• Tidak ada hasil yang ditemukan

OPTIMALISASI BENTUK, UKURAN DAN WATER STABILITY PELET GEL BERBAHAN BAKU LOKAL UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI BUDIDAYA LOBSTER

DI INDONESIA

Muhsinul Ihsan1*, Trijoko2, Nastiti Widjayanti3

1.Jurusan Pendidikan IPA Biologi FTK UIN Mataram

Jln. Gajah Mada No 100 Jempong Baru Mataram Telp. (0370) 620783, Fax. 620784 2.Lab. Ekologi dan Biosistematika Hewan Fakultas Biologi UGM Yogyakarta

3.Lab. Fisiologi Hewan Fakultas Biologi UGM Yogyakarta *Email korespondensi : [email protected]

Abstrak

Lobster adalah salah satu anggota Crustacea yang sangat potensial dikembangkan. Tantangan untuk meningkatkan budidaya lobster adalah penyiapan tekhnologi pakan yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan bentuk, tekstur, dan water stability pelet gel yang berbahan baku lokal. Rancangan percobaan berupa rancangan acak lengkap dengan 2 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan pertama adalah pelet gel berbentuk balok dan tekstur lembek dan perlakuan kedua adalah pelet gel berbentuk tabung dan tekstur semi padat. Lobster yang digunakan adalah Lobster Hijau Pasir (Panulirus homarus L.) fase post puerulus/juvenil awal berat rata-rata 5,10 ± 0,27 g sebanyak 10 ekor. Pelet gel dibuat dengan menambahkan agar-agar cair ke dalam bahan-bahan pakan yang lain. Pengamatan efektivitas mastikasi dan water stability pada masing-masing perlakuan dilakukan selama 5 hari. Pengamatan water stability dilakukan dengan cara merendam pelet dalam gelas transparan berisi air laut kemudian diamati waktu ketahanan pelet tersebut dalam air laut. Kedua jenis pelet mudah dipegang oleh lobster. Akan tetapi, pelet gel berbentuk balok lebih susah diputar dan dipotong. pelet gel berbentuk tabung memiliki water stability lebih bagus dibandingkan pelet berbentuk balok. Pelet gel dengan bentuk tabung, tekstur semi padat, ukuran panjang 1-1,5 cm dan diameter 0,2-0,25 cm lebih efektif dibandingkan pelet gel berbentuk balok dengan tekstur lembek

Kata Kunci : budidaya lobster, lobster feed, semi moist pellets, pakan lobster

1. PENDAHULUAN

Lobster adalah salah satu anggota subfilum Crustacea yang sangat potensial dikembangkan di Indonesia. Terdapat enam spesies lobster genus panulirus di Indonesia yaitu P. homarus, P. longipes, P. ornatus, P. penicillatus, P. polyphagus, dan P. versicolor (Moosa dan Aswandy, 1984). Kalih, dkk., (2012) menyatakan terdapat 6 spesies lobster yang teridentifikasi di perairan Lombok yaitu P. homarus, P. longipes, P. ornatus, P. penicillatus, P. versicolor dan Parribacus antarticus.Spesies yang potensial untuk dikembangkan dalam industri budidaya adalah Panulirus homarus dan Panulirus ornatus.

Pengembangan industri budidaya lobster harus dilakukan supaya ketergantungan pada alam bisa diminimalisir. Eksploitasi lobster secara besar-besaran berpotensi mengancam ketersediaan lobster di alam. Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan peraturan menteri nomor 56/Permen-KP/2016 tentang larangan penangkapan dan/atau pengeluaran lobster (Panulirus spp.) dalam rangka memulihkan populasi lobster di alam. Aturan ini memberikan arti bahwa pada masa yang akan datang eksploitasi harus dikurangi dan budidaya lobster harus ditingkatkan.

Tantangan yang dihadapi untuk meningkatkan budidaya lobster adalah penyiapan tekhnologi pakan lobster yang berkualitas. Masyarakat pembudidaya masih menggunakan pakan alami berupa ikan rucah dan keong sawah sebagai pakan. Penggunaan kedua jenis pakan ini tidak efektif dan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan baik di darat maupun di laut. Beberapa peneliti telah mencoba melakukan kajian tentang tekhnologi pakan lobster. Berdasarkan kajian-kajian tersebut, telah diketahui bahwa bentuk, tekstur, dan water Muhsinul Ihsan, dkk

stabilitypakan sangat mempengaruhi perilaku makan lobster. smith dkk., (2009) menyatakan bahwa pakan yang berbentuk geldengan ukuran panjang 10-15 mm dan diameter 1 mm dimastikasi secara efektif oleh Lobster Mutiara (Panulirus ornatus) fase juvenil awal (2 g).

Pembuatan pakan lobster dengan menggunakan komposisi yang dipakai oleh smith dkk., (2009) tidak efektif diterapakan di Indonesia karena semua bahan baku yang digunakan berasal dari luar negeri dan sulit didapatkan. Oleh karena itu, kajian tentang pelet gel yang berbahan baku lokal sangat penting dilakukan untuk mendukung industry budidaya lobster di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan bentuk, tekstur, dan water stability pelet gel yang dibuat dengan bahan baku lokal.

2. METODOLOGI

Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Rancangan percobaan berupa rancangan acak lengkap non faktorial dengan 2 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan pertama adalah pelet gel berbentuk balok dan tekstur lembek dan perlakuan kedua adalah pelet gel berbentuk tabung dan tekstur semi padat. Masing-masing pelet diberikan kepada 5 ekor lobster yang berbeda, kemudian diamati dan dideskripsikan tingkat efektivitas mastikasi pelet oleh lobster dan water stability masing-masing pelet. Mastikasi adalah tahapan memasukkan pelet ke mulut yang meliputi pengambilan, pemutaran, dan pemotongan pelet oleh lobster(ihsan, 2013). Pengamatan efektivitas mastikasi dan water stability pada masing-masing perlakuan dilakukan selama 5 hari. Pelet diganti dengan yang baru setiap hari pada pagi hari. Pengamatan water stability dilakukan dengan cara merendam pelet dalam gelas transparan berisi air laut kemudian diamati waktu ketahanan pelet tersebut dalam air laut.

Wadah penelitian yang digunakan adalah dua buah keranjang yang dimasukkan dalam bak polietilen volume 1500 L.Jenis lobster yang digunakan adalah Lobster Hijau Pasir (Panulirus homarus L.) fase post puerulus/juvenil awal dengan berat rata-rata 5,10 ± 0,27 g sebanyak 10 ekor. Sampel dikumpulkan dari hasil tangkapan nelayan di Teluk Awang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pelet gel dibuat dengan menambahkan agar-agar cair ke dalam bahan-bahan pakan yang lain. Agar-agar cair berperan sebagai binder sekaligus memberikan kelenturan pada pelet. Konsentrasi serbuk agar-agar untuk membuat agar-agar cair sebesar 3% dari berat bahan-bahan sumber protein pakan (tepung ikan, tepung kedelai, tepung jagung dan tepung terigu). Volume air untuk membuat pelet pada perlakuan pertama sebesar 80% dari berat bahan-bahan sumber protein pakan, sedangkan volume air pada perlakuan 2 sebesar 50%. Formulasi pelet gel yang digunakan mengacu pada formulasi semi moist pellets (pelet semi basah) Lobster Mutiara (Panulirus ornatus) fase juvenil awal (Tabel 1) (Smith dkk., 2009), sedangkan metode pembuatan pelet gel mengacu pada penelitian Faturrahman (2012).

Tabel 1. Formulasi Pelet Gel Berbahan Baku Lokal

Komposisi Jumlah (g) Tepung ikan 851,24 Tepung kedelai 2,55 Tepung jagung 2,55 Tepung terigu 28,09 Serbuk agar-agar 40,26 Minyak ikan 28,09 Astaxanthine 0,05 Kolesterol 8,51 Vitamin C 6,72 Mineral mix 7,24 Vitamin mix 14,47

Binder pearl ‘E’ 10,21

Total 1000

Pelet gel yang berbentuk balok dibentuk secara manual yaitu memotong pelet dengan pisau dengan ukuran panjang 1 cm, lebar 0,5 cm dan tinggi 1 cm (gambar 1), sedangkan pelet Muhsinul Ihsan, dkk

gel yang berbentuk tabung dibuat dengan menggunakan mesin pencetak pelet kemudian dipotong manual menggunakan tangan dengan ukuran panjang 1-1,5 cm dan diameter 0,2-0,25 cm (gambar 2).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelet gel pada perlakuan dua yang berbetuk tabung dengan panjang 1-1,5 cm dan diameter 0,2-0,25 cm lebih efektif dimastikasi oleh lobster dibandingkan pelet gel yang berbentuk balok (gambar 3-5). Kedua jenis pelet sama-sama mudah dipegang oleh lobster. Akan tetapi, pelet gel yang berbentuk balok lebih susah diputar dan dipotong oleh lobster. Energi yang diperlukan untuk memutar pelet gel berbentuk balok labih besar dibandingkan pelet gel berbentu tabung. Pelet gel berbentuk balok selalu mengalami perubahan posisi ketika diputar oleh lobster. Hal ini dikarenakan bagian maksiliped lobster susah mencari pegangan yang kuat untuk memutar pelet. Maksiliped adalah modifikasi kaki jalan yang digunakan untuk memegang makanan (Mikami dan Takashima, 2000).

Gambar 3. Mastikasi Tahap 1 (Proses Pengambilan Pelet)

Pengamatan water stability masing-masing pelet menunjukkan bahwa pelet gel berbentuk tabung memiliki water stability yang lebih bagus dibandingkan pelet berbentuk balok. Water

Gambar 4. Mastikasi Tahap 2 (Pemutaran Pelet)

Gambar 5. Mastikasi Tahap 3 (Pemotongan Pelet)

Gambar 1. Pelet Gel Bentuk Tabung Gambar 2. Pelet Gel Bentuk Balok

stability meliputi ketahanan dalam air dan ketahanan binder mengikat nutrien dalam pelet ketika dimastikasi oleh lobster. Baik pelet berbentuk balok maupun pelet berbentuk tabung sama-sama bisa tahan dalam air selama >24 jam. Akan tetapi, pelet berbentuk tabung memiliki ketahanan binder yang lebih tinggi dalam menjaga nutrient pelet ketika dimastikasi dibandingkan dengan pelet berbentuk balok. Hal ini ditandai dengan pelet berentuk balok lebih mudah hancur ketika dimastikasi oleh lobster. Semakin cepat pelet hancur ketika dimastikasi menunjukkan bahwa konsentrasi binder semakin lemah mengikat nutrien dalam pelet. Setiap bindermemiliki batas kemampuan tertentu untuk mengikat nutrien dalam pelet (Houser & Akiyama, 1997).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Smith dkk., (2009) yang menyatakan bahwa Lobster Mutiara (Panulirus ornatus) fase juvenil awal hanya mampu memakan pelet dengan efektif dan efisien jika pelet tersebut berbentuk tabung dengan tekstur semi moist pelletsdan ukuran panjang 10-15 mm serta diameter 1 mm. Akan tetapi hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Faturrahman (2012) yang menyatakan bahwa pakan yang berupa puding gracilaria dengan tekstur dan kekenyalan tertentu sangat efektif sebagai karir/binderfeed additive untuk abalone. Hal ini disebabkan oleh perbedaan jenis hewan uji dan cara makan hewan uji yang digunakan. Hewan abalone tidak melalui tahap mastikasi ketika makan. Hal inilah yang menyebabkan pakan berbentuk balok dan tekstur lembek sangat efektif pada hewan ini.

4. KESIMPULAN

Pelet gel dengan bentuk tabung, tekstur semi padat, ukuran panjang 1-1,5 cm dan diameter 0,2-0,25 cm lebih efektif dibandingkan pelet gel berbentuk balok dengan tekstur lembek

5. DAFTAR PUSTAKA

Faturrahman,(2012), Penggunaan puding gracilaria sebagai karir feed additive untuk abalon, Dipresentasikandalam simposium nasional bioteknologi akuakultur IV di Bogor.

Houser, R.H. & Akiyama, D.M.,(1997),Feed formulations principles. Pp. 493-587, Dalam

D’Abramo, L.R., Conklin, D.E. & Akiyama, D.M. Crustacean nutrition, advances in world aquaculture. Vol.6,International Working Group on Crustacean Nutrition, World Aquaculture Society, USA. 587 p.

Ihsan, M., (2013), Pengaruh Penambahan Artemia Silase dalam Pelet Gel Terhadap Pertumbuhan, Persentase Molting dan Titer Ekdison Lobster Hijau Pasir (Panulirus homarus L.) Pada Fase Juvenil, Tesis, Fakultas Biologi UGM Yogyakarta.

Kalih, LATWS., (2012), Keragaman serta distribusi lobster anggota palinuridae dan scyllaridae di perairan Pantai Pulau Lombok, Tesis, Fakultas Biologi UGM Yogyakarta.

Mikami, S.& Takashima, F.,(2000), Functional morphology of the digestive system. Pp. 601-610, Dalam B.F. Phillips & J. Kittaka. Spiny lobsters: fisheries and culture edisi kedua. Fishing news book, USA, 679 p.

Moosa, MKI dan Aswady, (1984), Udang Karang (Panulirus spp) dari Perairan Indonesia, LIPI, Jakarta.

Smith, D.M., Irvin, S.J. & David, M., (2009),Optimising the physical form and dimension of feed pellets for tropical spiny lobsters, Dalam K.C. Williams. Spiny lobster aquaculture in the Asia-Pacific region, ACIAR Proceedings. 132: 157-162. Australian Centre for International Agricultural Research: Canberra.

ASOSIASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR (FMA) PADA TANAMAN