebut yaitu proseseksogen dan proses endogen
Penentuan tata nama satuan harus memiliki kesamaan unsusr - unsur geomorfologi yaiitu kesamaan gambaran bentuk (morfografi), seperti perbukitan, pegunungan atau pedatara dan asal - usul / proses (morfogenetik) terjadinya suatu bentuk seperti proses asal fluvial, marin, denudasional, aeolian, karst, glasial / preglasial (proses eksogen), struktural dan vulkanik (proses endogen), sedangkan unsur - unsur lain, seperti morfometri dan material penyusun merupakan unsur penegasan dari pernyataan unsur morfografi dan morfogenetik, sehingga penamaan
satuan bentuklahan geomorfologi terdiri dari gambaran bentuk(morfografi) dan asal - usul / proses terjadinya bentuk (morfogenetik).
Contoh tata cara penamaan satuan geomorfologi adalah sebagai berikut : Satuan bentuklahan PERBUKITAN STRUKTURAL
Pernyataan PERBUKITAN mencerminkan gambaran bentuk (morfografi) dan STRUKTURAL menyatakan proses terbentuknya perbukitan tersebut. Sebagai pelengkap agar tata nama satuan tersebut lebih rinci dan dapat dipetakan, maka unsur morfogenetik dapat diuraikan menjadi struktur perlipatan, sesar atau kekar. Unsur - unsur pendukung seperti morfometri dan material penyusun diperlukan untuk lebih menegaskan panamaan satuan tersebut,
seperti pola alir
4. Pola pengaliran sungai dan karakteristiknya
Pola pengaliran adalah kumpulan dari suatu jaringan pengaliran di suatu daerah yang dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh curah hujan, alur pengaliran tetap mengalir. Biasanya pola pengaliran yang demikian disebut sebagai pola pengaliran permanen (tetap). Howard (1967) membedakan pola pengaliran menjadi pola pengaliran dasar dan pola pengaliran modifikasi
Pola pengaliran dasar adalah Pola pengaliran yang memiliki satu sifat yang terbaca (khas) dan
dapat dipisahkan dari pola dasar lainnya.
Pola pengaliran modifikasi adalah salah satu perbedaan/pengembangan yang dibuat dari pola
dasar setempat.
Pola pengaliran dan karakteristiknya (van Zuidam, 1985)
POLA PENGALIRAN DASAR
KARAKTERISTIK
DENDRITIK
Perlapisan batuan sedimen relatif datar atau paket batuan kristalin yang tidak seragam dan memiliki
ketahanan terhadap pelapukan. Secara regional daerah aliran memiliki kemiringan landai, jenis pola pengaliran membentuk percabangan menyebar
PARALEL
Pada umumnya menunjukkan daerah yang berlereng sedang sampai agak curam dan dapat ditemukan pula pada daerah bentuklahan perbukitan yang memanjang. Sering terjadi pola peralihan antara pola dendritik dengan pola paralel atau tralis. Bentuklahan perbukitan yang memanjang dengan pola pengaliran paralel mencerminkan perbukitan
tersebut dipengaruhi oleh perlipatan.
TRALLIS Baruan sedimen yang memiliki kemiringan perlapisan (dip) atau terlipat, batuan vulkanik atau batuan metasedimen derajat rendah dengan perbedaan pelapukan yang jelas. Jenis pola pengaliran biasanya berhadapan pada sisi sepanjang
aliran subsekuen.
REKTANGULAR Kekar dan / atau sesar yang memiliki sudut kemiringan, tidak memiliki perulangan lapisan batuan dan sering memperlihatkan pola pengaliran
yang tidak menerus.
RADIAL
Daerah vulkanik, kerucut (kubah) intrusi dan sisa -sisa erosi. Pola pengaliran radial pada daerah vulkanik disebut sebagai pola pengaliran multi radial.
Catatan : pola pengaliran radial memiliki dua sistem yaitu sistem sentrifugal (menyebar ke luar dari titik pusat), berarti bahwa daerah tersebut berbentuk kubah atau kerucut, sedangkan sistem sentripetal (menyebar kearah titik pusat) memiliki arti bahwa daerah tersebut berbentuk cekungan.
ANULAR Struktur kubah / kerucut, cekungan dan kemungkinan retas (stocks)
MULTIBASINAL Endapan berupa gumuk hasil longsoran dengan perbedaan penggerusan atau perataan batuan dasar, merupakan daerah gerakan tanah, vulkanisme, pelarutan gamping dan lelehan salju (permafrost)
POLA PENGALIRAN MODIFIKASI
KARAKTERISTIK
SUB DENDRITIK Umumnya struktural
PINNATE Tekstur batuan halus dan mudah tererosi
ANASTOMATIK Dataran banjir, delta atau rawa
MENGANYAM
(DIKHOTOMIK) Kipas aluvium dan delta
SUB PARALEL Lereng memanjang atau dikontrol oleh bentuklahan perbukitan memanjang.
KOLINIER Kelurusan bentuklahan bermaterial halus dan beting pasir.
SUB TRALLIS Bentuklahan memanjang dan sejajar
DIREKSIONAL TRALLIS
Homoklin landai seperti beting gisik
TRALLIS BERBELOK Perlipatan memanjang.
TRALLIS SESAR Percabangan menyatu atau berpencar , sesar paralel
ANGULATE Kekar dan / atau sesar pada daerah miring
SEDIMENTOLOGI
I. Catatan Lapangan yang Baik
Catatan lapangan harus dijaga dengan rapi dan tersusun dengan baik. Bagian lokasi yang diperiksa harus
diberikan secara tepat, dan menarik dengan grid referensi dan untuk sketsa peta juga agar bisa tetap terjaga
sampai waktu mendatang. Informasi stratigrafi yang sesuai harus dimasukkan lalu hal-hal seperti cuaca atau
hal yang mencirikan tempat tersebut agar menarik saat dibaca.
Catatan lapangan harus :
1. aktual,
2. mengambarkan dan mengukur ukuran, bentuk dan hal penting yang akan dibahas.
Batuan yang mengalami pelipatan atau rekahan data strukturalnya juga dicatat. Hal yang sangat
diperhatikan:
1. Mineralisasi
2. retakan pada batuan, dan
3. strukturnya utamanya.
4. Sketsa harus rapi dan akurat lengkap dengan skalanya.
5. Subjek foto dan lokasi harus dicatat. Saat pengambilan photo skala jangan lupa untuk dimasukkan.
Salah satu aspek sedimen yang tidak dapat direkam secara memadai pada grafik log adalah lapisan geometri
atau unit batuan secara keseluruhan. Sketsa, foto dan deskripsi harus dibuat dalam bentuk dan perubahan
lateral ketebalan dari lapisan.
Poin utama yang harus ada pada buku catatan lapangan :
1.
Detail lokasi : lokasi, nomor lkasi, grid reference, tanggal dan waktu, cuaca, stratigarfi horizon dan
umur dari unit batuan, obervasi struktur (dip,strike,cleavage,dll)
2. Litologi/mineralogi dan texture : Identifikasi dan deskripsi/pengukuran
3. Struktur sedimen : deskripsi/pengukuran dan pembuatan sketsa/mengambil foto
4. Pengukuran paleocurrent : plot rose diagram
5. Fossil : identifikasi dan obervasi
6. Kontruksi grafik log jika sesuai dan sketsa hubung an lateral
7. Catatan lokasi pengambilan sampel dan fossil
8. Identifikasi kehadiran facies : asosiasi fasies dan pengulangan
9. Penentuan atau pengukuran unit batuan dan beberapa siklus dalam suksesi
10. Membuat interpretasi dan catatan untuk kerja kedepannya (contoh analisis di laboratorium)
II. Data yang Perlu Dicari di Lapangan 2.1 Litologi
Litologi batuan sedimen secara garis besar dibagi menjadi batuan sedimen klastik dan batuan ssedimen
nonklastik, namun pada modul ini hanya akan membahas litologi batuan sedimen klastik berhubung litologi
ini sering ditemukan di lapangan.
Konglomerat dan Breksi
Konglomerat atau breksi merupakan batuan sedimen yang mana memiliki ukuran butir komponen
gravel,
yang membedakan antar keduanya adalah konglomerat memiliki butir komponen yang cenderung
membundar sedangkan breksi cenderung menyudut. Sifat utama yang paling penting dalam mendeskripsi
batuan sedimen jenis ini yaitu mendeskripsikan tipe klastik (komponen dan matriks) dan tekstur. Dasar dari
asal muasal klastik pada litologi ini dapat terlihat apakah kon glomerat dan breksi ini bertipe intraformational
atau extraformational.
Intraformational clasts
merupakan kerikil-kerikil yang terbawa dari dalam endapan
suatu cekungan dan fragmen-fragmen mudrock/lime mudstone berasal dari erossi pada dasar laut atau river
channel. Sedangkan
extraformational clasts merupakan berasal dari endapan suatu ccekungan dan lebih tua
daripada sedimen yang tersedia.
Variasi klastik konglomerat dibagi menjadi:
Polymitic conglomerate, terdiri dari beberapa jenis tipe klastik
Oligomitic/monomic conglomerate, terdiri dari satu tipe klastik
Sifat alamiah
extraformational clasts dapat digunakan untuk mendapatkan informasi terkait provenance
dari suatu endapan. Hal penting yang perlu diingat dalam menginterpretasi suatu mekanisme endapan
kerikil-bongkah pada batuan sedimen adalah tekstur. Konglomerat matrix-supported dan clasts supported
harus bisa dibedakan. Bentuk, ukuran, dan orientasi komponennya harus diukur serta ketebalan dan
geometri perlapisannya.
Batupasir
Batupasir terdiri dari 5 komponen dasar: fragmen litik, butir kuarsa, butir feldspar, matriks dan semen.
Matriks pada batupasir umumnya terdiri dari mineral lempung dan lanau kuarsa, dan biasanya terendapkan
berbarengan butir sedimen. Semen terpresipitasi antar butir dan dapat juga terbentuk saat proses diagenesis.
Komposisi dari batupasir dapat merefleksikan geologi dan iklim dari area sumbernya. Beberapa butir
sedimen dan mineral lebih stabil daripada butir lainnya secara mekanik dan kimia. Jika diurutkan dari yang
paling kuat sampai yang paling rentan:
1. Kuarsa
2. Muskovit
3. Mikroklin
4. Ortoklas
5. Plagioklas
6. Hornblend
7. Biotit
8. Piroksen
9. Olivin
Dari urutan di atas dapat dikatakan bahwa batupasir yang
immature terdiri dari mineral yang lebih rentan
yang lebih banyak (rock fragment, feldspar, dan mineral mafik); batupasir mature terdiri dari kuarsa,
feldspar, dan beberapa rock fragmen; batupasir
supermature terdiri hanya dari kuarsa. Yang mana
menunjukkan bahwa batupasir
immature
merupakan batupasir yang terendapkan dekat dengan sumbernya
sedangkan batupasir
supermature merupakan batupasir yang sudah mengalami proses sedimentasi yang
sangat jauh dan beberapa kali siklus sedimentasi sehingga tersisa hanya butir yang resisten saja yaitu kuarsa.
Penamaan batupasir pada umumnya menggunakan dua klasifikasi, yaitu berdasarkan ukuran butir
(Wentworth, 1922) dan komposisi batuan (Pettijohn, 1975). Wentworth membagi batupasir menjadi
batupasir sangat kasar, kasar, sedang, halus, dan sangat halus (untuk detail ukuran akan terlampir di bagian
berikutnya) sedangkan pettijohn membagi batupasir sesuai komponen batusedimen dan kandungan mud
pada batupasir, yaitu: (1) arenite (0-15%), (2)wacke/greywacke (15-75%), dan (3) mudrock (>75%)
Mudrock
Mudrock merupakan terminology untuk batusedimen yang berukuran lanau sampai lempung. Umumnya
di lapangan mudrock sulit untuk dideskripsi karena butir sedimennya yang sangat halus. Batulanau dapat
diidentifikasi di lapangan apabila terkena air ada sensasi seperti berbutir ketika digesek oleh tangan.
Sedangkan lempung akan terasa seperti licin dan tampak larut dengan air. Dalam pendeskripsian mudrock
tidak boleh mengisi poin tekstur karena walaupun menggunakan lup kita tidak dapat menentukan bentuk,
kemas, dan sortasinya karena butirannya sangat kecil sehingga tidak terlihat.
Mudrock dapat terendapkan di lingkungan mana saja, khususnya river floodplain, danau, low-energy
shoreline, lagoon, dan delta. Di lapangan, apabila mudrock yang ada sudah dipastikan, dapat dideskripsikan
dengan penggunaan satu atau dua sifat yang berhubungan dengan sifat tertentu. Sifat yang perlu
diperhatikan adalah warna, fissility, struktur sedimen dan mineral, atau konten fosil
2.2 Tekstur
Tekstur sedimen menaruh perhatian besar pada ukuran butir dan distribusinya, morfologi dan fitur butiran
di permukaan, dan fabric dari sedimen itu sendiri. Tekstur adalah aspek yang penting dalam deskripsi batuan
sedimen dan dapat berguna untuk menginterpretasi mekanisme dan lungkungan pengendapan, juga
memengaruhi kontrol besar pada porositas dan permeabilitas.
Ukuran butir dan pemilahan
Ukuran Butir Batuan Sedimen (Wentworth, 1922)
Klasifikasi Pemilahan di Batuan Sedimen
Mekanisme yang menyebabkan pemilahan
Morfologi butiran
Morfologi dari butiran mempunyai tiga aspek:
shape,
sphericity,
dan
roundness. Perbedaan dari
ketiganya adalah:
-
Sphericity adalah ukuran seberapa dekat bentuk butir pada kebundarannya
-Roundness berfokus pada kurvatur dari butiran
Fabric
Fabrik sedimen menekankan tiga dimensi komponen pada batuan. Fabrik primer adalah yang
terbentuk saat sedimentasi berlangsung, dan sekunder merefleksikan jejak dari
post-depositionall
processes. Fabrik dapat berguna dalam mendeterminasi proses pengendapan. Fabrik yang umum
pada gravel
dan konglomerat adalah
imbrikasi.Hal ini dapat digunakan dalam penentuan analisis
paleocurrent
berdasarkan arah arus pengendapan.
Terdapat dua jenis fabric: grain supported
dan
matrix supported
.
2.3 Geometri dan Hubungan antar Batuan
1. Geometri batuan :
geometri batuan merupakan gambaran bentukan batuan sedimen secara vertical maupun lateral.
namun, jika kita melihat pada outcrop, maka penampang vertical akan lebih mudah dipahami.
sedangkan pada peta kita dapat melihat secara lateral. geometri batuan sebaiknya di pahami
secara 3 dimensi. namun, perlu adanya korelasi dari beberapa titik pengamatan untuk
memahaminya. bentuk geometri batuan yang mungkin di temukan di lapangan secara vertical :
-
tabular : jika memiliki ukuran yang meluas dan memanjang
-
lenticular : bentuknya individual ataupun banyak seperti lengkungan.
geometri batuan dapat diamati dalam skala unit bed, anggota maupun formasi sebagai cakupan
lebih luas. karena itu, cakupan untuk geometri batuan berhubungan dengan stratigrafi baik
vertical maupun horizontal.
geometri batuan di lapangan dapat dilihat pada pengukuran strike/dip batuan sehingga
tergambarkan penyebaran dan pola pengendapannya bahkan berkaitan dengan struktur.
bentukan ini dapat menggambarkan kondisi proses sedimentasi dan pengendapan.
2. Hubungan unit batuan
mengacu pada hukum stratigrafi baik konvensional maupun modern. konvensional diantaranya
:
-
hukum steno:
^ superposition : batuan yang terendapkan dibawah relatif lebih tua dari diatasnya
^ original horizontality : pengendapan terjadi secara horizontal akibat adanya gaya gravitasi
^ lateral continuity : penyebaran pengendapan secara lateral pada suatu lingkungan pengendapan
-
tambahan Charles Lyell
^ cross cutting : tubuh batuan yang menerobos batuan lain relatif lebih muda.
-
tambahan William smith
^ suksesi fauna: adanya fauna yang terfosilkan menjadi penciri suatu tubuh batuan.
-
ketidakselarasan dan keselarasan. keselarasan berarti pengendapan atas dan bawah lapian saling
berhubungan.
^ angular conformity : adanya kontak bersudut dengan batuan yang lebih muda.
^ disconformity : adanya kontak erosional diakibatkan tidak adanya influx sedimen atau proses
pengendapan.
hukum modern mengacu pada sikuen stratigrafi dengan beberapa perbedaan dari konvensional.
hubungan unit batuan dapat dijadikan menjadi suatu
fasies jika memiliki karakteristik
tertentu yang nantinya dapat mencirikan suatu lingkungan pengendapan.
untuk menentukan hubungan batuan secara vertical maupun horizontal, harus ditentukan terlebih
dahulu pembagian unit batuan. pembagian ini juga berdasarkan sudut pandang dan tujuan
peneliti. apakah dari sudut pandang struktur sedimen, kandungan kimia, geometri ataupun fosil
yang dikandungnya.
geometri dan hubungan antar batuan menjadi dasar pada cakupan pemahaman g eologi lebih luas.
nantinya, hasil pemahaman pada sub-bab ini akan berujung pada lingkungan pengendapan dan
statigrafi dan hasilnya berupa peta geologi.
2.4 Warna Batuan Sedimen
Warna batuan dapat digunakan untuk indicator lingkungan pengendapan dan iklim saat pembentukannya.
warna batuan mencirikan kandungan mineral di dalamnya yang dipengaruhi oleh keberadaan oksigen saat
pengendapannya.
-
umumnya material utama pemberi warna batuan sedimen : organic matter, iron dan oksigen. iron
dan oksigen terdapat dalam batuan saat air melarutkan kedua unsur dan mengisi rongga dalam
batuan.
hitam- abu- abu
mengindikasikan pengendapan yang tidak memperoleh oksigen (anoxic) dan mengandung
material organic yang tinggi. mineral iron disini dapat bereaksi dengan mineral anoksik dan
membentuk mineral pirit. lingkungan umumnya adalah coastal marsh, lowland marsh bersuhu
temperate, swamp ataupun laut dalam.
hijau
mengindikasikan pengendapan mengandung sedikit oksigen yang memungkinkan terbentuknya
mineral glaukonit sebagai mineral alterasi pada lingkungan sedimen. glaukonit terbentuk saat
taka da suplai sedimen sehingga mineral glaukonit terbentuk pada lingkungan laut dangkal.
cokelat - kuning
warna ini terdapat beberapa kemungkinan seperti terbentuk akibat pelapukan pada perlapisan
yang tersingkap membentuk mineral pyrite atau siderite, pembentukan dari senyawa ferric oxide
yang menghasilkan mineral limonite atau goethite.
merah
mengindikasikan adanya suplai oksigen yang cukup saat pengendapan. mineral iron (3+)
bereaksi dengan oksigen tersebut membentuk Fe
2O
3(hematite). lingkungannya pada semi-arid
continental seperti desert, playa lakes dan sungai. lapisan batuan ini disebut red bed. namun,
perlu catatan, terdapat endapan sedimen berwarna merah yang terbentuk didasar laut dalam
disebut rijang. ini dapat di lihat dari komposisi batuannya didomina si silika.
biru muda
jarang ditemui biasanya mengindikasikan batuan hidrat.
namun, perlu digaris bawahi, bahwa warna batuan sedimen tidak dapat digunakan seutuhnya sebagai
indicator lingkungan pengendapan. karena, warna tersebut dapat berupa hasil diagenesa yang mengubah
mineral atau penambahan mineral. indicator warna harus dikorelasikan dengan indicator lainnya untuk
dijadikan sebagai acuan kuat suatu lingkungan pengendapan. uj
III. Grafik Log
Suatu metode standar yang digunakan dalam pengumpulan data lapangan tentang sedimen atau batuan
sedimen yang direkonstruksikan lewat sebuah grafik log yang memperlihatkan data perlapisan batuan dan
memberikan gambaran visualisasi untuk nantinya dapat dilakukan korelasi dengan daerah yang berbeda.
Dalam grafik log ini akan dicantumkan data berupa ketebalan perlapisan, kontak antar perlapisan, litologi,
strike dip, tekstur dan struktur sedimen, juga hubungan dari perlapisan/perubahan suksesi secara vertikal
tersebut seperti fining upward
,
coarsening upward
dll. Grafik log dibuat dalam milimeter blok dengan skala
tertentu dan harus sama dengan grafik log lainnya dalam suatu pengumpulan data. Data-data yang
dicantumkan dalam suatu grafik log menggunakan simbol agar lebih mudah untuk mengenali dan
menginterpretasikannya. Skala yang biasanya digunakan adalah 1:500
–
1:1000.
Gambar contoh grafik log 1 (Tucker, 2003)
Kondisi pembuatan grafik log tergantung daripada singkapan yang ditemui. Syarat-syarat utamanya
adalah :
o
Singkapan memiliki ketebalan
1-2m.o
Terdapat perlapisan batuan sedimen (batupasir, batulempung, perselingan, dll).
oKondisi singkapan yang relatif segar, untuk deskripsi tekstur dan struktur.
o
Lakukan pembagian lapisan (bed number
) agar lebih memudahkan pembuatan grafik log.
oDeskripsi tekstur dan struktur dilakukan tiap perlapisan.
o
Jangan terpaku pada tabel pada kolom grafik log standar yang telah ada, catat dan ambil data-data
penting semaksimal mungkin.
o
Usahakan grafik log yang dibuat merupakan hasil yang representatif dari data yang diambil di
lapangan.
o
Setelah didapatkan data dari lapangan dan telah dibuat di grafik log, buat interpretasi sementara
mengenai mekanisme transportasi dan lingkungan pengendapan.
Simbol-simbol yang biasa digunakan dalam pembuatan grafik log yaitu litologi, struktur sedimen
dan fosil (Tucker, 2003)
Data yang harus didapatkan dalam pembuatan grafik log antara lain adalah :
o
Bed or rock-unit thickness
: Ketebalan perlapisan didapatkan dengan pengukuran menggunakan
pita ukur, harus hati-hati jika terdapat dip yang tajam, karena ketebalan yang didapatkan adalah
ketebalan semu.
o
Lithology
: Jenis batuan apa yang ada di perlapisan tersebut.
o
Texture
: Meliputi ukuran butir untuk batuan sedimen, sedangkan untuk batuan karbonat tambahkan
kolom baru, dengan nama lime mudstone (M), wackestone (W), packstone (P) dan grainstone (G),
boundstones (B), rudstones (R) and floatstones (F).
o
Sedimentary structures and bed contacts
: Tuliskan struktur sedimen dengan simbol jika ada, untuk
kontak antar perlapisan ada tegas/tajam, berangsung dan gradasional.
o
Palaeocurrent directions :
Arah arus purba didapatkan dari struktur sedimen ternetu sebagai penciri,
contohnya flute cast. Jelaskan arahnya apakahn N-S, dll
o
F ossils and Colours : Tuliskan dengan simbol jika ada fosil pada suatu perlapisan batuannya, untuk
warna jelaskan warna segar dan lapuknya.
Lampiran
Lembar deskripsi batuan sedimen
1. Warna; Warna Lapuk:
Warna Segar:
2. Ukuran Butir:
3. Tekstur
Ukuran butir:
Bentuk butir:
Sortasi:
Kemas:
4. Kandungan Fosil: Ada/Tidak
5. Karbonatan: Ada/Tidak
6. Kekuatan: Keras/Kompak/Getas,
7. Komposisi batuan
Lithic fragment: …. %
Quarsa: …. %
Feldspar: ….%
Mineral lain: …. %
8. Nama Batuan:
9. Gambar:
STRATIGRAFI
1. Strike dan dip
Strike atau Jurus adalah arah garis yang dibentuk dari perpotongan bidang planar dengan bidang
horizontal ditinjau dari arah utara.
Dip adalah derajat yang dibentuk antara bidang planar dan bidang horizontal yang arahnya tegak
lurus dari garis strike.
Strike Dip pada batuan umumnya muncul pada batuan hasil pengendapan (sedimen). Tapi juga
ditemukan pada batuan metamorf yang berstruktur foliasi. Penulisan strike dan dip hasil pengamatan ialah
:
N (Derajat Strike) E/ (Derajat Dip) dan dibaca North to East (Nilai Strike) and (Nilai Dip)
Strike dip pada perlapisan batuan dapat diukur dengan menggunakan kompas Geologi. Kompas
Geologi mumpuni untuk mengukur strike dip karena memiliki klinometer juga bulls eye. Klinometer adalah
rangkaian alat yang berguna untuk mengukur kemiringan dan Bulls eye adalah tabung isi gelembung udara
berguna untuk memposisikan kompas geologi agar menjadi horizontal.
2. Struktur Sedimen
Sedimentary structure are large scale features of sedimentary rocks such as parallel bedding, cross,
bedding, ripple, and mudcracks that are best studied in the field.
(Boggs, 1987)
Struktur sedimen dapat digunakan untuk penentuan interpretasi aspek lingkungan pengendapan sedimen,
mekanisme transportasi sedimen, arah arus purba (
paleocurrent
), dan kecepatan relatif arus. Beberapa
struktur sedimen juga dapat digunakan untuk penentuan
top/bottom perlapisan dan urutan pengendapan
sikuen stratigrafi yang tidak terganggu oleh aktifitas tektonik.
Identifikasi Struktur Sedimen
Stratification and Bedforms
Planar bedding & lamination
Laminated Bedding
Graded Bedding
Massive Bedding / Structureless
Bedform
Ripple
Dunes
Antidunes
Cross Stratification
Cross-Bedding
Ripple Cross-Lamination
Flaser and Lenticular Bedding
Hummocky cross-stratification
Irregular Stratification
Convolute bedding and lamination
Flame Structure
Ball & Pillow
Syn-Sedimentary fault & fold
Dish & Pilar Structure
Channels
Scour and Fill Structure
Mottled Bedding
Stromatolite
Bedding-Plane Markings
Groove Cast ; Striations ; Bounce ; Brush ; Prod ; Roll Marks
Flute Cast
Parting Lineation
Load Cast
Mudcracks and syneresis cracks
Pits and small impressions
Rill and swash marks
Depositional Structures
Wave formed structures
Wind formed structures
Chemically and biochemically formed
structures
Erosional Structures
Scour marks
Tool marks
Deformation Structures
Slump structures
Load & fonder structures
Injection structures
Fluid-Escapes structures
Desication structures
Impact structures (raindrops, etc)
Biogenic Structures
Bioturbation structures
Biostratification structures
Other Structure
Sedimentary sill and dikes
Proses keterbentukan struktur sedimen
Menentukan posisi
top & bottom lapisan sedimen berdasarkan struktur sedimen
Struktur sedimen yang dapat digunakan sebagai penentu Top & Bottom suatu perlapisan adalah
Struktur sedimen pada bagian top bedding surface
1. Ripple Marks .Ripple marks merupakan struktur sedimen yang bisa muncul baik pada batuan
silisiclastic dan sedimen karbonat.Terbentuk karena air dan angin.Ripple marks berkembang
pada material granular baik Undirectional Flow atau Oscilatory Flow ( wave action).Ripple
marks juga bisa dilihat dari sisi pada perlapisan
2. Raindrops imprint .merupakan struktur sedimen yang terbntuk karena bentuk cetakan yang
terjadi karena bekas cetakan air hujan
Struktur sedimen pada sisin perlapisan
1. Pararel and Cross Lamination
2. Graded bedding
Reverse Graded Bedding
Struktur sedimen bagian bottom
1. Load cast.Terjadi karena pembebanan sedimen sehinga timbul seperti cetakan.
2. Flute cast
Simbol-simbol struktur sedimen
3.Penampang
Stratigrafi
Terukur
PENGERTIAN
DASAR
Penampang
stratigrafi terukur
adalah
gambaran
dua dimensi secara
vertikal yang betujuan untuk mengetahui urutan stratigrafi, ketebalan setiap lapisan, hubungan stratigrafi
beserta sejarah sedimentasi nya. Lebih detailnya penampan g stratigrafi terukur mampu memerikan lapisan
batuan secara lengkap dan sistematis serta menafsirkan lingkungan pengendapan nya.
Pengukuran stratigrafi terukur dapat dilakukan sesaat atau setelah pemetaan geologi, hal ini
dilakukan karena, kita terlebih dahulu harus menentukan pilihan yang baik didaerah yang sedang dipetakan
untuk mendapatkan penampang singkapan batuan yang menerus. Kendala yang kerap kali dijumpai pada
saat melakukan pengukuran stratigrafi yaitu daerah dengan kemiringan yang curam, singkap an batuan yang
tertutup oleh vegetasi atau singkapan batuan yang terendam oleh aliran sungai, dan lain sebagainya.
Alat
–
alat penting yang harus dibawa saat melakukan pengukuran penampang stratigrafi terukur
diantaranya :
a. pita ukur
b. kompas
c. palu geologi (batuan beku/sedimen)
d. loupe
e. komparator (beku/sedimen)
f. HCL
g. GPS
h. Alat tulis
Syarat melakukan penampang stratigrafi terukur diantaranya :
a. Diusahakan mencari singkapan yang berada di sepanjang sungai
b. Diusahakan tegak lurus terhadap
strike
c. Terjadi perubahan litologi batuan
d. Tidak tertutup oleh vegetasi dan singkapan dalam kondisi baik
e. Tidak berada pada kemiringan yang curam
f. Tidak didoominasi oleh endapan alluvial
MANFAAT PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR
Mengukur suatu penampang stratigrafi dari singkapan mempunyai arti penting dalam penelitian geologi.
Manfaat yang dapat diketahui setelah melakukan pengukuran penampang stratigrafi terukur yaitu sebagai
berikut :
1. Mendapatkan data litologi terperinci dari urut-urutan perlapisan suatu satuan stratigrafi
2. Mengetahui ketebalan yang teliti dari tiap-tiap satuan stratigrafi.
3. Untuk mendapatkan dan mempelajari hubungan stratigrafi antar satuan batuan dan urut-urutan
sedimentasi dalam arah vertikal secara detil, untuk menafsirkan lingkungan pengendapan.
METODE PENGUKURAN PENAMPANG STRATIGRAFI SERTA MENGHITUNG
KETEBALAN SUATU LAPISAN
Pengukuran hendaknya dilaksanakan dengan menggunakan metoda-metoda yang dapat
dilaksanakan dengan cepat, namun akurat. Variasi lateral dari setiap satuan hendaknya dicatat sedemikian
rupa sehingga penyebaran dari setiap satuan di daerah penelitian dapat diketahui; pengetahuan kita tidak
hanya terbatas pada penampang yang merupakan produk pengukuran pada suatu lembah atau lereng.
Lapisan-lapisan batuan sedimen dan banyak tipe satuan geologi lain pada dasarnya berbentuk lentikuler.
Karena itu, setiap kegiatan pengukuran penampang stratigrafi hendakn ya dilakukan dalam tingkat ketelitian
yang cukup tinggi sedemikian rupa sehingga dapat mengantisipasi perubahan-perubahan dimensi dan
karakter setiap satuan yang ada.
Pada umumnya, terdapat dua metode dalam melakukan pengukuran penampang stratigrafi terukur,
diantaranya
sebagai berikut :1) Metode Jacob Staf
Metode Jacob Staff adalah metode yang digunakan untuk megukur ketebalan suatu lapisan batuan
yang menggunakan alat yang bernama tongkat jacob yaitu tongkat yang panjangnya 150 cm, diberi tanda
atau grid yang panjangnya 10cm berwarna hitam putih atau merah putih untuk memudahkan perhitungan
tebal lapisan tersebut dan pada ujung tongkat terdapat busur derajat untuk men yesuaikan kemiringan lapisan
batuan. Salah satu ujung tongkat dibuat agak runcing agar mudah dalam menancapkan ke tanah, d an ujung
yang lain untuk menempatkan clinometers.
Metode ini lebih praktis dan cepat dalam pengolahan datanya dikarenakan langsung dapat
mengetahui tebal sebenarnya. Tetapi tidah semua bidang perlapisan bisa diukur dengan metode ini, karena
diperlukan singkapan yang ideal.
Prosedur pengukuran
Prosedur pengukuran dengan menggunakan metode Jacob Staff adalahsebagai berikut :
1.Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan, yaitu : kompas, palu, clipboard,Jacob staff dan alat
tulis.
2.Mengidentifikasikan lokasi dengan cara membuat deskripsi lokasi
3.Mengidentifikasi litologi dengan cara mendeskripsikan batuan
4.Ukur stikr/dip bidang perlapisan menggunakan kompas dan catat hasil pengukuran tersebut
5.Tancapkan Jacob staff, kemudian miringkan tongkat tersebut sesuai denganarah dan kemiringan
bidang perlapisan dengan melihat busur derajat yang adadi kepala Jacob staff
6.Hitung ketebalan perlapisan dengan menggunakan grid pada bagian bawah busur derajat, setiap
grid berukuran 10 cm
7. Catat dan simpan hasil pengukuran.
2) Metode Rentang TaliMetode rentang tali adalah metode yang lakukan untuk mengukur ketebalan sebenarnya suatu
bidang perlapisan dengan cara merentangkan tali yang sudah di beri tanda atau grid setiap 10 cm atau 1
meter, kemudian direntangkan pada singkapan batuan dan sebelumnya diukur dip dan slope bidang
singkapan tersebut.
Selanjutnya dalam pengolahan data lapangan menggunakan metodematematis dengan rumus.
Metode ini lebih akurat dibandingkan dengan MetodeJacob Staff. Ada beberapa rumus yang digunakan
dalam pengukuranmenggunakan metode rentang tali, yaitu :
Pada daerah datar
Pengukuran pada daerah datar, apabila jarak terukur adalah jarak tegak lurus jurus, ketebalan
langsung di dapat dengan menggunakan rumus : T = d sin ∂ (dimana d adalah jarak terukur di lapangan dan
∂ adalah sudut kemiringan lapisan). Apabila pengukuran tidak tegak lurus jurus, maka jarak terukur harus
dikoreksi seperti pada cara diatas.
T = Sin α dip x LS
Terdapat beberapa kemungkinan posisi lapisan terhadap lereng seperti diperlihatkan pada gambar 2
dan gambar 3. (Catatan: sudut lereng (s) dan kemiringan lapisan (∂) adalah pada
keadaan yang tegak lurus
dengan jurus atau disebut “true dip” dan “true slope” ).
Kemiringan lapisan searah dengan lereng.
Bila kemiringan lapisan (∂ ) lebih besar daripada sudut lereng (s) dan arah lintasan tegak lurus jurus,
maka perhitungan ketebalan adalah :
T = d sin (∂
- s )
Bila kemiringan lapisan lebih kecil daripada sudut lereng dan arah lintasan tegak lurus jurus, maka
perhitungan ketebalan adalah : T = d sin (s -
∂ )
•
Kemiringan lapisan berlawanan arah dengan lereng
Bila kemiringan lapisan membentuk sudut lancip terhadap lereng dan arah lintasan tegak lurus jurus
maka : T = d sin ( ∂ + s )
Apabila jumlah sudut lereng dan sudut kemiringan lapisan adalah 900 (lereng berpotongan tegak
lurus dengan lapisan) dan arah lintasan tegak lurus jurus maka: T = d
Bila kemiringan lapisan membentuk sudut tumpul terhadap lereng dan arah lintasan tegak lurus
jurus, maka : T = d sin (1800 -
∂
- s)
C. Kemiringan lapisan mendatar
Bila lapisannya relatif mendatar,dengan kemiringan lereng yang sudah diketahui dan di ukur. Maka
dapat menggunakan rumus : T = d sin (s)
Lapisan batuan tegak
Bila lapisannya relatif tegak,dengan kemiringan lereng yang sudah diketahui dan di ukur. Maka
dapat menggunakan rumus : T = d sin (90o - s)
PROFIL LINTASAN DAN KOLOM STRATIGRAFI
Dalam penelitian geologi, pengamatan stratigrafi disepanjang lintasan yang dilalui perlu dibuat, baik
dengan cara menggambarnya dalam bentuk sketsa profil lintasan ataupun melalui pengukuran stratigrafi.
Adapun tujuan dari pembuatan profil lintasan adalah untuk mengetahui dengan cepat hubungan antar batuan
/ satuan batuan secara vertikal.
Kolom stratigrafi adalah kolom yang menggambarkan susunan berbagai jenis batuan serta
hubungan antar batuan menurut usia geologinya, ketebalan setiap satuan batuan, serta genesa pembentukan
batuan. Penampang kolom stratigrafi umumnya tersusun dari kolom-kolom denganatribut umur, formasi,
satuan batuan, ketebalan, besar-butir, simbol litologi, deskripsi%pemerian,fosil dianostik, dan lingkungan
pengendapan.
Kolom stratigrafi yang di peroleh dari jalur yang diukur dijadikan dasar untuk beberapa dasar
sebagai berikut :
Penentuan batas secara tepat dari satuan-satuan stratigrafi formal maupun informal, perludiketahui
dalam peta dasar yang dipakai terpetakan atau tidak, sehingga akan meningkatkanketepatan dari
pemetaan geologi.
Penafsiran lingkungan pengendapan satuan.
Sarana korelasi dengan kolom-kolom yang diukur di jalur yang lain.
Pembuatan penampang atau profil stratigrafi (stratigraphic section) untuk wilayah tersebut.
Evaluasi lateral (spatial = ruang) dan vertical (temporal = waktu), dari seluruh satuan batuansebagai
berikut :
1. lapisan batu pasir potensial sebagai reservoir
2. lapisan batubara
3. lapisan kaya fosild.3apisan bentonik
4. PEMBAGIAN SATUAN BATUAN
PENGERTIAN DASAR
Fasies adalah aspek fisika, kimia atau biologi suatu endapan dalam kesamaan waktu. Dua tubuh
batuan yang diendapkan pada waktu yang sama dikatakan berbeda fasies, kalau kedua batuan tersebut
berbeda ciri fisik, kimia atau biologinya.
Fasies dapat didasari kesamaan:
1. litologi (litofasies)
2. kandungan organisme (biofasies)
3. lingkungan pengendapan (fasies darat, fasies delta)
1) Aspek persamaan waktu dalam pembentukannya
2) Aspek perbedaan atau perubahan litologi secara lateral (litofacies).
3) Aspek perbedaan atau perubahan kandungan fauna secara lateral (biofacies).
LITOSTRATIGRAFI
Litostratigrafi merupakan studi stratigrafi yang memfokuskan kepada jenis
–
jenis litologi yang
diamati di lapangan. Hal ini bertujuan untuk mengelompokkan jenis litologi yang berbeda secara bersistem.
Pada satuan litostratigrafi penentuan satuannya berdasarkan karakteristik litologi dan hubungan
stratigrafinya. Litologi yang diamati ketika melakukan observasi di lapangan meliputi jenis batuan,
kombinasi antar batuan (unconformity, superposisi, crosscutting), kenampakan fisik batuan seperti warna,
mineral, komposisi, dan ukuran butir, struktur geologi, dan gejala lain pada tubuh batuan.. Penentuan batas
penyebarannya tidak terlangsung atas batas waktu. Jika ciri di atas belum memuaskan, maka akan digunakan
data geokimia, geofisika dll. Prinsip superposisi dan letak fosil yang ditemukan merupakan salah satu
komponen batuan.
Pemerian batuan didasarkan pada sifat-fisik, terutama dari kenampakan
hand specimen dan
singkapan. Termasuk sifat fisik ini adalah jenis batuan, warna, mineral, komposisi, dan besar butir. Suatu
tubuh batuan atau kumpulan batuan, yang mempunyai ciri khas yang dapat membedakan dengan satuan lain
disekitarnya, disebut satuan batuan. Dengan demikian satuan batuan ini dap at berupa batuan sedimen, beku,
malihan datu batuan hasil aktivitas gunungapi.
Satuan stratigrafi umumnya mengikuti hukum superposisi, dalam keadaan normal batuan yang tua
akan terletak di bawah sedang batuan muda terletak di atas. Batasan dari suatu satuan batuan diperikan
berdasarkan ciri batuan yang ada pada penampang tipe atau
stratotype. Penampang tipe ini dapat berupa
singkapan di alam, galian, penambangan, atau lubang bor.
Penamaan satuan dapat secara resmi (formal) dan tidak resmi (informal). Penamaan resmi adalah
penamaan yang mengikiti kaidah yang ada pada sandi stratigrafi, sedangkan yang tidak resmi tentu saja
yang tidak mengikuti hal tersebut.
Hierarki litostratigrafi resmi memiliki tingkatan satuan dari kecil ke besar, yaitu:
1. Lapisan (
Bed
) merupakan bagian dari anggota. Lapisan adalah satuan terkecil dari litostratigrafi dari
batuan sedimen. Dalam penamaan resmi dari litostratigrafi, lapisan biasanya didasarkan pada ciri
yang khas yang membedakan dengan lapisan lain disekitarnya.
2. Anggota (
Member
)adalah bagian dari suatu formasi. Tingkat penyebarannya tidak melebihi
penyebaran formasi.
3. Formasi (
Formation) adalah satuan dasar dalam pembagian satuan litostratigrafi yang secara litologi
dapat dibedakan dengan jelas dan dengan skala yang cukup luas cakupannya untuk dipetakan
dipermukaan atau ditelusuri dibawah permukaan. Formasi dapat terdiri dari satu litologi atau
beberapa litologi yang berbeda, dengan ketebalan antara satu hingga ribuan meter.
4. Kelompok (Group) adalah satuan litostratigrafi yang terdiri dari dua formasi atau lebih yang
memiliki keseragaman ciri litologi.
5. Kelompok besar (Supergroup) adalah kombinasi dari beberapa kelompok.
Litostratigrafi berguna untuk menentukan korelasi atau hubungan stratigrafi antara satuan di atas dengan
satuan di bawahnya, dan dengan satuan litologi lainnya.
BATAS SATUAN STRATIGRAFI
Batas Satuan Stratigrafi ditentukan sesuai dengan batas pen yebaran ciri satuan tersebut sebagaimana
didefinisikan. Batas Satuan Stratigrafi jenis tertentu tidak harus berhimpit dengan batas Satuan Stratigrafi
jenis lain, bahkan dapat memotong satu sama lain.
BATAS DAN PENYEBARAN SATUAN
1) Batas satuan litostratigrafi ialah sentuhan antara dua satuan yang berlainan ciri litologi, yang
dijadikan dasar pembeda kedua satuan tersebut.
2) Batas satuan ditempatkan pada bidang yang nyata, batasnya merupakan bidang yang diperkirakan
kedudukannya (batas arbitrer).
3) Satuan-satuan yang berangsur berubah atau menjari-jemari, peralihannya dapat dipisahkan sebagai
satuan teresendiri apabila memenuhi persyaratan Sandi.
4) Penyebaran suatu satuan litostratigrafi semata-mata ditentukan oleh kelanjutan ciri-ciri litologi yang
menjadi ciri penentunya.
5) Dari segi praktis, penyebaran suatu satuan litostratigrafi dibatasi oleh batas cekungan pengendapan
atau aspek geologi lain.
6) Batas-batas daerah hukum (geografi) tidak boleh dipergunakan sebagai alasan berakhirnya
penyebaran lateral (pelamparan) suatu satuan.
7) Batas antar Satuan Litodemik berupa sentuhan antara dua satuan yang berbeda ciri litologinya,
dimana kontak tersebut dapat bersifat extrusi, intrusi, metamorfosa, tektonik atau kontak berangsur.
Penjelasan : Batas satuan litostratigrafi tidak perlu berimpit dengan batas satuan stratigrafi lainnya
(misalnya batas satuan waktu).
Penjelasan : Batuan kontak antara dua Satuan Litodemik yang berangsur/bergradasi, dimana ciri litologinya
cukup berbeda dan memenuhi persyaratan Sandi dapat dikelompokkan menjadi satuan tersendiri.
5. KORELASI STRATIGRAFI
Jenis
–
Jenis Korelasi
Korelasi adalah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan satuan-satuan
stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996). Korelasi
merupakan usaha untuk menunjukkan bahwa dua tubuh batuan diendapkan pada rentang waktu yang sama
(Dunbar & Rodgers, 1957; Rodgers, 1959). Korelasi secara luas sehingga mencakup semua usaha untuk
memperlihatkan kesebandingan litologi, paleontologi, atau kronologi (Krumbein & Sloss, 1963).
Perbedaan antara konsep matching dengan konsep korelasi.
Matchingdidefinisikan secara
sederhana sebagai korespondensi serangkaian data dengan tidak merujuk pada satuan stratigrafi
(Schwarzacher, 1975; Shaw, 1982). Kedua satuan itu mungkin tidak sebanding, baik dalam hal waktu
maupun litostragrafinya. Shaw (1982) menyatakan bahwa proses
korelasiadalah proses untuk
menunjuk-kan hubungan geometri antara batuan, fosil, atau lintap data geologi dengan tujuan untuk menafsirmenunjuk-kan dan
menyusun model fasies, merekonstruksikan paleontologi, atau untuk menyusun model struktur. Tujuan
korelasi adalah menetapkan ekivalensi satuan-satuan stratigrafi yang terletak di daerah yang berbeda-beda.
Korelasi dapat dianggap langsung (resmi) atau tidak lan gsung (tidak resmi) (Shaw, 1982). Korelasi
langsung (direct correlation) dilakukan secara fisik dan hasilnya tidak diragukan. Penelusuran fisik suatu
satuan stratigrafi yang menerus merupakan satu-satunya metoda yang mampu memperlihatkan
korespondensi satuan litostratigrafi dari satu tempat ke tempat lain secara meyakinkan. Korelasi tidak
langsung (indirect correlation) dilakukan dengan berbagai metoda seperti pembandingan visual terhadap
well logs, rekaman pembalikan kutub magnet, atau kumpulan fosil.
Korelasi dibagi menjadi dua yaitu
korelasi strukturdan
korelasi stratigrafi. Korelasi struktur
dibuat dengan cara menempatkan lapisan pada keadaan yang sekarang, sehingga akan memberikan
gambaran posisi batuan setelah mengalami aktivitas tektonik (misalnya struktur sesar, kekar, dan lipatan),
sedangkan korelasi stratigraf dibuat dengan cara menempatkan atau menggunakan suatu lapisan penunjuk
(marker bed) pada kedudukan yang sama.
Korelasi Struktur
dapat diaplikasikan untuk mengetahui deformasi struktur geologi yang telah
terjadi sepanjang waktu geologi pada sumur pemboran, dapat dilakukan flatten (penyamaan data yang
didapat di tiap sumur pada kedalaman (depth) yang sama pada masing -masing sumur dimana dalam flatten
ini kondisi stratigrafi yang diamati adalah kondisi pada saat ini (setelah terdeformasi).
Korelasi Stratigrafi
, batas-batas yang ditentukan berdasarkan kriteria tertentu belum tentu sama
dengan batas-batas yang ditentukan berdasarkan kriteria lain. Fakta inilah yang mendorong munculnya
metoda-metoda korelasi yang beragam (litokorelasi, biokorelasi, kronokorelasi) dan dapat memberikan
hasil yang berbeda-beda, meskipun diterapkan pada lintang stratigrafi yang sama.
Sandi Stratigrafi Amerika Utara 1983 mengakui adan ya tiga tipe utama korelasi sbb:
1)
Litokorelasi (lithocorrelation): yang mengungkapkan kemiripan litologi dan posisi stratigrafi.
Pelacakan kemenerusan secara langsung dari sebuah unit lithostratografi dari suatu singkapan ke
singkapan lain adalah salah satu metode korelasi yang dapat menentukan kesamaan dari sebuah unit.
Metode korelasi ini dapat digunakan hanya jika lapisan secara menerus atau mendekati menerus tersingkap.
Jika singkapan dari lapisan tersela oleh daerah yang luas yang tertutup tanah dan vegetasi lebat, atau lapisan
terhenti oleh erosi, atau dipotong lembah yang besar, atau tersesarkan, penelusuran secara fisik pada lapisan
menjadi tidak mungkin. Dalam keadaan itu, teknik korelasi lainnya (tidak langsung) harus digunakan
(Boggs, 1987).
Korelasi unit lithostratigrafi dengan metode yang meliputi penyamaan lapisan dari suatu area ke
lainnya dengan dasar kesamaan lithologi dan posisi stratigrafi (Boggs, 1987). Dapat ditelaah melalui
kesamaan lithology, warna, kelompok mineral berat atau kelompok mineral khusus, struktur sedimen utama
seperti perlapisan dan laminasi silang-siur, dan ketebalan rata-rata, dan karakteristik pelapukan. (Boggs,
1987).
Posisi stratigrafi yang memegang peranan penting adalah penentuan korelasi berdasarkan kaitannya
dengan suatu lapisan atau satuan yang sangat khas dan dapat dengan mudah dikorelasikan dari satu tempat
ke tempat lain. Lapisan atau satuan khas berperan sebagai control unit untuk mengkorelasikan strata yang
terletak di atas dan dibawahnya. Sebagai contoh, lapisan satuan d ebu jatuhan yang tipis atau lapisan bentonit
mungkin hadir dalam suatu lintap stratigrafi dan dapat dengan mudah dikenal pada daerah tertentu. Jika
debu atau bentonit itu merupakan satu-satunya lapisan debu atau bentonit dalam lintap stratigrafi di daerah
itu, sehingga tidak mungkin tertukar dengan lapisan debu atau bentonit lain, maka lapisan itu dapat berperan
sebagai lapisan kunci (key bed; marker bed), kepada lapisan mana strata lain dapat dikaitkan. Semakin
banyak lapisan kunci, maka semakin mudah untuk mengkorelasikan.
2)
Biokorelasi (biocorrelation)yang mengungkapkan kemiripan kandungan fosil dan posisi
biostratigrafi.
Satuan biostratigrafi merupakan satuan stratigrafi objektif yang dapat diamati dan ditentukan
keberadaannya berdasarkan fosil yang terkandung didalamnya. Satuan biostratigrafi dapat dikorelasikan,
tanpa tergantung pada waktunya, dengan menggunakan prinsip yang sangat mirip dengan
prinsip- prinsip korelasi litostratigrafi, misalnya berdasarkan ke-match-an menurut kandungan fosil dan posisi
stratigrafinya.
Korelasi zona kumpulan didasarkan pada pengelompokkan tiga atau lebih taxa tanpa
memperhitungkan limit-limit kisarannya. Keberadaan zona tersebut ditentukan oleh urut-urutan flora dan
fauna yang berbeda dan zona tersebut berurutan satu di atas yang lain dalam suatu penampang stratigrafi
tanpa diselingi oleh rumpang. Zona kumpulan cenderung hanya dapat digunakan untuk tujuan korelasi
lokal.
Korelasi berdasarkan zona puncak (abundance zone; acme zone) ditentukan keberadaannya
berdasarkan jumlah maksimum relatif dari satu atau lebih spesies, genus, atau taxon lain; bukan berdasarkan
kisaran taxon. Zona itu merepresentasikan saat atau saat-saat ketika suatu t axon tertentu berada pada puncak
perkembangannya.
Korelasi kronostratigrafi berdasarkan metoda biologi terutama didasarkan pada penggunaan
concurrent range zones dan zona selang lainnya. Metoda korelasi biologi juga mencakup penelaahan
statistik terhadap data zona selang dan pengkorelasikan berdasarkan zona puncak yang merupakan
biological events yang berkaitan dengan fluktuasi iklim.
Korelasi zona selang adalah biozona yang membagi-bagi strata yang jatuh diantara saat-saat dimana
suatu taxon muncul untuk pertama kalinya dan saat-saat dimana suatu taxon hilang untuk pertama kalinya.
Hingga dewasa ini dikenal adanya beberapa tipe zona selang, termasuk zona yang dibentuk oleh kisaran
taxa yang saling bertumpang-tindih. Tipe-tipe zona selang yang dikenal dewasa ini adalah:
1) Zona selang antara pemunculan pertama dan pemunculan terakhir suatu taxon tunggal. Zona selang
seperti ini dikenal dengan sebutan zona kisaran taxon (taxon range zone
).
2) Zona selang antara pemunculan pertama dua taxa yang berbeda atau pemunculan terakhir dari kedua
taxa tersebut.
3) Zona selang antara pemunculan pertama suatu taxon dan pemunculan terakhir taxon yang lain.
4) Zona selang yang ditentukan oleh zona-zona kisaran yang saling bertumpang tindih. Zona selang
seperti ini dikenal dengan sebutan concurrent range zone.
Tipe-tipe zona selang itu memiliki tingkat kegunaan yang berbeda-beda dalam korelasi
kronostratigrafi seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.
Zona kisaran taxon mungkin berguna untuk kronokorelasi jika taxa yang dipakai sebagai dasar
penentuannya memiliki kisaran stratigrafi yang pendek. Namun, zona ini tidak terlalu bermanfaat jika taxa
Ketika suatu zona kisaran taxon sangat panjang dan, oleh karenanya, korelasi berdasarkan zona
kisaran taxon itu tidak sesuai digunakan, korelasi pada skala yang lebih tinggi dapat dilakukan berdasarkan
tipe-tipe zona kisaran lain. Zona kisaran yang didasarkan pada pemunculan pertama dua taxa yang berbeda.
3)
Kronokorelasi (chronocorrelation)yang mengungkapkan korespondensi umur dan posisi
kronostratigrafi.
Korelasi kronostratigrafi adalah matching up satuan-satuan stratigrafi berdasarkan kesebandingan
waktu, korelasi yang menyatakan korespondensi umur dan posisi kronostratigrafi dari satuan-satuan
stratigrafi. Penentuan kesebandingan waktu antar berbagai strata merupakan tulang punggung dari
stratigrafi global dan dianggap oleh kebanyakan ahli stratigrafi sebagai tipe korelasi yang terpenting.
Metoda korelasi kronostratigrafi dapat dibedakan menjadi dua kategori: (1) metoda biologi; dan (2) metoda
fisika/kimia.
. Event stratigraphy
memfokuskan diri pada specific events dalam suatu satuan stratigrafi atau suatu
lintap batuan, bukan pada karakter fisik atau karakter biologinya. Adanya peristiwa yang memengaruhi
proses sedimentasi secara global. Semua fasies hasil sedimentasi akan eki valen dalam arti kata semuanya
terbentuk oleh peristiwa yang sama. Dengan demikian, semua fasies itu, secara kronologi, adalah sebanding.
Event memiliki skala yang berbeda-beda, tergantung pada durasi, intensitas, dan efek-efek geologi yang
ditimbulkan-nya. Beberapa convulsive event berlangsung sangat cepat, dan memiliki pengaruh regional.
Events seperti itu dapat menimbulkan efek-efek yang luas, termasuk punahnya organisme. Karena
besarannya, endapan dari peristiwa-peristiwa itu dapat membentuk suatu bagian penting dari rekaman
geologi. Bahkan, rekaman stratigrafi sebenarnya cenderung untuk mengindikasikan jejak-jejak gangguan
berskala besar (Seilacher, 1992).
Korelasi yang dilakukan berdasarkan short-term geologic event markers disebut
event correlation.
Beberapa peristiwa menghasilkan lapisan kunci yang dapat ditelusuri dari satu tempat ke tempat lain hingga
jarak yang jauh. Lapisan kunci sangat bermanfaat untuk korelasi kronostratigrafi, dan untuk korelasi
litostratigrafi, jika diendapkan sebagai produk geologic event yang pada hakekatnya berlangsung
“seketika”.
Event correlation juga didasarkan pada posisi suatu batuan dalam perlapisan atau daur
transgresi-regresi (Ager, 1981). Menurut Ager (1981), event correlation dalam kasus tersebut didasarkan pada korelasi
puncak-puncak daur sedimen yang diasumsikan mengindikasikan umur yang sama. Aspek yang digunakan
dalam korelasi ini merupakan produk transgresi-regresi yang kemungkinan merepresentasikan terjadinya
perubahan muka air laut eustatik di seluruh muka bumi atau perubahan muka air laut lokal sebagai akibat
pengangkatan, subsidensi, atau fluktuasi pasokan sedimen.
Variasi kelimpahan relatif isotop-isotop nonradioaktif-stabil tertentu dalam sedimen bahari dan fosil
dapat digunakan sebagai alat kronokorelasi. Bukti-bukti geokimia menunjukkan bahwa komposisi
isotop-isotop oksigen, karbon, belerang, dan stronsium di samudra mengalami fluktuasi yang hebat atau “ber
-ekskursi” di masa lalu. Fluktuasi itu terekam dalam sedimen bahari. Variasi komposisi isotop dalam
sedimen atau fosil memungkinkan para ahli geokimia untuk merekonstruksikan
isotopic composition curve
yang dapat digunakan sebagai stratigraphic marker untuk tujuan korelasi. Agar dapat bermanfaat dalam
korelasi, fluktuasi komposisi isotop itu harus dapat dikenal pada skala global dan harus berlangsung dalam
rentang waktu yang singkat sedemikian rupa sehingga akan tampak sebagai suatu “kick” dalam kurva
komposisi isotop. Selain itu, para ahli stratigrafi harus dapat menetapkan posisi stratigrafi relatif dari
fluktuasi tersebut dalam kaitannya dengan skala biostratigrafi, paleomagnet, atau radiometrik.
Skala Waktu Geologi