IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
5.5. Alokasi Optimal Penggunaan Sumberdaya Lahan Kritis dengan Sistem
5.5.1. Optimalisasi Penggunaan Sumberdaya Lahan Kritis
Berdasarkan hasil analisis finansial yang telah dilakukan telah diperoleh alternatif pola tanam dengan sistem agroforestri yang terbaik untuk dilakukan pada proyek CDM di sekitar TNRAW. Tetapi analisis tersebut hanya menilai dari sisi finansial. Sementara pada penelitian ini ada 2 tujuan yang bertentangan yaitu tujuan pendapatan dan pendapatan dengan keuntungan dari jasa lingkungan.
0 10 20 30 40 50 60 70
aksesibiltas keuangan Tenaga kerja lainnya
TNRAW P e rsenta se R e s p o n d e n
Dengan menggunakan analisis optimasi penggunaan lahan hal ini dapat diketahui. Beberapa asumsi yang mendasari besarnya kemampuan serapan karbon agroforestri adalah: garis dasar (baseline) proyek dianggap nol, tidak diperhitungkan emisi yang terjadi akibat pemanenan tegakan dan budidaya pertanian, dan tidak diperhitungkan tambahan persediaan karbon yang ada di bawah permukaan tanah.
Analisis optimalisasi diperlukan untuk mengetahui apakah sumberdaya- sumberdaya pada penggunaan lahan sudah dilakukan secara optimal ditinjau dari beberapa aspek. Analisis optimalisasi ini dilakukan dengan menganalisis sumberdaya-sumberdaya yang ada berdasarkan prioritas-prioritas tujuan penggunaan lahan tersebut. Apakah sumberdaya-sumberdaya yang dipakai sudah dialokasikan secara optimal untuk berbagai tujuan pemanfaatan lahan dapat diketahui dengan melakukan analisis ini (Arrulangi 2005).
Dalam penelitiannya Widaningsih dan Djakamihardja (1991) untuk mendapatkan gambaran penggunaan lahan yang optimal dari berbagai kombinasi jenis tanaman (dalam hal ini kayu afrika, padi gogo, jagung dan singkong), melakukan dilakukan analisis menggunakan Program Tujuan Ganda (Multiple Goal Programming atau Multiple Objective Programmming). Salah satu rekomendasi dari hasil penelitian mereka, agar petani dapat memenuhi sepenuhnya kebutuhan akan produksi yang dapat dikonsumsi dan kebutuhan- kebutuhan !ainya termasuk untuk bahan bakar dari sistem agroforestry tersebut, maka diusulkan setiap keluarga petani di daerah itu harus memiliki lahan garapan minimal 0.74-1.03 hektar. Tetapi penelitian ini bertujuan untuk menentukan luas lahan optimal dengan kendala keterbatasan sumberdaya yang tersedia.
Setelah koefisien-koefisien input analisis program tujuan ganda pada tiap kelas lereng diketahui maka dengan model yang telah ditentukan pada metode penelitian dilakukan analisis dengan menggunakan software Lindo yang menghasilkan output nilai-nilai yang digunakan menjadi penentu pola tanam dengan sistem agroforestri yang mana yang memberikan manfaat paling optimal dengan mempertimbangkan pendapatan dan juga pendapatan dari jasa lingkungan (informasi input dan output analisis program tujuan ganda dapat dilihat di Lampiran 26).
Solusi optimal basis yang diperoleh dengan metode analisis PTG terdiri atas luas optimal penggunaan sumberdaya lahan kritis dengan pola tanam yang terbaik pada tiap kelas lahan, target yang dicapai dan penggunaan sumberdaya yang optimal. Luas optimal penggunaan sumberdaya lahan kemudian dibandingkan dengan luas lahan yang tersedia guna menentukan apakan diperlukan penambahan atau pengurangan jumlah sumberdaya yang menjadi kendala yaitu anggaran dan tenaga kerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 34.
Tabel 34. Alokasi Optimal Penggunaan Sumberdaya Lahan Kritis dengan Sistem Agroforestri di Sekitar TNRAW
Variabel
Keputusan Kombinasi Aktual (ha)
Solusi Optimal Basis (ha)
X31 Jati, Mete, Jagung, Pisang 40 963 4 781
X32 Jati, Mete, Jagung, Pisang 1 498 693
X33 Jati, Mete, Jagung, Pisang 1 773 325
X34 Jati, Mete, Jagung, Pisang 1 085 141
Keterangan : X31 = Pola tanam 3 pada kelas lereng I X32 = Pola tanam 3 pada kelas lereng II X33 = Pola tanam 3 pada kelas lereng III X34 = Pola tanam 3 pada kelas lereng IV
Tabel 34 menunjukkan bahwa solusi basis optimal penggunaan sumberdaya lahan kritis dengan sistem agroforestri di sekitar TNRAW baru
sekitar 13.1%dari sumberdaya lahan kritis yang tersedia yaitu 45 319 ha. Hal ini
disebabkan oleh keterbatasan sumberdaya anggaran untuk modal awal pembangunan sistem agroforestri yang diasumsikan sebesar 30% dari total penjualan karbon di akhir masa daur yang dibayarkan sebelum proyek berjalan (Initial Front Payment). Adapun pola tanam yang direkomendasikan adalah pola tanam 3 dengan kombinasi tanaman Jati, Mete, Jagung dan Pisang pada tiap kelas lereng. Rekomendasi ini sama dengan rekomendasi berdasarkan hasil analisis finansial pada tujuan 3. Selain itu juga sesuai dengan hasil penelitian Iskandar, H et al tahun 2006 yang mengusulkan sistem agroforestri kebunan campuran dengan Jati (Tectona grandis) sebagai tanaman pokok dan Mete (Anacardium occidentale) sebagai tanaman buah-buahan untuk proyek Afforestasi Reforestasi CDM skala kecil untuk jangka waktu 30 tahun di Bombana, Sulawesi Tenggara.
Penelitian ini memiliki 2 tujuan atau target, yaitu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan meningkatkan jasa lingkungan rosot karbon melalui proyek CDM yang diklasifikasikan berdasarkan kelas lereng, sementara kendala fungsional seperti anggaran dan tenaga kerja dianggap sebagai kendala bersama karena anggaran untuk modal awal pembangunan agroforestri diasumsikan dapat digunakan di areal bagian mana saja yang masuk dalam kriteria lahan layak Kyoto di sekitar TNRAW yang telah diidentifikasi. Begitu juga dengan tenaga kerja yang dapat bekerja di areal mana saja (mobile). Pengalokasian lahan yang direkomendasikan menunjukkan bahwa target yang ingin dicapai dapat diminimumkan deviasinya. Besaran target yang tidak tercapai dari pendapat dan
jasa lingkungan rosot karbon menurut solusi optimal basis di sekitar TNRAW disajikan pada Tabel 35.
Tabel 35. Pencapaian Tujuan Pendapatan dan Jasa Lingkungan Rosot Karbon di Sekitar TNRAW
No. Meminimumkan deviasi tujuan Besaran tujuan DU dan DO
1 Pendapatan maksimum di KL I
(Rp ribu/tahun)
65 043 664 -56 733 496
2 Jasa lingkungan rosot karbon di
KL I (ton C/tahun)
162 725 -149 720
3 Pendapatan maksimum di KL II
(Rp ribu/tahun)
2 378 620 0
4 Jasa lingkungan rosot karbon di
KL II (ton C/tahun)
8 152 -5 476
5 Pendapatan maksimum di KL III
(Rp ribu/tahun)
2 815 282 0
6 Jasa lingkungan rosot karbon di
KL III (ton C/tahun)
17 499 -15 109
7 Pendapatan maksimum di KL IV
(Rp ribu/tahun)
1 727 832 0
8 Jasa lingkungan rosot karbon di
KL IV (ton C/tahun)
12 252.36 -1 181
Keterangan : DU = pencapaian kurang (underachievement) dari target DO = Pencapaian lebih (overachievement) dari target
Tabel 35 menunjukkan bahwa maksimum pendapatan masyarakat di kelas lereng I yang tidak tercapai dari target awal Rp 65 043 664 ribu/tahun adalah Rp 56 733 496 ribu/tahun ( 87.2% tidak tercapai), sedangkan untuk jasa lingkungan
yang tidak tercapai 92% dari target awal 162 725 ton C/tahun yaitu 147 720 ton C/tahun. Pada kelas lereng II target maksimum pendapatan
seluruhnya terpenuhi, tetapi target jasa lingkungan rosot karbon yang tidak tercapai adalah 67.17% dari target awal 8 152 ton C/tahun. Target maksimum
pendapatan pada kelas lereng III juga terpenuhi seluruhnya, sementara target jasa lingkungan rosot karbon yang tidak tercapai sebesar 15 971 ton C/tahun atau 91.3% dari target awal 17 499 ton C/tahun. Target di kelas lereng IV untuk memaksimumkan pendapatan tercapai seluruhnya tetapi taret jasa lingkungan di kelas lereng IV tidak tercapai 40.7% dari target awal 12 252 ton C/tahun, yaitu 4 995 ton C/tahun.
Ketidaktercapaian target dikarenakan pengalokasian penggunaan sumberdaya lahan kritis selalu dihadapkan pada keterbatasan (kendala) sumberdaya yang tersedia. Kendala dan nilai sisa pemakaian sumberdaya tersebut disajikan pada Tabel 36.
Tabel 36. Nilai Sisa Pemakaian Sumberdaya dalam Alokasi Optimal Lahan Kritis
No. Jenis sumberdaya Kendala (RHS) Nilai sisa
1 Lahan Layak Kyoto di KL I (ha) 40 963 36 181
2 Lahan Layak Kyoto di KL II (ha) 1 498 804
3 Lahan Layak Kyoto di KL III (ha) 1 773 1447
4 Lahan Layak Kyoto di KL IV (ha) 1 085 943
5 Anggaran (Rp ribu/thn) 14 498 323 0
6 Tenaga Kerja (HOK/thn) 1 599 120 167 566
Keterangan : RHS = Righthand Side
Tabel 36 menunjukkan pada kondisi optimal penggunaan sumberdaya lahan kritis dengan sistem agroforestri di sekitar TNRAW anggaran yang tersedia untuk biaya pembangunan agroforestri habis terpakai sedangkan sumberdaya yang lainnya masih bersisa. Hal ini menunjukkan pada kondisi optimal kendala
anggaranlah yang paling berpengaruh sehingga lahan kritis yang tersedia tidak termanfaatkan dengan lebih optimal dan perlu ditingkatkan anggaran sehingga dapat meningkatkan luas lahan kritis yang dapat diusahakan. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis postoptimal dengan meningkatkan IFP.