• Tidak ada hasil yang ditemukan

Panduan Pemetaan Geologi 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Panduan Pemetaan Geologi 2014"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

PANDUAN PEMETAAN GEOLOGI 2014

PANDUAN PEMETAAN GEOLOGI 2014

DARI SENDUNYA JATINANGOR 

DARI SENDUNYA JATINANGOR 

(2)
(3)

GEOMOFOLOGI GEOMOFOLOGI

1.

1. Klasifikasi Bentang Alam GeomorfologiKlasifikasi Bentang Alam Geomorfologi 

Pedataran

Pedataran

Pedataran adalah bentuklahan (landform) dengan kemiringan lereng 0% sampai 2%, biasanya Pedataran adalah bentuklahan (landform) dengan kemiringan lereng 0% sampai 2%, biasanya digunakan untuk sebutan bentuklahan asal marin (laut), fluvial (sungai), campuran marin dan fluvial (delta) digunakan untuk sebutan bentuklahan asal marin (laut), fluvial (sungai), campuran marin dan fluvial (delta) dan plato

dan plato

a. Dataran marin : disusun oleh material berbutir halus sampai sedang a. Dataran marin : disusun oleh material berbutir halus sampai sedang yaitu pasir yang terpilah baik dan kemasan terbuka yaitu pasir yang terpilah baik dan kemasan terbuka karena

karena lebih lebih banyak banyak dipengaruhdipengaruhi i oleh oleh hempasanhempasan ombak, bercampur dengan lempung dan lanau. ombak, bercampur dengan lempung dan lanau.  b. Dataran

 b. Dataran fluvial : difluvial : disusun oleh susun oleh material material berbutir haberbutir halus lus seperti seperti lem -lem - pung dan

 pung dan lanau samlanau sampai bongkpai bongkah - bongkaah - bongkah. Mate-h. Material penyusun dataran fluvial biasa disebut endap rial penyusun dataran fluvial biasa disebut endap -an

an aluvium aluvium dan dan jika jika telah telah termampatkan termampatkan disebutdisebut konglomerat.

konglomerat. c. Dataran

c. Dataran delta delta : disusun : disusun oleh material - oleh material - material pasir material pasir berbutir halusberbutir halus sampai sedang, lempung, dan lanau, disertai de sampai sedang, lempung, dan lanau, disertai de -ngan sisa - sisa tumbuhan atau endapan batubara. ngan sisa - sisa tumbuhan atau endapan batubara. d. Dataran plato

d. Dataran plato : disusun oleh m: disusun oleh material - material gunungapi, sepertaterial - material gunungapi, sepert  breksi da

 breksi dan tuf.n tuf. 

Perbukitan

Perbukitan

Bentuklahan perbukitan (hilly landforms) memiliki ketinggian antara 50 meter sampai 500 meter di Bentuklahan perbukitan (hilly landforms) memiliki ketinggian antara 50 meter sampai 500 meter di atas permukaan laut dan memiliki kemiringan lereng antara 7 % sampai 20 %. Sebutan perbukitan digunakan atas permukaan laut dan memiliki kemiringan lereng antara 7 % sampai 20 %. Sebutan perbukitan digunakan terhadap bentuklahan kubah intrusi (dome landforms of intrusion), bukit rempah gunungapi / gumuk tefra, terhadap bentuklahan kubah intrusi (dome landforms of intrusion), bukit rempah gunungapi / gumuk tefra, koral (karst) dan

koral (karst) dan perbukitan yang dikontrol oleh struktural.perbukitan yang dikontrol oleh struktural. a. Perbuk

a. Perbukitan kubah itan kubah intrusi, disuintrusi, disusun oleh msun oleh material baaterial batuan tuan beku beku intrusiintrusi yang

yang memiliki memiliki ciri ciri khas khas membentuk membentuk pola pola aliran aliran sentripetal, soliter sentripetal, soliter (terpisah)(terpisah), , biasanya biasanya terbentuk padaterbentuk pada daerah yang dipengaruhi oleh

daerah yang dipengaruhi oleh sesar dan tersebar tidak beraturan. sesar dan tersebar tidak beraturan.  b.

 b. BentuklahaBentuklahan n perbukitan rempah perbukitan rempah gunungapi (gumuk gunungapi (gumuk tefra) tefra) disusun disusun oleh oleh materiamaterial l - - material hasil material hasil erupsierupsi gunungapi yang berbutir halus sampai bbongkah dengan ciri khas tidak jauh dari gunungapi se - bagai gunungapi yang berbutir halus sampai bbongkah dengan ciri khas tidak jauh dari gunungapi se - bagai sumber material. Gumuk tefra terbentuk karena kegiatan erupsi gunungapai.

sumber material. Gumuk tefra terbentuk karena kegiatan erupsi gunungapai. c. Bentuklahan perbukitan karst (gamping) d

c. Bentuklahan perbukitan karst (gamping) disusun oleh material sisa kehidupan binatang laut (koral), bersifisusun oleh material sisa kehidupan binatang laut (koral), bersif atat karbonatan. Ciri khas perbukitan karst membentuk perbukitan yang berkelompok, membentuk pola karbonatan. Ciri khas perbukitan karst membentuk perbukitan yang berkelompok, membentuk pola  pengaliran

 pengaliran multi bmulti basinal asinal (tiba - (tiba - tiba metiba menghilang), nghilang), terdapat terdapat gua - gua - gua denggua dengan stalaan stalagtit dan gtit dan talagmtalagmit. Daerahit. Daerah  perbukitan

 perbukitan karst mkarst mencerminkencerminkan jejak an jejak lingkungalingkungan laut n laut dangkal dangkal (25 me(25 meter samter sampai 50 pai 50 meter), meter), sehinggsehingga garisa garis  pantai lama tidak jauh dari kumpu

 pantai lama tidak jauh dari kumpulan perbukitan karst tersebut. Munclan perbukitan karst tersebut. Munculnya perbukitaulnya perbukitan karst disebabkann karst disebabkan oleh suatu

oleh suatu pengangkpengangkatan (tektonik).atan (tektonik).

d. Bentuklahan perbukitan yang memanjang mencerminkan suatu perbukitan yang terlipat, sehingga dapat d. Bentuklahan perbukitan yang memanjang mencerminkan suatu perbukitan yang terlipat, sehingga dapat

diperkirakan materi

diperkirakan material penyusun berupa batuan sedimen, seperti batupasir, batulempung dan batulanau ataual penyusun berupa batuan sedimen, seperti batupasir, batulempung dan batulanau atau  perselinga

 perselingan batuan sedimen batuan sedimen tersebut. Ciri khas bentukn tersebut. Ciri khas bentuklahan perbukitan telahan perbukitan terlipat memirlipat memiliki pola pengaliraliki pola pengalirann  paralel atau rektangular yang berbeda arah, mengikuti lereng sayap dari perbukitan tersebut, sedang  paralel atau rektangular yang berbeda arah, mengikuti lereng sayap dari perbukitan tersebut, sedangkankan  puncak dari perbukitan bertind

(4)

memanjang terbentuk akibat dari kegiatan tektonik lemah (pengangkatan), sehingga membentuk memanjang terbentuk akibat dari kegiatan tektonik lemah (pengangkatan), sehingga membentuk  perlipatan.

 perlipatan. Perbukitan Perbukitan yang yang berbelok berbelok atau atau terpisah, terpisah, kemungkkemungkinan inan diakibatkadiakibatkan n oleh oleh gerakan gerakan dari dari sesar sesar gesergeser 

Pegunungan

Pegunungan

Bentuklahan pegunungan (mountaineous landforms) memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan Bentuklahan pegunungan (mountaineous landforms) memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan kemiringan lereng lebih dari 20 %. Sebutan pegunungan digunakan terhadap rangkaian bentuklahan yang kemiringan lereng lebih dari 20 %. Sebutan pegunungan digunakan terhadap rangkaian bentuklahan yang memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan kemiringan lereng lebih dari 20 %, biasanya merupakan satu memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan kemiringan lereng lebih dari 20 %, biasanya merupakan satu rangkaian dengan

rangkaian dengan bentuklahan gu bentuklahan gu - - nungapi atau nungapi atau akibat akibat kegiatan kegiatan tektonik tektonik yang yang cukup cukup kuat, kuat, sepertiseperti  pegununga

 pegunungan Himalan Himalaya (di Indiaya (di India), pegunung), pegunungan Alpen an Alpen (di Eropa) (di Eropa) dan Pegdan Pegunungan unungan Selatan Selatan (di Jawa (di Jawa Barat).Barat).

2.

2. Perhitungan kemiringan lereng dan klasifikasinyaPerhitungan kemiringan lereng dan klasifikasinya Untuk menghitung kemiringan lereng digunakan rumus : Untuk menghitung kemiringan lereng digunakan rumus :

Keteranga

Keterangan n : : S S = = Kemiringan Kemiringan lereng lereng (%)(%) Δh

Δh = = Perbedaan Perbedaan ketinggian ketinggian (meter)(meter) D

D = = Jarak Jarak titik titik tertinggi tertinggi dengan dengan terendah terendah (meter)(meter)

Hubungan kelas lereng d

Hubungan kelas lereng dengan sifat - siengan sifat - sifat proses dan kondisi fat proses dan kondisi lahan disertai silahan disertai simbol warna mbol warna yang yang disarankandisarankan (sumber : Van Zuidam, 1985).

(sumber : Van Zuidam, 1985).

Kelas Lereng

Kelas Lereng Proses, Karakteristik dan KondisiProses, Karakteristik dan Kondisi lahan

lahan

Simbol

Simbol warna warna yangyang disarankan. disarankan. 0 000 - 2 - 200 (0 - 2 %) (0 - 2 %)

Datar atau hampi datar, tidak ada Datar atau hampi datar, tidak ada

erosi yang besar, dapat diolah erosi yang besar, dapat diolah dengan mudah dalam kondisi kering.

dengan mudah dalam kondisi kering. Hijau tuaHijau tua

2 200 - 4 - 400 (2 - 7 %) (2 - 7 %)

Lahan memiliki kemiringan lereng Lahan memiliki kemiringan lereng landai, bila terjadi longsor bergerak landai, bila terjadi longsor bergerak dengan kecepatan rendah, pengikisan dengan kecepatan rendah, pengikisan dan erosi akan meninggalkan bekas dan erosi akan meninggalkan bekas

yang sangat dalam. yang sangat dalam.

Hijau Muda Hijau Muda 4 400 - 8 - 800 (7 - 15 %) (7 - 15 %)

Lahan memiliki kemiringan lereng Lahan memiliki kemiringan lereng landai sampai curam, bila terjadi landai sampai curam, bila terjadi longsor bergerak dengan kecepatan longsor bergerak dengan kecepatan rendah, sangat rawan terhadap erosi. rendah, sangat rawan terhadap erosi.

Kuning Muda Kuning Muda

(5)

80 - 160 (15 - 30 %)

Lahan memiliki kemiringan lereng yang curam, rawan terhadap bahaya

longsor, erosi permukaan dan erosi alur.

Kuning Tua

160 - 350 (30 - 70 %)

Lahan memiliki kemiringan lereng yang curam sampai terjal, sering

terjadi erosi dan gerakan tanah dengan kecepatan yang perlahan

-lahan. Daerah rawan erosi dan longsor

Merah Muda

350 - 550 (70 - 140 %)

Lahan memiliki kemiringan lereng yang terjal, sering ditemukan singkapan batuan, rawan terhadap

erosi.

Merah Tua

> 550 ( > 140% )

Lahan memiliki kemiringan lereng yang terjal, singkapan batuan muncul

di permukaan, rawan tergadap longsor batuan.

Ungu Tua

3. Tata nama satuan geomorfologi  Morfografi

Morfografi secara garis besar memiliki arti gambaran bentuk permukaan bumi atau arsitektur permukaan  bumi. Secara garis besar morfografi dapat dibedakan menjadi bentuklahan perbukitan/punggungan,  pegunungan, atau gunungapi, lembah dan dataran. Beberapa pendekatan lain untuk pemetaan geomorfologi

selain morfografi adalah pola punggungan, pola pe - ngaliran dan bentuk lereng  Morfometri

Morfometri merupakan penilaian kuantitatif dari suatu bentuklahan dan merupakan unsur geomorfologi  pendukung yang sangat berarti terhadap morfografi dan morfogenetik. Penilaian kuantitatif terhadap  bentuklahan memberikan penajaman tata nama bentuklahan dan akan sangat membantu terhadap analisis lahan untuk tujuan tertentu, seperti tingkat erosi, kestabilan lereng dan menentukan nilai dari kemiringan lereng tersebut.

 Morfogenetik

Morfogenetik adalah proses / asal - usul terbentuknya permukaan bumi, seperti bentuklahan perbukitan /  pegunungan, bentuklahan lembah atau bentuklahan pedataran. Proses yang berkembang terhadap  pembentukkan permukaan bumi tersebut yaitu proseseksogen dan proses endogen

Penentuan tata nama satuan harus memiliki kesamaan unsusr - unsur geomorfologi yaiitu kesamaan gambaran bentuk (morfografi), seperti perbukitan, pegunungan atau pedatara dan asal - usul / proses (morfogenetik) terjadinya suatu bentuk seperti proses asal fluvial, marin, denudasional, aeolian, karst, glasial / preglasial (proses eksogen), struktural dan vulkanik (proses endogen), sedangkan unsur - unsur lain, seperti morfometri dan material  penyusun merupakan unsur penegasan dari pernyataan unsur morfografi dan morfogenetik, sehingga penamaan

(6)

satuan bentuklahan geomorfologi terdiri dari gambaran bentuk(morfografi) dan asal - usul / proses terjadinya bentuk (morfogenetik).

Contoh tata cara penamaan satuan geomorfologi adalah sebagai berikut : Satuan bentuklahan PERBUKITAN STRUKTURAL

Pernyataan PERBUKITAN mencerminkan gambaran bentuk (morfografi) dan STRUKTURAL menyatakan  proses terbentuknya perbukitan tersebut. Sebagai pelengkap agar tata nama satuan tersebut lebih rinci dan dapat dipetakan, maka unsur morfogenetik dapat diuraikan menjadi struktur perlipatan, sesar atau kekar. Unsur - unsur  pendukung seperti morfometri dan material penyusun diperlukan untuk lebih menegaskan panamaan satuan tersebut,

seperti pola alir

4. Pola pengaliran sungai dan karakteristiknya

Pola pengaliran adalah kumpulan dari suatu jaringan pengaliran di suatu daerah yang dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh curah hujan, alur pengaliran tetap mengalir. Biasanya pola pengaliran yang demikian disebut sebagai  pola pengaliran permanen (tetap). Howard (1967) membedakan pola pengaliran menjadi pola pengaliran dasar dan  pola pengaliran modifikasi

Pola pengaliran dasar adalah Pola pengaliran yang memiliki satu sifat yang terbaca (khas) dan

dapat dipisahkan dari pola dasar lainnya.

Pola pengaliran modifikasi adalah salah satu perbedaan/pengembangan yang dibuat dari pola

dasar setempat.

Pola pengaliran dan karakteristiknya (van Zuidam, 1985)

POLA PENGALIRAN DASAR 

KARAKTERISTIK 

DENDRITIK

Perlapisan batuan sedimen relatif datar atau paket  batuan kristalin yang tidak seragam dan memiliki

ketahanan terhadap pelapukan. Secara regional daerah aliran memiliki kemiringan landai, jenis pola  pengaliran membentuk percabangan menyebar

(7)

PARALEL

Pada umumnya menunjukkan daerah yang  berlereng sedang sampai agak curam dan dapat ditemukan pula pada daerah bentuklahan perbukitan yang memanjang. Sering terjadi pola peralihan antara pola dendritik dengan pola paralel atau tralis. Bentuklahan perbukitan yang memanjang dengan  pola pengaliran paralel mencerminkan perbukitan

tersebut dipengaruhi oleh perlipatan.

TRALLIS Baruan sedimen yang memiliki kemiringan  perlapisan (dip) atau terlipat, batuan vulkanik atau  batuan metasedimen derajat rendah dengan  perbedaan pelapukan yang jelas. Jenis pola  pengaliran biasanya berhadapan pada sisi sepanjang

aliran subsekuen.

REKTANGULAR  Kekar dan / atau sesar yang memiliki sudut kemiringan, tidak memiliki perulangan lapisan  batuan dan sering memperlihatkan pola pengaliran

yang tidak menerus.

RADIAL

Daerah vulkanik, kerucut (kubah) intrusi dan sisa -sisa erosi. Pola pengaliran radial pada daerah vulkanik disebut sebagai pola pengaliran multi radial.

Catatan : pola pengaliran radial memiliki dua sistem yaitu sistem sentrifugal (menyebar ke luar dari titik  pusat), berarti bahwa daerah tersebut berbentuk kubah atau kerucut, sedangkan sistem sentripetal (menyebar kearah titik pusat) memiliki arti bahwa daerah tersebut berbentuk cekungan.

ANULAR  Struktur kubah / kerucut, cekungan dan kemungkinan retas (stocks)

MULTIBASINAL Endapan berupa gumuk hasil longsoran dengan  perbedaan penggerusan atau perataan batuan dasar, merupakan daerah gerakan tanah, vulkanisme,  pelarutan gamping dan lelehan salju (permafrost)

(8)

POLA PENGALIRAN MODIFIKASI

KARAKTERISTIK 

SUB DENDRITIK  Umumnya struktural

PINNATE Tekstur batuan halus dan mudah tererosi

ANASTOMATIK  Dataran banjir, delta atau rawa

MENGANYAM

(DIKHOTOMIK) Kipas aluvium dan delta

SUB PARALEL Lereng memanjang atau dikontrol oleh bentuklahan  perbukitan memanjang.

KOLINIER  Kelurusan bentuklahan bermaterial halus dan beting  pasir.

SUB TRALLIS Bentuklahan memanjang dan sejajar 

DIREKSIONAL TRALLIS

Homoklin landai seperti beting gisik 

TRALLIS BERBELOK  Perlipatan memanjang.

TRALLIS SESAR  Percabangan menyatu atau berpencar , sesar paralel

ANGULATE Kekar dan / atau sesar pada daerah miring

(9)
(10)

SEDIMENTOLOGI

I. Catatan Lapangan yang Baik

Catatan lapangan harus dijaga dengan rapi dan tersusun dengan baik. Bagian lokasi yang diperiksa harus

diberikan secara tepat, dan menarik dengan grid referensi dan untuk sketsa peta juga agar bisa tetap terjaga

sampai waktu mendatang. Informasi stratigrafi yang sesuai harus dimasukkan lalu hal-hal seperti cuaca atau

hal yang mencirikan tempat tersebut agar menarik saat dibaca.

Catatan lapangan harus :

1. aktual,

2. mengambarkan dan mengukur ukuran, bentuk dan hal penting yang akan dibahas.

Batuan yang mengalami pelipatan atau rekahan data strukturalnya juga dicatat. Hal yang sangat

diperhatikan:

1. Mineralisasi

2. retakan pada batuan, dan

3. strukturnya utamanya.

4. Sketsa harus rapi dan akurat lengkap dengan skalanya.

5. Subjek foto dan lokasi harus dicatat. Saat pengambilan photo skala jangan lupa untuk dimasukkan.

Salah satu aspek sedimen yang tidak dapat direkam secara memadai pada grafik log adalah lapisan geometri

atau unit batuan secara keseluruhan. Sketsa, foto dan deskripsi harus dibuat dalam bentuk dan perubahan

lateral ketebalan dari lapisan.

Poin utama yang harus ada pada buku catatan lapangan :

1.

Detail lokasi : lokasi, nomor lkasi, grid reference, tanggal dan waktu, cuaca, stratigarfi horizon dan

umur dari unit batuan, obervasi struktur (dip,strike,cleavage,dll)

2. Litologi/mineralogi dan texture : Identifikasi dan deskripsi/pengukuran

3. Struktur sedimen : deskripsi/pengukuran dan pembuatan sketsa/mengambil foto

4. Pengukuran paleocurrent : plot rose diagram

5. Fossil : identifikasi dan obervasi

6. Kontruksi grafik log jika sesuai dan sketsa hubung an lateral

7. Catatan lokasi pengambilan sampel dan fossil

8. Identifikasi kehadiran facies : asosiasi fasies dan pengulangan

9. Penentuan atau pengukuran unit batuan dan beberapa siklus dalam suksesi

10. Membuat interpretasi dan catatan untuk kerja kedepannya (contoh analisis di laboratorium)

II. Data yang Perlu Dicari di Lapangan 2.1 Litologi

Litologi batuan sedimen secara garis besar dibagi menjadi batuan sedimen klastik dan batuan ssedimen

nonklastik, namun pada modul ini hanya akan membahas litologi batuan sedimen klastik berhubung litologi

ini sering ditemukan di lapangan.

 Konglomerat dan Breksi

Konglomerat atau breksi merupakan batuan sedimen yang mana memiliki ukuran butir komponen

 gravel,

yang membedakan antar keduanya adalah konglomerat memiliki butir komponen yang cenderung

membundar sedangkan breksi cenderung menyudut. Sifat utama yang paling penting dalam mendeskripsi

 batuan sedimen jenis ini yaitu mendeskripsikan tipe klastik (komponen dan matriks) dan tekstur. Dasar dari

asal muasal klastik pada litologi ini dapat terlihat apakah kon glomerat dan breksi ini bertipe intraformational

atau extraformational.

 Intraformational clasts

 merupakan kerikil-kerikil yang terbawa dari dalam endapan

suatu cekungan dan fragmen-fragmen mudrock/lime mudstone berasal dari erossi pada dasar laut atau river

(11)

channel. Sedangkan

extraformational clasts merupakan berasal dari endapan suatu ccekungan dan lebih tua

daripada sedimen yang tersedia.

Variasi klastik konglomerat dibagi menjadi:

 Polymitic conglomerate, terdiri dari beberapa jenis tipe klastik

Oligomitic/monomic conglomerate, terdiri dari satu tipe klastik

Sifat alamiah

extraformational clasts  dapat digunakan untuk mendapatkan informasi terkait provenance

dari suatu endapan. Hal penting yang perlu diingat dalam menginterpretasi suatu mekanisme endapan

kerikil-bongkah pada batuan sedimen adalah tekstur. Konglomerat matrix-supported dan clasts supported

harus bisa dibedakan. Bentuk, ukuran, dan orientasi komponennya harus diukur serta ketebalan dan

geometri perlapisannya.

 Batupasir

Batupasir terdiri dari 5 komponen dasar: fragmen litik, butir kuarsa, butir feldspar, matriks dan semen.

Matriks pada batupasir umumnya terdiri dari mineral lempung dan lanau kuarsa, dan biasanya terendapkan

 berbarengan butir sedimen. Semen terpresipitasi antar butir dan dapat juga terbentuk saat proses diagenesis.

Komposisi dari batupasir dapat merefleksikan geologi dan iklim dari area sumbernya. Beberapa butir

sedimen dan mineral lebih stabil daripada butir lainnya secara mekanik dan kimia. Jika diurutkan dari yang

 paling kuat sampai yang paling rentan:

1. Kuarsa

2. Muskovit

3. Mikroklin

4. Ortoklas

5. Plagioklas

6. Hornblend

7. Biotit

8. Piroksen

9. Olivin

Dari urutan di atas dapat dikatakan bahwa batupasir yang

immature terdiri dari mineral yang lebih rentan

yang lebih banyak (rock fragment, feldspar, dan mineral mafik); batupasir mature terdiri dari kuarsa,

feldspar, dan beberapa rock fragmen; batupasir

 supermature  terdiri hanya dari kuarsa. Yang mana

menunjukkan bahwa batupasir

immature

merupakan batupasir yang terendapkan dekat dengan sumbernya

sedangkan batupasir

 supermature  merupakan batupasir yang sudah mengalami proses sedimentasi yang

sangat jauh dan beberapa kali siklus sedimentasi sehingga tersisa hanya butir yang resisten saja yaitu kuarsa.

Penamaan batupasir pada umumnya menggunakan dua klasifikasi, yaitu berdasarkan ukuran butir

(Wentworth, 1922) dan komposisi batuan (Pettijohn, 1975). Wentworth membagi batupasir menjadi

 batupasir sangat kasar, kasar, sedang, halus, dan sangat halus (untuk detail ukuran akan terlampir di bagian

 berikutnya) sedangkan pettijohn membagi batupasir sesuai komponen batusedimen dan kandungan mud

 pada batupasir, yaitu: (1) arenite (0-15%), (2)wacke/greywacke (15-75%), dan (3) mudrock (>75%)

 Mudrock 

Mudrock merupakan terminology untuk batusedimen yang berukuran lanau sampai lempung. Umumnya

di lapangan mudrock sulit untuk dideskripsi karena butir sedimennya yang sangat halus. Batulanau dapat

diidentifikasi di lapangan apabila terkena air ada sensasi seperti berbutir ketika digesek oleh tangan.

Sedangkan lempung akan terasa seperti licin dan tampak larut dengan air. Dalam pendeskripsian mudrock

tidak boleh mengisi poin tekstur karena walaupun menggunakan lup kita tidak dapat menentukan bentuk,

kemas, dan sortasinya karena butirannya sangat kecil sehingga tidak terlihat.

Mudrock dapat terendapkan di lingkungan mana saja, khususnya river floodplain, danau, low-energy

shoreline, lagoon, dan delta. Di lapangan, apabila mudrock yang ada sudah dipastikan, dapat dideskripsikan

dengan penggunaan satu atau dua sifat yang berhubungan dengan sifat tertentu. Sifat yang perlu

diperhatikan adalah warna, fissility, struktur sedimen dan mineral, atau konten fosil

(12)

2.2 Tekstur

Tekstur sedimen menaruh perhatian besar pada ukuran butir dan distribusinya, morfologi dan fitur butiran

di permukaan, dan fabric dari sedimen itu sendiri. Tekstur adalah aspek yang penting dalam deskripsi batuan

sedimen dan dapat berguna untuk menginterpretasi mekanisme dan lungkungan pengendapan, juga

memengaruhi kontrol besar pada porositas dan permeabilitas.

Ukuran butir dan pemilahan

Ukuran Butir Batuan Sedimen (Wentworth, 1922)

Klasifikasi Pemilahan di Batuan Sedimen

Mekanisme yang menyebabkan pemilahan

Morfologi butiran

Morfologi dari butiran mempunyai tiga aspek:

 shape,

 sphericity,

dan

roundness. Perbedaan dari

ketiganya adalah:

(13)

-

Sphericity adalah ukuran seberapa dekat bentuk butir pada kebundarannya

-

 Roundness berfokus pada kurvatur dari butiran

 Fabric

Fabrik sedimen menekankan tiga dimensi komponen pada batuan. Fabrik primer adalah yang

terbentuk saat sedimentasi berlangsung, dan sekunder merefleksikan jejak dari

 post-depositionall

 processes. Fabrik dapat berguna dalam mendeterminasi proses pengendapan. Fabrik yang umum

 pada gravel 

 dan konglomerat adalah

imbrikasi.

Hal ini dapat digunakan dalam penentuan analisis

 paleocurrent 

 berdasarkan arah arus pengendapan.

Terdapat dua jenis fabric: grain supported 

 dan

matrix supported 

.

2.3 Geometri dan Hubungan antar Batuan

1. Geometri batuan :

geometri batuan merupakan gambaran bentukan batuan sedimen secara vertical maupun lateral.

namun, jika kita melihat pada outcrop, maka penampang vertical akan lebih mudah dipahami.

sedangkan pada peta kita dapat melihat secara lateral. geometri batuan sebaiknya di pahami

secara 3 dimensi. namun, perlu adanya korelasi dari beberapa titik pengamatan untuk

memahaminya. bentuk geometri batuan yang mungkin di temukan di lapangan secara vertical :

-

tabular : jika memiliki ukuran yang meluas dan memanjang

(14)

-

lenticular : bentuknya individual ataupun banyak seperti lengkungan.

geometri batuan dapat diamati dalam skala unit bed, anggota maupun formasi sebagai cakupan

lebih luas. karena itu, cakupan untuk geometri batuan berhubungan dengan stratigrafi baik

vertical maupun horizontal.

geometri batuan di lapangan dapat dilihat pada pengukuran strike/dip batuan sehingga

tergambarkan penyebaran dan pola pengendapannya bahkan berkaitan dengan struktur.

 bentukan ini dapat menggambarkan kondisi proses sedimentasi dan pengendapan.

2. Hubungan unit batuan

mengacu pada hukum stratigrafi baik konvensional maupun modern. konvensional diantaranya

:

-

hukum steno:

^ superposition : batuan yang terendapkan dibawah relatif lebih tua dari diatasnya

^ original horizontality : pengendapan terjadi secara horizontal akibat adanya gaya gravitasi

^ lateral continuity : penyebaran pengendapan secara lateral pada suatu lingkungan pengendapan

-

tambahan Charles Lyell

^ cross cutting : tubuh batuan yang menerobos batuan lain relatif lebih muda.

-

tambahan William smith

^ suksesi fauna: adanya fauna yang terfosilkan menjadi penciri suatu tubuh batuan.

-

ketidakselarasan dan keselarasan. keselarasan berarti pengendapan atas dan bawah lapian saling

 berhubungan.

^ angular conformity : adanya kontak bersudut dengan batuan yang lebih muda.

(15)

^ disconformity : adanya kontak erosional diakibatkan tidak adanya influx sedimen atau proses

 pengendapan.

hukum modern mengacu pada sikuen stratigrafi dengan beberapa perbedaan dari konvensional.

hubungan unit batuan dapat dijadikan menjadi suatu

 fasies jika memiliki karakteristik

tertentu yang nantinya dapat mencirikan suatu lingkungan pengendapan.

untuk menentukan hubungan batuan secara vertical maupun horizontal, harus ditentukan terlebih

dahulu pembagian unit batuan. pembagian ini juga berdasarkan sudut pandang dan tujuan

 peneliti. apakah dari sudut pandang struktur sedimen, kandungan kimia, geometri ataupun fosil

yang dikandungnya.

geometri dan hubungan antar batuan menjadi dasar pada cakupan pemahaman g eologi lebih luas.

nantinya, hasil pemahaman pada sub-bab ini akan berujung pada lingkungan pengendapan dan

statigrafi dan hasilnya berupa peta geologi.

2.4 Warna Batuan Sedimen

Warna batuan dapat digunakan untuk indicator lingkungan pengendapan dan iklim saat pembentukannya.

warna batuan mencirikan kandungan mineral di dalamnya yang dipengaruhi oleh keberadaan oksigen saat

 pengendapannya.

-

umumnya material utama pemberi warna batuan sedimen : organic matter, iron dan oksigen. iron

dan oksigen terdapat dalam batuan saat air melarutkan kedua unsur dan mengisi rongga dalam

 batuan.

(16)

hitam- abu- abu

mengindikasikan pengendapan yang tidak memperoleh oksigen (anoxic) dan mengandung

material organic yang tinggi. mineral iron disini dapat bereaksi dengan mineral anoksik dan

membentuk mineral pirit. lingkungan umumnya adalah coastal marsh, lowland marsh bersuhu

temperate, swamp ataupun laut dalam.

hijau

mengindikasikan pengendapan mengandung sedikit oksigen yang memungkinkan terbentuknya

mineral glaukonit sebagai mineral alterasi pada lingkungan sedimen. glaukonit terbentuk saat

taka da suplai sedimen sehingga mineral glaukonit terbentuk pada lingkungan laut dangkal.

cokelat - kuning

warna ini terdapat beberapa kemungkinan seperti terbentuk akibat pelapukan pada perlapisan

yang tersingkap membentuk mineral pyrite atau siderite, pembentukan dari senyawa ferric oxide

yang menghasilkan mineral limonite atau goethite.

merah

mengindikasikan adanya suplai oksigen yang cukup saat pengendapan. mineral iron (3+)

 bereaksi dengan oksigen tersebut membentuk Fe

2

O

3

 (hematite). lingkungannya pada semi-arid

continental seperti desert, playa lakes dan sungai. lapisan batuan ini disebut red bed. namun,

 perlu catatan, terdapat endapan sedimen berwarna merah yang terbentuk didasar laut dalam

disebut rijang. ini dapat di lihat dari komposisi batuannya didomina si silika.

 biru muda

 jarang ditemui biasanya mengindikasikan batuan hidrat.

namun, perlu digaris bawahi, bahwa warna batuan sedimen tidak dapat digunakan seutuhnya sebagai

indicator lingkungan pengendapan. karena, warna tersebut dapat berupa hasil diagenesa yang mengubah

mineral atau penambahan mineral. indicator warna harus dikorelasikan dengan indicator lainnya untuk

dijadikan sebagai acuan kuat suatu lingkungan pengendapan. uj

III. Grafik Log

Suatu metode standar yang digunakan dalam pengumpulan data lapangan tentang sedimen atau batuan

sedimen yang direkonstruksikan lewat sebuah grafik log yang memperlihatkan data perlapisan batuan dan

memberikan gambaran visualisasi untuk nantinya dapat dilakukan korelasi dengan daerah yang berbeda.

Dalam grafik log ini akan dicantumkan data berupa ketebalan perlapisan, kontak antar perlapisan, litologi,

strike dip, tekstur dan struktur sedimen, juga hubungan dari perlapisan/perubahan suksesi secara vertikal

tersebut seperti fining upward 

,

coarsening upward 

 dll. Grafik log dibuat dalam milimeter blok dengan skala

tertentu dan harus sama dengan grafik log lainnya dalam suatu pengumpulan data. Data-data yang

dicantumkan dalam suatu grafik log menggunakan simbol agar lebih mudah untuk mengenali dan

menginterpretasikannya. Skala yang biasanya digunakan adalah 1:500

 – 

 1:1000.

(17)

Gambar contoh grafik log 1 (Tucker, 2003)

(18)

Kondisi pembuatan grafik log tergantung daripada singkapan yang ditemui. Syarat-syarat utamanya

adalah :

o

Singkapan memiliki ketebalan

 1-2m.

o

Terdapat perlapisan batuan sedimen (batupasir, batulempung, perselingan, dll).

o

Kondisi singkapan yang relatif segar, untuk deskripsi tekstur dan struktur.

o

Lakukan pembagian lapisan (bed number 

) agar lebih memudahkan pembuatan grafik log.

o

Deskripsi tekstur dan struktur dilakukan tiap perlapisan.

o

Jangan terpaku pada tabel pada kolom grafik log standar yang telah ada, catat dan ambil data-data

 penting semaksimal mungkin.

o

Usahakan grafik log yang dibuat merupakan hasil yang representatif dari data yang diambil di

lapangan.

o

Setelah didapatkan data dari lapangan dan telah dibuat di grafik log, buat interpretasi sementara

mengenai mekanisme transportasi dan lingkungan pengendapan.

Simbol-simbol yang biasa digunakan dalam pembuatan grafik log yaitu litologi, struktur sedimen

dan fosil (Tucker, 2003)

Data yang harus didapatkan dalam pembuatan grafik log antara lain adalah :

o

Bed or rock-unit thickness

  : Ketebalan perlapisan didapatkan dengan pengukuran menggunakan

 pita ukur, harus hati-hati jika terdapat dip yang tajam, karena ketebalan yang didapatkan adalah

ketebalan semu.

o

Lithology 

 : Jenis batuan apa yang ada di perlapisan tersebut.

o

Texture

 : Meliputi ukuran butir untuk batuan sedimen, sedangkan untuk batuan karbonat tambahkan

kolom baru, dengan nama lime mudstone (M), wackestone (W), packstone (P) dan grainstone (G),

 boundstones (B), rudstones (R) and floatstones (F).

(19)

o

 Sedimentary structures and bed contacts

 : Tuliskan struktur sedimen dengan simbol jika ada, untuk

kontak antar perlapisan ada tegas/tajam, berangsung dan gradasional.

o

Palaeocurrent directions :

Arah arus purba didapatkan dari struktur sedimen ternetu sebagai penciri,

contohnya flute cast. Jelaskan arahnya apakahn N-S, dll

o

F ossils and Colours : Tuliskan dengan simbol jika ada fosil pada suatu perlapisan batuannya, untuk

warna jelaskan warna segar dan lapuknya.

Lampiran

Lembar deskripsi batuan sedimen

1. Warna; Warna Lapuk:

Warna Segar:

2. Ukuran Butir:

3. Tekstur

Ukuran butir:

Bentuk butir:

Sortasi:

Kemas:

4. Kandungan Fosil: Ada/Tidak

5. Karbonatan: Ada/Tidak

6. Kekuatan: Keras/Kompak/Getas,

7. Komposisi batuan

Lithic fragment: …. %

Quarsa: …. %

Feldspar: ….%

Mineral lain: …. %

8.  Nama Batuan:

9. Gambar:

(20)

STRATIGRAFI

1. Strike dan dip

Strike atau Jurus adalah arah garis yang dibentuk dari perpotongan bidang planar dengan bidang

horizontal ditinjau dari arah utara.

Dip adalah derajat yang dibentuk antara bidang planar dan bidang horizontal yang arahnya tegak

lurus dari garis strike.

Strike Dip pada batuan umumnya muncul pada batuan hasil pengendapan (sedimen). Tapi juga

ditemukan pada batuan metamorf yang berstruktur foliasi. Penulisan strike dan dip hasil pengamatan ialah

:

 N (Derajat Strike) E/ (Derajat Dip) dan dibaca North to East (Nilai Strike) and (Nilai Dip)

Strike dip pada perlapisan batuan dapat diukur dengan menggunakan kompas Geologi. Kompas

Geologi mumpuni untuk mengukur strike dip karena memiliki klinometer juga bulls eye. Klinometer adalah

rangkaian alat yang berguna untuk mengukur kemiringan dan Bulls eye adalah tabung isi gelembung udara

 berguna untuk memposisikan kompas geologi agar menjadi horizontal.

2. Struktur Sedimen

(21)

Sedimentary structure are large scale features of sedimentary rocks such as parallel bedding, cross,

bedding, ripple, and mudcracks that are best studied in the field.

(Boggs, 1987)

Struktur sedimen dapat digunakan untuk penentuan interpretasi aspek lingkungan pengendapan sedimen,

mekanisme transportasi sedimen, arah arus purba (

 paleocurrent 

), dan kecepatan relatif arus. Beberapa

struktur sedimen juga dapat digunakan untuk penentuan

top/bottom  perlapisan dan urutan pengendapan

sikuen stratigrafi yang tidak terganggu oleh aktifitas tektonik.

Identifikasi Struktur Sedimen

Stratification and Bedforms

Planar bedding & lamination

Laminated Bedding

Graded Bedding

Massive Bedding / Structureless

Bedform

Ripple

Dunes

Antidunes

Cross Stratification

Cross-Bedding

Ripple Cross-Lamination

Flaser and Lenticular Bedding

Hummocky cross-stratification

Irregular Stratification

Convolute bedding and lamination

Flame Structure

Ball & Pillow

Syn-Sedimentary fault & fold

Dish & Pilar Structure

Channels

Scour and Fill Structure

Mottled Bedding

Stromatolite

Bedding-Plane Markings

Groove Cast ; Striations ; Bounce ; Brush ; Prod ; Roll Marks

Flute Cast

Parting Lineation

Load Cast

(22)

Mudcracks and syneresis cracks

Pits and small impressions

Rill and swash marks

Depositional Structures

Wave formed structures

Wind formed structures

Chemically and biochemically formed

structures

Erosional Structures

Scour marks

Tool marks

Deformation Structures

Slump structures

Load & fonder structures

Injection structures

Fluid-Escapes structures

Desication structures

Impact structures (raindrops, etc)

Biogenic Structures

Bioturbation structures

Biostratification structures

Other Structure

Sedimentary sill and dikes

Proses keterbentukan struktur sedimen

Menentukan posisi

top & bottom lapisan sedimen berdasarkan struktur sedimen

Struktur sedimen yang dapat digunakan sebagai penentu Top & Bottom suatu perlapisan adalah

Struktur sedimen pada bagian top bedding surface

1. Ripple Marks .Ripple marks merupakan struktur sedimen yang bisa muncul baik pada batuan

silisiclastic dan sedimen karbonat.Terbentuk karena air dan angin.Ripple marks berkembang

 pada material granular baik Undirectional Flow atau Oscilatory Flow ( wave action).Ripple

marks juga bisa dilihat dari sisi pada perlapisan

2. Raindrops imprint .merupakan struktur sedimen yang terbntuk karena bentuk cetakan yang

terjadi karena bekas cetakan air hujan

Struktur sedimen pada sisin perlapisan

1. Pararel and Cross Lamination

2. Graded bedding

(23)

Reverse Graded Bedding

Struktur sedimen bagian bottom

1. Load cast.Terjadi karena pembebanan sedimen sehinga timbul seperti cetakan.

2. Flute cast

Simbol-simbol struktur sedimen

3.Penampang

Stratigrafi

Terukur

PENGERTIAN

DASAR

Penampang

stratigrafi terukur

adalah

gambaran

dua dimensi secara

(24)

vertikal yang betujuan untuk mengetahui urutan stratigrafi, ketebalan setiap lapisan, hubungan stratigrafi

 beserta sejarah sedimentasi nya. Lebih detailnya penampan g stratigrafi terukur mampu memerikan lapisan

 batuan secara lengkap dan sistematis serta menafsirkan lingkungan pengendapan nya.

Pengukuran stratigrafi terukur dapat dilakukan sesaat atau setelah pemetaan geologi, hal ini

dilakukan karena, kita terlebih dahulu harus menentukan pilihan yang baik didaerah yang sedang dipetakan

untuk mendapatkan penampang singkapan batuan yang menerus. Kendala yang kerap kali dijumpai pada

saat melakukan pengukuran stratigrafi yaitu daerah dengan kemiringan yang curam, singkap an batuan yang

tertutup oleh vegetasi atau singkapan batuan yang terendam oleh aliran sungai, dan lain sebagainya.

Alat

 – 

  alat penting yang harus dibawa saat melakukan pengukuran penampang stratigrafi terukur

diantaranya :

a.  pita ukur

 b. kompas

c.  palu geologi (batuan beku/sedimen)

d. loupe

e. komparator (beku/sedimen)

f. HCL

g. GPS

h. Alat tulis

Syarat melakukan penampang stratigrafi terukur diantaranya :

a. Diusahakan mencari singkapan yang berada di sepanjang sungai

 b. Diusahakan tegak lurus terhadap

 strike

c. Terjadi perubahan litologi batuan

d. Tidak tertutup oleh vegetasi dan singkapan dalam kondisi baik

e. Tidak berada pada kemiringan yang curam

f. Tidak didoominasi oleh endapan alluvial

MANFAAT PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

Mengukur suatu penampang stratigrafi dari singkapan mempunyai arti penting dalam penelitian geologi.

Manfaat yang dapat diketahui setelah melakukan pengukuran penampang stratigrafi terukur yaitu sebagai

 berikut :

1. Mendapatkan data litologi terperinci dari urut-urutan perlapisan suatu satuan stratigrafi

2. Mengetahui ketebalan yang teliti dari tiap-tiap satuan stratigrafi.

3. Untuk mendapatkan dan mempelajari hubungan stratigrafi antar satuan batuan dan urut-urutan

sedimentasi dalam arah vertikal secara detil, untuk menafsirkan lingkungan pengendapan.

(25)

METODE PENGUKURAN PENAMPANG STRATIGRAFI SERTA MENGHITUNG

KETEBALAN SUATU LAPISAN

Pengukuran hendaknya dilaksanakan dengan menggunakan metoda-metoda yang dapat

dilaksanakan dengan cepat, namun akurat. Variasi lateral dari setiap satuan hendaknya dicatat sedemikian

rupa sehingga penyebaran dari setiap satuan di daerah penelitian dapat diketahui; pengetahuan kita tidak

hanya terbatas pada penampang yang merupakan produk pengukuran pada suatu lembah atau lereng.

Lapisan-lapisan batuan sedimen dan banyak tipe satuan geologi lain pada dasarnya berbentuk lentikuler.

Karena itu, setiap kegiatan pengukuran penampang stratigrafi hendakn ya dilakukan dalam tingkat ketelitian

yang cukup tinggi sedemikian rupa sehingga dapat mengantisipasi perubahan-perubahan dimensi dan

karakter setiap satuan yang ada.

Pada umumnya, terdapat dua metode dalam melakukan pengukuran penampang stratigrafi terukur,

diantaranya

sebagai berikut :

1) Metode Jacob Staf

Metode Jacob Staff adalah metode yang digunakan untuk megukur ketebalan suatu lapisan batuan

yang menggunakan alat yang bernama tongkat jacob yaitu tongkat yang panjangnya 150 cm, diberi tanda

atau grid yang panjangnya 10cm berwarna hitam putih atau merah putih untuk memudahkan perhitungan

tebal lapisan tersebut dan pada ujung tongkat terdapat busur derajat untuk men yesuaikan kemiringan lapisan

 batuan. Salah satu ujung tongkat dibuat agak runcing agar mudah dalam menancapkan ke tanah, d an ujung

yang lain untuk menempatkan clinometers.

Metode ini lebih praktis dan cepat dalam pengolahan datanya dikarenakan langsung dapat

mengetahui tebal sebenarnya. Tetapi tidah semua bidang perlapisan bisa diukur dengan metode ini, karena

diperlukan singkapan yang ideal.

(26)

Prosedur pengukuran

Prosedur pengukuran dengan menggunakan metode Jacob Staff adalahsebagai berikut :

1.Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan, yaitu : kompas, palu, clipboard,Jacob staff dan alat

tulis.

2.Mengidentifikasikan lokasi dengan cara membuat deskripsi lokasi

3.Mengidentifikasi litologi dengan cara mendeskripsikan batuan

4.Ukur stikr/dip bidang perlapisan menggunakan kompas dan catat hasil pengukuran tersebut

5.Tancapkan Jacob staff, kemudian miringkan tongkat tersebut sesuai denganarah dan kemiringan

 bidang perlapisan dengan melihat busur derajat yang adadi kepala Jacob staff

6.Hitung ketebalan perlapisan dengan menggunakan grid pada bagian bawah busur derajat, setiap

grid berukuran 10 cm

7. Catat dan simpan hasil pengukuran.

2) Metode Rentang Tali

Metode rentang tali adalah metode yang lakukan untuk mengukur ketebalan sebenarnya suatu

 bidang perlapisan dengan cara merentangkan tali yang sudah di beri tanda atau grid setiap 10 cm atau 1

meter, kemudian direntangkan pada singkapan batuan dan sebelumnya diukur dip dan slope bidang

singkapan tersebut.

Selanjutnya dalam pengolahan data lapangan menggunakan metodematematis dengan rumus.

Metode ini lebih akurat dibandingkan dengan MetodeJacob Staff. Ada beberapa rumus yang digunakan

dalam pengukuranmenggunakan metode rentang tali, yaitu :

Pada daerah datar

Pengukuran pada daerah datar, apabila jarak terukur adalah jarak tegak lurus jurus, ketebalan

langsung di dapat dengan menggunakan rumus : T = d sin ∂ (dimana d adalah jarak terukur di lapangan dan

∂ adalah sudut kemiringan lapisan). Apabila pengukuran tidak tegak lurus jurus, maka jarak terukur harus

dikoreksi seperti pada cara diatas.

T = Sin α dip x LS

(27)

Terdapat beberapa kemungkinan posisi lapisan terhadap lereng seperti diperlihatkan pada gambar 2

dan gambar 3. (Catatan: sudut lereng (s) dan kemiringan lapisan (∂) adalah pada

keadaan yang tegak lurus

dengan jurus atau disebut “true dip” dan “true slope” ).

Kemiringan lapisan searah dengan lereng.

Bila kemiringan lapisan (∂ ) lebih besar daripada sudut lereng (s) dan arah lintasan tegak lurus jurus,

maka perhitungan ketebalan adalah :

T = d sin (∂

- s )

Bila kemiringan lapisan lebih kecil daripada sudut lereng dan arah lintasan tegak lurus jurus, maka

 perhitungan ketebalan adalah : T = d sin (s -

∂ )

Kemiringan lapisan berlawanan arah dengan lereng

Bila kemiringan lapisan membentuk sudut lancip terhadap lereng dan arah lintasan tegak lurus jurus

maka : T = d sin ( ∂ + s )

Apabila jumlah sudut lereng dan sudut kemiringan lapisan adalah 900 (lereng berpotongan tegak

lurus dengan lapisan) dan arah lintasan tegak lurus jurus maka: T = d

(28)

Bila kemiringan lapisan membentuk sudut tumpul terhadap lereng dan arah lintasan tegak lurus

 jurus, maka : T = d sin (1800 -

- s)

C. Kemiringan lapisan mendatar

Bila lapisannya relatif mendatar,dengan kemiringan lereng yang sudah diketahui dan di ukur. Maka

dapat menggunakan rumus : T = d sin (s)

Lapisan batuan tegak

Bila lapisannya relatif tegak,dengan kemiringan lereng yang sudah diketahui dan di ukur. Maka

dapat menggunakan rumus : T = d sin (90o - s)

PROFIL LINTASAN DAN KOLOM STRATIGRAFI

Dalam penelitian geologi, pengamatan stratigrafi disepanjang lintasan yang dilalui perlu dibuat, baik

dengan cara menggambarnya dalam bentuk sketsa profil lintasan ataupun melalui pengukuran stratigrafi.

(29)

Adapun tujuan dari pembuatan profil lintasan adalah untuk mengetahui dengan cepat hubungan antar batuan

/ satuan batuan secara vertikal.

(30)

Kolom stratigrafi adalah kolom yang menggambarkan susunan berbagai jenis batuan serta

hubungan antar batuan menurut usia geologinya, ketebalan setiap satuan batuan, serta genesa pembentukan

 batuan. Penampang kolom stratigrafi umumnya tersusun dari kolom-kolom denganatribut umur, formasi,

satuan batuan, ketebalan, besar-butir, simbol litologi, deskripsi%pemerian,fosil dianostik, dan lingkungan

 pengendapan.

Kolom stratigrafi yang di peroleh dari jalur yang diukur dijadikan dasar untuk beberapa dasar

sebagai berikut :

Penentuan batas secara tepat dari satuan-satuan stratigrafi formal maupun informal, perludiketahui

dalam peta dasar yang dipakai terpetakan atau tidak, sehingga akan meningkatkanketepatan dari

 pemetaan geologi.

Penafsiran lingkungan pengendapan satuan.

Sarana korelasi dengan kolom-kolom yang diukur di jalur yang lain.

Pembuatan penampang atau profil stratigrafi (stratigraphic section) untuk wilayah tersebut.

Evaluasi lateral (spatial = ruang) dan vertical (temporal = waktu), dari seluruh satuan batuansebagai

 berikut :

1. lapisan batu pasir potensial sebagai reservoir

2. lapisan batubara

3. lapisan kaya fosild.3apisan bentonik

4. PEMBAGIAN SATUAN BATUAN

PENGERTIAN DASAR

Fasies adalah aspek fisika, kimia atau biologi suatu endapan dalam kesamaan waktu. Dua tubuh

 batuan yang diendapkan pada waktu yang sama dikatakan berbeda fasies, kalau kedua batuan tersebut

 berbeda ciri fisik, kimia atau biologinya.

Fasies dapat didasari kesamaan:

1. litologi (litofasies)

2. kandungan organisme (biofasies)

3. lingkungan pengendapan (fasies darat, fasies delta)

(31)

1) Aspek persamaan waktu dalam pembentukannya

2) Aspek perbedaan atau perubahan litologi secara lateral (litofacies).

3) Aspek perbedaan atau perubahan kandungan fauna secara lateral (biofacies).

LITOSTRATIGRAFI

Litostratigrafi merupakan studi stratigrafi yang memfokuskan kepada jenis

 – 

  jenis litologi yang

diamati di lapangan. Hal ini bertujuan untuk mengelompokkan jenis litologi yang berbeda secara bersistem.

Pada satuan litostratigrafi penentuan satuannya berdasarkan karakteristik litologi dan hubungan

stratigrafinya. Litologi yang diamati ketika melakukan observasi di lapangan meliputi jenis batuan,

kombinasi antar batuan (unconformity, superposisi, crosscutting), kenampakan fisik batuan seperti warna,

mineral, komposisi, dan ukuran butir, struktur geologi, dan gejala lain pada tubuh batuan.. Penentuan batas

 penyebarannya tidak terlangsung atas batas waktu. Jika ciri di atas belum memuaskan, maka akan digunakan

data geokimia, geofisika dll. Prinsip superposisi dan letak fosil yang ditemukan merupakan salah satu

komponen batuan.

Pemerian batuan didasarkan pada sifat-fisik, terutama dari kenampakan

hand specimen  dan

singkapan. Termasuk sifat fisik ini adalah jenis batuan, warna, mineral, komposisi, dan besar butir. Suatu

tubuh batuan atau kumpulan batuan, yang mempunyai ciri khas yang dapat membedakan dengan satuan lain

disekitarnya, disebut satuan batuan. Dengan demikian satuan batuan ini dap at berupa batuan sedimen, beku,

malihan datu batuan hasil aktivitas gunungapi.

Satuan stratigrafi umumnya mengikuti hukum superposisi, dalam keadaan normal batuan yang tua

akan terletak di bawah sedang batuan muda terletak di atas. Batasan dari suatu satuan batuan diperikan

 berdasarkan ciri batuan yang ada pada penampang tipe atau

 stratotype. Penampang tipe ini dapat berupa

singkapan di alam, galian, penambangan, atau lubang bor.

Penamaan satuan dapat secara resmi (formal) dan tidak resmi (informal). Penamaan resmi adalah

 penamaan yang mengikiti kaidah yang ada pada sandi stratigrafi, sedangkan yang tidak resmi tentu saja

yang tidak mengikuti hal tersebut.

Hierarki litostratigrafi resmi memiliki tingkatan satuan dari kecil ke besar, yaitu:

1. Lapisan (

 Bed 

) merupakan bagian dari anggota. Lapisan adalah satuan terkecil dari litostratigrafi dari

 batuan sedimen. Dalam penamaan resmi dari litostratigrafi, lapisan biasanya didasarkan pada ciri

yang khas yang membedakan dengan lapisan lain disekitarnya.

2. Anggota (

 Member 

)adalah bagian dari suatu formasi. Tingkat penyebarannya tidak melebihi

 penyebaran formasi.

(32)

3. Formasi (

 Formation) adalah satuan dasar dalam pembagian satuan litostratigrafi yang secara litologi

dapat dibedakan dengan jelas dan dengan skala yang cukup luas cakupannya untuk dipetakan

dipermukaan atau ditelusuri dibawah permukaan. Formasi dapat terdiri dari satu litologi atau

 beberapa litologi yang berbeda, dengan ketebalan antara satu hingga ribuan meter.

4. Kelompok (Group) adalah satuan litostratigrafi yang terdiri dari dua formasi atau lebih yang

memiliki keseragaman ciri litologi.

5. Kelompok besar (Supergroup) adalah kombinasi dari beberapa kelompok.

Litostratigrafi berguna untuk menentukan korelasi atau hubungan stratigrafi antara satuan di atas dengan

satuan di bawahnya, dan dengan satuan litologi lainnya.

BATAS SATUAN STRATIGRAFI

Batas Satuan Stratigrafi ditentukan sesuai dengan batas pen yebaran ciri satuan tersebut sebagaimana

didefinisikan. Batas Satuan Stratigrafi jenis tertentu tidak harus berhimpit dengan batas Satuan Stratigrafi

 jenis lain, bahkan dapat memotong satu sama lain.

BATAS DAN PENYEBARAN SATUAN

1) Batas satuan litostratigrafi ialah sentuhan antara dua satuan yang berlainan ciri litologi, yang

dijadikan dasar pembeda kedua satuan tersebut.

2) Batas satuan ditempatkan pada bidang yang nyata, batasnya merupakan bidang yang diperkirakan

kedudukannya (batas arbitrer).

3) Satuan-satuan yang berangsur berubah atau menjari-jemari, peralihannya dapat dipisahkan sebagai

satuan teresendiri apabila memenuhi persyaratan Sandi.

4) Penyebaran suatu satuan litostratigrafi semata-mata ditentukan oleh kelanjutan ciri-ciri litologi yang

menjadi ciri penentunya.

5) Dari segi praktis, penyebaran suatu satuan litostratigrafi dibatasi oleh batas cekungan pengendapan

atau aspek geologi lain.

6) Batas-batas daerah hukum (geografi) tidak boleh dipergunakan sebagai alasan berakhirnya

 penyebaran lateral (pelamparan) suatu satuan.

7) Batas antar Satuan Litodemik berupa sentuhan antara dua satuan yang berbeda ciri litologinya,

dimana kontak tersebut dapat bersifat extrusi, intrusi, metamorfosa, tektonik atau kontak berangsur.

Penjelasan : Batas satuan litostratigrafi tidak perlu berimpit dengan batas satuan stratigrafi lainnya

(misalnya batas satuan waktu).

Penjelasan : Batuan kontak antara dua Satuan Litodemik yang berangsur/bergradasi, dimana ciri litologinya

cukup berbeda dan memenuhi persyaratan Sandi dapat dikelompokkan menjadi satuan tersendiri.

(33)

5. KORELASI STRATIGRAFI

Jenis

 – 

 Jenis Korelasi

Korelasi adalah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan satuan-satuan

stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996). Korelasi

merupakan usaha untuk menunjukkan bahwa dua tubuh batuan diendapkan pada rentang waktu yang sama

(Dunbar & Rodgers, 1957; Rodgers, 1959). Korelasi secara luas sehingga mencakup semua usaha untuk

memperlihatkan kesebandingan litologi, paleontologi, atau kronologi (Krumbein & Sloss, 1963).

Perbedaan antara konsep matching dengan konsep korelasi.

Matching

  didefinisikan secara

sederhana sebagai korespondensi serangkaian data dengan tidak merujuk pada satuan stratigrafi

(Schwarzacher, 1975; Shaw, 1982). Kedua satuan itu mungkin tidak sebanding, baik dalam hal waktu

maupun litostragrafinya. Shaw (1982) menyatakan bahwa proses

korelasi

 adalah proses untuk

menunjuk-kan hubungan geometri antara batuan, fosil, atau lintap data geologi dengan tujuan untuk menafsirmenunjuk-kan dan

menyusun model fasies, merekonstruksikan paleontologi, atau untuk menyusun model struktur. Tujuan

korelasi adalah menetapkan ekivalensi satuan-satuan stratigrafi yang terletak di daerah yang berbeda-beda.

Korelasi dapat dianggap langsung (resmi) atau tidak lan gsung (tidak resmi) (Shaw, 1982). Korelasi

langsung (direct correlation) dilakukan secara fisik dan hasilnya tidak diragukan. Penelusuran fisik suatu

satuan stratigrafi yang menerus merupakan satu-satunya metoda yang mampu memperlihatkan

korespondensi satuan litostratigrafi dari satu tempat ke tempat lain secara meyakinkan. Korelasi tidak

langsung (indirect correlation) dilakukan dengan berbagai metoda seperti pembandingan visual terhadap

well logs, rekaman pembalikan kutub magnet, atau kumpulan fosil.

Korelasi dibagi menjadi dua yaitu

korelasi struktur

  dan

korelasi stratigrafi

. Korelasi struktur

dibuat dengan cara menempatkan lapisan pada keadaan yang sekarang, sehingga akan memberikan

gambaran posisi batuan setelah mengalami aktivitas tektonik (misalnya struktur sesar, kekar, dan lipatan),

(34)

sedangkan korelasi stratigraf dibuat dengan cara menempatkan atau menggunakan suatu lapisan penunjuk

(marker bed) pada kedudukan yang sama.

Korelasi Struktur

  dapat diaplikasikan untuk mengetahui deformasi struktur geologi yang telah

terjadi sepanjang waktu geologi pada sumur pemboran, dapat dilakukan flatten (penyamaan data yang

didapat di tiap sumur pada kedalaman (depth) yang sama pada masing -masing sumur dimana dalam flatten

ini kondisi stratigrafi yang diamati adalah kondisi pada saat ini (setelah terdeformasi).

Korelasi Stratigrafi

, batas-batas yang ditentukan berdasarkan kriteria tertentu belum tentu sama

dengan batas-batas yang ditentukan berdasarkan kriteria lain. Fakta inilah yang mendorong munculnya

metoda-metoda korelasi yang beragam (litokorelasi, biokorelasi, kronokorelasi) dan dapat memberikan

hasil yang berbeda-beda, meskipun diterapkan pada lintang stratigrafi yang sama.

Sandi Stratigrafi Amerika Utara 1983 mengakui adan ya tiga tipe utama korelasi sbb:

1)

Litokorelasi (lithocorrelation)

 : yang mengungkapkan kemiripan litologi dan posisi stratigrafi.

Pelacakan kemenerusan secara langsung dari sebuah unit lithostratografi dari suatu singkapan ke

singkapan lain adalah salah satu metode korelasi yang dapat menentukan kesamaan dari sebuah unit.

Metode korelasi ini dapat digunakan hanya jika lapisan secara menerus atau mendekati menerus tersingkap.

Jika singkapan dari lapisan tersela oleh daerah yang luas yang tertutup tanah dan vegetasi lebat, atau lapisan

terhenti oleh erosi, atau dipotong lembah yang besar, atau tersesarkan, penelusuran secara fisik pada lapisan

menjadi tidak mungkin. Dalam keadaan itu, teknik korelasi lainnya (tidak langsung) harus digunakan

(Boggs, 1987).

Korelasi unit lithostratigrafi dengan metode yang meliputi penyamaan lapisan dari suatu area ke

lainnya dengan dasar kesamaan lithologi dan posisi stratigrafi (Boggs, 1987). Dapat ditelaah melalui

kesamaan lithology, warna, kelompok mineral berat atau kelompok mineral khusus, struktur sedimen utama

seperti perlapisan dan laminasi silang-siur, dan ketebalan rata-rata, dan karakteristik pelapukan. (Boggs,

1987).

Posisi stratigrafi yang memegang peranan penting adalah penentuan korelasi berdasarkan kaitannya

dengan suatu lapisan atau satuan yang sangat khas dan dapat dengan mudah dikorelasikan dari satu tempat

ke tempat lain. Lapisan atau satuan khas berperan sebagai control unit untuk mengkorelasikan strata yang

terletak di atas dan dibawahnya. Sebagai contoh, lapisan satuan d ebu jatuhan yang tipis atau lapisan bentonit

mungkin hadir dalam suatu lintap stratigrafi dan dapat dengan mudah dikenal pada daerah tertentu. Jika

debu atau bentonit itu merupakan satu-satunya lapisan debu atau bentonit dalam lintap stratigrafi di daerah

itu, sehingga tidak mungkin tertukar dengan lapisan debu atau bentonit lain, maka lapisan itu dapat berperan

sebagai lapisan kunci (key bed; marker bed), kepada lapisan mana strata lain dapat dikaitkan. Semakin

 banyak lapisan kunci, maka semakin mudah untuk mengkorelasikan.

2)

Biokorelasi (biocorrelation)

  yang mengungkapkan kemiripan kandungan fosil dan posisi

 biostratigrafi.

(35)

Satuan biostratigrafi merupakan satuan stratigrafi objektif yang dapat diamati dan ditentukan

keberadaannya berdasarkan fosil yang terkandung didalamnya. Satuan biostratigrafi dapat dikorelasikan,

tanpa tergantung pada waktunya, dengan menggunakan prinsip yang sangat mirip dengan

prinsip- prinsip korelasi litostratigrafi, misalnya berdasarkan ke-match-an menurut kandungan fosil dan posisi

stratigrafinya.

Korelasi zona kumpulan didasarkan pada pengelompokkan tiga atau lebih taxa tanpa

memperhitungkan limit-limit kisarannya. Keberadaan zona tersebut ditentukan oleh urut-urutan flora dan

fauna yang berbeda dan zona tersebut berurutan satu di atas yang lain dalam suatu penampang stratigrafi

tanpa diselingi oleh rumpang. Zona kumpulan cenderung hanya dapat digunakan untuk tujuan korelasi

lokal.

Korelasi berdasarkan zona puncak (abundance zone; acme zone) ditentukan keberadaannya

 berdasarkan jumlah maksimum relatif dari satu atau lebih spesies, genus, atau taxon lain; bukan berdasarkan

kisaran taxon. Zona itu merepresentasikan saat atau saat-saat ketika suatu t axon tertentu berada pada puncak

 perkembangannya.

Korelasi kronostratigrafi berdasarkan metoda biologi terutama didasarkan pada penggunaan

concurrent range zones  dan zona selang lainnya. Metoda korelasi biologi juga mencakup penelaahan

statistik terhadap data zona selang dan pengkorelasikan berdasarkan zona puncak yang merupakan

biological events yang berkaitan dengan fluktuasi iklim.

Korelasi zona selang adalah biozona yang membagi-bagi strata yang jatuh diantara saat-saat dimana

suatu taxon muncul untuk pertama kalinya dan saat-saat dimana suatu taxon hilang untuk pertama kalinya.

Hingga dewasa ini dikenal adanya beberapa tipe zona selang, termasuk zona yang dibentuk oleh kisaran

taxa yang saling bertumpang-tindih. Tipe-tipe zona selang yang dikenal dewasa ini adalah:

1) Zona selang antara pemunculan pertama dan pemunculan terakhir suatu taxon tunggal. Zona selang

seperti ini dikenal dengan sebutan zona kisaran taxon (taxon range zone

).

2) Zona selang antara pemunculan pertama dua taxa yang berbeda atau pemunculan terakhir dari kedua

taxa tersebut.

3) Zona selang antara pemunculan pertama suatu taxon dan pemunculan terakhir taxon yang lain.

4) Zona selang yang ditentukan oleh zona-zona kisaran yang saling bertumpang tindih. Zona selang

seperti ini dikenal dengan sebutan concurrent range zone.

Tipe-tipe zona selang itu memiliki tingkat kegunaan yang berbeda-beda dalam korelasi

kronostratigrafi seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Zona kisaran taxon mungkin berguna untuk kronokorelasi jika taxa yang dipakai sebagai dasar

 penentuannya memiliki kisaran stratigrafi yang pendek. Namun, zona ini tidak terlalu bermanfaat jika taxa

(36)

Ketika suatu zona kisaran taxon sangat panjang dan, oleh karenanya, korelasi berdasarkan zona

kisaran taxon itu tidak sesuai digunakan, korelasi pada skala yang lebih tinggi dapat dilakukan berdasarkan

tipe-tipe zona kisaran lain. Zona kisaran yang didasarkan pada pemunculan pertama dua taxa yang berbeda.

3)

Kronokorelasi (chronocorrelation)

  yang mengungkapkan korespondensi umur dan posisi

kronostratigrafi.

Korelasi kronostratigrafi adalah matching up satuan-satuan stratigrafi berdasarkan kesebandingan

waktu, korelasi yang menyatakan korespondensi umur dan posisi kronostratigrafi dari satuan-satuan

stratigrafi. Penentuan kesebandingan waktu antar berbagai strata merupakan tulang punggung dari

stratigrafi global dan dianggap oleh kebanyakan ahli stratigrafi sebagai tipe korelasi yang terpenting.

Metoda korelasi kronostratigrafi dapat dibedakan menjadi dua kategori: (1) metoda biologi; dan (2) metoda

fisika/kimia.

. Event stratigraphy

 memfokuskan diri pada specific events dalam suatu satuan stratigrafi atau suatu

lintap batuan, bukan pada karakter fisik atau karakter biologinya. Adanya peristiwa yang memengaruhi

 proses sedimentasi secara global. Semua fasies hasil sedimentasi akan eki valen dalam arti kata semuanya

terbentuk oleh peristiwa yang sama. Dengan demikian, semua fasies itu, secara kronologi, adalah sebanding.

Event memiliki skala yang berbeda-beda, tergantung pada durasi, intensitas, dan efek-efek geologi yang

ditimbulkan-nya. Beberapa convulsive event berlangsung sangat cepat, dan memiliki pengaruh regional.

Events seperti itu dapat menimbulkan efek-efek yang luas, termasuk punahnya organisme. Karena

 besarannya, endapan dari peristiwa-peristiwa itu dapat membentuk suatu bagian penting dari rekaman

geologi. Bahkan, rekaman stratigrafi sebenarnya cenderung untuk mengindikasikan jejak-jejak gangguan

 berskala besar (Seilacher, 1992).

Korelasi yang dilakukan berdasarkan short-term geologic event markers disebut

event correlation.

Beberapa peristiwa menghasilkan lapisan kunci yang dapat ditelusuri dari satu tempat ke tempat lain hingga

 jarak yang jauh. Lapisan kunci sangat bermanfaat untuk korelasi kronostratigrafi, dan untuk korelasi

litostratigrafi, jika diendapkan sebagai produk geologic event yang pada hakekatnya berlangsung

“seketika”.

 Event correlation juga didasarkan pada posisi suatu batuan dalam perlapisan atau daur

transgresi-regresi (Ager, 1981). Menurut Ager (1981), event correlation dalam kasus tersebut didasarkan pada korelasi

 puncak-puncak daur sedimen yang diasumsikan mengindikasikan umur yang sama. Aspek yang digunakan

dalam korelasi ini merupakan produk transgresi-regresi yang kemungkinan merepresentasikan terjadinya

 perubahan muka air laut eustatik di seluruh muka bumi atau perubahan muka air laut lokal sebagai akibat

 pengangkatan, subsidensi, atau fluktuasi pasokan sedimen.

Variasi kelimpahan relatif isotop-isotop nonradioaktif-stabil tertentu dalam sedimen bahari dan fosil

dapat digunakan sebagai alat kronokorelasi. Bukti-bukti geokimia menunjukkan bahwa komposisi

isotop-isotop oksigen, karbon, belerang, dan stronsium di samudra mengalami fluktuasi yang hebat atau “ber 

(37)

-ekskursi” di masa lalu. Fluktuasi itu terekam dalam sedimen bahari. Variasi komposisi isotop dalam

sedimen atau fosil memungkinkan para ahli geokimia untuk merekonstruksikan

isotopic composition curve

yang dapat digunakan sebagai stratigraphic marker untuk tujuan korelasi. Agar dapat bermanfaat dalam

korelasi, fluktuasi komposisi isotop itu harus dapat dikenal pada skala global dan harus berlangsung dalam

rentang waktu yang singkat sedemikian rupa sehingga akan tampak sebagai suatu “kick” dalam kurva

komposisi isotop. Selain itu, para ahli stratigrafi harus dapat menetapkan posisi stratigrafi relatif dari

fluktuasi tersebut dalam kaitannya dengan skala biostratigrafi, paleomagnet, atau radiometrik.

 Skala Waktu Geologi

Merupakan bagian

 – 

 bagian secara teori dari sesuatu yang pada hakekatnya terus menerus sebagai

 bagian yang dipakai untuk memudahkan dalam pernyataan hubungan waktu pada kejadian

 – 

  kejadian

geologi. Terbagi menjadi beberapa kolom

Era

  mencirikan

Masa

,

Periode

  mencirikan

Jaman

,

Epoch

mencirikan

Kala

, dan terdapat keterangan waktu lamanya suatu kala/jaman.

Skala waktu geologi digunakan oleh para ahli geologi dan ilmuwan untuk menjelaskan waktu dan

hubungan antar peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah Bumi, dimana Bumi diperkirakan telah berumur

sekitar 4.570 juta tahun. Waktu geologi Bumi disusun menjadi beberapa uni t menurut peristiwa yang terjadi

 pada tiap periode.

Skala waktu geologi digunakan oleh para ahli geologi dan ilmuwan untuk menjelaskan waktu dan

hubungan antar peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah Bumi. Bukti-bukti dari penanggalan radiometri

menunjukkan bahwa Bumi berumur sekitar 4.570 juta tahun. Waktu geologi Bumi disusun menjadi

 beberapa unit menurut peristiwa yang terjadi pada tiap periode. Masing-masing zaman pada skala waktu

 biasanya ditandai dengan peristiwa besar geologi atau paleontologi, seperti kepunahan massal. Sebagai

contoh, batas antara zaman Kapur dan Paleogen didefinisikan dengan peristiwa kepunahan dinosaurus dan

 berbagai spesies laut. Periode yang lebih tua, yang tak memiliki peninggalan fosil yang dapat diandalkan

 perkiraan usianya, didefinisikan dengan umur absolut.

Penentuan umur suatu batuan dapat dilakukan dengan cara analisis fosil apabila batuan tersebut

sedimen dan terdapat fosil di dalamnya, atau menggunakan radiometric dating untuk batuan yang tidak

memiliki fosil atau jenis batuannya beku atau metamorf.

(38)

Gambar

Gambar contoh grafik log 1 (Tucker, 2003)
Gambar 2. Skala Waktu Geologi
Gambar 3. Simbol –  simbol batuan
Gambar 5. Korelasi LitostratigrafiGambar 5. Korelasi Litostratigrafi Prosedur :
+3

Referensi

Dokumen terkait

“Metode yang dapat diartikan sebagai metode analisis yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu, pengumpulan

Metode geologi digunakan untuk mengetahui sebaran batuan, mengenali gejala tektonik, dan karakteristik fisik manifestasi panas bumi. Pemetaan morfologi, satuan

Hasil analisis spektral menunjukkan bahwa ketebalan batuan sedimen rata-rata diperkirakan 3.38 Km, orde yang dipilih dari hasil filter polinomial yaitu orde 6 yang digunakan

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur geologi dan satuan batuan juga sistem sesar yang berkembang di daerah Blok Kolbano menggunakan metode pemetaan

Pada dasarnya grafik-grafik tersebut digunakan untuk mengetahui penyebaran besar butir pada batuan sedimen yang dianalisa dan dinyatakan dalam besaran-besaran mean,

Metode geologi digunakan untuk mengetahui sebaran batuan, mengenali gejala tektonik, dan karakteristik fisik manifestasi panas bumi. Pemetaan morfologi, satuan

2.2 Metode Pengumpulan Data Lapangan Metode pengumpulan data yang digunakan penulis selama proses kuliah kerja lapangan terdiri dari beberapa metode, yaitu : 2.2.1 observasi Metode

Penelitian dilakukan dengan metode pengumpulan data sekunder yang dilanjutkan dengan pengambilan data di lapangan serta dilakukan analisis data agar didapatkan penilaian situs geologi