• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

F. Tata Cara Penelitian

4. Optimasi ekstraksi

a. Optimasi komposisi metanol teknis : air pada metode refluks Ditimbang 8 g serbuk teh hijau dan kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan direfluks dengan menggunakan larutan metanol teknis : air yang komposisinya dioptimasi (40:60, 50:50, 60:40, 70:30, 80:20, 90:10) yang mengandung asam klorida 1,85 M dan 0,1% b/v pada suhu 90OC selama 2 jam. Kemudian hasil refluks didiamkan sampai suhu kamar, kemudian diadd sampai 250ml. Dari sampel tersebut diambil 25 ml kemudian dipartisi dengan menggunakan heksana teknis 25 ml sebanyak 5 kali. Diambil fase air-metanol kemudian diganti pelarutnya dengan air dan diadd menggunakan air sampai 25 ml. Sampel dalam air ini dipartisi menggunakan etil asetat 25 ml sebanyak 5 kali. Diambil fase etil asetat, kemudian diganti pelarutnya dengan metanol p.a., disaring dengan milipore, dan diadd dengan menggunakan metanol p.a. sampai 10ml. Direplikasi masing-masing 2 kali.

Masing-masing sampel dan larutan baku kuersetin 500 ppm dalam metanol p.a ditotolkan pada plat silika G60 sebanyak 2 µl kemudian dikembangkan sepanjang 15,5 cm pada bejana yang sebelumnya sudah dijenuhkan dengan fase gerak yang telah dioptimasi. Hasil pengembangan sampel kemudian diukur serapan bercaknya dengan densitometer pada panjang gelombang yang telah dioptimasi. Dibandingkan AUC bercak sampel pada faktor retardasi yang sama dengan faktor retardasi bercak kuersetin baku.

b. Optimasi temperatur pada metode penyarian dengan Soxhlet biasa. Ditimbang 8 g serbuk teh hijau dan kemudian dimasukkan ke dalam kantong soxhlet. Kantong soxhlet dimasukkan dalam alat penyokhlet kemudian disari menggunakan Soxhlet dengan menggunakan larutan metanol teknis sebanyak 240 ml yang mengandung 0,1% b/v BHT pada suhu yang dioptimasi (70 dan 90OC) selama 12 jam. Kemudian hasil penyarian dengan Soxhlet didiamkan sampai suhu kamar dan diganti pelarutnya dengan metanol teknis : air (50:50) sebanyak 250 ml yang mengandung asam klorida 1,85 M. Kemudian campuran tersebut direfluks pada suhu 90OC selama 2 jam. Kemudian hasil refluks didiamkan dan diadd menggunakan larutan metanol teknis : air (50:50) sampai 250 ml. Dari sampel tersebut diambil 25 ml kemudian dipartisi dengan menggunakan heksana teknis 25 ml sebanyak 5 kali. Diambil fase air-metanol kemudian diganti pelarutnya dengan air dan diadd dengan air sampai 25ml. Sampel dalam air ini dipartisi menggunakan etil asetat 25 ml sebanyak 5 kali. Diambil fase etil asetat, kemudian diganti pelarutnya dengan metanol p.a., disaring dengan milipore, dan diadd dengan menggunakan metanol p.a. sampai 10ml. Direplikasi sebanyak tiga kali.

Masing-masing sampel dan larutan baku kuersetin 500 ppm dalam metanol p.a ditotolkan pada plat silika G60 sebanyak 2 µl kemudian dikembangkan sepanjang 15,5 cm pada bejana yang sebelumnya sudah dijenuhkan dengan fase gerak yang telah dioptimasi. Hasil pengembangan sampel kemudian diukur serapan bercaknya dengan densitometer pada panjang gelombang yang telah dioptimasi. Dibandingkan AUC bercak sampel pada faktor retardasi yang sama dengan faktor retardasi bercak kuersetin baku.

40

c. Optimasi komposisi metanol teknis pada penyarian dengan Soxhlet sekaligus hidrolisis.

i. Optimasi komposisi metanol teknis pada penyarian dengan Soxhlet sekaligus hidrolisis selama 12 jam , ditimbang 8 g serbuk teh hijau dan kemudian dimasukkan ke dalam kantong soxhlet. Kemudian kantong soxhlet dimasukkan dalam alat penyokhlet kemudian disari menggunakan Soxhlet dengan menggunakan larutan metanol teknis : air yang komposisinya diptimasi (70:30, 80:20, 90:10) sebanyak 240 ml yang mengandung asam klorida 1,85 M dan BHT 0,1% b/v pada suhu 90OC selama 12 jam. Kemudian hasil penyarian dengan Soxhlet didiamkan sampai suhu kamar, kemudian diadd dengan menggunakan larutan metanol teknis : air (90:10) sampai 250 ml. Dari sampel tersebut diambil 25 ml kemudian dipartisi dengan menggunakan heksana teknis 25 ml sebanyak 5 kali. Diambil fase air-metanol kemudian diganti pelarutnya dengan air dan diadd dengan menggunakan air sampai 25 ml. Sampel dalam air ini dipartisi menggunakan etil asetat 25 ml sebanyak 5 kali. Diambil fase etil asetat, kemudian diganti pelarutnya dengan metanol p.a., disaring dengan milipore, dan diadd dengan menggunakan metanol p.a. sampai 10ml. Direplikasi sebanyak tiga kali.

Masing-masing sampel dan larutan baku kuersetin 500 ppm dalam metanol p.a ditotolkan pada plat silika G60 sebanyak 2 µl kemudian dikembangkan sepanjang 15,5 cm pada bejana yang sebelumnya sudah dijenuhkan dengan fase gerak yang telah dioptimasi. Hasil pengembangan sampel kemudian diukur serapan bercaknya dengan densitometer pada panjang

gelombang yang telah dioptimasi. Dibandingkan AUC bercak sampel pada faktor retardasi yang sama dengan faktor retardasi bercak kuersetin baku.

ii. Optimasi komposisi metanol teknis pada penyarian dengan Soxhlet sekaligus hidrolisis dengan jumlah ekuilibrium 5,10, dan 15 kali. Ditimbang 8 g serbuk teh hijau dan kemudian dimasukkan ke dalam kantong soxhlet. Kemudian kantong soxhlet dimasukkan dalam alat penyokhlet kemudian disari menggunakan Soxhlet dengan menggunakan larutan metanol teknis : air yang komposisinya diptimasi (70:30, 80:20, 90:10) sebanyak 240 ml yang mengandung asam klorida 1,85 M dan BHT 0,1% b/v pada suhu 90OC sampai jumlah ekulibrium mencapai 5,10 dan 15 kali. Kemudian hasil penyarian dengan Soxhlet didiamkan sampai suhu kamar, kemudian diadd dengan menggunakan larutan metanol teknis : air (90:10) sampai 250 ml. Dari sampel tersebut diambil 25 ml kemudian dipartisi dengan menggunakan heksana teknis 25 ml sebanyak 5 kali. Diambil fase air-metanol kemudian diganti pelarutnya dengan air dan diadd dengan menggunakan air sampai 25 ml. Sampel dalam air ini dipartisi menggunakan etil asetat 25 ml sebanyak 5 kali. Diambil fase etil asetat, kemudian diganti pelarutnya dengan metanol p.a., disaring dengan milipore, dan diadd dengan menggunakan metanol p.a. sampai 10ml. Direplikasi sebanyak dua kali.

Masing-masing sampel dan larutan baku kuersetin 500 ppm dalam metanol p.a ditotolkan pada plat silika G60 sebanyak 2 µl kemudian dikembangkan sepanjang 15,5 cm pada bejana yang sebelumnya sudah dijenuhkan dengan fase gerak yang telah dioptimasi. Hasil pengembangan sampel kemudian diukur serapan bercaknya dengan densitometer pada panjang

42

gelombang yang telah dioptimasi. Dibandingkan AUC bercak sampel pada faktor retardasi yang sama dengan faktor retardasi bercak kuersetin baku.

d. Optimasi Metode. Optimasi metode ini adalah untuk membandingkan ekstrak dari metode refluks, penyarian dengan Soxhlet biasa, dan penyarian dengan Soxhlet sekaligus hidrolisis yang sudah dioptimasi. Dari ketiga metode tersebut, masing-masing sampel tiap replikasi dan larutan baku kuersetin 500 ppm dalam metanol p.a. ditotolkon pada plat silika G60 sebanyak 2 µl kemudian dikembangkan sepanjang 15,5 cm pada bejana yang sebelumnya sudah dijenuhkan dengan fase gerak yang telah dioptimasi. Hasil pengembangan sampel kemudian diukur serapan bercaknya dengan densitometer pada panjang gelombang yang telah dioptimasi. Dibandingkan AUC bercak sampel pada faktor retardasi yang sama dengan faktor retardasi bercak kuersetin baku.

Dokumen terkait