BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
1. Observasi Awal
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara atau kuesioner. Kalau wawancara atau kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek alam yang lain.
Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2010: 203) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.
Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila peneliti berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
2) Tes.
Menurut Asep dan Abdul (2013: 67), tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites. Tes digunakan untuk mengukur sejauh mana seorang siswa telah menguasai pelajaran yang disampaikan terutama meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan.
Alat penilaian teknik tes, yaitu: (a) tes tertulis; (b) tes lisan; dan (c) tes perbuatan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tes tertulis yaitu pre-test dan post-test. Peneliti menggunakan tes untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh siswa kelas II SLB A Yaketunis.
3) Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari subjek yang lebih mendalam dan jumlah
subjek sedikit/kecil. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan pada laporan tentang diri sendiri, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi.
Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2010: 194) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan metode wawancara adalah sebagai berikut:
1. Bahwa subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri.
2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.
3. Bahwa interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.
Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka maupun menggunakan telepon.
4) Dokumentasi
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dokumentasi berupa voice recorder dan video. Melalui dokumentasi ini peneliti dapat keterangan dalam pembelajaran berupa rekaman suara dan video yang dianalisis kembali untuk mendapatkan data kualitatif. Dokumentasi ini juga digunakan sebagai bukti dalam penelitian.
G. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan peneliti dalam penelitian ini antara lain: 1. Lembar observasi
Lembar pengamatan ini berfungsi mencatat semua hasil pengamatan yang dilakukan peneliti selama penelitian berlangsung.
2. Soal pre test dan soal post test.
Soal pre-test dan post-test digunakan oleh peneliti untuk mengetahui hasil belajar siswa. Setiap soal pre-test dan post-test masing-masing berisi 10 soal yang sudah dikonsultasikan dengan guru kelas.
3. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara berupa garis besar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada subjek penelitian, dan pertanyaan yang ada akan berkembang sesuai dengan jawaban dari subjek.
4. Alat Perekam.
Alat perekam yang digunakan adalah telepon genggam untuk mengambil gambar, merekam percakapan serta merekam proses pembelajaran matematika dengan menggunakan bola sebagai alat peraga.
H. Validitas Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, pedoman wawancara dan soal. Instrumen tersebut akan diuji
kepada orang yang lebih berpengalaman dimana peneliti anggap lebih mengerti dan memahami. Dalam hal ini, instrumen-instrumen tersebut akan dikonsultasikan dengan dosen dan guru kelas. Setelah mendapatkan kritik dan saran serta petunjuk maka semua instrumen tersebut telah diperbaiki dan dinyatakan valid.
I. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis komparatif. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis semua data yang telah diperoleh melalui instrumen-instrumen dan untuk menarik kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah yang ada. Sedangkan analisis komparatif digunakan untuk menganalisis kembali data pemahaman yang telah dipaparkan secara deskriptif.
Data hasil belajar dan pemahaman siswa mengenai materi perkalian diperoleh dengan cara menganalisis hasil deskripsi dari instrumen- instrumen yaitu hasil rekaman wawancara dengan siswa, hasil wawancara dengan guru, latihan soal yang diberikan kepada siswa, dan lembar observasi. Data tersebut dianalisis secara deskriptif dan secara bertahap pada setiap pertemuan. Kemudian data yang telah diperoleh dari pertemuan pertama sampai pertemuan keempat dianalisis secara komparatif, dengan membandingkan dan melihat peningkatan hasil belajar
dan pemahaman siswa mengenai materi perkalian dengan menggunakan bola sebagai alat peraga.
J. Prosedur Pelaksanaan Penelitian 1. Tahap persiapan
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan beberapa persiapan yaitu:
a. Bertemu dengan dosen pembimbing skripsi untuk konsultasi terkait penelitian yang akan peneliti laksanakan. Konsultasi diadakan beberapa kali untuk memastikan tempat penelitian, materi penelitian, dan alat peraga yang akan digunakan.
b. Mempersiapkan surat izin untuk penelitian.
c. Bertemu dengan Kepala Sekolah untuk perizinan penelitian.
d. Bertemu dengan guru kelas untuk berdiskusi mengenai pelaksanaan penelitian, meminta saran juga informasi tentang pembelajaran di SLB.
e. Mempersiapkan alat peraga yang akan digunakan dalam penelitian. f. Berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan guru mengenai alat peraga yang akan digunakan, serta meminta saran untuk perbaikan atau perubahan alat peraga.
g. Observasi kelas yang akan dijadikan tempat penelitian.
h. Mempersiapkan instrumen-instrumen yang dibutuhkan untuk penelitian.
2. Rencana kegiatan
Dalam penelitian ini, peneliti dibantu oleh guru pembimbing yang membantu peneliti dalam berkomunikasi dengan anak tunanetra. Kegiatan yang akan dilakukan antara lain:
a. Kegiatan pembelajaran:
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 2) Mempraktekkan penggunaan alat peraga.
3) Melakukan evaluasi setelah pembelajaran.
b. Untuk melihat pemahaman siswa tentang konsep perkalian, peneliti juga melaksanakan wawancara setelah pembelajaran. Hal ini dapat membantu peneliti untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang konsep perkalian.
3. Alat peraga yang digunakan
Peneliti menggunakan bola sebagai alat peraga pada materi perkalian. Alat peraga ini merupakan bola warna-warni yang mudah ditemukan. Setiap subjek mendapat 100 buah bola dan tiga buah kotak sebagai wadah untuk menaruh bola tersebut.
4. Evaluasi pembelajaran
Evaluasi pembelajaran dilakukan pada pertemuan keempat. Hal ini dilakukan untuk melihat hasil belajar dan pemahaman siswa tentang materi perkalian khususnya konsep perkalian. Evaluasi pembelajaran dilakukan dengan memberikan soal-soal (post-test) yang dilakukan
diakhir pembelajaran dan juga dilakukan wawancara untuk mengetahui pemahaman siswa.
5. Rencana pelaksanaan
a. Pelaksanaan penelitian akan dilaksanakan empat kali, dengan rincian:
1) Pertemuan awal adalah pemberian soal pre-test.
2) Pertemuan kedua dan ketiga adalah pemberian materi perkalian dengan menggunakan bola sebagai alat peraga.
3) Pertemuan terakhir adalah pemberian soal post-test.
b. Pelaksanaan penelitian akan dibantu oleh guru kelas II selaku guru pembimbing, mengingat susahnya berkomunikasi dan mengajar anak tunaneta.
BAB IV
HASIL PENELITIAN, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian
1. Observasi Awal
Penelitian dilakukan di SLB A Yaketunis Yogyakarta yang terletak di Jalan Parangtritis No. 46 Yogyakarta. Subjek penelitian adalah 2 orang siswa kelas II SLB A Yaketunis Yogyakarta, dimana mereka memiliki keterbatasan dalam penglihatan dan termasuk dalam kategori low vision. Dalam penelitian ini peneliti adalah fasilitator yang menyediakan alat peraga serta sebagai pengamat. Materi yang akan dipelajari dan dibahas adalah perkalian secara khusus penanaman konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang. Materi tersebut akan diajarkan dengan menggunakan alat peraga berupa bola. Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan observasi terlebih dahulu. Tujuan dilakukannya observasi adalah untuk melihat kegiatan pembelajaran, model pembelajaran, dan metode yang digunakan dalam pembelajaran yang dilaksanakan sehari-hari di kelas II SLB A Yaketunis Yogyakarta, sehingga dapat membantu dalam merancang kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan terkait penelitian. Selain itu kegiatan observasi juga dilakukan untuk membantu peneliti mengenal para siswa yang akan menjadi subjek penelitian sehingga dapat membantu kelancaran penelitian.
Peneliti melakukan observasi sebanyak 3 kali sebelum melaksanakan penelitian. Dari kegiatan tiga kali observasi yang dilakukan yaitu pada tanggal 24 Agustus 2016, 26 Agustus 2016, dan 31 Agustus 2016, peneliti melihat kurikulum dan materi yang diajarkan sama dengan sekolah umum lainnya, tidak ada yang berbeda. Selain itu, kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di SLB A Yaketunis tidak jauh berbeda dengan yang dilaksanakan dengan sekolah-sekolah lainnya, hanya saja pemberian materinya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa. Seperti diketahui bahwa kemampuan setiap siswa berbeda, maka ini yang mendasari guru kelas untuk memberikan materi sesuai dengan kemampuan siswa. Pembelajaran matematika yang dilaksanakan di SLB A Yaketunis Yogyakarta juga sama seperti sekolah dasar umum yaitu tiga kali dalam seminggu.
Dalam pembelajaran di SLB A Yaketunis Yogyakarta, siswa tidak hanya belajar tentang materi pembelajaran namun juga belajar membaca dan menulis huruf Braille yang akan siswa gunakan dalam pembelajaran setiap hari. Selain itu siswa juga diberikan pelajaran Orientasi Mobilitas yaitu pelajaran dimana siswa akan diajar untuk mandiri melakukan sesuatu yang mendasar seperti berpakaian, memakai sepatu, minum, berjalan menggunakan tongkat, dan lain sebagainya.
Pada observasi yang dilakukan, peneliti juga melihat karakter yang dimiliki siswa, yaitu:
S1 adalah siswa yang tergolong mudah dalam menerima pelajaran setiap harinya. S1 aktif dalam pembelajaran, dan selalu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Namun terkadang S1 kurang fokus dalam pembelajaran, karena dengan mudah dialihkan oleh beberapa hal seperti suara keras dari teman yang sedang bermain ataupun suara musik yang terdengar hingga ke kelas. S1 mengalami kendala dalam hal mengingat. Bisa saja S1 sudah menjawab dengan benar ketika ditanya oleh guru, namun ketika diminta untuk mengulang jawabannya, S1 bisa saja lupa kembali apa yang sudah dijawab.
S2 adalah siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran. S2 merupakan siswa pindahan dari SLB di Magelang. Kemampuan S2 sebenarnya baik, namun perlu banyak pancingan dari guru. Dalam pembelajaran di kelas, S2 bisa dibilang kurang aktif. S2 hanya akan serius belajar apabila mendapat teguran yang cukup keras dari guru.
Suasana pembelajaran saat observasi kondusif. Di SLB A Yaketunis Yogyakarta setiap kelas mempunyai ruangan masing- masing. Namun ruangan kelas tidak terlalu besar karena menyesuaikan dengan jumlah siswa tiap kelas. Kelas yang berdempetan kadang menjadi faktor yang membuat kondisi pembelajaran menjadi tidak kondusif karena suara gaduh yang berasal dari luar kelas.
Pembelajaran yang terjadi saat peneliti melakukan observasi sangat baik. Guru menyampaikan dan menjelaskan materi tidak terlalu cepat. Hal ini menyesuaikan dengan kemampuan siswa. Guru juga selalu menciptakan interaksi yang baik dengan siswa dengan cara memberi pertanyaan di sela penyampaian materi. Walaupun memiliki keterbatasan penglihatan, namun siswa tetap memperhatikan guru dalam memberikan pelajaran dengan antusias. Di kelas II ini, jadwal pelajaran matematika pada hari Selasa jam pertama dan kedua, hari Rabu jam ketiga dan keempat, serta hari Jumat jam pertama dan kedua. Jadwal ini sangat sesuai untuk mengajarkan matematika kepada siswa karena tergolong masih pagi dan siswa masih bersemangat serta masih memiliki konsentrasi yang penuh.