BAB II TINJAUAN TEORI
A. Landasan Teori
3. Pajak Daerah
Menurut Pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah RI Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah, yang disebut dengan Pajak Daerah yang kemudian dikatakan pajak merupakan iuran yang harus dibayar oleh wajib pajak kepada daerah tanpa implementasi langsung yang seimbang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan undang-undang yang berlaku, dan dipergunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah untuk pembangunan daerahnya. Dengan demikian, akan terjamin bahwa kas negara selalu terisi uang pajak.
Selain itu, pengenaan pajak berdasarkan undang-undang akan menjamin adanya keadilan dan kepastian hukum bagi yang membayar pajak sehingga pemerintah tidak dapat sewenang-wenang menerapkan besarnya pajak.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, jenis pajak yang diatur dalam undang-undang ini adalah :
a. Pajak provisi yang terdiri dari : 1) Pajak Kendaraan Bermotor.
2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.
3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.
4) Pajak Air Permukaan. Dan 5) Pajak Rokok.
b. Jenis Pajak kabupaten/kota terdiri dari : 1) Pajak Hotel.
2) Pajak Restoran.
3) Pajak Hiburan.
4) Pajak Reklame.
5) Pajak Penerangan Jalan.
6) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan.
7) Pajak Parkir.
8) Pajak Air Tanah.
9) Pajak Sarang Burung Walet.
10) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan. Dan 11) Bea Perolehan hak atas Tanah dan Bangunan.
Daerah tidak dianjurkan untuk memungut selain dari jenis pajak daerah yang dikemukakan diatas. Jenis pajak di atas tidak bisa dipungut apabila potensinya kurang layak atau disesuaikan dengan kebijakan daerah yang berlaku. Khusus daerah yang setingkat dengan daerah provinsi, tetapi daerah tersebut tidak terbagi dalam daerah kabupaten/kota otonom, seperti Daerah Khusus Ibukota Jakarta, jenis pajak yang dapat dipungut adalah campuran dari pajak untuk daerah provinsi dan pajak untuk daerah kabupaten/kota. Adapun pembagian pajak provinsi dalam rangka pemerataan pembangunan dan juga peningkatan kemampuan keuangan kabupaten/kota dalam membiayai fungsi pelayanan kepada masyarakat, pajak provinsi kemudian dibagi hasil kepada kabupaten/kota, dengan proporsi berikut :
Tabel 1 Proporsi pembagian hasil pajak provinsi antara provinsi dan kabupaten/kota
No Jenis Pajak Provinsi Kab/kota
1 Pajak Kendaraan Bermotor 70% 30%
2 Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 70% 30%
3 Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 30% 70%
4 Pajak Air Permukaan 50% 50%
5 Pajak Rokok 30% 70%
Sumber : Siahaan Marihot (2016:61)
Dalam perkembangannya, meskipun terdapat perubahan tentang pajak yang dipungut oleh kabupaten/kota dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 ini, namun daerah diberi kekuasaan ataupun keluasan untuk menetapkan pungutan pajak berdasarkan potensi pajak di daerah masing-masing.
Namun, perlu diperhatikan syarat-syarat dalam memungut pajak daerah. Menurut Nurlan Darise (2006:45) yang dikutip dari Tesis Lilik Yunanto (2010) pungutan pajak harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya :
a. Syarat keadilan.
Pemungut pajak wajib berdasarkan dengan tujuan dalam hukum yaitu mencapai keadilan undang-undang dan penerapan pemungutannya harus adil. Artinya menggunakan pajak secara umum dan meratakan serta disesuaikan dengan
kemampuan wajib pajak. Sementara adil dalam pelaksanaan pemungutannya yakni dengan memberikan hak wajib pajak seperti mengajukan keberatan, penundaan dalam pembayaran dan mengajukan banding kepada Majelis pertimbangan pajak.
b. Syarat yuridis.
Pemungut pajak harus didasarkan pada undang-undang.
Hal ini, memberi jaminan hukum untuk menyatakan keadilan baik bagi negara maupun warganya.
c. Syarat ekonomis.
Pemungutan pajak tidak boleh mengganggu perekonomian secara spesifik dalam kegiatan perdagangan sehingga tidak menciptakan penurunan dalam perekonomian pada masyarakat.
d. Syarat finansial.
Pemungutan pajak harus efektif dan didasarkan terhadap fungsi budgeter dengan maksud biaya pemungutan ditekankan sehingga lebih rendah dari hasil pemungutannya.
e. Syarat sederhana.
Sistem pemungutan pajak yang simpel akan memudahkan masyarakat dan mendorong memenuhi kewajiban perpajakannya.
Selain itu, kriteria lain dalam proses pemungutan pajak daerah, menurut Raksaka Mahi (2005:43) yang dikutip dari Tesis Lilik Yunanto (2010) ialah :
a. Kecukupan dan fleksibel.
Kaitannya terhadap kecukupan, penerimaan pajak harus memperoleh penerimaan yang besar sehingga diharapkan dapat membiayai sebagian dan/atau keseluruhan biaya pelayanan yang dikeluarkan. Secara tidak langsung, dikatakan bahwa biaya pemungutan harus dapat ditutup dari hasil pemungutan dan selisih hasil tersebut dapat dipergunakan dalam pengeluaran publik. Ada dua hal yang penting sehingga dapat menjadi syarat fleksibel, yaitu:
1) Terdapat perkembangan kekuatan dari dasar pengenaan pajak sendiri (basis pajak). Dan
2) Kemudahan untuk menarik guna dari pertumbuhan pajak tersebut.
b. Pemerataan.
Pemerataan ini memiliki arti beban pengeluaran pemerintah daerah wajib dipikul semua golongan masyarakat berdasarkan kekayaan dan kemampuannya.
1) Kelayakan administrasi.
Kelayakan administrasi yang dimaksud adalah berbagai jenis pajak yang ada di daerah berbeda baik dalam jumlah dan ketentuan yang diwajibkan dalam administrasinya.
2) Kesepakatan dalam politis.
Ketentuan pembebanan pajak bergantung kepada wajib pajak, pendapat masyarakat secara garis besar terhadap pajak dan nilai-nilai yang berfungsi dalam masyarakat.
3) Menghindari distrosi dalam perekonomian.
Secara umum, tiap pajak dan pungutan mengakibatkan tanggungan tambahan bagi konsumen ataupun produsen. Oleh karenanya, pajak akan menimbulkan tambahan tanggungan yang berlebih dan bisa membebani masyarakat secara keseluruhan.
Dalam implementasi pemungutan Pajak Daerah harus memperhatikan beberapa strategi berikut menurut Mardiasmo dan Makhfatih (2002:2) :
a. Potensi pajak sedikit mungkin.
b. Potensi dan hasil yang besar.
c. Admistrasinya sederhana.
d. Biaya pemungutannya yang murah.
e. Tarif pajak ditetapkan dengan laba. Dan
f. Dasar pajak (tax base) ditetapkan oleh peraturan bupati.
4. Pajak Mineral dan Bukan Logam dan Bantuan
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 29 dan 30, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan merupakan pajak yang dikenakan atas kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam dan atau permukaan bumi untuk dimanfaatkan. Sedangkan yang dimaksud dengan mineral bukan logam dan batuan adalah mineral bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dalam peraturan perundang-undangan di bidang mineral dan batu bara. Merujuk pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Pasal 1 angka 3 No. 5 Tahun 2017, mineral bukan logam adalah mineral yang unsur utamanya terdiri atas bukan logam, misalnya bentonit, kalsit (batu kapur/gampling), pasir kuarsa, dan lain-lain. Sementara itu, pada Pasal 1 angka 4 mendefinisikan batuan sebagai massa padat yang terdiri atas satu jenis mineral atau lebih yang membentuk kerak bumi, baik dalam keadaan terikat (massive) maupun lepas (loose). Pajak
Mineral Bukan Logam dan Batuan ini merupakan pengganti dari Pajak Pengambilan Bahan Golongan C yang semula diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 dan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000.
Sampai saat ini, penunjukan suatu bahan galian ke dalam satu golongan diatur dengan peraturan pemerintah. Dalam melaksanakan ketentuan tersebut, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan-bahan Galian, yang mulai berlaku pada tanggal 15 Agustus 1980.
Melalui Peraturan pemerintah Nomor 27 tahun 1980 bahan galian ini dibagi menjadi tiga, sebagaimana dibawah :
a. Golongan bahan galian taktis (sebagai bahan galian golongan A), terdiri dari :
1) Bitumen cair, minyak bumi, gas alam, lilin bumi.
2) Aspal, bitumen padat.
3) Batu bara, batu bara muda, antrasit.
4) Radium, thorium, uranium, dan bahan-bahan bagian radio-aktif lainnya.
5) Kolbat, nikel. Dan 6) Timah.
b. Golongan bahan galian vital (sebagai bahan galian golongan B), terdiri dari :
1) Besi, mangan, molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan.
2) Bauksit, tembaga, timbal, seng.
3) Emas, platina, perak, air raksa, intan.
4) Arsin, antimon, bismut.
5) Yatrium, rhutenium, cerium, dan logam langka lainnya.
6) Berilium, korundum, zirkon, kristal kwarsa.
7) Kriolit, flourpar, barit. Dan 8) Belerang, yodium, khlor, brom.
c. Golongan bahan galian yang tidak termaksud golongan A atau B (disebut sebagai bahan galian golongan C), terdiri dari : 1) Garam batu (halite), nitrat, fosfat.
2) Magnesit, grafit, talk, mika, asbes.
3) Oker, tawas (alum), yarosit, leusit.
4) Batu setengah permata, batu permata.
5) Bentonit, gips, kaolin, feldspar, pasir kwarsa.
6) Batu apung, tras, obsidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth).
7) Batu tulis, marmer.
8) Dolomit, kalsit, batu kapur.
9) Granit, basal, andesit, tanah liat, trakhit, dan pasir sejauh tidak memuat unsur-unsur mineral golongan A maupun
golongan B dalam jumlah yang berarti dapat ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.
Adapun yang dikecualikan dari objek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah :
a. Kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan yang nyata-nyata tidak dimanfaatkan untuk kepentingan komersial, seperti penggunaan untuk keperluan rumah tangga, pemancangan tiang listrik/telepon, penanaman kabel listrik/telepon, penanaman pipa air/gas. Dan
b. Kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan yang merupakan ikutan dari kegiatan pertambangan yang lain yang tidak dimanfaatkan secara komersial.
Adapun subjek pajak dari Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ini adalah orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan untuk dimanfaatkan.
Wajib Pajak dari Pajak mineral Bukan Logam dan Batuaan adalah orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan untuk dimanfaatkan.
Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Buton Utara Nomor 15 Tahun 2015 tentang Pajak Pengambilan dan Pengolahan Mineral Bukan Logam dan Batuan dari sekian banyak objek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan di Kabupaten Buton Utara hanya memungut tujuh objek pajak bahan galian yaitu diantaranya :
a. Batu gunung.
b. Batu gunung pecah.
c. Kerikil.
d. Pasir pasang.
e. Pasir urug/sirtu.
f. Batu bata/tanah liat.
g. Tanah urug/tasirtu.
Dasar pengenaan, tarif, dan cara perhitungan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan :
a. Dasar Pengenaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
Nilai Jual Hasil Pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah dasar pengenaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan. Nilai Jual Hasil Pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan dihitung dengan mengalikan volume/tonase hasil pengambilan dengan nilai pasar atau harga standar masing-masing jenis mineral bukan logam dan batuan. Nilai pasar mineral bukan logam dan batuan merupakan harga rata-rata yang berlaku pada area wilayah daerah setempat. Dalam hal ini, pasar dari produksi mineral bukan logam dan batuan sulit diperoleh, dikenakan harga standar yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang dalam bidang mineral bukan logam dan batuan.
Nilai pasar masing-masing kemudian ditetapkan sesuai jenis mineral bukan logam dan batuan yang ditetapkan secara periodik oleh bupati/walikota sesuai dengan harga rata-rata yang berlaku pada area setempat. Dalam praktik umumnya, apabila yang digunakan adalah harga standar masing-masing jenis mineral bukan logam dan batuan maka harga standar tersebut ditetapkan oleh instansi yang berwenang dalam bidang penambangan mineral bukan logam dan batuan yang ditunjuk oleh bupati/walikota.
b. Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 60 besaran tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ditentukan paling tinggi 25% dan ditentukan oleh peraturan daerah setempat. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Buton Utara Nomor 15 tahun 2015 Pasal 5 tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen). Tarif tersebut ditetapkan agar daerah Kabupaten Buton Utara dengan bebas dapat menerapkan tarif pajak bisa dikatakan berbeda dengan kabupaten/kota yang lain, namun tidak melebihi 25% sesuai dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 60.
c. Cara perhitungan pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan.
Berdasarkan pokok Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak. Secara umum perhitungan Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan adalah sesuai rumus berikut ini:
Pajak terutang = Tarif Pajak × Dasar Pengenaan Pajak
= Tarif Pajak×Nilai Jual Hasil PJMBLB
5. Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan asli daerah merupakan perolehan pendapatan yang didapat dari daerah sumber wilayah daerahnya sendiri yang kemudian dipungut sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di daerah tersebut.
Menurut Mardiasmo “Pendapatan asli daerah adalah penerimaan yang diperoleh dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan,dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah”.
Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, “Pendapatan Asli Daerah, selanjutnya disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh
daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. Sehingga, Pendapatan Asli Daerah adalah suatu sumber pendapatan asli yang diperoleh dari hasil kekayaan daerah. Sehingga, Pemerintah Daerah dapat mengusahakan segala urusan rumah tanggan daerahnya dengan sewajarnya. Dalam upaya tersebut, perlu kiranya diserahkan sumber pembelanjaan yang cukup. Namun, melihat tidak semua sumber pembelanjaan bisa diserahkan kepada daerah, jadi setiap daerah diharuskan mengusut segala sumber keuangannya sendiri sesuai peraturan perundang undangan yang ditetapkan. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 pasal 285 tentang Pemerintah Daerah, menuturkan bahwa sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang terpisah dan PAD lain yang sah.
a. Pajak Daerah
Pajak daerah merupakan pungutan daerah berdasarkan peraturan daerah kemudian digunakan untuk pembelanjaan rumah tangga daerah selaku badan hukum publik.
Ciri-ciri yang melampiri pajak daerah adalah :
1) Pajak daerah berawal dari Pajak Negara yang dipisahkan oleh daerah sebagai pajak daerah.
2) Pengalihan pajak daerah dilakukan dengan peraturan daerah.
3) Pajak daerah dipungut oleh daerah dan sesuai ketentuan undang-undang dan peraturan hukum yang berlaku lainnya.
4) Retribusi Daerah.
Menurut UU No.28 Tahun 2009, retribusi daerah merupakan pungutan daerah selaku pemenuhan atas jasa atau pemberian izin yang spesifik khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kebutuhan orang pribadi atau badan. Retribusi daerah dibagi tiga golongan yaitu:
1) Retribusi Jasa Umum, tidak lain ialah pungutan yang dikenakan oleh daerah kepada masyarakat atas pelayanan yang diberikan.
2) Retribusi jasa Usaha, tidak lain ialah pungutan yang dikenakan oleh daerah bertautan dengan pengadaan layanan yang belum layak disediakan oleh swasta dan atau penyewaan aset atau kekayaan daerah yang belum digunakan misalnya : retribusi pasar grosir, terminal, rumah potong hewan dan lain-lain.
3) Retribusi Perizinan tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk
pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, sarana, prasarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
4) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang terpisah dari hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan merupakan penerimaan daerah yang berasal dari pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Undang-undang nomor 33 tahun 2004 mengklasifikasikan jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dipaparkan menurut menurut objek pendapatan yang mencakup bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD, bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik negara/BUMN dan bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta maupun kelompok masyarakat.
5) Lain-lain PAD yang sah, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 mengungkapkan Pendapatan Asli Daerah yang sah, disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang bukan termasuk dalam jenis pajak dan hasil penanganan kekayaan daerah yang terpisah. Penghasilan ini juga merupakan perolehan daerah yang berasal dari
lain-lain milik pemerintah daerah. Undang-undang nomor 33 tahun 2004 mengelompokkan pendapatan asli daerah yang sah meliputi:
a) Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak terpisah.
b) Jasa giro.
c) Pendapatan bunga.
d) Keuntungan merupakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
e) Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan, pengadaan barang ataupun jasa oleh pemerintah.
B. Kerangka Konseptual
Setelah ditetapkan Undang-Undang Otonomi Daerah Nomor 32 Tahun 2004 tentang penuntutan keterampilan kepada pemerintah daerah dengan upaya menggunakan potensi daerah dalam rangka pelaksanaan pemerintahan.
Pemerintah daerah harusnya berupaya untuk mengembangkan kemampuan terhadap pengelolaan pemerintahan dan pembangunan dengan upaya mengusut sumber PAD, salah satunya yaitu PJMBLB. Akan tetapi, adanya penambang yang belum mempunyai izin untuk melakukan kegiatan penambangan dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam pembayaran pajak bisa menjadi kendala yang harus dihadapi oleh aparat pemungut pajak. Oleh karenanya, untuk
mengetahui optimalisasi pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan dalam penelitian ini, dapat dilihat dari bagan sebagaimana dilampirkan berikut :
Gambar 1 Bagan Kerangka Konseptual
C. Metode Pelaksanaan Penelitian
1. Tempat dan Waktu
Penelitian akan dilakukan di Kantor Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara (Bidang Pendapatan), yang berlokasi di Jl.
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah
Optimalisasi Pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Golongan C
Pelaksanaan Pemungutan PJMBLB Golongan C
Kabupaten Buton Utara
Kompleks Perkantoran Bumi Sara’ea dan adapun waktu yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah kurang lebih 2 (dua) bulan, yaitu dimulai pada 1 Januari - 28 Februari 2021.
2. Teknik Pengumpulan Data a. Kepustakaan
Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sekunder dari buku, jurnal dan dokumen yang relevan untuk menyusun konsep penelitian dalam mengungkap objek penelitian.
b. Wawancara
Peneliti menggunakan teknik wawancara terhadap pihak yang menjadi informan penelitian. Dengan melakukan wawancara langsung dengan beberapa petugas pemungut pajak yakni Kepala Sub Bagian Pendataan dan Penetatapan dan Kepala Sub Bagian Penagihan Pajak dan Retribusi Daerah dan wajib pajak dengan mengajukan beberapa pertanyaan.
c. Observasi
Peneliti juga melakukan obervasi langsung ke lapangan (Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara) dalam rangka mendapatkan informasi lebih banyak mengenai penelitian yaitu tentang optimalisasi pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan.
3. Sumber data
a. Data Primer
Data primer adalah data yang dibuat oleh peneliti dengan maksud khusus menyelesaikan permasalahan dalam penelitian.
Data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan yakni pada Bidang Pendapatan, Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara.
b. Data Sekunder
Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah buku, jurnal, artikel serta situs internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan. Guna untuk menyelesaikan permasalahan dalam penelitian.
4. Teknik Analisis Data
Peneliti sendiri menggunakan metode penelitian kualitatif karena metode ini bertujuan memperoleh gambaran seutuhnya mengenai objek yang diteliti. Melalui penelitian kualitatif peneliti berusaha mendeskripsikan permasalahan serta memberikan solusi.
Perumusan penelitian kualitatif dimulai dengan pengumpulan data
berupa penjelasan berupa kata-kata yang didapatkan langsung dari buku, jurnal, maupun wawancara dengan objek secara langsung.
Peneliti juga menetapkan Informasi apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan atau massal yang telah dirumuskan. Dalam penelitian ini ada sejumlah alat pengumpul data antara lain pencarian data pada jurnal, observasi dan penelitian lapangan lainnya. Agar memperoleh sampel yang jelas, peneliti merumuskan ciri khusus mungkin sehingga memberikan dampak terhadap instrumen dan sumber data yang diperoleh dalam meneliti.
Data dan informasi yang telah diperoleh oleh peneliti masih merupakan informasi data yang kasar karena peneliti hanya menggunakan beberapa media untuk menentukan pokok permasalahan dalam penelitian. Dengan menggunakan metode kualitatif, peneliti menyimpulkan jawaban dari setiap permasalahan yang diteliti di lapangan dalam satu pokok pembahasan penelitian secara keseluruhan.
42 BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Sejarah Ringkas
Badan Keuangan Daerah (BKD) pertama kali dibentuk bersamaan dengan terbentuknya Kabupaten Buton Utara yang terbentuk dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2007 Tentang Pembentukan Kabupaten Buton Utara di Provinsi Sulawesi Tenggara.
Di tahun yang sama, yaitu tahun 2007 di bentuk SKPD yang diberi nama Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD). Tahun 2012 DPPKAD mekar menjadi dua SKPD yaitu Badan Pengelolaan dan Aset Daerah (BPKAD) dan Pendapatan berdiri sendiri menjadi SKPD Dinas Pendapatan Daerah. Hal ini sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Buton Utara Nomor 57 Tahun 2012 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.
Pada tahun 2016 Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Buton Utara digabung lagi dengan Keuangan Daerah, sehingga Dinas Pendapatan Kabupaten Buton Utara menjadi salah satu Bidang di Badan Keuangan Daerah dengan nama Bidang Pendapatan Badan Keuangan Kabupaten Buton Utara yang dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Buton Utara Nomor 6 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Buton Utara.
Jadi, sampai saat ini Pendapatan di Kabupaten Buton Utara di tangani oleh Bidang Pendapatan pada Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tidak memiliki visi misi tersendiri, tapi SKPD hanya mendukung visi misi dari Bupati dan Wakil Bupati terpilih sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM)Adapun visi misi dari Bupati dan Wakil Bupati Buton Utara yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Buton Utara Periode 2016-2021 adalah :
Gambar 2 Visi Misi Badan Keuangan Kabupaten Buton utara Visi RPJMD “Terwujudnya Masyarakat yang Aman, Berbudaya
B. Struktur Organisasi dan Job Description
1. Struktur Organisasi
A.
B.
Gambar 3 Struktur Organisasi Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara Tahun 2019
Gambar 2 diperoleh struktur organisasi Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara, sesuai Peraturan Bupati Buton Utara Nomor 31 Tahun 2016 Tentang Tingkatan, Susunan Organisasi,
Kepala Badan
Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara, adapun Tugas dan Fungsi Badan Keuangan Daerah adalah sebagai berikut :
2. Job Description
a. Kepala Kantor
Kepala Badan Keuangan Daerah memiliki kewajiban
Kepala Badan Keuangan Daerah memiliki kewajiban