BAB II PENELAAHAN PUSTAKA
H. Operasi Apendisitis Akut
antibiotika profilaksis diperlukan untuk mencegah infeksi setelah operasi. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran pemilihan dan penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien operasi apendisitis akut.
Metode penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif evaluatif bersifat retrospektif. Populasi sebanyak 38 pasien dengan kriteria inklusi menjalani operasi apendisitis akut di RS Baptis Batu tahun 2011 dan menggunakan antibiotika profilaksis. Kriteria eksklusinya adalah operasi apendisitis akut yang dilakukan bersama dengan operasi lainnya. Kesesuaian pemilihan dan penggunaan antibiotika profilaksis ditinjau berdasarkan pada jenis, waktu, cara, dosis, dan lama pemberian antibiotika profilaksis yang dibandingkan dengan pedoman WHO Guidelines for Safe Surgery (WHO, 2009), Antimicrobial Prophylaxis in Surgery (Kanji, et al., 2008), dan ASHP Therapeutic Guidelines (ASHP, 2013). Faktor yang mendasari pemilihan antibiotika profilaksis diperoleh dengan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan (n=38) 18% pasien berusia antara 9-17 tahun, 21% pasien berusia antara 18-26 tahun, 26% pasien berusia antara 27-35 tahun, 16% pasien berusia antara 36-44 tahun, 16% pasien berusia antara 45-53 tahun dan 3% pasien berusia antara 54-62 tahun.53% laki-laki, dan 47% perempuan. Semua pasien mengeluhkan nyeri perut kanan bawah, 50% dengan lama keluhan 2 hari, dan rata-rata lama perawatan 2 hari. Antibiotika profilaksis yang digunakan adalah seftriakson 63% dan sefotaksim 37% diberikan 30-60 menit sebelum operasi, seluruhnya diberikan secara intravena selama satu hari dengan dosis 2 gram.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa 37% pemilihan dan pemberian antibiotika profilaksis di RS Baptis Batu sudah sesuai dengan pedoman.
xvii
ABSTRACT
Increasing the number of acute appendicitis surgery can cause the risk of infection after surgery is getting greater then, the accuracy of selection and use of prophylactic antibiotics is necessary to prevent infection after surgery. The aim of research to get an overview of the selection and use of prophylactic antibiotics in patients with acute appendicitis operation.
Methods of non-experimental research design with evaluative descriptive retrospective. A population of 38 patients with the inclusion criteria of acute appendicitis underwent surgery at Baptist Hospital Stone in 2011 and use of prophylactic antibiotics. Exclusion criteria were acute appendicitis operation conducted jointly with other operations. The suitability of the selection and use of prophylactic antibiotics be reviewed based on the type, time, method, dosage, and duration of administration of prophylactic antibiotics were compared with the guidelines of WHO Guidelines for Safe Surgery (WHO, 2009), Antimicrobial Prophylaxis in Surgery (Kanji, et al., 2008) , dan ASHP Therapeutic Guidelines (ASHP, 2013) . Factors underlying the selection of prophylactic antibiotics was obtained by interview.
The results showed (n = 38) 18% patients aged between 9-17 years, 21% patients aged between 18-26 years, 26% patients aged between 27-35 years, 16% patients aged between 36-44 years, 16% patients aged between 45-53 years and 3% patients aged between 54-62 years, 53% male and 47% female. All patients complained of right lower abdominal pain, 50% with the old complaint two days, and the average length of 2 days. Prophylactic antibiotics used were ceftriaxone and cefotaxime 63% 37% given 30-60 minutes before the operation, entirely administered intravenously over one day with a dose of 2 grams.
Based on the results of the study concluded that there are 37% of the election and administration of prophylactic antibiotics at Baptist Hospital Batu that was appropriate guidelines.
1
BAB I
PENGANTAR
A. Latar Belakang
Antibiotika profilaksis yaitu antibiotika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi baik sebelum maupun sesaat setelah terpapar mikroorganisme patogen tetapi belum menunjukan manifestasi infeksi. Penggunaan antibiotika profilaksis dalam operasi melibatkan pertimbangan risiko dan keuntungan. Oleh karena itu untuk mencegah infeksi pada luka bekas operasi, antibiotika harus diberikan dalam waktu 2 jam sebelum waktu operasi. Antibiotika harus dihentikan 24 jam setelah prosedur operasi (Anonim, 2000).
Apendisitis merupakan penyebab nyeri abdomen akut yang paling sering ditemukan dan memerlukan tindakan bedah mayor segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya (Craig, 2010). Penyakit ini dapat dijumpai di semua usia, namun paling sering pada rentang usia 20 sampai 30 tahun (Silen, 2005). Kejadian apendisitis 1,4 kali lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita (Craig, 2010).
Tujuh persen penduduk di negara barat menderita apendisitis dan terdapat lebih dari 200.000 apendiktomi dilakukan di Amerika Serikat setiap tahunnya (Doherty et al, 2006). Insidensi apendisitis di Asia dan Afrika pada tahun 2004 adalah 4,8% dan 2,6% penduduk dari total populasi (WHO, 2004). Menurut Departemen Kesehatan RI pada tahun 2006, apendisitis menempati urutan keempat penyakit saluran cerna terbanyak di Indonesia setelah dispepsia, gastritis
dan duodenitis, dan penyakit sistem cerna lain dengan jumlah pasien rawat inap sebanyak 28.040 (Eilyn, 2009).
Peningkatan jumlah operasi apendisitis akut pada beberapa tahun terakhir dan risiko infeksi setelah operasi yang cukup tinggi pada pasien yang tidak menerima antibiotika profilaksis, mengakibatkan penggunaan antibiotika profilaksis menjadi hal yang sangat penting. Penggunaan antibiotika profilaksis yang tepat dapat melindungi pasien dari terjadinya infeksi setelah operasi (WHO, 2009).
Operasi apendisitis akut termasuk operasi bersih terkontaminasi dimana antibiotika profilaksis harus diberikan sebelum operasi untuk mencegah adanya infeksi (WHO, 2009).
Pemberian antibiotika profilaksis dinilai ketepatannya dengan mengetahui jenis antibiotik profilaksis (indikasi dan pilihan terapi), dosis, rute pemberian, waktu pemberian, durasi, dan frekuensi pemberian. Penggunaan antibiotik profilaksis yang kurang tepat yaitu pemberian yang tidak tepat (terlalu awal atau terlalu lama) dan jumlah dosis tidak mencukupi pada saat operasi menjadi salah satu faktor risiko munculnya Surgical Site Infections (SSI) (Doherty et al, 2006).
Pemilihan RS Baptis Batu Jawa Timur yang digunakan sebagai tempat penelitian karena RS Baptis Batu Jawa Timur merupakan rumah sakit swasta yang menerima rujukan dari seluruh puskesmas di wilayah Kota Batu dan beberapa kecamatan dari Kabupaten Malang, walaupun rumah sakit ini masih tipe C dengan 53 tempat tidur yang dipunyai. Selain itu Rumah Sakit Baptis Batu Jawa Timur melayani pasien yang menggunakan asuransi kesehatan sosial seperti
askes, Jamkesmas, Jamkesda, dll., maka kemungkinan banyak pasien yang berobat di rumah sakit ini. Pada tahun 2011 pasien kasus apendisitis akut yang menjalani operasi menempati peringkat ke 2 dalam 10 besar peringkat pembedahan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Baptis Batu Jawa Timur, sehingga dengan jumlah pasien yang cukup banyak dapat memberikan gambaran yang cukup lengkap dan jelas mengenai penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien yang menjalani operasi apendisitis akut.
1. Permasalahan
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka dapat disusun permasalahan sebagai berikut:
a. Seperti apa karakterisitik demografi pasien yang menjalani operasi apendisitis akut di RS Baptis Batu Jawa Timur berdasarkan usia, jenis kelamin, keluhan, lama keluhan, dan lama perawatan?
b. Seperti apa pola penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien yang menjalani operasi apendisitis akut terkait dengan jenis antibiotika, waktu, cara, dosis dan lama pemberiannya?
c. Apakah penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien yang menjalani operasi apendisitis akut di RS Baptis Batu Jawa Timur tahun 2011 sudah sesuai dengan WHO Guidelines for Safe Surgery (WHO, 2009), Antimicrobial Prophylaxis in Surgery (Kanji, et al., 2008), dan ASHP Therapeutic
Guidelines (ASHP, 2013) ditinjau dari jenis antibiotika profilaksis, waktu, cara, dosis dan lama pemberian antibiotika profilaksis?
d. Apa saja faktor yang mempengaruhi pemilihan antibiotika profilaksis bagi pasien yang menjalani operasi apendisitis akut RS Baptis Batu Jawa Timur tahun 2011?
2. Keaslian Penelitian
Penelitian berjudul “Evaluasi Penggunaan Antibiotika Profilaksis Pada Pasien Operasi Apendisitis Akut pada Instalasi Rawat Inap di RS Baptis Batu Jawa Timur tahun 2011” belum pernah dilakukan. Adapun penelitian yang pernah dilakukan yang berhubungan dengan penggunaan antibiotika pada pasien operasi apendisitis akut antara lain:
a. “Studi Penggunaan Obat Pada Penderita Apendisitis Akut Di Bagian Bedah RSU Saiful Anwar Malang” oleh Fatmawati tahun 2007. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang penulis lakukan adalah pada tempat, periode, dan subyek penelitian. Pada penelitian Fatmawati (2007) subyeknya adalah pasien apendisitis akut yang menggunakan antibiotika dan analgetika di RSU Saiful Anwar Malang sepanjang tahun 2005. Sedangkan subyek penelitian yang penulis lakukan pasien yang menerima antibiotika profilaksis baik yang menerima analgetika maupun tidak di instalasi rawat inap RS Baptis Batu Jawa Timur pada tahun 2011.
b. “Studi Penggunaan Antibiotika pada Kasus Bedah Apendiks: Instalasi Rawat Inap Bedah RSU Dr. Soetomo Surabaya” oleh Imelda tahun 2008. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah pada
tempat, periode dan subyek penelitian. Subyek penelitian pada penelitian yang dilakukan Imelda (2008) adalah pasien operasi apendisitis baik yang akut maupun kronis yang menerima antibiotika profilaksis dan antibiotika terapi di RSU Dr. Soetomo Surabaya tahun 2006, sedangkan subyek penulis adalah hanya pasien di instalasi rawat inap RS Baptis Batu Jawa Timur yang mengalami apendisitis akut dan mendapat tindakan operasi serta menerima antibiotika profilaksis tahun 2011.
c. “Evaluasi Penggunaan Antibiotika Profilaksis pada Pasien yang Menjalani Operasi Apendisitis Akut di RS Panti Rapih tahun 2009”oleh Yuma tahun 2011. Penelitian yang dilakukan Yuma (2011) menggunakan subyek pasien apendisitis akut yang di RS Panti Rapih Yogyakarta sepanjang tahun 2009. Sedangkan subyek penulis menggunakan pasien apendisitis akut yang di rawat inap RS Baptis Batu Jawa Timur sepanjang tahun 2011.
Karakteristik demografi subyek penelitian yang berbeda disebabkan oleh waktu dan tempat penelitian yang berbeda. Perbedaan waktu menyebabkan perbedaan karakteristik subyek penelitian karena setiap tahun angka kejadian apendisitis semakin meningkat. Tempat penelitian juga mempengaruhi karakteristik demografi subyek penelitian berbeda karena juga berpengaruh pada gaya hidup yang bisa menyebabkan penyakit apendisitis akut. Perbedan-perbedaan ini mempertegas bahwa penelitian ini belum pernah dilakukan di RS Baptis Batu Jawa Timur dan diharapkan dapat memberi informasi yang baru.
Manfaat Penelitian
a. Manfaat teoritis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah refrensi pengetahuan untuk mahasiswa yang mempelajari ilmu kesehatan mengenai gambaran penggunaan antibiotika pada pasien yang menjalani operasi apendisitis akut.
b. Manfaat praktis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesesuaian pemilihan antibiotika profilaksis pada operasi apendisitis akut di RS Baptis Batu Jawa Timur dengan pedoman umum yang ada serta memberikan informasi sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatakn pelayanan kesehatan di rumah sakit.
B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang pemilihan dan penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien yang menjalani operasi apendisitis akut pada tahun 2011 di RS Baptis Batu Jawa Timur.
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai tujuan umum maka penelitian ini secara khusus ditujukan untuk:
a. mengidentifikasi karakterisitik demografi pasien operasi apendisitis akut di RS Baptis Batu Jawa Timur berdasarkan usia, jenis kelamin, keluhan, lama keluhan, dan lama perawatan.
b. mengidentifikasi pola penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien yang menjalani operasi apendisitis akut yang digunakan, terkait dengan jenis antibiotika, waktu, cara, dosis dan lama pemberiannya.
c. menilai kesesuaian jenis, waktu, cara, dosis, dan lama pemberian antibiotika profilaksis yang digunakan oleh pasien operasi apendisitis akut di RS Baptis Batu Jawa Timur tahun 2011 dengan WHO Guidelines for Safe Surgery (WHO, 2009), Antimicrobial Prophylaxis in Surgery (Kanji, et al., 2008), dan ASHP Therapeutic Guidelines (ASHP, 2013).
d. mengidentifikasi faktor-faktor yang mendasari pemilihan antibiotika profilaksis melalui wawancara mendalam dengan dokter bedah, Kepala Instalansi Farmasi, dan Wakil Kepala Kamar Bedah RS Baptis Batu Jawa Timur.
8 BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Antibiotika 1. Pengertian
Antibiotika adalah senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme (bakteri, jamur) yang mempunyai efek menghambat atau menghentikan suatu proses biokimia dari mikroorganisme lain. Istilah ‘antibiotika’ sekarang meliputi senyawa sintetik seperti sulfonamida dan kuinolon yang bukan merupakan produk mikroba. Sifat antibiotika adalah harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin, artinya obat tersebut harus bersifat sangat toksik untuk mikroba tetapi relatif tidak toksik untuk hospes (Setiabudy, 2007). Istilah yang digunakan pada awalnya adalah antibiosis, yaitu substansi yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan organisme hidup yang lain dan berasal dari mikroorganisme. Seiring dengan perkembangan ilmu maka istilah antibiosis diganti menjadi antibiotika yang tidak terbatas untuk substansi yang berasal dari mikroorganisme, melainkan untuk semua substansi yang diketahui mampu untuk menghambat pertumbuhan organisme lain khususnya mikroorganisme (Pratiwi, 2008).
2. Penggolongan Antibiotika
Penggolongan antibiotika dapat di klasifikasikan berdasarkan luas aktivitas, struktur kimia,
a. Berdasarkan luas aktivitas antibiotika
Berdasarkan luas aktivitasnya, jenis antibiotika dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1) Antibiotika yang narrow spectrum (spektrum aktivitas sempit). Obat-obat ini terutama aktif terhadap beberapa jenis kuman saja, misalnya penisilin-G dan penisilin-V, eritromisin, klindamisin, kanamisin dan asam fusidat hanya bekerja terhadap kuman Gram positif. Sedangkan streptomisin, gentamisin, polimiksin-B dan asam nalidiksat khusus aktif terhadap kuman Gram negatif.
2) Antibiotika broad spectrum (spektrum aktivitas luas)Bekerja terhadap lebih banyak jenis kuman, baik jenis kuman Gram positif maupun kuman Gram negatif. Antibiotika yang termasuk broad spectrum antara lain sulfonamide, ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin dan rifampisin (Tan dan Rahardja, 2003). b. Berdasarkan mekanisme kerja antibiotika
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotika dapat digolongkan menjadi beberapa golongan anatara lain sebagai berikut (Schmitz, 2009) :
1) Antibiotika yang dapat menghambat sintesis dinding sel bakteri sehingga menghambat perkembangbiakan dan menimbulkan lisis. Contoh : penisilin dan sefalosporin.
2) Antibiotika yang dapat mengganggu keutuhan membran sel, mempengaruhi permeabilitas sehingga menimbulkan kebocoran dan kehilangan cairan intraseluler. Contoh : polimiksin, amfoterisin B dan nistatin.
3) Antibiotika yang dapat menghambat sintesis protein sel bakteri secara reversibel. Contoh : tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, linkomisin dan
klindamisin.
4) Antibiotika yang dapat menghambat metabolisme sel bakteri. Contoh : sulfonamide.
5) Antibiotika yang dapat menghambat sintesis asam nukleat. Contoh : rifampisin dan golongan kuinolon.
c. Berdasarkan struktur kimia antibiotika
Berdasarkan struktur kimianya, suatu antibiotika dapat dikelompokkan ke dalam 10 kelompok, yaitu sebagai berikut ini.
1) Golongan penisilin : Amoksisilin, penisilin, metampisilin, bacampisilin. 2) Golongan aminoglikosida : Streptomisin, tobramisin, gentamisin, kanamisin,
neomisin.
3) Golongan tetrasiklin : Doksisiklin, tetrasiklin, minosiklin, oksitetrasiklin. 4) Golongan makrolida : Entromisin, spiramisin, klaritromisin
5) Golongan kuinolon : Ofloksasin, suprofloksasin, levofloksasin, trovafloksasin.
6) Golongan sulfonamid : Kotrimoksazol, trimetoprim, sulfametoksaxol. 7) Golongan amfenikol : Kloramfenikol, tiamfenikol.
8) Antibiotik lain : Metronidazol, tinidazol, ornidazol.
(WHO, 2013) d. Berdasarkan sifat toksisitas selektif
Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antibiotika yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik, dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakterisid. Kadar
minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba atau membunuhnya, masing – masing dikenal sebagai Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM) (Setiabudy, 2007).
3. Prinsip dasar penggunaan antibiotika
Penggunaan terapeutik antibiotika di klinik bertujuan untuk membasmi bakteri penyebab infeksi. Penggunaan antibiotika ditentukan berdasarkan indikasi dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut (Setiabudy, 2007):
a. Gambaran klinik penyakit infeksi, yakni efek yang ditimbulkan adanya bakteri dalam tubuh hospes,
b. Efek terapi antibiotika pada penyakit infeksi diperoleh hanya sebagai akibat kerja antibiotika itu sendiri terhadap biomekanisme bakteri, dan tidak terhadap biomekanisme tubuh hospes.
c. Antibiotika dapat dikatakan bukan obat penyembuh penyakit infeksi karena antibiotika dalam pengertian sebenarnya merupakan senyawa obat yang menyingkatkan waktu yang diperlukan tubuh hospes untuk sembuh dari suatu penyakit infeksi dengan cara menghambat bakteri penyebab penyakit infeksi.
Menurut World Health Organization (WHO) Global Strategy, penggunaan antibiotika yang tepat adalah penggunaan antibiotika yang efektif dari segi biaya dengan peningkatan efek terapeutik klinis, meminimalkan toksisitas obat dan meminimalkan terjadinya resistensi (WHO, 2001).
untuk terapi definitif, terapi empiris dan terapi profilaksis. Penggunaan antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab yang telah teridentifikasi disebut pengobatan definitif. Pada terapi secara empiris, pemberian antibiotik diberikan pada kasus infeksi yang belum diketahui jenis bakteri penyebabnya, sedangkan terapi profilaksis adalah terapi yang diberikan untuk pencegahan pada pasien yang rentan terkena infeksi. Antibiotika yang diberikan adalah antibiotika yang berspektrum sempit dan spesifik (Kakkilaya, 2008).
B. Antibiotika Profilaksis
Antibiotika profilaksis yaitu antibiotika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi baik sebelum maupun sesaat setelah terpapar mikroorganisme patogen tetapi belum menunjukan manifestasi infeksi (Anonim, 2000).
Waktu pemberian antibiotik profilaksis merupakan hal yang paling penting. Antibiotik harus diberikan ½ - 1 jam sebelum operasi untuk memastikan kadar obat yang cukup pada waktu operasi (Dipiro, 2005).
Penggunaan antibiotika profilaksis dalam operasi melibatkan pertimbangan risiko dan keuntungan. Maka dari itu harus dihentikan setelah 24 jam setelah prosedur operasi (Anonim, 2000).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2011 dasar pemberian antibiotika profilaksis yaitu :
1) Sesuai dengan sensitivitas dan pola bakteri patogen terbanyak pada kasus yang bersangkutan.
2) Spektrum sempit untuk mengurangi risiko resistensi bakteri. 3) Toksisitas rendah.
4) Tidak menimbulkan reaksi merugikan terhadap pemberian obatan estesi. 5) Bersifat bakterisidal.
6) Harga terjangkau.
Tujuan pemberian antibiotika profilaksis pada kasus pembedahan adalah untuk mencegah terjadinya infeksi saat dilakukan pembedahan. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2011 adalah :
1) Penurunan dan pencegahan kejadian Infeksi Luka Operasi (ILO). 2) Penurunan morbiditas dan mortalitas pasca operasi.
3) Penghambatan muncul floral normal resisten. 4) Meminimalkan biaya kesehatan.
C. Apendiks
Gambar 1. Posisi Apendiks (Faiz and Moffat, 2004)
Apendiks merupakan organ digestif yang terletak pada rongga abdomen bagian kanan bawah. Apendiks berbentuk tabung dengan panjang kisaran 10 cm dan berpangkal utama di sekum. Apendiks memiliki beberapa kemungkinan posisi, yang didasarkan pada letak terhadap struktur-struktur sekitarnya, seperti sekum dan ileum. 30% terletak pelvikum artinya masuk ke rongga pelvis, 65% terletak di
belakang sekum, 2% terletak preileal, dan kurang dari 1% yang terletak retroileal (Putz, 2010).
Apendiks memiliki 4 lapisan yaitu, mukosa, submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler), dan serosa. Apendiks dapat tidak terlihat karena membran Jackson yang (lapisan peritoneum) yang menyebar dari bagian lateral abdomen ke ileum terminal, menutup sekum dan apendiks. Lapisan mukosa terdiri dari satu lapis epitel bertingkat dan crypta lieberkuhn. Dinding dalam (inner circular layer) berhubungan dengan sekum dan dinding luar (outer longitudinal muscle) dilapisi oleh pertemuan ketiga taenia coli pada pertemuan sekum dan apendiks. Taenia anterior digunakan sebagai pegangan untuk mencari apendiks. diantara mukosa dan submukosa terdapat lymphonodes. Lapisan submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar dan jaringan elastik yang membentuk jaringan saraf, pembuluh darah dan limfa (Pieter, 2005).
Fungsi apendiks dalam tubuh manusia sampai saat ini masih belum sepenuhnya dipahami. Salah satu yang dikatakan penting adalah terjadi produksi imunoglobulin oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang menghasilkan IgA. GALT ini sama dengan lapisan pada sepanjang saluran cerna lainnya karena jumlahnya yang sedikit dan minimal pengangkatan apendiks dikatakan tidak mempengaruhi sistem pertahanan mukosa saluran cerna. Apendiks juga menghasilkan lendir sebanyak 1-2 mL setiap harinya. Aliran ini akan dialirkan ke sekum dan berperan untuk menjaga kestabilan mukosa apendiks. Apendisitis seringkali terjadi karena gangguan aliran cairan apendiks ini (Sjamsuhidajat, 2011).
D. Apendisitis Akut 1. Pengertian
Apendisitis akut secara umum terjadi karena proses inflamasi pada apendiks akibat infeksi. Penyebab utama terjadinya infeksi adalah karena terdapat obstruksi. Obstruksi yang terjadi mengganggu fisiologi dari aliran lendir apendiks, dimana menyebabkan tekanan intralumen meningkat sehingga terjadi kolonisasi bakteri yang dapat menimbulkan infeksi pada daerah tersebut. Pada sebagian kecil kasus, infeksi dapat terjadi semerta-merta secara hematogen dari tempat lain sehingga tidak ditemukan adanya obstruksi (Sjamsuhidajat, 2011).
2. Penyebab apendisitis
Penyebab utama terjadinya apendisitis akut adalah penyumbatan (obstruksi) lumen apendiks yang diikuti dengan terjadinya peradangan akut. Penyumbatan lumen apendiks dapat disebabkan oleh adanya fekalit (material fekal), hiperplasia limfoid, adanya benda asing atau adanya tumor pada dinding apendiks (Kozar, et al., 2003).
3. Klasifikasi
Secara klinis apendisitis dibagi menjadi apendisitis akut dan kronis, apendisitis akut dibagi menjadi apendisitis akut focal dan supurativ. Apendisitis akut focal ialah proses peradangan awal yang terjadi pada apendiks sehingga menimbulkan gejala klinis nyeri perut kanan bawah, sedang apendisitis akut supurativa adalah proses peradangan pada apendiks dimana lumen apendiks sudah terisi oleh pus (Bernard et al., 2000 dan Craig, 2005).
a. Nyeri Perut
Nyeri perut merupakan keluhan utama yang biasanya dirasakan pasien dengan apendisitis akut.
Sesuai dengan anatomi apendiks, pada beberapa manusia letak apendiks berada retrosekal atau berada pada rongga retroperitoneal. Keberadaan apendiks retrosekal menimbulkan gejala nyeri perut yang tidak khas apendisitis karena terlindungi sekum sehingga rangsangan ke peritoneum minimal. Nyeri perut pada apendisitis jenis ini biasanya muncul apabila pasien berjalan dan terdapat kontraksi musculus psoas mayor secara dorsal.
b. Mual dan Muntah
Gejala mual dan muntah sering menyertai pasien apendisitis. Nafsu makan atau anoreksia merupakan tanda-tanda awal terjadinya apendisitis.
c. Gejala Gastrointestinal
Pada pasien apendisitis akut, keluhan gastrointestinal dapat terjadi baik dalam bentuk diare maupun konstipasi. Pada awal terjadinya penyakit, sering ditemukan adanya diare 1-2 kali akibat respons dari nyeri viseral. Konstipasi juga seringkali terjadi pada pasien apendisitis, terutama dilaporkan ketika pasien sudah mengalami nyeri somatik.
E. Prinsip pemberian antibiotika profilaksis pada pasien operasi apendisitis akut
Pemberian antibiotika profilaksis harus sesuai dengan kondisi dan keadaan yang dialami pasien. Indikasi penggunaan antibiotika profilaksis didasarkan kelas operasi, yaitu operasi bersih dan bersih terkontaminasi (Permenkes, 2011).
Pemilihan antibiotika profilaksis ini bergantung pada bakteri patogen yang paling sering ditemukan pada prosedur operasi, keamanan, efikasi, adanya dukungan pedoman atau guideline dalam penggunaan suatu antibiotika profilaksis, dan biaya yang dikeluarkan (Kanji, et al., 2008).
Untuk mencapai tujuan penggunaan antibiotika profilaksis yang diinginkan, maka antibiotika profilaksis yang diberikan pada pasien operasi apendisitis akut harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut: