• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL SKILL LAB PENULISAN RESEP

PERIHAL OBAT

D. Obat Berdasarkan Sifat Kimia

Berdasarkan sifat kimianya obat dapat dibedakan menjadi:

1. Asam Contoh: -Asetosal

-Acidum ascorbinicum 2. Basa

Contoh: - Alukol - Bisakodil 3. Garam

Contoh: - Natrium klorida - Papaverin HCl

4. Garam/senyawa kompleks

Contoh: - Magnesium trisilikat

Blok KKD 1 Keluhan Sistem Endokrin Metabolisme & Patomekanisme Penyakit

Kurikulum Berbasis Kompetensi PSPD FK ULM TA 2019/2020 hal 67

- Sianokobalamin 5. Ester

Contoh: - Kloramfenikol palmitat - Adrenalin bitartrat 6. Kristal mengandung air

Contoh: - Ampisilin trihidrat - Kalsium laktat 7. Isotop Radioaktif

Contoh: - Klormerodin Hg - Natrii Yodida 5. DOSIS OBAT

Dosis obat biasa disebut dengan dosis:

= DOSIS LAZIM

= DOSIS TERAPETIK

Sejumlah obat (dalam satuan berat/volume/unit) yang memberikan efek terapeutik pada penderita. Selain itu DIKENAL PULA:

1. Dosis toksik

Dosis yang menimbulkan efek toksik atau dosis yang bila diberikan kepada manusia

maka kadarnya di dalam darah akan mencapai kadar minimum toksik 2. Dosis letalis

Dosis yang bisa menyebabkan kematian

3. Dosis awal atau dosis permulaan (loading dose atau initial dose)

Dosis obat untuk memulai terapi, sehingga dapat mencapai konsentrasi terapeutik dalam tubuh yang menghasilkan efek klinis. Dosis awal biasanya diberikan lebih tinggi daripada dosis pemeliharaan

4. Dosis pemeliharaan (dosis maintenance)

Dosis obat yang diperlukan untuk memelihara/mempertahankan efek klinik atau konsentrasi terapeutik obat sesuai dengan dosis regimen

5. Dosis regimen

Pengaturan dosis serta jarak-waktu antar-dosis untuk terapi dengan obat;

memberikan efek secara klinis dan/atau mempertahankan konsentrasi terapeutik obat dalam tubuh

Kurikulum Berbasis Kompetensi PSPD FK ULM TA 2019/2020 hal 68

6. Dosis maksimum

Dosis maksimal yang boleh diberikan kepada pasien. Kalau lebih dari dosis maksimum, kemungkinan akan terjadi toksisitas.

6. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DOSIS a. FAKTOR OBAT

1. SIFAT FISIKA

- Daya larut dalam air/lemak

Obat yang larut dalam air akan lebih mudah diabsorpsi lewat saluran cerna, karena sebelum diabsorpsi obat harus larut terlebih dahulu, dan biasanya orang minum obat selalu dengan air. Sedangkan untuk obat yang larut lemak paling baik bila diberikan secara topikal, karena kulit kita merupakan lapisan lipofilik. Sehingga bila obat yang larut air dosisnya akan lebih kecil bila dibandingkan dengan obat yang larut lemak bila sama-sama diberikan secara oral.

- Bentuk kristal/amorf

Obat bentuk kristal lebih mudah larut dibandingkan dengan obat bentuk amorf, sehingga obat bentuk kristal dosisnya lebih kecil bila dibanding dengan obat bentuk amorf.

2. SIFAT KIMIA

Sifat kimia yang perlu diperhatikan adalah seperti asam, basa, garam, ester, pH, pKa. Obat yang sifatnya basa akan lebih mudah larut di lambung bila dibandingkan dengan bentuk garamnya, sehingga dosisnya juga lebih kecil bila dibandingkan dengan bentuk garamnya.

3. TOKSISITAS

Dosis obat berbanding terbalik dengan toksisitasnya. Obat yang mempunyai dosis besar biasanya mempunyai efek toksik yang kecil, sedangkan obat yang mempunyai dosis kecil biasanya mempunyai efek toksik yang besar.

b. CARA PEMBERIAN

Cara pemberian obat akan sangat berpengaruh terhadap dosis obat, dimana obat oral biasanya dosisnya lebih besar bila dibandingkan dengan obat parenteral, karena obat yang diberikan secara oral harus melalui proses absorpsi terlebih dahulu, sedangkan parenteral, terutama IV, akan langsung masuk ke dalam darah

Blok KKD 1 Keluhan Sistem Endokrin Metabolisme & Patomekanisme Penyakit

Kurikulum Berbasis Kompetensi PSPD FK ULM TA 2019/2020 hal 69

c. FAKTOR PENDERITA 1. UMUR

Dibedakan menjadi: anak, dewasa, geriatri.

Dosis anak-anak akan berbeda dengan dosis dewasa karena organ-organ tubuh pada anak-anak belum terbentuk dengan sempurna, selain itu komposisi cairan tubuh pada anak-anak juga berbeda. Begitu pula pada geriatri akan ada perbedaan dosis bila dibandingkan dengan dewasa, karena pada geriatri ada kemungkinan organ tubuhnya sudah ada yang rusak, sehingga perlu adanya penyesuaian dosis.

2. Berat Badan

Dibedakan menjadi: normal, obesitas, malnutrisi.

Berat badan khususnya pada anak-anak akan sangat mempengaruhi dosis, karena berat badan berhubungan dengan volume distribusi obat; bila anak gemuk, maka volume distribusinya akan besar, sehingga dia akan memerlukan dosis yang lebih dibandingkan dengan dosis anak yang kurus. Selain itu pada anak yang malnutrisi, seperti kekurangan protein, akan sangat mempengaruhi dosis obat yang mempunyai ikatan protein yang besar.

3. Ras

Berhubungan dengan metabolisme obat. Ada ras yang punya sifat slow acetylators seperti kulit putih, dan ada yang fast acetylators seperti kulit berwarna.

4. Jenis kelamin

Jenis kelamin ini terutama mempengaruhi dosis pada obat-obatan hormonal, karena masing-masing jenis kelamin mempunyai kadar hormon yang berbeda.

5. Sensitivitas individual

Tiap individu mempunyai sensitivitas yang berbeda, tergantung pada kebiasaan dia minum obat. Ada orang yang cukup minum 250 mg parasetamol sudah bisa memberikan efek analgetik, tetapi juga ada orang minum parasetamol 500 mg sekalipun masih belum memberikan efek analgetik.

6. Toleransi

Hal ini juga berpengaruh terhadap dosis yang akan diberikan. Toleransi ini juga berhubungan dengan sensitivitas individu dari pasien tersebut dan juga sering tidaknya dia menggunakan obat tersebut.

Kurikulum Berbasis Kompetensi PSPD FK ULM TA 2019/2020 hal 70

7. Keadaan patofisiologi

Kelainan pada organ-organ tubuh akan mempengaruhi dosis yang diberikan.

Contoh:

- Kelainan pada saluran cerna mempengaruhi absorpsi obat - Penyakit hati mempengaruhi metabolisme obat

- Kelainan pada ginjal mempengaruhi ekskresi obat

d. INDIKASI & PATOLOGI PENYAKIT

Indikasi dan patologi penyakit akan mempengaruhi dosis yang akan diberikan.

Contoh

obat golongan barbiturat dosis untuk sedasi akan berbeda dengan dosis untuk hipnosis.

Pada PRINSIPNYA dosis harus diberikan:

- INDIVIDUAL karena adanya perbedaan dari faktor-faktor penentu dosis - MINIMAL YANG EFEKTIF karena pada intinya obat adalah “racun”

7. CARA MENGHITUNG DOSIS OBAT a. DOSIS OBAT UNTUK ANAK

Anak secara umum dibedakan menjadi:

1. PREMATUR

2. NEONATUS ( 0-1 BULAN ) 3. INFANT ( S.D. 1 TAHUN ) 4. BALITA ( > 1-5 TAHUN ) 5. ANAK ( 6 - 12 TAHUN )

Yang menjadi masalah adalah bagaimana dengan dosis anak. Apakah dosis anak itu ½ atau ¼ atau 1/3 dari dosis dewasa?

Blok KKD 1 Keluhan Sistem Endokrin Metabolisme & Patomekanisme Penyakit

Kurikulum Berbasis Kompetensi PSPD FK ULM TA 2019/2020 hal 71

Yang perlu diingat adalah ANAK bukan MINIATUR DEWASA, dimana pada anak:

* ORGAN (HEPAR, GINJAL & SSP) BELUM BERFUNGSI SECARA SEMPURNA

* DISTRIBUSI CAIRAN TUBUH BERBEDA NEONATUS : > 29,7% DARI DEWASA

BAYI 6 BULAN : > 20,7% DARI DEWASA

Dokumen terkait