INDIKATOR KINERJA
C. Akuntabilitas Keuangan
3. Opini KPK terhadap Survei Integritas Publik (SIP)
Pada tahun 2012 BPN RI sebagai instansi vertikal yang melaksanakan pelayanan publik menjadi salah satu obyek survei integritas yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI. Survei Integritas Sektor Publik yang dilakukan oleh KPK adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kinerja layanan publik serta potensi terjadinya penyalahgunaan wewenang dalam bentuk kolusi ataupun korupsi. Survei integritas tersebut bertujuan untuk:
1. Memetakan tingkat integritas unit layanan publik yang disurvei 2. Mengumumkan tingkat integritas tersebut kepada masyarakat luas
3. Menyampaikan tingkat integritas tersebut kepada unit layanan public yang bersangkutan, berikut rekomendasi perbaikannya.
Berdasarkan hasil Survei Integritas tahun 2012, nilai Indeks Integritas BPN RI adalah sebesar 6.12. Angka ini termasuk dalam kategori cukup. Di sisi lain, nilai ini walaupun sedikit di atas nilai hasil survei integritas tahun 2011 yang lalu, yaitu sebesar 6.07, menunjukkan bahwa upaya-upaya perbaikan yang dilakukan dengan melaksanaan Rencana Aksi Peningkatan Mutu Pelayanan BPN RI tahun 2011, belum memperlihatkan perbaikan yang memuaskan. Dengan demikian, ke depan, upaya-upaya tersebut harus lebih ditingkatkan.
BAB IV PENUTUP
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) BPN-RI Tahun 2012 ini telah tersusun sebagai sarana penyediaan dokumen bagi penilaian kinerja instansi BPN-RI yang mencakup jajaran pusat dan daerah untuk kurun waktu tahun anggaran 2012.
Berbagai pencapaian atas target yang telah dicanangkan, nyata terwujud sebagai prestasi yang dinanti-nantikan oleh berbagai kalangan termasuk instansi pemerintah, swasta, hingga masyarakat, antara lain:
a. Peraturan perundang-undangan: Undang-undang No. 2 Tahun 2012, Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2012, dan Peraturan Kepala BPN-RI No. 5 Tahun 2012 dalam kaitannya dengan Pengadaan Tanah;
b. Sertipikasi Tanah melalui kegiatan-kegiatan prioritas dan sertifikasi tanah lintas-sektor: PRONA sebanyak 772.369 Bidang; Transmigrasi sebanyak 28.805 bidang, UKM sebanyak 17.692 bidang; Pertanian sebanyak 28.743 bidang; Nelayan sebanyak 13.741 bidang; Perumahan Rakyat/MBR 6.508 bidang; HPL Transmigrasi seluas 24.013 ha; dan Pasca Bencana sebanyak 41.950 bidang;
c. Pembangunan peta dasar pertanahan seluas 3.160.000 Ha, pengaturan dan penataan pertanahan 122.519 bidang, dan jumlah Surat Keputusan penetapan tanah terlantar di 285 lokasi; dan
d. Jumlah kasus sengketa, konflik dan perkara pertanahan yang diselesaikan masing-masing 168 kasus, 287 kasus dan 157 kasus; serta
e. Pilot Project Social Mapping dan pendampingan pemberdayaan masyarakat.
Sangat disadari, bahwa dalam pelaksanaan atas program dan kegiatan yang ditargetkan pada tahun anggaran 2012 ini ditemui banyak hambatan, kendala, bahkan masalah; namun demikian, senantiasa diupayakan alternatif atas solusi permasalahan tersebut sehingga pencapaian kinerja di tahun 2012 tetap optimal. Dengan demikian diperoleh pola peningkatan kinerja instansi BPN-RI.
Capaian kinerja yang tidak mencapai target antara lain disebabkan oleh permasalahan dan kendala:
1. Kemampuan perekonomian masyarakat masih rendah, khususnya untuk memenuhi kewajiban membayar BPHTB yang dirasakan cukup memberatkan masyarakat sehingga hal ini mengurangi animo masyarakat untuk mengajukan permohonan pelayanan pertanahan secara swadaya yang pada gilirannya akan mengurangi pencapaian target PNBP.
2. Adanya revisi dokumen anggaran yang disebabkan karena terjadinya perubahan atas dokumen anggaran itu yang tidak sesuai usulan, maupun karena pembukaan tanda bintang (blokir) akan memerlukan waktu sehingga penyerapan anggaran tidak tercapai.
3. Pada awal tahun 2012 terdapat blokir pada hampir sebagian besar kegiatan BPN-RI (di luar belanja pegawai dan operasional kantor). Pada bulan februari 2012 baru terbuka secara otomatis sehingga masih terdapat blokir (bintang) sebesar Rp458.328.478.000,- Setelah dilakukan pembahasan buka blokir bersama instansi terkait, anggaran BPN-RI masih diblokir sebesar Rp103.388.075.000,- yang dikatakan sebagai blokir tetap ditambah blokir DPR RI sebesar Rp112.353.600.000,- yang hingga penyusunan laporan ini masih belum tuntas proses buka blokirnya.
4. Pada tahun 2012 terdapat perubahan (pemotongan) atas alokasi anggaran BPN-RI sebesar Rp.76.709.782.000,- (tujuh puluh enam milyar tujuh ratus sembilan juta tujuh ratus delapan puluh dua ribu).
Strategi yang akan ditempuh pada tahun mendatang dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kinerja adalah:
1. Mengusulkan kepada Menteri Keuangan untuk mengembalikan batasan Nilai NPOPTKP sebagai dasar penetapan BPHTB sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Peningkatan Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat serta memanfaatkan fasilitas LARASITA untuk mendekatkan pelayanan pertanahan kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan animo masyarakat untuk mengajukan permohonan pelayanan pertanahan secara swadaya dan penyebaran informasi pelayanan pertanahan.
3. Melakukan penelitian atas dokumen anggaran yang telah diterbitkan untuk mengantisipasi kesalahan administrasi dan beberapa perubahan yang akan dilakukan.
4. Percepatan pengajuan pembukaan tanda bintang/blokir dengan percepatan kelengkapan data pendukung, penelaahan dan koordinasi dengan DPR maupun Kemenkeu.
5. Mendorong dan mengkoordinasikan dengan Bagian Tata Usaha dan Unit teknis terkait agar mempercepat dan memantau pelaksanaan kegiatan serta pelaporan secara berkala
6. Menghimbau kepada seluruh satker (yang mengalami hambatan dalam pelaksanaan kegiatan) untuk melakukan koordinasi dan konsultasi dengan unit kerja teknis BPN Pusat maupun dengan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri.
7. Melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat dalam hal pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) terhadap masyarakat golongan ekonomi lemah.
Demikian Laporan Akuntabilitas Kinerja Badan Pertanahan Nasional RI tahun 2012, dengan harapan agar dokumen ini dapat digunakan sebagai pertanggungjawaban dan sarana peningkatan kinerja guna mengoptimalkan pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional RI.
Demikian Laporan Akuntabilitas Kinerja BPN-RI tahun 2012, dengan harapan dapat digunakan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, serta sarana peningkatan kinerja guna mengoptimalkan pelaksanaan tugas dan fungsi BPN-RI. Berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang tidak mencapai target yang telah ditetapkan, harus dijadikan bahan kajian dan sebagai pembelajaran untuk peningkatan kinerja BPN-RI di tahun-tahun yang akan datang. Dari evaluasi terhadap LAKIP BPN-RI Tahun 2012 ini oleh institusi terkait, diharapkan masukan dan saran demi peningkatan kinerja jajaran RI dan tentulah BPN-RI siap melaksanakan, sekarang!
Jakarta, 14 Maret 2013
KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL