IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
5.5. Alokasi Optimal Penggunaan Sumberdaya Lahan Kritis dengan Sistem
5.5.3. Peningkatan Initial Front Payment (IFP) dan Ketersediaan
Kerja
Hasil analisis postoptimal sebelumnya menunjukkan perlunya peningkatan ketersediaan tenaga kerja untuk meningkatkan alokasi optimal penggunaan sumberdaya lahan kritis karena pada setelah anggaran IFP 35 % peningkatan anggaran tidak berpengaruh terhadap peningkatan ketercapaian tujuan karena terkendala oleh ketersediaan tenaga kerja yang kemudian dilakukan dengan analisis postoptimal dengan 4 skenario berikutnya, yaitu :
a. Skenario 3 yaitu Initial Front Payment (IFP) 35% dan peningkatan tenaga
kerja 20%
b. Skenario 3 yaitu Initial Front Payment (IFP) 50% dan peningkatan tenaga
kerja 50%
c. Skenario 3 yaitu Initial Front Payment (IFP) 100% dan peningkatan tenaga
kerja 100%
d. Skenario 3 yaitu Initial Front Payment (IFP) 200% dan peningkatan tenaga
kerja 500%
Tabel 40 menyajikan hasil postoptimal empat skenario tersebut di atas dimana ternyata dengan peningkatan tenaga kerja dapat meningkatkan alokasi lahan optimal.
Tabel 40. Alokasi Optimal Penggunaan Sumberdaya Lahan Kritis dengan Sistem Agroforestri di Sekitar TNRAW dengan Initial Front Payment (IFP) dan Tenaga Kerja
Variabel Keputusan Kombinasi Rekomendasi (Ha) Optimal Basis Skenario 3 Skenario 4 Skenario 5 Skenario 6 X31 Jati, Mete, Jagung, Pisang 4 781 5 506 8 328 11 336 37 395 X32 Jati, Mete, Jagung, Pisang 693 831 1 039 1 386 1 498 X33 Jati, Mete, Jagung, Pisang 325 390 488 651 1 773 X34 Jati, Mete, Jagung, Pisang 141 169 211 281 845
Keterangan : Skenario 3 = IFP 35% dan tenaga kerja meningkat 20% Skenario 4 = IFP 50% dan tenaga kerja meningkat 50% Skenario 5 = IFP 100% dan tenaga kerja meningkat 100% Skenario 6 = IFP 200% dan tenaga kerja meningkat 500%
Hasil analisis postoptimal dengan peningkatan IFP dan tenaga kerja pada 4 skenario di atas menunjukkan rekomendasi luas lahan optimal yang meningkat dengan meningkatnya IFP dan ketersediaan tenaga kerja. Hal ini menunjukkan kendala-kendala fungsionalnya sangat berpengaruh terhadap alokasi lahan optimal. Pada skenario 6 dilakukan analisis post optimal dengan asumsi target anggaran untuk modal meningkat dari 30% menjadi 200% IFP dan tenaga kerja meningkat 500%. Target anggaran meningkat dengan asumsi ada tambahan dana dari Pemerintah maupun masyarakat sendiri senilai dengan 170% IFP dan dilakukan program pemberdayaan masyarakat melalui transmigrasi petani di Jawa yang sudah tidak memiliki lahan sebanyak 33 315 orang usia produktif.
Tabel 41 menunjukkan pencapaian tujuan pendapatan dan jasa lingkungan rosot karbon di TNRAW.
Tabel 41. Pencapaian Tujuan Pendapatan dan Jasa Lingkungan Rosot Karbon di Sekitar TNRAW dengan Peningkatan Initial Front Payment (IFP) dan Tenaga Kerja
No Meminimumkan deviasi tujuan Besaran tujuan Basis Skenario 3 Skenario 4 DU dan DO Skenario 5 Skenario 6 1 Pendapatan maksimum di KL I (Rp ribu/tahun) 65 043 664
78 052 400 3) 97 565 496 4) 130 087 328 5) 390 261 991 6)
-56 733 496 -68 482 472 -83 090 088 -110 383 184 -325 265 120
2 Jasa lingkungan rosot karbon di KL I (ton C/tahun) 162 725 -149 720 -147 749 -140 072 -131 889 -61 009 3 Pendapatan maksimum di KL II (Rp ribu/tahun) 2 378 620
2 854 344 3) 3 567 930 4) 4 757 240 5) 14271719 6)
0 0 0 0 -9 132 051
4 Jasa lingkungan rosot karbon di KL II (ton C/tahun) 8 152 -5 476 -4 941 -4 138 -2 800 -2 370 5 Pendapatan maksimum di KL III (Rp ribu/tahun) 2 815 282
3 378 339 3) 4 222 924 4) 5 630 565 5) 16 891 695 6)
0 0 0 0 -1 559 199
6 Jasa lingkungan rosot karbon di KL III (ton C/tahun) 17 499 -15 109 -14 632 -13 915 -12 720 -4 485 7 Pendapatan maksimum di KL IV (Rp ribu/tahun) 1 727 832
2 067 398 3) 2 584 248 4) 3 445 664 5) 10 336 993 6)
0 0 0 0 0
8 Jasa lingkungan rosot karbon di KL IV (ton C/tahun) 12 252 -1 181 -994 -4 306 9 826 53 983 Keterangan : DU = pencapaian kurang (underachievement) dari target
Berdasarkan hasil analisis postoptimal dapat dilihat di Tabel 41 bahwa semakin besar nilai IFP dan ketersediaan tenaga kerja maka semakin besar pula persentase ketercapaian tujuan meskipun besaran tujuannya pun meningkat. Besaran tujuan pendapatan maksimum berubah dengan peningkatan tenaga kerja karena tujuan pendapatan maksimum berhubungan dengan jumlah tenaga kerja yang tersedia. Dimana semakin besar jumlah tenaga kerja maka semakin besar juga tujuan pendapatan maksimum.
Tujuan jasa lingkungan rosot karbon yang merupakan tujuan utama penelitian ini juga menunjukkan nilai ketercapaian yang bertambah secara signifikan dengan meningkatnya sumberdaya yang tersedia. Bahkan pada skenario 5 dan 6 terdapat pencapaian lebih pada target jasa lingkungan rosot karbon di kelas lereng IV.
Tabel 42 menunjukan nilai sisa pemakaian sumberdaya dalam alokasi optimal lahan dengan peningkatan IFP dan tenaga kerja. Nilai sisa dari sumberdaya yang digunakan sebagai kendala pada skenario 3 menunjukkan bahwa pada IFP 35% dan peningkatan tenaga kerja sebanyak 20% alokasi optimal penggunaan lahan kritis meningkat sehingga nilai sisanya menjadi lebih rendah dibandingkan dengan solusi basis dan sumberdaya anggaran habis terpakai seluruhnya meskipun sumberdaya tenaga kerja tidak habis terpakai atau berlebih sebanyak 245 293 HOK. Oleh karena itu pada skenario 4 dilakukan simulasi dengan meningkatkan IFP menjadi 50% dan peningkatan tenaga kerja sebanyak 50%. Hasil postoptimal menunjukkan nilai sisa sumberdaya berkurang dan anggaran yang tersedia habis terpakai. Tetapi sumberdaya lahan yang dapat dimanfaatkan baru 22.2% dari yang tersedia.
Tabel 42. Nilai Sisa Pemakaian Sumberdaya dalam Alokasi Optimal Lahan Kritis dengan Peningkatan IFP dan Tenaga Kerja
No Meminimumkan deviasi tujuan Besaran kendala Nilai Sisa Basis Skenario 3 Skenario 4 Skenario 5 Skenario 6 1 Lahan Layak Kyoto di KL I (ha) 40963 36 181 35457 32 634 29 626 3567 2 Lahan Layak Kyoto di KL II (ha) 1 498 804 666 458 111 0 3 Lahan Layak Kyoto di KL III (ha) 1 773 1 447 1382 1 284 1121 0 4 Lahan Layak Kyoto di KL IV (ha) 1 085 943 915 873 803 239 5 Anggaran (Rp ribu/thn) 14498323 169104723) 241638724) 483277445) 966554886) 0 0 0 15 623 297 0 6 Tenaga Kerja (HOK/thn) 1599120 19189443) 23986804) 31982405) 95947206) 167 566 245 293 32 962 0 276 114
Skenario 5 menaikkan anggaran menjadi 100% IFP dan tenaga kerja ditingkatkan 100% menjadi 13 326 orang tenaga kerja sektor pertanian produktif dan hasilnya tenaga kerja yang ada habis terpakai, sementara sumberdaya anggaran masih tersedia sebesar Rp 15 623 297 ribu/tahun. Tetapi sumberdaya lahan yang tersedia masih dapat ditingkatkan lagi. Oleh karena itu dilakukan postoptimal dengan skenario 6 yaitu dengan anggaran 200% IFP dan peningkatan tenaga kerja 500% atau 33 315 orang. Dimana hasilnya menunjukkan sumberdaya lahan kritis atau lahan layak Kyoto yang dapat dimanfaatkan secara optimal mencapai 91.6% dari total luas lahan yang tersedia.
Hal ini menunjukkan bahwa walaupun target anggaran untuk modal awal sudah diberikan sebesar 100% IFP, proyek tersebut belum bisa berjalan dengan optimal karena hanya 30.1% dari luas lahan yang dapat diusahakan dengan kendala-kendala yang ada. Oleh karena itu untuk melakukan proyek ini tidak bisa mengandalkan modal awal dari dana kegiatan CDM karena dana yang dibutuhkan lebih dari 200% IFP atau lebih dari Rp 96 milyar untuk luas lahan 45 319 ha. Harus ada partisipasi dari masyarakat petani dan juga pemerintah. Karena proyek ini selain meningkatkan kesejahteraan petani juga dapat mengurangi angka pengangguran, karena untuk melaksanakan kegiatan ini dapat menyerap tenaga kerja lebih dari 33 315 orang untuk luasan lahan layak Kyoto yang tersedia di sekitar TNRAW yaitu 45 319 ha. Selain itu setiap tahunnya rata-rata memiliki potensi rosot karbon sebesar 200 630 ton C atau 6 018 900 ton C selama masa proyek 30 tahun yang dapat membantu mengurangi dampak pemanasan global (Input output analisis postoptimal dengan peningkatan IFP dan peningkatan tenaga kerja secara lebih lengkap dapat dilihat di Lampiran 29 sampai dengan Lampiran 32).