• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Pada tempat dimana penulis melakukan penelitian, sistem intrusi yang digunakan sudah cukup merespon terhadap lalulintas dan serangan yang terjadi pada jaringan, akan tetapi lebih baik lagi jika menggunakan sistem intrusi yang memiliki respon yang lebih sensitif terhadap berbagai jenis serangan, sehingga dapat diketahui jenis serangan yang sedang terjadi. 2. Dalam segi pendeteksian yang dilakukan dengan baik karena dapat

melihat lalulintas jaringan yang sedang terjadi, akan tetapi dari sisi pencegahan masih harus dikembangkan lagi dalam melindungi aset yang terdapat pada komputer yang menjadi tujuan dari penyerangan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Zaki. “Laws And Regulations On Consumer Protection”, Salemba, Jakarta, 1999.

ali pangera dan dony ariyus. “sistem operasi”, Andi, Yogyakarta, 2005.

Angela Orebaugh,Gilbert Ramirez,Josh Burke and Jay Beale. “Wireshark & Ethereal network protocol analyzer toolkit”, syngress publihing, canada, 2007.

Becky Pinkard and Angela Orebaugh. “Nmap in the Enterprise: Your Guide to Network Scanning”, syngress, United State Of America, 2008.

Carl Endorf, Eugene Schultz and Jim Mellander. “Instrusion Detection & Prevention”, Emeryville, California, 2004.

Djon Irwanto. “Membangun Object Oriented Software Dengan Java dan Object Database”, PT Alex media komputindo, Jakarta, 2007.

Dony Ariyus. “Intrusion Detection System”, ANDI, Yogyakarta, 2007.

Edhy Sutanta. “Komunikasi Data Dan Jaringan Komputer”, Graham Ilmu, Yogyakarta, 2005.

Edi S. Mulyanta. “Pengenalan Protokol Jaringan Wireless Komputer”, ANDI, yogyakarta, 2005.

Hendra Wijaya. “Belajar Sendiri : Exchange Server 2007”, PT.elex media komputindo, Jakarta, 2007.

http://cahyoedi.files.wordpress.com/2008/03/layer-protocol-standar-ieee- 80216.jpg

Kenneth C Laudon dan Jean P laudon. “Sistem Informasi Manajemen 2 (ed.10)”, salemba empat, jakarta, 2008.

Lammle, Todd. “CCNA : Cisco Certified Network Associate Study Guide”, Sybex, Canada, 2007.

Lia Kuswayatno. “Mahir Berkomputer”, Grafindo Media Pratama, Jakarta, 2006. Lukas Tanutama. “Jaringan Computer”, PT. Alex Media Komputindo, Jakarta,

Mcreynolds. “Networking Basics CCNA 1 Labs and Study Guide”, cisco systems, india, 2007.

Melwin Syafrizal. “Pengantar Jaringan Komputer”, Andi, Yogyakarta, 2005. Murti Martoyo. “Lahirnya tahun Indonesia untuk ilmu pengetahuan 2005-2006:

buku eksklusif”, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,Indonesia, 2005. Naproni. “Seri Penuntun Praktis : Membangun Lan Dengan Windows Xp”,

PT.elex media komputindo, Jakarta, 2007.

Onno W Purbo. “Buku Pintar Internet TCP/IP”, PT. Alex Media Komputindo, Jakarta, 2007.

Rahmat Rafiudin. “Panduan Membangun Jaringan Komputer Untuk Pemula”, PT.elex media komputindo, Jakarta, 2003

Rahmat Rafiudin. “MengupasTuntas Cisco Router”, PT.elex media komputindo, Jakarta, 2003.

Telkom.net. “Packet-switched”, artikel ini diakses tanggal 23 februari 2010 pada jam 20.07, dari http://www.telkom.net/index.php?option= com_glossary&func=display&letter=P&Itemid=86&catid=39&page=1 Wahana Komputer. “SPP Menginstal Jaringan Komputer”, PT. Alex Media

Komputindo, Jakarta, 2006.

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. “Topologi Jaringan”, artikel ini diakses tanggal 23 februari 2010 pada jam 19.24, dari http://clickmusab.blogspot.com/2010/04/perangkat-perangkat-wan.html

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. “Topologi Jaringan”, artikel ini diakses tanggal 23 februari 2010 pada jam 15:29, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Jaringan_komputer

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. “Analisis”, artikel ini diakses tanggal 24 februari 2010 pada jam 12:24, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis

Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. “Circuit switching”, artikel ini

diakses tanggal 28 April 2010, dari

Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. “Sistem Deteksi Instruksi”, artikel ini diakses tanggal 12 September 2008, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_deteksi_intrusi

Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. “Jaringan Komputer”, artikel

ini diakses tanggal 23 Mei 2010, dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Jaringan_komputer

Yuni Sare dan P. Citra. “Antropologi SMA/MA Kls XII (Diknas)”, PT. Grasindo, Jakarta, 2006.

IMPLEMENTASI INTRUSION DETECTION SYSTEM UNTUK FILTERING

PAKET DATA

(Implementation Intrusion Detection System For Filtering Data Packets)

Muhammad Satria Nugraha

Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

E-mail : [email protected]

ABSTRAK

Gangguan keamanan dapat dibagi menjadi dua kategori, gangguan internal dan gangguan eksternal. Gangguan internal terjadi dari pihak yang sudah mengetahui kondisi jaringan, dan gangguan eksternal terjadi dari pihak yang sengaja ingin menjatuhkan dinding keamanan. Gangguan keamaan yang terjadi pada tempat yang menjadi studi kasus ini terjadi dari pihak internal yang ingin menjatuhkan sistem kerja jaringan dan ingin mencoba ketahanan dari keamanan jaringan yang ada pada tempat tersebut. Dengan menggunakan IDS (Intrusion Detection System) hal tersebut dapat diatasi dengan cara mengenali setiap pola serangan yang dilakukan oleh intruder. Untuk mendeteksi setiap gejala serangan tersebut, sistem menggunakan pola pengenalan terhadap source yang didapat dari pihak yang dianggap sebagai ancaman dalam sistem jaringan komputer. Metode pengembangan sistem yang digunakan dalam penelitian ini adalah Network Development Life Cycle.Penulis menggunakan Snort, Barnyard, dan BASE yang diimplementasikan pada mesin sensor berbasis Open Source. Keseluruhan sistem dibangun dalam simulasi WAN yang merepresentasikan sistem produksi. Hasil penelitian skripsi ini menyimpulkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh penyerang terhadap jaringan dapat diketahui oleh mesin sensor, sehingga dapat dilakukan pencegahan sebelum terjadi kerusakan data yang lebih luas.

Kata Kunci: Intrusion Detection System(IDS), Snort, BASE

1. PENDAHULUAN

Gangguan pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua bagian, pertama adalah gangguan internal dan kedua adalah gangguan eksternal. Gangguan internal merupakan gangguan yang berasal dari lingkup dalam jaringan infrastruktur tersebut, dalam hal ini adalah pihak-pihak yang telah mengetahui kondisi keamanan dan kelemahan dari jaringan tersebut. Gangguan eksternal adalah gangguan yang berasal dari pihak luar yang ingin mencoba atau dengan sengaja ingin membobol dinding keamanan yang ada.

Pada yayasan yang menjadi tempat studi kasus penulis, terdapat gangguan keamanan yang terjadi dari pihak internal yaitu seorang pengguna yang ingin menjatuhkannya kinerja dari jaringan dan melakukan pengujian ketahanan terhadap sistem keamanan yang terdapat pada tempat penelitian penulis. Penulis melakukan pemantauan terhadap jaringan menemukan adanya tingkat lalu-lintas yang cukup tinggi. Proses tersebut terjadi melalui koneksi jaringan wireless yang disediakan oleh pihak yayasan yang berhasil diakses oleh pihak yang ingin melakukan pengerusakan.

Sistem untuk mendeteksi gangguan dari segi- segi yang telah dipaparkan diatas memang telah banyak dibuat, tetapi sistem yang mampu melakukan pendeteksian seperti halnya manusia sangatlah jarang, dalam hal ini mampu melakukan analisa serta mempelajari kondisi yang ada. Keamanan jaringan

bergantung pada kecepatan pengaturan jaringan dalam menindaklanjuti sistem saat terjadi gangguan. Salah satu komponen dari jaringan komputer yang perlu dikelola dengan menggunakan manajemen jaringan adalah Intrusion Detection System (IDS). Penerapan IDS diusulkan sebagai salah satu solusi yang dapat digunakan untuk membantu pengaturan jaringan untuk memantau kondisi jaringan dan menganalisa paket- paket berbahaya yang terdapat dalam jaringan tersebut.

IDS diterapkan karena mampu medeteksi paket- paket berbahaya pada jaringan dan langsung memberikan peringatan kepada pengatur jaringan tentang kondisi jaringannya saat itu. Sudah terdapat banyak software IDS seperti Snort yang merupakan open source IDS yang juga digunakan dalam penelitian khususnya untuk filtering paket data. Namun belum terdapat sistem antar muka yang membantu para pengguna dalam mengatur sistem sehingga penerapan IDS ini masih sulit dilakukan. Oleh karena itu pada YAYASAN PEMBINAAN PENDIDIKAN NUSANTARA diusulkan untuk membuat sistem IDS lengkap dengan tampilan antar muka berbasiskan web dengan beberapa fitur tambahan yang diharapkan dapat membantu administrator dalam memonitor kondisi jaringannya serta meningkatkan mutu jaringan tersebut.

2. LANDASAN TEORI

2.1 Intrusion Detection System(IDS)

Webster's mendefinisikan sebuah intrusi sebagai "tindakan pemaksaan, memasuki tempat atau negara tanpa adanya undangan, dibenarkan, atau sambutan". Ketika kita berbicara tentang deteksi intrusi kita mengacu kepada tindakan mendeteksi suatu gangguan yang tidak sah oleh komputer di sebuah jaringan. Tindakan ini (intrusi), merupakan upaya untuk kompromi, atau dinyatakan merugikan, ke perangkat jaringan lainnya.

(Kohlenberg, 2007:2)

2.1.1 Fungsi Intrusion Detection System

Beberapa alasan untuk memperoleh dan menggunakan IDS (intrusion detection system) (Ariyus, 2007:31), diantaranya adalah:

1. Mencegah resiko keamanan yang terus meningkat, karena banyak ditemukan kegiatan ilegal yang diperbuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan hukuman yang diberikan atas kegiatan tersebut.

2. Mendeteksi serangan dan pelanggaran keamanan sistem jaringan yang tidak bisa dicegah oleh sistem umum pakai, seperti firewall. Sehingga banyak menyebabkan adanya begitu banyak lubang keamanan, seperti:

 Banyak dari legacy sistem, sistem operasi tidak patch maupun update.

 Patch tidak diperhatikan dengan baik, sehingga menimbulkan masalah baru dalam hal keamanan.

 User yang tidak memahami sistem, sehingga jaringan dan protokol yang mereka gunakan memiliki lubang keamana.

 User dan administrator membuat kesalahan dalm konfigurasi dan dalam menggunakan sistem. 3. Mendeteksi serangan awal.

Penyerang akan menyerang suatu siste yang biasanya melakukan langkah-langkah awal yang mudah diketahui yaitu dengan melakukan penyelidikan atau menguji sistem jaringan yang akan menjadi target, untuk mendapatkan titik-titik dimana mereka akan masuk.

4. Mengamankan file yang keluar dari jaringan.

5. Sebagai pengendali untuk rancangan keamanan dan administrator, terutama bagi perusahaan yang besat Menyediakan informasi yang akurat terhadap ganguan secara langsung, meningkatkan diagnosis, recovery, dan mengoreksi faktor-faktor penyebab serangan.

2.1.2 Peran Intrusion Detection System

IDS (intrusion detection system) juga memiliki peran penting untuk mendapatkan arsitektur defence-in-depth (pertahanan yang mendalam) dengan melindungi akses jaringan internal, sebagai tambahan dari parameter defence. Hal-hal yang dilakukan IDS (intrusion detection system) pada jaringan internal adalah sebagai berikut:

(Ariyus, 2007:34)

Memonitor akses database : ketika mempetimbangkan pemilihan kandidat untuk penyimpanan data, suatu perusahaan akan memilih database sebagai solusi untuk menyimpan data-data yang berharga.

Melindungi e-mail server : IDS (intrusion detection system) juga berfungsi untuk mendeteksi virus e-mail seperti QAZ, Worm, NAVIDAD Worm, dan versi terbaru dari ExploreZip.

Memonitor policy security : jika ada pelanggaran terhadap policy security maka IDS (intrusion detection system) akan memberitahu bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan yang ada.

2.1.3 Tipe Intrusion Detection System

Pada dasarnya terdapat tiga macam IDS (intrusion detection system), yaitu: (Ariyus, 2007:36)

1. Network based Intrusion Detection System(NIDS) : Semua lalu lintas yang mengalir ke sebuah jaringan akan dianalisis untuk mencari apakah ada percobaan serangan atau penyusupan ke dalam sistem jaringan. NIDS umumnya terletak di dalam segmen jaringan penting di mana server berada atau terdapat pada "pintu masuk" jaringan. Kelemahan NIDS adalah bahwa NIDS agak rumit diimplementasikan dalam sebuah jaringan yang menggunakan switch Ethernet, meskipun beberapa vendor switch Ethernet sekarang telah menerapkan fungsi IDS di dalam switch buatannya untuk memonitor port atau koneksi.

2. Host based Intrusion Detection System (HIDS): Aktivitas sebuah hostjaringan individual akan dipantau apakah terjadi sebuah percobaan serangan atau penyusupan ke dalamnya atau tidak. HIDS seringnya diletakkan pada server-server kritis di jaringan, seperti halnya firewall, web server, atau server yang terkoneksi ke Internet.

3. Distributed Intrusion Detection System (DIDS) : sekumpulan sensor IDS yang saling terhubung satu sama lain dan berfungsi sebagai remotet sensor (sensor jarak jauh) yang memberikann

pelaporanpada manajemen sistem terpusat.

2.1.4 Keuntungan dan Kekurangan IDS

Berikut ini beberapa keuntungan dari penerapan IDS pada sistem jaringan komputer :

1.Secara efektif mendeteksi aktifitas penyusupan, penyerangan atau tindak pelanggaran lainnya yang mengacam aset atau sumber daya sistem jaringan.

2.IDS membuat administrator diinformasikan tentang status keamanan. 3.IDS secara berkesinambungan mengamati

traffic dari sistem jaringa komputer dan secara rinci menginformasikan setiap event yang berhubungan dengan aspek keamanan.

4.IDS menyediakan informasi akurat terhadap gangguan secara langsung, meningkatkan diagnosis, pemulihan, mengoreksi sejumlah faktor penyebab intursi atau serangan.

5.Sejumlah file log yang berisi catatan aktifitas kinerja IDS adalah bagian penting dari forensik komputer yang dapat digunakan sebagai sumber informasi untuk proses penelusuran aktivitas serangan yang terjadi, analisis dan audit kinerja sensor IDS serta sebagai barang bukti untuk tindakan hukum.

Ada pula kekeurangan yang terdapat pada penerapan sensor IDS, sebagai berikut :

1. Rentang waktu antara pengembangan teknik penyerangan atau intrusi dan pembuatan signature, memungkinkan penyerang untuk mengeksploitasi IDS yang tidak mengenali jenis serangan spesifik. Karena signature tidak dapat dibuat tanpa mempelajari traffic seranagan.

2. False Negative adalah serangan sesungguhnya yang tidak terdeteksi maka tidak ada peringatan atau notificationmengenai peristiwa ini. 3. False Positive adalah kesalahan IDS

dalam mendeteksi traffic network normal sebagai suatu serangan. Jika terjadi dalam jumlah besar berkemungkinan menutupi kejadian intrusi sesungguhnya.

2.2 Snort

Snort merupakan suatu perangkat lunak untuk mendeteksi penyusup dan mampu menganalisis paket yang melintasi jaringan secara real time traffic dan logging kedalam database serta mampu mengidentifikasi berbagai serangan yang berasal dari luar jaringan.(Ariyus, 2007:145)

Program snort dioperasikan dengan tiga mode : 1. paket sniffer :untuk melihat paket yang lewat

di jaringan.

2. paket logger : untuk mencatat semua paket yang lewat di jaringan untuk dianalisis dikemudian hari.

3. NIDS (Network Intrusion Detection System) : pada mode ini snort akan berfungsi untuk mendeteksi serangan yang dilakukan melalui jaringan komputer.

Snort memiliki komponen yang bekerja saling berhubungan satu dengan yang lainnya seperti berikut ini.(Ariyus, 2007:146)

1. Decoder : sesuai dengan paket yang di- capture dalam bentuk struktur data dan melakukan identifikasi protokol, decode IP dan kemudian TCP atau UDP tergantung informasi yang dibutuhkan, seperti port number, dan IP address. Snort akan memberikan peringatan jika menemukan paket yang cacat.

2. Preprocessors : suatu saringan yang mengidentifikasi berbagai hal yang harus diperiksa seperti Detection Engine. Preprocessors berfungsi mengambil paket yang berpotensi membahayakan, kemudian dikkirin ke detection engine untuk dikenali polanya.

3. Rules File : merupakan suatu file teks yang berisi daftara aturan yang sintaks-nya sudah diketahui. Sintaks ini meliputi protokol, address, output plug-ins dah hal-hal yang berhubungan dengan berbagai hal.

4. Detection Engine : menggunakan detection plug-ins, jika ditemukan paket yang cocok maka snort akan menginisialisasi paket tersebut sebagai suatu serangan.

5. Output Plug-ins : suatu modul yang mengatur format dari keluaran untuk alertdan file logs yang bisa diakses dengan berbagai cara, seperti console, extern files, database, dan sebagainya.

2.3 BASE (Basic Analysis and Security Engine) BASE adalah sebuah interface web untuk melakukan analisis dari intrusi yang snort telah deteksi pada jaringan. (Orebaugh, 2008:217)

BASE ditulis oleh kevin johnson adalah program analisis sistem jaringan berbasis PHP yang mencari dan memproses database dari security event yang dihasilkan oleh berbagai program monitoring jaringan, firewall, atau sensor IDS.(Kohlenberg, 2007:424)

Ini menggunakan otentikasi pengguna dan sistem peran dasar, sehingga Anda sebagai admin keamanan dapat memutuskan apa dan berapa banyak informasi yang setiap pengguna dapat melihat. Ini juga mudah untuk digunakan, program setup berbasis web bagi orang-orang tidak nyaman dengan mengedit file secara langsung.

3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Pengumpulan Data

3.1.1 Studi Pustaka

Untuk melengkapi kebutuhan informasi yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan informasi dari beberapa

referensi yang diperoleh dari buku-buku yang terdapat didalam perpustakaan dan beberapa artikel atau buku elektronik yang diperoleh dari media Internet.

3.1.2 Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik pengumpulan data atau fakta yang cukup efektif untuk mempelajari suatu sistem. Observasi adalah pengamatan langsung para pembuat keputusan berikut lingkungan fisiknya dan atau pengamatan langsung suatu kegiatan yang sedang berjalan.

Guna mengumpulkan informasi mengenai kebutuhan sistem maka penulis melakukan pengumpulan data dengan cara observasi ditempat penelitian, yaitu pada YAYASAN PEMBINAAN PENDIDIKAN NUSANTARA, tanggal 14 Desember 2009, dengan saudara Raihan Achyar Rusdiasyah, S.Kom yang bertindak sebagai kepala labolaturium jaringan, tentang implementasi Intrusion Detection System untuk filtering paket data. Dalam penelitian ini, Penulis terjun langsung kelapangan untuk melihat sistem apa yang digunakan. Hal ini dilakukan agar penulis dapat melakukan analisis terhadap sistem yang telah berjalan serta menentukan sistem baru yang akan diterapkan agar cocok dengan sistem yang sudah ada apabila ada ketidak cocokan pada sistem yg digunakan sebelumnya.

3. 1.3 Studi Literatur

Berikut adalah bahan pertimbangan dalam penulisan skripsi :

Hidayat (2008) dengan judul skripsi “Pengembangan Intrusion Detction system dan Active Respone pada Transparent Single-Homed Bastion Host HTTP Proxy Server Firewall Sebagai Solusi Keamanan Sistem Proxy. Berikut adalah abstrak dari saudara Hidayat:

HTTP proxy server yang bertugas sebagai penyedia layanan protocol http (akses internet) yang dibangun sebagai server terintegrasi dari sejumlah layanan spesifik, berperan sangat penting didalam suatu sistem jaringan komputer. Berbagai aset informasi penting yang berada didalamnya membuat aspek keamanan sistem proxy menjadi sangat krusial sedemikian sehingga dibutuhkan suatu system yang dapat mendeteksi sekaligus mencegah aktifitas intruksi dan serangan yang mengancam sistem proxy.

Transparent single-homed bastion HTTP proxy server firewall merupakan serverHTTP proxyberjenis transparan yang ditempatkan sebagai satu-satunya host internal yang dapat berkomunikasi dengan internet (eksternal) melalui satu network adapter, IDS adalah sistem yang secara intensif melakukan pendeteksian aktifitas instruksi dan penyerangan terhadap

aset/sumber daya sistem jaringan komputer. Active respone adalah mekanisme yang produktif merespon dan mencegah network traffic yang mendeteksi IDS sebagai sebagai suatu aktifitas instruksi/serangan.

Metode pengembangan sistem yang digunakan dalam penelitian ini adalah NDLC. Penulis menggunakan Squid (proxy server)yang di implementasikan pada mesin server berbasis Trustux Secure Linux (TSI) yang juga bertindak sebagai web server (Apace), database server (MYSQI), SSH server (open SSH), FTP Server (USFTP) dan NDS Server (BIND), Snort, barnyard BASE dan oinkmaster diimplementasikan pada mesin sensor berbasis open BSD, Agen

Snortsam (active respone)

diimplementasikan pada mesin sensor, server dan firewall (berbasis TSI). Keseluruhan sistem dibangun didalam simulasi WAN yang mempresentasikan sistem produksi.

Hasil penelitian skripsi ini mengumpulkan bahwa sistem proxy yang secara transparan dengan menggunakan NIC tunggal dan berperan sebagai paket filtering firewall dapat menjadi solusi sistem proxy yang praktis, tangguh dan bermanfaat. Integritas IDS dan active respon dapat berfungsi mendeteksi sekaligus mencegah aktifitas instruksi/serangan terhadap sistem proxy.

Pada skripsi yang menjadi bahan pertimbangan penulis dalam melakukan penelitian, metode yang digunakan adalah

NMAP Port Scanning Attack dan URL Exploit Attack (HTTP Traffic). Sedangkan yang penulis lakukan pada skripsi ini adalah pendeteksian dan pemantauan terhadap jaringan komputer dengan menggunakan aplikasi Snort dan beberapa aplikasi pendukung seperti BASE (Basic Analysis and Security Engine), Wireshark / Ethereal, Bandwidthd, dan

MRTG (Multi Router Traffic Grapher) dengan tujuan mengetahui bagaimana proses serangan dapat terjadi dan bagaimana cara penaggulangannya serta yang membedakan skripsi penulis dengan skripsi sebelumnya adalah dalam penerapan sistem keamanan yang digunakan yaitu dengan menggunakan metode MAC Filteringdan IPTables. 3.2 Metode Pengembangan Sistem

NDLC (Network Development Life Cycle) adalah menetapkan strategi untuk melakukan pembaharuan suatu organisasi dari sistem jaringan. Tahapan-tahapan dari NDLC yang diambil oleh penulis dalam melakukan penelitian pengembangan aplikasi ini adalah:

1. Analysis. Pada tahap ini dilakukan perumusan masalah, mengidentifikasi konsep dari IDS, Ethereal, dan beberapa perangkat jaringan., mengumpulkan data dan mengidentifiksikan kebutuhan seluruh komponen sistem tersebut,

sehingga spesifikasi kebutuhan sistem IDS dan Snort dapat diperjelas dan perinci. Pada tahapan analisis penulis melakukan:

a. Identifikasi : penulis mencoba mengidentifikasi permasalahan yang ada, seperti mencari dari mana serangan itu datang beserta caranya, dan bagaimana cara mengatasi terhadap serangan tersebut. b. Understand : penulis melakukan

pemahaman dari berbagai sumber mengenai proses penyerangan dilakukan, serta mencari cara dalam pencegahan.

c. Analyze : penulis melakukan analisa terhadap perangkat lunak yang ada, apa sudah memenuhi syarat atau harus membutuhkan tambahan perangkat lunak. d. Report : setelah tahapan yang sebelumnya

dilakukan maka penulis melakukan pelaporan hasil dari fase analisis ini.

2. Design. Tahap ini merupakan perancangan mendefinisiskan “bagaimana cara sistem tersebut dapat melakukannya”. Pada fase ini, spesifikasi perancangan sistem yang akan dibangun merupakan hasil dari tahapan analisis yang akan digunakan untuk menghasilkan spesifikasi perancangansistem yang akan dikembangkan. Pada tahap perancangan penulis melakukan :

a. Merancang topologi jaringan untuk simulasi WAN sebagai representasi lingkungan jaringan sebenarnya.

b. Merancang penggunaan sistem operasi dan aplikasi pada server, client, dan komputer penyusup.

3. Simulation Prototyping. Tahapan selanjutnya adalah pembuatan prototype sistem yang akan dibangun sebagai simulasi dari implementasi sistem produksi. Dengan demikian dapat diketahui gambaran umum dari proses komunikasi, keterhubungan dan mekanisme kerja dari interkoneksi keseluruhan elemen sistem yang akan dikembangkan. Pada tahap ini penulis dalam melakukan pengembangan sistem menggunakan media virtualisasi yaitu VM-Ware untuk menghindari kesalahan dan kerusakan data. Pada tahap ini yang dilakukan penulis adalah membangun jaringan virtual.

4. Implementation. Dimana fase ini, rancangan solusi pada fase perancangan digunakan sebagai panduan instruksi implementasi pada ruanglingkup WAN (Wide Area Notwork). Aktivitas yang dilakukan pada fase ini diantaranya adalah instalasi dan konfigurasi terhadap topologi jaringan, IDS, Snort, dan perangkat lainnya.

5. Monitoring. Hal ini mengingat proses yang dilakukan melalui aktivitas pengoperasian dan pengamatan terhadap sistem yang sudah dibangun atau dikembangkan dan sudah diterapkan untuk memastikan dimana IDS, Wireshark, dan server pendukung sudah

Dokumen terkait