PROPOSAL PEMETAAN GEOLOGI
Daerah Mekarsari dan Sekitarnya,
Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
ANDREI NORMAN DONDOKAMBEY 072.13.015
TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA 2017
Puji syukur atas Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya sehingga proposal pemetaan geologi yang berjudul “Pemetaan Geologi Daerah Mekarsari dan Sekitarnya, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat” ini dapat terselesaikan. Proposal ini disusun dan diajukan untuk memenuhi syarat dalam persiapan untuk Pemetaan Geologi pada Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti, Jakarta.
Dalam penyusunan dan penulisan ini, penyusun menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan, maka dari itu penulis menerima setiap masukan dan kritikan yang bersifat membangun sehingga di kemudian hari tulisan ini dapat menjadi lebih baik lagi dan juga berguna bagi orang lain.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……….2
DAFTAR ISI ………. ..3
BAB I: PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang………4
I.2. Maksud dan Tujuan………4
I.3. Daerah Pemetaan………5
I.4. Studi Pustaka...……...6
BAB II: GEOMORFOLOGI REGIONAL II.1. Fisiografi Regional ………….………...7
II.2. Klasifikasi Geomorfologi ………...10
BAB III: GEOLOGI REGIONAL III.1. Stratigrafi Regional………15
III.2. Struktur Geologi Regional ………...…18
III.3. Tektonik Regional...………...20
BAB IV: KONDISI UMUM DAERAH PEMETAAN IV.1. Lokasi Daerah Pemetaan ………...22
IV.2. Geomorfologi Daerah Pemetaan ………...……22
IV.3. Pola Aliran Sungai Daerah Pemetaan ……….…………27
IV.4. Stratigrafi Daerah Pemetaan ………..………...…...28
IV.5. Struktur Geologi Daerah Pemetaan …………...…...31
BAB V: METODE PENELITIAN V.1. Tahap Persiapan dan Perencanaan ………...32
V.2. Tahap Penelitian Lapangan ………...33
V.3. Tahap Penelitian Laboratorium ……….…...34
V.4. Tahap Penyusunan Laporan ………..……34
DAFTAR PUSTAKA……… .36
LAMPIRAN ………... 37
LEMBAR PENGESAHAN……….. .38
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pada zaman modern seperti ini, ilmu geologi memiliki peranan penting dalam memberikan informasi tentang perkembangan kondisi geologi
membuat para ahli di bidang ini melakukan penelitian langsung ke daerah tersebut. Dan penelitian itu pun untuk mendapatkan suatu data yang detil mencakup kondisi geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi dan aspek aspek geologi lainnya.
Pemetaan geologi merupakan suatu kegiatan pendataan informasi- informasi geologi permukaan dan menghasilkan suatu bentuk laporan berupa peta geologi yang dapat memberikan gambaran mengenai penyebaran dan susunan batuan (lapisan batuan), serta memuat informasi gejala-gejala struktur geologi yang mungkin mempengaruhi pola penyebaran batuan pada daerah tersebut. Maka dari itu, program pemetaan geologi ini adalah suatu wadah pelatihan untuk mempraktekan ilmu teori yang sudah di dapat selama perkuliahan berlangsung.
I.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dari pemetaan di daerah Mekarsari dan sekitarnya, Kecamata Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat adalah untuk mengetahui potensi geologi dan kebencanaan geologi pda daerah ini. Tujuan dari pemetaan ini adalah untuk mendapatkan suatu data yang detil dan mencakup jenis litologi, geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, sejarah geologi, dan evaluasi geologi.
I.3 Lokasi Daerah Pemetaan
Daerah pemetaan terletak di Mekarsari dan sekitarnya, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Luas daerah pemetaan adalah 30 km2, dengan luas 5km x 6km dengan arah memanjang utara – selatan.
Tabel 1.1 Koordinat Geografis Kavling 20
Nama Kavling Koordinat
Andrei Norman D. 20
107°09'20.2" 107°12'04.0" BT 6°36'32.0" 6°39'46.2" LS
Kesampaian daerah pemetaan dapat ditempuh selama +/- 5 jam dari Jakarta dengan menggunakan bis. Untuk mencapai daerah penelitian dapat ditempuh 15 – 45 menit dengan menggunakan sepeda motor dan mobil angkutan umum di daerah tersebut.
Tabel 1.2 Lokasi Daerah Pengamatan Kavling 20
Kavling
Lokasi Kavling
Kabupaten Kecamatan Desa / Kelurahan
20
Cianjur Cikalongkulon Mekarsari, Mekarjaya Bogor Tanjungsari Sirnasari, Sirnajaya, BuanajayaBAB II
GEOMORFOLOGI REGIONAL
II.1. Fisiografi Regional
Secara fisiografi, Van Bemmelan (1970) telah membagi daerah Jawa Barat menjadi lima jalur fisiografi (Gambar 2.1), yaitu: Zona Dataran Rendah Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung, Zona Pegunungan Bayah, dan Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat. Berdasarkan letak geografisnya, maka secara fisiografi, daerah penelitian termasuk kedalam Zona Bogor bagian Timur.
Gambar 2.1 Pembagian Fisiografi Jawa Barat (Van Bemmelen, 1949)
II.1.1. Zona Jakarta (Pantai Utara)
Daerah ini terletak di tepi laut Jawa dengan lebar lebih kurang 40 km terbentang mulai dari Serang sampai ke Cirebon. Sebagian besar tertutupi oleh endapan alluvial yang terangkut oleh sungai- sungai yang bermuara di laut Jawa seperti Ci Tarum, Ci Manuk, Ci Asem, Ci Punagara. Ci Keruh dan Ci Sanggarung. Selain itu endapan lahar dari Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Gede dan Gunung
fan (endapan kipas alluvial) khususnya yang berbatasan dengan zona Bandung.
II.1.2. Zona Bogor
Zona Bogor terdapat di bagian selatan Zona Dataran Rendah Pantai Jakarta dan membentang dari barat ke timur,yaitu mulai dari Rangkasbitung melalui Bogor, Purwakarta, Subang, Sumedang, Kuningan dan Manjalengka. Daerah ini merupakan perbukitan lipatan yang terbentuk dari batuan sedimen tersier laut dalam membentuk suatu Antiklinorium yang cembung ke arah utara dengan arah sumbu lipatan barat- timur, di beberapa tempat mengalami patahan yang diperkirakan pada zaman Pliosen-Plistosen sezaman dengan terbentuknya patahan Lembang dan pengangkatan Pegunungan Selatan. Zona ini banyak dipengaruhi oleh aktivitas tektonik dengan arah tegasan relatif berarah barat-timur. Inti antiklinorium ini terdiri atas lapisan-lapisan batuan yang berumur Miosen dan sayapnya ditempati oleh batuan yang lebih muda yaitu berumur Piosen hingga Plistosen. Umumnya terdiri dari batulempung, batupasir, dan breksi yang merupakan endapan turbidit, disertai beberapa intrusi hypabisal.
Endapannya terdiri dari akumulasi endapan Neogen yang tebal dengan dicirikan oleh endapan laut dalam.
Zona Bogor sekarang terlihat sebagai daerah yang berbukit- bukit rendah di sebagian tempat secara sporadis terdapat-bukit-bukit dengan batuan keras yang dinamakan vulkanik neck atau sebagai batuan intrusi seperti Gunung Parang dan Gunung Sanggabuwana di Plered Purwakarta, Gunung Kromong dan Gunung Buligir sekitar Majalengka. Batas antara zona Bogor dengan zona Bandung adalah Gunung Ciremai (3.078 meter) di Kuningan dan Gunung Tampomas (1.684 meter) di Sumedang.
II.1.3. Zona Bandung
Zona Bandung merupakan daerah gunung api, zona ini merupakan suatu depresi jika dibanding dengan zona Bogor dan Zona Pegunungan Selatan yang mengapitnya yang terlipat pada zaman tersier. Zona Bandung sebagain besar terisi oleh endapan vulkanik muda produk dari gunung api disekitarnya. Gunung - gunung berapi terletak pada dataran rendah antara kedua zona itu dan merupakan dua barisan di pinggir Zone Bandung pada perbatasan Zona Bogor dan Zone Pegunungan Selatan. Walaupun Zona Bandung merupakan suatu depresi, ketinggiannya masih cukup besar, misalnya depresi Bandung dengan ketinggian 650–700mdpl.
II.1.4. Zona Pegunungan Bayah
Zona ini terbentang dari sebelah barat jalur Bogor dengan penyebaran yang tidak begitu luas jika dibandingkan dengan penyebaran satuan fisiografi lainnya. Terjadi atas bagian selatan yang terlipat kuat, bagian tengah terdiri atas batuan andesit tua dan bagian Utara yang merupakan daerah peralihan dengan zona Bogor.
II.1.5. Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat
Satuan fisiografi Jawa Barat disusun oleh Pegunungan Periangan Selatan yang disebut sebagai Pegunungan Selatan. Zona Pegunungan Selatan memghampar dari Teluk Pelabuhan Ratu sampai Pulau Nusakambangan di Selatan Sagara Anakan, dekat Cilacap. Zona Pegunungan Selatan memiliki lebar 50 Km dan menyempit menjadi beberapa kilometer di ujung timur, yaitu Pulau Nusakambangan.
II.2. Geomorfologi Daerah Pemetaan
sistematis berdasarkan kenampakan bentuk-bentuk relief, kemiringan lereng, dan struktur geologi yang mengontrolnya. Bentang alam yang khas dapat dihasilkan berdasarkan konsep dasar geomorfologi dan bentuk bentang alam suatu daerah yang mana merupakan pencerminan dari proses endogen dan eksogen yang mempengaruhinya.
Pengklasifikasian bentang alam ini, dilakukan dengan mengacu pada parameter-parameter relief tertentu. Peninjauan dari aspek relief dibedakan berdasarkan klasifikasi Van Zuidam.
Tabel 2.1. Klasifikasi Van Zuidam (1983)
Sedangkan peninjauan dari aspek genetik atau kontrol utama pembentuknya dapat dibedakan berdasarkan klasifikasi Hidartan dan Handaya (1994) sebagai berikut:
1) Bentukan asal struktural
Bentukan asal struktural adalah bentukan bentang alam asal endogen. Bentukan lahan struktural terbentuk karena adanya proses endogen atau proses tektonik yang berupa pengangkatan, perlipatan, dan patahan. Gaya tektonik ini bersifat konstruktif (membangun) dan pada awalnya hampir semua bentuk lahan di roman muka bumi ini dibentuk oleh kontrol struktural.
2) Bentukan asal volkanik
Satuan Relief Kelerengan (%) Beda Tinggi (m)
Datar/Hampir Datar 0 – 2 < 5
Bergelombang/Miring Landai 3 – 7 5 – 50
Bergelombang/Miring 8 – 13 25 – 75
Berbukit – Bergelombang 14 – 20 50 – 200
Berbukit Tersayat Tajam/Terjal 21 – 55 200 – 500
Pegunungan Tersayat Tajam/Sangat Terjal 56 – 140 500 – 1000
Pegunungan Sangat Curam > 140 > 1000