• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1 Metodologi Pengumpulan Data

3.1.2 Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik pengumpulan data atau fakta yang cukup efektif untuk mempelajari suatu sistem. Observasi adalah pengamatan langsung para pembuat keputusan berikut lingkungan fisiknya dan atau pengamatan langsung suatu kegiatan yang sedang berjalan.

Guna mengumpulkan informasi mengenai kebutuhan sistem maka penulis melakukan pengumpulan data dengan cara observasi ditempat penelitian, yaitu pada YAYASAN PEMBINAAN PENDIDIKAN NUSANTARA, tanggal 14 Desember 2009, dengan saudara Raihan Achyar Rusdiasyah, S.Kom yang bertindak sebagai kepala labolaturium jaringan, tentang implementasi Intrusion Detection System untuk

filtering paket data. Dalam penelitian ini, Penulis terjun langsung kelapangan untuk melihat sistem apa yang digunakan. Hal ini dilakukan agar penulis dapat melakukan analisis terhadap sistem yang telah berjalan serta menentukan sistem baru yang akan diterapkan agar cocok dengan sistem yang sudah ada apabila ada ketidak cocokan pada sistem yg digunakan sebelumnya.

3.1.3 Studi Literatur

Berikut adalah bahan pertimbangan dalam penulisan skripsi :

Hidayat (2008) dengan judul skripsi “Pengembangan Intrusion Detction system dan Active Respone pada Transparent Single-Homed Bastion Host HTTP Proxy Server Firewall Sebagai Solusi Keamanan Sistem Proxy.Berikut adalah abstrak dari saudara Hidayat:

HTTP proxy server yang bertugas sebagai penyedia layanan protocol

http (akses internet) yang dibangun sebagai server terintegrasi dari sejumlah layanan spesifik, berperan sangat penting didalam suatu sistem jaringan komputer. Berbagai aset informasi penting yang berada didalamnya membuat aspek keamanan sistem proxy menjadi sangat krusial sedemikian sehingga dibutuhkan suatu system yang dapat mendeteksi sekaligus mencegah aktifitas intruksi dan serangan yang mengancam sistem proxy.

Transparent single-homed bastion HTTP proxy server firewall

sebagai satu-satunya host internal yang dapat berkomunikasi dengan internet (eksternal) melalui satu network adapter, IDS adalah sistem yang secara intensif melakukan pendeteksian aktifitas instruksi dan penyerangan terhadap aset/sumber daya sistem jaringan komputer.

Active respone adalah mekanisme yang produktif merespon dan mencegah network traffic yang mendeteksi IDS sebagai sebagai suatu aktifitas instruksi/serangan.

Metode pengembangan sistem yang digunakan dalam penelitian ini adalah NDLC. Penulis menggunakan Squid (proxy server) yang di implementasikan pada mesin server berbasis Trustux Secure Linux

(TSI) yang juga bertindak sebagai web server (Apace), database server (MYSQI), SSH server (open SSH), FTP Server (USFTP) dan NDS Server (BIND), Snort, barnyard BASE dan oinkmaster

diimplementasikan pada mesin sensor berbasis open BSD, Agen

Snortsam (active respone) diimplementasikan pada mesin sensor,

server dan firewall (berbasis TSI). Keseluruhan sistem dibangun didalam simulasi WAN yang mempresentasikan sistem produksi. Hasil penelitian skripsi ini mengumpulkan bahwa sistem proxy yang secara transparan dengan menggunakan NIC tunggal dan berperan sebagai paket filtering firewalldapat menjadi solusi sistem proxyyang praktis, tangguh dan bermanfaat. Integritas IDS dan active respon

dapat berfungsi mendeteksi sekaligus mencegah aktifitas instruksi/serangan terhadap sistem proxy.

Pada skripsi yang menjadi bahan pertimbangan penulis dalam melakukan penelitian, metode yang digunakan adalah NMAP Port Scanning Attack dan URL Exploit Attack (HTTP Traffic). Sedangkan yang penulis lakukan pada skripsi ini adalah pendeteksian dan pemantauan terhadap jaringan komputer dengan menggunakan aplikasi Snortdan beberapa aplikasi pendukung seperti BASE (Basic Analysis and Security Engine), Wireshark / Ethereal, Bandwidthd, dan MRTG (Multi Router Traffic Grapher) dengan tujuan mengetahui bagaimana proses serangan dapat terjadi dan bagaimana cara penaggulangannya serta yang membedakan skripsi penulis dengan skripsi sebelumnya adalah dalam penerapan sistem keamanan yang digunakan yaitu dengan menggunakan metode MAC Filteringdan IPTables.

3.2 Metode Pengembangan Sistem

NDLC (Network Development Life Cycle) adalah menetapkan strategi untuk melakukan pembaharuan suatu organisasi dari sistem jaringan. Tahapan-tahapan dari NDLC yang diambil oleh penulis dalam melakukan penelitian pengembangan aplikasi ini adalah:

1. Analysis. Pada tahap ini dilakukan perumusan masalah, mengidentifikasi konsep dari IDS, Ethereal, dan beberapa perangkat jaringan., mengumpulkan data dan mengidentifiksikan kebutuhan seluruh komponen sistem tersebut, sehingga spesifikasi kebutuhan sistem IDS dan

Snort dapat diperjelas dan perinci. Pada tahapan analisis penulis melakukan:

a. Identifikasi : penulis mencoba mengidentifikasi permasalahan yang ada, seperti mencari dari mana serangan itu datang beserta caranya, dan bagaimana cara mengatasi terhadap serangan tersebut.

b. Understand : penulis melakukan pemahaman dari berbagai sumber mengenai proses penyerangan dilakukan, serta mencari cara dalam pencegahan.

c. Analyze : penulis melakukan analisa terhadap perangkat lunak yang ada, apa sudah memenuhi syarat atau harus membutuhkan tambahan perangkat lunak.

d. Report : setelah tahapan yang sebelumnya dilakukan maka penulis melakukan pelaporan hasil dari fase analisis ini.

2. Design. Tahap ini merupakan perancangan mendefinisiskan “bagaimana cara sistem tersebut dapat melakukannya”. Pada fase ini, spesifikasi perancangan sistem yang akan dibangun merupakan hasil dari tahapan analisis yang akan digunakan untuk menghasilkan spesifikasi perancangansistem yang akan dikembangkan. Pada tahap perancangan penulis melakukan :

a. Merancang topologi jaringan untuk simulasi WAN sebagai representasi lingkungan jaringan sebenarnya.

b. Merancang penggunaan sistem operasi dan aplikasi pada server,

3. Simulation Prototyping.Tahapan selanjutnya adalah pembuatan prototype

sistem yang akan dibangun sebagai simulasi dari implementasi sistem produksi. Dengan demikian dapat diketahui gambaran umum dari proses komunikasi, keterhubungan dan mekanisme kerja dari interkoneksi keseluruhan elemen sistem yang akan dikembangkan. Pada tahap ini penulis dalam melakukan pengembangan sistem menggunakan media virtualisasi yaitu VM-Ware untuk menghindari kesalahan dan kerusakan data. Pada tahap ini yang dilakukan penulis adalah membangun jaringan virtual.

4. Implementation. Dimana fase ini, rancangan solusi pada fase perancangan digunakan sebagai panduan instruksi implementasi pada ruanglingkup WAN (Wide Area Notwork). Aktivitas yang dilakukan pada fase ini diantaranya adalah instalasi dan konfigurasi terhadap topologi jaringan, IDS, Snort, dan perangkat lainnya.

5. Monitoring. Hal ini mengingat proses yang dilakukan melalui aktivitas pengoperasian dan pengamatan terhadap sistem yang sudah dibangun atau dikembangkan dan sudah diterapkan untuk memastikan dimana IDS, Wireshark,dan serverpendukung sudah berjalan dengan baik pada ruang lingkup jaringan WAN. Yang dilakukan pada fase ini adalah melakukan pengujian untuk memastikan apakah sistem IDS yang dikembangkan sudah sesuai dengan kebutuhan atau menjawab semua spesifikasi pertanyaan dan permasalahan yang dirumuskan.

6. Management. Pada NDLC proses manajemen atau pengelolaan sejalan dengan aktivitas perawatan atau pemeliharaan sistem, jaminan efektivitas dan interkoneksi sistem menjadi masukan pada tahap ini untuk mendapatkan keluaran berupan jaminan fleksibelitas dan kemudahan pengelolaan serta pengembangan sistem IDS dan Snort dimasa yang akan datang.

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan menjelaskan proses implementasi sistem monitoring keamanan jaringan yang mengintegrasikan IDS dan Snort yang berbasis open source, dalam studi kasus pengamanan diterapkan pada mesin sensor dengan menerapkan landasan teori dan metode penelitian yang sudah dibahas pada bab-bab sebelumnya.

Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode NDLC. Dengan NDLC, siklus hidup pengembangan sistem jaringan didefinisikan pada sejumlah fase, antara lain : analysis, design, simulation prototyping, implementation, monitoring, danmanagement.

4.1 Analisis

Model NDLC memulai siklus pengembangan sistem jaringannya pada tahap analisis. Penulis membagi aktifitas pada tahap analisis ini menjadi beberapa fase, yaitu : identifikasi (mengidentifikasi rumusan masalah), pemahaman (memahami rumusan masalah dan memahami bentuk penyelesaian permasalahan), analisis (analisis kebutuhan sistem rancangan), dan report(pelaporan yang berisi spesifikasi dari hasil analisis)

4.1.1 Identifikasi

Identifikasi dari terjadinya aktivitas penyusupan dan penyerangan pada aset atau sumberdaya sistem adalah tidak adanya sistem yang

intensif mengamati dan analisis arus paket penyusupan atau penyerangan sehingga tidak ada tindakan pencegahan lebih lanjut untuk mengurangi resiko terjadinya berbagai dampak buruk penyusupan dan penyerangan terhadap aset-aset sumber daya pada YAYASAN PEMBINAAN PENDIDIKAN NUSANTARA khususnya dalam penelitian ini.

4.1.2 Understand

Hasil identifikasi rumusan permasalahan diatas membutuhkan pemahaman yang baik agar dapat menghasilkan solusi yang tepat guna. Dengan menggunakan metode studi pustaka penulis memanfaatkan perpustakaan dan internet untuk mengumpulkan sejumlah data dan informasi dari berbagai sumber dalam bentuk buku, makalah, literatur, artikel dan berbagai situs web mengenai topik permasalahan terkait. Hasilnya digunakan untuk memahami permasalah yang terjadi untuk merumuskan solusi efektif dalam menyelesaikan berbagai rumusan permasalahan.

Pemahaman ini pulalah yang penulis gunakan untuk merancang, membangun dan mengimplementasikan sistem yang diharapkan dapat mengatasi berbagai perumusan permasalahan yang ada. Penulis terfokus untuk memahami konsep-konsep dari sistem IDS (Intrusion Detection System), dan sistem pencegah intrusi.

4.1.3 Analyze

Analisa kebutuhan perangkat sistem IDS (Intrusion Detection System) merupakan faktor penunjang sebagai pondasi awal untuk mempeorleh suatu keluaran yang diinginkan dalam penulisan ini. Penulis akan membangun dan mengimplementasikan IDS berbasis

signature/rules pen source, dengan menggunakan integrasi dari Snort, Barnyard, dan BASE.

Snort bertugas mendeteksi berbagai aktifitas intrusi dan penyerangan yang terjadi pada jaringan komputer dan akan memicu

alert bila terjadi aktifitas intrusi. Barnyard bertugas mengenali file outputSnort, sehingga snort dapat bekerja jauh lebih fokus mengamati

traffic. BASE (Basic Analysis Security Engine) bertugas untuk merepresentasikan log file snort kedalam format berbasis web yang lebih bersahabat hingga dapat mempermudah proses audit dan analisis.

4.1.4 Report

Dari tahapan identifikasi, understandi, hingga pada tahap analyze

maka dapat disimpulkan, bahwa pada tempat penulis melakukan penelitian dibutuhkan sistem penunjang keamanan yang dapat merespon tindakan-tindakan intrusi. Sehingga penulis mengambil keputusan untuk menerapkan sistem IDS yang dapat menangkap tindakan tersebut dan diharapkan dapat dilakukannya tahap pencegahan.

Dokumen terkait