BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Sejarah Ringkas
Badan Keuangan Daerah (BKD) pertama kali dibentuk bersamaan dengan terbentuknya Kabupaten Buton Utara yang terbentuk dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2007 Tentang Pembentukan Kabupaten Buton Utara di Provinsi Sulawesi Tenggara.
Di tahun yang sama, yaitu tahun 2007 di bentuk SKPD yang diberi nama Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD). Tahun 2012 DPPKAD mekar menjadi dua SKPD yaitu Badan Pengelolaan dan Aset Daerah (BPKAD) dan Pendapatan berdiri sendiri menjadi SKPD Dinas Pendapatan Daerah. Hal ini sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Buton Utara Nomor 57 Tahun 2012 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.
Pada tahun 2016 Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Buton Utara digabung lagi dengan Keuangan Daerah, sehingga Dinas Pendapatan Kabupaten Buton Utara menjadi salah satu Bidang di Badan Keuangan Daerah dengan nama Bidang Pendapatan Badan Keuangan Kabupaten Buton Utara yang dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Buton Utara Nomor 6 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Buton Utara.
Jadi, sampai saat ini Pendapatan di Kabupaten Buton Utara di tangani oleh Bidang Pendapatan pada Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tidak memiliki visi misi tersendiri, tapi SKPD hanya mendukung visi misi dari Bupati dan Wakil Bupati terpilih sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM)Adapun visi misi dari Bupati dan Wakil Bupati Buton Utara yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Buton Utara Periode 2016-2021 adalah :
Gambar 2 Visi Misi Badan Keuangan Kabupaten Buton utara Visi RPJMD “Terwujudnya Masyarakat yang Aman, Berbudaya
B. Struktur Organisasi dan Job Description
1. Struktur Organisasi
A.
B.
Gambar 3 Struktur Organisasi Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara Tahun 2019
Gambar 2 diperoleh struktur organisasi Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara, sesuai Peraturan Bupati Buton Utara Nomor 31 Tahun 2016 Tentang Tingkatan, Susunan Organisasi,
Kepala Badan
Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara, adapun Tugas dan Fungsi Badan Keuangan Daerah adalah sebagai berikut :
2. Job Description
a. Kepala Kantor
Kepala Badan Keuangan Daerah memiliki kewajiban memimpin, membina, kordinasi, merencanakan dan menetapkan kebijakan serta program strategis, tata kerja dan mengembangkan keuangan daerah serta bertanggung jawab atas terlaksananya tugas pokok dan fungsi.
b. Sekretariat
Sekretariat mempunyai tugas yaitu melaksanakan pembinaan dan tata laksana, perencanaan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan, dan rumah tangga untuk menunjang dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan instansi yang dipimpin oleh sekretaris yang bertanggung jawab kepada kepala badan.
Sekretariat terdiri atas :
1) Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan. Dan 2) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.
c. Bidang Pendapatan
Bidang Pendapatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, serta evaluasi dan pelaporan di Bidang Pendapatan Daerah Bidang Pendapatan. Bidang ini dipimpin oleh Kepala Bidang yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.
Bidang Pendapatan Terdiri atas :
1) Sub Bidang Pendataan dan Penetapan.
2) Sub Bidang Pendapatan Lain-Lain dan Keberatan. Dan 3) Sub Bidang Penagihan Pajak daerah dan Retribusi
daerah.
d. Bidang Anggaran
Bidang Anggaran mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan teknis dan pelaksanaan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Bidang ini dipimpin oleh Kepala Bidang yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.
Bidang Anggaran terdiri dari :
1) Sub Bidang Perencanaan Anggaran.
2) Sub Bidang Penyusunan Anggaran. Dan 3) Sub Bidang Administrasi Anggaran.
e. Bidang Perbendaharaan
Bidang Perbendaharaan mempunyai tugas untuk melaksanakan perumusan kebijakan teknis dan pelaksanaan urusan pemerintahan yang meliputi pelaksanaan penatausahaan penerimaan belanja dan pembiayaan. Bidang ini dipimpin oleh Kepala Bidang yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.
Bidang Perbendaharaan terdiri dari :
1) Sub Bidang Penerimaan dan Pembiayaan.
2) Sub Bidang Pengeluaran. Dan 3) Sub Bidang Verifikasi dan Evaluasi;
f. Bidang Akuntansi
Bidang Akuntansi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, serta evaluasi dan pelaporan di Bidang Akuntansi Keuangan Daerah.
Bidang ini dipimpin oleh Kepala Bidang yang berada di daerah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.
Bidang Akuntansi terdiri atas : 1) Sub Bidang Penerimaan Kas.
2) Sub Bidang Pengeluaran Kas. Dan
3) Sub Bidang Pelaporan dan Pertanggung Jawaban.
g. Bidang Pengelolaan Aset
Bidang Pengelolaan Aset mempunyai tugas untuk melaksanakan perumusan kebijakan teknis dan pelaksanaan analisis kebutuhan, pengadaan dan distribusi, inventarisasi, pemeliharaan dan penghapusan, pemanfaatan dan pemberdayaan asset daerah. Bidang ini dipimpin oleh Kepala Bidang yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.
Bidang Pengelolaan Aset terdiri dari :
1) Sub Bidang Analisa Kebutuhan dan Pemanfaatan Aset.
2) Sub Bidang Inventarisasi dan Pemeliharaan Aset. Dan 3) Sub Bidang Penilaian dan Penghapusan Aset.
C. Hasil Penelitian
Diterapkan otonomi daerah, daerah dituntut agar dapat membiayai segala kebutuhan otonomi daerahnya yang merupakan sumber penyelenggaraan pembiayaan yang ada di daerahnya. Hubungan antara keuangan pusat dan daerah dikembangkan agar mendukung penyelenggaraan pemerintah daerah, maka dari itu salah satu upaya yang harus dilakukan adalah pengembangan Pendapat Asli Daerah (PAD) harus dioptimalkan. Dari penelitian yang penulis lakukan di (Bidang Pendapatan) Badan Keuangan Daerah, penulis memperoleh data sebagai berikut :
1. Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Buton Utara Tahun Anggaran 2017-2020
Tabel 2 Rekapitulasi Target dan Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Buton Utara Tahun 2017 s/d 2020 Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) Presentasi 2017 7.153.706.029 4.115.440.877 57,53%
2018 4.324.800.000 4.273.922.043 98,82%
2019 550.784.340.000 659.507.512.568 119,74%
2020 548.503.014.810 540.416.118.661 98,53%
Sumber : Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara, Diolah (2021)
Dari data diatas, dapat dilihat bahwa realisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Buton Utara ditahun 2017 sampai dengan tahun 2019 mengalami peningkatan yakni pada tahun 2017 realisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp 4.115.440.877 dengan presentasi sebesar 57,53%, hasil penerimaan PAD pada tahun ini hanya berasal dari tiga sumber yakni Pajak Daerah sebesar Rp. 2.518.930.777, Retribusi Daerah sebesar Rp.
1.559.299.100 dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu sebesar Rp.
37.211.000. Tahun 2018 realisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp. 4.273.922.043 dengan presentasi yang meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar 98,82%, hasil penerimaan PAD pada tahun ini juga hanya bersumber dari tiga sumber pendapatan yakni Pajak Daerah yang pendapatannya meningkat jika dibanding
tahun sebelumnya yakni sebesar Rp. 2.607.050.080, Retribusi Daerah sebesar Rp. 1.556.854.063 dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang meningkat jika dibanding tahun sebelumnya yakni sebesar Rp.
110.017.900. Tahun 2019 realisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah sangat menigkat jika dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebesar Rp. 659.507.512.568 dengan presentasi yang meningkat menjadi sebesar 119,53%, realisasi pada tahun ini meningkat pesat dibandingkan tahun sebelumnya dikarenakan adanya peningkatan pendapatan dari Pajak Daerah jika dibanding tahun sebelumnya yakni sebesar Rp. 5.484.874.226, Retribusi Daerah yang meningkat dari tahun sebelumnya Rp. 2.712.412.911, kemudian adanya penambahan jumlah pendapatan dari Jenis Pendapatan Asli Daerah Yang Sah sebesar Rp. 4.859.188.852, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan sebesar Rp. 6.425.053.775, Pendapatan Lainnya sebesar Rp. 9.710.839.805, Bagi Hasil Provinsi sebesar Rp.
11.407.654.854, Dana Transfer Pemerintah Puasat sebesar Rp.
550.710.789.545, Dana Penyesuaian sebesar Rp. 68.196.698.600.
Namun pada tahun 2020 mengalami penurunan baik dari penerapan target dan realisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp. 540.416.118.661 dan penurunan presentasi menjadi 98,53%, hal ini dikarenakan pendapatan dari sektor Pajak Daerah menurun dari tahun sebelumnya yakni sebesar Rp.3.247.877.561, Retribusi Daerah juga menurun yakni sebesar Rp. 2.374.717.310,
Pendapatan Lainnya yang menurun dari tahun sebelumnya yakni sebesar Rp. 168.250.409, Dana Transfer Pemerintah Pusat menurun menjadi Rp. 510.067.451.542, tidak adanya penerimaan dari Dana penyesuaian namun, disamping itu Jenis Pendapatan Asli Daerah Yang Sah meningkat menjadi Rp. 5.545.691.882, peningkatan pendapatan pada Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan menjadi Rp. 6.756.478.672, peningkatan pada pendapatan Bagi Hasil Provinsi menjadi Rp. 12.005.651.285 dan ada penambahan penerimaan dari Dana Insentif Daerah sebesar Rp.
250.000.000, walaupun ada penambahan pendapatn dari beberapa sektor namun tetap saja Realisasi PAD pada tahun 2020 tidak mencapai target yang ditetapkan.
2. Penerimaan Pajak Daerah Kabupaten Buton Utara Tahun Anggaran 2017 s/d 2020
Tabel 3 Rekapitulasi Target dan Realisasi Pajak Daerah Kabupaten Buton Utara Tahun 2017 s/d 2020
Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) Presentasi 2017 2.107.600.000 2.518.930.777 119,52%
2018 2.107.600.000 2.607.050.080 123,70%
2019 5.000.000.000 5.484.874.226 109,70%
2020 2.718.674.810 3.247.887.561 119,47%
Sumber : Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara, Diolah (2021)
Dari perolehan data diatas, dapat dilihat bahwa selama tahun anggaran 2017 s/d 2020 penerimaan Pajak Daerah di Kabupaten Buton Utara selalu mencapai target walaupun pada tahun 2020 target pendapatan Pajak Daerah tahun 2019 sebesar Rp. 5.000.000.000 harus diturunkan pada tahun 2020 sebesar 2.718.674.810. Selama periode anggara 2017 s/d 2020 yang menjadi komponen penyumbang Pajak Daerah di Kabupaten Buton Utara ini hanya sebanyak 8 jenis pajak saja yaitu, Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Air Tanah, Pajak Bumi dan bangunan, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan bangunan dan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan. Pada Tahun 2017 dari penerimaan pendapatan Pajak Daerah di Kabupaten Buton Utara, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan merupakan pajak dengan penerimaan realisasi terbesar ditahun 2017 walaupun penerimaan pendapatannya tidak mencapai target pada tahun, sedangkan Pajak Daerah dengan penerimaan tertinggi pada tahun ini adalah Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan sebesar Rp. 986.475.163.
Pada tahun 2018 penerimaan Pajak Daerah meningkat dengan realisasi sebesar Rp. 2.607.050.080 dengan presentasi sebesar 123,70%. Pajak Daerah dengan penerimaan realisasi dan pencapaian tertinggi pada tahun ini adalah Pajak Penerang Jalan dengan penerimaan realisasi sebesar Rp. 1.163.247.763 dengan presentasi sebesar 337,17%.
Pada tahun 2019, penerimaan Pajak Daerah meningkat pesat dibanding tahun sebelumnya yaitu dengan penerimaan realisasi sebesar Rp. 5.484.874.226 dengan presentasi sebesar 109,70%. Pajak Daerah dengan penerimaan terbesar ditahun ini adalah Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yaitu sebesar Rp.
2.046.111.950, sedangkan Pajak Daerah dengan pencapaian tertinggi adalah Pajak Restoran dengan realisasi sebesar 357,44%
Pada tahun 2020, target dan penerimaan realisasi Pajak Daerah menurun dibandingkan tahun sebelumnya, walapun penerimaan realisasinya dapat mencapai target dengan penerimaan realisasi sebesar Rp. 3.247.887.561 dari target sebesar Rp.
2.718.674.810 dengan presentasi penerimaan sebesar 119,47%, pada tahun banyak sumber pendapatan Pajak Daerah yang mengalami penurunan pendapatan sektor yang mengalami penurunan terbanyak adalah Bea Balik Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dimana ditahun sebelumnya perolehan pendapatannya sebesar Rp. 2.046.111.950 dan ditahun 2020 turun menjadi Rp 26.008.950 .
3. Sumbangsi Pajak Daerah Pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Buton Utara Tahun Anggaran 2017 s/d 2020
Tabel 4 Sumbangsi Pajak Daerah Pada Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Buton Utara Tahun 2017 s/d 2020
Tahun PAD (Rp) Pajak Daerah (Rp) Presentasi 2017 4.115.440.877 2.518.930.777 61,21%
2018 4.273.922.043 2.607.050.080 60,99%
2019 659.507.512.568 5.484.874.226 0,83%
2020 540.416.118.661 3.247.887.561 0,60%
Sumber : Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara, Diolah
2021)
Dari data diatas dapat dilihat bahwa presentasi sumbangsi Pajak Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah dari tahun 2017 s/d 2020 selalu mengalami penurunan jika dilihat dari segi presentasi Pajak Daerah pada Pendapatan Asli Daerah walaupun dapat pada tahun 2019 penerimaan pajak mengalami peningkatan dari Rp.
2.607.050.080 di tahun 2018 dan mengalami peningkatan sebesar Rp.
5.484.874.226 di tahun 2019, namun tetap saja presentasi sumbangsi Pajak Daerah ke Pendapatan Asli Daerah selalu mengalami penurunan dari tahun 2017 hingga tahun 2020
Adanya penurunan dan peningkatan sumbangsi dari Pajak Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah dikarenakan pendapatan baik itu dari sektor Pajak Daerah ataupun Pendapatan Asli Daerah
tidak signifikan atau stbail sehingga dapat menyebabkan penurunan dan peningkatan pada sumbangsi pada Pajak Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Buton Utara.
4. Rekapitulasi Target dan Realisasi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Kabupaten Buton Utara Tahun Anggaran 2017 s/d 2020
Tabel 5 Rekapitulasi Target dan Realisasi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Kabupaten buton Utara tahun 2017 s/d 2020
Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp) Presentasi
2017 1.155.600.000 986.475.163 85,36%
2018 1.155.600.000 739.071.534 63,96%
2019 1.034.800.000 1.347.106.048 130,18%
2020 250.000.000 723.370.371 289,35%
Sumber : Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara, Diolah (2020)
Dari data diatas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2017 realisasi dan presentasi penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan di Kabupaten Buton Utara sebesar Rp. 986.475.163 dengan presentasi sebesar 85,36%, pada tahun 2018 realisasi dan presentasi penerimaan mengalami penurunan dengan realisasi sebesar Rp.
739.071.534 dengan presentasi sebesar 63,96%, pada tahun 2019 realisasi dan presentasi penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan mengalami kenaikan yang cukup tinggi dengan realisasi
penerimaan sebesar Rp. 1.347.106.048 dengan presentasi sebesar 130,18% dan pada tahun 2020 walaupun penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan mencapai target dan presentasi penerimaan meningkat dari tahun sebelumnya, namun realisasi penerimaan pajaknya menurun jika dibanding tahun sebelumnya. Penyebab menurunnya pendapatan dari Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan sangat berpengaruh pada jumlah Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, ditahun 2017 Wajib Pajak yang tercatat melakukan pembayaran Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan sebanyak 312 Wajib Pajak, kemudian ditahun 2018 Wajib Pajak yang tercatat menurun menjadi 278 Wajib Pajak hal ini pun yang menyebabkan turunnya penerimaan ditahun 2018, kemudian ditahun 2019 jumlah Wajib Pajak yang tercatat meningkat menjadi 432 Wajib Pajak sehingga menyebabkan penerimaan Pajak Mineral Bukan Logan dan Batuan ditahun ini ikut meningkat dan ditahun 2020 jumlah Wajib Pajak yang tercatat mengalami penurunan menjadi 203 Wajib Pajak hal ini pun juga yang menyebabkan penerimaan pajak ditahun ini menurun jika dibanding tahun sebelumnnya. Perolehan hasil perhitungan besaran presentasi diperoleh dengan menggunakan rumus berikut :
Presentasi =
D. Pembahasan
Tabel 6 Sumbangsi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Pada Pajak Daerah Tahun 2017 s/d 2020
Tahun Pajak Daerah (Rp) PJMBLB (Rp) Presentasi
2017 2.518.930.777 986.475.163 39,16%
2018 2.607.050.080 739.071.534 28,35%
2019 5.484.874.226 1.347.106.048 24,56%
2020 3.247.887.561 723.370.371 22,27%
Sumber : Badan Keungan Daerah Kabupaten Buton Utara, Diolah (2021)
Dari data diatas, menunjukkan bahwa sumbangsi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan terhadap Pajak Daerah dari tahun 2017 hingga tahun 2020 terus mengalami penurunan walaupun pada tahun 2019 penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya dan tahun 2020 namun, tetap saja sumbangsi presentasi penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan sepanjang periode tahun 2017 s/d 2020 terus mengalami penurunan.
Tabel 7 Sumbangsi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan pada
Sumber : Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara, Diolah (2021)
Dari data diatas, dapat diketahui bahwa sumbangsi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan tahun 2017 s/d 2020 dari tahun ketahun mengalami penurunan presentasi penerimaan, walaupun pada tahun 2019 penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan dapat dikatakan meningkat dari tahun sebelumnya namun dalam hal peningkatan presentasi tetap menurun dari tahun 2017 hingga tahun 2020.
Dari kedua tabel diatas dapat dilihat presentasi sumbangsi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan baik itu terhadap Pajak Daerah ataupun Pendapatan Asli Daerah dari tahun 2017 s/d 2020 selalu mengalami penurunan hal ini dikarenakan pendapatan pada Pajak Daerah, Pendapatan Asli Daerah dan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan tidak signifikan atau tidak seimbang selama tahun 2017 s/d 2020 terlebih lagi Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan kadang mengalami penurunan dan peningkatan yang
juga ikut berimbas pada penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan dari tahun ke tahun.
1. Pelaksanaan Pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2016 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah (PP No. 55 Tahun 2016) pemungutan pajak daerah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu melalui official assesment system, yaitu dengan sistem pemungutan dimana memberikan kewenangan kepada pemerintah (aparat pemungut pajak) untuk menentukan besarnya pajak terhutang kepada wajib pajak dan self assesment system, yaitu dimana wajib pajak diberikan kewenangan untuk menghitung besarnya pajak terutang.
Tetapi pada Badan Keuangan Daerah Kabupaten Buton Utara Pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan dipungut dengan cara official assesment system, dengan prosedur sebagai berikut :
a. Wajib pajak dengan membawa Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) menghadap ke aparat pemungut pajak (Bidang Pendapatan pada Badan Keuangan Daerah) untuk melakukan perhitungan besaran pajak terutang.
b. Aparat pemungut pajak melakukan perhitungan pajak terutang dan mengeluarkan SKP (Surat Ketetapan Pajak) kemudian memberikan kepada staf registrasi.
c. Staf registrasi membuat Surat Setor Pajak Daerah (SSPD) yang kemudian diberikan kepada wajib pajak.
d. Wajib pajak berdasarkan Surat Setor Pajak Daerah (SSPD) melakukan pembayaran pada Kas Daerah/Bank/Bendahara Penerimaan.
e. Wajib pajak setelah melakukan pembayaran, dengan membawa Surat Setor Pajak Daerah dan Bukti Setor Bank/Slip Setor menyerahkan kepada staf registrasi, yang kemudian dibuat rangkap 4 (empat) dengan distribusi sebagai berikut :
1) Wajib pajak
2) Tembusan masing-masing untuk Bendahara Penerimaan 3) Fungsi Akuntansi dan seksi pembukuan dan pelaporan 4) Arsip
f. Selanjutnya setelah SSPD dan bukti setoran bank/slip setoran divalidasi dan dicap oleh pejabat kas daerah/pihak bank, BUD/kas daerah menyerahkan asli dari SSPD dan Bukti Setoran Bank/Slip Setoran kepada wajib pajak. Sedangkan tembusan disampaikan kepada pihak yang terkait, khusus untuk Bendahara Penerimaan/BKP dilampiri Bukti Setoran Bank/Slip Setoran.
g. Berdasarkan media penyetoran (SSPD) dan bukti setoran bank/slip setoran yang telah divalidasi dan dicap oleh BUD/Kas Daerah, bendahara penerimaan/BKD mencatat setoran tersebut dalam register STS/SSPPD, dan buku penerimaan dan penyetoran.
h. Bendahara penerimaan/BKP secara periodic (bulanan) membuat Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) administrative kepada kepala Badan Keuangan Daerah dan LPJ fungsional yang ditandatangani oleh kepala Badan Keuangan Daerah. LPJ fungsional dibuat rangkap 4 (empat) dengan distribusi kepada:
1) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
2) Fungsi akuntansi.
3) Seksi pembukuan penerimaan dan pelaporan.
4) Arsip.
Dari segi sistem pembayaran masyarakat tidak merasa terbebani justru merasa terbantu karena pada dasarnya masyarakat telah mengetahui sistem pemungutan Pajak Mineral Buka Logam dan Batuan ini.
Seperti yang dikatakan oleh Ibu Siti Rahmi selaku Kepala Sub Bagian Pendataan dan Penetapan, menyatakan bahwa :
“Untuk pelaksanaan pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan di Badan Keuangan Daerah termaksud mudah kok, wajib pajak tidak perlu repot untuk menghitung pajak terutang sendiri cukup membawa Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) nanti kami
selaku pemungut pajak yang akan menghitungkan besarnya pajak terutang yang tidak memakan waktu yang lama paling lama sekitar 10 menit, nanti wajib pajak yang akan melakukan pembayaran pada Bank Pembangunan Daerah (BPD), setelah melakukan pembayaran sisa menunggu Surat Setor Pajak Daerah (SSPD) dan slip setorannya dibuat rangkap untuk arsip dan tembusan kemudian staf kami akan memberikan satu rangkap untuk wajib pajak sebagai arsip dan berdasarkan Undang-Undang No 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah, kai memungut Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan dengan besaran tarif sebesar 25%”
Dengan sistem pemungutan secara official assesment system ini, mempermudahkan petugas pemungut pajak karena wajib pajak sendiri yang datang ke Kantor Badan Keuangan Daerah untuk melakukan perhitungan pajak terutang dan mempermudahkan wajib pajak dalam melakukan perhitungan pajak terutang
Hal ini dibenarkan oleh Bapak La Ode Ayub selaku perwakilan CV. Devansa sebagai wakil direktur yang membayar pajak, menyatakan bahwa :
“Penerapan pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Golongan C dengan cara official assesment system seperti ini sangat mempermudahkan kami selaku kontraktor tidak perlu repot-repot melakukan perhitungan pajak terutang cukup datang langsung saja di Badan Keuangan Daerah kita sudah bisa dihitungkan, terlebih lagi pelayanannya baik, staf-stafnya ramah selalu memberikan respon yang baik kepada wajib pajak yang bertanya kalau ada yang tidak dipahami dalam proses pemungutan pajaknya”
Berdasarkan surat edaran Bupati Kabupaten Buton Utara dan Peraturan Daerah Kabupaten Buton Utara No 15 Tahun 2015, pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan dilakukan oleh pihak kontraktor apabila menangani sebuah proyek.
Hal ini dibenarkan oleh Ibu Rosnia selaku Kepala Sub Bagian Penagihan Pajak dan Retribusi Daerah, yang menyatakan bahwa :
“Untuk pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, kami sebagai pihak pemungut pajak hanya memungut lewat kontraktor saja apabila menangani sebuah proyek yang bekerja sama dengan CV atau UD karena berdasarkan surat edaran Bupati dana pembiayaan proyek tidak akan dicairkan apabila pihak kontraktor belum melunasi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuannya yang terutang dan ini justru memudahkan kami dibanding memungut kepada pihak CV ataupun UD yang kadang tidak datang melaporkan pemasukan penerimaan dari hasil penjualan yang berkaitan dengan Penagihan Pajak dan Retribusi Daerah, yang menyatakan bahwa :
“Kurang efektifnya peraturan seputar pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ini, sangat membatasi ruang gerak kami sebagai aparat pemungut pajak, sebagai Aparat Pemungut pajak kami tentunya telah melakukan sosialisasi terhadap pihak-pihak yang melakukan kegiatan penambangan seperti CV dan UD namun, sampai saat ini CV dan UD hanya melakukan pembayaran apabila mereka terlibat dalam pembangunan sebuah proyek itupun yang membayar Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuannya adalah kontraktor bukan Cv atau UD yang bersangkutan dan terlebih lagi pihak CV ataupun UD masih ada penerimaan penghasilan di luar dari penghasilan yang mereka peroleh dari proyek, bahkan untuk mengawasi jalannya sebuah proyek kami tidak bisa karena kurang peraturan yang mengatur akan hal tersebut”
Terkait pengawasan aparatur pemungut pajak untuk mengawasi jalannya sebuah proyek ini dibenarkan oleh Bapak Yayan Ode Putra sebagai salah satu kontraktor yang menyatakan bahwa :
“Terkait dengan pengawasan yang dilakukan oleh pihak Badan Keuangan Daerah, salama beberapa kali saya menangani proyek, saya belum pernah melihat pihak Badan Keuangan Daerah untuk turun mengawasi jalannya penanganan proyek yang kami jalani”
Berdasarkan hasil wawancara diatas, dengan ketidak efektifan
Berdasarkan hasil wawancara diatas, dengan ketidak efektifan