BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.9. Operasionalisasi Konsep
Dalam indikator penyedia jasa, pemungutan retribusi dilihat dari kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dan fasilitas yang diberikan kepada masyarakat memadai atau fasilitas yang benar-benar layak. Dengan begitu masyarakat akan puas
dengan apa yang mereka dapat dari membayar retribusi. Dalam indikator kemampuan masyarakat, tarif yang dikutip kepada masyarakat harus sesuai dengan kemampuan setiap masyarakat dan tarif yang diberikan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam hal ini masyarakat akan lebih banyak dan teratur membayar retribusi mereka. Indikator aspek keadilan, dalam aspek keadilan pemerintah harus menetapkan tarif sesuai dengan kesanggupan setiap golongan dan pelayanan yang diberikan harus adil kepada semua golongan masyarakat.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan kauntitatif. Penelitian deskiptif adalah penelitian yang dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala dan fenomena yang akurat terhadap wilayah tertentu mengenai hubungan sebab-akibat berdasarkan pengamatan terhadap akibat yang ada, kemudian menduga faktor sebagai penyebab melalui pendekatan kuantitatif khususnya retribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di kota Medan.
Penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif merupakan penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang berupa angka, atau data yang berupa kata-kata atau kalimat yang dikonversi menjadi data yang berbentuk angka. Data yang berupa angka tersebut kemudian dioalah dan dianalisis untuk mendapatkan suatu informasi ilmiah dibalik angka-angka tersebut. (Martono, 2016: 20)
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan kuesioner sebagai sumber data utama.
Responden diminta untuk memberikan jawaban singkat yang sudah tertulis di dalam kuesioner dan untuk keperluan analisis data, peneliti menggunakan model SEM (Structural Equation Modeling).
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Provinsi Sumatera Utara yang terletak di Jalan Serba Guna No.10, Helvetia, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kantor ini dipilih menjadi lokasi penelitian karena BPPRD
merupakan tempat dimana untuk memaksimalkan hasil penerimaan dan sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah, dan salah satunya adalah hasil penerimaan retribusi daerah.
Adanya permasalahan di kantor tersebut mengenai hasil PAD Sumut yang belum mencapai target, dari target 5,42 triliun tetapi realisasinya hanya 2,38 triliun. Salah satu penyebabnya adalah hasil retribusi daerah.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi menurut Wijaya (2013), yaitu sekelompok orang, kejadian atau gejala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang dikenakan retribusi tahun 2018 sebanyak 110.020 orang.
3.3.2 Sampel
Menurut Sugiyono (2010:56) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik pengambilan sampel dalam yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yang ditemui untuk dijadikan sampel, bila dipandang orang tersebut cocok menjadi sumber data (Sugiyono 2010: 85). Dalam hal ini penelitian dilakukan terhadap masyarakat yang membayar Retribusi Daerah yang ditemui oleh peneliti dan dijadikan sebagai responden.
Untuk menentukan ukuran sampel pada penelitian ini dihitung berdasarkan rumus Slovin yaitu:
Keterangan : n = besaran sampel N = besaran populasi
e = persen kelonggaran ketidaktelitian 10%
Perhitungan jumlah sampelnya adalah sebagai berikut :
99.90
Berdasarkan perhitungan sampel di atas, maka jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 99,90 yang dibulatkan menjadi 100. Dengan demikian responden yang dibutuhkan adalah 100 orang.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian untuk memperoleh data yang diperlukan penulis menggunakan teknik pengumpulan data primer. Pengumpulan data primer, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan instumen kuesioner. Kuesioner merupakan teknik
pengumpulan data dengan cara memberi seperangkat pernyataan dan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2011: 142). Kuesioner dibagikan langsung kepada masyarakat dan hasil dari jawaban dalam kuesioner tersebut kemudian akan diolah.
3.5 Teknik Penentuan Skor
Dalam penelitian ini, pernyataan yang terdapat dalam kuesioner untuk masing-masing variabel diukur menggunakan Skala Likert. Skala Likert digunakan sikap pro dan kontra, positif dan negatif, setuju dan tidak setuju terhadap suatu objek sosial yang disebarkan kepada responden.
1. Untuk jawaban “sangat setuju” diberi skor 5 2. Untuk jawaban “setuju” diberi skor 4
3. Untuk jawaban “kurang setuju” diberi skor 3 4. Untuk jawaban “tidak setuju” diberi skor 2
5. Untuk jawaban “sangat tidak setuju” diberi skor 1
Untuk mengetahui atau menentukan kategori jawaban responden dari masing-masing variabel tergolong tinggi, sedang, atau rendah, maka terlebih dahulu ditentukan skala intervalnya dengan cara sebagai berikut (Sugiyono, 2009: 214):
Dengan demikian dapat ditentukan kategori jawaban responden masing-masing variabel, yaitu :
1. Skor untuk kategori sangat tinggi = 4,21 – 5,00 2. Skor untuk kategori tinggi = 3,41 – 4,20 3. Skor untuk kategori sedang = 2,61 – 3,40 4. Skor untuk kategori rendah = 1,81 – 2,60 5. Skor untuk kategori sangat rendah = 1,00 – 1,80
3.6 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan sistem SEM (Structural Equation Modeling). SEM adalah suatu teknik statistika untuk menguji dan mengestimasi hubungan kausal dengan mengintegrasi analisis faktor dan analisis jalur. Penelitian ini menggunakan metode analisis data dengan menggunakan software SmartPLS. Menurut Wright (dalam Abdillah 2015:140) SEM adalah pengembangan dari General Linear Model (GLM) dengan regresi berganda sebagai bagian utamanya. SEM telah dikenal luas dalam penelitian-penelitian bisnis dengan berbagai nama: causal modeling, causal analysis, atau confirmatory factor analysis.
Penelitian ini menggunakan metode analisis data dengan menggunakan Program Partial Least Squares (PLS) yang dijalankan dengan media komputer. PLS (Partial Least Square) merupakan analisis persamaan struktural (SEM) berbasis varian yang secara simultan dapat melakukan pengujian model pengukuran sekaligus pengujian model struktural. Model pengukuran digunakan untuk uji validitas dan reabilitas, sedangkan
model struktural digunakan untuk uji kausalitas (pengujian hipotesis dengan model prediksi).
3.6.1. Analisis Statistik Deskriptif
Analisis deskriptif yaitu analisis empiris secara deskripsi tentang informasi yang diperoleh untuk memberikan gambaran atau menguraikan tentang suatu kejadian (siapa, apa, kapan, dimana bagaimana dan berapa banyak) yang dikumpulkan dalam peneltian.
Data tersebut berasal dari jawaban yang diberikan oleh responden atas item-item yang terdapat dalam kuesioner. Selanjutnya peneliti akan mengolah data-data yang ada dengan cara dikelompokkan dan ditabulasi kemudian diberi penjelasan.
Sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan, maka dalam penelitian ini analisis data statistik diukur dengan menggunakan software SmartPLS (Partial Least Square) mulai dari pengukuran model (outer model), struktur model (inner model) dan pengujian hipotesis. PLS (Partial Least Square) menggunakan metode principle component analysis dalam metode pengukuran, yaitu blok ekstrasi varian untuk melihat hubungan indikator dengan konstruk latennya dengan menghitung total varian yang terdiri atas varian umum (common variance), varian spesifik (specific variance) dan varian error (error variance), sehingga total varian menjadi tinggi.
3.6.2. Pengukuran Model (Outer Model)
Outer model sering juga disebut (outer relation atau measurement model) yang mendefinisikan bagaimana setiap blok indikator berhubungan dengan variabel latennya.
Model pengukuran (outer model) digunakan untuk menilai validitas dan realibilitas model.
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan instrument penelitian mengukur apa
yang harus seharusnya diukur (Jogiyanto dan Abdillah 2009:57). Kemudian, uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi alat ukur dalam mengukur suatu konsep atau dapat juga digunakan untuk mengukur konsistensi responden dalam menjawab item pertanyaan dalam kuesioner.
3.6.3. Evaluasi Model Struktural (Inner Model)
Menurut Sitinjak dan Sugiarto (dalam Sarjono dan Julianita, 2014:23), model structural (structural model) adalah model yang menggambarkan hubungan-hubungan yang ada di antara variabel-variabel laten. Pengujian hubungan kausalitas dilakukan melalui proses bootstrapping dengan menggunakan parameter R-Square.Model struktural (inner model) dievaluasi dengan melihat persentase varian yang dijelaskan oleh nilai R2 untuk variabel dependen dengan menggunakan ukuran Stone-Geisser Q-Square test dan juga melihat besarnya koefisien jalur strukturalnya.
3.7. Pengujian Hipotesis
Menurut Hartono (dalam Abdillah 2015: 211) dalam melihat keterdukungan hipotesis dapat digunakan perbandingan nilai T-table dan T-statistic. Jika T-statistic lebih tinggi dibandingkan nilai T-table, berarti hipotesis terdukung atau diterima. Dalam penelitian ini, tingkat kebenaran data ialah 95 persen (alpha 5 %), maka nilai T-table untuk hipotesis satu ekor (one-tailed) adalah ≥1,66.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1.Sejarah Berdirinya Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara
Pada mulanya urusan Pengelolaan Pendapatan Daerah berada dalam koordinasi Biro Keuangan (Sekretariat) sebagai Bagian Pajak dan Pendapatan. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 102/II/GSU tanggal 6 Maret 1973 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Setwilda Tingkat I Sumatera Utara, sejak 16 Mei 1973 Biro Keuangan berubah nomenklatur menjadi Direktorat Keuangan. Sebagai konsekuensi perubahan tersebut maka bagian pajak dan pendapatan mengalami perubahan menjadi sub Direktorat Pendapatan Daerah pada Direktorat Keuangan. Perubahan terus dilakukan dengan diterbitkannya SK (Surat Keputusan) Gubernur Sumatera Utara tanggal 21 Maret 1975 Nomor 137/II/GSU (sebagai tindak lanjut Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri RI tanggal 7 November 1974 Nomor Finmat 7/15/3/74), sehingga sejak tanggal 1 April 1975, sub Direktorat Pendapatan Daerah ditingkatkan statusnya menjadi Direktorat Pendapatan Daerah. Selanjutnya, melalui SK Mendagri No. KUPD 3/12//43 tertanggal 1 September 1975 tentang “Pembentukan Dinas Pendapatan Daerah Tingkat II Seluruh Indonesia”, Direktorat Pendapatan Daerah berubah menjadi Dinas Pendapatan Daerah. Semula pembentukannya dilakukan berdasarkan SK Gubernur Sumatera Utara Nomor 143/II/GSU,
yang lebih lanjut keberadannya diperkuat dengan Perda (Peraturan Daerah) Provinsi Sumatera Utara Nomor 4 Tahun 1976 (mulai berlaku tanggal 31 Maret 1976).
Sebagai tindak lanjut dari UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP R.I) Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tanggal 31 Juli 2001 tentang Dinas-Dinas sebagai institusi teknis, yang membantu Pemerintah Provinsi (Gubernur) dalam melaksanakan tugas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan (madebewind). Salah satu Dinas tersebut adalah Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara (Dispendasu). Mengingat luasnya wilayah kerja dari Dinas Pendapatan yang meliputi seluruh wilayah Sumatera Utara maka untuk efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tupoksinya UPTD/Unit Pelaksana Teknis Dinas (sebelumnya disebut cabang dinas).
Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) telah berubah menjadi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD). Perubahan wajah ini terjadi sejak terbitnya Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2016 pada tanggal 20 Desember 2016 dan Peraturan Gubernur Nomor 39 Tahun 2016 pada tanggal 27 Desember 2016, Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara telah resmi berganti nama menjadi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat dengan nama BP2RD.
Perubahan nama ini dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Pasal 3 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, sehingga perlu
menetapkan Peraturan Daerah tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi Sumatera Utara. BP2RD tetap menjalankan fungsi dan tugasnya seperti Dispenda dimasa lalu, yakni menjadi penyelenggara fungsi penunjang bidang keuangan pada sub bidang Pengelolaan Pajak dan Restribusi Daerah.
Tugas BP2RD memiliki fungsinya masing-masing, seperti menyelenggarakan koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi dan pengendalian pelaksanaan kebijakan Kepala Daerah di bidang Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah, penyelenggaraan pengolahan bahan /data untuk penyempurnaan dan peyusunan kebijakan sesuai standar dalam urusan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah, pembinaan dan pelaksanaan tugas dalam bidang Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah,serta pelaksanaan tugas lain yang diberikan Gubernur, sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Tugas dan fungsi BP2RD tidak lain adalah apa yang telah dispenda jalankan. Dapat dikatakan, semua hal ini hanya perbedaan visual nama dari institusinya yang berevolusi wajah menjadi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Provinsi Sumatera Utara.
4.1.2. Visi dan Misi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara
Visi dapat diartikan sebagai tujuan suatu perusahaan atau lembaga yang berisikan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan atau lembaga tersebut pada masa yang akan datang. Visi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi
Sumatera Utara adalah menjadi pengelola pendapatan daerah yang professional, berorientasi pada pelayanan publik yang berdaya saing.
Misi merupakan suatu proses atau tahapan yang dilakukan oleh suatu perusahaan atau lembaga dalam mewujudkan visi tersebut. Adapun misi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara yaitu
a. Meningkatkan pendapatan daerah
b. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat c. Menetapkan kinerja sumber daya manusia dan kelembagaan
d. Menjalin jejaring kerja (Networking) dan koordinasi secara sinergi di bidang pendapatan daerah
4.1.3. Tugas, Fungsi dan Peran Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Sumatera Utara
Sebagai penyelenggara kewenangan pemerintah maupun tugas dekonsentrasi di bidang pendapatan daerah, BPPRD memiliki peran sangat strategis yakni : “sebagai pengelola utama sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang digunakan mendanai belanja Provinsi Sumatera Utara, dengan berpedoman pada prinsip akuntanbilitas transparansi, efisien dan efektif”. Dengan peran yang strategis ini, BPPRD Sumatera Utara dituntut untuk:
a. Mampu menigkatkan PAD secara terus menerus khususnya penerimaan dari pajak provinsi
b. Mampu mewujudkan pelayanan prima (excellent service) dalam pelaksanaan administrasi pajak Provinsi kepada wajib pajak
c. Mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola pajak d. Mampu mengoptimalkan kewenangan di bidan pajak provinsi
4.1.4. Struktur Organisasi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Sumatera Utara
Struktur organisasi merupakan kerangka yang mengelompokkan hubungan antara orang-orang pada suatu organisasi. Setiap bagian dalam organisasi memiliki pengertian tentang tanggungjawab dan pembagian tugas, bagaimana masing-masing bagian berhubungan satu dengan yang lainnya dan berwewenang yang di degelasikan pada masing-masing bagian. Struktur organisasi yang terencana akan sangat membantu kelancaran usaha, memperjelas kewajiban dan tanggungjawab serta menghindari kesimpangsiuran dalam pelaksanaan pekerjaan. Struktur organisasi tersebut harus mencerminkan pembagian kerja dan tanggungjawab yang dimaksud untuk mempermudah penentuan serta pengarahan dalam mengatasi pelaksanaan dalam pekerjaan tersebut.
Dengan demikian, seorang pemimpin atau atasan harus memikirkan dan menciptakan pembagian tugas yang tepat bagi setiap tingkat bila ingin mencapai tujuan usaha.
Jenis struktur organisasi yang digunakan oleh BPPRD adalah lini dan staf yang di pimpin oleh kepala badan. Adapun susunan organisasi yang ada di Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Sumatera Utara, yaitu:
1. Kepala Badan 2. Sekretaris
a. Kasubbag Umum dan Kepegawaian b. Kasubbag Keuangan
c. Kassubag Program, Akuntabilitas dan Informasi Publik
3. Kabid Pengembangan dan Pengendalian Pendapatan Daerah a. Kasubbid Perencanaan dan Pengembangan Pendapatan Daerah b. Kasubbid Evaluasi dan Pengendalian Pendapatan Daerah c. Kasubbid Hukum dan Publikasi
4. Kabid Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor a. Kasubbid Teknis Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor
b. Kasubbid Keberatan dan Sangketa Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Diatas Air
c. Kasubbid Pembukuan dan Pelaporan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
5. Kabid Pajak Air Permukaan, Pajak Bahan Bakar Kendaraan, dan Pajak Rokok a. Kasubbid Teknis Pajak Air Permukaan, Pajak Bahan Bakar Kendaraan
Bermotor dan Pajak Rokok
b. Kasubbid Keberatan Sangketa Pajak Air Permukaan, Pajak Bahan Bakar Kendaraan
c. Kasubbid Pembukuan dan Pelaporan Pajak Air Permukaan, Pajak Bahan Bakar Kendaraan
6. Kabid Retribusi dan Pendapatan Lainnya a. Kasubbid Retribusi
b. Kasubbid Pendapatan lainnya
c. Kasubbid Pembukuan dan Pelaporan Retribusi dan Pendapatan Lainnya.
Gambar 4.1: Struktur Organisasi Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Sumatera Utara
Sumber: Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Sumatera Utara, 2019 KEPALA BADAN
4.2. Penyajian Data
4.2.1. Identifikasi Responden
Identitas responden merupakan salah satu variabel yang diperhitungkan dalam suatu penelitian. Hal ini diperlukan dalam menjelaskan jawaban-jawaban pada kuesioner yang diberikan kepada responden. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 responden. Data identitas responden bertujuan untuk memahami spesifikasi atau ciri khas yang dimiliki.
Identifikasi responden dalam empat kelompok yaitu jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan tingkat pendidikan.
1. Jenis Kelamin
Tabel 4.1: Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
1 Laki-Laki 48 48%
2 Perempuan 52 52%
Jumlah 100 100%
Sumber : Hasil Olahan Data Penelitian, 2019
Berdasarkan tabel di atas mengenai identifikasi responden berdasarkan jenis kelamin, diperoleh hasil bahwa sebanyak 52 orang (52%) berjenis kelamin perempuan dan 48 orang (48%) berjenis kelamin laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan.
2. Rentang Usia
Tabel 4.2: Karakteristik Responden Berdasarkan Rentang Usia
No Rentang Usia Frekuensi Persentase (%)
1 20-30 Tahun 48 48%
2 31-40 Tahun 30 30%
3 41-50 Tahun 9 9%
4 >50 Tahun 13 13%
Jumlah 100 100%
Sumber: Hasil Olahan Data Penelitian, 2019
Berdasarkan tabel di atas mengenai karakteristik responden berdasarkan rentang usia diperoleh hasil bahwa sebanyak 48 orang (48%) responden berada pada rentang usia 20-30 tahun, 30 orang (30%) responden berada pada rentang usia 31-40 tahun, 9 orang (9%) responden berada pada rentang usia 41-50 tahun dan 13 orang (13%) responden berada pada rentang usia diatas 50 tahun. Hal itu menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada rentang usia 20-30 tahun.
3. Tingkat Pendidikan
Tabel 4.3: Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
1 SMP - 0%
2 SMA 16 16%
3 D3 6 6%
4 S1 75 75%
5 Pasca Sarjana (S2/S3) 3 3%
Jumlah 100 100%
Sumber: Hasil Olahan Data Penelitian, 2019
Berdasarkan tabel di atas mengenai karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan diperoleh bahwa sebanyak 16 orang (16%) responden memiliki tingkat pendidikan SMA, 6 orang (6%) responden memiliki tingkat pendidikan D3, 75 orang (75%) responden memiliki tingkat pendidikan Sarjana (S1) dan 3 orang (3%) responden memiliki tingkat pendidikan Pascasarjana (S2). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan Sarjana (S1).
4. Pekerjaan
Tabel 4.4: Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
No Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
1 PNS 28 28%
2 Pegawai Swasta 55 55%
3 Wiraswasta 9 9%
4 Pensiun - 0%
5 Lain-lain 8 8%
Jumlah 100 100%
Sumber: Hasil Olahan Data Penelitian, 2019
Berdasarkan tabel di atas mengenai karakteristik responden berdasarkan pekerjaan diperoleh hasil bahwa sebanyak 28 orang (28%) responden bekerja sebagai PNS, 55 orang (55%) responden bekerja sebagai Pegawai Swasta, 9 orang (9%) responden bekerja sebagai wiraswasta dan 8 orang (8%) responden pekerjaan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta.
4.2.2. Distribusi Jawaban Responden dalam Penelitian
Distribusi jawaban responden menampilkan sebaran jaawaban dari 21 pertanyaan yang diisi oleh 100 orang responden pada masing-masing butir pertanyaan. Untuk menjabarkan hasil jawaban dari para responden, penulis menguraikan dalam bentuk tabel disertai dengan pemaparan berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sebelumnya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sebelumnya dalam bentuk kuesioner. Adapun tabel dari pertanyaan tersebut dibedakan menurut variabel x dan variabel y sebagai berikut :
4.2.2.1. Variabel X (Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga)
Berikut ini merupakan distribusi jawaban responden untuk variabel Retribusi Daerah dengan 12 item pertanyaan dengan hasil sebagai berikut:
1. Penyedia Jasa
Ada 5 pertanyaan yang berhubungan dengan Penyedia Jasa, berikut adalah pertanyaan dan tanggapan/respon dari responden mengenai Penyedia Jasa.
Tabel 4.5 : Petugas memberikan pelayanan yang baik
No Pilihan Jawaban Frekuensi Pengukuran Skor Persentase
1 Sangat baik 24 24 x 5 = 120 24%
2 baik 75 75 x 4 = 300 75%
3 Kurang baik 1 1 x 3 = 3 1%
4 Tidak baik 0 0 x 2 = 0 0%
5 Sangat Tidak baik 0 0 x 1 = 0 0%
Jumlah 100 423 100%
Rata-rata: 423:100 = 4,23 Sumber : Hasil Olahan Data Penelitian 2019
Berdasarkan tabel distribusi jawaban responden di atas mengenai penyedia jasa, diperoleh hasil dengan jumlah frekuensi 75 dengan persentase 75% menjawab baik bahwa petugas memberikan pelayanan yang baik. Untuk kategori jawaban sangat baik dengan frekuensi 24 dan persentase 24% menjawab sangat baik, untuk kategori kurang baik dengan frekuensi 1 dan persentase 1%. Pada pertanyaan di atas diperoleh nilai rata-rata 4,23 dan berada pada kategori sangat tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden setuju bahwa petugas memberikan pelayanan yang baik .
Tabel 4.6 : Petugas berprilaku sopan saat memberikan pelayanan
No Pilihan Jawaban Frekuensi Pengukuran Skor Persentase
1 Sangat sopan 26 26 x 5 = 130 26%
2 Sopan 72 72 x 4 = 288 72%
3 Kurang sopan 2 2 x 3 = 6 2%
4 Tidak sopan 0 0 x 2 = 0 0%
5 Sangat tidak sopan 0 0 x 1 = 0 0%
Jumlah 100 424 100%
Rata-rata: 424:100 = 4,24 Sumber : Hasil Olahan Data Penelitian 2019
Berdasarkan tabel distribusi jawaban responden di atas mengenai petugas berprilaku sopan saat memberikan pelayanan, diperoleh hasil dengan jumlah frekuensi 72 dengan persentase 72% menjawab sopan. Untuk kategori jawaban sangat sopan dengan frekuensi 26 dan persentase 26% menjawab sangat sopan, untuk kategori kurang sopan dengan frekuensi 2 dan persentase 2%. Pada pernyataan di atas diperoleh nilai rata-rata sebesar 4,24 dan berada pada kategori sangat tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden setuju petugas berprilaku sopan saat memberikan pelayanan.
Tabel 4.7 : Fasilitas yang diberikan sangat memuaskan
No Pilihan Jawaban Frekuensi Pengukuran Skor Persentase
1 Sangat puas 27 27 x 5 = 135 27%
2 puas 70 70 x 4 = 280 70%
3 Kurang puas 3 3 x 3 = 9 3%
4 Tidak puas 0 0 x 2 = 0 0%
5 Sangat Tidak puas 0 0 x 1 = 0 0%
Jumlah 100 424 100%
Rata-rata: 424:100 = 4,24 Sumber : Hasil Olahan Data Penelitian 2019
Berdasarkan tabel distribusi jawaban responden di atas mengenai fasilitas yang diberikan, apakah sangat memuaskan, diperoleh hasil dengan jumlah frekuensi 70 dengan persentase 70% menjawab puas. Untuk kategori jawaban sangat puas dengan frekuensi 27 dan persentase 27% menjawab sangat puas, untuk kategori kurang puas dengan frekuensi 3 dan persentase 3%. Pada pernyataan di atas diperoleh nilai rata-rata sebesar 4,24 dan berada pada kategori sangat tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden setuju fasilitas yang diberikan sangat memuaskan .
Tabel 4.8 : Jika memiliki keluhan, petugas melayani dengan baik
No Pilihan Jawaban Frekuensi Pengukuran Skor Persentase
1 Sangat baik 25 25 x 5 = 125 25%
2 Baik 71 71 x 4 = 284 71%
3 Kurang baik 3 3 x 3 = 9 3%
4 Tidak baik 1 1 x 2 = 2 2%
5 Sangat Tidak baik 0 0 x 1 = 0 0%
Jumlah 100 420 100%
Rata-rata: 420:100 = 4,20 Sumber : Hasil Olahan Data Penelitian 2019
Berdasarkan tabel distribusi jawaban responden di atas mengenai jika memiliki keluhan, petugas melayani dengan baik, diperoleh hasil dengan jumlah frekuensi 71 dengan persentase 71% menjawab baik. Untuk kategori jawaban sangat sesuai dengan frekuensi 25 dan persentase 25% menjawab sangat baik, untuk kategori kurang baik dengan frekuensi 3 dan persentase 3% dan untuk kategori tidak baik dengan frekuensi 1 dengan persentase 1%.
Pada pernyataan di atas diperoleh nilai rata-rata sebesar 4,20 dan berada pada kategori tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden setuju jika memiliki keluhan, petugas melayani dengan baik.
Tabel 4.9 : Memiliki Kebersihan toilet yang baik
No Pilihan Jawaban Frekuensi Pengukuran Skor Persentase
1 Sangat baik 25 25 x 5 = 125 25%
2 baik 71 71 x 4 = 284 71%
3 Kurang baik 4 4 x 3 = 12 4%
4 Tidak baik 0 0 x 2 = 0 0%
5 Sangat Tidak baik 0 0 x 1 = 0 0%
Jumlah 100 421 100%
Rata-rata: 421:100 = 4,21 Sumber : Hasil Olahan Data Penelitian 2019
Berdasarkan tabel distribusi jawaban responden di atas mengenai memiliki kebersihan toilet yang baik, diperoleh hasil dengan jumlah frekuensi 71 dengan persentase 71% menjawab baik. Untuk kategori jawaban sangat sesuai dengan frekuensi 25 dan