• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Penelitian

1. Observasi pra penelitian

Observasi pendahuluan (pra penelitian) dilakukan di kelas XI IPS 1 dan kelas XI IPS 2. Observasi pendahuluan ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 15 Oktober 2012 pada jam pelajaran ke- 5 dan 6 di kelas XI IPS 1 dan hari Jumat, 19 Oktober 2012 pada jam pelajaran ke- 3 dan 4 di kelas XI IPS 2. Guru mitra dalam penelitian ini adalah Bapak Drs. Al. Candra Widyantara sebagai guru bidang studi ekonomi dan akuntansi. Observasi ini bertujuan untuk membandingkan situasi dan kondisi belajar siswa. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kelas mana yang tepat untuk diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di kelas XI IPS 1 dan kelas XI IPS 2 dapat dilihat bahwa kelas XI IPS 2 tingkat motivasi dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas lebih rendah dibandingkan dengan kelas XI IPS 1. Hal tersebut dapat dilihat dari respon siswa ketika guru memberikan pertanyaan kepada siswa hanya beberapa siswa yang bisa menjawab pertanyaan dari guru dan timbal balik siswa ketika guru memberikan tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok, siswa tidak langsung berkumpul dengan kelompoknya dan harus menunggu guru untuk menegur mereka. Jumlah siswa kelas XI IPS 2 sebanyak 36 siswa, dengan siswa berjenis kelamin

perempuan 17 siswa dan siswa berjenis kelamin laki-laki 19 siswa. Berikut ini diuraikan hasil observasi pendahuluan sebelum adanya penerapan TGT:

a. Observasi guru (observing teacher)

Kegiatan guru selama proses pembelajaran tampak dalam catatan anekdotal hasil observasi kegiatan guru (lampiran 1a, hal 159). Kegiatan pembelajaran dimulai dengan guru mengucapkan salam, dan mengulas kembali materi sebelumnya. Kemudian guru melakukan apersepsi dengan cara bertanya jawab dengan siswa. Hal ini dilakukan untuk merangsang perhatian siswa sehingga siswa dapat mengerti akan materi yang akan dipelajari.

Pada observasi ini, kondisi kelas belum kondusif untuk pembelajaran karena masih ada siswa yang mengobrol dengan teman sebangku atau belakangnya dan melakukan aktifitas sendiri seperti menyanyi. Dalam hal ini guru berusaha untuk mengendalikan kelas dengan cara menyapa dan menjelaskan bahwa kegiatan pembelajaran akan segera dimulai. Secara perlahan kondisi kelas menjadi tenang dan kondusif untuk belajar. Guru menyampaikan materi kepada siswa dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan bimbingan individu. Selesai menyampaikan materi pembelajaran, guru memberikan tugas kepada siswa dan dikerjakan secara berkelompok. Setelah pembelajaran selesai, guru mengucapkan

salam penutup dan mengingatkan siswa untuk belajar kembali mengenai materi yang dipelajari ketika proses pembelajaran.

Tabel 5.1

Hasil Observasi Aktivitas Guru Sebelum TGT

No Deskriptor Ya Tidak

1 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran √

2 Guru mengorganisasikan bahasan yang

bersifat umum menjadi pokok bahasan yang

lebih sempit untuk membantu siswa

memahami materi

3 Guru memberikan materi yang akan dipelajari dalam kegiatan belajar mengajar melalui presentasi kelas

√ 4 Guru ikut berperan dalam pembentukan

kelompok

√ 5 Guru memberikan dorongan motivasi kepada

siswa agar terlibat aktif dalm diskusi kelompok

√ 6 Guru memberikan pengarahan kepada siswa

dalam pengerjaan lembar kegiatan

√ 7 Guru memotivasi siswa agar ada kerjasama

yang baik antar individu di dalam kelompok diskusinya

√ 8 Guru mengamati atau mengobservasi proses

pembelajaran dalam kegiatan diskusi

kelompok

√ 9 Guru berinteraksi dengan siswa dan terlibat

dalam kelompok serta menjawab pertanyaan yang diajukan siswa secara perorangan

√ 10 Guru memberikan kesempatan kepada siswa

untuk memecahkan masalah dan mencari sumber informasi secara mandiri

√ 11 Guru tidak berinteraksi dengan siswa, tidak

menjelaskan cara kerja kelompok dan bekerja sama dalam kelompok

√ 12 Guru membiarkan siswa membuat kegaduhan

di dalam kelas

√ 13 Guru hanya berinteraksi dan memperhatikan

kelompok tertentu saja yang mengalami kesulitan

√ 14 Guru dan siswa sama-sama asyik dengan

pekerjaannya masing-masing sehingga

suasana kelas menjadi kaku.

15 Guru meninggalkan kelas saat siswa bekerja di dalam kelompok sehingga tidak ada pengawasan

√ 16 Guru tidak melakukan evaluasi hasil

pembelajaran

√ 17 Guru membiarkan siswa berkeliling dari satu

kelompok ke kelompok lain sehingga suasana kelas menjadi tidak kondusif

√ 18 Guru memberikan penghargaan bagi

kelompok yang memiliki skor terbaik

√ 19 Guru melakukan evaluasi terhadap

peningkatan hasil belajar melalui pretest dan posttest

b. Observasi kelas (observing classroom)

Keadaan kelas selama proses pembelajaran tampak dalam catatan anekdotal hasil observasi kegiatan kelas (lampiran 2a, hal 160). Secara fisik ruang kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 sangat mendukung untuk kegiatan belajar mengajar. Fasilitas di kelas lengkap, misalnya papan tulis, meja guru, kursi guru, meja siswa, kursi siswa, papan presensi, kipas angin, almari, dan penghapus. Ruang kelas bersih, dengan pencahayaan yang cukup karena terdapat beberapa ventilasi. Selain itu di depan kelas juga terdapat taman sehingga suasana terasa sejuk. Lingkungan kelas sudah cukup kondusif untuk kegiatan pembelajaran karena jauh dari jalan raya. Tetapi kadang juga terganggu dengan suara kereta api yang sedang melintas karena letak SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu berseberangan dengan rel kereta api.

Pada awal kegiatan pembelajaran, siswa terlihat belum siap mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga kelas terlihat gaduh. Dari kegiatan di kelas tersebut dapat di lihat pada tabel berikut:

Tabel 5.2

Instrumen Pengamatan Kelas Sebelum TGT

No Deskriptor Ya Tidak

1 Kelas terdiri dari banyak siswa yang memiliki kemampuan belajar dan asal usul yang berbeda-beda

√ 2 Ada sejumlah aturan yang harus ditaati oeh

para siswa √

3 Siswa mengalami kesulitan dalam

menyelesaikan tugas yang diberikan √

4 Buku-buku dan fasilitas pembelajaran mudah ditemukan siswa di kelas (sekolah) √

5 Kerja di dalam kelompok terhambat

dikarenakan beberapa siswa yang tidak ikut terlibat (malas)

√ 6 Beberapa siswa hanya mengandalkan siswa

lain dalam kerja kelompok √

7 Para siswa tampak antusias dengan kerja

kelompoknya √

8 Para siswa berperan aktif dalam aktivitas

pembelajaran √

9 Banyak siswa yang bertanya kepada guru

jika menghadapi kesulitan √

10 Tujuan pembelajaran di dalam kelas tidak

dapat dipahami dengan jelas √

11 Siswa mempunyai rasa ingin tahu yang

tinggi √

12 Sebagian besar siswa telah memiliki sumber

referensi yang digunakan √

13 Kelas terdiri dari berbagai individu yang

tidak mengenal satu sama lain dengan baik √

14 Sebagian besar siswa menganggap materi

yang diberikan sulit √

15 Kelas dapat terorganisir dengan baik √

16 Selama kegiatan pembelajaran berlangsung para siswa saling memberikan pendapat atau masukan bagi tercapainya tujuan yang diharapkan

c. Observasi siswa (observing student)

Keadaan siswa selama proses pembelajaran tampak dalam catatan anekdotal (lampiran 3a, hal 161). Saat pelajaran akan dimulai, siswa masih sibuk dengan kegiatannya sendiri, seperti mengobrol dengan temannya dan menyanyi-nyanyi. Setelah guru mengucapkan salam, siswa mulai memperhatikan penjelasan dari guru. Ketika guru bertanya jawab dengan siswa ada siswa yang aktif menjawab tetapi ada juga siswa yang hanya diam saja. Setelah selesai menjelaskan, guru memberikan latihan soal kepada siswa dan siswa pun menanggapi dengan baik. Guru memberi kebebasan kepada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok. Saat membuat kelompok siswa cenderung berkelompok dengan teman sebangku atau hanya dengan teman yang disukai saja. Di dalam kerja kelompok ada yang mengerjakan, ada yang jalan-jalan di dalam kelas, ada juga yang mencontek pekerjaan teman dengan alasan buku paket hilang. Peneliti melihat tidak adanya motivasi belajar yang baik ketika proses pembelajaran, hal tersebut dapat dilihat dari tingkah laku siswa yang tidak semuanya mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dan ketika tugas tersebut dicocokan hanya siswa yang aktif dalam kerja kelompok saja yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Berdasarkan keadaan tersebut, peneliti menyimpulkan kurangnya motivasi belajar siswa yang menyebabkan kurang aktifnya siswa di dalam kerja kelompok.

Untuk itu diperlukan suatu model pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan keaktifan siswa. Kegiatan siswa dan keaktifan siswa tersebut dapat dilihat pada tabel berikut (lampiran 10a, hal 162).

Tabel 5.3

Hasil Observasi Keaktifan atau Keterlibatan Siswa dalam Proses Pembelajaran (Pra Penelitian)

No Komponen yang diobservasi Jumlah Siswa Presentase (%) 1 Siswa mengajukan pertanyaan kepada guru/kelompok

mengenai materi yang diajarkan 6 6/34*100% = 17,65% 2 Siswa menjawab pertanyaan guru/kelompok 23 23/34*100% = 67,65% 3 Siswa mengemukakan/menang gapi pendapat 4 4/34*100% = 11,76%

4 Siswa mengerjakan soal latihan yang diberikan pada waktu kerja kelompok

16 16/34*100% =

47,06%

5 Siswa yang

mendiskusikan jawaban yang telah ditulis pada lembar jawaban

9 9/34*100% = 26,47%

6 Siswa mencatat materi yang diberikan oleh guru

23 23/34*100% =

67,65%

Berdasarkan hasil observasi kegiatan guru, observasi kegiatan kelas, dan observasi kegiatan siswa serta wawancara dengan guru dan

siswa dapat disimpulkan bahwa selama proses pembelajaran guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan latihan soal. Metode tersebut memang mudah diterapkan akan tetapi metode tersebut menyebabkan siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Metode tersebut dapat mengakibatkan siswa mencari kesibukan sendiri, seperti mengobrol dengan teman sebangku, mengganggu teman yang sedang memperhatikan, dan menyanyi-nyanyi.

Berdasarkan keadaan pembelajaran tersebut, permasalahan yang muncul adalah rendahnya motivasi belajar siswa. Rendahnya motivasi belajar tersebut akan berdampak pada keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran rendah, siswa menjadi kurang aktif dan hanya menggantungkan jawaban pada teman. Peneliti menduga akar permasalahan rendahnya motivasi yang berakibat kurang aktifnya siswa dalam proses pembelajaran adalah kurangnya variasi model pembelajaran guru ketika proses pembelajaran.

Dari keadaan tersebut, selanjutnya peneliti dan guru berkolaborasi untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Dengan model pembelajaran ini, siswa berkesempatan berperan lebih aktif karena model pembelajaran TGT membutuhkan kerja sama antara siswa satu dengan siswa yang lain di dalam kelompok sehingga mereka dapat saling berpendapat dan bertanya jawab dengan teman dalam kelompok. Dalam model pembelajaran tipe TGT siswa dibagi

dalam kelompok untuk permainan (games) dan turnamen. Pada saat games dan turnamen siswa diharapkan dapat lebih aktif untuk menyumbangkan poin bagi kelompoknya serta menumbuhkan persaingan secara sehat antar kelompok selama turnamen berlangsung. Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ini, siswa diharapkan lebih termotivasi saat pembelajaran di kelas, lebih aktif bertanya dan mengemukakan pendapat. Dengan demikian, penerapan model pembelajan kooperatif tipe TGT ini diharapkan dapat mengubah keadaan kelas yang semula kurang kondusif dan kurang aktif menjadi lebih kondusif dan siswa mejadi lebih aktif sehingga lebih termotivasi untuk mengikuti pelajaran.

Dokumen terkait