IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2.3. Objek dan Strategi PT KIM
Objek dari PT KIM adalah menyediakan sarana prasarana untuk industri melalui kegiatan usaha kawasan industri yang berwawasan lingkungan dengan tujuan mempercepat investasi dan pertumbuhan sektor industri.
Adapun strategi perusahaan adalah mengadakan road show dan menyiapkan lokasi pabrik bagi industri baik dari dalam maupun luar negeri yang akan merelokasikan pabriknya.
4.2.4. Luas Wilayah PT KIM
Luas areal 525 ha mencakup dua wilayah administratif yaitu Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Pembangunan PT KIM Tahap I seluas 200 ha dan pengembangan Tahap II seluas 325 ha. Lokasi lahan 100 ha berada di Kota Medan dan 425 ha berada di Kabupaten Deli Serdang.
Jumlah perusahaan di PT KIM sebanyak 231 buah perusahaan terdiri dari 32 Perusahaan Modal Asing (PMA) dan 199 Perusahaan Modal Dalam Negeri (PMDN). Dari 32 PMA tersebut, 9 perusahaan berada di Kota Medan dan 23 perusahaan berada di Kabupaten Deli Serdang. Dari 199 PMDN, 56 perusahaan berada di Kota Medan (2 perusahaan belum beroperasi) dan 143 perusahaan berada di Kabupaten Deli Serdang (84 perusahaan belum beroperasi).
4.2.5. Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup PT KIM
1. AMDAL
Dokumen disahkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan pada tanggal 14 Juli 1998.
2. Izin Pembuangan Limbah Cair
Dokumen disahkan oleh Dinas Lingkungan Hidup – ESDM (Energi
Sumberdaya Mineral) Kota Medan pada tanggal 24 Januari 2006. 3. Izin Penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Dokumen disahkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 27 Pebruari 2007.
4.2.6. Berbagai Kegiatan di Sekitar PT KIM
1. Kegiatan Industri
Wilayah ini merupakan kawasan peruntukan industri, sehingga berbagai kegiatan yang ada pada umumnya merupakan aktivitas pabrik-pabrik yang terletak di sepanjang jalan raya Medan-Belawan dan di dalam komplek industri.
2. Jalan Tol Belmera (Belawan-Medan-Tanjung Morawa)
Jalan Tol Belmera terletak di tengah areal PT KIM, membelah antara Tahap I dan Tahap II, dalam hal ini PT KIM sangat diuntungkan dengan adanya jalan tersebut serta adanya interchange.
3. Kompleks Perumahan
Di sebelah Utara PT KIM pada jarak antara ± 1–2 km terdapat 3 kompleks
perumahan, yaitu Perumnas Martubung seluas ± 306 ha, perumahan Guru seluas ± 50 ha dan perumahan UKA seluas ± 50 ha. Di sebelah Timur terdapat perumahan Tojae seluas 400 ha, sedangkan di sebelah Barat Daya terdapat perumahan Citra ± 50 ha dan perumahan Griya Marelan ± 20 ha.
4. Pelabuhan Laut Belawan
Pelabuhan sebagai salah satu faktor pendukung kawasan industri terletak ± 13 km ke arah utara dari PT KIM. Pelabuhan ini merupakan salah satu pelabuhan strategis sebagai pintu gerbang ekspor-impor utama di Sumatera Utara. 5. Bandar Udara Polonia
Bandara yang juga sebagai salah satu faktor pendukung kegiatan PT KIM baik untuk angkutan orang (expatriate dan tenaga kerja menengah ke atas), juga dalam kaitan dengan ekspor hasil industri yang memerlukan waktu pengiriman yang cepat. Bandara Polonia terletak ± 12 km ke arah Selatan dari PT KIM.
4.2.7. Sarana dan Fasilitas PT KIM
Dalam rangka mendukung dan meningkatkan minat investor asing maupun domestik, PT KIM berupaya melengkapi sarana dan fasilitas pendukung untuk memenuhi semua kebutuhan investor, sebagai berikut:
1. Sarana Jalan
Jalan terbuat dari beton dengan lebar jalan utama 17,5 m x 2 m (sisi kiri/kanan), lebar jalan sekunder 12 m.
2. Jaringan
Di depan masing-masing kavling, telah tersedia berbagai jaringan bawah tanah (under ground) seperti:
a. Jaringan air bersih b. Jaringan air limbah c. Jaringan telepon d. Jaringan listrik e. Jaringan gas
f. Saluran buangan air hujan (drainage) 3. Pengolahan Limbah dan Penghijauan
a. Untuk menciptakan kawasan yang berwawasan lingkungan PT KIM telah menyiapkan Unit Pengolahan Limbah (UPL) yang mampu menampung dan mengolah limbah industri.
b. Unit Pengolahan Limbah dengan processing kapasitasnya sebanyak 16.000 m3/hari.
c. Untuk penghijauan, seluruh sisi ruas jalan kiri dan kanan ditanami pepohonan yang berfungsi sebagai taman dan tanaman pelindung. 4. Air Bersih
PT KIM menyediakan air bersih dengan kapasitas 200 liter/detik. 5. Air Hidran
PT KIM menyediakan kolam penampungan air hidran sebanyak 25.000 m3/hari.
6. Listrik, Telepon dan Gas
a. PLN menyediakan transformer ke Kawasan Industri Medan sebanyak 2 x 60 MW.
b. PT Telkom dan PT Indosat menyediakan sambungan telepon sebanyak 2 x 1.000 SS.
c. PT Gas Negara menyediakan gas alam yang bersumber dari Pertamina dan siap disalurkan ke setiap perusahaan.
7. Poliklinik
PT Perum Astek mengelola poliklinik, fasilitas ruang operasi dan unit gawat darurat di Kawasan Industri Medan. Dilengkapi dengan peralatan medis yang canggih, dokter umum praktek selama 24 jam.
8. Pemadam Kebakaran
Mengantisipasi kejadian yang dapat menimbulkan kebakaran pabrik, PT KIM menyediakan Pos Pemadam Kebakaran yang dilengkapi dengan armada pemadam yang siaga 24 jam.
9. Fasilitas Sosial dan Fasilitas Umum (Fasos dan Fasum) a. Jasa Pos/Giro, Perbankan dan Jasa Telekomunikasi. b. Commercial Area (Restauran dan Food Court).
c. Sarana Ibadah (Mesjid dan Gereja). 10.Keamanan Kawasan
Mendukung keamanan kawasan dengan keamanan terpadu, menghadirkan Pos Pembantu Koramil dalam bentuk layanan siaga 24 jam.
4.2.8. Pengolahan Air Limbah PT KIM
Instalasi pengolahan limbah PT KIM dapat dilihat pada skema berikut ini:
Gambar 4.1. Skema Proses Pengolahan Air Limbah INDUSTRI
BAK KONTROL
EQUALIZATION
AERATION TANK
CLARIFIER UNIT
Uraian proses pengolahan air limbah sebagai berikut: 1. Bak Kontrol
Air limbah dialirkan melalui pipa saluran air limbah dan dikumpulkan di Bak Kontrol yang dilengkapi alat penyaring otomatis (automatic screen) “Huber
Rotamat”. Alat ini bekerja secara otomatis memisahkan kotoran/zat padat.
Limbah padat ini akan naik dengan menggunakan pompa salari (screw pump) ke atas dan dikumpulkan di dalam tong untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir, sedangkan air limbah yang sudah disaring kemudian dipompakan ke Bak Equalisasi.
2. Bak Equalisasi
Dalam Bak Equalisasi dilakukan pengolahan awal (pre treatment) menggunakan 12 (dua belas) unit aerator. Dilakukan aerasi untuk menghomogenkan air limbah dan juga untuk mengatasi gejolak fluktuasi pembuangan berbagai jenis limbah industri.
3. Bak Aerasi
Ada 3 (tiga) Bak Aerasi dengan menggunakan 4 (empat) aerator di setiap bak, di bak ini dilakukan penginjeksian oksigen sehingga bakteri dapat berkembang biak dan mendegradasi parameter pencemar organik air limbah. Diharapkan kondisi air dapat digunakan untuk biota air dan perikanan.
4. Bak Clarifier
Dari Bak Clarifier dihasilkan air bersih yang digunakan menyiram taman dan rencana akan digunakan sebagai air hidran.
Perusahaan penghasil limbah cair sebanyak 29 (dua puluh sembilan), terdiri dari 17 (tujuh belas) perusahaan berada di Tahap I dan 12 (dua belas) perusahaan di Tahap II. Tingkat pengolahan IPAL Tahap I tidak menunjukkan kinerja yang baik maka ditetapkan IPAL terpadu di Tahap II dengan kapasitas pengolahan limbah sebanyak 16.000 m3/hari. Target efisiensi IPAL terpadu diharapkan lebih baik, dilengkapi sistem daur ulang air limbah terolah (recycling) menggunakan saringan pasir (sand filter). Air hasil recycling akan digunakan untuk hidran, air kerja dan
make up water.
Dari penelitian diketahui, PT KIM tidak memprediksi total air limbah yang seharusnya masuk ke IPAL/hari. Total air limbah yang masuk ke IPAL terpadu sebanyak 1.500 m3/hari, PT KIM juga mengakui bahwa masih ada perusahaan yang membuang limbah cair langsung ke parit.
4.3. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Konflik Lingkungan
Berdasarkan penelitian, dapat dikemukakan beberapa faktor penyebab terjadinya konflik lingkungan antara PT KIM dengan Masyarakat Tangkahan, yaitu:
1. Dibuangnya limbah cair perusahaan ke parit (drainase) yang berada di Lingkungan I – XII Kelurahan Tangkahan.
2. Menyebarnya bau busuk di Kelurahan Tangkahan. 3. Banyaknya sumur penduduk yang tercemar limbah cair.
4. Kurangnya penyerapan tenaga kerja dari Masyarakat Tangkahan. 5. Rendahnya Community Development di Kelurahan Tangkahan.
4.3.1. Keberadaan PT Kawasan Industri Medan (PT KIM)
Merancang suatu kawasan industri, tidak terlepas dari berbagai fasilitas yang akan mendukung aktivitas-aktivitas industri itu sendiri. Salah satu pondasi utama bagi pengembangan kawasan industri yang ramah lingkungan meliputi rancangan arsitektur, disain fasilitas industri dan konstruksi-konstruksi berbagai fasilitas industri (Djajadiningrat dan Famiola, 2004).
Dari rancangan awal tersebut, diharapkan keberadaan suatu kawasan industri diterima positif oleh masyarakat sekitarnya. Tanggapan/pendapat masyarakat terhadap keberadaan PT KIM dapat dilihat pada Tabel 4.3:
Tabel 4.3. Tanggapan tentang Keberadaan PT KIM
No. Pendapat Responden Persen (%)
1. Bermanfaat 15 15
2. Kurang Bermanfaat 75 78
3. Tidak Bermanfaat 7 7
Total 97 100
Sebanyak 78% responden menyatakan keberadaan PT KIM kurang bermanfaat, hanya 15% responden yang berpendapat keberadaan PT KIM bermanfaat bagi Masyarakat Tangkahan. Dari hasil wawancara penulis yang difokuskan pada penyebab terjadinya konflik lingkungan, diketahui bahwa masyarakat menilai pembuangan limbah cair ke parit di Kelurahan Tangkahan berawal dari tidak adanya itikad baik dari pengelola industri serta kurangnya pengawasan PT KIM terhadap seluruh perusahaan yang menghasilkan limbah cair. Dalam hal penyerapan tenaga kerja dari Masyarakat Tangkahan, diketahui hanya sekitar 25 orang atau 0,04% dari
seluruh pegawai/karyawan PT KIM yang merupakan warga Kelurahan Tangkahan. Dalam hal rekruitmen pegawai/karyawan, PT KIM tidak memiliki kewenangan memaksa kepada perusahaan untuk mengutamakan Masyarakat Tangkahan dalam penerimaan pegawai/karyawan. Selama ini PT KIM sebatas menghimbau perusahaan- perusahaan yang akan menerima pegawai/karyawan agar memperhatikan masyarakat sekitar khususnya Masyarakat Tangkahan dan membantu meneruskan informasi jika ada penerimaan pegawai/karyawan melalui Kelurahan/Kepling.
Penyebab lain kurangnya Masyarakat Tangkahan yang mengajukan lamaran ke perusahaan PT KIM, karena persyaratan administrasi dan taraf pendidikan/skill yang dibutuhkan pada proses rekruitmen pegawai/karyawan tidak sesuai dengan taraf pendidikan/skill Masyarakat Tangkahan. Perekrutan tenaga kasar pun seringkali memunculkan masalah baru, banyak diantara mereka yang menuntut gaji yang tinggi. Ketika tuntutan kenaikan upah tidak dipenuhi, beberapa diantara mereka tidak tahan bekerja kemudian mengundurkan diri. Pergantian karyawan yang berulang-ulang dalam waktu singkat, sangat menggangu proses administratif perusahaan.
4.3.2. Kualitas Lingkungan di Kelurahan Tangkahan
Kualitas lingkungan di Kelurahan Tangkahan, dapat dikategorikan “sedang”.
Hal ini berdasarkan pengamatan langsung di lapangan yang diukur dari 3 (tiga) komponen lingkungan (kualitas air, sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat) sesuai standar kualitas lingkungan Fisher dan Davies dalam Chafid Fandeli (2004). Hasil pengamatan langsung didukung oleh pandangan masyarakat terhadap kualitas
lingkungan di Kelurahan Tangkahan. Kualitas lingkungan di Kelurahan Tangkahan dapat dilihat pada Tabel 4.4:
Tabel 4.4. Kualitas Lingkungan di Kelurahan Tangkahan
No. Indikator Responden Persen (%)
1. Sumber Air Hitam/Berbau 24 24
2. Kondisi Parit Rusak 22 23
3. Partisipasi Masyarakat Lemah 20 21
4. Pelayanan Kesehatan Nihil 20 21
5. Kesempatan Kerja Kurang 11 11
Total 97 100
Dari hasil penelitian, diketahui bahwa kualitas air bersih Masyarakat Tangkahan sangat rendah karena kondisi air dari sumur gali sebagai sumber air bersih banyak yang berwarna hitam pekat, sangat berbau dan sangat kental. Begitu pula dengan kondisi parit di Kelurahan Tangkahan yang berukuran kecil, sangat dangkal, dinding parit sudah banyak yang rusak bahkan sebagian besar parit di Kelurahan Tangkahan tidak berdinding semen sehingga air parit gampang merembes bahkan meluap apalagi saat hujan.
Partisipasi Masyarakat Tangkahan juga masih rendah dalam kegiatan gotong royong untuk kebersihan rumah dan lingkungan. Penggunaan sarana kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas atau Balai Pengobatan masih rendah, masyarakat lebih banyak yang mempercayakan pelayanan kesehatan pada Mantri atau pada orang-orang yang dituakan yang dapat dipanggil ke rumah setiap waktu, bahkan seringkali penyakit yang diderita dibiarkan tanpa pengobatan.
4.3.3. Pencemaran Limbah Cair
Masalah lingkungan tidak sebatas aktivitas manusia secara individu, namun banyak kasus-kasus kerusakan lingkungan merupakan akibat dari berbagai aktivitas industri antara lain pencemaran terhadap udara, air maupun tanah. Kondisi lingkungan berdasarkan tingkat pencemaran limbah cair di Kelurahan Tangkahan dapat dilihat pada Tabel 4.5:
Tabel 4.5. Kondisi Lingkungan di Kelurahan Tangkahan
No. Indikator Responden Persen (%)
1. Pencemaran Air 40 41 2. Pencemaran Udara 37 38 3. Pencemaran Tanah 10 11 4. Arus Kendaraan 7 7 5. Kebisingan 3 3 Total 97 100
Dari hasil penelitian di lapangan, diketahui bahwa aktivitas beberapa perusahaan PT KIM telah mengakibatkan pencemaran limbah cair di wilayah Kelurahan Tangkahan. Selain bau busuk yang menyengat, 15 (lima belas) sumur penduduk mengalami perubahan warna (hitam pekat dan sangat kental) serta menimbulkan bau busuk. Pencemaran air sumur tentu sangat meresahkan Masyarakat Tangkahan, karena sarana atau sumber air bersih/mandi terbanyak bagi 2.998 KK di Kelurahan Tangkahan adalah sumur gali.
Penggantian sumur gali masyarakat berupa sumur pompa/bor hanya dilaksanakan di beberapa lingkungan, begitu pula dengan pengadaan hidran umum hanya dibangun seadanya. Masalah yang ada sekarang, penanggung jawab pengadaan
hidran umum dibebankan kepada salah seorang warga, padahal hampir seluruh masyarakat di sekitar hidran umum menggunakan sarana tersebut. Selain membebani penanggung jawab untuk menarik iuran/bulan, sebagian masyarakat juga keberatan jika pembayaran iuran disamaratakan terhadap setiap KK.
4.3.4. Korban Pencemaran Limbah Cair
Dari hasil penelitian, diketahui bahwa pencemaran lingkungan oleh limbah cair perusahaan PT KIM berdampak negatif terhadap Masyarakat Tangkahan. Pendapat masyarakat yang merasa sebagai korban pencemaran limbah cair dapat dilihat pada Tabel 4.6:
Tabel 4.6. Korban Pencemaran Limbah Cair
No. Pendapat Responden Persen (%)
1. Ya, Sangat Parah 92 95
2. Tidak 5 5
Total 97 100
Berdasarkan penelitian di lapangan, hampir seluruh responden menyatakan dirinya sebagai korban pencemaran limbah cair PT KIM. Hal ini didukung oleh pendapat masyarakat yang menyebutkan bahwa PT KIM telah melakukan pencemaran terhadap kualitas air (41%) dan pencemaran udara (38%).
Kualitas air bersih Masyarakat Tangkahan khususnya di Lingkungan I-IV sangat parah, karena air sumur pompa/bor pun sudah menimbulkan bau busuk dan keruh maka alternatif terakhir sebagai sumber air bersih adalah sarana PAM/hidran
umum. Masalah pencemaran udara terutama bau busuk yang menyengat, terasa merata di seluruh Kelurahan Tangkahan.
4.3.5. Penyakit yang Dialami Masyarakat
Penyakit yang dialami Masyarakat Tangkahan dapat dilihat pada Tabel 4.7:
Tabel 4.7. Penyakit yang Dialami Masyarakat Tangkahan
No. Penyakit Responden Persen (%)
1. Diare 34 35
2. Gatal-gatal 51 53
3. Muntaber 10 10
4. Dan lain-lain 2 2
Total 97 100
Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui bahwa penyakit gatal-gatal (53%) dominan dialami masyarakat, kemudian penyakit diare sebesar 35%. Dari hasil wawancara dengan Masyarakat Tangkahan yang pernah mendapatkan pengobatan gratis, diketahui bahwa penyebab penyakit gatal-gatal maupun diare yang dialami Masyarakat Tangkahan karena penggunaan air yang tercemar limbah cair. Air yang diminum maupun keperluan MCK bersumber dari sumur gali masyarakat yang terindikasi tidak layak konsumsi.
4.3.6. Tanggung Jawab PT KIM terhadap Pencemaran Limbah Cair
Pencemaran limbah cair perusahaan PT KIM, memunculkan reaksi dan tuntutan dari Masyarakat Tangkahan kepada pihak PT KIM. Berbagai aksi keprihatinan masyarakat sudah digelar, selain melakukan penutupan saluran pembuangan limbah, Masyarakat Tangkahan juga telah melakukan unjuk rasa ke
DPRD Tk I Sumatera Utara menuntut tanggung jawab PT KIM. Tanggapan masyarakat tentang tanggung jawab PT KIM atas pencemaran limbah cair dapat dilihat pada Tabel 4.8:
Tabel 4.8. Tanggung Jawab PT KIM atas Pencemaran Limbah Cair
No. Pendapat Responden Persen (%)
1. Kurang Bertanggung Jawab 24 25
2. Tidak Bertanggung Jawab 73 75
Total 97 100
Berdasarkan Tabel 4.8 sebesar 75% responden menyatakan PT KIM tidak bertanggung jawab terhadap pencemaran limbah cair perusahaan. Hal ini dibuktikan oleh minimnya kegiatan PT KIM yang dapat dijadikan alasan sebagai wujud kepedulian PT KIM terhadap Masyarakat Tangkahan.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pengobatan gratis yang dilaksanakan terhadap masyarakat yang menderita penyakit gatal-gatal dan diare, hanya berlangsung pada bulan-bulan pertama setelah aksi unjuk rasa. Penggantian sumur gali masyarakat tidak dilaksanakan sesuai jumlah sumur yang tercemar, jumlah sumur yang dibangun PT KIM sebanyak 5 (lima) unit padahal jumlah sumur masyarakat yang tercemar sebanyak 15 (lima belas) unit. Selain itu, masih ditemukan sumur pompa/bor bantuan PT KIM yang tidak berfungsi karena tidak ada air (mengering). Peninggian parit tidak dilaksanakan, airnya menimbulkan bau busuk, saat musim hujan menyebabkan air parit meluap menggenangi beberapa pekarangan dan pemukiman masyarakat.
4.3.7. Kegiatan Sosial Kemasyarakatan PT KIM
Sebagai bentuk partisipasi PT KIM terhadap masyarakat sekitar khususnya di wilayah Kelurahan Tangkahan, beberapa kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang telah dilaksanakan antara lain pemberian bantuan sembako kepada 500 KK, pelaksanaan pengobatan gratis dan mendukung pembangunan rumah ibadah atau kegiatan-kegiatan keagamaan.
Dari hasil wawancara dengan pihak PT KIM, diketahui bahwa kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan sudah dilaksanakan sejak PT KIM beroperasi. Bentuk partisipasi misalnya penyerahan bantuan dana dan pembagian sembako, sangat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan perusahaan. Kenyataan di lapangan, multiplier effect PT KIM terhadap masyarakat sekitar khususnya Masyarakat Tangkahan dianggap masih kurang, tanggapan atau pendapat masyarakat terhadap frekuensi partisipasi PT KIM dalam berbagai kegiatan sosial dapat dilihat pada Tabel 4.9:
Tabel 4.9. Kegiatan Sosial Kemasyarakatan PT KIM
No. Pendapat Responden Persen (%)
1. Tidak Pernah 10 10 2. Pernah 30 31 3. Kadang-kadang 32 33 4. Sering 20 21 5. Sangat Sering 5 5 Total 97 100
Berdasarkan Tabel 4.9 diketahui bahwa partisipasi PT KIM dalam bentuk kegiatan sosial kemasyarakatan/keagamaan terhadap masyarakat sekitar khususnya
di Kelurahan Tangkahan masih rendah, 32% responden berpendapat PT KIM kadang- kadang ikut berpartisipasi dan 30% yang berpendapat bahwa PT KIM pernah berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan.
Dari hasil penelitian di lapangan, diketahui bahwa kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan hanya dilaksanakan secara insidentil atau pada saat peringatan hari besar nasional dan keagamaan. Masyarakat Tangkahan justru mengharapkan kegiatan sosial difokuskan sebagai wujud kepedulian terhadap korban pencemaran limbah cair perusahaan PT KIM.
4.3.8. Negosiasi PT KIM dengan Masyarakat Tangkahan
Dalam rangka mengatasi dan mencegah perluasan dampak pencemaran limbah cair PT KIM, berbagai upaya negosiasi atau musyawarah yang difasilitasi oleh PT KIM maupun Tripika Kecamatan Medan Labuhan sudah sering dilaksanakan. Tanggapan atau pendapat masyarakat tentang pelaksanaan negosiasi antara PT KIM dengan Masyarakat Tangkahan untuk menyelesaikan pencemaran limbah cair dapat dilihat pada Tabel 4.10:
Tabel 4.10. Negosiasi PT KIM dengan Masyarakat Tangkahan
No. Pendapat Responden Persen (%)
1. Pernah 24 25
2. Tidak Pernah 73 75
Total 97 100
Berdasarkan Tabel 4.10 diketahui bahwa negosiasi antara PT KIM dengan Masyarakat Tangkahan dalam mengatasi pencemaran limbah cair perusahaan sudah
pernah dilaksanakan (25%), berdasarkan hasil penelitian di lapangan diketahui bahwa banyaknya responden (75%) yang menyatakan negosiasi tidak pernah dilaksanakan karena kesepakatan yang diperoleh dari negosiasi itu tidak dilaksanakan.
Masyarakat Tangkahan menilai bahwa aspirasi masyarakat dalam negosiasi PT KIM dengan Masyarakat Tangkahan tidak terwakili, pihak yang hadir mengatasnamakan perwakilan masyarakat tetapi tidak sepenuhnya disetujui oleh masyarakat karena mereka dianggap sebagai pihak-pihak yang mendukung kepentingan kelompok tertentu dan kepentingan PT KIM. Kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat pun dianggap sebagai perwujudan dari pihak yang menguntungkan LSM dan PT KIM, sehingga keberadaan mereka dalam upaya negosiasi tidak dianggap mewakili Masyarakat Tangkahan.
Keterlibatan masyarakat dalam negosiasi antara PT KIM dengan Masyarakat Tangkahan dapat dilihat pada Tabel 4.11:
Tabel 4.11. Keterlibatan Masyarakat Bernegosiasi dengan PT KIM
No. Pendapat Responden Persen (%)
1. Pernah 27 28
2. Tidak Pernah 70 72
Total 97 100
Berdasarkan Tabel 4.11 diketahui bahwa 72% responden menyatakan tidak terlibat langsung dalam negosiasi antara PT KIM dengan Masyarakat Tangkahan. Dari penelitian diketahui, masyarakat mengetahui adanya rencana negosiasi tetapi
tidak mengetahui kapan pelaksanaan negosiasi tersebut. Informasi tentang pelaksanaan negosiasi justru diketahui setelah pelaksanaan, informasi pun diketahui dari kabar yang menyebar di masyarakat. Dari pelaksanaan negosiasi, diharapkan adanya kesepakatan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Keberhasilan kesepakatan dari negosiasi dapat dilihat pada Tabel 4.12:
Tabel 4.12. Kesepakatan PT KIM dengan Masyarakat
No. Pendapat Responden Persen (%)
1. Tercapai 20 21
2. Tidak Tercapai 77 79
Total 97 100
Kesepakatan dari negosiasi, 79% responden menyatakan tidak tercapai. Tingginya prosentase responden yang menyatakan tidak ada kesepakatan penyelesaian konflik lingkungan PT KIM dengan Masyarakat Tangkahan, karena masyarakat secara umum merasa tidak terwakili. Pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan perwakilan masyarakat dipilih oleh Kepling atau “oknum”,
sehingga kehadirannya bukan sebagai wakil Masyarakat Tangkahan. Kesepakatan yang dibangun pun hanya menitikberatkan pada penggantian kerugian fisik dan kurang memperhatikan masalah sosial secara menyeluruh dari korban pencemaran lingkungan misalnya peningkatan kemampuan atau peningkatan derajat kesehatan. Oleh karena itu, masyarakat menginginkan pihak yang mewakili adalah tokoh masyarakat yang benar-benar mengerti aspirasi masyarakat secara umum.
4.4. Resolusi Konflik PT KIM dengan Masyarakat Tangkahan
Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah, baik wilayah negara maupun wilayah administratif. Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan rakyat sehingga menuntut tanggung jawab, keterbukaan dan peran anggota masyarakat. Pengelolaan lingkungan hidup dengan prinsip melestarikan fungsi lingkungan hidup yang serasi, selaras dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, gaya hidup masyarakat industri yang meningkatkan produksi limbah merupakan tantangan besar terhadap cara pembuangan yang aman dengan resiko yang kecil terhadap lingkungan hidup, kesehatan dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.
Dalam banyak kasus konflik lingkungan, upaya yang ditempuh hanya sebatas negosiasi yang memunculkan beberapa butir kesepakatan. Namun karena berbagai faktor, tindak lanjut kesepakatan yang telah dibangun antara perusahaan atau pelaku pencemaran dengan masyarakat sebagai korban pencemaran sangat jarang dilaksanakan oleh pihak yang berkonflik. Pada umumnya, pelaku pencemaran merasa
“diberatkan atau dibebani” oleh tuntutan korban pencemaran. Kehadiran pihak ketiga
pun terkesan tidak memiliki akses yang kuat untuk menangani konflik lingkungan secara efektif. Menyikapi konflik lingkungan antara PT KIM dan Masyarakat Tangkahan, telah ditempuh langkah-langkah resolusi konflik yang melibatkan beberapa pihak antara lain:
1. Pertemuan antara PT KIM, perwakilan Masyarakat Tangkahan, aparat Kelurahan Tangkahan, Camat Medan Labuhan, Pemko Medan, Pemkab Deli Serdang yang difasilitasi oleh PT KIM pada tanggal 23 Agustus 2006.
2. Pertemuan antara Kelompok Ahli Gubernur dengan Bapedalda Sumatera Utara pada bulan September 2006.
3. Pertemuan antara PT KIM, Pemko Medan, Pemkab Deli Serdang, DPRD Tk I